Kertas itu masih ada di meja ketika Erika terbangun. Tanggal pertama proyek, jumlah bab yang sudah diperiksa, dan daftar wawancara tersusun tanpa kalimat pembelaan. Dia membaca semuanya sebelum membuka pesan Ibu.
Bu Mei menanyakan apakah dia sempat tidur. Di bawahnya ada foto tanaman yang diminta beberapa hari lalu. Bunga kecil akhirnya muncul, tidak mengetahui bahwa dua orang yang biasa membicarakannya kini harus memilih kata saat menelepon rumah.
Erika membalas sudah tidur. Tidak lama, tetapi cukup untuk bangkit dan mandi.
Iccha sudah siap berangkat ketika dia keluar dari kamar mandi. Tas disampirkan pada bahu, wajahnya lebih segar daripada kemarin.
"Sore lo bicara soal kerja, kan?"
"Jam lima."
"Kalau perlu gue menemani setelah pulang, bilang."
Erika mengangguk. "Makasih. Aku ingin mencoba bicara sendiri dulu."
"Boleh. Tapi jangan merasa harus sendiri hanya karena ingin terlihat kuat."
Iccha tersenyum kecil, lalu pergi. Erika memandang pintu sebentar sebelum mengambil kertas dan memasukkannya ke map tipis.
Sebelum turun, Erika membuka cerita Anggrek yang kemarin ditinggalkan. Dia membaca dari awal, bukan hanya kalimat terakhir yang tidak selesai. Tokohnya sudah memesan makanan, sudah bertanya apakah boleh memakai meja sedikit lebih lama, dan masih mempunyai percakapan yang belum terjadi.
Erika menghapus kalimat yang ditulis semalam karena terdengar seperti dirinya sedang membela diri di lorong. Tokoh itu belum mengalami apa yang dialaminya. Dia tidak ingin menyerahkan semua kemarahan kepada orang yang diciptakan hanya karena orang tersebut tidak bisa menolak.
Dia menambahkan satu adegan pendek. Pelayan membawa pesanan yang salah, dan perempuan itu harus memilih apakah akan menunggu lebih lama atau meminta diganti. Tindakan kecil tersebut akhirnya menghasilkan percakapan yang terasa seperti ceritanya sendiri lagi.
Ketika bagian itu selesai, Erika menyimpan, membaca ulang, lalu memeriksa tanda petik. Dia belum mengirim. Masih ada waktu untuk membiarkan naskah dingin sebelum kembali dilihat setelah sarapan.
Di halaman bacaan yang biasa dipakainya, beberapa pembaca menanyakan kelanjutan. Tidak ada yang mengenal keluarga Jack melalui naskah pribadinya. Mereka menunggu karena menyukai tokoh yang sudah dibaca, bukan karena ingin mengetahui mengapa pengantin perempuan pergi.
Erika menatap satu komentar sederhana: aku masih menunggu bab berikutnya.
Kalimat itu tidak mendesak dengan kata-kata keras. Justru membuatnya ingin mengerjakan sesuatu yang dapat diberikan tanpa meminta izin siapa pun untuk menjelaskan luka orang lain.
Dia mencatat bagian yang perlu diperiksa sore nanti. Satu kalimat, satu waktu, satu barang yang sempat lupa disebut saat tokoh masuk. Setelah semua ditandai, laptop ditutup dan map pekerjaan Jo diangkat.
Dua naskah tersebut berada di tempat yang berbeda. Pagi itu Erika ingin bisa mempertahankan perbedaannya, meskipun orang-orang di rumah belum selalu melihat begitu.
Di ruang makan, Jo sedang menerima telepon. Dia belum duduk. Suara orang di ujung sana terdengar samar, tidak cukup jelas untuk dimengerti sampai lelaki itu menyebut nama Aldin.
Erika berhenti di dekat meja, bukan untuk mendengarkan, melainkan karena Bi Ani masih memindahkan teko panas tepat di jalannya.
"Saya tidak akan menjelaskan itu lewat telepon sekarang," ujar Jo.
Dia mendengarkan beberapa saat. Rahangnya mengeras.
"Adiknya bekerja untuk saya."
Erika merasakan jantungnya bergerak lebih cepat. Bi Ani sudah menaruh teko, tetapi tubuhnya belum melanjutkan langkah.
"Buku itu proyek pribadi."
Jeda berikutnya lebih panjang. Jo menatap lantai, lalu mengakhiri dengan kalimat bahwa urusan keluarga akan disampaikan setelah mereka siap. Panggilan selesai tanpa dia mengatakan siapa yang tidak terlibat.
Erika duduk. Dia menaruh map di sisi tas, mengambil makanan, dan berusaha tidak memandang Jo terus-menerus.
Lelaki itu melihatnya ketika menyimpan ponsel.
"Kamu mendengar?"
"Nama pekerjaanku disebut. Aku ndak mendengar semuanya."
"Orang bertanya macam-macam."
"Yang mana tentang aku?"
Jo menatapnya. "Aku tidak mau membicarakan ucapan setiap orang."
Erika merapatkan bibir, kemudian mengangguk sekali. Dia mengerti Jo tidak ingin mengulang seluruh telepon. Namun, namanya sudah dibawa ke dalam percakapan tersebut, dan dia tidak tahu apakah ditinggalkan di sana sebagai pekerja, saksi, atau orang yang dianggap membantu kakaknya.
Ammar masuk ketika Jo hendak mengambil gelas. Dia melihat map Erika, lalu wajah adiknya yang belum berubah.
"Siapa tadi?" tanyanya.
Jo menyebut seorang kerabat yang telah pulang dari acara. Tidak perlu nama baru untuk membuat pertanyaan yang sama kembali berada di meja.
"Dia mengira mereka sudah merencanakan dari dulu," kata Jo. "Keluarga Wijaya datang supaya dekat. Buku, pekerjaan, semuanya."
Erika meletakkan sendok.
Ammar menatap Jo. "Kamu sudah mengatakan itu tidak benar?"
"Aku mengatakan Erika bekerja untukku."
"Itu menjelaskan pekerjaan. Bukan menjawab tuduhan."
Jo memandang kakaknya, lalu Erika. Gadis itu tidak menunggu mereka selesai berdebat tentang dirinya seolah dirinya belum datang.
"Aku diterima untuk pekerjaan yang Mas Jo minta," katanya. "Kalau ada yang menuduh buku itu cara membujuk Mas percaya lagi, itu juga ndak benar. Proyeknya sudah ada sebelum semua ini."
"Aku tahu proyeknya kapan dimulai."
"Kalau Mas tahu, tolong jangan biarkan orang mengira aku menyiapkan rencana mereka."
Jo hendak menjawab bahwa dia juga baru harus menghadapi telepon orang-orang. Ammar bergerak ke kursi, meletakkan kunci, dan menunggu. Kali ini Erika tidak meminta maaf karena pertanyaannya menambah pekerjaan.
"Aku ndak meminta Mas membela Mas Aldin," lanjutnya. "Aku meminta Mas mengatakan yang Mas tahu tentang aku."
Jo terdiam. Dari dapur terdengar Bi Ani menutup lemari. Lina yang baru turun berhenti di ambang, mengenali suasana yang tidak baik untuk ditambah percakapan lain.
Erika menghabiskan air, berdiri, lalu mengangkat map.
"Aku tetap datang jam lima. Kalau waktunya berubah, kabari."
Dia naik tanpa menunggu jawaban yang belum diberikan.
Lina menunggu sampai Erika naik, lalu berjalan mendekati meja. Dia tidak menanyakan isi telepon dari awal. Yang baru didengarnya cukup untuk memahami mengapa map di tangan Erika dibawa terlalu erat.
"Gue akan makan di dapur," katanya kepada kedua kakaknya. "Kalau nanti Kiki bertanya kenapa Erika tidak turun lagi, gue bilang dia sedang kerja."
Ammar mengangguk. Jo memandang adiknya, menangkap sesuatu pada kalimat yang disampaikan begitu biasa.
"Dia tidak harus menghindari meja makan."
Lina menatapnya. "Tadi dia sudah duduk."
Tidak ada suara tinggi. Lina mengambil gelas, berjalan ke dapur, dan tidak menunggu jawaban yang akan membuat pembicaraan tersebut berlangsung di hadapan seluruh rumah.
Kiki muncul beberapa saat kemudian. Dia melihat meja yang lebih sepi, lalu bertanya di mana Iccha dan Erika. Lina menjawab seperti yang dikatakan tadi: Iccha berangkat kerja, Erika kembali mengurus naskah.
"Gue mau pinjam sesuatu," ujar Kiki.
"Tanya langsung."
Kiki mengambil makanan, membawanya ke kursi dekat jendela, dan tidak menyela percakapan Jo dengan Ammar. Namun matanya beberapa kali bergerak ke tangga, seolah menduga orang di atas tidak sedang mengerjakan sesuatu yang mudah.
Ammar duduk di sisi Jo setelah tangga kembali sepi.
"Al sudah mengatakan dia tidak tahu. Kita juga melihat pesannya. Kamu tidak harus menunggu pertemuan sore untuk berhenti mencurigainya."
Jo memandang gelasnya. "Setiap kali melihat dia, aku ingat kakaknya."
"Aku mengerti. Tapi wajah orang bukan bukti."
Lelaki muda itu mengusap mata. Tidur sedikit tidak membuat kepalanya lebih mudah menerima bahwa orang yang pernah dipercaya sebagai pendamping justru membawa pergi istrinya. Namun, di meja yang sama, dia juga mendengar bagaimana dirinya sedang memberi tempat bagi cerita yang tidak sesuai kejadian.
Ammar bangkit setelah mengatakan masih ada satu urusan sebelum pukul tiga. Dia tidak meminta Jo langsung menelepon dengan dirinya sebagai pengawas.
Jo mengambil ponsel beberapa menit kemudian. Nama kerabat yang tadi menelepon dibuka lagi. Kali ini dia mengetik, membaca sampai selesai, lalu menghapus satu kalimat yang hanya berisi kemarahan.
Pesan akhirnya pendek. Erika tidak mengetahui rencana Aldin dan Caca. Proyek buku dipesan olehnya sebelum kejadian tersebut. Jangan menyampaikan dugaan bahwa pekerjaan Erika merupakan bagian dari rencana itu.
Dia mengirim kepada orang yang tadi menelepon, kemudian meneruskan kepada Daddy agar jawaban keluarga tidak berbeda. Tidak ada pernyataan besar yang diunggah untuk seluruh orang.
Setelah itu Jo memandang tangga. Dia tidak naik.
Kiki mengetuk kamar Erika setelah sarapan. Tidak ada Iccha yang menyambut dengan suara keras. Erika membuka pintu sendiri, memandangnya dengan sedikit terkejut.
"Gue mau pinjam jarum yang kemarin lo pakai."
"Ada. Sebentar."
Erika mengambil wadah kecil, memastikan jarum masih tersimpan pada tempatnya, lalu menyerahkan bersama benang. Kiki menerima dan hendak pergi, tetapi berhenti melihat kantong buku di meja.
"Jo mengembalikan?"
Erika mengangguk.
"Dia marah karena buku itu?"
"Dia marah karena yang terjadi. Buku itu ada di sana."
Kiki merapatkan bibir. Dia tidak tahu bagaimana membedakan keduanya dengan kata yang akan terdengar baik. Namun, dia melihat nama Erika pada lembar uji yang masih berada dekat laptop, dan ingat pernah bertanya apakah dirinya ada dalam cerita.
"Gue belum sempat baca bagian gue," katanya.
"Untuk sekarang, jangan dulu."
"Gue tahu. Gue bukan mau merampas."
Erika tersenyum kecil. Kiki memutar wadah benang di tangan, kemudian mengatakan bahwa jarumnya akan dikembalikan hari itu juga.
"Ndak buru-buru. Asal dimasukkan ke tempatnya lagi."
Kiki mengangguk. Sebelum keluar, dia melihat map di sisi kursi.
"Kalau lo belum mau makan di bawah, bilang Bi Ani. Jangan berhenti makan cuma karena orang-orang ribut."
Erika menatapnya. "Aku tadi sudah makan."
"Bagus."
Kiki pergi sebelum gadis itu mengucapkan terima kasih. Erika menutup pintu perlahan, meletakkan kembali wadah lain yang hampir tergeser, lalu duduk. Kalimat Kiki tidak mengubah cerita tentang keluarga Wijaya yang sedang beredar. Tetapi satu orang di rumah itu masih bisa melihat dirinya sebagai orang yang perlu makan, bukan sesuatu yang harus menjawab seluruh perbuatan kakaknya.
Erika baru mengetahui koreksi tersebut dari Daddy menjelang siang. Jack datang ke meja tempat dia sedang memeriksa berkas, menyampaikan kabar dengan suara biasa.
"Jo sudah menjelaskan kepada orang yang tadi bertanya. Kalau ada pertanyaan lain, arahkan kepada Daddy. Kamu tidak perlu menjawab tamu satu per satu."
Erika mengangguk. "Terima kasih."
"Untuk pekerjaannya, bicara sore. Bawa catatanmu."
"Sudah kususun."
Daddy melihat map, tersenyum kecil, lalu kembali ke ruang kerja. Erika menatap daftar tanpa merasa semua yang terjadi pagi tadi telah hilang. Satu pesan bisa memperbaiki kabar. Tidak langsung memperbaiki cara Jo menatapnya ketika nama Aldin disebut.
Sore sebelum pukul tiga, Iccha mengirim pesan bahwa dirinya akan pulang sedikit terlambat. Dia menanyakan apakah Erika membutuhkan sesuatu dibawakan. Gadis itu menjawab tidak, lalu menambahkan bahwa mungkin akan pulang ke Semarang beberapa hari.
Iccha menelepon pada waktu istirahatnya.
"Karena Ibu atau karena rumah ini?"
Erika tersenyum tipis. "Dua-duanya."
"Lo sudah memutuskan?"
"Belum membeli tiket. Aku mau dengar pembicaraan kerja dulu. Tapi rasanya aku perlu beberapa hari yang ndak dimulai dengan kabar Mas Aldin."
Iccha terdiam sebentar. "Gue akan kangen teman sekamar."
"Aku ndak bilang pindah selamanya."
"Gue juga tidak bilang boleh membawa bantal gue ke Semarang."
Erika tertawa. Suaranya lebih mudah keluar daripada pagi tadi. Mereka mengakhiri panggilan setelah Iccha meminta dikabari jika rencana sudah jelas.
Sebelum berangkat, Ammar singgah ke ruang kerja Jo. Dia tidak membawa daftar pertanyaan yang harus dihafal. Hanya memastikan adiknya memahami bahwa pertemuan itu mungkin memberi jawaban yang lebih menyakitkan daripada dugaan.
"Kalau kamu perlu berhenti sebentar, bilang," katanya.
"Aku tidak mau mereka mengira aku menghindar."
"Keluar mengambil napas bukan menghindar."
Jo mengangguk, lalu melihat jam. "Aku ingin semua dijawab hari ini."
"Yang bisa dijawab. Sisanya dicatat. Jangan memaksa satu pertemuan menjadi jawaban seluruh hidup kalian."
Lelaki muda itu merapatkan bibir. Dia ingin tahu sejak kapan semuanya direncanakan, mengapa Caca tetap menjawab pagi itu, dan bagaimana Aldin duduk menunggu tanpa kembali. Tidak satu pun pertanyaan akan membuat hari kemarin berbeda, tetapi dia masih perlu mendengarnya dari orang yang memilih.
Ammar menunjuk tas. "Barang yang mau dibawa?"
"Surat."
"Baik. Tidak perlu membawa buku kalau hanya akan membuatmu kehilangan arah pertanyaan."
Jo melihat meja yang kini tidak mempunyai sampul krem. Buku berada bersama Erika, bukan lagi alat untuk meminta dua orang menjawab. Dia mengangguk dan mengambil amplop.
Di ruang kerja, Jo memasukkan surat Caca ke amplop. Cincin disimpan pada kotak terpisah, tidak dibawa untuk dilemparkan ke meja atau dipaksa dipakai kembali. Ammar menunggu di pintu, memastikan mereka berangkat cukup awal.
Tempat yang dipilih bukan rumah Jack. Sebuah ruang pertemuan kecil memberi mereka kesempatan bicara tanpa membuat Lina, Kiki, dan Erika menunggu setiap suara dari balik pintu.
Jo memegang amplop sepanjang perjalanan. Ammar tidak menyalakan musik.
Ketika tiba, Caca dan Aldin sudah menunggu. Mereka duduk tidak terlalu dekat, tetapi kedatangan bersama terlihat dari dua tas yang diletakkan pada sisi yang sama.
Jo masuk, memilih kursi di seberang, dan menaruh amplop di meja.
"Sekarang jangan ada nama lain," katanya. "Kalian yang menjawab."