Erika mengangkat buku dari kantong. Sampul krem itu tidak berubah, tetapi tali yang dulu dipasang rapi kini kusut pada salah satu sisi. Dia membukanya sampai halaman terakhir tanpa membaca tulisan Jo lagi.
Ponsel masih menampilkan permintaan Caca. Aku ingin membaca tulisan di halaman terakhir sekali lagi.
Erika mengetik bahwa bukunya masih ada. Dia hampir menambahkan bisa diambil kapan saja, lalu berhenti. Benda itu diberikan Jo, ditinggalkan Caca, dan dikembalikan kepadanya pada malam ketika keduanya tidak berada dalam ruangan yang sama. Dia tidak ingin menentukan sendiri apa arti menyerahkan lagi.
Buku masih kusimpan. Untuk mengembalikannya, sebaiknya kamu bicara langsung dengan Jo. Aku akan memberi tahu bahwa kamu menanyakan.
Pesan dikirim. Erika menaruh buku pada meja, kemudian berdiri untuk turun sebelum alasan sungkan membuat kabar tersebut kembali ditunda.
Jo berada di ruang kerja. Pintunya terbuka, tetapi dia sedang menelepon. Erika menunggu di sisi lorong sampai lelaki itu menurunkan ponsel dan melihat keberadaannya.
"Ada yang perlu diperiksa?"
"Caca mengirim pesan. Dia ingin membaca halaman terakhir buku."
Jo berhenti merapikan agenda. "Mengirim kepada kamu?"
"Iya. Aku sudah meminta dia membicarakan pengembalian langsung sama Mas. Bukunya masih di kamar."
Lelaki itu memandang Erika cukup lama. Gadis tersebut mengenali jeda itu, dan tubuhnya hampir menegang seperti hari ketika namanya dipanggil di lokasi acara. Namun, pertanyaan berikutnya tidak menuduh.
"Kamu sudah menjanjikan sesuatu?"
"Belum. Aku cuma bilang masih kusimpan."
Jo mengangguk. Dia mengambil ponsel, membaca pesan lain dari Caca mengenai jadwal yang sudah disepakati, kemudian menaruh kembali.
"Aku akan menghubungi. Kamu tidak perlu menerangkan kenapa dia ingin membaca."
Erika menarik napas. "Baik. Kalau nanti bukunya perlu dibawa, kabari."
"Terima kasih sudah menyimpan."
Dia mengangguk dan hendak keluar, tetapi Jo memanggil sebelum langkahnya melewati pintu.
"Ka. Kalau dia menghubungimu soal kami lagi, kamu boleh menyuruh langsung kepadaku. Tidak harus turun untuk setiap pesan."
Erika menatapnya. "Aku tadi turun karena buku itu masih ada di kamarku."
"Aku tahu. Aku hanya ingin jelas."
Gadis itu mengangguk. Untuk pertama kalinya, kalimat ingin jelas tidak harus diucapkan oleh dirinya sendiri agar pekerjaan dan hubungan orang lain tidak bercampur lagi.
Jo menelepon Caca setelah Erika kembali ke kamar. Wanita itu menerima dengan suara yang tidak lagi terdengar bersembunyi dari keluarga, tetapi tetap hati-hati ketika mengucapkan namanya.
"Kamu menanyakan buku kepada Erika," katanya.
"Aku tidak tahu masih berada di mana."
"Ada padanya karena aku mengembalikan malam itu. Kalau ingin mengambil, kita atur langsung."
Caca diam sebentar. "Aku hanya ingin membaca tulisanmu."
Jo melihat tangannya sendiri di atas meja. Tulisan tersebut dibuat pada saat dirinya masih percaya bahwa mencoba kembali merupakan keputusan dua orang yang sama-sama akan menjaga.
"Untuk apa?"
Wanita itu tidak segera menjawab. Pertanyaan itu tidak meminta alasan praktis seperti ingin menyimpan atau menunjukkan kepada Ibu. Dia harus mengatakan apa yang sebenarnya dicari dari satu halaman yang sudah pernah dibaca.
"Aku terus mengingatnya," katanya. "Aku menutup sebelum membaca seluruh buku. Sekarang aku ingin..."
Kalimat berhenti. Jo membiarkan diam berlangsung, tidak menyelesaikan untuknya.
"Aku ingin tahu apakah waktu itu kau sungguh merasa begitu."
Lelaki itu memejamkan mata sesaat. "Aku menulis sendiri. Kamu menerimanya dari tanganku."
"Aku tahu."
"Tidak ada yang dibuat Erika untuk membuatmu percaya. Itu kalimatku."
Caca menarik napas. "Aku bukan mengatakan begitu."
"Baik. Aku menjawab pertanyaanmu."
Wanita itu menunduk di tempat yang tidak dapat dilihat Jo. Di dekatnya, katalog acara masih tersimpan bersama barang yang belum sempat dibereskan. Ada begitu banyak benda yang telah dipilih untuk satu hari, dan justru satu halaman sederhana yang kini paling sulit dilepaskan.
"Aku tidak meminta kita kembali seperti semula lewat buku," ujarnya.
"Kalau begitu, baca sebagai sesuatu yang pernah benar. Jangan meminta halaman itu menjawab apa yang akan terjadi setelah ini."
Jo menyatakan buku akan dibawa pada pertemuan yang sudah disepakati. Tidak dikirim melalui Erika, tidak dijadikan alasan bertemu tanpa membicarakan hal lain yang memang harus diselesaikan.
Caca menerima. Setelah panggilan berakhir, lelaki itu tetap duduk lama. Dia sempat ingin membuka catatan lama untuk mencari kalimat yang ditulis, lalu berhenti karena tidak ada sesuatu yang perlu diperbaiki pada tinta tersebut.
Yang berubah adalah orang-orang yang membacanya.
Sore itu Erika merapikan bagian proyek yang diizinkan kembali dikerjakan. Tidak ada bab pernikahan baru. Dia menandai urutan wawancara, memastikan catatan Caca dan Jo tidak tertukar, lalu menulis pertanyaan mengenai satu tempat yang namanya belum jelas.
Lina datang setelah meminta izin masuk. Di tangannya ada buku catatan dan selembar pengumuman kegiatan untuk penulis serta pembaca. Acara kecil itu berlangsung akhir pekan, tidak jauh dari tempat yang bisa mereka datangi sendiri.
"Lo mau ikut?" tanyanya.
Erika menerima kertas. "Mendengarkan atau bicara?"
"Awalnya mendengarkan. Tapi ada sesi berbagi proses menulis. Kalau ingin, nama bisa didaftarkan."
Gadis itu membaca sampai bawah. Tidak ada syarat membawa buku tebal atau membuktikan dirinya sudah pernah tampil di depan orang. Hanya menceritakan satu masalah penulisan dan bagaimana mengerjakannya.
"Lo mau bicara?"
Lina mengangguk. "Tentang menjaga urutan benda dalam cerita. Gue terlalu sering lupa apa yang sudah rusak."
Erika tertawa. "Itu penting."
"Lo kemarin membantu memeriksa. Jadi gue pikir mungkin kita bisa pergi bersama."
Erika memandang kertas lagi. Dalam beberapa hari terakhir, namanya lebih sering disebut untuk menjelaskan sesuatu yang dilakukan Aldin. Undangan tersebut menawarkan hal yang berbeda: datang karena dirinya menulis.
"Aku ingin ikut," katanya. "Untuk bicara, kubaca dulu. Jangan nanti cuma cerita tokoh lapar."
"Tokoh lapar juga punya hak selesai ditulis."
Mereka tertawa. Lina meninggalkan salinan pengumuman, lalu kembali ke kamar setelah memastikan waktu masih tersedia untuk mendaftar.
Sebelum makan malam, Lina mengajak Erika meminta pendapat Daddy tentang bahan yang akan disampaikan. Jack menerima mereka di ruang tengah, meletakkan bacaannya, lalu menanyakan berapa lama waktu bicara yang diberikan.
Lina memperlihatkan pengumuman. Erika memegang catatan yang belum rapi.
"Mulai," kata Jack.
"Sekarang?" tanya Erika.
"Kamu ingin menanyakan sesudah acara?"
Gadis itu tertawa malu, lalu mencoba kalimat pertama. Baru dua kalimat, Daddy mengangkat tangan.
"Kamu sedang memberitahukan masalah atau meminta maaf karena mempunyai masalah?"
Erika menatap catatan. Dia memang membuka dengan terlalu banyak penjelasan bahwa dirinya belum pandai berbicara di depan orang.
"Meminta maaf, kelihatannya."
"Orang datang untuk mendengar apa yang dikerjakan. Kalau gugup, boleh gugup. Tidak perlu dijadikan pembukaan tiga paragraf."
Lina menahan senyum. Ketika gilirannya datang, dia justru mulai dengan istilah yang membuat Jack mengangkat alis.
"Tokohmu kehilangan barang atau pembacamu kehilangan arah?" tanyanya.
"Dua-duanya mungkin."
Mereka tertawa. Lina mengganti pembukaan menjadi cerita sederhana tentang benda yang sudah rusak tetapi dipakai lagi tanpa penjelasan. Daddy mengangguk, meminta satu contoh, lalu mendengar sampai akhir tanpa memotong.
Erika mencoba lagi. Kali ini dia mulai dari perempuan yang terus menunggu di tempat makan. Dia menjelaskan satu perubahan, bukan seluruh isi cerita.
Jack menanyakan apa yang dilihat pembaca sebelum tokoh menyebut dirinya sedih. Pertanyaan itu membuat Erika memeriksa contoh. Dia menemukan tiga kalimat perasaan sebelum ada gerakan yang menunjukkan tokoh sedang menahan sesuatu.
"Yang ini bisa dipindah," katanya sambil menandai.
"Kalau memang perlu. Jangan memindahkan hanya karena Daddy bertanya."
Erika mengangguk. Dia membaca ulang, lalu memilih satu kalimat yang dapat ditunjukkan tanpa membuat orang mengenal semua kejadian sebelumnya.
Kiki lewat membawa minum. Dia melihat mereka duduk dengan kertas, berhenti, dan menanyakan apakah sedang rapat keluarga yang tidak mengundang dirinya.
"Latihan bicara," jawab Lina.
"Berarti Daddy menilai?"
Jack tersenyum. "Daddy mendengarkan."
Kiki melihat wajah Erika yang masih sedikit tegang. "Kelihatannya sama dengan dinilai."
Gadis itu tertawa. Daddy mengangkat kedua tangan, menerima komentar, lalu meminta keduanya mencoba berdiri agar tidak hanya nyaman dari kursi.
Erika bangkit, hampir menjatuhkan satu lembar. Lina menangkap. Kiki menaruh gelas dan membantu merapikan urutan, mengeluh kertas mereka tidak diberi tanda yang cukup jelas.
"Yang ini dulu," kata Erika.
"Tulis angka. Kalau jatuh lagi, lo tidak perlu mengarang urutan baru."
Saran tersebut sederhana, tetapi langsung dikerjakan. Erika memberi nomor, menyisihkan bagian yang tidak akan dibawa, lalu mencoba bicara dengan tangan yang tidak lagi memegang terlalu banyak lembar.
Jack mendengar sampai selesai. Dia menanyakan apakah Erika ingin mengubah satu kata yang terdengar terlalu resmi, bukan menyusun ulang seluruh suara agar sama dengan miliknya.
Gadis itu memilih kata yang biasa dipakai. Ketika contoh selesai, Lina mengangguk dan Kiki mengatakan setidaknya dia memahami mengapa tokoh tidak harus menatap pintu sepanjang bab.
"Itu berarti bisa dipahami," ujar Daddy.
Erika mengembuskan napas. "Sekarang takutnya tinggal orang yang mendengar lebih banyak."
"Nanti tetap satu kalimat pada satu waktu," jawab Jack.
Latihan berakhir saat Bi Ani memanggil untuk makan. Tidak ada keputusan bahwa keduanya pasti akan tampil sempurna. Mereka hanya membawa catatan yang lebih sedikit dan satu pembukaan yang sudah pernah didengar orang lain tanpa membuat seluruh ruangan bingung.
Erika membantu Lina mengumpulkan kertas. Kiki menyerahkan lembar terakhir, lalu kembali mengambil gelasnya. Untuk sekali itu, mereka bertiga memiliki sesuatu yang dapat diurus bersama tanpa pembicaraan dimulai dari siapa yang lebih berhak berada dekat Daddy.
Malam itu Iccha menemukan Erika mencatat beberapa kemungkinan bahan. Dia duduk di tepi tempat tidur, mengamati kertas yang tidak berisi nama Jo atau Caca.
"Acara penulis?"
"Lina mengajak. Aku sedang mencoba memilih."
"Pilih yang lo pahami. Jangan yang terdengar hebat tapi membuatmu harus menahan napas saat bicara."
Erika menatapnya. "Saran dari pengalaman kantor?"
"Saran dari melihat Mas Ammar mencoba pidato spontan."
Gadis itu tertawa. Iccha ikut tersenyum, kemudian membantu menyisihkan kertas yang sudah tidak dipakai agar meja tidak penuh sebelum bahan selesai.
Erika membuka formulir pendaftaran yang diberikan Lina, membaca bagian nama, lalu menahan tangan sebelum menulis. Ada ruang untuk nama penulis yang ingin diperkenalkan pada kegiatan.
"Aku pakai Anggrek," katanya.
Iccha mengangguk. "Itu nama yang dibaca orang."
"Aku kadang masih malu menyebut keras-keras. Kalau cuma mengetik, rasanya lebih mudah."
"Kenapa?"
Erika memandang pena. "Karena kalau orang bilang ndak pernah membaca, aku merasa seperti memperkenalkan sesuatu yang tidak ada."
Iccha menatapnya sebentar. "Kalau orang tidak kenal nama lo, bukan berarti lo tidak ada. Lo cuma baru bertemu."
Gadis itu tertawa kecil, menyadari betapa aneh kesimpulan yang sejak tadi membuat satu kolom terasa sulit diisi. Dia menulis nama penanya, kemudian nama asli pada bagian yang memang memerlukan data pendaftaran.
Lina datang untuk memastikan catatan sudah dikirim. Erika memperlihatkan, meminta diperiksa jika ada waktu yang salah. Perempuan itu membaca, mengangguk, lalu menyimpan salinan yang perlu diserahkan.
"Sekarang sudah benar-benar terdaftar," katanya.
Erika mengembuskan napas. Iccha bertepuk tangan dua kali, terlalu pelan untuk terdengar dari luar, tetapi cukup membuatnya tertawa.
"Jangan seperti sudah selesai tampil."
"Yang sulit kadang mulai. Untuk tampil, nanti gue tepuk lagi."
Erika menaruh formulir, merapikan catatan, lalu kembali pada bahan yang ingin dibawa. Nama Anggrek akhirnya tidak hanya berada pada layar atau halaman judul. Nama itu akan disebut seseorang di ruangan tempat dia harus berdiri sendiri.
Erika memilih satu adegan dari cerita Anggrek. Perempuan yang menunggu seseorang, makanan yang salah, dan perubahan kecil yang membuat tokoh akhirnya melakukan sesuatu. Dia tidak mencatat pernikahan Jo sebagai contoh.
Ketika sudah menemukan arah, dia menutup buku catatan. Ada rasa gugup yang berbeda dari takut dipanggil untuk membuktikan diri. Kali ini dia takut karena akan menunjukkan pekerjaan miliknya sendiri.
Jo mengetuk beberapa saat kemudian. Iccha membukakan, memberi ruang agar Erika dapat mendengar tanpa harus berdiri di belakang temannya.
"Bukunya boleh kubawa sekarang?" tanya lelaki itu.
"Boleh. Sebentar."
Erika mengambil kantong, memeriksa agar tidak ada catatan pribadinya terselip, lalu menyerahkan. Jo menerima dengan kedua tangan, tidak membuka di ambang pintu.
"Mas mau aku memeriksa lagi?"
"Tidak perlu. Tidak ada yang hendak diubah."
Dia mengangguk. Jo melihat pengumuman di meja, tetapi tidak langsung membaca kertas tanpa diminta.
"Kamu punya kegiatan akhir pekan?"
"Acara penulis. Aku ikut Lina."
"Baik. Kalau jadwal proyek bertabrakan, kabari sebelum kita menetapkan."
"Belum ada yang bertabrakan."
Jo mengangguk dan pergi. Tidak ada permintaan agar dia tinggal untuk berjaga-jaga jika Caca datang. Erika memandang pintu yang tertutup, kemudian ruang kosong di sisi meja tempat buku biasa berada.
Beberapa hari lalu dia takut buku itu menjadi alasan orang marah lagi. Malam ini dia menyerahkannya karena memang diminta oleh orang yang perlu membawanya, dan dapat kembali pada satu adegan yang ingin dibicarakan kepada pembaca.
Di kamar Jo, kantong dibuka perlahan. Cincin tidak ada di dalam. Surat juga tidak. Yang tersisa hanya cerita bagian awal dan kalimat yang dia tulis sendiri.
Jo membaca halaman terakhir sampai selesai. Setelah itu buku ditutup, diletakkan bersama berkas untuk pertemuan, dan dibiarkan utuh.