Buku itu dibawa Jo pada pertemuan berikutnya. Dia memasukkannya ke tas, terpisah dari kertas-kertas yang harus dibicarakan, lalu memeriksa waktu sebelum keluar.
Daddy menunggu di ruang depan. Jack tidak ikut untuk memutuskan apa yang harus dipilih anaknya. Dia datang karena Jo meminta ada keluarga yang mendengar, supaya apa yang disampaikan tidak berubah ketika kembali diceritakan.
"Sudah siap?" tanyanya.
Jo mengangguk. "Untuk bicara, iya."
Mereka berangkat tanpa membawa Ammar yang mempunyai pekerjaan lain. Di tempat pertemuan, Caca datang bersama Frans. Ada orang yang membantu kedua pihak memahami hal-hal yang perlu diselesaikan. Tidak ada tamu acara, tidak ada kamera yang meminta pasangan itu tetap tersenyum.
Jo duduk berhadapan dengan Caca. Buku diletakkan pada sisi meja setelah wanita itu melihat tas yang dibawa.
"Ini yang kamu minta."
Caca menerima, menyentuh sampul, lalu meletakkan pada pangkuan tanpa membuka. Untuk beberapa detik tangannya tampak seperti hendak meraih tangan Jo, tetapi dia menahan.
Pembicaraan dimulai dari keputusan keduanya mengenai hubungan tersebut. Jo tidak mengulang seluruh malam pernikahan untuk membuat Caca mengakui hal yang sudah diakui. Dia menyatakan bahwa dirinya tidak ingin meneruskan pernikahan.
Frans menegakkan punggung.
"Kalian baru melewati beberapa hari yang sangat berat."
"Saya tahu," jawab Jo.
"Mungkin perlu waktu lebih banyak sebelum mengatakan begitu."
Lelaki muda itu memandang ayah Caca, kemudian kembali kepada istrinya. "Waktu untuk memikirkan langkah berikutnya perlu. Tapi saya tidak datang untuk mengatakan akan menunggu dia memilih saya lagi."
Caca menarik napas. Buku pada pangkuannya bergeser sedikit, ditahan dengan telapak tangan.
"Aku juga tidak bisa mengatakan ingin kembali seperti semula," ujarnya.
Frans menoleh. Kali ini putrinya tidak menghindari pandangan.
"Aku masih bersama Aldin," lanjut Caca. "Aku tahu itu menyakitkan untuk didengar. Tapi kalau aku bilang akan mencoba lagi hanya karena duduk di sini, aku mengulang yang sudah kulakukan."
Jo memandangnya. Kalimat tersebut akhirnya memberi kepastian yang tidak mempunyai bentuk seperti harapan. Tidak ada cara membaca sebagai aku hanya perlu ditenangkan, aku hanya perlu liburan, atau aku akan pulang kalau semua orang berhenti marah.
Daddy meletakkan tangan di atas lutut. Dia tidak ikut menjawab untuk Jo. Orang yang membantu pertemuan mencatat, kemudian mengarahkan pembicaraan kepada proses yang harus dijalankan dengan benar.
Tidak ada keputusan resmi yang selesai hanya karena dua orang mengangguk dalam satu ruangan. Ada langkah-langkah yang harus ditindaklanjuti, berkas yang perlu diperiksa, dan waktu untuk membicarakan hal yang tidak cukup dijawab pada hari itu.
Jo mendengar, bertanya pada bagian yang belum jelas, lalu menyatakan akan menjalankan yang diperlukan. Caca juga diberi kesempatan bertanya. Ayahnya tidak menjawab atas nama putri yang sejak tadi sudah menyatakan pilihan sendiri.
Barang-barang pribadi dibicarakan. Caca tidak meminta keluarga Jack menyimpan semuanya sampai dirinya memutuskan ingin diperlakukan sebagai apa. Dia akan mengurus pengambilan melalui orang yang disepakati, dengan daftar yang jelas.
"Erika tidak perlu ikut mengatur," kata Jo.
Wanita itu mengangguk. "Aku tidak akan meminta."
Frans mengusap wajah. Kekhawatirannya mengenai pertanyaan keluarga masih ada, tetapi pembicaraan tersebut tidak dapat dijadikan kesempatan menyiapkan jawaban bahwa pasangan itu telah kembali bersama.
Jack menyatakan keluarga mereka akan menyampaikan seperlunya setelah ada langkah yang jelas, tanpa membagikan rincian pribadi kepada semua penanya. Caca setuju. Jo tidak diminta mengucapkan kalimat bahwa dirinya sudah memaafkan agar kabar tampak lebih rapi.
Ketika pertemuan hampir selesai, Frans keluar sebentar untuk menerima telepon. Jack juga memberi ruang, menunggu dekat pintu bersama pihak yang membantu. Jo dan Caca tinggal berhadapan, tanpa sesuatu yang masih bisa disembunyikan di balik permintaan orang tua.
Wanita itu membuka buku sampai halaman terakhir. Tulisan Jo tampak sedikit miring, dengan satu huruf yang lebih tebal karena pena berhenti terlalu lama. Dia membaca, bibirnya bergerak pada kalimat yang dulu tidak diselesaikan.
Jo melihat tanpa menyela.
"Aku tidak tahu kenapa sekarang rasanya berbeda," ujar Caca setelah lama diam.
"Sekarang kamu tahu aku tidak sedang berjanji tanpa maksud."
Air matanya turun. Dia tidak meminta lelaki di seberang meraih tangan atau mengatakan bahwa semua masih bisa diperbaiki.
"Aku dulu juga bahagia bersamamu," katanya.
Jo mengangguk perlahan. "Aku tahu. Itu yang membuatnya berat. Kalau semuanya buruk sejak awal, mungkin aku tidak perlu membaca ulang sebanyak ini."
Caca menutup buku. "Boleh kusimpan?"
Lelaki itu memandang sampul. Dia telah memberikan sebagai hadiah, lalu mengambilnya kembali pada malam ketika tidak dapat memisahkan benda tersebut dari apa yang terjadi.
"Boleh. Itu memang kuberikan kepadamu."
"Aku tidak akan meminta Erika menambah bagian untukku."
"Bukan itu yang kutanyakan."
Wanita itu menunduk, menerima bahwa kesanggupannya menghormati batas bukan hadiah baru yang harus membuat Jo lebih lunak.
Jo bangkit setelah memastikan tidak ada yang masih perlu dibicarakan langsung. Caca juga berdiri, memegang buku, lalu mengatakan akan hadir pada waktu berikutnya sesuai yang telah disepakati.
Caca memegang tepi buku sebelum benar-benar berdiri. Ada satu pertanyaan yang sejak tadi disimpan, dan dia tahu mengucapkannya dapat terdengar seperti meminta sesuatu yang tidak berhak ditagih.
"Kau masih punya perasaan untukku?"
Jo memandangnya. Seluruh pembicaraan mengenai langkah berpisah tidak membuat pertanyaan tersebut mendadak mudah dijawab.
"Masih ada," katanya setelah beberapa saat. "Kalau tidak ada, mungkin aku tidak perlu menghabiskan malam membaca ulang hal yang sudah kuketahui."
Wanita itu menunduk. Jawaban tersebut membuatnya lega sekaligus semakin malu, dua perasaan yang seharusnya tidak datang sebagai keuntungan setelah dirinya pergi.
"Tapi itu tidak berarti aku mau menunggu kamu kembali memilih," lanjut Jo.
"Aku tahu."
"Aku ingin kamu benar-benar tahu. Bukan hanya mengatakan supaya percakapan selesai."
Caca mengangguk. Dia membuka mulut untuk meminta maaf lagi, lalu berhenti karena tidak ada permintaan baru yang dapat dibawa oleh kata itu.
Jo menarik napas. "Perasaan yang masih ada tidak membuat semua keputusan kemarin boleh dilewati. Aku tidak bisa kembali ke meja makan lalu berpura-pura percaya dengan cara yang sama."
Wanita itu menyentuh sampul, merapikan tali kantong yang sudah kusut. Dia pernah membayangkan bahwa membaca halaman terakhir akan menjelaskan apakah Jo sungguh mencintai. Kini jawaban sudah diucapkan, dan tidak dapat dipakai sebagai jalan untuk menjaga dua orang tetap berada pada tempat yang diinginkan.
"Aku akan mengurus yang harus kuurus," katanya.
"Baik."
Jo berdiri lebih dulu, memberi ruang agar Caca dapat memasukkan buku ke kantong tanpa merasa harus menyembunyikan air mata. Dia tidak meraih benda itu kembali dan tidak menawarkan tangan.
Mereka tidak berpelukan.
Di luar, Aldin menunggu dekat kendaraan. Dia tidak masuk ke pertemuan yang tidak menjadi haknya untuk menjawab, tetapi tetap datang menjemput Caca. Jo melihat dari jarak beberapa langkah.
Aldin memberi salam pendek. Jo membalas dengan gerakan kepala, kemudian berjalan bersama Daddy tanpa berhenti untuk bertanya apakah keduanya masih ingin pergi bersama.
Jawabannya sudah didengar dari Caca sendiri.
Di kendaraan, Jo menatap jalan. Jack tidak langsung mengisi sunyi. Setelah beberapa waktu, lelaki muda itu mengatakan bahwa buku telah diberikan kembali.
"Kamu ingin tetap menyimpan?" tanya Daddy.
"Tidak. Aku cuma tidak menyangka melepaskannya juga sakit."
Jack mengangguk. "Barang kadang menyimpan hari yang kita pikir masih akan datang."
Jo memandang tangannya, lalu menyandarkan punggung. Dia belum merasa lebih ringan. Namun, setidaknya tidak lagi diminta menunggu sesuatu yang tetap disebut mungkin sementara orang lain sudah memilih.
Sebelum kembali ke rumah, Jo menerima pesan mengenai waktu pengambilan barang dari lokasi acara. Ada beberapa benda yang belum dipindahkan karena keluarga terlalu sibuk pada malam tersebut.
Dia membaca daftar, mengenali satu barang milik Caca yang tidak perlu dibawa ke rumah Jack. Waktu dan tempat pengambilan diteruskan langsung kepada orang yang tadi disepakati dalam pertemuan, dengan catatan bahwa pemiliknya akan menentukan penerimaan.
Daddy melihat gerakan itu, tetapi tidak meminta penjelasan setiap baris. Jo sendiri menyebut bahwa beberapa urusan kecil akhirnya mempunyai penanggung jawab yang jelas.
"Tidak harus selesai semua hari ini," kata Jack.
"Aku tahu. Tapi yang bisa disampaikan, lebih baik kusampaikan sekarang."
Lelaki itu mengangguk. Jo memastikan pesan masuk, lalu menyimpan ponsel. Dia tidak mengirim daftar kepada Erika hanya karena perempuan itu biasa membantu mencatat sesuatu dengan rapi.
Kendaraan kembali bergerak. Di jalan, Jo melihat tempat makan yang pernah didatangi bersama Caca. Dia menoleh sesaat, kemudian kembali memandang depan. Ingatan tidak perlu dihapus agar dirinya dapat meneruskan perjalanan pulang.
Setelah sampai, tas diletakkan di ruang kerja. Bagian yang dulu digunakan menyimpan buku kini kosong. Jo mengeluarkan berkas lain, memastikan tidak ada kertas tercecer, lalu berhenti ketika mendengar tawa dari ruang sebelah.
Dia tidak membawa amplop ke arah suara tersebut. Urusan pertemuan tetap berada pada meja tempat memang perlu disimpan.
Di rumah, Erika sedang berlatih bersama Lina. Buku catatan terbuka, dan keduanya bergantian mengucapkan kalimat pertama yang akan disampaikan pada kegiatan penulis.
Lina menghentikan Erika setelah satu paragraf yang terlalu panjang.
"Lo tidak perlu menjelaskan semua sebelum orang tahu masalahnya apa."
"Aku takut terdengar seperti cuma membahas makanan."
"Karena contoh lo memang makanan. Tidak apa-apa."
Erika mengulang, kali ini mulai dari tokoh yang tidak berani bertindak. Penjelasan terasa lebih mudah. Lina mengangguk, mencatat bagian yang perlu dipendekkan, lalu mencoba pembukaan sendiri.
Mereka tertawa ketika contoh benda rusak malah membuat cerita terdengar seperti petunjuk memperbaiki lemari. Erika membantu memilih satu kalimat yang lebih sederhana.
Jo mendengar tawa itu ketika masuk. Dia berhenti sebentar di lorong, melihat dua penulis yang sedang memperbaiki kata-kata, bukan menunggu kabar pernikahannya.
Lina memberi salam. Erika ikut mendongak, tetapi tidak bertanya bagaimana pertemuan berlangsung.
"Bukunya sudah diterima Caca," kata Jo.
Gadis itu mengangguk. "Baik. Berarti ndak kusimpan lagi."
"Tidak."
Tidak ada tugas tambahan di bawah kabar tersebut. Jo pergi ke ruang kerja, dan mereka melanjutkan latihan setelah memastikan rumah tidak sedang membutuhkan bantuan yang memang diminta.
Caca pulang lebih dulu ke rumah orang tuanya sebelum bertemu Aldin malam itu. Dia membawa buku, tidak meninggalkan pada kendaraan agar ibunya tidak melihat.
Perempuan yang menyambut menanyakan apakah pembicaraan berjalan. Caca mengangguk, meletakkan tas, lalu duduk ketika diminta menjelaskan hal yang memang boleh diceritakan kepada keluarga.
Dia mengatakan mereka telah memilih menjalani proses berpisah. Ada langkah berikutnya yang harus diikuti, bukan sesuatu yang sudah selesai hanya karena hari ini datang dan pulang.
Ibunya menatap wajah Caca cukup lama.
"Kau tidak lagi ingin bersama Jo?"
Wanita muda itu memegang kedua tangan. "Aku tidak bisa meminta dia mencoba lagi. Aku juga masih memilih Aldin."
"Ayahmu tadi diam sepanjang jalan."
"Aku tahu."
"Dia belum tahu bagaimana menerima. Ibu juga."
Caca tidak mencoba membuat keduanya terdengar lebih mudah dengan mengatakan nanti akan mengerti. Dia mengangguk, mendengar sampai ibunya selesai menyebut orang-orang yang masih bertanya.
"Kalau ada yang perlu kujawab, beri tahu," ujarnya. "Jangan Ibu dan Ayah terus menjawab untukku."
Perempuan itu menarik napas. "Sebagian pertanyaan memang harus kamu jawab. Tapi sebagian hanya orang ingin tahu. Kita tidak harus memberi semua."
Caca mengangguk. Dia menyadari menjaga sesuatu tetap pribadi tidak sama dengan menyembunyikan dari orang yang seharusnya mengetahui. Perbedaan itu dulu terlalu sering dibuat kabur karena lebih mudah mengatakan tidak perlu dibicarakan.
Ibunya melihat kantong buku. Caca menjelaskan bahwa Jo mengembalikan hadiah yang pernah diberikan. Tidak ada cerita bahwa menerima buku berarti mendapat kesempatan baru.
"Simpan kalau memang penting," kata perempuan itu. "Tapi jangan menjadikan benda itu alasan menunda keputusan yang tadi sudah dikatakan."
Caca membawa kantong ke kamar, duduk di tepi ranjang, dan memandang meja yang dahulu dipenuhi pilihan untuk acara. Beberapa benda belum dibereskan. Dia mulai menyisihkan yang dapat disimpan, memisahkan yang harus dikembalikan, lalu berhenti ketika menemukan catatan dengan tanggal pernikahan.
Tidak ada tanggal pengganti yang ditulis di bawahnya. Untuk sore itu, dia hanya meletakkan kertas bersama barang yang memang tidak akan digunakan lagi, menerima bahwa tidak semua kekosongan harus segera diisi rencana baru.
Malam itu Caca membaca buku dari awal. Aldin duduk di sisi lain ruangan, mengetahui asal benda tersebut, tetapi belum tahu bagaimana menanyakan tanpa terdengar seperti ingin mengambil sesuatu yang tidak pernah menjadi miliknya.
Wanita itu tidak menyembunyikan sampul. Dia juga tidak membaca keras-keras untuk membuat lelaki yang kini dipilih mendengarkan semua yang dahulu dibagi dengan orang lain.
Pada halaman terakhir, dia berhenti lama.
Aldin akhirnya menanyakan apakah ingin makan. Caca mengangkat wajah, mengiyakan, dan menutup buku. Kali ini tidak diletakkan di bawah benda lain. Dia menyimpan pada sisi yang mudah dilihat, menerima bahwa keputusan hari ini tidak akan menghapus kata-kata yang pernah diberikan dengan sungguh-sungguh.