Erika memeriksa catatan sekali lagi sebelum hari kegiatan. Di sudut halaman ada tanda yang dibuat Lina: mulai dari masalah tokoh, bukan dari semua alasan penulis. Dia tersenyum, membaca pembukaan dengan suara kecil, lalu berhenti ketika Iccha menatap dari tempat tidur.
"Kalau diperiksa terus, nanti kertasnya mengundurkan diri," kata perempuan itu.
"Aku cuma satu kali lagi."
"Itu satu kali lagi yang ketiga."
Erika menutup catatan. Dia memasukkan ke tas bersama ponsel, air, dan benda-benda kecil yang tidak berkaitan dengan buku Jo. Pakaian yang dipilih sederhana, nyaman untuk bergerak, tidak perlu membuktikan dirinya pernah bekerja di rumah seorang CEO.
Lina mengetuk ketika sudah siap. Keduanya turun bersama, menemukan Daddy sedang membaca di ruang tengah. Jack memeriksa waktu, lalu menanyakan apakah semua sudah dibawa.
"Catatan," jawab Lina.
"Air," tambah Erika.
"Keberanian?"
Keduanya saling memandang, kemudian tertawa. Daddy tersenyum dan mengingatkan agar tidak lupa menikmati acara, bukan hanya menunggu giliran tampil dengan tegang.
Jo keluar dari ruang kerja ketika kendaraan yang mereka pesan hampir tiba. Lina memberi tahu tempat kegiatan setelah kakaknya bertanya apakah mereka akan pulang sore.
"Kira-kira," jawabnya. "Kalau selesai lebih cepat, kami kabari."
"Aku punya waktu setelah siang," ujar Jo. "Kalau kalian tidak keberatan, aku ingin mendengarkan bagianmu."
Lina menatapnya, senang tetapi segera melirik Erika. Gadis itu tidak merasa sedang diminta menyetujui kehadiran seseorang pada acara umum, tetapi tetap perlu tahu apakah nanti harus memikirkan pekerjaan.
"Aku tidak membawa bahan proyek," katanya.
Jo mengangguk. "Aku juga tidak datang untuk membahasnya."
Erika menerima jawaban itu. Mereka berpamitan, lalu berangkat sebelum waktu habis untuk memeriksa catatan di pintu rumah.
Tempat kegiatan tidak sebesar yang dibayangkan Erika. Kursi tersusun cukup rapat, meja buku berada dekat pintu, dan orang-orang membawa catatan serta telepon untuk menyimpan hal yang ingin dipelajari. Tidak semua saling mengenal.
Erika mendaftarkan kedatangan dengan nama Anggrek untuk sesi berbagi. Petugas memeriksa, memberi tanda pada daftar, lalu mempersilakan masuk. Tidak ada pertanyaan tentang Aldin.
Lina memilih kursi yang mudah dilewati agar tidak menyenggol orang saat dipanggil. Erika duduk di sebelah, menaruh tas di kaki, dan melihat panggung kecil yang ternyata hanya beberapa langkah lebih tinggi.
"Sekarang masih bisa pura-pura tidak datang?" bisiknya.
"Nama lo sudah dicatat."
"Baik."
Mereka mendengarkan sesi pertama. Ada cerita tentang adegan yang tidak berjalan, tokoh yang suaranya berubah, dan penulis yang lupa bahwa barang sudah rusak pada bab sebelumnya. Lina menatap Erika ketika contoh terakhir disebut, membuat keduanya tersenyum tanpa mengganggu orang lain.
Pada jeda pertama, Erika melihat meja yang menampilkan beberapa buku dan contoh naskah. Dia mendekat bersama Lina, memperhatikan bagaimana halaman ditata untuk membuat orang dapat membaca beberapa bagian tanpa harus berdiri terlalu lama.
Seorang peserta menanyakan apakah mereka juga membawa tulisan cetak. Lina menggeleng. Erika menjelaskan bahwa contoh untuk sesinya ada pada catatan, bukan sesuatu yang hendak dibagikan seluruhnya.
"Tidak apa-apa," kata orang itu. "Aku juga datang hanya membawa pertanyaan."
Erika tersenyum. Sebelum berangkat, dia sempat merasa kurang pantas karena tidak mempunyai tumpukan buku di tangan. Sekarang dia melihat orang-orang datang dengan kebutuhan berbeda: ingin mendengar, ingin menunjukkan karya, atau ingin menemukan alasan mulai lagi.
Lina menunjuk satu contoh yang halamannya diberi tanda. Mereka membaca singkat, lalu bertukar pendapat mengenai cara kalimat pertama menarik perhatian tanpa langsung memberitahukan seluruh akhir.
Erika mencatat satu pertanyaan untuk dirinya sendiri. Tidak langsung mengubah cerita yang sudah ada. Dia ingin membacanya kembali setelah pulang, bukan membawa semua saran menjadi perintah baru.
Ketika orang-orang mulai bergerak ke meja minum, dia mengikuti Lina. Gelas pertama hampir diisi terlalu penuh karena tangan masih sedikit tegang. Perempuan itu menahan botol sambil tersenyum.
"Nanti yang maju duluan airnya," katanya.
Erika tertawa dan menaruh botol. Beberapa orang di sekitar juga tersenyum, membuat ruangan terasa sedikit lebih mudah dikenal.
Saat jeda, seseorang menyapa Lina dari arah meja minum. Arya berdiri membawa gelas, sedikit terkejut menemukan dua orang yang lebih sering dikenalnya dari urusan kantor dan rumah Jack.
"Kalian ikut bicara?" tanyanya.
Lina mengangguk. Erika menjawab setelah menelan air.
"Aku juga."
"Dengan nama siapa?"
"Anggrek."
Arya berhenti, kemudian tersenyum lebih lebar. Dia mengatakan pernah membaca salah satu bagian yang dibagikan oleh orang dekatnya, tetapi tidak menghubungkan nama itu dengan Erika.
Gadis tersebut merasa pipinya hangat. Dia belum terbiasa mendengar pengakuan membaca dari orang yang juga tahu di rumah siapa dirinya tinggal.
"Aku baru ikut kegiatan seperti ini," katanya.
"Bagus. Aku biasanya lebih banyak mendengar."
Arya tidak menanyakan Caca atau Aldin. Dia menceritakan alasan datang, menyebut ingin mempelajari bagaimana orang menyampaikan cerita tanpa membuat semua penjelasan terdengar seperti laporan. Lina tertawa karena masalah itu terasa lebih dekat ke pekerjaannya daripada yang diduga.
Pembicaraan berakhir ketika sesi dilanjutkan. Arya kembali ke tempat duduk, tidak memindahkan diri untuk membuat keduanya merasa harus terus berbicara kepadanya.
Lina mendapat giliran lebih dulu. Dia berdiri dengan catatan, memberi salam, lalu menjelaskan benda-benda dalam cerita yang kadang berpindah atau kembali utuh tanpa alasan. Di bagian contoh, beberapa orang tertawa karena mengenali kesalahan serupa.
Erika mendengarkan, lega melihat teman yang biasanya menahan suara dalam keluarga dapat menyampaikan sesuatu dengan jelas. Lina tidak perlu menulis cerita orang lain agar punya tempat di depan.
Jo tiba sebelum sesi adiknya selesai. Dia duduk pada kursi kosong dekat belakang, tidak berjalan maju untuk membuat kehadiran diketahui seluruh ruangan. Lina melihat saat mengangkat wajah, tersenyum singkat, lalu kembali pada kalimat yang belum selesai.
Ketika giliran Erika mendekat, jari-jarinya menjadi dingin. Dia memegang catatan terlalu erat sampai Lina menyentuh sisi kertas.
"Bisa," bisik perempuan itu.
Nama Anggrek dipanggil.
Erika berdiri. Kursi mengeluarkan bunyi kecil, membuat dia hampir meminta maaf sebelum ada yang merasa terganggu. Dia berjalan ke depan, memberi salam, lalu melihat wajah-wajah yang menunggu bukan karena ingin tahu perbuatan kakaknya.
Kalimat pertama keluar lebih pelan daripada latihan. Dia berhenti, menarik napas, dan mengulang dengan suara yang dapat didengar.
"Aku pernah menulis tokoh yang terus menunggu. Masalahnya, aku sibuk menjelaskan perasaannya sampai lupa memberi dia sesuatu untuk dilakukan."
Beberapa orang mengangguk. Erika melanjutkan contoh, menceritakan bagaimana satu pertanyaan sederhana mengenai makanan membuat adegan bergerak. Dia tidak membaca seluruh naskah. Hanya bagian yang menunjukkan perubahan sebelum dan sesudah diperiksa.
Saat menyebut pelayan hampir membawa pesanan yang salah tanpa ditolak, seseorang tertawa. Erika ikut tersenyum, kehilangan sedikit ketegangan yang sejak tadi membuat bahunya kaku.
Jo mendengarkan dari belakang. Dia mengenali lelucon kecil itu, tetapi baru melihat bagaimana Erika menjelaskan pekerjaan kepada orang yang tidak mempunyai kuasa atas jadwal atau pembayaran. Suaranya berbeda: masih hati-hati, namun tidak selalu mengukur apakah seseorang akan marah.
Pada sesi pertanyaan, seorang pembaca menanyakan bagaimana menulis perasaan yang tidak pernah dialami langsung.
Erika berpikir sebentar sebelum menjawab. Dia mengatakan dapat mendengar, bertanya, dan mencari tindakan yang sesuai, tetapi tidak seharusnya mengaku mengetahui seluruh perasaan hanya karena pernah membaca satu kalimat.
Jawaban itu tidak menyebut siapa pun di rumah Jack. Jo tetap merasa ada sesuatu yang perlu didengar.
Seorang peserta lain mengangkat tangan setelah jawaban pertama selesai. Dia menanyakan apakah menulis dari cerita seseorang lebih mudah karena tidak perlu menciptakan kejadian.
Erika berpikir sebentar. Jo yang duduk di belakang menegakkan punggung, tetapi tidak mengangkat tangan untuk menjelaskan pekerjaan yang mereka lakukan.
"Kejadiannya memang dapat diberikan," jawab gadis itu. "Tapi orang bisa mengingat bagian yang berbeda. Yang satu merasa datang cepat, yang lain merasa menunggu lama. Kita tetap perlu bertanya apa yang benar-benar terjadi dan apa yang hanya kesimpulan mereka waktu itu."
Peserta tersebut mengangguk, lalu bertanya bagaimana kalau orang yang memesan ingin bagian tertentu terlihat lebih bagus.
Erika memegang catatan, merasakan pertanyaan itu dekat dengan meja kerja yang sudah kembali ditempatinya. Dia tidak menyebut nama siapa pun.
"Kalau memang cerita berdasarkan kejadian, aku akan mengatakan bagian mana yang belum bisa kutulis sebagai kenyataan," ujarnya. "Aku bisa membantu memilih kata. Aku tidak bisa membuat sesuatu pernah terjadi hanya karena terdengar romantis."
Beberapa orang tertawa kecil. Erika memberi contoh sederhana: seseorang ingin adegan membawa bunga, padahal waktu diceritakan tidak pernah ada bunga. Jika cerita ingin dijadikan fiksi, bentuknya perlu jelas sejak awal. Jika ingin menyimpan kenangan, jangan menambah lalu membuat orang lain harus mengakui kenangan yang tidak dimiliki.
Jo menunduk sesaat, teringat dirinya tertawa ketika Erika hampir menambahkan bunga pada naskah. Waktu itu lelucon terasa ringan. Kini dia mendengar bagaimana penulis menjaga sesuatu yang dapat berubah menjadi tuduhan kalau semua orang hanya menginginkan kalimat yang enak dibaca.
Peserta berikutnya mengaku sering menulis paragraf perasaan yang terlalu panjang. Dia bertanya apakah semuanya harus dihapus.
"Tidak semuanya," jawab Erika. "Kadang justru perlu. Tapi kalau tokohnya hanya merasa tanpa melakukan apa pun terlalu lama, aku akan bertanya apa yang bisa dilihat orang di ruangan yang sama."
Dia memperlihatkan dua kalimat pendek pada contoh, meminta pendengar membandingkan apa yang dapat dibayangkan. Tidak semua langsung memilih yang sama. Ada yang menyukai versi pertama, ada yang merasa versi kedua lebih jelas.
Erika mendengar sampai beberapa jawaban selesai. Dia tidak mengubah sesi menjadi pembuktian bahwa pilihannya selalu benar. Justru perbedaan itu membuatnya bisa menjelaskan tujuan adegan yang dimaksudkan, lalu mengatakan bahwa bentuk kalimat perlu diperiksa sesuai cerita.
Lina tersenyum dari kursi. Tangan Erika yang tadi dingin kini bergerak lebih tenang saat menunjuk kertas. Di belakang, Jo tidak lagi sekadar menunggu waktu sesi habis. Dia benar-benar mendengarkan seseorang yang dapat berbeda pendapat tanpa membuat dirinya terasa sedang ditinggalkan.
Pertanyaan lain mengenai komentar pembaca. Erika menjawab lebih ringan, mengaku kadang perlu meletakkan ponsel agar tidak memperbaiki cerita hanya karena satu orang ingin semuanya terjadi besok.
Tawa kembali terdengar. Ketika waktu selesai, dia mengucapkan terima kasih dan kembali ke kursi dengan kaki yang masih terasa aneh, tetapi napas tidak lagi pendek.
Lina meraih tangannya sebentar. "Selesai."
"Aku ndak menjatuhkan catatan."
"Itu juga prestasi."
Saat masih menurunkan catatan, Erika didekati seorang pembaca yang membawa buku kecil. Orang itu mengatakan telah mengikuti cerita Anggrek sebelum sesi hari tersebut, kemudian meminta nama ditulis pada halaman kosong.
Erika memandang buku, sedikit terkejut.
"Nama saja?"
"Boleh satu kalimat juga, kalau tidak merepotkan."
Gadis itu menerima pena yang ditawarkan, lalu berhenti karena mendadak seluruh kalimat bagus terasa seperti sesuatu yang terlalu dibuat-buat. Lina di sebelah menunggu, tidak berbisik memberi contoh agar momen cepat selesai.
Erika akhirnya menulis terima kasih sudah membaca, menambahkan nama Anggrek dengan huruf yang tidak sebesar dugaan dirinya. Pena dikembalikan setelah memastikan tinta tidak mengotori halaman berikutnya.
Pembaca tersebut tersenyum, menyebut satu bagian cerita yang pernah disukai, lalu berpamitan. Tidak ada pertanyaan mengenai keluarganya, tidak ada alasan lain untuk meminta tanda selain karya yang dibaca.
Erika memandang tangan sendiri.
"Aku belum pernah tahu harus menulis apa kalau diminta begitu," katanya kepada Lina.
"Tadi sudah menulis."
"Iya. Semoga tidak terlihat terlalu kecil."
"Nama lo masih bisa dibaca."
Mereka tertawa. Erika menyimpan pena miliknya yang ternyata sejak tadi tetap berada di tas. Di belakang, Jo melihat pembaca tersebut berjalan pergi dengan buku kecil terbuka, memperlihatkan kepada temannya sesuatu yang baru didapat.
Dia mengenali nama yang pernah diminta diperbesar pada halaman judul. Kini nama itu diberikan kepada seseorang tanpa berada di bawah kisah cintanya.
Arya memberi selamat saat jeda berikutnya, menyebut bagian yang menurutnya mudah dipahami. Tidak hanya mengatakan bagus karena mengenal orangnya.
Jo mendekat beberapa waktu kemudian. Dia memberi selamat kepada Lina lebih dulu, lalu memandang Erika.
"Kamu terdengar seperti penulis yang tahu apa yang dikerjakan," katanya.
Gadis itu mengangkat alis. "Aku memang penulis, Mas."
Jo berhenti sesaat, kemudian tertawa kecil. "Iya. Pilihan kalimatku kurang baik."
"Bisa direvisi."
Lina tertawa di antara keduanya. Arya menyapa Jo dengan sopan, tidak tiba-tiba mengubah jeda kegiatan menjadi pembicaraan kantor.
Mereka berdiri bersama beberapa menit, membicarakan sesi yang baru didengar. Erika menyadari tangannya tidak lagi gemetar saat mengambil air. Namanya telah dipanggil di depan orang, dan tidak satu pun meminta dia menjelaskan rencana Aldin.
Namun ketika Arya mengatakan ingin membaca kelanjutan cerita, Jo lebih cepat bertanya kapan bab berikutnya akan dikirim. Pertanyaan tersebut terdengar biasa, tetapi nadanya membuat Erika menoleh sebentar.
"Kalau sudah selesai," jawabnya. "Pembacaku juga belum mendapat tanggal pasti."
Arya tertawa. Jo mengangguk, tidak menambahkan pertanyaan lain.
Acara masih mempunyai sesi terakhir. Lina kembali ke kursi, Erika mengikuti, sementara Jo memilih menunggu di bagian belakang. Saat duduk, lelaki itu menyadari bahwa untuk pertama kalinya hari tersebut dia ingin menjadi orang yang lebih dulu tahu kapan tulisan Erika akan dibaca.
Keinginan itu tidak mempunyai nama yang siap diucapkan. Dia membuka ponsel, melihat pesan pekerjaan, lalu menyimpan sebelum layar dapat dipakai untuk menghindari apa yang baru dirasakan.