Adegan itu selesai ketika Bu Mei mengetuk pintu. Erika mengangkat wajah dari laptop, mendapati Ibu membawa gelas dan menanyakan apakah ia sudah ingin tidur.
"Sebentar lagi. Yang ini sudah selesai."
"Bagus. Jangan dipaksa sampai semua selesai malam ini."
Erika mengangguk dan menyimpan berkas. Pagi berikutnya dia membacanya lagi setelah membantu Ibu, memperbaiki satu waktu yang salah, lalu mengirim kelanjutan cerita Anggrek. Tidak ada nama keluarga Jack di dalamnya. Pembaca mendapat cerita yang memang mereka tunggu.
Beberapa komentar masuk sebelum siang. Erika membaca dua, tersenyum ketika seseorang mengeluhkan tokoh yang akhirnya berani memesan makanan tetapi masih takut mengatakan apa yang dipikirkan. Dia tidak membalas dengan cerita tentang hidup sendiri.
Ibu memanggil dari dapur. Erika menutup layar, membantu memotong bahan, dan mendengarkan kabar lingkungan yang tidak sempat diceritakan lewat telepon. Mereka bekerja bersama tanpa merasa semua jeda harus diisi pembicaraan tentang Aldin.
Menjelang sore, Erika memilih pakaian rumah dan meletakkan laptop kembali di meja. Dia belum memutuskan apakah ingin duduk saat kakaknya datang. Bu Mei menyampaikan bahwa itu tidak perlu ditentukan sekarang.
"Ibu tidak akan memanggil kamu untuk menjawab pertanyaan," katanya.
"Aku tahu."
"Kalau mau mendengar, boleh. Kalau mau di kamar, juga boleh."
Erika mengangguk. Kebebasan kecil tersebut justru membuatnya lebih sanggup mempertimbangkan untuk berada di ruang tamu.
Aldin tiba setelah hari gelap. Dia membawa tas sendiri, tidak bersama Caca, dan tidak mengumumkan kedatangan dari pintu seolah pulang biasa setelah perjalanan kerja.
Bu Mei membukakan. Lelaki itu memberi salam, menunduk, dan mencium tangan ibunya. Perempuan tersebut menerimanya, lalu mempersilakan masuk dengan suara yang tidak dingin tetapi juga tidak penuh sambutan.
"Sudah makan?"
"Belum, Bu."
"Makan dulu. Setelah itu duduk."
Aldin meletakkan tas. Di ruang tengah, foto Ayah masih berada di tempat yang sama. Dia memandang sebentar, kemudian berjalan ke dapur. Erika berdiri dekat meja, membantu mengambil piring.
"Ka."
"Mas."
Tidak ada pelukan seperti waktu dulu saling menyambut. Erika menyerahkan piring dan mengatakan makanan masih hangat. Aldin mengangguk, menerima, lalu duduk tanpa meminta adiknya ikut.
Bu Mei menunggu sampai dia selesai makan. Dia tidak menanyai sambil setiap suap tertelan, tetapi juga tidak menganggap makan malam berarti pembicaraan dapat ditunda sampai semua orang lelah.
Setelah piring dibereskan, ketiganya pindah ke ruang tamu. Erika memilih kursi di sisi, cukup jauh untuk tidak duduk tepat di antara kakak dan Ibu.
Aldin melihatnya. "Kamu tidak harus ikut kalau belum ingin."
"Aku ingin mendengar. Aku ndak akan menjawab buat Mas."
Lelaki itu mengangguk. Bu Mei duduk di seberang, merapikan ujung lengan pakaian sebelum mulai.
"Ibu ingin tahu apa yang sudah kamu katakan kepada Jo."
Aldin menceritakan pertemuan di Jakarta. Rencana perjalanan, pertemuan setelah janji menjaga jarak, dan keputusan Caca memilih malam acara. Dia mengatakan bahwa dirinya tetap ikut, memesan, dan menunggu.
"Kamu tahu dia sudah menikah pagi itu?" tanya Ibu.
"Tahu."
"Lalu kamu tetap menunggu."
"Iya."
Bu Mei memandang tangan anak lelakinya yang sejak tadi tidak pernah diam. Dia pernah melihat tangan itu memperbaiki sesuatu di rumah, mengangkat barang, dan mengambil makanan dari piring adiknya hanya untuk membuat Erika mengomel.
"Dulu kamu takut kalau adikmu pulang terlalu malam," katanya. "Kamu menelepon sampai dia kesal. Sekarang kamu mengirim pesan yang tidak jelas pada malam ketika dia berdiri di tengah keluarga orang."
Aldin mengangkat wajah. "Aku tidak ingin dia disalahkan."
"Tapi kamu tidak memikirkan bagaimana dia akan mendengar."
"Iya."
Bu Mei merapatkan kedua tangan. Di sisi ruangan, Erika membiarkan gelas tetap berada pada meja. Dia tidak ingin menambahkan daftar hal yang dulu dilakukan kakaknya untuk membuktikan bahwa seluruh kebaikan telah hilang.
Ibu melihat foto Ayah sebentar. Ketika kembali memandang Aldin, matanya sudah basah.
"Ibu hampir ingin mengatakan kamu pasti punya alasan yang belum diceritakan," ujarnya. "Karena lebih mudah membayangkan anak Ibu disalahpahami daripada menerima dia membuat keputusan begitu."
Aldin menunduk. "Jangan buat alasan untukku, Bu."
"Ibu tidak akan. Tapi Ibu ingin kamu tahu itu sulit."
Perempuan tersebut mengusap mata tanpa meminta salah satu anak mengambil tisu. Dia mencari sendiri, merapikan napas, lalu kembali duduk tegak. Aldin tidak dapat mengubah air mata itu menjadi tanda bahwa sekarang dirinya harus segera dimaafkan agar Ibu berhenti menangis.
"Ayahmu pernah bangga sekali ketika kamu bilang dipercaya bekerja bersama Jo," lanjut Bu Mei. "Bukan cuma karena pekerjaannya. Karena kamu punya orang yang mempercayaimu."
"Aku tahu."
"Sekarang Ibu tidak tahu harus menjelaskan apa kepada diri sendiri setiap kali nama itu disebut."
Lelaki itu memegang sisi kursi. Dia teringat pesan dari rumah saat pertama pekerjaannya berjalan baik, ucapan singkat Ayah yang selalu tampak lebih kecil daripada kebanggaan yang dibawa.
"Aku sudah merusaknya," katanya.
Bu Mei mengangguk pelan. "Sebagian tidak bisa dikembalikan dengan cara cepat. Jangan menunggu Ibu menemukan kalimat supaya kamu merasa sudah cukup menyesal."
Aldin mengangkat wajah, menerima sesuatu yang selama ini diam-diam diharapkan: pulang dan mendapat satu kalimat yang membuat langkah berikutnya terasa lebih ringan. Malam itu Ibu tetap memberinya kursi, tetapi tidak memberikan jalan pintas.
Bu Mei menunduk. Ada kelelahan yang tidak tampak saat menjemput Erika kemarin. Dia menarik napas, menatap anak lelakinya lagi, dan tidak memberi tempat untuk alasan yang dimulai dengan terlalu mencintai.
"Ibu tidak bertanya apakah kamu punya perasaan. Ibu bertanya mengapa perasaan itu diberi hak menyakiti orang sebanyak ini."
Aldin memegang lutut. "Aku salah, Bu. Aku tidak punya jawaban yang bisa membuatnya benar."
"Kalau tidak punya, jangan nanti mencari orang yang bisa menuliskan jawaban untukmu."
Erika menatap gelas. Kalimat tersebut mungkin hanya kiasan bagi Ibu, tetapi dia sudah pernah mendengar Caca meminta tepat seperti itu.
Aldin mengatakan tidak akan meminta adiknya menjelaskan apa pun. Dia telah menghubungi Jo, datang pada pembicaraan, dan menjalankan urusan kerja sesuai jadwal yang disepakati.
Bu Mei mengangguk. "Teruskan. Bukan karena Ibu akan langsung tenang, tapi karena memang itu yang perlu dikerjakan."
Lelaki itu menelan ludah. Dia menanyakan apakah Ibu ingin dirinya pergi dari rumah malam ini.
Pertanyaan itu membuat Bu Mei memandangnya lebih tajam.
"Kamu anak Ibu. Itu tidak hilang. Tapi jangan menjadikan tetap boleh pulang sebagai tanda semua yang kamu lakukan sudah diterima."
Aldin menunduk. Di kursi sebelah, Erika merasakan sesuatu yang juga pernah ingin dia katakan: tetap keluarga tidak berarti setiap pintu harus dibuka dengan cara yang sama.
Ibu menanyakan Kirana. Bukan untuk meminta hubungan lama diperbaiki seperti barang yang dapat dipasang kembali setelah memilih sesuatu yang lain. Dia ingin tahu apakah Aldin sudah berhenti membuat perempuan itu menunggu kabar yang tidak akan diberikan.
"Kami sudah selesai," jawabnya. "Aku tidak menghubungi untuk meminta dia menunggu."
"Baik. Jangan menghubungi hanya karena kamu sekarang merasa kehilangan banyak orang."
Aldin mengiyakan. Dia mengusap wajah, lalu menatap adiknya.
"Aku minta maaf karena Jo menuduhmu."
Erika memandangnya. "Jo bertanggung jawab atas tuduhannya. Mas bertanggung jawab karena pergi dan meninggalkan kabar ke aku tanpa menjelaskan. Dua-duanya membuat malam itu sulit."
Lelaki itu membuka mulut, kemudian menutup lagi. Untuk pertama kalinya dia tidak dapat menggunakan kemarahan Jo sebagai satu-satunya alasan adiknya terluka.
"Pesan itu kukirim karena takut kamu menerima kabar dari orang lain," katanya.
"Tapi Mas cuma bilang jangan menunggu pulang ke tempat biasa. Aku ndak tahu apa yang terjadi. Aku sedang berdiri sama orang-orang yang juga baru tahu."
Aldin memejamkan mata. Dia membayangkan lorong, pakaian acara, dan suara adiknya yang bertanya melalui telepon. Ketika itu dia masih memikirkan keberangkatan. Erika yang harus berdiri di tempat yang baru ditinggalkan tidak mendapat ruang dalam pikirannya.
"Aku tahu sekarang," ujarnya.
"Aku ndak meminta Mas memahami semuanya malam ini. Aku cuma ingin Mas berhenti membuat aku tempat kabar yang setengah jadi. Kalau ada urusan dengan Jo, bicara ke dia. Kalau dengan Ibu, bicara ke Ibu."
Bu Mei mendengarkan tanpa menyela. Anak perempuannya tidak sedang mengusir kakaknya dari keluarga. Dia sedang memberi bentuk pada hubungan yang tak lagi bisa berjalan hanya karena yang lebih tua mengatakan ikut saja.
Aldin mengangguk. "Aku akan lakukan."
Percakapan berhenti sebentar. Ibu mengambil air, menuangkan ke gelas sendiri, lalu kembali duduk. Tidak ada orang yang menggunakan jeda itu untuk mengambil tas dan pergi.
"Caca sekarang di mana?" tanyanya.
"Jakarta. Dia juga sedang menghadapi keluarganya."
"Kamu masih bersamanya?"
"Iya, Bu."
Jawaban tersebut membuat Bu Mei terdiam lebih lama. Dia tidak menerima Caca malam itu, tidak pula meminta Erika menuliskan alasan untuk membuat nama perempuan itu terdengar lebih ringan di rumah mereka.
"Ada yang belum diselesaikan dengan Jo," katanya. "Jangan membuat rencana baru seolah semuanya sudah bersih."
Aldin menyatakan mengerti. Erika tidak menambahkan pertanyaan tentang pernikahan atau pekerjaan berikutnya. Ada hal yang harus dihadapi kakaknya tanpa dirinya menjadi orang pertama yang mendengar.
Erika berdiri ketika pembicaraan utama selesai. Dia membawa gelas ke sisi ruangan, bukan karena hendak meninggalkan sebelum kakaknya menjawab, melainkan karena sudah terlalu lama menahan tubuh tetap tenang.
Aldin memanggil namanya.
"Mas ingin bicara sebentar."
Bu Mei pergi mengambil sesuatu dari dapur, memberi mereka ruang. Erika tetap berdiri dekat meja. Dia tidak kembali duduk sebagai orang yang siap mengatur seluruh percakapan.
"Apa yang Mas ingin katakan?"
"Aku takut kamu tidak lagi melihat aku sebagai kakakmu."
Gadis itu menatapnya. Kalimat tersebut mengenai tempat yang masih mudah terluka, tetapi juga membawa sesuatu yang sejak tadi belum berani dikeluarkan.
"Aku takut Mas hanya melihat aku sebagai adik yang pasti bisa diminta mengerti," jawabnya.
Aldin terdiam.
"Waktu Mas bilang kalau mendadak aku harus pulang, kabari Ibu, aku kira Mas sedang mengkhawatirkan aku. Sekarang aku tahu Mas sudah memikirkan rencana yang mungkin membuat semuanya berubah."
"Aku memang mengkhawatirkan."
"Tapi Mas tetap ndak memberitahu kenapa."
Lelaki itu menarik napas. "Kalau kuberi tahu, kamu mungkin mencoba menghentikan."
Erika memandangnya cukup lama. "Iya. Aku mungkin mencoba. Mas memilih supaya aku ndak bisa."
Aldin tidak menjawab. Itulah bagian yang tak dapat dibungkus menjadi niat menjaga adik dari urusan orang dewasa. Erika sendiri sudah dewasa. Dia disimpan di luar cerita karena jawaban yang mungkin diberikan tidak diinginkan.
"Aku marah," kata gadis itu. "Bukan cuma sedih. Aku masih ingin bicara baik karena Mas kakakku, tapi aku marah."
"Kamu boleh."
"Aku tahu. Aku ndak menunggu diizinkan."
Suara Erika tidak tinggi, tetapi kalimat terakhir membuat Aldin menurunkan wajah. Dia mengusap lutut, seolah mencari tempat menaruh tangan yang tak lagi dapat dipakai menepuk bahu adiknya untuk mengakhiri pertengkaran.
Bu Mei kembali dari dapur. Dia melihat keduanya, tidak bertanya siapa yang mulai. Erika mengangkat gelas yang sempat ditaruh, membawa ke dapur, dan membiarkan kakaknya tetap di ruang tamu.
Tidak ada pintu yang dibanting. Tidak ada juga senyum untuk memastikan Aldin merasa semuanya mulai kembali biasa. Malam itu adiknya telah mengatakan sesuatu yang harus didengar tanpa diperbaiki menjadi kalimat lebih sopan.
Malam semakin larut. Bu Mei mempersilakan Aldin memakai kamar yang biasa digunakan saat pulang, lalu meminta keduanya beristirahat. Dia sendiri tinggal beberapa saat di ruang tamu.
Erika hendak membawa gelas ketika Ibu menahannya.
"Ibu bisa."
"Aku bantu sedikit."
Bu Mei mengangguk. Mereka membawa gelas bersama ke dapur. Erika melihat tangan Ibu yang tidak sepenuhnya tenang saat meletakkan salah satunya, lalu mengambil kain dan mengeringkan air yang tumpah.
"Ibu sedih," kata perempuan itu pelan. "Tapi Ibu tidak ingin kamu berpikir harus memperbaiki kesedihan ini dengan membuat semuanya tampak baik."
Erika menaruh kain. "Aku juga sedih, Bu."
Mereka berpelukan di dapur yang lampunya hampir dipadamkan. Tidak ada jawaban baru. Hanya dua orang yang akhirnya dapat mengatakan hal yang sama tanpa harus memilih siapa paling berhak merasakannya.
Di kamar, Aldin meletakkan tas dan duduk di tepi ranjang. Ponsel menampilkan pesan Caca, menanyakan bagaimana pertemuan dengan Ibu. Dia membalas bahwa sudah bicara dan masih banyak yang harus dilakukan.
Aldin membaca jawaban Caca yang hanya mengatakan terima kasih sudah memberi kabar. Dia sempat ingin menelepon, tetapi mendengar langkah Ibu dari lorong dan menurunkan ponsel.
Bu Mei berhenti di depan kamar, menanyakan apakah memerlukan selimut tambahan. Lelaki itu menggeleng, lalu meminta izin membantu pekerjaan rumah besok sebelum berangkat kembali.
"Kalau kamu ada waktu, bantu," jawab Ibu. "Kalau ada pekerjaan yang harus diselesaikan di Jakarta, jangan ditunda supaya terlihat masih berbakti di sini."
Aldin mengangguk. Dia tidak bisa menukar satu pagi mengangkat barang dengan semua percakapan yang baru dijalani.
Setelah Ibu pergi, dia memeriksa jadwal dan pesan dari kantor. Ada satu daftar yang perlu dilengkapi. Dia membuka, mencatat bagian yang tertinggal, lalu mengirim sebelum memutuskan tidur.
Hal tersebut tidak membuat malam terasa lebih ringan. Namun setidaknya ada janji kecil yang tidak kembali dibiarkan menunggu sampai seseorang mengingatkan.
Dia tidak mengetik bahwa Ibu menerima. Tidak pula mengatakan adiknya sudah kembali seperti biasa. Untuk pertama kalinya, kabar pulang tidak diberi akhir yang lebih baik daripada yang benar-benar terjadi.