Kalimat pertama tidak selesai. Erika menatap layar, menghapus tiga kata, lalu menulis tiga kata yang hampir sama. Tokoh yang kemarin sudah boleh memesan makanannya sendiri kini kembali menunggu karena penulisnya tidak dapat berhenti mendengarkan suara dari luar kamar.
Dia menyimpan berkas sebelum merusak paragraf yang sebenarnya baik. Setelah itu laptop ditutup, dan ia mengambil buku bersampul krem dari meja.
Ada jejak lipatan pada halaman terakhir. Erika membuka sampai sana, memastikan surat Caca sudah tidak berada di dalamnya. Jo mengambil surat itu sebelum mereka pulang. Tulisan tangan lelaki tersebut tetap ada, tidak bisa dipindahkan seperti kertas yang disisipkan.
Erika tidak mencoret. Ia hanya menutup buku dan memasukkannya ke kantong yang dulu disiapkan untuk hadiah.
Di tempat lain, Aldin sedang berdiri di depan jendela penginapan. Caca duduk pada kursi dekat ranjang, baru selesai menerima telepon ibunya. Mereka belum makan sejak membeli sesuatu dalam perjalanan, dan tidak ada yang merasa lapar sampai perut Aldin berbunyi.
Caca mengangkat wajah.
"Kita perlu makan," katanya.
"Aku pesan. Kau mau apa?"
Wanita itu menggeleng, bukan menolak makan, melainkan tidak tahu bagaimana memilih sesuatu yang begitu biasa setelah seluruh hidupnya berubah.
Aldin akhirnya mengambil makanan sederhana untuk berdua. Saat menunggu, dia memeriksa pesan dari tempat kerja. Ada permintaan agar serah terima dibicarakan melalui jadwal yang jelas, bukan lewat potongan pesan pada malam sebelumnya.
Dia membalas akan hadir ketika waktunya disepakati.
Caca melihat wajahnya.
"Jo?"
"Urusan kantor."
"Dia memecatmu?"
"Belum ada pembicaraan yang selesai. Aku tidak akan menebak."
Wanita itu mengangguk. Beberapa hari sebelumnya, kemungkinan kehilangan pekerjaan terdengar seperti bagian dari keberanian untuk bersama. Kini Aldin membaca pesan dengan bahu tegang, menghitung sesuatu yang tidak bisa dibayar hanya dengan kalimat aku masih ingin bersamamu.
Ponsel Caca berbunyi lagi. Nama Ayah memenuhi layar. Dia menerima setelah melihat Aldin menjauh sedikit, memberi ruang.
"Aku aman," katanya sebelum Frans selesai bertanya.
"Ayah tidak hanya bertanya aman. Ayah bertanya mengapa kau melakukan itu."
Caca memandang lantai. "Aku tahu aku salah."
"Kalimat itu tidak menjawab apa-apa."
Wanita itu mengusap wajah. Riasannya sudah dibersihkan, tetapi semalam masih terasa pada kulit, seperti sesuatu yang tidak dapat dihapus dengan air.
"Aku tidak sanggup memilih dengan benar sebelum acara. Aku terus menunda."
Frans terdiam sebentar, lalu menyebut Jo. Dia mengatakan lelaki itu menunggu, tamu menunggu, keluarga masih harus menjawab orang-orang yang menelepon pagi ini.
Caca tidak menyela untuk mengatakan bahwa semuanya terjadi karena ayah terlalu memikirkan tamu. Ia takut menghadapi kemarahan Frans, tetapi takut bukan alasan mengirim persetujuan, menandatangani keputusan acara, dan mengucapkan janji tanpa bicara lebih dulu.
"Aku akan bicara dengan Jo," ujarnya.
"Hari ini."
"Aku akan menghubungi dia hari ini. Untuk bertemu, aku perlu memastikan dia bersedia."
Frans ingin datang ke Bandung. Caca meminta agar percakapan pertama tidak dimulai dengan ayah muncul dan menyeretnya pulang. Suaranya gemetar, tetapi kali ini dia mengucapkan sesuatu yang jelas.
"Aku akan kembali untuk bicara. Aku tidak akan menitipkan semuanya kepada Ayah."
Panggilan berakhir tanpa ucapan bahwa ayahnya memahami. Caca menaruh ponsel, kemudian melihat Aldin berdiri dekat pintu.
"Kau mendengar?"
"Sebagian."
"Aku harus kembali."
Aldin mengangguk. "Aku juga."
Mereka tidak membicarakan pergi kembali sebagai akhir hubungan. Justru itu yang membuatnya sulit: kedua orang yang duduk bersama tersebut masih ingin bersama, tetapi kini harus menatap orang yang telah dibohongi demi sampai ke ruangan yang sama.
Makanan tiba ketika Caca baru selesai membasuh wajah. Aldin menyiapkan tempat di meja, menggeser tas agar tidak menghalangi kursi. Mereka makan tanpa membuka ponsel selama beberapa suap pertama.
"Aku perlu kembali untuk serah terima," katanya kemudian. "Aku tidak bisa terus menjawab dari sini."
Caca mengangguk. "Aku juga perlu menghadapi keluargaku."
"Setelah itu, kita harus memikirkan tempat tinggal dan pekerjaan. Tidak selamanya bisa duduk di kamar ini."
Wanita itu melihat tasnya yang terlalu kecil untuk dianggap seluruh hidup. Dia membawa pakaian cukup untuk beberapa hari, bukan rencana yang sungguh-sungguh dapat dijalankan setelah orang-orang berhenti menelepon.
"Aku punya uang," katanya.
"Aku tahu. Tapi aku tidak sedang meminta kamu membayar semua. Aku perlu tahu apa yang bisa kukerjakan setelah ini."
Caca meletakkan sendok. Dia teringat pertanyaannya tentang dipecat dan bagaimana Aldin tidak ingin menebak. Keberadaan Jo masih terasa di antara mereka bahkan ketika tak satu pun menyebut nama tersebut.
"Apa kau menyesal ikut?"
Aldin menatapnya. Pertanyaan itu sudah muncul dalam beberapa bentuk, dan setiap kali membuatnya harus memilih antara mengaku takut dengan membuat Caca mengira dirinya akan pergi.
"Aku menyesal melakukan dengan cara ini," jawabnya. "Aku tetap ingin bersamamu. Tapi dua kalimat itu tidak membuat pekerjaanku atau hubungan dengan keluargaku selesai."
Caca menarik napas. Dia tidak marah. Justru untuk pertama kalinya mendengar bahwa cinta Aldin juga mempunyai hari esok yang tidak bisa dibuat hanya dengan mengirim iya.
Mereka membereskan makanan. Aldin memisahkan bungkus yang kosong, Caca menyimpan yang belum habis. Tidak ada pelayan yang bertanya apakah masih memerlukan sesuatu seperti pada makan malam bersama Jo. Mereka harus memperhatikan sendiri apa yang tertinggal di meja.
Caca mengambil ponsel, membuka nomor Jo, lalu berhenti sebelum menekan. Aldin tidak menawarkan menelepon lebih dulu. Dia berjalan ke sisi lain kamar, membuka catatan tugas yang masih dipegang, dan membiarkan wanita itu memilih waktu untuk menghadapi suaminya sendiri.
Di rumah Jack, Iccha pulang sebentar untuk mengambil berkas yang tertinggal. Ammar masih di kantor. Dia menemukan Erika duduk di teras belakang, tidak membawa laptop.
"Istirahat?"
"Mencoba."
Iccha duduk di kursi lain. "Gue cuma sebentar. Mau ikut makan di luar nanti?"
Erika menggeleng. "Belum. Aku masih ingin diam dulu."
"Baik. Kalau berubah, kabari."
Tidak ada pertanyaan apakah dia sudah mendengar Jo meminta maaf. Iccha sudah tahu belum, dan tidak ingin setiap pertemuan mereka berubah menjadi pemeriksaan kabar luka yang sama.
Erika melihat berkas di tangannya. "Mas Ammar tetap kerja?"
"Ada yang tidak bisa ditunda. Tapi dia tidak akan lama."
"Mas Jo?"
"Daddy bilang dia di ruang kerja. Lo tidak perlu mengecek."
Erika menunduk. Dia tidak sedang berniat mengecek, tetapi lega karena seseorang mengatakan itu sebelum rasa bersalah membuatnya merasa harus.
Ketika Iccha pergi, ponsel Erika kembali menyala. Caca menelepon.
Gadis itu memandang nama tersebut sampai dering hampir berakhir. Lalu dia menerima, bukan karena ingin mendengar alasan, melainkan karena kabar dari orang yang pergi masih perlu dihadapi.
"Aku minta maaf," kata Caca.
Erika tidak langsung menjawab.
"Aku membuat Jo marah kepada semua orang di dekatnya. Aku tahu kau ada di rumah."
"Kalau kamu tahu, bicara langsung sama Jo. Jangan minta aku menjelaskan apa yang kamu maksud."
"Aku tidak meminta begitu."
Caca berhenti beberapa saat. Ada hal-hal yang ingin ditanyakan: Jo sudah tidur atau belum, apakah surat dibaca seluruhnya, apakah keluarga Jack ingin melihatnya lagi. Dia menahan semua pertanyaan tersebut setelah mendengar suara Erika.
"Aku akan menelepon dia," katanya.
"Baik."
"Bukunya..."
Erika memejamkan mata. "Mas Jo mengembalikan kepadaku."
Wanita itu diam. Hadiah yang semalam ditinggalkan di meja kini berada di tangan penulis yang tidak pernah diberi tahu harus menulis akhir seperti itu.
"Jangan hapus tulisannya," ujar Caca pelan.
"Aku ndak menghapus apa pun. Tapi buku itu bukan cara meminta aku menyampaikan pesan."
"Aku mengerti."
Erika mengakhiri panggilan setelah Caca menyatakan akan kembali menghubungi Jo. Tangannya tetap memegang ponsel, tetapi kali ini dia tidak membuka percakapan Aldin untuk menanyakan apakah perkataan Caca benar.
Beberapa waktu kemudian, Jo menerima panggilan dari istrinya. Dia membiarkan berdering satu kali lebih lama sebelum mengangkat. Daddy berada di ruangan lain, tidak ikut mendengarkan.
Caca mengatakan akan kembali ke Jakarta untuk bicara jika Jo bersedia.
"Bersama Aldin?" tanyanya.
"Dia juga harus bicara."
"Aku tidak bertanya apa yang harus dia lakukan. Aku bertanya kamu datang dengan siapa."
"Kami berangkat bersama."
Jo menyandarkan punggung. Dua kata itu terdengar begitu mudah dari orang yang sehari sebelumnya berdiri dengan pakaian pengantin.
"Besok pukul tiga," katanya. "Aku akan memberi tahu tempatnya. Mas Ammar ikut. Aku tidak ingin ada bagian yang nanti diceritakan berbeda."
Caca mengiyakan.
"Jangan datang tanpa memberi kabar, lalu meminta semua orang menganggap itu seperti kunjungan biasa," lanjut Jo.
"Aku tidak akan begitu."
Panggilan selesai. Jo meletakkan ponsel dan memandang pintu cukup lama. Setelah itu dia menghubungi Ammar, meminta waktu besok, kemudian meminta Bi Ani memberi tahu Erika bahwa pembicaraan kerja digeser menjadi pukul lima.
Erika menerima kabar tersebut tanpa menanyakan siapa yang lebih dulu harus ditemui. Dia mencatat perubahan di daftar, lalu meminta Bi Ani tidak perlu naik lagi untuk menyampaikan jawaban. Dia akan memberi tahu Jo bahwa kabar sudah diterima.
Erika melihat waktu yang baru di daftar. Ada bagian siang yang kini kosong. Dia sempat ingin mengisinya dengan memeriksa semua berkas lagi, kemudian berhenti karena belum ada hal baru yang perlu diperiksa.
Sebagai gantinya, dia membuka lemari, memisahkan pakaian yang bisa dibawa pulang, lalu menutupnya kembali. Rencana itu belum pasti. Namun membayangkan bisa duduk di dapur Ibu beberapa hari membuat dadanya sedikit lebih lapang.
Dia tidak ingin pulang diam-diam dan membuat orang menebak dirinya ikut pergi seperti Aldin. Kalau akhirnya berangkat, dia akan memberi waktu, tujuan, dan kabar kembali yang jelas. Hal-hal sederhana yang belakangan terasa lebih sulit daripada janji panjang.
Erika mengambil ponsel. Perubahan jadwal tetap perlu dijawab agar Bi Ani tidak harus naik lagi membawa pertanyaan yang sama. Dia memeriksa tanggal, menuliskan jam, lalu membaca sebelum mengirim.
Pesan dikirim singkat. Baik, Mas. Besok pukul lima.
Jo membacanya, tetapi tidak membalas.
Sore itu Frans datang ke rumah Jack. Bukan bersama putrinya. Dia ingin membicarakan keluarga yang belum berhenti bertanya dan barang-barang yang masih berada di lokasi acara.
Sebelum Frans datang, Lina meminta Erika menemani memeriksa kotak perhiasan di ruang tengah. Bros sudah dikembalikan, tetapi ada bagian kain pelapis yang terlipat sehingga pengait tidak bisa diletakkan dengan baik.
Erika membantu merapikannya. Kiki duduk di dekat meja, memperhatikan sambil memainkan tutup kotak kecilnya sendiri.
"Yang punya gue sudah bersih," katanya.
"Iya," jawab Lina.
"Yang lo pakai?"
"Sudah juga."
Kiki melihat bros di sisi lain. Pengait yang keras kini terbuka sedikit, membuatnya mengulurkan tangan sebelum sempat berpikir untuk menegur.
"Jangan ditutup begitu. Nanti menekan kain."
Lina menggeser kotak. Kiki merapikan posisi pengait, menekan pelan, lalu menaruhnya kembali. Tangannya tidak menjauh terburu-buru seperti saat benda yang sama pertama dikeluarkan Daddy.
"Makasih," ujar Lina.
Kiki mengangguk, kemudian memandang foto Maira di rak. Ada kata yang hendak keluar, tetapi dia memilih bertanya apakah semua sudah lengkap.
Erika membaca daftar kecil yang disertakan. Mereka memeriksa satu per satu. Setelah selesai, Lina menutup kotak dan meminta Bi Ani memberi tahu Daddy bahwa barang sudah dikembalikan.
"Foto kemarin jangan dihapus," kata Kiki mendadak.
Lina menoleh. "Yang mana?"
"Yang keluarga. Walaupun acaranya jadi seperti itu. Mama tidak bisa ikut berfoto, tapi barangnya ada sama kita."
Ruangan menjadi sunyi sebentar. Lina mengangguk tanpa menambahkan sesuatu yang membuat Kiki merasa baru mengucapkan pengakuan besar.
"Tidak akan gue hapus."
Kiki berdiri dan berjalan ke dapur. Erika memandang kotak yang kini tertutup, menyadari tidak semua benda dari hari kemarin harus dibuang hanya karena akhir acaranya menyakitkan. Dia membantu Lina menyimpan daftar di bawah kotak, lalu mengangkat keduanya tepat saat suara kendaraan terdengar di depan.
Erika sedang membantu Lina mengembalikan kotak perhiasan ketika lelaki itu masuk. Dia menyapa dengan sopan, lalu hendak naik setelah Daddy mengajaknya duduk.
Frans menatapnya sebentar.
"Kamu adik Aldin, ya."
Erika berhenti. "Iya, Pak."
"Sekarang banyak orang bertanya sejak kapan keluargamu dekat dengan kami."
Daddy mengangkat wajah. "Erika bekerja dengan Jo. Itu bukan rencana yang dibuat dua orang kemarin."
Frans merapatkan bibir. "Saya tahu. Tapi orang-orang tidak tahu."
Erika memegang kotak lebih erat. Di dekat tangga, Lina memandangnya, tidak lagi meneruskan langkah.
"Kalau ada yang perlu kuterangkan tentang pekerjaanku, aku bisa," ujar Erika. "Tapi aku ndak bisa menjawab rencana Mas Aldin yang ndak pernah diceritakan kepadaku."
Frans tidak membalas. Daddy menunjuk kursi, mengarahkannya kembali kepada pembicaraan yang memang datang untuk dilakukan.
Erika naik setelah menyimpan kotak. Di kamar, dia membuka laptop dan melihat daftar yang sudah dipindahkan ke pukul lima. Kabar tentang dirinya mungkin bergerak lebih cepat daripada satu kalimat yang baru saja diberikan langsung.
Dia mengambil kertas, menuliskan tanggal pertama proyek dimulai, dan berhenti sebelum baris berikutnya. Bukan untuk membela kakaknya. Dia perlu memastikan, kalau besok pekerjaannya dibicarakan, namanya tidak ikut dihapus bersama kepercayaan yang dilanggar orang lain.