Aldin melihat buku masih berada pada sisi meja ketika makanan tiba. Caca merapikan piring, lalu memindahkan benda itu sedikit agar tidak terkena air. Gerakan sederhana tersebut membuat lelaki di depannya berhenti sebelum mulai makan.
"Kamu ingin membacanya lagi besok?" tanyanya.
Wanita itu mengangkat wajah. "Mungkin."
"Aku tidak tahu harus bagaimana melihatnya."
Caca duduk. Dia bisa menjawab bahwa itu hanya buku, sesuatu yang tidak punya hak mengganggu hubungan mereka. Namun, jawaban tersebut akan mengulang kebiasaan membuat hal yang besar terdengar kecil agar percakapan cepat selesai.
"Itu bukan cuma cerita," katanya. "Ada hal yang memang pernah terjadi. Aku tidak bisa mengatakan semuanya hilang karena sekarang aku memilihmu."
Aldin menunduk, kemudian mengangguk. Dia pernah berharap pilihan Caca mengakhiri seluruh pertanyaan tentang orang lain. Sekarang wanita itu duduk bersamanya, tetapi masih membawa kehidupan yang ditinggalkan, sama seperti dirinya membawa rumah Ibu dan kursi di hadapan Jo.
"Aku tidak akan meminta dibuang," ujarnya.
"Terima kasih."
Mereka mulai makan. Tidak ada janji bahwa sejak malam itu semuanya akan mudah. Namun, keduanya tidak lagi memakai kalimat kita sudah bersama sebagai cara menghindari hal yang baru diketahui setelah pergi.
Di rumah Jack, Kiki sedang mencari foto lain. Dia membuka laci dekat ruang keluarga karena ingin melihat gambar Mama pada acara lama, membandingkan cara bros kecil dipasang pada pakaian.
Lina lewat membawa gelas. Melihat beberapa lembar hampir jatuh, dia menahan sisi tumpukan.
"Jangan ditarik semuanya. Nanti urutannya berubah."
"Gue sedang mencari."
"Gue tahu. Yang di bawah juga ikut keluar."
Kiki menggeser satu lembar, lalu bros yang diletakkan di atas meja tersangkut pada ujung kain. Pengaitnya terbuka sedikit. Lina otomatis meraih sebelum jatuh, tetapi Kiki menyambar lebih dulu.
"Jangan."
Lina berhenti. Tangannya diturunkan, gelas dipindahkan jauh dari foto.
Kiki memeriksa pengait. Tidak patah, tetapi lebih sulit ditutup daripada sebelumnya. Dia mencoba menekan, semakin kesal ketika bagian itu tidak bergerak seperti yang diinginkan.
"Tadi masih bisa."
"Mungkin kainnya tersangkut," kata Lina.
"Gue tahu."
Gadis berhijab itu tidak menambahkan. Dia berdiri di sisi meja, menunggu apakah Kiki ingin dibantu atau ingin orang lain tidak melihat.
Daddy datang setelah mendengar laci ditutup terlalu keras. Dia menanyakan yang terjadi, lalu duduk ketika Kiki menunjukkan pengait.
Jack memeriksa dengan hati-hati. Kain yang tersangkut dilepaskan perlahan, bukan ditarik paksa. Setelah itu pengait dapat kembali menutup, walaupun perlu ditekan dari sisi yang benar.
"Tidak rusak," katanya.
Kiki mengambil bros, tetapi wajahnya belum lega. Di bawah benda itu, satu foto lama kini terlihat. Maira duduk dengan tubuh yang mulai berubah karena kehamilan, Kiki kecil berada di sampingnya, dan Ammar serta Jo berdiri terlalu dekat hingga salah satu tangan tidak masuk gambar.
Lina melihat, lalu memalingkan wajah sebelum Kiki merasa seseorang mengambil kenangan yang baru ditemukan.
Jack mengikuti pandangan putrinya. Dia mengangkat foto tersebut, memperlihatkan lebih jelas.
"Sebelum Lina lahir," katanya.
Kiki tidak menjawab.
"Mama sudah menyiapkan beberapa hal waktu itu. Termasuk pakaian yang kemudian Daddy simpan."
Gadis itu memandang wajah ibunya. Ada senyum pada gambar, tidak tampak seperti orang yang sedang tahu bahwa hari-hari berikutnya akan membuat keluarganya kehilangan begitu banyak.
"Kenapa Daddy tidak sering menunjukkan ini?"
Jack menarik napas. "Daddy menyimpan. Kadang terlalu lama."
"Semua orang bilang harus ingat yang baik. Tapi banyak yang tidak pernah diceritakan."
Lina tetap berdiri. Kalimat Kiki tidak lagi hanya mengenai dirinya, tetapi dia belum tahu apakah aman berada dekat meja tersebut.
Kiki menggeser foto lebih dekat ke cahaya. Di salah satu sudut, dirinya yang masih kecil memegang sesuatu yang tidak lagi dapat dikenali. Dia bertanya benda itu apa. Daddy mendekat, melihat cukup lama, lalu mengaku tidak ingat.
Jawaban tersebut membuat wajah Kiki berubah.
"Daddy juga tidak ingat?"
"Tidak semuanya."
"Terus kalau foto ini tidak ada, hilang begitu saja?"
Jack menatap putrinya. Dia mengerti pertanyaan itu tidak hanya tentang benda kecil dalam tangan anak berusia dua tahun. Kiki sedang melihat betapa banyak bagian hidup bersama Mama yang tidak dapat ditemukan lagi hanya dengan bertanya lebih keras.
"Sebagian mungkin tidak bisa kita temukan," jawabnya.
Gadis itu menekan bibir. "Gue tidak suka mendengar itu."
"Daddy juga."
Kiki menatap ayahnya, mencari jawaban yang membuat kehilangan bisa dibatalkan atau dialihkan pada sesuatu yang lebih mudah dilawan. Jack tidak memberikannya.
Lina mengambil satu kain bersih, menaruh pada sisi meja agar foto tidak terkena bekas air. Dia tidak menyentuh gambar yang sedang dipegang kakaknya.
Kiki melihat gerakan itu. "Lo jangan berdiri seperti menunggu gue marah."
Lina mengangkat wajah. "Gue tidak tahu harus ke mana."
Kalimat tersebut keluar lebih jujur daripada rencana yang sudah disusun. Kiki terdiam, Daddy memandang kedua putrinya, dan untuk beberapa detik tidak seorang pun mempunyai cara menutupi apa yang biasa terjadi ketika pembicaraan mengenai Mama dimulai.
"Daddy juga pernah salah," kata Jack akhirnya. "Daddy terlalu sering mengira kalau kalian tidak sedang bertengkar di depan Daddy, berarti tidak perlu dibicarakan hari itu."
Kiki menatapnya. "Kami sering bertengkar."
"Iya. Dan Daddy kadang hanya menghentikan suara, bukan mendengar apa yang masih tinggal setelah kalian diam."
Lina merapatkan tangan pada kain. Dia tidak pernah berharap ayahnya menjadi orang yang selalu gagal. Namun mendengar satu kesalahan diakui membuat dirinya tidak lagi terasa seperti satu-satunya hal yang harus diperbaiki dalam rumah.
Kiki menunduk pada gambar. Kemarahannya tidak hilang. Justru kini mempunyai bagian yang tidak dapat lagi diletakkan seluruhnya pada adik yang berdiri dekat meja.
"Aku belum tahu harus bagaimana," katanya.
"Tidak perlu tahu semuanya malam ini," jawab Jack. "Tapi kita bisa mulai dari mendengar orang yang ada."
Lina tetap menunggu, sampai Daddy memberi tempat yang dapat dipilih tanpa membuatnya merasa harus mengambil kursi di sisi Kiki.
Daddy mempersilakan duduk dengan gerakan kecil. Lina memilih kursi di sisi, tidak tepat berhadapan dengan Kiki.
"Kamu ingin Daddy cerita apa?" tanyanya.
Kiki mengusap ujung foto. "Mama senang?"
Jack menatap putrinya. "Dengan kehadiran Lina? Iya."
Wajah Kiki mengeras. Dia sudah pernah mendengar jawaban serupa, tetapi kini senyum Mama di gambar tidak dapat dihapus hanya dengan mengatakan semua orang ingin membuatnya berhenti marah.
"Tapi Mama meninggal."
"Iya."
"Kalau tidak..."
Kalimat itu putus. Lina merapatkan kedua tangan. Dia mengenali arah yang biasa membuat dirinya harus menjauh sebelum dituduh lagi.
Daddy tidak menjawab dengan suara tinggi. "Daddy juga pernah memikirkan banyak kalau. Kalau hari itu berbeda. Kalau Daddy bisa melakukan sesuatu lagi. Tapi tidak satu pun membuat Mama kembali, dan tidak satu pun membuat Lina memilih apa yang terjadi."
Kiki menunduk. Foto masih berada di tangannya.
"Gue tidak ingat banyak," katanya pelan. "Kadang gue marah karena orang lain bisa cerita, sementara gue cuma punya gambar."
Lina mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya dia mendengar bagian kehilangan Kiki yang tidak dimulai dengan nama dirinya sebagai penyebab.
"Gue bahkan tidak punya satu ingatan bersama," ujarnya.
Kiki memandang adiknya. Jawaban itu tidak membantah rasa sakit yang dimiliki, tetapi menunjukkan tempat lain yang selama ini hanya dibayangkan sebagai orang yang mendapat hidup ketika Mama pergi.
Ruangan menjadi sunyi. Daddy tidak meminta mereka berpelukan, tidak mengatakan malam tersebut harus mengakhiri semua tahun yang sulit.
Dia mengambil satu foto lain, memperlihatkan cara Maira memegang bros pada acara keluarga. Kiki melihat, bertanya tentang pakaian yang dipakai, dan Jack menjawab sejauh yang diingat.
Lina mendengarkan. Sesekali dia ingin bertanya, lalu menunggu sampai ada jeda yang tidak membuat Kiki merasa pembicaraan diambil.
Ketika semuanya selesai, Kiki memasukkan foto kembali dengan lebih rapi. Satu lembar yang baru dilihat diletakkan terpisah untuk diminta salinan nanti.
"Yang ini jangan dibuang," katanya.
"Tidak akan," jawab Daddy.
Lina berdiri untuk membawa gelas. Kiki melihat, lalu memanggil sebelum adiknya terlalu jauh.
"Lo mau foto yang sama?"
Gadis itu berhenti. "Kalau boleh."
Kiki mengangguk. Tidak ada senyum besar, hanya satu persetujuan yang diberikan tanpa disuruh oleh Daddy.
Kiki memotret foto yang akan dibuat salinan sebelum semuanya disimpan. Dia memastikan gambar tidak terpotong, lalu meminta Daddy menghubungi tempat yang biasa membantu keluarga mencetak.
"Dua?" tanya Jack.
Gadis itu mengangguk. "Satu buat gue. Satu buat Lina."
Daddy tidak menambahkan pujian. Dia hanya mengulangi jumlah agar pesan tidak salah, kemudian mengirim sesuai permintaan.
Kiki melihat foto pada layar. Warnanya berbeda sedikit dari kertas lama, membuatnya meminta agar salinan tidak diubah terlalu banyak hanya supaya terlihat baru.
"Biar tetap seperti yang ini," katanya.
"Baik."
Lina berdiri di sisi lain meja, mendengar namanya disebut sebagai penerima tanpa perlu meminta lagi. Dia mengucapkan terima kasih pelan. Kiki mengangguk, masih sibuk memperbesar bagian wajah Mama.
"Kalau hasilnya berbeda, nanti tanyakan," ujar kakaknya. "Jangan langsung menerima cuma karena sudah dicetak."
Lina hampir tersenyum, tetapi menahan agar kalimat itu tidak berubah menjadi sesuatu yang membuat Kiki merasa sedang diperhatikan terlalu banyak.
"Iya. Gue periksa."
Jack menyimpan ponsel, membantu memasukkan foto asli pada sampul yang tidak mudah terlipat. Kiki menerima, merapikan sisi, lalu membawa bros pada kotaknya sendiri.
Tidak ada satu benda yang harus diserahkan kepada orang lain agar dirinya dapat tetap memiliki Mama dalam ingatan. Ada salinan yang akan datang, dan untuk pertama kalinya jumlah dua tidak terasa seperti sesuatu yang mengurangi haknya menjadi anak yang kehilangan.
Erika mengetahui percakapan tersebut bukan dari mendengarkan di balik pintu. Lina bercerita singkat ketika mereka bertemu untuk memeriksa bahan acara penulis. Dia menyebut foto, bros, dan tawaran salinan, lalu berhenti sebelum menjadikan perubahan itu sebagai kabar bahwa seluruh hubungan kini mudah.
"Gue masih takut salah bicara," katanya.
Erika mengangguk. "Tapi tadi lo tetap bicara."
"Iya."
Mereka melanjutkan latihan. Lina memperpendek satu kalimat, Erika mengubah contoh yang terlalu banyak penjelasan, dan keduanya menentukan waktu berangkat agar tidak datang dengan napas terengah.
Iccha masuk membawa air. Dia melihat kertas berisi waktu bicara, lalu bertanya apakah keduanya akan benar-benar tampil.
"Sudah daftar," jawab Lina.
Erika mengangguk. "Sekarang ndak bisa pura-pura cuma mendengarkan."
"Bisa. Tapi nanti nama lo dipanggil dan gue harus mendengar cerita penyesalan sepanjang malam."
Gadis itu tertawa. Iccha meletakkan gelas dan menawarkan membantu mendengarkan satu kali tanpa menyela. Tawaran diterima.
Jo melewati lorong ketika suara Erika terdengar dari kamar. Dia tidak berhenti untuk mengoreksi bahan yang bukan pekerjaannya. Namun, langkah melambat sesaat saat mendengar perempuan itu menjelaskan bagaimana sebuah tokoh perlu melakukan sesuatu sebelum pembaca diminta memahami perasaannya.
Lelaki tersebut mengingat beberapa kalimat sendiri yang belum dibuktikan dengan tindakan. Dia kembali ke ruang kerja, memeriksa jadwal proyek, lalu memastikan tidak ada permintaan mendadak pada hari kegiatan Erika dan Lina.
Sebelum tidur, Lina melewati ruang tengah untuk memeriksa apakah gelas tadi sudah dibawa. Kiki masih di sana, duduk dengan ponsel dan satu foto yang sudah dipotret agar mudah ditemukan lagi.
"Gelasnya sudah," kata kakaknya tanpa mendongak.
Lina berhenti. "Oke."
"Lo tadi meminta salinan karena belum pernah lihat?"
Gadis itu memandang foto. "Pernah lihat beberapa. Yang ini belum."
Kiki menggeser gambar sedikit, memberi ruang pada meja. Lina tidak langsung mendekat sampai kakaknya mengatakan boleh dilihat.
Keduanya berdiri bersebelahan. Dalam gambar, Maira tersenyum kepada sesuatu di luar jangkauan kamera. Lina bertanya apakah Daddy yang memotret. Kiki mengatakan belum menanyakan.
"Besok tanya," ujarnya.
"Iya."
Tidak ada kata kita pada kalimat itu, tetapi juga tidak ada larangan agar Lina menunggu sampai pertanyaan selesai dibawa oleh orang lain.
Kiki merapikan foto, memasukkan ke sampul sementara, lalu memandang adiknya.
"Gue belum bisa langsung biasa."
Lina mengangguk. "Gue tahu."
"Jangan nanti bilang semuanya sudah baik."
"Gue tidak bilang."
Kiki menghela napas. Dia memegang sisi meja, menatap lantai beberapa detik, kemudian mengatakan sesuatu dengan suara lebih kecil.
"Tadi gue menyambar bros karena takut jatuh. Gue tidak ingin membentak lo."
Lina menerima kalimat itu dengan anggukan yang tidak terlalu cepat. Ada banyak bentakan lama yang tidak masuk ke dalam satu penjelasan mengenai malam ini. Tetapi dia dapat mendengar apa yang memang sedang dikatakan tanpa meminta semuanya ditanggung sekaligus.
"Aku dengar," jawabnya.
Kiki menatap wajah adiknya, lalu mengangguk sekali. Mereka berpisah menuju kamar masing-masing setelah lampu utama dimatikan. Tidak ada pelukan, tidak ada permintaan agar tahun-tahun yang sulit dilupakan demi satu foto.
Namun, Lina melewati tangga tanpa merasa harus memeriksa apakah dirinya sedang mengambil tempat yang tidak boleh diambil.
Malam itu Kiki menaruh bros dalam kotak, di sebelah foto yang menunggu dibuat salinan. Lina berada di kamar lain, tidak mengetahui apakah besok kakaknya akan kembali menutup diri.
Namun, untuk satu malam, foto Mama yang sama boleh berada dalam rencana dua orang. Tidak ada yang perlu kehilangan tempat agar yang lain dapat melihat.