Caca berhenti di depan pintu kamar, mengambil napas, lalu membuka dengan tangan yang sedikit basah. Suara dari ruang acara masih terdengar samar. Di sana, orang-orang menunggu dirinya kembali dengan alas kaki yang lebih nyaman.
Dia menutup pintu dan langsung melepas sepatu. Kakinya memang sakit. Hal kecil yang benar itu tidak membuat alasan meninggalkan Jo menjadi benar juga.
Di meja, buku masih berada di tempat yang tadi disentuh suaminya. Caca membuka halaman terakhir, membaca tulisan yang sudah dihafal, kemudian meraih kertas dari tas. Pena yang dibawa untuk keperluan biasa kini terasa licin di tangannya.
Dia mulai dengan nama Jo. Tidak ada panggilan sayang.
Kalimat berikutnya dicoret dua kali. Aku tidak bisa. Aku membutuhkan waktu. Aku takut. Semua terasa terlalu kecil setelah jawaban yang dia berikan pagi tadi di hadapan keluarga.
Caca mengambil lembar lain.
Jo, aku pergi bersama Aldin.
Tangannya berhenti. Itulah kalimat yang seharusnya sudah dikatakan sebelum memakai pakaian pengantin. Dia menambahkan bahwa dirinya tahu telah melakukan kesalahan, lalu menulis permintaan maaf yang tidak dapat membatalkan satu hari penuh.
Tidak ada tuduhan bahwa Jo terlalu sibuk. Tidak ada nama ayahnya sebagai orang yang harus menanggung seluruh keputusan. Caca menatap kertas cukup lama sebelum melipat.
Dia memasukkannya ke halaman terakhir buku. Cincin yang baru dipakainya dilepas, diletakkan di atas sampul setelah buku ditutup. Benda itu mengeluarkan bunyi kecil, hampir tidak terdengar di antara suara dari lorong.
Caca mengganti pakaian dengan tangan tergesa. Tas kecil yang dibawanya bersama perlengkapan lain pagi tadi akhirnya diangkat. Dia memandang kamar untuk terakhir kali, membuka pintu, dan berjalan keluar.
Aldin sudah menunggu ketika Caca tiba di tempat keberangkatan. Dia berdiri dari bangku dan meraih tali tas, tetapi wanita itu belum melepaskan pegangan.
"Aku bawa sendiri," katanya.
Lelaki itu mengangguk, menurunkan tangan. Mereka berdiri beberapa saat tanpa tahu harus melakukan apa dengan jarak yang akhirnya tidak lagi dibatasi pesan.
"Jo tahu?" tanya Aldin.
"Aku meninggalkan surat."
"Sudah dibaca?"
Caca menggeleng. Dia memandang pakaian biasa yang dikenakan lelaki di hadapannya. Tidak ada jas, tidak ada bunga. Orang-orang di sekitar mereka sedang menunggu perjalanan dengan tas di kaki, tidak mengetahui bahwa beberapa waktu sebelumnya dia berdiri sebagai pengantin di ruangan lain.
"Kau masih bisa kembali," ujar Aldin.
Caca menatapnya. "Kau ingin aku kembali?"
Pertanyaan itu kembali meletakkan keputusan di tangan orang yang dia datangi. Aldin menarik napas, lalu menjawab dengan kalimat yang tidak dapat diperbaiki setelah diucapkan.
"Aku ingin kau di sini."
Wanita itu akhirnya melepaskan tali tas. Aldin memindahkannya ke dekat bangku, dan mereka duduk berdampingan.
Caca tidak bersandar pada bahunya. Dia menatap tangan sendiri, mencari cincin yang tadi telah dilepas. Kulit di tempat benda itu berada masih terasa berbeda, seolah berat kecilnya belum benar-benar hilang.
Ponsel bergetar di dalam tas. Caca mengeluarkannya. Nama Jo muncul, diikuti pesan yang menanyakan apakah dia perlu bantuan.
Aldin melihat layar dari sisi, lalu memalingkan wajah. Kalimat tersebut lebih menyakitkan daripada kemarahan yang telah mereka bayangkan. Jo masih mengira istrinya perlu pertolongan, bukan sedang menunggu pergi bersama orang lain.
Caca tidak membalas. Dia meletakkan ponsel di pangkuan sampai dering pertama datang, kemudian membiarkannya berhenti.
"Kita seharusnya tidak melakukan ini setelah acara," bisik Aldin.
"Aku tahu."
"Aku tetap ikut. Aku tidak bisa nanti bilang cuma mengantarmu."
Caca menoleh. Ada kesedihan yang tidak membuat keduanya bangkit. Di dekat pintu, seseorang bertanya kepada petugas tentang waktu berangkat. Jawabannya membuat Aldin melihat jam, lalu merapatkan tas ke kaki.
Mereka masih mempunyai waktu untuk kembali. Waktu itu dilewati sambil duduk, membiarkan orang-orang yang ditinggalkan menemukan sendiri apa yang telah dilakukan.
Di ruang acara, Jo masih tersenyum kepada seorang tamu yang baru tiba. Lelaki itu mengatakan tempatnya indah. Jo berterima kasih dan menoleh ke pintu.
Caca belum kembali.
Ammar mendekat setelah melihat adiknya menatap arah yang sama beberapa kali.
"Dia ke kamar?"
"Ganti alas kaki."
"Aku bisa meminta orang mengecek."
"Sebentar. Mungkin masih merapikan pakaian."
Jo memberi waktu beberapa menit lagi, lalu mengirim pesan. Pesan itu masuk, tetapi tidak dibaca. Dia menelepon satu kali. Tidak diangkat.
Wajahnya berubah cukup jelas sehingga Ammar berhenti menyapa orang di sebelah.
"Aku ke sana," kata Jo.
"Aku ikut."
Mereka meninggalkan ruang acara setelah meminta seseorang memberi tahu bahwa pengantin sedang beristirahat. Jo masih mengira Caca mungkin tidak enak badan atau tertidur karena lelah. Kekhawatiran itu membuat langkahnya lebih cepat, bukan lebih pelan.
Di kamar, pintu tidak terkunci. Jo masuk setelah mengetuk dan memanggil nama istrinya.
Tidak ada jawaban.
Pakaian pengantin berada di kursi. Sepatu yang tadi dipakai ada di lantai. Jo menatap keduanya, kemudian kamar mandi yang pintunya terbuka.
"Caca?"
Ammar memeriksa ruangan dengan pandangan, tidak menyentuh barang sebelum tahu apa yang dicari. Jo mendekati meja. Cincin di atas buku langsung membuat dadanya terasa dingin.
Dia mengangkat benda itu, lalu membuka sampul.
Kertas terlipat keluar dari halaman terakhir. Jo membukanya dengan gerakan yang terlalu hati-hati. Ammar masih berdiri di belakang ketika wajah adiknya berhenti mempunyai warna.
"Apa?" tanyanya.
Jo tidak menjawab. Matanya bergerak pada baris pertama, lalu turun sampai nama Caca di bagian akhir.
Pergi bersama Aldin.
Dia membaca sekali lagi. Kata-katanya tetap sama. Tidak berubah menjadi pergi sendiri, pergi sebentar, atau pergi karena merasa sakit.
Ammar mendekat. Jo menyerahkan kertas tanpa melepaskan cincin di tangan lain.
Lelaki itu membaca dan memejamkan mata sesaat.
"Kita harus mencari tahu dia sudah sampai mana."
Jo mengangkat ponsel, menelepon Caca lagi. Tidak ada jawaban. Dia berpindah ke Aldin. Panggilan berlangsung sampai berhenti sendiri.
"Brengsek," katanya pelan.
Tidak ada benda yang dilempar. Justru diam setelah kata itu membuat Ammar lebih khawatir. Jo berdiri dengan ponsel dekat telinga, menunggu seseorang menjawab dari hidup yang beberapa menit lalu masih dianggap telah dipilih bersama.
Jo menurunkan ponsel sebentar. Di atas meja, bekas gelas yang dibawanya tadi sore masih tampak. Caca meminumnya di hadapannya. Mereka duduk di ruangan ini, membicarakan lelah seperti dua orang yang akan pulang bersama setelah acara selesai.
"Tadi dia menggenggam tanganku," katanya.
Ammar memandangnya. "Aku tahu."
"Dia tidak meminta berhenti. Tidak sekali pun hari ini."
Lelaki itu menahan jawaban. Mengatakan semua mungkin direncanakan hanya akan menambah sesuatu yang belum diketahui, tetapi menghibur bahwa Caca pasti punya alasan juga terdengar kejam.
Ammar menarik kursi mendekat. "Duduk dulu. Aku di sini."
Jo tetap berdiri. Cincin berada di telapak tangannya, meninggalkan lekuk kecil karena digenggam terlalu keras. Dia membuka jari, melihat benda itu, lalu meletakkannya dekat buku.
"Aku memilih percaya," ujarnya.
"Iya."
"Setelah semuanya."
Ammar mengangguk. Dia tidak meminta adiknya langsung memahami pilihan orang yang baru pergi. Untuk saat itu, dia hanya memastikan Jo tidak berada sendirian di kamar dengan kabar yang terlalu besar untuk satu tubuh yang sudah kelelahan.
Frans datang karena melihat mereka terlalu lama tidak kembali. Di belakangnya, Daddy masuk dengan wajah sudah berubah.
"Caca di mana?" tanya Frans.
Jo menunjuk kertas di tangan Ammar. Ayah Caca mengambilnya, membaca, lalu memandang menantunya seolah meminta penjelasan yang tidak dapat disediakan.
"Dia bilang hanya sebentar."
"Saya juga diberi tahu begitu," jawab Jo.
Frans menelepon putrinya. Suaranya semakin keras setiap kali panggilan tidak dijawab. Daddy menutup pintu supaya percakapan tidak langsung terdengar sampai lorong.
"Kita belum tahu dia berada di mana," kata Jack. "Jangan membuat semua orang keluar tanpa arah."
"Putri saya pergi!"
"Saya tahu."
Jo tetap memandang ponsel. Di luar kamar, acara masih mempunyai suara yang sama. Musik, langkah orang, seseorang tertawa. Keteraturan yang tidak mengetahui apa-apa itu membuatnya ingin menutup telinga.
Ammar menawarkan mengambil alih pemberitahuan kepada keluarga. Daddy menyetujui. Mereka belum perlu menyerahkan isi surat kepada semua tamu, tetapi tidak bisa terus meminta orang menunggu pengantin yang tidak akan kembali untuk berfoto.
Erika mengetahui ada sesuatu yang salah ketika Iccha menerima pesan Ammar dan langsung berdiri. Lina menanyakan apa yang terjadi. Iccha membaca sekali lagi, lalu meminta mereka ikut tanpa suara keras.
Kiki berhenti makan. "Kenapa?"
"Kita diminta ke dekat kamar keluarga."
Erika mengambil tas. Di ponselnya, ada pesan dari Aldin yang baru masuk.
Ka, maaf. Jangan tunggu aku pulang ke tempat biasa malam ini.
Dia menatapnya, tidak memahami. Kakaknya sudah mengatakan tidak datang. Tidak ada rencana mereka pulang bersama.
Erika menelepon sambil mengikuti Iccha. Panggilan pertama tidak diangkat. Pada panggilan kedua, suara Aldin akhirnya muncul.
"Mas, maksud pesanmu apa?"
Aldin tidak langsung menjawab. Di belakangnya terdengar suara kendaraan dan orang berbicara dari jarak dekat.
"Kamu di mana?" tanyanya.
"Masih di acara. Kami diminta menemui keluarga. Ada apa?"
Lelaki itu menarik napas. "Aku bersama Caca."
Erika berhenti berjalan. Iccha menoleh.
"Apa?"
"Aku bersama Caca."
Tangan Erika semakin erat menggenggam ponsel. Di ujung lorong, pintu kamar dibuka. Jo muncul dengan wajah yang membuatnya tak sanggup mengajukan pertanyaan berikutnya.
"Mas Aldin di mana?" kata Erika cepat.
Jo mendengar nama itu. Dia berjalan mendekat, melewati Ammar yang baru keluar di belakangnya.
"Dengan siapa kamu bicara?"
Erika menatapnya. "Mas Aldin. Katanya bersama Caca. Aku..."
Jo mengulurkan tangan. "Berikan."
Erika menyerahkan ponsel sebelum kalimatnya selesai. Jo menempelkannya ke telinga.
"Al."
Tidak ada jawaban.
"Aku tahu kamu masih mendengar. Di mana istriku?"
Suara Aldin muncul pelan. "Jo, aku..."
"Jangan mulai dengan namaku. Katakan di mana dia."
"Dia bersamaku. Kami akan pergi."
Jo menutup mata sesaat. Orang-orang di lorong berhenti bergerak. Iccha mendekati Erika, tetapi tidak menyentuh sebelum melihat apakah gadis itu akan jatuh.
"Pulang," kata Jo. "Bawa dia kembali. Sekarang."
Aldin terdiam. Di tempat keberangkatan, Caca berdiri dekat bangku, memegang tas sendiri. Dia melihat wajah lelaki itu dan tahu siapa yang sedang bicara. Namun, ketika Aldin memandangnya, dia menggeleng.
"Jo..."
"Berikan telepon pada dia."
Aldin menyodorkan ponsel kepada Caca. Wanita itu memandang layar, lalu menekan bibir sebelum mendekatkan ke telinga.
"Aku minta maaf."
Jo tidak langsung menjawab. Suara yang tadi mengucapkan janji kepadanya kini meminta maaf dari tempat yang tidak bisa dilihat.
"Kembali," katanya.
"Aku tidak bisa."
"Kamu bisa membuka pintu dan meninggalkan aku. Jangan bilang kamu tidak bisa kembali."
Caca mulai menangis. Bukan karena seseorang memaksanya berdiri di samping Aldin. Dia sendiri telah datang, dengan tas yang dipersiapkan dan perjalanan yang dibayar.
"Aku tahu ini salah."
"Lalu kenapa pagi tadi kamu menjawab?"
Wanita itu tidak punya kalimat yang dapat membuat jawabannya masuk akal. Di dekatnya, Aldin menunduk. Pengumuman perjalanan terdengar dari kejauhan, membuat Caca menoleh, gerakan kecil yang tidak terlihat oleh Jo tetapi tetap mengubah akhir panggilan.
"Aku minta maaf," ulangnya.
Panggilan terputus sebelum Jo selesai menyebut namanya.
Lelaki itu menatap layar. Ponsel bukan miliknya, tetapi tangan yang menggenggam sudah begitu keras hingga Ammar harus meminta dia mengendurkan.
"Jo."
Dia tidak menjawab. Pandangannya berpindah kepada Erika.
"Kamu tahu?"
Erika menggeleng. "Aku baru tahu waktu Mas menelepon tadi."
"Dia mengirim pesan ke kamu."
"Baru masuk. Aku juga ndak mengerti maksudnya."
Jo melihat percakapan yang masih terbuka. Satu kalimat permintaan maaf dari Aldin berada di atasnya, tanpa penjelasan yang bisa dibaca sebagai bukti bahwa Erika mengetahui rencana itu. Namun, malam tersebut telah menghabiskan kemampuannya membedakan orang yang memberi kabar dengan orang yang membuat kabar.
"Kamu makan bersama dia beberapa hari lalu."
Erika menelan ludah. "Iya. Mas Jo tahu. Kami membicarakan Ibu dan pekerjaanku."
"Tidak membicarakan Caca?"
"Aku bertanya apakah dia datang pada acara. Dia bilang belum memutuskan. Itu saja."
Ammar bergerak sedikit di antara mereka. "Dia baru mendengar, Jo. Kita bisa melihat pesannya nanti."
Jo menatap kakaknya, lalu kembali pada Erika. Di belakangnya, Daddy memegang surat yang sekarang terlipat lagi. Frans sudah masuk kamar, menelepon orang lain dengan suara yang berusaha diturunkan.
"Mas," ujar Erika, "aku ndak menyembunyikan rencana mereka. Aku sungguh ndak tahu."
Jo mengembalikan ponsel. Gerakannya mendadak, membuat Erika harus memegang dengan kedua tangan agar tidak jatuh.
"Aku juga sungguh percaya kalian."
Kata kalian mengenai dirinya meski dia tidak pergi ke mana-mana. Erika berdiri di lorong, dalam gaun yang pagi tadi dipakai untuk foto bersama, dan tidak menemukan cara agar Jo mendengar perbedaan itu.
Iccha meraih siku Erika. Lina memanggil Kiki untuk tetap dekat. Ammar mengikuti Jo yang berjalan kembali ke kamar, tetapi adiknya berhenti di pintu dan menoleh.
"Buku itu ada di meja. Ambil, Ka."
Erika memandangnya. "Sekarang?"
"Sekarang."
Dia berjalan masuk setelah Daddy mengangguk pelan. Di meja, buku bersampul krem terletak terbuka, dengan surat di samping dan cincin yang tidak lagi dipakai. Nama Anggrek masih tercetak di halaman pertama, sama jelasnya dengan hari ketika ia memotretnya untuk Ibu.
Erika meraih buku itu. Jo melihat tangannya, lalu memandang wajahnya.
"Kamu menulis mereka saling memilih."
"Aku menulis yang waktu itu mereka ceritakan."
"Sekarang kamu sudah melihat pilihannya."
Di luar, suara acara mulai diturunkan. Malam yang seharusnya menghasilkan halaman baru justru berhenti pada buku yang dikembalikan kepada penulisnya.