Caca membuka lemari lagi setelah mendengar suara ibunya di lorong. Tas kecil itu masih berada di sudut, tidak tertutup pakaian seperti yang tadi dimaksudkan. Ia menggesernya, lalu berhenti karena gerakan menyembunyikan membuat dadanya berdebar lebih cepat.
"Sudah istirahat?" tanya ibunya dari luar.
"Sebentar lagi."
"Besok masih ada yang harus dicoba."
"Aku tahu."
Langkah di luar menjauh. Caca duduk di lantai, memegang tali tas. Dia belum memasukkan buku Jo. Barang itu masih berada di meja, terlalu besar untuk dianggap tidak berarti dan terlalu pribadi untuk dibuang begitu saja.
Aldin mengirim pesan menanyakan apakah masih ingin bicara sebelum tidur. Caca menyentuh layar, lalu menuliskan bahwa dia sedang mempersiapkan barang.
Balasan datang beberapa saat kemudian.
Kamu masih bisa mengatakan tidak pada rencana kita.
Wanita itu memandang kalimat tersebut. Kalau hanya rencana mereka yang dibatalkan, dia masih harus menghadapi pernikahan yang tak lagi dapat dipikirkan tanpa wajah Aldin. Kalau pernikahannya dibatalkan, dia harus mengatakan mengapa dirinya sempat meminta Jo percaya lagi.
Caca mengangkat buku dari meja dan meletakkannya di atas tas. Lalu dia mengambil ponsel, membalas bahwa dirinya tetap ingin pergi, dan menyimpan layar sebelum jawaban lain datang.
Hari-hari berikutnya bergerak cepat. Ada pakaian yang diambil, keluarga yang datang, dan telepon yang masuk ketika Caca baru hendak duduk. Dia mengikuti semua kegiatan, tidak sekali pun mengatakan bahwa ada tas lain di lemari yang tak termasuk rencana perpindahan ke rumah Jo.
Pada malam sebelum acara, rumah Jack juga belum tenang. Bi Ani memeriksa kotak makanan untuk pagi. Pak Hendra menanyakan jam kendaraan pertama berangkat. Lina membawa daftar kecil dari satu ruangan ke ruangan lain, memastikan tidak ada barang keluarga tertinggal.
Erika duduk di kamar dengan jarum dan benang. Bukan mengubah gaun, hanya memasang kembali kancing kecil pada kantong kain yang ingin dibawanya. Iccha berdiri di depan cermin, mencoba anting dua kali sebelum memilih yang pertama.
"Kalau bolak-balik begitu, telinganya bisa bosan," kata Erika.
"Telinga gue tidak punya hak suara."
"Kelihatannya yang punya suara Mas Ammar."
Iccha menoleh. "Dia belum melihat."
"Aku ndak bilang sudah."
Bantal melayang ke sisi tempat tidur. Erika menghindar sambil tertawa, lalu buru-buru mencari jarum agar tidak tertinggal di kasur.
Lina mengetuk. Dia mengenakan pakaian rumah, dengan bros Mama tersimpan dalam kotak kecil di tangan. Iccha memintanya masuk.
"Boleh minta tolong lihat pengait ini?"
Erika meletakkan jarum pada wadah. Pengait bros memang keras, tetapi tidak rusak. Iccha membukanya perlahan dan menunjukkan cara menekan tanpa menarik terlalu kuat.
"Kalau besok susah, gue bantu," katanya.
Lina mengangguk. Wajahnya tampak lebih lega daripada persoalan benda kecil itu sendiri.
"Kiki sudah coba?" tanya Erika.
"Sudah. Dia bilang warnanya cocok."
"Bagus."
Lina menyimpan bros dengan hati-hati. Sebelum pergi, dia menanyakan apakah Erika membutuhkan sesuatu untuk pagi. Erika menggeleng. Semuanya sudah siap, kecuali perasaan aneh karena akan datang sebagai bagian dari rumah yang dulu sama sekali tidak dikenal.
Setelah pintu tertutup, Iccha kembali menatap cermin.
"Besok lo jangan menghilang ke pojok terus."
"Aku kan bukan pendamping pengantin."
"Bukan berarti lo harus berdiri seperti sedang menunggu angkot. Duduk dan makan. Kalau ada yang tanya, jawab."
"Kalau ada yang meminta ringkasan buku?"
"Suruh beli makanan dulu buat lo."
Erika tertawa. Dia memasukkan kantong kain ke tas, bersama ponsel dan tisu. Naskah tidak dibawa. Tidak ada alasan mengubah hari acara menjadi jadwal wawancara.
Sebelum turun, Iccha berhenti di depan kamar Ammar. Pintunya terbuka sedikit. Lelaki itu sedang memegang dua dasi, memandang keduanya seperti salah satu menyimpan jawaban yang harus ditemukan malam itu.
"Yang kiri," kata Iccha.
Ammar menoleh. "Aku belum bertanya."
"Wajah lo sudah bertanya."
Dia masuk setelah Ammar memberi isyarat. Dasi yang dipilih lebih sederhana, sesuai pakaian yang tadi dilihat. Ammar meletakkan yang lain dan mencoba memasang, tetapi ujungnya terlalu panjang.
Iccha tertawa. "Sini."
Lelaki itu mendekat. Untuk beberapa detik, jarak mereka lebih pendek daripada saat makan siang. Iccha merapikan lipatan dengan jari, sementara Ammar berusaha tidak melihat wajahnya terlalu terang-terangan.
"Lo menahan napas?"
"Tidak."
"Kalau pingsan, dasinya tidak akan selesai."
Ammar mengembuskan napas. Iccha menatapnya sebentar, lalu kembali pada simpul. Ketika selesai, dia mundur satu langkah dan meminta lelaki itu melihat cermin.
"Bagus," katanya.
Ammar justru memandang pantulan Iccha. Dia menunggu sampai perempuan itu mengangkat alis, kemudian mengalihkan mata ke dasi.
"Terima kasih."
"Besok jangan dibongkar dan mengaku lupa."
"Kalau lupa, boleh minta bantuan lagi?"
Iccha tersenyum kecil. "Boleh bertanya. Belum tentu gue tidak sibuk."
Ammar mengangguk, menerima batas kecil itu tanpa mengubahnya menjadi sesuatu yang membuat suasana rusak. Dia merapikan ujung kemeja dan melangkah ke pintu bersama Iccha.
Di lorong, Kiki lewat membawa wadah perhiasan. Dia melihat dasi Ammar, kemudian wajah Iccha.
"Oh. Pantas lama."
"Apanya?" tanya Ammar.
"Cari dasi."
Kiki berjalan lagi sebelum dapat ditanya lebih jauh. Iccha menahan tawa, mengucapkan selamat malam, dan kembali ke kamar. Ammar turun dengan simpul yang sudah rapi, lalu berhenti ketika mendengar Jo memanggil dari ruang sebelah.
Di bawah, Jo mencoba dasi untuk terakhir kali. Ammar memperhatikannya dari kursi, sudah mengenakan kaus dan tampak ingin tidur.
"Kalau begini?" tanya Jo.
"Bagus."
"Mas melihat?"
"Melihat."
"Tadi Mas bilang bagus sebelum aku selesai."
Ammar menghela napas, bangkit, lalu merapikan ujung dasi yang sedikit melenceng.
"Sekarang bagus. Kalau besok berubah lagi, aku menyerah."
Jo memandang cermin. Dia sudah mengenakan pakaian serupa berkali-kali, tetapi malam itu setiap lipatan terasa terlalu penting.
Daddy masuk dan menyuruh keduanya berhenti.
"Besok ada orang yang membantu. Sekarang tidur."
"Aku bilang begitu sejak tadi," ujar Ammar.
"Kamu juga belum tidur."
Ammar mengangkat tangan, menyerah. Jo melepas dasi dan menyimpannya bersama pakaian yang sudah disiapkan. Ayahnya memandang meja, memastikan benda-benda yang diperlukan tidak bercampur dengan berkas kantor.
"Daddy ingin mengatakan sesuatu?" tanya Jo ketika Ammar keluar.
Jack duduk di kursi dekat jendela. Tidak ada kalimat tentang nama keluarga atau tanggung jawab besar yang harus dibawa Jo untuk membuktikan dirinya telah dewasa.
"Daddy ingin kamu makan besok pagi."
Jo tertawa. "Hanya itu?"
"Untuk sekarang. Kalau Daddy mulai bicara panjang, kamu makin tidak tidur."
Lelaki muda itu duduk di tepi ranjang. Sesaat wajahnya kembali menyerupai anak yang dahulu menunggu izin sebelum pergi jauh.
"Aku tidak tahu apakah aku sudah melakukan semuanya dengan benar."
Daddy menatapnya. "Yang mana?"
"Memilih meneruskan. Memberi kesempatan. Meminta keluarga ikut percaya."
Jack mengusap lututnya sendiri. "Daddy tidak hidup di dalam hubunganmu. Daddy bisa bertanya, bisa menemani, tapi tidak bisa mengubah keputusanmu menjadi keputusan Daddy supaya kamu tidak perlu merasa takut."
Jo menunduk. Ayahnya membiarkan diam itu sebentar.
"Besok, kalau masih ada sesuatu yang harus dikatakan, katakan. Jangan mengira pintu tertutup hanya karena orang sudah berpakaian rapi."
"Aku masih ingin menikah dengannya."
"Kalau begitu, tidur."
Jo tersenyum kecil. Jack berdiri dan menyentuh bahunya sebelum pergi. Setelah pintu ditutup, Jo membuka percakapan Caca.
Wanita itu menjawab panggilan video dengan rambut terikat seadanya. Di belakangnya ada beberapa gantungan pakaian. Jo tersenyum melihat dia masih bergerak mencari tempat duduk.
"Ayahmu menyuruh tidur juga?" tanyanya.
"Sudah dua kali."
"Daddy baru sekali, tapi sepertinya akan kembali kalau lampu masih menyala."
Caca tertawa. Selama beberapa menit, percakapan mereka terasa biasa. Dia bertanya apakah Jo sudah menyiapkan semua yang perlu dibawa. Jo bertanya apakah Caca sudah makan. Mereka berbagi hal kecil yang besok akan berganti dengan banyak wajah dan banyak suara.
"Aku tidak akan menghubungimu pagi-pagi kalau sedang dirias," ujar Jo.
"Aku juga belum tentu bisa menjawab."
"Tapi kalau ada yang ingin kamu katakan, tetap hubungi."
Caca memandang layar. Jo duduk dengan bahu lebih santai, tidak sedang memeriksa ekspresi wajahnya seperti orang mencari kesalahan. Kepercayaan itu terasa jauh lebih sulit ditanggung daripada pertanyaan keras.
"Jo."
"Ya?"
Wanita itu menelan ludah. Di luar kamar, seseorang tertawa karena koper tamu sulit ditutup. Suara biasa tersebut membuatnya kembali memilih kalimat yang bisa mengakhiri malam tanpa mengubah arah besok.
"Terima kasih sudah mau mencoba lagi."
Jo tersenyum. "Kita berdua yang mencoba."
Caca membalas senyum itu. Panggilan berakhir setelah mereka mengucapkan selamat malam.
Di rumah Jack, Erika baru saja menerima pesan Aldin. Kakaknya mengatakan tidak datang, meminta ia menyampaikan salam kepada keluarga jika ada yang bertanya. Tidak ada alasan sakit atau pekerjaan mendadak yang dibuat-buat.
Erika menelepon sebentar. Aldin mengangkat dengan suara pelan.
"Mas sudah bilang Jo?"
"Sudah."
"Baik. Nanti aku ndak perlu menjelaskan macam-macam."
"Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun."
"Mas makan yang benar. Kalau ndak ikut acara, bukan berarti harus lupa makan."
Aldin tertawa singkat. "Kamu besok menikmati acaranya. Jangan mikir aku terus."
Erika mengiyakan. Dia hendak mengakhiri panggilan ketika kakaknya memanggil.
"Ka."
"Apa, Mas?"
Lelaki itu diam. Di hadapannya, tas yang sudah disiapkan terletak di atas kursi. Barang kiriman untuk Ibu telah diberikan kepada pengantar sore tadi. Tidak ada urusan kecil lain yang dapat dipakai untuk menunda keputusan.
"Kalau aku mengecewakan Ibu, jangan membuat dia merasa salah membesarkan kita."
Erika mengerutkan kening. "Mas kenapa bicara begitu?"
"Aku cuma memikirkan yang sudah terjadi."
"Ibu ndak merasa salah karena Mas putus dari Mbak Kiran. Ibu sedih karena cara Mas membuat dia menunggu. Itu beda."
Aldin memejamkan mata. "Iya."
"Mas kalau ingin bicara lebih banyak, aku masih bisa mendengarkan."
"Tidak sekarang. Kamu tidur."
Panggilan berakhir dengan salam yang tidak lebih panjang dari biasanya. Erika memandang layar beberapa detik. Dia mengira kakaknya sedang menghadapi malam yang berat karena acara yang tidak didatangi. Ia belum mempunyai pengetahuan yang cukup untuk melihat lebih jauh.
Erika menyimpan panggilan terakhir, lalu memandang tas yang sudah disiapkan. Iccha duduk di tepi ranjang, menunggu sampai dia berhenti menatap layar.
"Kakak lo?"
"Iya. Bilang ndak datang."
Iccha mengangguk. "Dia sudah memberi tahu Jo?"
"Katanya sudah."
"Kalau begitu, besok lo tidak perlu menjelaskan ke semua orang."
Erika menghela napas. "Aku takut ada yang bertanya dan aku malah salah menjawab."
"Jawab yang lo tahu. Kalau tidak tahu, bilang tidak tahu."
Erika menatapnya. Iccha tidak sedang mencari sesuatu di balik kabar itu. Dia hanya memberi saran yang sama sederhananya dengan memilih sepatu nyaman.
"Besok kalau aku mulai berdiri di pojok seperti menunggu angkot, tarik saja," ujar Erika.
"Sudah masuk daftar kerja gue."
Mereka tertawa kecil. Erika meletakkan ponsel dengan layar menghadap atas, memastikan alarm belum dimatikan, lalu menarik selimut. Iccha membereskan bantal yang tadi dilempar sebelum berjalan menuju sakelar.
Iccha mematikan lampu utama. Erika menyimpan ponsel dan berbaring, setelah memastikan alarm terpasang. Di kamar lain, Jo juga mematikan lampu. Rumah perlahan menjadi tenang.
Di rumah Caca, lampu lorong juga belum dipadamkan. Frans mengetuk untuk memastikan putrinya tidak lupa waktu berangkat. Dia membawa satu catatan yang diubah karena seorang tamu menunda kedatangan.
"Ini tidak berpengaruh pada acara pagi," katanya. "Hanya tempat duduk malam."
Caca menerima catatan, lalu meletakkannya di meja. Ayahnya memandang buku di dekat ponsel.
"Dari Jo?"
"Iya."
Frans menyentuh sampul dengan satu jari, tetapi tidak membukanya. Dia tampak ingin mengatakan sesuatu tentang pekerjaan yang dahulu sempat membuatnya marah kepada Erika, lalu memilih diam.
"Dia memang berusaha," katanya akhirnya.
Caca mengangguk. Pujian itu membuatnya semakin sulit menatap ayahnya.
"Ayah juga ingin besok selesai dengan baik," lanjut Frans. "Beberapa hari ini semua orang seperti menunggu ada kabar buruk lagi."
"Ayah menunggu juga?"
Frans menatap putrinya. "Ayah menunggu kau tidak lagi ragu setiap kali ditanya."
Caca merapatkan kedua tangan. Lelaki itu berhenti di dekat kursi, tidak langsung kembali ke pintu.
"Ada yang belum kau katakan?"
Ruangan terasa mengecil. Caca melihat catatan tempat duduk, buku, dan layar ponsel yang gelap. Dia bisa mengambil satu benda dan menunjukkan bahwa ada dua nama yang tidak berada dalam rencana ayahnya.
Sebagai gantinya, dia menggeleng.
"Aku hanya lelah."
Frans mengusap belakang kepala. Kelelahan putrinya lebih mudah diterima daripada keraguan, dan dia mengikuti jawaban yang tersedia.
"Tidur. Jangan besok kurang istirahat."
Caca berdiri untuk mengantar sampai pintu. Sebelum ayahnya keluar, dia memanggil.
"Ayah."
Lelaki itu menoleh.
"Kalau aku membuat kesalahan, Ayah akan marah sekali?"
Frans tidak tertawa. "Kesalahan yang mana?"
"Belum tahu. Aku cuma bertanya."
"Jangan membuat pertanyaan besar tanpa menjelaskan maksudnya. Ayah tidak bisa menjawab semua kemungkinan."
Caca menunduk. Itu jawaban yang masuk akal, dan kembali memberinya kesempatan untuk mengatakan sesuatu yang nyata.
Dia tidak mengambilnya.
"Selamat malam," katanya.
Frans menyentuh bahu putrinya, lalu berjalan menuju kamar lain. Caca menutup pintu dan bersandar sebentar. Orang-orang sudah bertanya. Jo sudah menunggu. Aldin bahkan telah mengatakan rencana mereka masih bisa dihentikan.
Dia tak lagi bisa menganggap seluruh kebohongan ini terjadi hanya karena tidak ada yang memberi waktu untuk bicara. Namun, saat ponsel kembali diambil, yang dibuka tetap percakapan dengan lelaki yang akan pergi bersamanya.
Caca masih duduk di sisi ranjang. Di dalam tas kecil, ada pakaian, uang, dan benda-benda miliknya sendiri. Buku Jo tetap di meja. Ia membuka percakapan Aldin, memastikan waktu yang sudah disepakati, lalu meletakkan ponsel di atas buku.
Besok pagi dia akan duduk di hadapan orang-orang yang menunggu janji. Besok malam, seseorang yang tidak datang pada acara akan menunggunya di tempat lain.