Bunyi alarm membuat Erika terbangun sebelum pintu kamar diketuk. Iccha sudah duduk, menatap ponsel sambil mengusap wajah. Keduanya saling memandang dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.
"Kita benar-benar harus turun sekarang?" tanya Erika.
"Kalau lo mau sarapan, iya. Kalau mau hidup dari sisa bedak, nanti saja."
Erika tertawa, bangkit, dan bergegas ke kamar mandi. Gaunnya sudah tergantung terpisah dari pakaian lain. Kantong kain yang kancingnya diperbaiki semalam ada di dalam tas. Dia memeriksa semuanya sekali, lalu berhenti sebelum kebiasaan menghitung membuatnya terlambat.
Di ruang makan, Bi Ani sudah menyiapkan makanan hangat. Jo duduk di dekat Daddy, belum mengenakan jas. Ammar sedang mencari sesuatu di saku celana, sementara Kiki berdiri mengeluhkan rambutnya.
Lina menyerahkan gelas kepada Erika. "Duduk. Kendaraan belum berangkat."
Erika berterima kasih dan mengambil porsi kecil. Iccha langsung menatapnya.
"Itu untuk siapa? Anak kucing?"
"Nanti kalau terlalu kenyang, gaunku protes."
"Gaun lo belum pernah punya pendapat."
Jo menoleh mendengar percakapan itu. "Makan saja. Kita tidak akan menilaimu dari ukuran sarapan."
"Kalau telat, dinilai?"
"Yang itu mungkin."
Erika menambahkan sedikit makanan. Jo kembali pada piringnya, dan Daddy melihat tanpa perlu mengulangi pesan semalam.
Ammar akhirnya menemukan benda yang dicari di meja, bukan saku. Iccha mengangkat alis. Lelaki itu berbisik agar dirinya tidak mengumumkan kepada semua orang bahwa penglihatan seorang pendamping pengantin baru berfungsi setelah sarapan.
Tidak semua tawa pagi itu menghapus ketegangan. Jo beberapa kali memandang ponsel. Caca mengirim kabar sudah mulai dirias dan akan tiba sesuai jadwal. Dia membalas singkat, mengingat janjinya tidak menelepon ketika wanita itu sibuk.
Sebelum berangkat, Daddy memanggil anak-anaknya untuk berkumpul. Bukan pidato. Dia hanya memastikan jumlah orang, siapa berada di kendaraan pertama, dan apakah benda penting sudah dibawa.
Kiki menepuk tas. "Brosnya ada."
Lina juga mengangguk. Di sisi kerudungnya, bros milik Maira sudah terpasang. Kiki melihat sekilas, lalu berpaling kepada Ammar yang belum memakai jas.
"Lo jangan sampai salah mobil."
"Terima kasih sudah memercayaiku," jawabnya datar.
Kendaraan berangkat setelah matahari cukup tinggi. Erika duduk bersama Iccha dan Lina. Kiki memilih dekat jendela. Mereka membicarakan hal ringan sepanjang jalan, kemudian lebih banyak diam saat tiba di lokasi dan melihat orang-orang bergerak membawa perlengkapan.
Ruangan pagi itu belum seramai acara malam. Bunga sudah terpasang, kursi tersusun, dan keluarga dekat diarahkan ke tempat masing-masing. Erika membantu Lina mencari tempat duduk Daddy, lalu segera mundur ketika petugas mengambil alih.
Dia tidak membawa kamera besar. Ponsel disimpan sampai diperlukan, dan untuk pertama kalinya dia datang pada suatu peristiwa Jo tanpa bertugas menanyakan bagaimana rasanya.
Jo muncul setelah pakaian dirapikan. Ammar berjalan di sebelahnya, dasi sudah benar. Iccha melihat dan tersenyum kecil. Ammar membalas dari kejauhan, lalu hampir salah mengikuti arah sebelum Jo menyentuh lengannya.
Erika menahan tawa.
"Jangan mulai," bisik Iccha.
"Aku ndak bilang apa-apa."
Caca datang beberapa saat kemudian. Pakaian pengantinnya membuat gerakan tampak lebih pelan daripada biasanya. Frans berada dekat putrinya, wajahnya campuran tegang dan puas. Wanita itu menatap ruangan, mengenali orang-orang yang sudah datang, lalu melihat Jo.
Lelaki itu tersenyum lebih dulu.
Tidak ada foto lama atau nama Sephia di hadapan mereka. Yang ada hanya hari yang dipilih bersama setelah semua pertanyaan sebelumnya. Jo melangkah mendekat, menyapa, dan menanyakan pelan apakah Caca sudah makan.
Wanita itu mengangguk.
"Sedikit."
"Nanti harus makan lagi."
"Kau juga."
Jo tersenyum. Caca membalas, tetapi tangan di sisi pakaiannya mengepal sebentar sebelum dilemaskan.
Erika melihat dari tempat duduk. Dia mengenali gugup yang umum menjelang acara penting, dan tidak menjadikannya tanda dari sesuatu yang tidak diketahui.
Prosesi dimulai. Orang-orang diminta menempati kursi. Suara yang tadi bercampur perlahan mereda. Ammar berdiri di tempat yang telah dijelaskan, kali ini tidak perlu dipanggil ulang.
Ada kalimat yang diucapkan, ada jawaban yang ditunggu, ada jeda ketika semua pandangan berada pada dua orang di depan. Jo menjawab dengan suara jelas. Caca juga memberi jawabannya sendiri.
Dia tidak pingsan, tidak ditarik maju, tidak memandang ayahnya untuk meminta orang lain menjawab. Pada saat yang seharusnya membuatnya berhenti jika benar-benar ingin berhenti, dia tetap mengatakan ya.
Ketika cincin dikeluarkan, tangan Jo bergerak sedikit lebih pelan. Dia sempat salah memegang sisi yang ingin dipasang, lalu tersenyum malu. Beberapa orang ikut tersenyum tanpa suara. Caca melihat gerakan itu dan untuk sesaat ingat lelaki yang pernah kebingungan memilih hadiah kecil untuk dirinya.
Dia mengulurkan tangan. Jarinya terasa dingin, tetapi tetap berada di tempat yang diminta. Cincin melewati buku jari dengan mudah. Jo mengangkat pandangan setelah selesai, mencari wajahnya, bukan kamera.
Caca tersenyum.
Gilirannya datang. Dia memegang cincin untuk Jo, merapikan posisi, lalu memasang. Sentuhan singkat itu membuat ingatan tentang tas di kamar terasa jauh, seolah rencana tersebut hanya milik malam sebelumnya dan dapat dilupakan tanpa harus mengatakan apa pun.
Lalu dia melihat Ammar di samping Jo. Tempat yang dahulu disiapkan untuk Aldin telah benar-benar diisi orang lain, dan rencana dalam ponselnya kembali mempunyai wajah.
Caca menunduk saat diminta menandatangani bagian yang perlu diselesaikan. Pena sempat berhenti di udara. Orang yang membantu menanyakan apakah dia perlu kertas digeser.
"Tidak," jawabnya.
Dia menulis namanya sendiri. Huruf terakhir terlalu pendek karena tangan bergerak cepat. Jo menunggu, kemudian menyelesaikan bagiannya. Setelah pena dikembalikan, Caca mengusap ibu jari pada cincin yang baru terpasang.
Di baris depan, Daddy menegakkan punggung. Matanya tidak lepas dari kedua orang itu. Frans duduk dengan telapak tangan di lutut, menahan senyum sebelum semua selesai. Bagi mereka, jeda kecil tadi hanya bagian dari gugup yang akan diceritakan lagi beberapa tahun mendatang.
Erika menunduk sesaat, teringat pembicaraan tentang akhir buku. Kejadian yang selama ini masih harus dibayangkan kini berlangsung di hadapannya. Ia tidak perlu menambah bunga yang tidak pernah diberikan atau keberanian yang tidak pernah diucapkan. Orang-orang di depan telah membuat janji sendiri.
Saat prosesi selesai, tepuk tangan memenuhi ruangan. Daddy memeluk Jo lebih dulu, kemudian menyambut Caca. Frans menjabat tangan menantunya dengan kedua tangan. Ammar menepuk bahu adiknya sebelum seseorang meminta mereka berbaris untuk foto.
Jo tertawa karena urutan orang berubah dua kali. Kiki mengeluh jangan terlalu dekat dengan rambutnya. Lina mencoba berdiri di tempat yang tidak menghalangi siapa pun. Iccha menarik Erika maju ketika dia hampir kembali menjadi orang paling belakang.
"Lo ikut," bisiknya.
"Nanti penuh."
"Masih ada tempat."
Jo melihat dan menunjuk sisi dekat Lina. "Di sana, Ka."
Erika berdiri sesuai arah. Caca menoleh singkat kepadanya. Ada senyum yang terlalu pendek untuk ditafsirkan. Kilatan kamera menyatukan mereka pada gambar yang kelak tidak akan mudah dipandang lagi.
Foto berikutnya hanya keluarga. Erika dan Iccha mundur. Mereka mencari air minum, lalu duduk sebentar sebelum jadwal lain dimulai.
"Bagaimana?" tanya Iccha.
"Ramai."
"Bukan itu. Lo melihat cerita yang lo tulis."
Erika memandang ruangan. "Aku melihat orangnya. Ceritanya nanti bisa berbeda tergantung apa yang mereka pilih setelah hari ini."
Iccha mengangguk. Dia tidak tahu bagaimana kalimat sederhana tersebut akan terdengar sebelum malam selesai.
Setelah minum, Erika meminta izin keluar sebentar untuk menelepon Ibu. Iccha menunjuk sisi ruangan yang lebih tenang dan berjanji menjaga tempat duduk. Lina ikut memandang sampai Erika menemukan pintu yang benar.
Bu Mei mengangkat dengan suara gembira. Dia baru menerima foto Erika dalam gaun, bukan foto seluruh keluarga yang belum sempat dipilih.
"Bagus, Nduk. Sepatunya nyaman?"
Erika menatap ujung sepatunya. "Untuk sekarang. Nanti malam kita tanya lagi."
Ibu tertawa. Erika bercerita bahwa acara pagi telah selesai dan semua sedang beristirahat sebelum kegiatan berikutnya. Dia tidak memberikan rincian pribadi yang belum boleh dibagikan, hanya hal-hal biasa yang membuat Ibu merasa dekat.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah. Banyak saksi."
"Ibu tidak minta saksi. Ibu minta kamu makan."
"Iya, Bu."
Suara mereka sama-sama mengandung senyum. Dari ruangan, terdengar Kiki memanggil seseorang karena ingin memeriksa hasil foto. Erika mendengar, tetapi belum kembali.
"Mas Aldin sudah menghubungi?" tanyanya.
"Tadi membalas pesan. Tidak datang, katanya."
"Dia sudah bilang semalam."
Bu Mei menghela napas pelan. "Mudah-mudahan dia bisa memakai hari ini untuk berpikir baik-baik."
Erika memandang halaman di luar. Dia ingin mengatakan hal yang menenangkan, tetapi tidak tahu apa yang benar-benar dilakukan kakaknya. Jadi dia hanya menjawab semoga.
Sebelum panggilan berakhir, Ibu meminta satu foto lagi nanti malam. Erika berjanji jika sempat. Dia menyimpan ponsel, menarik napas, dan kembali ke tempat duduk dengan hati lebih ringan.
Kiki sudah menatap layar seseorang. Foto keluarga pertama ternyata membuat Ammar tampak sedang hendak mengatakan sesuatu. Iccha tertawa tanpa bisa ditahan. Jo lewat dan mengeluh bahwa kakaknya memilih waktu paling buruk untuk berbicara.
"Aku menyuruh Kiki berhenti menarik siku," jawab Ammar.
"Gue menyuruh lo bergeser!"
Lina mengambil air minum sebelum keduanya membuat orang lain menoleh. Erika duduk dan ikut melihat foto, tertawa ketika Iccha memperbesar wajah Ammar.
Mereka tidak tahu foto yang sedang dijadikan bahan bercanda itu akan menjadi benda yang disimpan tanpa segera dikirim lagi.
Di kamar kos, Aldin sudah memakai pakaian biasa, bukan pakaian untuk datang memberi selamat. Tasnya berada dekat pintu. Dia melihat beberapa foto yang masuk dari orang kantor, termasuk satu gambar Jo bersama Ammar.
Foto itu tidak dikirim oleh Erika. Adiknya mungkin sedang menikmati acara atau duduk bersama keluarga. Aldin mematikan layar setelah melihat senyum Jo, lalu menyalakannya lagi karena belum tahan dengan sunyi.
Ada pesan Ibu, menanyakan apakah dia benar-benar tidak datang.
Tidak, Bu. Mas sudah memberi tahu.
Aldin mengetik jawaban tersebut, mengirim, lalu meletakkan ponsel. Dia tidak menambahkan alasan yang belum diminta. Namun, diam setelah itu tetap menyimpan lebih banyak daripada jawaban yang diberikan.
Menjelang sore, Caca beristirahat di kamar yang disediakan untuk pengantin. Pakaiannya untuk resepsi tergantung siap digunakan. Ibunya duduk sebentar, memperhatikan wajah putrinya yang semakin pucat karena lelah.
"Makan dulu sebelum diganti," katanya.
Caca mengangguk dan mengambil beberapa suap. Di meja kecil ada buku Jo yang sengaja dibawanya pagi tadi. Dia tidak tahu mengapa benda itu harus ikut, tetapi meninggalkannya di rumah terasa seperti memutuskan terlalu dini apa yang hendak dilakukan malam nanti.
Ketika ibunya keluar, dia membuka tas dan memeriksa ponsel. Aldin mengirim kabar bahwa semuanya sudah siap, tanpa pertanyaan apakah upacara telah selesai. Mereka sama-sama tahu.
Caca membalas singkat. Tangannya gemetar ketika layar disimpan kembali.
Jo masuk setelah mengetuk. Dia membawa segelas air yang tadi diminta Caca, lalu duduk di kursi dekat meja. Pakaian bagian atasnya sudah sedikit dilonggarkan.
"Capek?"
"Lumayan."
"Masih panjang nanti malam. Kalau perlu duduk, bilang. Jangan memaksakan."
Caca melihat buku. Jo mengikuti pandangannya dan tersenyum.
"Kau membawanya."
"Aku ingin ada di sini."
"Kita tidak harus mengisi halaman sisanya hari ini."
Wanita itu menatapnya. Jo mengira dia merasa terdesak oleh hadiah yang belum selesai dibaca. Caca membiarkan anggapan tersebut karena belum siap mengatakan bahwa halaman yang sama justru akan ditinggalkan.
Mereka duduk beberapa menit tanpa percakapan besar. Dari luar terdengar orang memanggil keluarga untuk bersiap. Jo bangkit, meraih tangan Caca sebentar, dan membantunya berdiri.
Sebelum kembali ke ruang acara, Caca meminta Jo menunggu. Lelaki itu berhenti di depan pintu, masih memegang tangan yang tadi dibantu berdiri.
"Ada apa?"
Wanita itu menatap wajahnya dari jarak dekat. Ada garis lelah di sekitar mata, tetapi senyum masih mudah muncul ketika Jo mengira dia hanya memerlukan beberapa detik lagi.
"Aku ingin ingat hari ini," katanya.
"Kita punya banyak foto."
"Bukan hanya foto."
Jo mengangguk, tidak menanyakan maksud yang belum sanggup dijelaskan. Dia menyentuh pipi Caca dengan punggung jari, pelan supaya tidak merusak riasan.
"Aku juga," ujarnya.
Caca memejamkan mata sesaat. Untuk pertama kalinya hari itu, dia hampir meminta seluruh rencana dibatalkan tanpa menyebut rencana mana yang dimaksud. Namun dari luar terdengar panggilan, dan dia membuka mata sebelum airnya jatuh.
Jo merapikan posisi tangan mereka.
"Siap?"
Caca mengangguk. Mereka keluar bersama, melewati orang yang menunggu untuk mengarahkan ke ruang acara. Wanita itu masih menggenggam tangan suaminya ketika cahaya semakin terang dan wajah-wajah mulai menoleh.
Di belakang, kamar kembali kosong. Buku yang dibawa Caca tetap di meja, menunggu sesuatu yang belum dia tulis.
Resepsi malam berlangsung dengan cahaya yang lebih hangat dan suara yang jauh lebih ramai. Tamu datang bergantian. Jo dan Caca tersenyum, berjabat tangan, menerima ucapan selamat yang hampir sama tetapi diucapkan dengan niat berbeda.
Erika duduk bersama Iccha dan Lina setelah membantu Kiki mencari tasnya. Ammar sesekali mendekat, kemudian kembali pada tugas yang memang diberikan. Semua berjalan sesuai urutan, sampai Caca mengatakan ingin kembali ke kamar sebentar untuk mengganti alas kaki.
Jo menatapnya. "Sakit?"
"Sedikit. Aku sebentar saja."
"Aku temani?"
Wanita itu menggeleng. Di depan mereka, beberapa tamu masih menunggu disapa.
"Di sini saja. Nanti aku kembali."
Jo mengangguk dan melepaskan genggaman. Caca berjalan dari sisinya dengan senyum yang masih dipakai. Dia melewati pintu ruang acara, lalu menghilang dari pandangan orang-orang yang baru saja memberi selamat.