Erika meletakkan pakaian di pangkuan. Permintaan Aldin masih terdengar melalui ponsel, sementara Iccha berhenti melipat dan memandangnya tanpa mengucapkan apa pun.
"Mas boleh menemui Ibu," jawab Erika akhirnya. "Tapi aku ingin berangkat sendiri."
Di ujung sana, Aldin diam.
"Aku tidak akan mengganggumu sepanjang jalan."
"Bukan soal mengganggu. Aku ingin beberapa jam yang ndak harus dipakai membicarakan ini. Kalau kita duduk bersebelahan, aku pasti merasa harus bertanya atau mendengarkan."
Aldin menghela napas. "Aku cuma ingin ada kamu waktu menemui Ibu."
Erika memegang lipatan gaun yang belum sempat dimasukkan. Di situlah permintaan tersebut menjadi sesuatu yang lebih besar daripada dua tiket.
"Aku belum bisa menjanjikan itu. Ibu meminta Mas datang untuk menjawab sendiri. Kalau aku ada, bukan berarti aku bisa membantu menjelaskan."
"Aku tahu."
"Mas juga masih punya urusan kantor, kan?"
Lelaki itu mengiyakan. Ada jadwal serah terima yang harus dipenuhi lebih dulu. Dia tidak dapat menukar pekerjaan yang belum selesai dengan perjalanan pulang hanya karena lebih mudah menghadapi ruang tamu Ibu bersama adiknya.
"Aku mungkin menyusul setelahnya," katanya.
"Kabari Ibu langsung. Jangan lewat aku."
Erika menunggu jawaban. Tidak ada suara marah, hanya diam yang dahulu akan membuatnya buru-buru mengatakan tidak apa-apa, ikut saja. Kali ini dia membiarkan diam itu berada di antara mereka.
"Baik," ujar Aldin. "Kamu berangkat kapan?"
"Sedang memilih. Besok kalau ada yang cocok."
Mereka mengakhiri panggilan tanpa saling mengucapkan sesuatu yang keras. Namun, setelah ponsel diletakkan, Erika baru menyadari betapa erat tangannya menggenggam.
Iccha melanjutkan lipatan yang tadi ditinggalkan.
"Lo ingin gue diam atau bicara?"
Erika tersenyum tipis. "Bicara. Tapi jangan membahas Mas Aldin dulu."
"Baik. Celana ini mau dilipat sampai bisa berdiri sendiri atau dimasukkan sekarang?"
Erika tertawa. Dia mengambil pakaian itu dan memasukkannya ke sisi tas. Laptop akan dibawa pada tas terpisah. Kantong buku tetap di meja; benda tersebut tidak perlu dibawa ke Semarang untuk dijadikan bukti atas sesuatu yang sudah dijelaskan.
Iccha memperhatikan ketika Erika memilih jadwal. Mereka membandingkan waktu berangkat dan perkiraan tiba, bukan mencari alasan agar pulang menjadi lebih jauh daripada yang dimaksudkan. Setelah menemukan pilihan yang sesuai, Erika memesan satu tempat, memeriksa namanya, lalu mengirim kabar kepada Ibu.
Bu Mei membalas bahwa dirinya akan menunggu sesuai waktu yang dikirim. Tidak ada tambahan tentang Aldin. Erika merasa lega karena satu keputusan akhirnya tetap menjadi keputusan tentang dirinya sendiri.
Erika membuka laptop sekali lagi sebelum memasukkannya ke tas. Bukan untuk menambah bab. Dia ingin memastikan salinan yang dibawa cukup, karena berkas cetak akan tetap berada di rumah Jack.
Iccha mendekat, melihat dua folder dengan nama yang hampir serupa.
"Yang ini bedanya apa?"
"Yang satu naskah lama. Yang satu catatan setelah diperiksa."
"Kalau hampir sama namanya, lo sendiri bisa salah membuka."
Erika mengangguk. Dia mengganti nama yang terlalu pendek, memisahkan naskah pribadi, lalu memeriksa salinan terakhir. Iccha memegang tas laptop agar kabel dapat dimasukkan tanpa melipat terlalu rapat.
"Lo pernah kehilangan berkas?"
"Pernah merasa kehilangan. Ternyata ada di folder lain. Mas Aldin yang menemukan."
Ucapan itu membuat Erika berhenti sesaat. Kakaknya masih ada pada kenangan kecil yang tidak dapat dihapus hanya karena perbuatannya sekarang membuat orang lain terluka.
Iccha tidak mengubah percakapan menjadi pertanyaan tentang perasaan. Dia menunjuk satu berkas yang masih belum dipindahkan.
"Yang ini?"
"Itu catatan pribadi. Tidak perlu dikirim ke siapa pun."
Erika menyimpannya pada tempat terpisah. Ada hal yang ditulis agar dirinya mengerti, bukan agar dapat dipakai menjelaskan orang lain. Setelah itu dia menutup laptop dan memeriksa pengisi daya.
"Kalau tertinggal, gue kirim foto supaya lo ingat," kata Iccha.
"Fotonya ndak bisa mengisi baterai."
"Tapi bisa menambah penyesalan."
Erika tertawa, memasukkan kabel, kemudian menutup tas. Pekerjaan kecil tersebut selesai tanpa satu pun permintaan agar dirinya memikirkan bagaimana membawa Aldin pulang.
Sebelum tidur, dia mengirim jadwal kepada Jo. Pesan dibaca beberapa menit kemudian. Jawaban lelaki itu hanya mengingatkan waktu pembicaraan awal minggu depan dan meminta kabar setelah sampai.
Erika membalas akan mengabari. Dia tidak menambahkan permintaan agar Jo berhenti marah selama dirinya tidak ada. Itu bukan sesuatu yang dapat dijamin melalui perjalanan.
Pagi berikutnya, rumah masih tenang ketika Erika turun. Bi Ani sudah menyiapkan makanan dan satu kantong kecil untuk dibawa. Perempuan itu mengatakan bekal tersebut tidak banyak, lalu mengeluarkan dua bungkusan tambahan dari dapur.
"Ini namanya banyak, Bi."
"Kalau perjalanan lapar, susah."
"Aku bisa beli."
"Yang ini sudah ada."
Erika menyerah sambil tersenyum. Dia memeriksa apakah semuanya bisa masuk tanpa menekan laptop, kemudian menyimpan makanan di bagian tas yang mudah diraih.
Daddy datang beberapa saat kemudian. Jack mengenakan pakaian rumah, membawa gelas sendiri, dan tidak menanyakan apakah Erika berubah pikiran.
"Kapan kembali?"
"Rencananya sebelum pembicaraan awal minggu, Pak. Kalau sudah kupesan, kukabari."
"Baik. Jangan berangkat pulang sampai tidak sempat duduk bersama Ibu."
Erika mengangguk. Jack menanyakan keadaan Bu Mei, lalu menitip salam yang sama seperti kemarin. Kali ini dia juga meminta agar Erika membawa kabar bahwa dirinya tidak menganggap seluruh keluarga Wijaya bertanggung jawab atas keputusan Aldin.
Kalimat itu membuat gadis tersebut terdiam.
"Ibu pasti lega mendengar."
"Sampaikan persis begitu. Tidak perlu dipermanis."
Erika tersenyum kecil. Dia tidak pernah mengira salam bisa terasa seperti sesuatu yang perlu dibawa dengan hati-hati, sama pentingnya dengan pakaian dan berkas kerja.
Ammar turun ketika dia hendak mengambil tas. Lelaki itu melihat bekal, lalu menyatakan Bi Ani pasti menyiapkan untuk perjalanan tiga hari.
"Kalau Mas mau, ambil satu," ujar Erika.
"Aku tidak mau nanti dituduh membuat penulis kelaparan."
Dia membantu mengangkat tas ke dekat pintu. Ponselnya bergetar, menampilkan pesan Iccha yang menanyakan apakah Erika sudah turun. Ammar mengetik jawaban, lalu tersenyum sendiri sebelum menyimpan layar.
Erika melihat, tetapi tidak menggoda panjang-panjang. Ada pagi yang sebaiknya tidak dibebani pemeriksaan hubungan orang lain.
"Terima kasih sudah melihat pesanku malam itu," katanya kepada Ammar.
Lelaki itu berhenti. "Tidak perlu berterima kasih karena diperiksa dengan benar."
"Tetap saja. Waktu itu aku sudah ndak tahu bagaimana menjelaskan lagi."
Ammar mengangguk. Dia tidak mengatakan semua akan baik begitu Erika kembali. Sebagai gantinya, dia memastikan tas laptop sudah ditutup dan tidak akan tertinggal di sofa.
Iccha muncul dengan rambut masih setengah kering. Dia memeluk Erika sebentar, cukup erat untuk membuat gadis itu tertawa karena tas di bahunya terjepit.
"Kabari sampai."
"Sudah masuk daftar."
"Dan kalau Ibu membuat makanan enak, jangan cuma kirim foto. Bawa pulang kalau bisa."
"Bantalmu tetap di kamar. Gantinya makanan?"
"Barter yang masuk akal."
Mereka tertawa. Jo muncul dari arah ruang kerja tepat saat kendaraan siap. Dia sudah berpakaian untuk keluar, membawa map yang tidak berkaitan dengan naskah Erika.
Gadis itu berdiri sedikit lebih tegak. Bukan ketakutan seperti semalam, tetapi kebiasaan baru yang belum dapat dihilangkan hanya karena permintaan maaf sudah diterima.
"Aku berangkat, Mas."
Jo mengangguk. "Barang kerja semuanya dibawa?"
"Laptop. Berkas yang perlu sudah ada salinan. Yang cetak kusimpan di kamar."
"Tidak perlu mengerjakan yang lain selama di rumah."
Erika memandangnya. "Daftar catatan tetap bisa kurapikan kalau ada waktu."
"Kalau ada waktu. Bukan kalau merasa harus."
Erika memeriksa tali tasnya sebelum menjawab. Salah satu bungkusan hampir jatuh, membuat dia buru-buru menahan dengan siku. Jo menggeser kursi agar gadis itu tidak perlu berputar sambil memegang semuanya.
"Banyak sekali," katanya.
"Bi Ani mengira aku akan berjalan kaki sampai Semarang."
Dari dapur, perempuan itu berseru bahwa bekal dapat dibagikan kalau terlalu banyak. Ammar langsung mengangkat tangan, tetapi Iccha menepuk lengannya karena tadi sudah menolak.
Erika tertawa. Jo menatap tawa itu sesaat sebelum kembali memeriksa pintu yang dilalui pengantar. Suara pagi tidak seluruhnya kembali seperti dulu, tetapi setidaknya tidak lagi berhenti setiap kali namanya dan nama Erika berada di ruangan yang sama.
"Mas kalau perlu bagian berkas yang ndak kubawa, ada di map dekat meja," ujar gadis itu.
"Baik. Tidak akan dibuka untuk pekerjaan baru sebelum kita bicara."
Erika mengangguk. Dia tidak menyerahkan salinan semua percakapan pribadi kepada lelaki tersebut. Yang ditinggalkan hanya pekerjaan yang memang sudah diberikan, cukup untuk dibaca tanpa dirinya harus berada di rumah setiap hari.
Iccha meraih kantong kecil dari sisi sofa dan menyelipkan ke tas Erika.
"Tisu. Lo pasti cuma membawa dua lembar."
"Aku membawa satu bungkus."
"Sekarang dua."
Erika menyerah sambil tersenyum. Pagi itu, bantuan yang datang mempunyai bentuk yang jelas dan dapat diterima tanpa ada janji lain yang harus dibayar setelahnya.
Dia mengangguk setelah beberapa saat. Jo melihat tas yang hampir terlalu penuh oleh bekal, lalu menggeser sedikit supaya talinya tidak tersangkut pada kursi.
"Hati-hati."
Dua kata itu terdengar biasa. Erika ingin bisa menerima sebagai dua kata biasa, tanpa mencari apakah ada pertanyaan tentang Aldin yang akan menyusul.
Tidak ada.
Dia memberi salam kepada semuanya, lalu keluar. Dari kendaraan, Erika melihat Iccha melambaikan tangan dan Ammar berdiri di belakang. Daddy sudah berbalik ke ruang makan. Jo masih di pintu, tetapi pandangannya tidak dapat dibaca dari jarak itu.
Di stasiun, Erika mengucapkan terima kasih kepada pengantar, lalu membawa barang sendiri. Dia memeriksa pintu masuk, nomor tempat, dan waktu keberangkatan. Semua yang perlu diketahui tercetak jelas. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, dia tidak harus mengira-ngira maksud seseorang dari satu kalimat.
Ia membeli air, duduk di ruang tunggu, dan membuka salah satu bungkusan Bi Ani. Isinya makanan yang mudah dimakan tanpa meja. Erika memotret, mengirim kepada Iccha, lalu menambahkan bahwa bekalnya belum berkurang banyak.
Balasan datang cepat. Jangan mencoba membagi dengan laptop.
Erika tersenyum. Dia memakan sebagian, menyimpan sisanya, dan memandang orang-orang yang melewati kursi. Ada keluarga yang sibuk memeriksa barang, seseorang yang menelepon soal pekerjaan, dan anak kecil yang ditenangkan ibunya. Tidak satu pun mengetahui namanya sebagai adik Aldin.
Ponsel berbunyi. Bu Mei menanyakan apakah sudah masuk. Erika mengirim jawaban singkat, lalu menyimpan perangkat itu sebelum tangan kembali membuka percakapan kakaknya.
Seorang perempuan di kursi dekatnya menjatuhkan selembar kertas saat meraih tas. Erika memungut, menyerahkan, dan baru melihat orang tersebut sedang berusaha membaca nomor keberangkatan sambil memegang telepon.
"Ini yang tadi dipanggil?" tanyanya.
Erika memeriksa papan yang dapat dilihat dari tempat duduk. Dia menunjukkan bagian yang sesuai, lalu meminta perempuan itu memastikan kepada petugas agar tidak mengikuti penumpang lain hanya karena semuanya berdiri.
Perempuan tersebut berterima kasih dan berjalan ke tempat petugas. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan wajah lega.
"Belum," katanya. "Saya hampir ikut antrean yang salah."
Erika tersenyum. "Untung sempat bertanya."
"Anak saya menyuruh cepat-cepat. Ternyata waktunya masih ada."
Mereka tertawa kecil. Orang itu menaruh kertas di kantong yang mudah diraih, lalu akhirnya berhenti memegang semua barang sekaligus.
Erika melihat gerakannya, teringat betapa sering dirinya juga bergegas karena merasa orang lain menunggu sesuatu yang belum diminta. Di tempat itu, informasi yang diperlukan hanya nomor, waktu, dan arah. Dia bisa membantu tanpa harus menjadi orang yang mengetahui seluruh hidup seseorang.
Ponselnya bergetar. Pesan Aldin masuk, mengatakan sudah membaca jawaban mengenai perjalanan. Dia akan mengikuti jadwalnya sendiri setelah urusan kerja selesai.
Erika membalas baik. Tidak ada penjelasan tambahan. Kakaknya telah menerima batas yang baru diberikan, dan dia tidak perlu menguji penerimaan tersebut dengan terus meminta maaf karena ingin berangkat sendiri.
Dia menyimpan ponsel, mengangkat tas sedikit agar tidak menghalangi jalan, lalu kembali menatap papan. Perempuan tadi juga melihat, kali ini tanpa berdiri sebelum waktunya.
Ketika panggilan yang benar terdengar, mereka saling memberi senyum dan berjalan menuju pintu yang sama. Erika tidak mengambil semua barang orang itu. Dia hanya memegang pintu sebentar, lalu meneruskan langkah dengan tasnya sendiri.
Ketika pintu keberangkatan dibuka, dia berdiri bersama penumpang lain. Tas sedikit berat, tetapi dapat dibawa. Dia menemukan tempatnya, menyimpan barang, dan duduk dekat jendela.
Kursi di sebelah ditempati orang yang tidak dikenalnya. Mereka bertukar sapaan kecil, kemudian kembali pada kegiatan masing-masing. Erika membuka naskahnya sendiri, bukan daftar pertanyaan yang tidak pernah selesai tentang Aldin.
Kendaraan mulai bergerak. Gedung dan halaman perlahan menjauh dari kaca. Erika menarik napas, menaruh ponsel dengan layar menghadap bawah, lalu membaca paragraf pertama tanpa berhenti setiap kali suara notifikasi terdengar dari kursi lain.
Di rumah Jack, Jo kembali ke ruang kerja setelah pintu depan ditutup. Meja tempat Erika biasa menaruh kertas masih kosong. Dia melihatnya sekilas, kemudian mengambil map untuk urusan kantor.
Nama Aldin ada pada daftar yang harus dibicarakan hari itu. Nama Erika tidak.
Jo merapikan kedua berkas agar tidak bercampur, lalu keluar setelah memberi tahu Daddy bahwa ia akan kembali sebelum malam.