Pagi berikutnya, Erika menemukan Aldin sedang membantu Ibu mengangkat barang. Lelaki itu tidak menyebut percakapan semalam seolah perlu diulang sampai semua orang mengatakan telah memaafkan. Dia hanya mengangkat, meletakkan sesuai arahan, dan bertanya apa lagi yang diperlukan.
Erika memberi salam, lalu mengambil gelas. Bu Mei melihat wajah kedua anaknya sebelum kembali pada kegiatan yang tidak dapat menunggu sampai seluruh hubungan menjadi mudah.
"Kirana mengirim pesan," ujar Erika setelah sarapan. "Dia ingin bertemu sebentar kalau aku sempat."
Aldin menoleh, kemudian menunduk lagi pada kotak di tangannya.
"Kamu tidak perlu menyampaikan apa-apa dariku," katanya.
Erika mengangguk. "Aku juga ndak berniat begitu."
Bu Mei meneruskan pekerjaannya. Tidak ada yang meminta pertemuan dua perempuan itu dipakai sebagai jalan bagi Aldin untuk kembali ke hidup orang yang sudah memilih pulang.
Erika menemui Kirana setelah urusan rumah selesai. Mereka memilih tempat makan yang tidak terlalu ramai, dekat daerah yang dikenal keduanya. Kirana sudah duduk ketika dia tiba, dengan tas kerja diletakkan pada kursi kosong.
"Mbak belum lama?"
"Baru. Duduk."
Erika duduk, memesan minum, dan tersenyum ketika Kirana menunjuk makanan yang dulu sering dipilihnya. Mereka membicarakan rasa yang belum berubah, jalan yang sekarang lebih padat, dan pekerjaan yang membuat waktu makan terlambat.
Tidak satu pun langsung menyebut Aldin.
Kirana kemudian membuka ponsel, memperlihatkan bab baru Anggrek yang baru dibaca. Erika mengenali paragraf tentang pesanan yang salah, dan tertawa malu sebelum perempuan di depannya berkomentar.
"Yang ini aku suka," kata Kirana. "Dia akhirnya mengatakan makanan yang dibawa bukan pesanannya."
"Sepele sekali, ya?"
"Tidak kalau dari awal dia selalu menerima supaya orang lain tidak repot."
Erika memandang layar. Cerita itu telah dimulai sebelum pernikahan Jo. Tetapi kini, kalimat-kalimat sederhana tersebut dibaca oleh orang yang pernah menunggu lelaki mengatakan sesuatu dengan jelas.
"Mbak ndak merasa terlalu lama?"
"Untuk bagian ini, tidak. Untuk menunggu bab baru, iya."
Erika tertawa. Kirana ikut tersenyum, kemudian menyimpan ponsel agar percakapan kembali menjadi pertemuan, bukan pemeriksaan pekerjaan.
"Kamu pulang beberapa hari?"
"Iya. Awal minggu depan ada pembicaraan proyek lagi."
"Masih diteruskan?"
"Belum diputuskan seluruhnya. Untuk sekarang, jeda."
Kirana mengangguk. Dia tidak menanyakan apakah Jo sudah melupakan Caca, tidak pula menawarkan cara agar Erika menulis akhir yang lebih menyenangkan.
"Kamu ingin kembali?"
Erika memutar gelas sedikit. "Aku ingin pekerjaanku punya kesempatan dibicarakan dengan benar. Aku juga ingin melihat apa yang terjadi setelah permintaan maaf, bukan pulang hanya karena takut."
"Kalau begitu, kembalilah dengan itu. Tidak perlu membawa jawaban tentang orang lain."
Erika mengangguk. Makanan datang sebelum percakapan terasa terlalu berat. Kirana menanyakan tanaman Ibu, lalu menertawakan bekal Bi Ani yang ternyata masih ada sebagian di rumah.
Saat hendak pulang, Erika menyampaikan bahwa Aldin datang semalam. Bukan kabar untuk mengundang pertanyaan, hanya hal yang tidak ingin disembunyikan seolah pertemuan mereka harus dijaga dari keberadaan kakaknya.
Kirana berhenti sesaat.
"Dia menemui Ibu?"
"Iya."
"Bagus. Semoga benar-benar bicara."
Tidak ada pesan yang dititipkan. Erika mengucapkan terima kasih atas pertemuan, lalu mereka berpisah pada arah masing-masing. Kirana tidak lagi terlihat seperti orang yang harus menunggu keberangkatan Aldin sebelum dapat melanjutkan harinya sendiri.
Di Jakarta, Jo menemukan kelanjutan cerita Anggrek pada waktu istirahat. Nama penulisnya sudah dikenal, tetapi dia belum membaca bagian terbaru setelah beberapa hari penuh urusan keluarga.
Dia membuka dari bab yang terakhir diingat. Tidak ada amplop pernikahan, tidak ada seorang pengantin meninggalkan kamar. Yang ada justru perempuan yang lapar, makanan salah, dan percakapan yang membuat Jo tersenyum ketika tokoh laki-lakinya mencoba membantu dengan cara yang malah merepotkan.
Jo membaca sampai selesai. Pada satu bagian, dia berhenti karena mengenali kebiasaan Erika membuat sesuatu yang menyedihkan tetap mempunyai ruang untuk lelucon kecil. Dia teringat tempat cetak dan ancaman menjadikan buku sebagai laporan tahunan.
Ponsel diletakkan sebentar. Meja kerjanya masih penuh, tetapi untuk beberapa menit dia telah melihat Erika sebagai penulis, bukan sebagai seseorang dengan kakak bernama Aldin.
Dia mengetik pesan, menghapus kata tolong yang tidak perlu, lalu mengirim.
Aku membaca bab baru Anggrek. Bagian pesanan makanan itu lucu.
Erika menerima pesan ketika baru tiba di rumah. Dia memandang cukup lama karena tidak ada pertanyaan tentang berkas di bawahnya.
Terima kasih, Mas. Yang lucu ternyata bagian tokohnya lapar.
Balasan Jo datang beberapa saat kemudian.
Kamu memang memperhatikan orang kalau lapar.
Erika tertawa kecil. Dia hendak menulis jawaban lain ketika Ibu memanggil untuk mengangkat sesuatu. Ponsel disimpan, dan percakapan berhenti pada kalimat yang tidak menuntut diteruskan.
Jo juga tidak mengirim pertanyaan baru. Dia kembali pada pekerjaan, merasa sedikit heran bahwa satu percakapan dapat berakhir tanpa ada yang menunggu permintaan maaf atau jawaban yang terlambat.
Sebelum sore, Frans menelepon Jack. Jo kebetulan berada di ruang sebelah dan datang setelah ayahnya mengatakan ada hal yang perlu dibicarakan mengenai jawaban kepada keluarga.
Frans ingin satu kalimat bersama yang menyatakan Caca sedang menenangkan diri dan semua akan diselesaikan dengan baik. Dia mengucapkannya seperti urusan yang harus diberi bentuk agar pertanyaan berhenti.
Jack mendengarkan sampai selesai, lalu menatap Jo.
"Apakah kamu bersedia disebut begitu?"
Lelaki muda itu menggeleng. "Saya tidak bisa menjanjikan semua akan baik. Saya bahkan belum memutuskan seluruh langkahnya."
Frans menarik napas di ujung sana. "Orang-orang sudah terlalu banyak menduga."
"Karena ada yang terjadi," jawab Jo. "Kita boleh menjaga rincian. Jangan mengubahnya menjadi kabar bahwa kami hanya perlu istirahat lalu kembali seperti biasa."
Suara Frans meninggi sedikit. Dia mengatakan nama keluarga, orang-orang yang datang dari jauh, dan betapa sulit menjawab pertanyaan tanpa menyampaikan sesuatu yang menenangkan.
Jack tidak memotong sampai lelaki itu berhenti sendiri.
"Saya juga menjawab orang," katanya. "Tapi Jo tidak perlu menanggung janji baru yang dibuat agar mereka cepat puas."
Jo memandang ayahnya. Beberapa hari sebelumnya dia ingin meminta Erika membuat tulisan yang dapat memberi bentuk pada marah. Sekarang dia mendengar bagaimana perasaan seseorang dapat dipadatkan menjadi satu kalimat yang dibutuhkan orang lain, bukan orang tersebut.
Frans terdiam. Ketika kembali bicara, suaranya lebih rendah.
"Saya tidak ingin Caca disebut macam-macam."
"Saya juga tidak akan menyerahkan suratnya untuk dibaca semua orang," jawab Jo. "Tapi jangan meminta saya menyatakan dia pulang kepada saya kalau dia tidak mengatakan begitu."
Percakapan berakhir dengan kesepakatan sederhana: keluarga tidak akan membagikan rincian melalui telepon kepada setiap penanya, dan pembicaraan berikutnya akan diatur langsung dengan orang-orang yang memang perlu hadir. Tidak ada kata bahwa hubungan telah membaik.
Setelah ponsel disimpan, Jack memandang anaknya.
"Berat?"
Jo mengangguk. "Aku hampir setuju saja supaya tidak harus mendengar telepon lagi."
"Kalau setuju hanya karena lelah, besok kamu harus menjawab kalimat yang tidak kamu maksud."
Lelaki muda itu duduk, mengusap wajah, lalu mengambil air yang sejak tadi belum diminum. Ayahnya tidak menyuruh langsung melakukan sesuatu yang membuat hari tampak produktif. Mereka duduk beberapa menit, sampai Jo sendiri berdiri untuk kembali bekerja.
Di meja, pesan tentang cerita Anggrek masih ada. Pembicaraan yang pendek itu tidak menjanjikan akhir bahagia bagi siapa pun. Justru karena itu, Jo dapat membacanya lagi tanpa merasa sedang diminta membenarkan sesuatu yang belum siap dijalani.
Sore itu Ammar mengajak Iccha makan di luar setelah pekerjaan selesai. Bukan rapat yang diubah menjadi makan, bukan undangan untuk membuat seseorang yang lain melihat. Dia menunggu di pintu sampai Iccha selesai menyimpan berkas.
"Kalau masih ada tugas, aku bisa menunggu," katanya.
"Sudah. Tapi lo jangan bilang begitu lalu jalan duluan."
Ammar tersenyum dan menahan pintu. Mereka pergi tanpa mengajak Erika yang sedang jauh di Semarang, dan tanpa meminta Jo memberi alasan kenapa harus keluar.
Di tempat makan, Iccha mengambil menu lebih dulu. Ammar memandangnya sambil meletakkan ponsel di sisi yang tidak menghalangi.
"Aku ingin bicara," ujarnya.
"Sebelum pesan? Kalau pembicaraannya panjang, gue tetap pesan dulu."
"Pesan dulu."
Ammar meraih gelas sebelum menu ditutup. Gerakannya terlalu cepat dan hampir menyenggol wadah kecil di meja. Iccha menahan, lalu memandangnya dengan senyum yang semakin sulit disembunyikan.
"Lo gugup?"
"Aku lapar."
"Lapar tidak biasanya membuat gelas berpindah ke tempat saus."
Ammar membetulkan posisi, menerima bahwa alasan pertama tidak akan bertahan lama. Dia menarik kursi sedikit lebih dekat ke meja, kemudian justru menjauh karena lututnya hampir menyentuh kaki kursi Iccha.
Perempuan itu akhirnya tertawa.
"Duduk saja. Gue tidak akan mengusirmu karena posisi kursi."
"Aku sedang mencari yang nyaman."
"Untuk lutut atau keberanian?"
Ammar menatapnya, lalu ikut tertawa. Keakraban yang dahulu sering dipakai untuk menyembunyikan perasaan kini membuatnya lebih sulit berpura-pura bahwa ajakan makan hanya bagian dari kebiasaan.
Dia melihat Iccha membuka kembali satu halaman menu. Rambut perempuan itu bergerak ketika menunduk, dan Ammar hampir mengucapkan pujian yang sejak tadi disimpan. Namun dia menunggu sampai pilihan makanan selesai, tidak ingin seluruh kata penting keluar dalam satu napas lalu terdengar seperti daftar yang harus diterima.
Iccha mengangkat wajah.
"Yang ini boleh, kan?"
"Kenapa bertanya?"
"Porsinya besar. Gue tidak mau lo heran nanti."
"Aku sudah melihat kamu makan sejak lama. Aku tidak gampang heran."
Perempuan itu mengangkat alis. "Hati-hati. Kalimat berikutnya menentukan apakah lo makan dengan tenang."
Ammar mengangkat kedua tangan, menyerah. Pelayan datang saat keduanya masih tersenyum, dan pesanan akhirnya diberikan tanpa ada gelas yang nyaris jatuh lagi.
Iccha memilih sesuatu yang benar-benar ingin dimakan, bukan yang terlihat lebih rapi di hadapan orang yang sejak kecil sudah pernah melihatnya marah dan kesal.
Ammar menunggu sampai pelayan menjauh, lalu menarik napas.
"Aku menyukaimu. Aku pernah mengatakan dengan cara yang tidak benar, membuat orang lain jadi alat. Sekarang aku ingin bertanya langsung. Kamu bersedia mulai hubungan denganku?"
Iccha menatapnya. Pernyataan itu sudah pernah terdengar dalam bentuk cemburu dan pengakuan yang terlambat. Pertanyaan kali ini lebih sederhana, dan justru membuatnya perlu memastikan jawaban berasal dari dirinya sendiri.
"Gue juga punya perasaan sama lo," katanya. "Itu tidak baru."
Ammar mengangguk, menahan diri untuk tidak langsung menyimpulkan.
"Tapi gue tidak mau merasa harus setuju karena kita kerja bersama atau tinggal di rumah yang sama."
"Aku tahu. Kalau kamu belum mau, kita tetap bekerja seperti yang sudah dibicarakan."
Iccha mengusap sisi gelas. Dia memandang wajah yang telah dikenal terlalu lama untuk dianggap sempurna, lalu tersenyum kecil.
"Gue mau mencoba. Pelan-pelan."
Ammar memejamkan mata sesaat, seperti baru bisa mengembuskan napas yang sejak tadi ditahan.
"Jangan kelihatan seperti baru lolos ujian," kata Iccha.
"Rasanya begitu."
"Belum lulus seluruh mata pelajaran."
Dia tertawa. Iccha ikut tertawa, dan ketika tangan Ammar bergerak di atas meja, dia tidak mundur. Lelaki itu berhenti sebelum menyentuh, menunggu sampai perempuan di depannya meletakkan tangan sendiri pada jarak yang lebih dekat.
Mereka saling menggenggam sebentar. Makanan datang tepat ketika Ammar hendak mengatakan sesuatu yang mungkin terlalu besar. Iccha menarik tangan untuk memberi tempat piring, lalu menyebut bahwa dirinya masih lapar meskipun baru saja menyetujui hubungan.
Ammar tertawa lebih lepas daripada biasanya.
Iccha menyimpan tisu, lalu memandang Ammar yang sejak tadi tidak banyak bicara setelah makanan datang.
"Lo tidak perlu berhenti menggoda selamanya," katanya.
"Aku sedang berhati-hati."
"Hati-hati boleh. Tapi kalau setiap kalimat harus diperiksa seperti laporan, gue juga lelah."
Ammar tersenyum. Dia mengaku hampir menanyakan apakah Iccha ingin makanan penutup, tetapi takut perempuan itu mengira hendak memperpanjang malam tanpa mendengarkan keinginan pulang.
"Tanya saja," jawabnya. "Gue bisa mengatakan tidak."
"Mau makanan penutup?"
"Tidak. Sudah kenyang."
Ammar tertawa, menerima jawaban yang ternyata jauh lebih mudah daripada seluruh dugaan di kepalanya. Iccha juga tersenyum, kemudian mengambil ponsel untuk memastikan tidak ada kabar keluarga yang harus dijawab.
Tidak ada. Dia menaruh lagi, memberi waktu beberapa menit sebelum mereka benar-benar berdiri. Hubungan yang baru dimulai itu tidak perlu dibuktikan dengan menambah semua kegiatan dalam satu malam.
Setelah makan, dia menanyakan apakah Iccha ingin pulang atau berjalan sebentar. Perempuan itu memilih pulang karena besok masih bekerja. Jawaban diterima tanpa dianggap mengurangi kebahagiaan malam itu.
Di rumah, Jo melihat keduanya datang bersama. Iccha memberi salam lalu naik. Ammar berhenti dekat pintu ruang kerja, wajahnya membuat adiknya langsung mengangkat alis.
"Ada yang ingin diumumkan?"
"Belum ke seluruh rumah."
"Berarti ada."
Ammar tersenyum. Jo membalas kecil, kemudian mengatakan selamat sebelum kakaknya perlu menyiapkan pidato.
Ammar berjalan menuju tangga dengan wajah yang masih mudah tersenyum. Dari atas terdengar Kiki bertanya mengapa dia tampak begitu senang. Lelaki itu menjawab habis makan enak, membuat adiknya mengeluh karena tidak dibawakan.
Jo memandang pintu, tersenyum kecil mendengar suara tersebut, lalu kembali membuka daftar pembicaraan proyek untuk awal minggu.
Di bagian paling atas, dia menulis satu pertanyaan yang belum pernah benar-benar diberikan kepada Erika.
Apa yang ingin kamu kerjakan dari semua bahan ini?