Pesan pekerjaan tidak dibuka lagi. Jo menaruh ponsel di saku dan kembali mendengarkan sesi terakhir. Di depan, seseorang sedang menjelaskan bagaimana penulis bisa terlalu cepat menyimpulkan tokoh hanya karena mengetahui akhir yang diinginkan.
Lelaki itu memandang Erika dari jarak beberapa kursi. Gadis tersebut mencatat, sesekali menoleh kepada Lina, lalu tertawa kecil ketika contoh yang diberikan terlalu dekat dengan kesalahan mereka sendiri. Dia tidak menunggu Jo memberikan pendapat atas semua yang didengar.
Acara selesai menjelang sore. Orang-orang mulai berdiri, merapikan catatan, dan menyapa penulis yang ingin ditanyai lebih lanjut. Erika sempat didekati dua pembaca. Dia menjawab sambil tersenyum, tidak terburu-buru meminta maaf karena mengambil waktu.
Lina berbicara dengan seseorang yang juga menulis cerita horor. Jo menunggu dekat pintu, cukup jauh agar adiknya tidak merasa setiap percakapan harus dilaporkan.
Arya datang setelah membantu memindahkan kursi yang menghalangi jalan. Dia menanyakan apakah Erika dan Lina sudah mempunyai kendaraan pulang.
"Kami datang dengan kendaraan yang dipesan," jawab Erika. "Untuk pulang bisa pesan lagi."
"Kalau belum, aku bisa mengantar. Jalurnya tidak terlalu jauh."
Gadis itu hendak menjawab ketika Jo mendekat. "Aku membawa mobil. Kalau kalian mau, bisa pulang bersama."
Lina melihat kakaknya, kemudian Erika. Tidak ada alasan membuat tawaran tersebut menjadi keputusan yang harus dianggap paling benar hanya karena berasal dari keluarga rumah tempat mereka tinggal.
"Aku ingin mampir membeli sesuatu dulu," kata Erika. "Tadi Ibu minta kulihat kalau ada kesempatan."
"Bisa," ujar Jo.
Dia memandang Arya, memberi terima kasih atas tawaran. Lelaki tersebut mengangguk, tidak merasa perlu memenangkan siapa yang dapat membawa dua orang pulang.
Erika menerima setelah memastikan Lina tidak mempunyai rencana lain. Mereka keluar bersama. Di depan pintu, Arya meminta kabar jika ada kegiatan penulis serupa, karena dia ingin mengikuti lagi.
"Aku bisa kirim pengumuman kalau mendapat," jawab Erika.
"Terima kasih. Dan bab Anggrek tetap kutunggu."
Gadis itu tertawa. "Semua orang menunggu tokohku selesai makan rupanya."
Mereka berpisah tanpa janji makan atau pertemuan pribadi yang disembunyikan. Jo berjalan ke mobil dengan langkah sedikit lebih cepat daripada sebelumnya, lalu menyadarinya ketika Lina harus menambah langkah agar tidak tertinggal.
Dia memperlambat.
Di kendaraan, Lina langsung bercerita tentang pertanyaan yang diterima setelah sesi. Erika ikut menambahkan, mengingat bagian yang membuat mereka gugup saat latihan. Jo mendengarkan, memberi ruang sampai keduanya selesai menertawakan cara mikrofon hampir diarahkan terlalu jauh dari mulut.
"Daddy pasti ingin mendengar," katanya.
"Nanti di rumah," jawab Lina. "Kalau sekarang, gue bisa mengulang dari awal sampai Mas bosan."
"Aku sudah datang untuk mendengar."
Adiknya tersenyum. Erika melihat dari sisi, mengenali hubungan yang tidak perlu selalu dijelaskan melalui keluarga yang sedang kehilangan.
Mereka berhenti di tempat yang diminta Erika. Lina turun bersama untuk mencari barang. Jo menunggu, tidak ikut memilihkan karena belum tahu apa yang diperlukan.
Di dalam tempat belanja, Erika membuka pesan Ibu yang berisi gambar barang yang dimaksud. Dia membandingkan dua pilihan, lalu menelepon untuk memastikan ukuran sebelum mengambil.
Lina menunggu dekat rak lain. Dia tidak merasa harus langsung kembali hanya karena Jo berada di luar. Sejak berangkat, waktu mampir sudah disampaikan dan disetujui.
Bu Mei menerima panggilan dengan pertanyaan apakah kegiatan selesai. Erika mengiyakan, kemudian memperlihatkan pilihan yang ditemukan. Ibu menentukan satu, lalu meminta putrinya tidak membeli terlalu banyak hanya karena tersedia.
"Aku juga ndak punya tangan tambahan," jawab Erika.
Ibu tertawa. Dia kemudian menanyakan apakah Erika sempat bicara di depan, sesuai yang diceritakan sebelum acara.
"Sempat. Namaku dipanggil. Aku berdiri."
"Itu cerita paling pendek yang pernah kamu kirim kepada Ibu."
Erika tertawa, menjanjikan akan bercerita lebih lengkap malam nanti. Dia masih harus membayar dan tidak ingin orang-orang di belakang menunggu sambil mendengar seluruh pengalaman panggung.
Setelah panggilan selesai, Lina menunjukkan satu benda yang hampir dipilih karena warnanya bagus. Erika memperhatikan, lalu bertanya apakah memang diperlukan.
"Tidak terlalu," jawab perempuan itu.
"Kalau begitu, jangan sekarang. Nanti takutnya kita cuma membeli karena tangan akhirnya tidak memegang catatan."
Lina tertawa dan menaruh kembali. Mereka membawa yang sudah dipilih, mengantre, lalu berterima kasih kepada orang yang membantu mencari ukuran.
Saat keluar, Jo berdiri dekat kendaraan, tidak menanyakan mengapa begitu lama atau memutuskan barang yang dibawa pasti salah. Dia hanya memegang pintu saat tangan Erika penuh.
Gadis itu masuk setelah Lina, menyimpan kantong di kaki agar tidak bergeser. Untuk satu pemberhentian singkat, dirinya boleh menjadi orang yang memilih sesuatu untuk Ibu, bukan penulis yang harus selalu siap membicarakan naskah.
Saat kembali, gadis itu membawa kantong kecil dan menyatakan barangnya ditemukan. Dia memotret untuk Ibu, menyimpan ponsel, lalu berterima kasih karena waktu pulang tidak dipaksa langsung menuju rumah.
"Bukan sesuatu yang sulit," jawab Jo.
"Tetap saja."
Perjalanan dilanjutkan. Lina kembali membaca catatan yang diterima dari orang lain, dan Jo akhirnya bertanya kepada Erika.
"Kamu sering berbicara dengan Arya?"
Gadis itu menoleh. "Ndak sering. Tadi ketemu di acara."
"Dia membaca tulisanmu."
"Katanya pernah. Aku juga baru tahu."
Jo mengangguk, memandang jalan. Pertanyaan berikutnya sudah hampir keluar, tetapi dia tidak menemukan bentuk yang dapat dibenarkan sebagai urusan proyek.
Erika menunggu beberapa detik. "Mas ada yang perlu ditanyakan tentang pekerjaan?"
"Tidak."
"Oh."
Jawaban itu membuatnya kembali melihat ponsel. Tidak dengan marah, hanya karena percakapan memang berhenti. Jo merasakan sesuatu yang aneh saat dia tidak ditanya apa lagi, seperti dirinya tiba-tiba tidak menjadi orang yang harus mendapat jawaban tambahan.
Di rumah, Kiki menunggu dekat ruang tengah. Dia mengaku hanya kebetulan turun saat mereka datang, tetapi ponselnya sudah terbuka pada kiriman foto acara yang diterima dari Lina.
"Lo berdiri di depan?" tanyanya kepada adik.
"Iya."
"Gue kira cuma duduk dan mendengarkan."
"Ada sesi berbagi."
Kiki memandang foto sekali lagi. "Kelihatannya tidak terlalu takut."
Lina tersenyum. "Takutnya tidak ikut difoto."
Erika tertawa. Kiki ikut tersenyum sedikit sebelum bertanya apakah ada rekaman yang dapat dilihat. Lina mengatakan mungkin penyelenggara akan membagikan sebagian setelah diperiksa.
"Kalau ada, kirim," ujar kakaknya.
Kalimat tersebut tidak mengakhiri semua tahun yang sulit, tetapi Lina menyimpannya dalam ingatan tanpa harus menunjukkan betapa besar artinya.
Daddy datang beberapa saat kemudian. Mereka duduk bersama, menceritakan acara, dan menunjukkan satu foto yang tidak membuat siapa pun merasa harus mempertahankan senyum untuk menutupi kabar lain.
Ammar pulang bersama Iccha ketika cerita hampir selesai. Perempuan itu langsung meminta Erika memperagakan pembukaan, membuat gadis tersebut mengeluh bahwa acara sudah selesai dan dirinya ingin minum dulu.
"Baik. Minum. Lalu pembukaan," kata Iccha.
Erika tertawa dan mengikuti ke dapur. Ammar duduk di dekat Jo, menanyakan apakah adiknya sempat mendengarkan bagian Lina.
"Sempat. Bagus."
"Erika juga?"
Jo mengangguk. "Dia membuat orang tertawa tanpa kehilangan apa yang mau dijelaskan."
Ammar melihat wajahnya, kemudian menahan komentar yang biasanya akan keluar terlalu cepat. Jo belum berada pada tempat yang boleh diberi nama hanya karena lebih memperhatikan seorang perempuan.
"Bagus," ujar kakaknya akhirnya. "Dia perlu punya kegiatan seperti itu."
Jo menatap ruang dapur. Suara Erika dan Iccha terdengar, bercampur bunyi gelas serta langkah Lina yang mencari sesuatu. Dia mengangguk, tidak mengatakan bahwa kegiatan itu membuatnya ingin menjadi bagian yang lebih dekat.
Setelah makan malam, Lina memperlihatkan foto acara kepada Daddy dengan lebih tenang. Kali ini dia tidak berdiri seperti sedang menunggu hasil penilaian. Jack menanyakan pertanyaan apa yang paling sulit, lalu mendengarkan sampai jawaban selesai.
Kiki duduk di ujung sofa. Dia meminta melihat satu gambar yang memperlihatkan kerudung Lina dari sisi, kemudian menunjuk bros.
"Kelihatan," katanya.
Lina mengikuti pandangan. "Iya."
"Yang pengaitnya keras itu tidak jatuh?"
"Tidak. Gue periksa sebelum berangkat."
Kiki mengangguk, mengembalikan ponsel, lalu kembali pada gelasnya. Daddy tidak menjadikan kalimat tersebut sesuatu yang harus dirayakan di depan seluruh keluarga. Dia hanya tersenyum, meminta Lina menyimpan foto yang paling disukai.
Erika duduk sebentar, mendengarkan kisah tentang pertanyaan benda rusak. Dia merasakan bagaimana malam setelah tampil berbeda dari malam setelah acara pernikahan. Tidak karena yang satu membuat semua orang bahagia, melainkan karena dirinya tidak diminta membawa jawaban yang tidak dimiliki.
Saat Lina pergi mengambil sesuatu, Kiki menoleh kepada Erika.
"Lo kalau bicara juga membuat orang tertawa?"
"Sebagian. Aku berharap karena contohnya, bukan karena aku gugup."
"Kalau dua-duanya?"
"Berarti ada hasil tambahan."
Kiki tertawa. Jo mendengar dari dekat meja, menahan senyum sebelum meminum air. Erika tidak melihat apakah lelaki itu ikut tertawa. Dia sedang berada dalam percakapan yang memang tidak harus berpusat pada dirinya.
Malam hari, Erika memeriksa catatan acara. Beberapa hal bisa dipakai untuk cerita sendiri. Beberapa hanya disimpan sebagai pertanyaan yang belum perlu dijawab sekarang.
Iccha duduk di tempat tidur, mendengarkan kisah tentang pembaca yang meminta tokoh tidak menunggu terlalu lama. Dia bertanya apakah Jo juga duduk sepanjang acara.
"Datang setelah siang. Mendengar bagian Lina."
"Bagian lo juga?"
"Iya."
Iccha mengangguk. Tidak ada senyum menggoda yang meminta Erika menganggap perhatian lelaki itu sebagai sesuatu yang baru. Keduanya tahu pernikahan Jo sedang diurus, dan perempuan di kamar tersebut belum perlu menjadi jawaban atas kesepian yang ditinggalkan.
Erika menutup catatan setelah memilih satu perbaikan untuk bab baru Anggrek. Dia mengirim terima kasih kepada Lina atas ajakan, kemudian menyiapkan daftar kecil untuk pekerjaan proyek esok hari.
Pesan Arya masuk, meminta judul cerita yang tadi tidak sempat dicatat. Erika mengirim sesuai pertanyaan. Setelah dibalas terima kasih, percakapan selesai.
Dia tidak menyembunyikan layar. Tidak pula mengirim kabar kepada Jo agar lelaki itu tahu dirinya hanya menjawab pembaca. Ada percakapan yang tetap dapat menjadi percakapan biasa tanpa harus dibuktikan kepada seluruh rumah.
Jo kembali ke ruang kerja sebentar sebelum tidur. Agenda untuk esok sudah ada, termasuk satu pembicaraan mengenai langkah lanjutan perpisahan yang tidak boleh dilupakan hanya karena sore tadi terasa lebih mudah.
Dia membaca, memberi tanda pada waktu yang harus disediakan, lalu menutup. Tidak ada bagian yang disisipkan kepada jadwal Erika.
Ammar melewati pintu, menanyakan apakah masih bekerja. Jo menjawab hanya memeriksa besok, membuat kakaknya mengangguk dan berhenti di sisi meja.
"Tadi kamu tertawa," kata Ammar.
Jo mengangkat wajah. "Aku masih bisa tertawa."
"Aku tahu. Aku senang melihat."
Lelaki muda itu menunduk, sedikit kesal karena kalimat sederhana tersebut justru membuat tenggorokan terasa lebih sempit. Dia menggeser pena, mencari sesuatu yang bisa dikerjakan sebelum kembali menjawab.
"Aku juga," katanya akhirnya.
Ammar tidak menyimpulkan bahwa adiknya sudah baik. Dia hanya menepuk sisi kursi dan mengucapkan selamat malam, lalu pergi tanpa menambahkan nasihat panjang.
Jo mematikan lampu meja. Ada kehilangan yang masih harus dibawa esok hari. Ada pula satu sore yang berhasil dilewati tanpa membuat orang lain menjadi sasaran. Kedua hal itu dapat berada pada hari yang sama, meskipun dirinya belum terbiasa menerima.
Dia naik setelah memastikan pintu ruang kerja tertutup, membawa ponsel yang sejak acara belum dipakai menanyakan sesuatu tentang Arya lagi.
Erika menelepon Ibu sebelum tidur, memenuhi janji yang dibuat saat mencari barang sore tadi. Bu Mei menanyakan bagaimana nama Anggrek disebut dan apakah dia sempat lupa bagian yang hendak disampaikan.
"Hampir lupa bernapas," jawabnya. "Bagian lainnya masih ingat."
Ibu tertawa. Erika bercerita tentang latihan bersama Lina, pertanyaan pembaca, dan buku kecil tempat dirinya diminta menulis nama. Dia tidak menyampaikan sebagai kemenangan besar yang membuat semua kesulitan selesai. Hanya sesuatu yang membuatnya senang dan ingin dibagi.
"Ibu bangga," kata Bu Mei.
Erika menunduk pada catatan yang sudah ditutup. "Aku juga senang, Bu. Rasanya berbeda ketika orang bertanya karena membaca tulisanku."
"Simpan rasa itu. Kalau nanti capek, jangan hanya ingat hari yang membuatmu menangis."
Gadis itu mengangguk meski tidak dapat dilihat. Dia menjanjikan satu foto dikirim setelah panggilan selesai, kemudian menanyakan apakah tanaman di rumah masih baik.
Bu Mei menjawab dengan cerita pendek yang membuat keduanya tertawa lagi. Percakapan berhenti karena malam sudah larut, bukan karena ada kabar yang tidak sanggup ditanggung.
Erika mengirim foto dirinya bersama Lina, memastikan tidak ada orang lain yang terlihat tanpa perlu, lalu meletakkan ponsel. Nama Anggrek tidak tercetak pada gambar. Tetapi untuk pertama kalinya, dia dapat melihat dirinya sendiri sebagai orang yang datang untuk berbicara mengenai karya.
Di kamar lain, Jo membuka tulisan Anggrek. Dia membaca bagian yang dibicarakan pada acara, menemukan kalimat yang membuat beberapa orang tertawa, dan kini mengerti lebih jelas mengapa Erika menulis begitu.
Nama penulis tercantum pada bagian yang mudah dilihat. Tidak di bawah namanya, tidak di samping nama Caca, tidak sebagai keterangan adik seseorang.
Jo memandang layar cukup lama.
Dia masih harus menghadapi langkah-langkah perpisahan. Masih ada panggilan keluarga, barang, dan jadwal yang tidak akan menjadi sederhana hanya karena dirinya melihat seseorang tertawa di panggung kecil.
Namun malam itu, ketika hendak menutup halaman, dia menyadari ingin membaca bagian berikutnya bukan karena berharap menemukan kalimat tentang dirinya.
Dia ingin mendengar suara Erika lagi.
Jo mengetik pesan yang menanyakan kapan bab baru akan dikirim, lalu menghapus sebelum terkirim. Perempuan itu sudah menjawab pada acara: kalau selesai. Dia tidak perlu menjadi pembaca yang memakai kedekatan di rumah untuk mendapat sesuatu lebih cepat.
Sebagai gantinya, dia menulis satu pesan pendek.
Terima kasih sudah mengizinkan aku mendengarkan tadi.
Erika membacanya ketika baru hendak tidur. Dia membalas bahwa acaranya terbuka dan senang Lina mendapat dukungan keluarga. Jo menerima jawaban tersebut, menyimpan ponsel, lalu tersenyum kecil pada perbedaan yang masih harus dipahaminya.
Perempuan itu belum mengatakan apa yang diam-diam ingin didengarnya. Dia juga belum mempunyai hak meminta.