Erika menemukan kait gaunnya sudah diperbaiki ketika pulang dari dapur. Pakaian itu tergantung di sisi lemari, dengan sehelai kertas kecil bertuliskan selesai. Ia tersenyum dan mencari Bi Ani untuk mengucapkan terima kasih.
"Dicoba dulu, Mbak," ujar perempuan itu. "Takut terlalu rapat."
"Tadi sudah. Pas."
"Syukurlah."
Erika hendak menawarkan bantuan melipat kain ketika ponselnya berbunyi. Nama Aldin muncul. Ia mengangkat sambil bergerak ke teras belakang.
"Mas?"
"Besok bisa makan siang?"
Erika memeriksa ingatan tentang jadwal. Wawancara berikutnya baru berlangsung setelah acara. Pekerjaan yang tersisa dapat dibawa dan tidak membutuhkan Jo setiap saat.
"Bisa. Di mana?"
Aldin menyebut tempat makan dekat kantornya. Tidak ada permintaan agar Erika tidak bercerita kepada siapa pun. Justru karena undangan tersebut terdengar biasa, ia langsung setuju.
"Mas ndak sibuk?"
"Aku bisa keluar satu jam."
"Jangan satu jamnya baru dimulai setelah aku menunggu satu jam."
Aldin tertawa. "Bawel."
"Keturunan siapa, ya?"
Mereka mengakhiri panggilan setelah memastikan waktu. Erika kembali ke kamar dan memberi tahu Iccha bahwa besok tidak makan di rumah. Ia kemudian meneruskan pekerjaan sampai sore, menikmati rencana sederhana yang tidak menuntutnya memilih kakak atau klien.
Keesokan harinya, Aldin sudah duduk ketika ia datang. Lelaki itu mengenakan kemeja yang dikenal Erika, tetapi tidak lagi membawa tas yang dulu sering ditinggalkan di rumah Jack. Di kursi kosong ada kantong belanja kecil.
"Apa itu?"
"Pesanan Ibu."
Erika membuka kantong setelah duduk. Di dalamnya ada beberapa barang kebutuhan rumah yang susah ditemukan Ibu di toko dekat mereka. Aldin menjelaskan akan mengirimnya bersama benda lain.
"Ibu bilang belum buru-buru, tapi kalau sudah beli, lebih baik langsung dikirim," katanya.
Erika mengangguk. Percakapan tentang rumah membuat keduanya lebih mudah memulai. Mereka membahas keran yang kini tidak bocor dan siapa yang akan menerima paket kalau Ibu sedang keluar.
Makanan datang. Aldin memindahkan piring yang terlalu dekat ke siku adiknya, kebiasaan lama yang membuat Erika tersenyum sebelum dapat ditahan.
"Kenapa?" tanyanya.
"Ndak apa-apa."
Aldin mengangkat alis, tetapi tidak mengejar. Dia bertanya tentang pekerjaan Erika. Kali ini pertanyaan itu tidak disusul apa Jo sedang marah atau kepada siapa lelaki itu bercerita.
"Contoh bukunya sudah selesai," jawab Erika.
"Kamu senang?"
"Senang sekali. Aku memotret nama sendiri sampai Iccha bilang aku seperti orang baru menang lomba."
"Kamu memang ingin itu sejak lama."
Erika berhenti menyendok. Aldin masih ingat masa ketika ia menulis malam-malam dan mengeluh karena berkas hilang, masa ketika keluarga belum punya alasan untuk membicarakan Jo dan Caca dengan suara pelan.
"Mas juga yang dulu memperbaiki pengaturan laptop lamaku," katanya.
"Kamu mengira tulisannya hilang. Padahal membuka folder lain."
"Ndak perlu diceritakan lagi."
Aldin tertawa. Erika ikut tertawa, membiarkan kenangan itu tetap menjadi kenangan baik tanpa harus dipakai menutupi yang lain.
Setelah beberapa suap, ia menanyakan apakah kakaknya datang pada acara.
Aldin meletakkan sendok.
"Aku belum memutuskan."
"Mas diundang?"
"Namaku masih di daftar tamu. Tapi mungkin lebih baik tidak muncul."
Erika mengangguk perlahan. "Kalau Mas ndak datang, bilang. Jangan orang mencari sampai mengira ada apa-apa."
"Jo tidak akan mencari aku."
"Aku mungkin bertanya. Ibu juga."
Aldin menatapnya. "Kamu tidak perlu mengurus keberadaanku, Ka."
"Aku bukan mau mengurus. Aku cuma mau tahu kalau ditanya, bisa menjawab yang benar."
Lelaki itu memandang gelas. Di saku, ponselnya menyimpan bukti perjalanan yang belum berani dilihat di hadapan adiknya.
"Aku akan memberi tahu kalau sudah pasti."
Erika menerima jawaban tersebut karena belum ada alasan untuk tidak mempercayainya. Ia tidak melihat perubahan rencana yang disimpan Aldin. Yang dilihatnya hanya kakak yang kehilangan tempat dalam persiapan acara dan belum tahu bagaimana menghadapi tamu yang dulu menyapanya sebagai orang terdekat Jo.
Aldin melihat nasi di piring adiknya yang tinggal sedikit. Dia memanggil pelayan dan menanyakan apakah Erika ingin menambah. Erika menggeleng, lalu menunjuk sayur yang belum habis.
"Aku mau menyelesaikan itu dulu."
"Dari kecil selalu meninggalkan yang hijau."
"Aku sedang memakannya, Mas. Tuduhannya terlambat dua puluh tahun."
Aldin tersenyum. Erika mengambil sayur dengan sengaja, membuat kakaknya kembali tertawa.
Mereka membicarakan masakan Ibu yang selalu terasa berbeda meskipun resepnya pernah dicatat. Aldin mengaku mencoba memasak satu kali dan malah menghasilkan sesuatu yang terlalu asin. Erika terkejut karena selama ini mengira kakaknya hanya menghangatkan makanan.
"Mas pakai garam berapa?"
"Secukupnya."
"Yang cukup buat siapa? Satu RT?"
"Aku tahu salahnya setelah selesai."
Erika tertawa sampai harus meletakkan sendok. Aldin ikut tersenyum, melihat adiknya seperti melihat sesuatu yang ingin disimpan sebelum hari-hari berikutnya berubah.
"Nanti kalau pulang, Ibu pasti memasak terlalu banyak," katanya.
"Karena Mas selalu bilang ndak perlu, terus menambah tiga kali."
"Kamu menghitung?"
"Aku yang disuruh mengambil piring lagi."
Aldin memandang meja. Ada bunyi yang tidak datang dari tempat makan itu tetapi terasa dekat, suara Ibu memanggil dari dapur dan langkah Ayah yang dahulu masuk setelah bekerja. Dia tidak menyebut kenangan tersebut. Erika juga tidak membawa percakapan kepada orang yang sudah tidak bisa duduk bersama mereka.
Sebagai gantinya, dia bertanya apakah barang pesanan Ibu perlu ditambah sesuatu. Aldin menjelaskan semuanya sudah sesuai pesan. Ada satu barang kecil yang dibeli lebih karena dia ingin, bukan karena diminta.
"Boleh kulihat?"
Aldin mengeluarkannya. Erika tersenyum, membayangkan Ibu mengeluh mengapa uang dipakai untuk sesuatu yang masih dapat ditunda, lalu diam-diam menaruhnya di tempat yang paling mudah dilihat.
"Ibu akan senang," katanya.
Lelaki itu mengangguk. Untuk beberapa saat, wajahnya terlihat lebih tua daripada saat Erika datang.
Mereka membicarakan hal lain. Aldin menanyakan apakah Erika membutuhkan uang untuk membeli pakaian. Ia menggeleng, menjelaskan gaunnya sudah diperbaiki.
"Untuk ongkos?"
"Aku bisa."
"Aku masih boleh membelikan makan, kan?"
Erika tersenyum. "Yang ini boleh. Asal ndak dipakai menagih cerita rumah orang."
Aldin menunduk, lalu mengangguk. Dia tidak tersenyum seluas sebelumnya.
Ketika tagihan datang, Erika meraih tas untuk mengambil uang. Aldin menahan dengan isyarat, bukan menyentuh tangannya.
"Aku yang mengajak."
"Ya sudah. Terima kasih, Mas."
Di luar, mereka berdiri menunggu kendaraan Erika. Aldin menanyakan apakah adiknya akan pulang ke Semarang setelah acara.
"Belum ada rencana. Mas Jo masih punya pekerjaan untukku. Kontraknya juga belum selesai."
"Kalau mendadak harus pulang, kabari Ibu."
Erika menoleh. "Mendadak kenapa?"
Aldin menarik napas. "Maksudku, kalau ada perubahan. Jangan seperti Kirana yang harus menyiapkan semuanya sendiri."
Nama itu membuat keduanya diam. Erika belum banyak berbicara dengan Kirana sejak perempuan tersebut pulang. Ia tahu tidak semua kabar perlu datang melalui dirinya.
"Aku kabari kalau memang ada perubahan," jawabnya.
Kendaraan tiba sebelum percakapan bisa diteruskan. Erika berpamitan dan masuk. Aldin berdiri sampai mobil bergerak, lalu kembali ke kantor dengan kantong pesanan Ibu di tangan.
Sore itu Erika mengirim pesan kepada Kirana. Tidak ada pertanyaan apakah dia sudah melupakan Aldin. Ia hanya menyampaikan salam Ibu dan menanyakan kabar.
Balasan datang ketika Erika sedang memeriksa satu halaman. Kirana baru selesai bekerja. Dia mengirim foto minuman di meja dengan kalimat singkat bahwa hari ini panas sekali.
Erika membalas bahwa Jakarta juga panas. Mereka bertukar beberapa pesan tentang hal biasa, sampai Kirana menanyakan apakah acara Jo sudah dekat.
Iya, Mbak. Tinggal beberapa hari.
Kirana mengetik cukup lama, lalu mengirim bahwa dirinya berharap acara berjalan baik. Tidak ada pesan untuk Aldin. Tidak ada permintaan agar Erika melihat apakah lelaki itu menyesal.
Kirana mengirim satu pertanyaan lagi sebelum Erika menutup layar.
Cerita Anggrek yang biasa masih dilanjutkan, kan?
Erika tersenyum. Dia hampir menjawab bahwa belakangan terlalu sibuk, lalu ingat dua paragraf yang akhirnya bergerak setelah Lina bertanya mengapa tokohnya tidak memesan makan.
Masih, Mbak. Belum sebanyak dulu. Aku sedang mengerjakan bagian baru.
Kirana membalas bahwa dirinya menunggu. Tidak perlu terburu-buru, tetapi jangan sampai berhenti hanya karena seluruh waktu digunakan untuk pekerjaan orang lain.
Erika membaca kalimat tersebut dua kali. Pembaca di Semarang itu pernah datang ke Jakarta untuk mencari jawaban tentang lelaki yang sama-sama mereka kenal. Kini dia menanyakan tokoh yang tidak punya hubungan dengan Aldin.
Mbak mau kuberi kabar kalau sudah kukirim?
Mau. Aku masih baca.
Erika menuliskan pengingat kecil di daftar pekerjaan. Tidak ada janji selesai malam itu. Dia hanya ingin memastikan cerita sendiri kembali mempunyai waktu yang jelas, bukan selalu menunggu semua persoalan di rumah Jack menjadi tenang.
Terima kasih, Mbak, balasnya.
Kirana mengirim gambar kecil yang tersenyum, lalu mengatakan harus membereskan meja sebelum pulang. Percakapan mereka berhenti karena kegiatan biasa, bukan karena ada pertanyaan tentang Aldin yang tidak sanggup dijawab.
Erika menyimpan percakapan setelah mengucapkan terima kasih. Orang yang pulang dengan luka itu tidak lagi meminta jawaban lewat layar adiknya. Kesederhanaan tersebut terasa lebih berat daripada kalimat marah.
Di lantai bawah, Kiki dan Lina sedang berhadapan dengan kotak lain. Kali ini bukan barang Tama. Daddy baru mengeluarkan beberapa benda milik Maira, menanyakan apakah putri-putrinya ingin memakai salah satunya untuk acara.
Ada bros kecil, kalung, dan sepasang anting. Kiki langsung mengambil bros. Lina memilih menunggu sampai kakaknya selesai.
"Yang ini cocok untuk kerudung," kata Daddy sambil menunjuk benda lain.
Lina mengangguk. Tangannya belum bergerak.
Kiki melihat, lalu menatap bros yang sudah diambil. "Aku pakai ini."
"Boleh," jawab Daddy.
"Yang lainnya jangan dipindahkan sembarangan."
"Daddy hanya menawarkan dipakai. Nanti dikembalikan ke tempatnya."
Lina meraih bros kedua. Kiki membuka mulut, kemudian menutup lagi. Dia masih tidak suka membayangkan benda Mama disentuh orang yang selalu dihubungkan dengan kehilangan itu. Namun, di meja yang sama, Daddy sedang memandang mereka dengan cara yang tidak membedakan siapa lebih berhak.
"Hati-hati pengaitnya," ujar Kiki akhirnya. "Agak keras."
Lina memeriksa bagian belakang. "Iya."
Daddy tidak memuji Kiki karena telah mengucapkan satu kalimat yang wajar. Dia hanya menutup kotak setelah semua melihat, lalu meminta keduanya mencoba bersama pakaian masing-masing.
Erika melihat mereka naik tangga ketika kembali dari dapur. Kiki berjalan lebih dulu, Lina beberapa langkah di belakang. Tidak ada pelukan atau pembicaraan besar. Di tangan keduanya, benda-benda kecil dari Maira ikut bergerak menuju kamar yang berbeda.
Menjelang malam, Jo pulang membawa amplop berisi hal yang perlu disimpan sampai hari acara. Erika kebetulan duduk di ruang tengah, memeriksa hasil revisi di atas kertas.
"Dari luar?" tanyanya.
"Tadi siang makan sama Mas Aldin."
Jo berhenti meletakkan amplop.
"Dia baik?"
Erika menatapnya. "Kelihatannya begitu. Kami membicarakan Ibu dan pekerjaan."
Jo mengangguk. Tidak ada larangan, tidak ada pertanyaan tentang isi ponsel Aldin.
"Mas ndak keberatan aku menemui kakakku, kan?"
"Kenapa aku harus keberatan?"
"Aku cuma ingin jelas."
Jo menarik kursi di seberang. "Dia kakakmu. Apa yang terjadi antara kami tidak mengubah itu."
Erika menunduk pada kertas, lega sekaligus tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Jo menunjuk paragraf yang ditandai.
"Itu bagian yang belum selesai?"
"Yang ini untuk setelah acara. Nanti kita lihat mana yang masih sesuai."
"Kamu belum menulis akhir?"
"Belum. Mas sendiri belum memberi kejadian akhirnya."
Jo tersenyum. "Semoga yang itu lebih mudah."
Erika membalas senyumnya. Dia belum tahu bahwa kalimat tentang pulang mendadak, yang tadi terasa janggal, akan menjadi bagian dari percakapan yang diingatnya berulang kali.
Di rumah Caca, sebuah tas kecil sudah diletakkan di sudut lemari. Isinya bukan seluruh pakaian yang disiapkan untuk pindah ke rumah Jo. Hanya beberapa benda yang cukup dibawa sendiri.
Ibunya masuk sebelum tas disimpan kembali. Caca meletakkannya dekat pakaian lain, tidak menutupi dengan tubuh. Wanita yang melahirkannya melihat sekilas, mengira itu barang untuk sesudah acara.
"Jangan bawa terlalu banyak sendiri. Yang lain bisa menyusul."
Caca mengangguk. "Ini sedikit saja."
Ibunya meletakkan kotak kecil di meja. Ada sesuatu yang perlu disimpan bersama perhiasan, dan dia meminta putrinya memeriksa sebelum pagi acara. Caca membukanya, memastikan isinya sesuai, lalu menutup.
"Kau tampak lelah," kata ibunya.
"Memang."
"Tidur lebih awal. Besok tidak semuanya harus kau urus."
Caca memegang kotak. Dia hampir bertanya apa yang akan terjadi jika dirinya tidak jadi menikah. Pertanyaan itu sudah berulang kali muncul, tetapi setiap kali mempunyai kesempatan, dia membungkusnya dengan persoalan yang lebih kecil.
"Kalau ada yang belum selesai, bagaimana?"
"Yang mana?"
"Entahlah. Aku cuma takut ada yang terlewat."
Ibunya duduk. "Kalau sesuatu benar-benar penting, katakan. Jangan menunggu orang lain menebak."
Caca menunduk. Bahkan kalimat yang tidak ditujukan kepada rencananya terdengar seperti jawaban yang terus dihindari.
"Aku sudah memeriksa barangnya," ujarnya.
Ibunya mengangguk, merapikan ujung pakaian di kursi, lalu berdiri. Sebelum keluar, dia menyentuh pipi putrinya sebentar. Caca memejamkan mata, menerima sentuhan yang membuatnya ingin kembali menjadi seseorang yang tidak harus memutuskan sendiri.
Pintu tertutup. Dia tetap duduk, memandang kotak kecil dan tas yang sama-sama dianggap bagian dari persiapan. Orang-orang di rumahnya tidak sedang menyusun cara memaksanya pergi. Mereka justru menunggu dia mengatakan apa yang perlu dibantu.
Caca mengangkat tas ke lemari. Kesempatan untuk bicara barusan telah lewat, dan dia sendiri yang membiarkannya.
Caca menutup ritsleting, lalu menutup pintu lemari di depannya. Untuk pertama kalinya, rencana yang selama ini hanya muncul pada layar mempunyai berat ketika diangkat.