Erika merapatkan buku ke dada. Sampulnya masih hangat oleh tangan yang sejak tadi menggenggam. Di depannya, Jo berdiri tanpa jas, dengan kemeja yang beberapa jam lalu tampak begitu rapi.
"Kalau Mas ingin bukunya dihentikan, kita bisa bicara besok," katanya. "Sekarang aku simpan dulu."
Jo tertawa pendek. Tidak ada sesuatu yang lucu dalam suara itu.
"Besok? Kamu juga akan memberi tahu besok kalau kakakmu membuat rencana lain?"
Erika memandangnya. "Aku ndak tahu rencana yang ini."
"Aku sudah mendengar."
"Tapi Mas masih bicara seolah aku ikut menyiapkan."
Daddy yang berdiri dekat meja mengangkat wajah. Ammar berhenti di ambang pintu. Iccha masih berada di lorong, cukup dekat untuk mendengar, tetapi menunggu Erika memintanya masuk.
Jo menunjuk buku, kemudian halaman yang terbuka sedikit di tangan Erika.
"Di situ ada bagian dia mengatakan ingin pulang bersamaku setelah menikah."
Erika mengingat wawancara yang dimaksud. Caca menjawab pertanyaan itu sambil tersenyum, Jo menambahkan sesuatu tentang rumah, lalu keduanya tertawa karena jawaban mereka tidak sama.
"Iya," katanya. "Itu memang dikatakan waktu kita bicara."
"Lalu kamu menulisnya."
"Karena Mas meminta kisah berdasarkan ingatan kalian."
"Aku membaca. Aku mengira kalau ditulis begitu, memang ada sesuatu yang masih bisa kupercaya."
Erika melihat wajah lelaki itu. Dia akhirnya mendengar bagian yang tidak keluar dari pertanyaan apakah dirinya mengetahui rencana Aldin. Jo telah memberi berat pada kalimat yang dulu hanya dapat ia pastikan sebagai jawaban wawancara.
"Aku ndak pernah bisa menjamin apa yang akan dilakukan seseorang setelah diwawancarai," ujarnya. "Aku bisa memeriksa apakah ucapan dan kejadian yang diceritakan cocok. Aku ndak bisa menjadikan tulisan itu janji baru dari mereka."
Jo memalingkan wajah. Penjelasan tersebut tidak memberi tempat untuk marah kepada halaman yang sejak tadi ingin disalahkan.
"Mungkin kamu seharusnya tidak menulis bagian itu."
Erika menggeleng pelan. "Kalau waktu itu aku menghapus karena menduga Caca akan berbohong lagi, Mas pasti bertanya dari mana aku tahu. Aku memang ndak tahu."
Daddy bergeser dekat meja. Dia melihat kertas, tetapi tidak meminta Erika membaca seluruh naskah untuk membuktikan dirinya.
"Buku itu punya pekerja yang bertanggung jawab atas tulisannya," kata Jack. "Janji yang diucapkan orang di dalamnya tetap tanggung jawab orang itu."
Jo merapatkan bibir. Erika menunggu, tidak mengubah penjelasan menjadi permohonan agar dia berhenti merasa dikhianati. Tidak ada kalimat yang bisa melakukan itu malam ini.
Jo menunjuk buku.
"Kamu tahu bagaimana mereka bicara. Bagaimana dia melihat Caca. Kamu bahkan datang membawa foto."
"Karena itu yang kulihat waktu itu. Setelah Mas tahu, keputusan selanjutnya bukan ada di tanganku."
Jo menegang. Kalimat tersebut mengenai tempat yang masih terlalu sakit untuk disentuh. Dia telah memilih percaya lagi, mengulurkan tangan, menyiapkan seluruh hari, dan sekarang semua pilihannya terasa seperti bahan yang disusun orang lain untuk menertawakannya.
"Jadi sekarang salahku karena percaya?"
"Aku ndak bilang begitu."
"Tapi itu yang kamu maksud."
"Jo," ujar Ammar.
Erika menggeleng sebelum kakaknya Jo meneruskan. "Biar aku jawab, Mas. Aku ndak menganggap Mas salah karena percaya. Aku juga percaya Mas Aldin akan memberi tahu kalau ada sesuatu. Ternyata dia ndak melakukannya. Itu yang baru kutahu malam ini."
Jo memandangnya cukup lama. Di mata Erika, dia mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk memahami mengapa orang yang dekat dengan Aldin justru masih berdiri di hadapannya ketika Aldin sendiri telah pergi.
Tidak ada jawaban baru di sana.
Daddy mengambil surat Caca dari meja. "Dua orang yang membuat keputusan ini sudah menyebut diri mereka sendiri. Jangan menambahkan orang ketiga hanya karena dia yang masih bisa kamu ajak bicara."
Jo memalingkan wajah. "Daddy tidak mendengar cara Al bicara dengannya."
"Daddy mendengar kamu tadi."
Suasana semakin sunyi. Erika menurunkan buku, menahan lengannya agar tidak terlihat gemetar.
"Aku akan memberi tahu kalau Mas Aldin menghubungi lagi," katanya. "Tapi aku ndak bisa menjanjikan dia kembali hanya karena aku meminta."
Jo mengambil ponselnya sendiri.
"Minta dia datang. Bukan ke kamu. Ke aku."
"Aku sampaikan."
"Sekarang."
Erika mengeluarkan ponsel. Kalimat yang diketik pendek, tanpa ancaman atau permohonan agar kakaknya memperbaiki semua melalui dirinya.
Mas, Jo ingin bicara langsung. Hubungi dia. Jangan menitipkan jawaban lewat aku.
Dia mengirim, kemudian memperlihatkan bahwa pesan sudah masuk. Jo melihat sebentar, tidak meminta ponselnya lagi. Daddy bergerak ke pintu dan memanggil Iccha.
"Temani Erika. Kita pulang setelah urusan di sini selesai."
Iccha masuk, menyentuh punggung tangan Erika, lalu mengambil tasnya yang tadi hampir terlepas. Mereka keluar bersama. Di lorong, Lina dan Kiki menunggu dengan wajah yang belum pernah dilihat Erika pada acara keluarga mana pun.
"Apa benar Caca sama Al?" tanya Kiki pelan.
Erika mengangguk. Mengucapkan nama kakaknya terasa lebih berat daripada mengangguk.
Kiki membuka mulut, kemudian melihat buku di tangan Erika. Ucapan yang hendak keluar ditahan. Lina menunjuk ruang kecil di samping, tempat mereka bisa duduk tanpa dilihat tamu yang lewat.
Iccha membawa Erika ke sana. Buku diletakkan di pangkuan, tas di bawah kursi. Gadis itu masih mengenakan sepatu yang tadi sempat dikeluhkan.
"Lepas dulu," kata Iccha.
Erika menatapnya.
"Sepatunya. Bukan keberanian lo."
Erika tertawa sekali, terlalu pendek dan segera berubah menjadi napas yang patah. Dia melepas sepatu, menaruh kaki di lantai, dan akhirnya merasakan betapa sakit tumitnya.
Iccha duduk di sebelah, tidak menyuruhnya berhenti menangis ketika mata mulai basah.
"Aku ndak mau Mas Jo mengira aku tahu," ujar Erika.
"Gue mendengar lo tadi."
"Tapi dia ndak percaya."
"Untuk malam ini, dia tidak sedang bisa mendengar banyak hal. Itu tidak membuat tuduhannya benar."
Erika menunduk. Nama Anggrek terlihat di sela sampul yang terbuka sedikit. Dia menutupnya dengan telapak tangan, lalu mengangkat tangan itu lagi. Tidak ada alasan menyembunyikan nama yang sudah dikerjakan dengan benar.
Ammar keluar dari kamar pengantin beberapa waktu kemudian. Dia mengetuk pintu ruang kecil sebelum masuk. Kiki dan Lina sedang membantu mengumpulkan barang di sisi lain, sementara Erika duduk bersama Iccha.
"Boleh aku lihat pesan malam ini?" tanyanya kepada Erika.
Gadis itu mengangkat wajah. Tangan langsung bergerak mengambil ponsel, terlalu cepat, seperti takut permintaan itu berubah menjadi kecurigaan baru jika dia tidak segera menyerahkan.
Ammar menahan dengan telapak terbuka.
"Aku bertanya. Kalau kamu tidak ingin menyerahkan seluruh ponsel, tunjukkan bagian yang perlu saja."
Erika berhenti. Iccha melihat Ammar, kemudian merapatkan kursi agar tidak menghalangi.
"Aku boleh tahu untuk apa?" tanya Erika.
"Supaya Jo melihat urutannya. Kita baru menerima pesan ketika sudah ada di lorong. Kamu menelepon karena tidak memahami. Itu bisa diperiksa tanpa menebak."
Erika membuka percakapan Aldin, menggeser sampai kalimat yang baru masuk malam ini. Dia sendiri menyebut waktu makan siang dan panggilan semalam, tetapi tidak membuka percakapan tentang Ibu untuk dibaca siapa pun.
Ammar mengangguk. "Yang pribadi tidak perlu."
Gadis itu memperlihatkan waktu pesan, kemudian daftar panggilan. Keduanya sesuai dengan apa yang telah diceritakan. Iccha menyebut bahwa dia berdiri di dekat Erika ketika panggilan kedua dijawab.
"Aku mendengar dia bertanya apa maksud pesannya," katanya. "Dia bahkan tidak tahu Caca sudah keluar dari ruangan."
Ammar meminta izin memotret bagian yang berkaitan dengan kabar malam itu. Erika membolehkan, setelah memastikan tidak ada percakapan lain yang ikut tertangkap. Selesai memotret, lelaki itu mengembalikan seluruh layar ke tangan pemiliknya.
"Terima kasih," ujarnya.
Erika menatap hasil yang ditunjukkan. "Ini ndak berarti Mas Aldin cuma salah mengirim pesan, ya, Mas. Aku ndak mau membela rencananya."
"Aku tahu. Kita memeriksa yang kamu ketahui. Bukan mengubah yang dia lakukan."
Gadis itu mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak kabar masuk, dia tidak merasa harus mengucapkan semua yang pernah dibicarakan kakaknya agar seseorang mau percaya.
Ammar berdiri dan kembali ke kamar pengantin. Iccha menunggu sampai pintu tertutup, lalu meraih gelas dan memberikannya kepada Erika.
"Minum dulu," katanya.
Erika minum. Tangannya masih gemetar, tetapi sekarang ada sesuatu yang lebih pasti daripada kalimat yang sudah diulang terlalu banyak.
Ammar membawa hasil pemeriksaan itu kepada Jo.
"Ini baru masuk ketika acara sudah berlangsung. Dia menelepon karena tidak mengerti."
Jo memandang layar.
"Aku melihat."
"Kalau begitu, berhenti meminta dia menjawab untuk Aldin."
"Aku tidak meminta kamu mengajariku malam ini."
Ammar menahan napas, lalu menyimpan ponsel. "Aku tidak akan membiarkan kamu melukai orang lain supaya punya tempat menaruh marah."
Jo berjalan ke sisi jendela. Di bawah, kendaraan tamu bergerak satu per satu. Sebagian orang masih menunggu foto terakhir. Sebagian mungkin sudah mendengar potongan kalimat dari orang yang tidak tahu seluruh cerita.
Frans kembali setelah berbicara dengan istrinya. Wajahnya semakin keras, tetapi saat melihat surat di tangan Jack, dia menahan pertanyaan tentang keluarga Aldin.
"Dia sudah menjawab?" tanyanya.
Jo menggeleng.
"Saya akan meminta orang mencari."
"Dia tadi bicara langsung," kata Jo. "Dia mengatakan pergi bersama Aldin."
Frans memandangnya. "Kau membiarkan?"
Ammar langsung bergerak mendekat. Jo justru mengangkat wajah, perlahan.
"Putri Anda mengakhiri panggilan ketika saya meminta dia kembali. Saya tidak membuka pintu untuk mereka."
Kalimat itu membuat Frans kehilangan jawaban sesaat. Jack mengambil alih sebelum percakapan menjadi pertengkaran yang dapat didengar seluruh lorong.
"Kita perlu memastikan mereka aman. Sesudah itu, mereka harus bicara sendiri. Untuk tamu, saya akan menyampaikan bahwa rangkaian formal malam ini ditutup. Tidak ada foto tambahan."
Frans mengangguk kaku. Dia belum mampu menyebut bahwa putrinya sendiri telah meninggalkan surat, tetapi tidak lagi meminta Jo menjelaskan sesuatu yang sudah tertulis.
Acara ditutup tanpa pengumuman isi surat. Makanan masih tersedia bagi tamu yang belum selesai. Petugas mengarahkan orang untuk mengambil barang, sementara keluarga menjawab pertanyaan dengan kalimat sesingkat mungkin. Ada keperluan keluarga yang harus ditangani. Pengantin tidak akan kembali ke ruang acara.
Kalimat tersebut tidak menghentikan semua bisik-bisik. Namun, cukup untuk mengakhiri penantian yang semakin memalukan.
Erika membantu Lina mengumpulkan tas keluarga. Kiki membawa brosnya sendiri, menyimpannya di dalam kotak karena takut terlepas. Tidak ada yang mengomentari wajah Erika yang baru dibasuh.
Ketika Jo melewati ruangan itu, dia berhenti melihat buku di tangan Erika.
"Jangan dikerjakan lagi," katanya.
Erika mengangguk. "Aku simpan."
"Semua wawancara juga."
"Baik."
Dia menunggu apakah Jo akan mengatakan sesuatu selain pekerjaan. Lelaki itu hanya berjalan lagi. Iccha menyentuh siku Erika, mengajaknya bergerak sebelum orang-orang di lorong kembali menoleh.
Sebelum kendaraan berangkat, Erika menemukan kantong yang dulu dipakai membawa buku sudah kusut. Tali kecilnya hampir lepas karena terlalu sering dibuka. Dia merapikan, memasukkan sampul dengan hati-hati, lalu menyimpan di atas tas.
Lina melihat dari kursi sebelah.
"Mau ditaruh di sini? Tempatnya lebih lapang."
Erika menggeleng. "Aku pegang dulu."
"Baik."
Tidak ada desakan agar buku dibuang atau dibaca ulang malam itu juga. Lina menyerahkan tisu yang masih bersih, kemudian kembali menjaga kotak milik Mama.
Kiki melihat tangan Erika yang bergerak terlalu lambat. Dia mengambil botol air dari sisi kursi dan menyodorkan tanpa komentar. Erika berterima kasih. Gadis itu hanya mengangguk, lalu memandang jendela.
Kendaraan menunggu yang lain siap. Di luar, seseorang masih mencari barang yang tertinggal. Erika menarik napas, memeriksa ponsel sekali, dan berhenti mengetik karena belum ada kabar yang dapat dikirim kepada Ibu tanpa penjelasan panjang.
Perjalanan pulang tidak mempunyai percakapan seperti pagi. Kiki memandang jendela. Lina menjaga kotak kecil di pangkuan. Iccha duduk dekat Erika, dan sesekali memastikan ponselnya masih dipegang, bukan tertinggal di lokasi.
Erika membaca pesan yang akhirnya masuk dari Aldin.
Kami sudah berangkat. Caca aman. Aku akan menghubungi Jo setelah sampai.
Dia tidak membalas terima kasih. Kabar aman memang diperlukan, tetapi bukan hadiah yang bisa membuat cara kakaknya pergi lebih mudah diterima.
Erika meneruskan pesan itu kepada Jo dengan satu kalimat: ini baru masuk. Setelahnya, dia menulis kepada Aldin agar menghubungi Ibu sendiri sebelum kabar datang dari orang lain.
Di rumah, Bi Ani menunggu dengan air hangat. Wajahnya berubah ketika melihat semua pulang lebih cepat daripada jadwal, tetapi dia tidak meminta cerita di pintu.
Daddy meminta anak-anak naik dan beristirahat. Jo tetap di bawah, berdiri dekat ruang kerja dengan tangan di saku. Ammar menemaninya tanpa memaksa percakapan.
Erika hendak naik ketika Jo memanggil namanya.
"Kakakmu mengatakan akan menghubungi setelah sampai. Pastikan dia melakukannya."
Erika menoleh. "Aku sudah meminta dia bicara langsung, Mas. Aku ndak bisa memastikan orang lain menepati janji."
Jo menatapnya, seolah jawaban itu kembali terdengar sebagai penolakan berada di sisinya.
"Malam ini aku butuh jawaban, Ka."
"Aku tahu. Tapi kalau aku memberi jawaban yang ndak bisa kujamin, Mas akan mendapat janji kosong lagi."
Ammar memandang adiknya. Jo menurunkan wajah sebelum mengatakan sesuatu yang lain. Erika menunggu dua detik, lalu melanjutkan langkah bersama Iccha.
Di kamar, gaun dilepas dan digantung tanpa langsung dirapikan. Erika meletakkan buku di meja, jauh dari gelas. Ia membuka ponsel, melihat foto yang tadi dikirim kepada Ibu, lalu menutupnya lagi.
Pagi tadi dia tersenyum sebagai orang yang diundang. Malam ini dia pulang seperti harus membuktikan bahwa dirinya tidak ikut pergi.