Jo membiarkan ponsel tetap berada di meja. Jawaban Erika tidak salah, tetapi dia baru menyadari betapa banyak arti yang diam-diam ingin ditambahkan pada kalimat yang sebenarnya sederhana.
Lina senang didukung keluarga. Acara terbuka. Terima kasih sudah datang.
Tidak ada yang mengatakan dia diminta datang untuk Erika.
Jo mengembuskan napas, mematikan lampu, lalu berbaring tanpa membuka percakapan lagi. Untuk sekali itu, dia tidak memerlukan jawaban baru agar malam dapat diakhiri.
Pagi berikutnya, Erika turun dengan rambut belum sepenuhnya kering. Iccha sudah berangkat lebih dulu. Dia mengambil makanan, memberi salam kepada Daddy, dan duduk di tempat yang biasa tanpa merasa harus menunggu Jo memulai pembicaraan.
Lelaki itu muncul beberapa menit kemudian. Dia membawa satu kertas yang diberi tanda, bagian lama proyek yang kemarin memang boleh diperiksa.
"Kalimat ini aku ingin memastikan," katanya setelah duduk. "Bukan sekarang kalau kamu sedang makan."
Erika melihat sekilas, mengangguk, dan meneruskan sarapan. Jo juga mengambil makanan. Kertas ditaruh jauh dari gelas, tidak dijadikan sesuatu yang harus segera disentuh karena klien sudah datang.
Setelah piring kosong, barulah mereka membaca bersama. Jo menyebut satu tempat yang salah ditulis. Erika membuka catatan, menemukan ejaan yang benar, lalu memperbaiki pada salinan yang dibawa.
Tidak ada penjelasan panjang mengenai Caca. Sebagian pekerjaan memang dapat diselesaikan dengan satu jawaban yang jelas.
Daddy meninggalkan keduanya untuk menerima telepon. Jo memperhatikan bagaimana Erika memberi tanda setelah koreksi, lalu bertanya apakah bab Anggrek berikutnya sudah mulai ditulis.
Gadis itu menoleh. "Sudah mulai. Belum selesai."
"Aku boleh bertanya tentang tokohnya?"
"Sebagai pembaca?"
Jo mengangguk.
"Boleh. Tapi aku ndak akan membocorkan akhir."
Lelaki itu tersenyum kecil. Dia menanyakan mengapa tokoh perempuan tidak segera menjawab pesan setelah orang yang ditunggu akhirnya datang. Erika memandangnya, lalu memilih jawaban yang tidak berubah menjadi ceramah tentang orang-orang di rumah.
"Karena dia belum tahu jawaban yang ingin diberikan," katanya. "Kalau cuma supaya yang menunggu lega, nanti dia sendiri harus hidup dengan kalimat yang ndak dimaksudkan."
Jo mengangguk. Dia ingin mengatakan sesuatu tentang jawaban semalam, tetapi berhenti karena itu bukan pertanyaan yang diajukan.
Erika merapikan kertas. "Mas boleh ndak suka pilihan tokohnya. Pembaca lain juga ada yang kesal."
"Aku tidak kesal. Aku hanya ingin tahu."
"Kalau begitu, tunggu bagian berikutnya."
Dia tertawa pendek. Gadis itu ikut tersenyum, lalu membawa catatan kembali ke kamar. Perbincangan selesai tanpa Jo mencari alasan agar dirinya tetap duduk lebih lama.
Siang itu Erika dan Lina pergi memeriksa salinan foto yang dipesan untuk keluarga. Kiki meminta keduanya memastikan hasilnya tidak terlalu berbeda dari gambar asli. Dia tidak ikut karena ada urusan sendiri, tetapi mengirim pesan dua kali mengenai sudut yang jangan terpotong.
Lina memandang ponsel, tersenyum tipis. "Dia sekarang punya banyak pertanyaan."
"Lebih baik daripada bilang terserah lalu marah kalau hasilnya beda," jawab Erika.
Perempuan itu tertawa. Mereka menerima hasil, membandingkan, dan meminta satu bagian dicetak ulang karena sisi foto terlalu rapat. Tidak ada pertengkaran dengan orang yang membantu. Hanya penjelasan tentang yang perlu diperbaiki.
Saat menunggu hasil yang dicetak ulang, Lina duduk pada kursi dekat meja. Erika membuka pesan Kiki, menunjukkan bahwa sisi wajah Mama terlihat utuh pada gambar yang sedang diperiksa.
Balasan datang cepat. Jangan terlalu terang. Yang lama memang warnanya begitu.
Lina tersenyum. "Dia takut hasilnya terlalu baru."
"Mungkin karena yang dikenal justru yang lama."
Erika menyampaikan kepada orang yang membantu bahwa mereka tidak ingin warna diubah banyak. Petugas menunjukkan dua contoh, menjelaskan perbedaannya, lalu membiarkan keduanya memilih tanpa memaksa yang terlihat lebih mengilap.
Lina menunjuk contoh yang paling dekat. Erika setuju, kemudian memotret sekali untuk memastikan Kiki melihat bagian yang dimaksud.
Kakaknya membalas bahwa pilihan itu benar. Tidak ada kalimat menyuruh Lina jangan ikut memilih. Perempuan berhijab tersebut melihat layar lebih lama daripada yang diperlukan untuk membaca dua kata.
"Lo senang?" tanya Erika.
Lina mengangguk. "Iya. Tapi gue takut nanti dia berubah lagi."
"Kalau berubah, kita hadapi yang waktu itu terjadi. Hari ini dia memberi jawaban."
Perempuan itu mengangguk pelan, meletakkan ponsel, lalu melihat foto asli pada meja. Mama dalam gambar tersenyum kepada sesuatu di luar kamera. Lina masih tidak tahu apa yang membuat senyum itu muncul, dan tidak perlu mengetahui seluruhnya untuk ingin menyimpan.
Ketika hasil baru selesai, keduanya memeriksa sudut dan warna. Tidak ada bagian yang perlu dikoreksi lagi. Foto dimasukkan pada pelindung, dipisahkan agar tidak bergesekan, lalu disimpan dalam tas Lina.
Di luar, dia menahan tali tas seperti sedang membawa benda yang lebih rapuh daripada kertas. Erika tidak menggoda. Dia tahu ada barang yang harganya tidak dapat diukur dari jumlah yang dibayarkan.
Lina akhirnya mengembuskan napas setelah berjalan beberapa langkah.
"Sekarang gue punya yang bisa dilihat tanpa membuka laci Daddy."
Erika tersenyum. "Nanti pilih tempat yang lo suka."
Mereka berhenti sebentar di sisi jalan untuk memastikan arah sebelum melanjutkan urusan lain. Tidak ada foto yang tertinggal, dan tidak ada keputusan yang harus diserahkan kembali kepada orang yang tidak ikut datang.
Setelah selesai, Erika mengatakan ingin melihat perlengkapan kerja di tempat lain sebelum pulang. Lina ikut, tidak menanyakan mengapa baru dipikirkan sekarang.
Gadis itu memeriksa beberapa pilihan tanpa tergoda mengambil yang paling mahal. Laptop hadiah Ammar masih dipakai dengan baik. Namun, sejak pembicaraan dulu tentang pemberian yang tidak boleh mengendalikan pekerjaan, dia ingin mempunyai alat yang dibeli atas keputusan sendiri.
Orang yang membantu menanyakan apa yang paling sering dikerjakan. Erika menjelaskan menulis, membaca ulang, dan menyimpan banyak berkas yang namanya kadang terlalu mirip.
Lina menahan tawa pada bagian terakhir. Gadis itu melihat, mengangkat alis, lalu mengaku bahwa kesalahan tersebut memang pernah terjadi.
Beberapa pilihan diperlihatkan. Erika mencoba mengetik kalimat pendek, memperhatikan apakah jarinya nyaman dan layar dapat dibaca tanpa terus mendekat. Dia tidak mencoba membuat naskah panjang di depan orang yang sedang menunggu.
"Yang ini terasa enak," katanya.
Lina melihat catatan harga, kemudian bertanya apakah ada kebutuhan yang belum terpenuhi. Erika mengangguk, menyebut hal yang memang sudah dipikirkan di rumah, bukan mengambil semua tambahan hanya karena disarankan.
Orang tersebut menjelaskan pilihan lain. Gadis itu mendengarkan, mencatat, dan mengatakan ingin memeriksa lagi sebelum membeli. Tidak ada alasan untuk menyelesaikan pada saat itu jika keputusan belum jelas.
Ketika keluar, Lina bertanya apakah Erika menahan diri karena takut terlihat terlalu banyak mengeluarkan uang.
"Bukan cuma itu," jawabnya. "Aku ingin tahu yang kubeli memang membantu. Kalau karena sedang kesal lalu ingin membuktikan bisa beli sendiri, besok yang salah tetap alatnya."
Perempuan itu mengangguk. Mereka membandingkan catatan sambil duduk sebentar pada tempat yang tidak menghalangi orang lewat. Ada satu pilihan yang terlihat paling bagus, tetapi tidak memberi sesuatu yang benar-benar dibutuhkan.
Erika mencoretnya. Dia tersenyum karena keputusan kecil itu ternyata tidak membuatnya merasa kurang berhasil.
"Sekarang daftar lebih pendek," ujar Lina.
"Dan lebih mudah dibawa pulang daripada semua kotak tadi."
Keduanya tertawa. Erika menyimpan kertas di sisi tas yang tidak menekan foto. Dia belum punya laptop baru, tetapi sudah mempunyai alasan yang lebih jelas untuk memilih ketika waktunya tiba.
Dia tidak membeli hari itu. Hanya mencatat kebutuhan, harga yang sanggup diberikan, dan waktu yang tidak akan mengganggu biaya untuk rumah Ibu.
"Lo mau mengembalikan yang lama?" tanya Lina ketika mereka keluar.
"Kalau sudah punya pengganti dan semua berkas aman. Aku ndak ingin menyerahkan hanya karena merasa malu pernah menerima."
Lina mengangguk. "Bagus. Jangan sampai kerjaan hilang demi terlihat mandiri."
Erika tertawa. "Itu kalimat yang perlu kutulis besar di meja."
Mereka pulang dengan dua salinan foto dan catatan yang tidak dibicarakan kepada seluruh keluarga. Kiki menerima hasil, memeriksa wajah Mama, lalu menyodorkan satu kepada Lina.
"Yang ini buat lo."
Perempuan itu menerima dengan hati-hati. Tidak ada yang menuntut ucapan panjang. Kiki sudah kembali melihat salinannya sendiri, menanyakan bingkai yang cocok.
Erika memberi ruang, naik ke kamar, dan membuka naskah Anggrek. Ada beberapa komentar baru. Seseorang ingin tokoh laki-laki segera menyatakan perasaan, seseorang lain meminta tokoh perempuan jangan mengalah hanya karena merasa kasihan.
Gadis itu membaca, menandai yang berkaitan dengan cara adegan ditulis, lalu meletakkan ponsel. Cerita tidak dapat dikerjakan hanya dengan memilih pihak yang paling keras menunggu.
Dia menyelesaikan satu percakapan, menyimpan, lalu bangkit ketika Iccha pulang. Perempuan itu langsung melihat catatan perlengkapan di meja, mengangkat alis, tetapi tidak mengambil tanpa meminta.
"Lo sedang mencari laptop?"
Erika mengangguk. "Baru melihat."
"Bisa gue bantu membandingkan, kalau mau. Jangan menyerahkan kepada Mas Ammar karena nanti jawabannya semua bagus asal mahal."
Gadis itu tertawa. Iccha duduk, membantu membaca kebutuhan, kemudian memisahkan yang benar-benar perlu dari hal yang hanya terlihat menarik.
Iccha mengambil satu kertas yang ternyata tidak termasuk daftar, melainkan potongan dialog baru Anggrek. Dia membaca dua baris setelah Erika mengizinkan, lalu mengangkat alis.
"Tokohnya sekarang mulai menjawab?"
"Mulai. Belum semua."
"Bagus. Gue tadi ingin memarahinya."
Erika tertawa. "Masalahnya aku juga yang menulis orang yang menunggu. Kalau semuanya diselesaikan agar satu orang senang, yang lain jadi seperti tidak punya pilihan."
Iccha menaruh kertas, memandang temannya. "Kadang gue juga ingin orang cepat menjawab karena sudah terlalu lama tidak tahu."
"Aku tahu. Menunggu bisa kesal. Tapi cerita ini perlu sampai pada jawaban yang dimaksudkan."
Perempuan itu mengangguk, kemudian menunjuk satu kalimat yang terasa berulang. Erika membaca, setuju, dan memberi tanda. Bukan karena semua pembaca ingin tokoh segera bersama, melainkan karena kalimat tersebut memang sudah mengatakan hal yang sama pada bagian sebelumnya.
Mereka memeriksa beberapa baris lain. Iccha tidak mencoba menentukan akhir yang harus diberikan. Dia hanya mengatakan bagian yang mudah dipahami dan bagian yang membuat dirinya perlu membaca dua kali.
Erika menerima, menyimpan kertas pada tempat berbeda dari daftar belanja, lalu kembali memeriksa kebutuhan alat. Ada rasa lega karena karya sendiri dapat dibicarakan tanpa seluruh orang mengira tokohnya merupakan sandi mengenai siapa yang tinggal di rumah.
Iccha mengambil air, menyerahkan satu gelas, dan menanyakan apakah Erika sudah mengabari Ibu soal rencana membeli.
"Sudah. Ibu menyuruh lihat baik-baik."
"Jawaban yang sangat Ibu."
Gadis itu tertawa. Dia mencatat satu hal terakhir, kemudian menutup daftar agar malam tidak dihabiskan terus membandingkan sesuatu yang belum akan dibeli.
Mereka membicarakan alat kerja, bukan siapa yang berhak membelikan. Ketika daftar selesai, Erika merasa lebih tenang. Tidak semua keputusan mandiri perlu dibuat dalam satu sore.
Di ruang bawah, Jo sedang memeriksa jadwal lanjutan urusan perpisahan. Ada waktu yang harus dipenuhi, pertanyaan yang dijawab langsung, dan langkah yang tidak dapat dipindahkan kepada Erika agar dirinya mendapat hari yang lebih mudah.
Aldin mengirim kabar mengenai berkas kantor yang sudah dilengkapi. Jo membaca, meneruskan sesuai urusan, dan tidak membalas dengan pertanyaan tentang Caca. Keduanya masih mempunyai sesuatu yang harus dituntaskan, tetapi tidak lagi diberi bentuk persahabatan yang dapat digunakan seperti dulu.
Setelah selesai, Jo membuka halaman Anggrek. Bab baru belum muncul. Dia menutup dengan senyum kecil, mengingat jawaban pagi tadi.
Tunggu bagian berikutnya.
Kalimat itu terasa berbeda dari janji kosong. Penulisnya tidak memberi tanggal yang tidak dapat dipenuhi, dan tidak memintanya menganggap semua selesai hanya karena percakapan terasa hangat.
Malam berjalan biasa. Lina menyimpan foto dalam bingkai yang sementara dipilih. Kiki memeriksa miliknya sendiri, lalu berhenti di pintu kamar adik untuk melihat apakah gambar benar-benar telah dipasang.
"Jangan terlalu dekat jendela," katanya. "Nanti cepat berubah warna."
"Iya. Gue pindahkan sedikit."
Kiki mengangguk dan pergi. Lina menggeser bingkai, menatap wajah Mama beberapa saat, lalu mematikan lampu meja setelah semuanya aman.
Di kamar Erika, satu adegan akhirnya selesai. Dia membaca ulang tanpa membuka komentar, mengganti satu kalimat yang bukan suara tokohnya, lalu menutup laptop sebelum tengah malam.
Iccha sudah berbaring, tetapi masih melihat ponsel. Saat Erika memadamkan lampu, perempuan itu tersenyum pada pesan Ammar yang menanyakan apakah besok ingin makan setelah kerja.
Tidak ada orang yang perlu dipakai untuk membuat yang lain cemburu. Tidak ada janji yang disampaikan melalui penulis.
Erika menarik selimut, memandang gelap kamar, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa malam tidak menghitung berapa lama lagi dirinya boleh tinggal tanpa merasa bersalah.