Caca memandang amplop di meja. Suratnya berada di dalam, dengan lipatan yang semalam dibuat sendiri. Kini benda itu tampak lebih kecil daripada akibatnya.
"Aku akan menjawab," katanya.
Jo duduk tanpa membuka amplop. "Sejak kapan kamu kembali menghubungi dia?"
Wanita itu memandang Aldin sebentar. Ammar menggeser kursinya agar keduanya tidak perlu saling menoleh untuk mendengar pertanyaan.
"Setelah kita mengatakan mau mencoba lagi," jawab Caca.
Jo mengangguk sekali. Gerakan kecil itu tidak berarti menerima, hanya menandai jawaban yang akhirnya diucapkan jelas.
"Kita bertemu untuk membaca naskah. Kamu menggeser waktu ke sore karena mengambil sesuatu untuk keluarga."
Caca menunduk. "Hari itu aku bertemu Aldin."
Jo meletakkan kedua tangan di meja. Ammar memperhatikan, siap menyela jika tubuh adiknya bergerak sebelum kata-kata selesai.
"Aku bertanya apakah semuanya baik. Kamu menjawab iya."
"Iya."
"Aku mengubah jadwal. Erika mengubah pekerjaan."
Caca mengangkat wajah. "Dia tidak tahu. Kami tidak meminta dia membantu."
"Aku tahu dia tidak tahu," jawab Jo. Suaranya lebih rendah, bukan lebih hangat. "Aku ingin kalian menjelaskan apa yang kalian lakukan."
Aldin mulai bicara. Dia mengakui pertemuan itu, pesan sesudahnya, dan pembicaraan lain yang berujung pada rencana perjalanan. Tidak ada lagi nama Sephia untuk menaruh seseorang di luar cerita yang sebenarnya.
"Aku yang memesan," katanya. "Dua nama. Caca membayar bagiannya."
"Kapan memilih malam acara?"
Caca menjawab. "Aku yang meminta waktu itu."
Jo memandang istrinya. Kata aku keluar tanpa ayah, tanpa kesibukan, tanpa seseorang yang dianggap membuat seluruh keputusan baginya.
"Kenapa tidak berhenti sebelum pagi?"
Wanita itu menarik napas. "Aku takut menghadapi semua orang. Aku terus berpikir kalau sudah sampai hari itu, mungkin aku bisa meneruskan."
"Kamu sudah punya perjalanan untuk malamnya."
"Iya."
"Itu bukan mencoba meneruskan."
Caca tidak membantah. Dia meremas ujung tas sampai Aldin melihat, kemudian melepaskan sendiri sebelum lelaki itu menyentuh.
"Aku tetap salah karena menjawab," katanya. "Aku tahu itu."
Jo bersandar. Untuk beberapa detik dia memandang sisi ruangan, mencari sesuatu yang tidak mempunyai hubungan dengan pakaian pengantin dan surat di meja.
"Aku bertanya malam sebelumnya. Kamu berterima kasih karena aku mau mencoba."
Caca mengangguk. Air matanya jatuh, tetapi tidak dipakai untuk meminta pertanyaan dihentikan.
"Aku mendengar kamu mengucapkan janji," lanjut Jo. "Kamu melihat aku saat itu. Bukan ayahmu, bukan tamu. Aku."
"Aku ingat."
"Bagus. Jangan nanti ceritakan bahwa hari itu kamu tidak punya pilihan."
Aldin memandang Jo. "Aku juga masih bisa berhenti. Aku tidak melakukannya."
Jo menoleh. Ada kata-kata yang ingin dikeluarkan tentang sahabat, rumah, pekerjaan, dan tangan yang pernah ditaruh pada bahunya seperti milik saudara. Namun kali ini dia tidak berdiri.
"Aku bahkan meminta Mas Ammar menggantikanmu," katanya. "Aku memberimu jarak. Aku mengira setelah semua terbuka, kamu tidak akan mencari jalan baru untuk berbohong."
Aldin menerima kalimat tersebut tanpa membela diri. Dia pernah berkata ingin menjaga jarak agar tidak terus berharap. Beberapa hari kemudian, justru harapan itu yang dibawa sampai memesan dua tempat duduk.
"Aku minta maaf," ujarnya.
Jo melihat wajahnya. "Aku tidak bisa memberikan sesuatu karena kamu sudah mengucapkan itu."
"Aku tidak meminta."
Ammar menunggu sampai Jo mengangguk bahwa pembicaraan bisa diteruskan. Mereka membicarakan hal yang harus diselesaikan setelah pertemuan, bukan bagaimana memutar ulang malam kemarin menjadi hari yang lain.
Caca mengatakan tidak akan meminta barang miliknya dikirim melalui Erika. Dia akan berhubungan langsung dengan orang yang disepakati keluarga. Jo menyatakan semua pertanyaan tentang hubungan mereka juga harus disampaikan langsung, dengan waktu yang ditentukan, bukan datang mendadak dan berharap didengar.
"Untuk langkah berikutnya, kita tidak menyelesaikan lewat kemarahan di ruangan ini," katanya. "Aku akan bicara dengan orang yang perlu membantu. Kamu juga. Sesudah itu kita duduk lagi."
Caca mengangguk. Tidak ada kata bahwa mereka sudah berpisah secara resmi, tidak ada jawaban tentang seluruh dokumen atau keluarga dalam satu sore. Yang pasti, Jo tidak akan berpura-pura pernikahan berjalan biasa hanya karena Caca sudah datang kembali ke Jakarta.
Urusan Aldin di kantor dibicarakan terpisah. Jo meminta serah terima pekerjaan yang masih dipegang, daftar berkas, dan jadwal untuk berbicara dengan pihak kantor. Dia tidak ingin keputusan dibuat hanya dalam telepon setelah tengah malam, tetapi juga tidak dapat bekerja setiap hari dengan cara yang sama seperti sebelum ini.
Aldin bersedia hadir. Dia menyebut beberapa tugas yang perlu dialihkan agar orang lain tidak menunggu sesuatu yang tidak akan datang darinya.
Ammar mencatat. Kehadirannya bukan untuk memaafkan atas nama Jo, hanya memastikan apa yang dikatakan sore itu tidak hilang saat salah satu pihak keluar.
Pertemuan berakhir tanpa jabat tangan.
Caca berdiri lebih dulu. Sebelum pergi, dia memandang Jo, lalu amplop yang belum dibuka lagi.
"Aku masih menyimpan buku itu dalam kepala," katanya pelan.
Jo mengangkat wajah. "Jangan memakai yang baik di buku untuk membuat yang kamu lakukan terasa lebih ringan."
Wanita itu mengangguk, kemudian berjalan menuju pintu. Aldin mengikutinya, berhenti sesaat ketika berhadapan dengan Ammar.
"Erika baik?"
"Tanya dia sendiri kalau dia bersedia menjawab," kata Ammar. "Jangan bertanya seperti kamu hanya orang yang kehilangan kabar."
Aldin menunduk dan keluar.
Jo tetap duduk sampai pintu tertutup. Amplop dimasukkan kembali ke tas. Dia belum menghapus satu nama dari ingatan, belum berhenti menginginkan pagi kemarin menjadi sesuatu yang nyata. Jawaban lengkap justru membuat kehilangan terasa lebih pasti.
Ammar menanyakan apakah dia ingin langsung pulang.
"Aku punya pembicaraan kerja pukul lima," jawab Jo.
"Dengan Erika?"
Jo mengangguk.
"Dengarkan dia juga. Jangan hanya menunggu giliran bicara."
Jo memandang kakaknya, tetapi kali ini tidak membantah.
Erika sudah berada di ruang kerja ketika Jo tiba. Map di pangkuan, ponsel disimpan dalam tas. Dia mengenakan pakaian biasa, rambut diikat, dan tidak membawa buku kecuali Jo meminta melihatnya lagi.
Daddy berada di ruang sebelah. Ammar masuk sebentar untuk memberi tahu bahwa mereka sudah tiba, kemudian meninggalkan keduanya setelah memastikan tidak ada yang keberatan.
Jo duduk di belakang meja, membuka agenda, lalu menutupnya lagi.
"Pertemuan tadi selesai," katanya.
Erika mengangguk. Dia tidak menanyakan apakah kakaknya kembali bersama Caca atau bagaimana Jo menerima alasan mereka. Itu bukan pembicaraan yang didatanginya.
"Aku bawa daftar pekerjaan," ujarnya. "Bagian yang sudah diperiksa, yang belum, dan catatan yang hanya ada di hasil wawancara. Salinannya tetap tersimpan."
Dia meletakkan kertas, memberi waktu Jo membaca. Lelaki itu melihat tanggal pertama di bagian atas, lalu urutan halaman yang telah diselesaikan.
"Aku tidak ingin kamu meneruskan kisah bahagia yang belum terjadi," katanya.
"Aku juga ndak akan membuatnya."
"Bagian awal tidak perlu dihapus."
Erika mengangguk lagi. "Itu catatan yang waktu itu Mas setujui. Kalau ada yang keliru, kita tandai. Tapi kalau perasaannya berubah, bukan berarti kejadian dulu harus ditulis seolah ndak pernah baik."
Jo menyentuh tepi kertas. Kalimat tersebut tidak menyuruhnya menyayangi Caca lagi. Hanya memisahkan apa yang pernah terjadi dari apa yang baru diketahui.
Mereka membicarakan jeda pekerjaan. Tidak ada bab baru atau wawancara tentang hari pernikahan untuk sementara. Erika boleh merapikan salinan dan daftar catatan, tetapi tidak perlu berada di ruang kerja setiap hari menunggu Jo punya sesuatu untuk diceritakan.
Tentang kelanjutan proyek dan pembayaran yang berkaitan dengannya, keduanya sepakat membahas sesuai pekerjaan yang sudah tercatat dan kesepakatan awal. Jo tidak meminta uang dikembalikan sore itu. Erika tidak menganggap semua selesai hanya karena ia tetap boleh tinggal di rumah.
"Aku ingin pembicaraan berikutnya punya waktu," katanya. "Kalau belum bisa menentukan kelanjutan, setidaknya kita tahu kapan memeriksanya lagi."
Jo memandang kalender. Mereka memilih awal minggu berikutnya. Erika mencatat, kemudian memasukkan salinan yang tidak diperlukan kembali ke map.
Jo menahan ketika dia hendak berdiri.
"Ka."
Gadis itu menatapnya.
"Aku menuduh kamu tahu. Aku juga membiarkan orang tadi pagi mengira pekerjaanmu bagian dari rencana mereka. Aku salah."
Ruangan terasa sangat sunyi. Erika sudah menyiapkan banyak jawaban tentang pekerjaannya, tetapi tidak menyiapkan cara menerima kalimat yang semalam paling ingin didengar.
"Terima kasih sudah mengatakan," ujarnya.
Jo menunduk. "Aku minta maaf."
Erika memegang map lebih erat. Dia tidak mengatakan tidak apa-apa. Apa yang terjadi telah membuatnya menelepon Ibu sambil menangis, memeriksa pesan sendiri seolah harus menemukan bukti bahwa dia memang tidak ikut, dan takut menanyakan pekerjaan pada pagi berikutnya.
"Aku tetap adiknya Mas Aldin," katanya. "Itu ndak akan berubah. Tapi aku bukan jawaban untuk yang dia lakukan."
Jo mengangguk perlahan.
"Aku dengar."
"Kalau Mas nanti marah lagi, aku ingin kalimat tadi tetap diingat. Jangan mulai dari tuduhan yang sama."
Lelaki itu memandangnya. Gadis yang pertama datang ke rumah dengan rasa sungkan masih ada, tetapi dia tidak lagi bersedia menukar seluruh ketenangan dengan izin tetap berada di kursi tersebut.
Jo mengatakan akan berusaha. Erika menerima jawaban itu sebagai sesuatu yang masih perlu dilihat, bukan bukti bahwa besok semuanya pasti lebih baik.
Sebelum pergi, dia menyampaikan ingin pulang ke Semarang beberapa hari. Kegiatan selama jeda dapat dikerjakan di sana. Dia akan kembali sebelum waktu pembicaraan berikutnya, kecuali ada perubahan yang mereka sepakati.
Jo tidak langsung menjawab.
"Karena Ibu?"
"Aku ingin menemui Ibu. Aku juga perlu istirahat."
Lelaki itu mengangguk setelah beberapa saat. "Kabari jadwalmu. Supaya kita tidak saling menunggu tanpa tahu."
"Baik."
Erika berdiri, memberi salam, lalu keluar. Di lorong, Daddy memandangnya dari pintu ruang sebelah. Dia menanyakan apakah pembicaraan sudah jelas.
"Untuk sekarang, sudah," jawab Erika.
"Bagus. Kalau pulang, sampaikan salam Daddy kepada Ibu."
Erika tersenyum kecil, menyadari Jack telah mendengar bagian terakhir karena pintu tidak sepenuhnya tertutup. Dia mengangguk dan naik ke kamar.
Erika menelepon Ibu setelah keluar dari ruang kerja. Dia menyampaikan bahwa pekerjaannya dijeda dan ada pembicaraan lanjutan awal minggu berikutnya. Untuk beberapa hari di antaranya, dia ingin pulang.
Bu Mei tidak langsung meminta cerita tentang Jo dan Caca. Dia menanyakan kira-kira kapan Erika berangkat, apakah perlu dijemput, dan apa yang ingin dimakan setelah sampai.
Gadis itu tersenyum mendengar pertanyaan terakhir.
"Apa saja, Bu. Asal Ibu juga ikut makan."
"Biasanya Ibu juga makan. Kamu mengira Ibu hanya memasak?"
"Kadang Ibu bilang sudah, terus tinggal menyendok sedikit."
Bu Mei tertawa. Erika ikut tertawa, merasa untuk beberapa detik kembali berada dalam percakapan yang tidak dibuat untuk memberi kabar buruk.
"Kalau sudah ada waktu pasti, kirim," kata Ibu. "Ibu tidak akan menunggu dari pagi kalau kamu baru sampai malam."
"Iya. Aku masih mencari."
Setelah panggilan selesai, Erika memeriksa pilihan perjalanan tanpa membeli terburu-buru. Dia memperhitungkan waktu sampai, barang yang dibawa, dan kapan harus kembali untuk bekerja. Tidak ada rencana membawa seluruh isi lemari atau meninggalkan laptop yang masih diperlukan.
Dia memisahkan pakaian secukupnya, mengambil tas yang sama dengan saat pertama ke Jakarta, lalu duduk sebentar. Pulang bukan bukti bahwa dirinya kalah. Dia hanya ingin melihat Ibu tanpa harus menatap layar setiap kali namanya disebut.
Di bawah, Jo melihat pesan singkat yang dikirim Erika tentang rencana beberapa hari. Dia membalas agar mengabari setelah waktunya pasti, sesuai pembicaraan tadi. Jarinya sempat berhenti di layar, hendak menambahkan bahwa tidak perlu terburu-buru pergi.
Kalimat itu tidak dikirim. Beberapa jam lalu dia baru meminta maaf karena memperlakukan Erika sebagai jawaban atas orang lain. Sekarang dia tidak ingin memakai pekerjaan untuk membuat gadis itu tetap berada di rumah hanya karena rumah tersebut terasa terlalu sepi.
Jo menyimpan ponsel dan kembali pada catatan yang diberikan Erika. Urutan halaman rapi, tanggalnya jelas, tidak ada bagian yang diam-diam diubah demi menyelamatkan dirinya dari kenyataan.
Iccha pulang ketika tas Erika baru setengah terisi. Perempuan itu berdiri di pintu, melihat pakaian yang dipisahkan dan laptop yang belum dimasukkan.
"Jadi berangkat?"
"Aku sedang melihat pilihan waktunya. Kalau ada yang cocok, besok."
"Bantal gue?"
Erika menunjuk tempat tidur. "Masih hidup di sana."
Iccha tertawa, lalu duduk dan membantu melipat satu pakaian. Tidak semua yang dibawa Erika berasal dari hadiah orang. Ada pakaian dari Semarang, kantong yang diperbaiki sendiri, dan cerita Anggrek yang masih menunggu di laptop.
Saat sedang memilih jadwal perjalanan, ponsel Erika bergetar. Aldin menelepon. Dia memandang nama itu cukup lama sebelum mengangkat.
"Mas."
"Ibu tadi bilang kamu berencana pulang."
Erika melirik Iccha. "Dari siapa?"
"Aku menelepon Ibu. Dia mengatakan kamu sedang mencari waktu perjalanan."
Gadis itu duduk tegak. "Iya. Untuk menemui Ibu."
Aldin terdiam, lalu mengatakan sesuatu yang membuat pakaian di tangan Erika berhenti dilipat.
"Kalau boleh, Mas ingin ikut menemui Ibu."
Di kamar yang sama, tas baru saja dibuka untuk memberi dirinya jarak dari keputusan kakaknya. Kini kakak itu meminta masuk ke perjalanan yang hendak dijadikannya tempat bernapas.