Jo menatap pertanyaan itu sebelum menutup agenda. Dia belum tahu apakah proyek tersebut akan diteruskan dalam bentuk yang sama. Namun, setidaknya kali ini ia tidak mulai dari perintah agar penulis membuat hidupnya terdengar lebih baik.
Di Semarang, Erika sudah memilih waktu kembali. Tidak langsung pada pagi setelah Aldin datang, melainkan setelah beberapa hari yang benar-benar dipakai berada di rumah. Jadwal dikirim kepada Jo, Iccha, dan Ibu, dengan pesan bahwa dia akan tiba sebelum pembicaraan awal minggu.
Bu Mei memeriksa tanggal, lalu menanyakan apakah ada sesuatu yang ingin dilakukan sebelum kembali. Erika memandang foto Ayah di ruang tengah. Ibu mengikuti arah pandangan itu tanpa perlu diberi penjelasan panjang.
Mereka mengunjungi tempat peristirahatan Ayah sebelum hari keberangkatan. Erika membawa sedikit yang diperlukan, membantu Ibu, dan berdiri beberapa saat setelah semuanya selesai. Tidak ada kalimat yang dapat membuat pria yang dahulu duduk di meja rumah kembali menerima kabar tentang pekerjaan anak-anaknya.
Bu Mei memberi ruang, tidak meminta dia mengatakan sesuatu dengan suara keras.
Erika memandang nama yang tertera, teringat betapa awal keberangkatannya ke Jakarta penuh harapan agar keluarga bisa lebih tenang. Kini dia pulang dengan pekerjaan yang dijeda dan cerita tentang kakaknya yang tidak pernah dibayangkan akan dibawa ke hadapan Ibu.
Namun, di meja kamar, ada bab baru Anggrek yang selesai. Di ponsel, ada pembaca yang masih menunggu. Di Jakarta, ada jadwal pembicaraan yang tidak hilang hanya karena dia meminta beberapa hari untuk pulang.
Dia mengusap ujung jarinya, menarik napas, dan berdiri kembali dekat Ibu.
"Aku siap pulang ke rumah dulu," katanya.
Bu Mei mengangguk. Mereka meninggalkan tempat itu bersama, tidak membahas Aldin sepanjang jalan.
Saat kembali, pesan kakaknya masuk. Aldin sudah berada di Jakarta lagi, menjalankan urusan yang tidak bisa terus ditunda. Dia memberi kabar langsung kepada Ibu dan hanya menyampaikan kepada Erika bahwa tidak perlu menjawab jika masih ingin diam.
Gadis itu membalas singkat. Aku baca, Mas. Semoga yang perlu diselesaikan benar-benar dikerjakan.
Dia tidak menambahkan bahwa semuanya telah baik. Hubungan mereka masih harus menemukan cara bicara yang tidak selalu membuatnya merasa bertanggung jawab atas keputusan orang yang lebih tua.
Sebelum tas ditutup, Erika memperlihatkan bab Anggrek yang baru dikirim kepada Ibu. Laptop diletakkan di meja ruang tengah, bukan dibawa bersembunyi ke kamar. Bu Mei membaca pelan, sesekali meminta halaman digeser sedikit.
Erika menunggu tanpa menjelaskan semua kalimat. Dia ingin mendengar bagian mana yang dipahami, bukan membuat Ibu menyukai karena anaknya terus memberikan alasan.
Ketika adegan makanan salah selesai, perempuan itu tertawa.
"Tokohnya kenapa baru bilang setelah pelayannya hampir pergi?"
"Dia sungkan."
"Kalau sungkan terus, nanti makan yang tidak dipesan."
Erika ikut tertawa. Ibu menggeser halaman, membaca beberapa paragraf berikutnya, lalu berhenti karena mata mulai lelah.
"Nanti lanjut," katanya. "Ibu ingin tahu orang yang ditunggu benar-benar datang atau tidak."
"Kalau sudah kutulis, Ibu baca lagi."
Bu Mei mengangguk. Dia tidak menanyakan apakah cerita tersebut tentang Jo, Aldin, atau orang yang ditemui di Jakarta. Untuk saat itu, tokoh di layar boleh menjadi tokoh yang belum dikenal, dan Erika boleh menjadi orang yang menciptakan, bukan hanya mencatat hidup keluarga lain.
Gadis itu menyimpan naskah, menutup laptop, lalu membantu Ibu merapikan meja. Sebelum kabel dimasukkan, dia berjanji akan menyiapkan bagian yang lebih mudah dibaca setelah kembali. Tidak harus buku tebal. Cukup cerita yang memang miliknya dan boleh dibawa pulang tanpa menyembunyikan nama di halaman pertama.
Malam sebelum berangkat, Bu Mei membantu melipat pakaian. Kali ini mereka tidak sibuk memasukkan terlalu banyak makanan. Ada beberapa yang memang diminta Iccha, ada yang cukup dibawa sebagai salam untuk Bi Ani.
"Kamu kembali karena ingin bekerja, kan?" tanya Ibu.
Erika berhenti memasukkan satu pakaian.
"Iya. Aku ingin melihat kelanjutannya."
"Bukan karena merasa tidak enak kalau rumah mereka ditinggalkan sepi?"
Gadis itu menggeleng. "Aku ndak bisa mengisi tempat yang ditinggalkan Caca."
Bu Mei mengangguk pelan. "Baik. Ingat itu kalau ada yang membuatmu lupa."
Erika menatap Ibu, kemudian tersenyum kecil. Di rumah tersebut, nasihat datang bersama tangan yang membantu melipat, bukan sebagai alasan mengambil semua keputusan darinya.
Perjalanan kembali berlangsung tanpa kejadian besar. Erika membawa barang secukupnya, membaca beberapa halaman, dan mengirim kabar saat diperlukan. Ketika tiba di Jakarta, dia menghubungi pengantar yang sudah disepakati, lalu pulang ke rumah Jack sebelum malam terlalu larut.
Iccha menyambut di depan kamar. Dia memeluk Erika, mengambil satu kantong, lalu langsung melihat makanan yang dibawa.
"Bantal gue selamat," katanya.
"Makanan juga selamat."
"Tidak semua orang bisa menepati janji seperti ini."
Erika tertawa, meletakkan tas, dan duduk di tempat tidur yang telah dirapikan. Ada sesuatu yang berbeda pada wajah Iccha, senyum yang muncul bahkan ketika tidak sedang menggoda.
"Kamu punya kabar?"
Perempuan itu duduk di kursi dan mengusap bagian belakang leher.
"Gue sama Mas Ammar mulai mencoba."
Erika memandang, lalu tersenyum lebih lebar. "Akhirnya bertanya langsung?"
"Iya. Tidak pakai membuat orang lain cemburu."
"Aku ikut senang."
Iccha mengangguk, lega karena kabar tersebut tidak perlu disambut dengan lelucon panjang untuk menutupi rasa malu.
"Belum berarti gue mau menjawab pertanyaan semua orang," katanya.
"Baik. Aku cuma akan bertanya apakah ada roti tambahan."
Mereka tertawa. Erika mengeluarkan pakaian, Iccha membantu menaruh kantong kosong, dan kamar kembali mempunyai suara biasa yang selama beberapa hari hanya dikirim lewat ponsel.
Di bawah, Jo menerima kabar bahwa Erika sudah tiba. Dia membalas akan bertemu sesuai jadwal besok, lalu berhenti sebelum menambahkan pertanyaan tentang Aldin. Orang itu mempunyai saluran sendiri untuk urusan yang belum selesai. Kepulangan adiknya tidak perlu dipakai mempersingkatnya.
Pagi berikutnya, Erika turun bersama Iccha. Lina memberi salam dari meja. Kiki menanyakan apakah jarum yang dipinjam sebelum dia pulang sudah ditemukan pada tempatnya, dan Erika menjawab sudah.
Daddy menerima salam Bu Mei, kemudian menanyakan perjalanan. Tidak ada pemeriksaan apakah Erika bertemu Kirana atau membicarakan Caca di Semarang. Sarapan berjalan dengan percakapan yang ringan, meskipun Jo masih lebih banyak mendengarkan.
Ketika selesai, dia mengatakan ruang kerja sudah siap. Erika mengambil map dari kamar dan datang pada waktu yang ditentukan.
Meja itu sama. Kursi di seberang juga sama. Namun tidak ada amplop surat Caca di antara mereka, tidak ada buku yang ditaruh untuk dijadikan alasan menuduh.
Jo membuka agenda dan membaca pertanyaan yang ditulis beberapa hari lalu.
"Dari bahan yang sudah ada, kamu ingin mengerjakan apa?"
Erika tidak langsung menjawab. Pertanyaan tersebut berbeda dari permintaan awal yang membawa nama dua orang dan akhir yang diharapkan.
"Aku bisa menyelesaikan bagian yang memang sudah pernah terjadi," katanya. "Tapi aku ndak ingin membuat orang terlihat selalu benar hanya karena dia yang membayar."
Jo mengangguk. "Termasuk aku."
"Termasuk Mas."
Mereka saling memandang. Jo menahan dorongan menjelaskan bahwa dirinya paling banyak kehilangan. Erika juga tidak menyebut setiap kalimat di lorong sebagai sesuatu yang harus segera dimasukkan ke naskah.
"Aku belum siap semua kejadian baru ditulis," ujar lelaki itu.
"Ndak perlu sekarang. Kita bisa menentukan yang boleh dikerjakan dulu. Yang lain disimpan sebagai catatan, bukan langsung jadi cerita."
Erika mengeluarkan daftar halaman. Ada bagian awal yang tetap utuh, bagian yang belum terkonfirmasi, dan tempat kosong untuk kejadian yang belum diputuskan bagaimana akan diceritakan.
Jo membaca. Dia bertanya apakah keseluruhan proyek masih dapat dibicarakan tanpa berpura-pura menjadi hadiah pernikahan lagi.
"Bisa," jawab Erika. "Tapi itu berarti kita jujur tentang bentuknya yang berubah. Jangan tetap menyebutnya kisah cinta yang selesai kalau orangnya sendiri belum selesai menjawab."
Jo mengusap tepi kertas. Hadiah yang diimpikannya sudah tidak mempunyai penerima seperti dulu. Namun, pekerja di hadapannya tidak sedang menawarkan cara menghapus semua kenangan. Dia menawarkan kesempatan memahami apa yang benar-benar bisa ditulis.
Erika mengambil satu lembar uji yang dibawa di antara daftar, memperlihatkan bagian yang sudah pernah disetujui. Jo membaca, berhenti pada kalimat yang kini terasa terlalu manis, lalu meletakkan jari di bawahnya.
"Yang ini masih bisa dibiarkan?"
"Kalau waktu itu memang begitu, bisa. Kita dapat memberi tempat pada apa yang terjadi sesudahnya. Tapi jangan diam-diam mengubah ucapan Caca supaya dari awal terdengar seperti orang yang sudah hendak pergi."
Jo menarik napas. "Aku sekarang membaca dan merasa bodoh."
Erika memandangnya. Dia tidak menjawab dengan mengatakan Jo sama sekali tidak bodoh atau bahwa semua akan terasa baik setelah sembuh. Kalimat semacam itu terlalu cepat untuk apa yang baru dibicarakan.
"Mas dulu belum tahu yang sekarang diketahui," ujarnya. "Pembaca juga harus diberi urutan. Kalau seluruh cerita memakai pengetahuan yang baru ada hari ini, orang-orang di dalamnya seperti sudah tahu akhir sebelum kejadian."
Jo membaca halaman itu lagi. Dia mengingat tempat yang diceritakan, pakaian Caca, dan suara dirinya ketika mengucapkan sesuatu yang kini ingin dihapus. Kenangan tersebut bukan hasil kerja Erika. Perempuan itu hanya memberinya bentuk yang dapat dibaca.
"Jadi kita tidak mengoreksi masa lalu supaya aku terlihat lebih pintar."
"Iya. Kita mengoreksi yang keliru ditulis. Bukan yang menyakitkan karena ternyata pernah dipercaya."
Lelaki itu menaruh lembar uji di meja. Untuk beberapa detik dia tidak mempunyai pertanyaan baru. Erika menunggu, tidak membuka laptop sebelum ada keputusan yang memang dapat dikerjakan.
Jo akhirnya menunjuk dua bagian lain yang belum terkonfirmasi. Mereka membicarakan siapa yang pernah menyebut tempat dan waktu, kemudian menandai mana yang memerlukan pemeriksaan lagi. Tidak semua harus ditanyakan kepada Caca hari itu. Sebagian dapat dilihat dari catatan wawancara yang memang telah disimpan.
Erika menuliskan keputusan dengan kalimat pendek. Jo membaca sebelum mengangguk. Ketika ada satu istilah yang terdengar terlalu resmi, dia meminta diganti, membuat gadis itu tersenyum karena alasan tersebut masih sama seperti waktu mereka bekerja sebelum acara.
"Jangan sampai ceritanya berubah jadi surat undangan lagi," katanya.
"Setelah semua ini, aku bahkan tidak ingin mendengar undangan."
Erika tertawa kecil, lalu berhenti agar tidak terdengar seperti meremehkan. Jo justru tersenyum lebih dulu.
"Yang tadi memang boleh ditertawakan."
Gadis itu mengangguk. Ada ruang untuk satu lelucon tanpa harus menganggap kehilangan sudah selesai. Setelah itu keduanya kembali pada kertas yang sama, melanjutkan pembicaraan sampai daftar pekerjaan cukup jelas untuk diberikan waktu.
Mereka sepakat pada pekerjaan terbatas lebih dulu. Merapikan bagian lama, menandai yang perlu ditanyakan, dan tidak membuat bab pernikahan sebelum Jo siap membicarakannya tanpa memaksa penulis menjadi orang yang memilih kesimpulan.
Pembicaraan tentang kesepakatan kerja juga dibuka kembali. Erika meminta batas waktu yang jelas, bukan menunggu setiap hari untuk mengetahui suasana hati klien. Jo menyetujuinya. Bagian yang belum dapat diputuskan dicatat untuk pembicaraan berikutnya.
Tidak ada kontrak baru yang ditandatangani sambil salah satu pihak menangis. Tidak ada janji bahwa seluruh hidup mereka akan berubah karena satu agenda kerja.
Setelah daftar selesai, Jo menanyakan cerita Anggrek.
"Pembacanya senang dengan bab baru?"
Erika tersenyum. "Ada yang senang. Ada yang meminta tokohnya jangan menunggu terlalu lama."
"Masuk akal."
"Itu komentar tentang cerita, Mas. Jangan semua dijadikan sindiran kehidupan."
Jo menatapnya, kemudian tertawa pendek. Kali ini Erika tidak perlu memastikan apakah tawa itu akan berubah menjadi tuduhan.
"Aku memang hampir menganggap begitu," akunya.
"Makanya kutahan sebelum terlambat."
Dia mengangguk, menerima teguran kecil yang beberapa hari sebelumnya mungkin terdengar seperti tambahan luka.
Erika mengumpulkan kertas setelah memastikan salinan yang perlu sudah ditinggalkan. Jo berdiri ketika dia hendak keluar, lalu melihat kantong kecil di sisi tas.
"Apa itu?"
"Makanan dari Ibu. Untuk rumah. Yang sebagian kuberikan Bi Ani."
"Kamu membawa sampai sini karena diminta?"
"Karena Ibu menitip. Bukan untuk membuat Mas menyetujui pekerjaan."
Jo tersenyum kecil. "Aku belum mengatakan itu."
"Aku mencegah salah pengertian."
Mereka keluar bersama menuju ruang makan. Erika menyerahkan kantong kepada Bi Ani, menjelaskan mana yang perlu segera dibuka. Jo mengambil satu setelah ditawarkan, lalu menunggu sampai semua mendapat bagian.
Di dekat pintu, Kiki menanyakan apakah buku Jo akhirnya dikerjakan lagi. Erika menoleh kepada pemilik proyek, memberi kesempatan dia menjawab sendiri.
"Sebagian," kata Jo. "Kami belum menulis akhir."
Kiki mengangkat alis. "Memang belum ada."
"Aku tahu."
Gadis itu mengambil makanan, pergi sebelum kakaknya mengubah komentar menjadi pembicaraan panjang. Erika menahan senyum. Jo melihat, lalu menggeleng pelan.
Ponselnya berbunyi beberapa saat kemudian. Nama Caca muncul pada pesan yang menanyakan waktu untuk membicarakan langkah selanjutnya bersama pihak yang membantu mereka.
Jo membaca sampai selesai. Dia tidak menunjukkan layar kepada Erika, tidak meminta perempuan itu menerka maksud istrinya. Pesan dijawab dengan waktu yang bisa diberikan, kemudian ponsel disimpan.
Erika memperhatikan gerakan itu sebentar. Bukan karena ingin tahu isi pesannya, melainkan karena ada pertanyaan yang akhirnya tidak diarahkan kepadanya.
Saat kembali ke kamar, dia membuka laptop dan memberi nama baru pada salinan daftar proyek. Bagian awal tetap ada. Bagian akhir belum dibuat. Di bawahnya, cerita Anggrek juga belum tamat.
Erika menyimpan kedua berkas pada tempat yang berbeda. Dia baru hendak menutup laptop ketika ponsel menyala.
Pesan dari Caca.
Buku yang Jo kembalikan kepadamu masih ada, kan? Aku ingin membaca tulisan di halaman terakhir sekali lagi.
Erika menatap layar, lalu kantong bersampul krem yang sejak pulang masih berada di sisi meja. Beberapa hari lalu benda itu ditinggalkan bersama cincin. Sekarang perempuan yang meninggalkannya meminta kembali pada satu halaman yang justru ditulis Jo sendiri.