Aldin membaca jawaban Caca sekali lagi. Iya. Tiga huruf itu berada tepat di bawah pertanyaannya tentang dua orang, dan tidak bisa lagi diperlakukan sebagai percakapan yang belum mempunyai tujuan.
Dia menurunkan ponsel ke paha. Kendaraan yang ditumpanginya berhenti di lampu merah. Di kaca depan, cahaya kendaraan lain membentuk garis-garis pendek. Orang di sekelilingnya sedang pulang, sementara dia baru saja membantu seseorang mencari jalan untuk meninggalkan rumah yang belum dimasuki.
Nama Jo sempat terbuka di layar. Aldin menyentuhnya tanpa sengaja saat hendak menutup aplikasi pesan. Percakapan terakhir mereka berisi urusan kantor: berkas sudah diterima, besok salinan lain akan diperiksa.
Dahulu, pesan seperti itu bisa disusul keluhan tentang makanan atau pertanyaan siapa yang menghabiskan kopi. Kini tidak ada kalimat di luar kebutuhan kerja.
Aldin menekan kembali. Dia membuka halaman pemesanan yang tadi ditinggalkan dan mengisi dua nama sesuai identitas. Kali ini tidak ada Sephia. Tidak ada nama perempuan lain untuk membuat pilihan yang buruk terlihat lebih jauh dari orang-orang yang akan disakiti.
Di bagian pembayaran, tangannya berhenti.
Dia menelepon Caca.
Wanita itu mengangkat setelah beberapa dering. Suaranya pelan, seolah buku yang baru dibacanya masih terbuka di pangkuan.
"Belum selesai?" tanyanya.
"Belum kubayar."
"Kenapa?"
Aldin mengusap wajah. "Aku ingin kamu mengerti ini bukan percakapan yang selesai kalau kita mengucapkan selamat malam."
"Aku mengerti."
"Caca."
"Aku mengerti, Al."
Di ujung sana terdengar bunyi kertas. Aldin membayangkan kantong berisi hadiah Jo, dan dadanya terasa sesak oleh hal yang tidak dapat dipisahkan menjadi kasihan dan cemburu.
"Kita masih bisa berhenti," katanya.
Caca memandang halaman kosong yang sekarang tidak lagi kosong. Tulisan Jo miring sedikit pada baris terakhir, tetapi semua katanya terbaca.
Aku tidak bisa menjanjikan bahwa kita akan selalu mudah saling memahami. Aku ingin terus belajar, kalau kau masih mau berjalan bersamaku.
Tidak ada permintaan agar dia menjadi perempuan yang selalu tersenyum. Tidak ada kalimat yang menyuruhnya melupakan semua yang sudah terjadi. Caca justru merasa sulit membaca kelembutan tersebut sampai selesai.
"Kalau kita berhenti," katanya, "apa kau juga berhenti menginginkan aku?"
Aldin menutup mata. "Jangan mengubah pertanyaan."
"Aku tidak bisa membayangkan semuanya selesai dan aku tidak boleh mencarimu lagi."
"Itu sebabnya seharusnya kamu bicara sebelum menikah."
"Aku belum sanggup."
Lelaki itu tidak menjawab. Sopir menanyakan apakah alamat tujuannya masih sama. Aldin mengiyakan, lalu memalingkan wajah ke jendela.
"Aku akan membayar bagianku," ujar Caca. "Kirim jumlahnya."
Kalimat itu tidak memberikan keberanian untuk menghadapi Jo. Namun, cukup untuk menggerakkan tangan Aldin lagi.
Dia mengakhiri panggilan dan menyelesaikan pesanan. Bukti perjalanan muncul beberapa saat kemudian. Dua nama, dua tempat duduk, satu tanggal. Aldin mengirim salinannya kepada Caca.
Setelah itu dia tidak merasa lega.
Di rumah Jack, Erika sedang menatap halaman lain, jauh dari tiket yang tidak diketahuinya. Daftar pekerjaannya untuk minggu berikutnya penuh coretan. Beberapa wawancara harus digeser karena keluarga sibuk menjelang acara. Ia memberi tanda pada bagian yang tetap bisa dikerjakan sendiri.
Iccha masuk dengan kantong pakaian di tangan.
"Lo sudah punya baju?"
Erika melihat kemeja yang sedang dikenakannya. "Ini baju."
"Untuk acara, bukan untuk adu mulut dengan laptop."
"Punya. Di lemari."
Iccha menggantung kantong, lalu duduk di kursi kosong. Erika membuka lemari dan memperlihatkan pakaian yang dibawa dari Semarang. Sederhana, tetapi masih baik. Dia mengeluarkan satu gaun yang belum pernah dipakai sejak datang.
"Yang ini," katanya.
Iccha memeriksa jahitan di sisi. "Bisa. Tinggal disetrika."
Erika menunggu komentar bahwa dia perlu membeli sesuatu yang baru. Ketika komentar itu tidak datang, ia menggantung gaun kembali dengan hati lebih ringan.
"Lo punya sepatu yang cocok?"
"Ada."
"Coba nanti. Jangan pagi acara baru sadar kaki lo minta pertolongan."
Erika tertawa. Iccha mengambil pita pengukur dari tas dan mengembalikannya ke meja. Ammar ternyata sudah memperoleh kemeja yang pas setelah menghabiskan waktu terlalu lama menyalahkan ukuran lama.
"Dia bilang bahunya melebar," cerita Iccha.
"Mungkin memang melebar."
"Gue bilang mungkin rotinya terlalu banyak."
Erika menahan tawa sampai suara ketukan membuat keduanya menoleh. Lina muncul membawa selembar kertas.
"Daddy mau tahu kalian berangkat bersama siapa. Untuk jumlah kendaraan."
"Bersama keluarga kalau masih ada tempat," jawab Iccha.
"Aku juga," kata Erika. "Kalau penuh, aku bisa ikut yang lain."
Lina mencatat. "Tempatnya ada. Daddy cuma tidak mau ada yang tertinggal karena mengira sudah ikut mobil lain."
Erika mengangguk. Dalam daftar itu, namanya berada dekat nama Iccha dan Lina. Tidak di samping Aldin seperti yang pernah dibayangkannya ketika pertama datang ke Jakarta.
"Mas Aldin sudah memberi tahu ikut atau ndak?" tanyanya sebelum sempat berpikir.
Lina menatap daftar. "Aku tidak mencatat tamu. Ini orang yang berangkat dari rumah."
"Oh, iya. Maaf."
"Tidak apa-apa."
Setelah Lina pergi, Erika kembali duduk. Iccha melihat wajahnya dan tidak lagi membicarakan roti.
"Lo ingin kakak lo datang?"
Erika mengusap lutut. "Aku ingin semua orang bisa ada di ruangan yang sama tanpa harus memikirkan siapa yang lebih dulu pergi. Tapi itu bukan sesuatu yang bisa kuminta."
Iccha mengangguk. Dia mengambil gaun Erika dan memeriksa kait di bagian belakang.
"Yang ini agak longgar. Kita jahit sedikit nanti."
"Kamu bisa?"
"Bisa memasang kancing. Untuk yang ini, minta Bi Ani. Jangan mempertaruhkan punggung lo pada kemampuan gue."
Erika kembali tersenyum. Pekerjaan kecil itu memberi mereka sesuatu yang bisa diurus tanpa menebak keputusan orang lain.
Setelah Lina menyerahkan daftar kendaraan kepada Daddy, dia kembali ke kamar Erika. Kali ini yang dibawa bukan kertas acara, melainkan buku catatan dengan beberapa halaman terlipat.
"Lo masih mengerjakan cerita sendiri?" tanyanya.
Erika menoleh ke laptop. "Masih. Pelan sekali."
"Gue juga. Kalau terlalu lama tidak dibuka, tokohnya seperti orang asing."
Iccha mengambil handuk, lalu meminta keduanya tidak membicarakan orang asing yang bisa keluar dari lemari. Lina tersenyum dan duduk di kursi yang ditawarkan.
Di layar Erika, dua berkas terpisah masih terbuka. Satu merupakan pekerjaan untuk Jo, satu lagi ceritanya sendiri yang sudah tiga kali dimulai dari paragraf yang sama. Tokoh perempuan di dalamnya menunggu seseorang di tempat makan, tetapi Erika tidak tahu apa yang harus terjadi setelah pesan tidak dibalas.
"Gue boleh lihat?" tanya Lina.
Erika menggeser laptop, memperlihatkan bagian yang tidak berkaitan dengan naskah pribadi klien. Lina membaca sambil menyangga buku catatannya pada lutut.
"Di sini dia lapar, ya?"
"Iya."
"Kenapa dia tidak memesan makanan?"
Erika memandang kalimatnya sendiri. "Karena menunggu orangnya."
"Tapi dia bisa menunggu sambil makan. Nanti kalau orangnya datang, tetap bisa bicara."
Erika tertawa pelan. Dia sudah menghabiskan dua malam mencari kalimat yang tepat untuk menggambarkan kesedihan, dan Lina justru melihat perut tokohnya.
"Kalau lo yang menulis, mungkin orang yang ditunggu muncul di kursi kosong dengan wajah pucat," katanya.
"Belum tentu. Bisa juga makanan di mejanya bertambah sendiri."
"Mbak Lina!"
Iccha berseru dari depan kamar mandi. Dua penulis itu tertawa. Lina menutup buku catatannya, lalu menunjuk satu bagian yang menurutnya terlalu cepat menyebut kesimpulan tokoh.
Erika membaca lagi. Tokohnya menganggap orang yang tidak datang sudah tidak peduli, padahal cerita baru memberi satu pesan terlambat. Dia menghapus kalimat tersebut, menggantinya dengan tindakan kecil: perempuan itu memesan makanannya sendiri dan bertanya kepada pelayan apakah meja boleh dipakai lebih lama.
Dua paragraf berikutnya akhirnya bergerak. Tidak langsung menyelesaikan hubungan tokoh, hanya membuatnya melakukan sesuatu selain menatap pintu.
Lina melihat Erika mengetik dan tidak menyela. Di ujung tempat tidur, ia membuka catatannya sendiri. Ada satu kata yang dicoret sampai kertas hampir berlubang.
"Yang ini kenapa?" tanya Erika setelah menyimpan.
"Gue lupa benda yang mau dipakai tokoh sudah rusak di bagian sebelumnya. Kalau dipakai lagi, pembaca pasti lebih ingat daripada gue."
"Bisa diperbaiki?"
"Bisa. Tapi harus ada yang memperbaiki, bukan tiba-tiba utuh."
Erika mengangguk. Mereka memeriksa urutan kejadian pada beberapa halaman. Ada satu waktu yang salah, satu barang yang berpindah tanpa dibawa, dan satu kalimat yang tidak terdengar seperti tokoh yang sebelumnya sudah dikenal.
Pekerjaan kecil itu mengingatkan Erika pada alasan ia ingin menulis sebelum menerima kontrak besar. Dia menyukai menemukan sesuatu yang belum tepat, kemudian membuat cerita kembali berjalan tanpa menuntut pembaca melupakan yang sudah dibaca.
"Lo akan mengirim bab baru malam ini?" tanya Lina.
"Belum. Besok kubaca lagi. Kalau sekarang dikirim, mungkin yang lapar malah pembacanya."
Lina tertawa. Dia menutup buku dan berdiri setelah memastikan Erika tidak perlu meminjam catatannya.
"Makasih sudah mendengarkan," katanya.
"Aku juga. Tokohku akhirnya boleh makan."
Ketika Lina keluar, Erika menyimpan berkas ceritanya dengan nama yang berbeda dari pekerjaan Jo. Dia tidak memindahkan kalimat pribadi dari satu naskah ke naskah lain. Ada orang yang mempercayakan kenangan, ada pembaca yang menunggu Anggrek, dan ia ingin tetap bisa mengurus keduanya dengan benar.
Sebelum laptop ditutup, Erika menuliskan dua pengingat untuk dirinya sendiri. Baca ulang bab. Lanjutkan setelah acara. Baris terakhir tidak memuat nama siapa pun selain nama berkasnya.
Malam semakin larut. Saat Iccha mandi, Erika menelepon Ibu. Bu Mei mengangkat sambil mengeluhkan suara tetangga yang masih memperbaiki sesuatu. Erika bercerita tentang contoh buku, gaun yang hampir lupa dicoba, dan jadwal kerja yang berubah.
Ibu mendengarkan sampai selesai, lalu bertanya apakah Aldin datang pada acara.
"Belum tahu, Bu."
"Dia tidak bilang?"
"Belum. Kalau Ibu telepon, boleh ditanya."
Bu Mei diam sebentar. "Ibu tidak mau kamu yang harus menyampaikan kabar dia setiap kali."
Erika menunduk, lega karena kalimat itu datang tanpa ia meminta.
"Mas sudah menelepon Ibu?"
"Tadi sore. Bilang kerjaannya masih berjalan."
"Ya. Mas masih kerja."
"Suaranya capek."
Erika memandang layar laptop yang sudah gelap. Ia juga mendengar kelelahan itu saat bicara sebelumnya. Namun, lelah tidak menjelaskan semua hal yang tidak lagi mau diceritakan kakaknya.
"Ibu juga capek?" tanyanya.
Bu Mei tertawa kecil. "Ibu ditanya balik supaya berhenti bertanya, ya?"
"Ndak. Aku sungguh bertanya."
Mereka membicarakan rumah beberapa menit. Ada keran yang sudah diperbaiki, ada tetangga yang menitip salam, ada tanaman yang akhirnya berbunga. Erika meminta foto baru. Setelah panggilan berakhir, ia tidak langsung membuka pesan Aldin.
Di bawah, Jo duduk bersama Ammar di ruang makan. Daddy sudah kembali ke kamar. Di meja ada dua gelas dan daftar urutan acara yang tidak lagi penuh tanda tanya.
"Mas belum bilang soal pengantaran keluarga," ujar Jo.
"Sudah kubilang pada Lina."
"Maksudku, apa Mas datang dari kantor atau dari rumah?"
"Dari rumah. Aku tidak akan rapat pagi itu."
Jo mengangguk, lalu mencoret satu catatan.
Ammar memperhatikannya. "Kau tidak perlu memastikan sepuluh kali. Aku datang."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, berhenti melihat jam setiap kali menyebut acaranya."
Jo menaruh pena. Dia tidak menyadari tangannya terus menyentuh jam yang belum pernah membuatnya terlambat. Beberapa hari belakangan, benda itu terasa seperti pengingat bahwa pilihan tidak bisa dibiarkan menggantung terus.
"Aku hanya ingin semuanya berjalan biasa," katanya.
Ammar menyandarkan punggung. "Biasa mungkin berbeda sekarang."
"Aku tahu itu juga."
Tidak ada nada marah dalam jawaban Jo, hanya keletihan. Ammar memindahkan daftar agar tidak terkena air dari gelas.
"Kamu boleh senang," katanya kemudian.
Jo menoleh.
"Sepertinya setiap kali senang, kamu langsung memeriksa apakah terlalu cepat. Kalau memang ingin menikah dengannya, kamu boleh menantikan hari itu."
Jo memandang meja. Ia belum pernah mengucapkan ketakutan tersebut, tetapi Ammar berhasil mengenalinya tanpa menuntut penjelasan.
"Aku senang waktu dia membaca buku tadi pagi," jawabnya.
"Dia suka?"
"Katanya begitu."
"Bagus."
"Aku hampir bertanya bagian mana yang paling dia suka. Lalu ingat aku baru menyerahkannya."
Ammar tertawa. Jo ikut tersenyum. Beberapa detik kemudian, mereka sama-sama kembali menatap daftar. Tidak ada nama Aldin dalam tugas pendamping, dan tidak ada yang mencoba menutup bagian itu dengan tangan.
Jo bangkit hendak mengambil air. Saat melewati rak, dia berhenti di depan foto Maira. Wajah ibunya tersenyum dari waktu yang tidak dapat diingatnya utuh. Dia tahu sebagian besar kenangan tentang Mama dari cerita Daddy dan Ammar, bukan dari kejadian yang masih jelas dalam kepalanya sendiri.
"Mas ingat dia pernah datang ke acara keluarga seperti ini?" tanyanya.
Ammar mengikuti arah pandangnya.
"Sedikit. Aku lebih ingat dia menyuruh kita tidak mengotori pakaian sebelum berangkat."
"Aku mengotori?"
"Kamu yang paling sering."
Jo mendecakkan lidah. Ammar bangkit dan berdiri di sampingnya.
"Kalau dia ada, mungkin kau disuruh tidur sekarang."
"Mas juga."
"Aku masih bisa pura-pura tidak dengar."
Jo tertawa pelan. Dia tidak mengangkat bingkai atau mengatakan sesuatu yang terlalu besar. Hanya berdiri beberapa saat sebelum akhirnya mengambil gelas dan memadamkan lampu ruang makan.
Di rumah Caca, lampu kamar masih menyala. Wanita itu telah mengirim bagiannya untuk perjalanan, kemudian membuka buku Jo lagi. Tulisan di halaman terakhir tampak sama lembutnya dengan tadi sore.
Dia mencoba membaca cerita dari awal. Ada pertemuan pertama yang pernah membuatnya tertawa, ada salah paham kecil yang diselesaikan sebelum malam, ada Jo yang datang meski harus mengubah jadwal. Erika menulis kenangan itu berdasarkan cerita mereka, tidak mengetahui bahwa setiap halaman kini terasa seperti pertanyaan.
Caca berhenti ketika ponsel bergetar. Aldin mengirim kabar pembayaran sudah selesai.
Ia membalas terima kasih, lalu meletakkan layar menghadap meja. Di sebelahnya, buku masih terbuka. Dua bukti pilihan berada cukup dekat untuk disentuh bersamaan, tetapi Caca hanya menutup yang satu.