"Suruh dia pulang."
Kiki mengatakannya sebelum Pak Hendra selesai menjelaskan siapa yang menunggu di gerbang. Di tangan gadis itu, gulungan lakban menggelinding sampai tepi meja.
Lina menangkapnya.
"Paketnya belum ditutup."
"Ya, karena dia bilang mau ambil lewat kurir. Bukan datang sendiri."
Pak Hendra menunggu di pintu. Erika, yang baru membawa gelasnya ke dapur, melihat dua kotak di meja. Satu berisi jaket dan beberapa barang kecil. Kotak lain belum dilipat. Kiki menatap ponsel, rahangnya mengeras.
"Tama bilang cuma sebentar," kata Pak Hendra. "Saya belum mengizinkan masuk."
"Jangan diizinkan."
"Baik, Mbak."
Pak Hendra kembali ke depan. Kiki mengambil lakban dari tangan Lina dengan gerakan cepat, tetapi ujungnya menempel ke jarinya sendiri. Ia menarik terlalu keras. Kotak bergeser, dan sebuah gantungan kunci jatuh ke lantai.
Erika memungutnya. Tidak ada huruf romantis di benda itu, hanya logo sebuah tempat yang pernah mereka kunjungi. Kiki menyambar sebelum Erika sempat menyerahkan.
"Jangan dilihat-lihat."
"Aku mau mengembalikan."
Gadis itu memandangnya sebentar, kemudian memasukkan gantungan ke kotak. Tangannya masih gemetar. Lina meraih gunting yang terletak terlalu dekat ke tepi meja.
"Gue bantu tutup yang ini. Lo cek apakah ada yang ketinggalan."
Kiki hampir menolak. Bunyi pesan baru membuatnya menoleh. Nama Tama diikuti kalimat panjang. Ia membaca separuh, menggeser layar, lalu berhenti.
Dia datang dengan alasan ingin mengambil barang baik-baik. Dia juga menulis bahwa Kiki terlalu mudah dipengaruhi keluarganya, seolah semua yang dilihat gadis itu dahulu bisa dibatalkan karena orang lain tidak menyukainya.
Kiki meletakkan ponsel terbalik.
"Gue nggak mau bicara. Tapi kalau dia teriak di depan, malu juga."
Erika mendekat ke meja. "Pak Hendra bisa bilang barangnya diserahkan di sana. Mbak ndak harus keluar."
"Lo gampang ngomong."
"Iya," jawab Erika. "Karena aku ndak merasakan yang Mbak rasakan. Tapi keputusan Mbak tadi sudah jelas."
Lina berhenti menggunting. Ia tidak menambahkan nasihat. Justru sikap itu memberi Kiki kesempatan menghela napas tanpa perlu memenangkan pertengkaran baru.
Pintu ruang kerja Daddy terbuka. Jo keluar lebih dulu, disusul ayahnya. Keduanya berhenti ketika melihat kotak-kotak di meja.
"Ada apa?" tanya Daddy.
Kiki mengangkat dagu. "Tama di depan. Aku nggak mau ketemu."
Daddy menatap putrinya, bukan gerbang.
"Barangnya sudah semua?"
"Sebentar lagi."
"Kalau begitu, nanti Daddy menemani Pak Hendra menyerahkan. Kamu tetap di sini."
"Ammar mana?"
"Di kantor."
Kiki menggigit bibir. Ada bagian dirinya yang ingin kakak tertuanya muncul dan membuat Tama menyesal datang. Namun bayangan perkelahian dahulu juga membuat perutnya mengeras. Ia tidak ingin gerbang rumah menjadi tempat orang berkumpul melihat siapa memukul siapa.
Daddy seolah memahami yang tidak diucapkan.
"Tidak perlu memanggilnya pulang. Ini barang dikembalikan. Kita selesaikan begitu."
Jo mengambil kotak yang sudah ditutup. "Yang ini?"
Kiki mengangguk. "Jangan ada yang dibaca."
"Aku tidak punya waktu membaca pesan cintamu."
"Bagus. Tulisannya juga jelek."
Jo menatapnya. Kiki mendengus kecil, pertama kali sejak Pak Hendra datang. Lina melipat kotak kedua dan menempelkan lakban dengan rapi.
"Ini kosong," kata Kiki.
"Yang satunya terlalu penuh. Gue pindahkan jaketnya."
"Jangan sampai dia bilang ketinggalan barang terus datang lagi."
Erika mencari kertas kecil. Kiki menyebutkan isi kedua kotak, Lina memeriksa, dan Erika menulis daftar tanpa membaca kartu yang terlipat di bawah jaket. Kiki mengambil daftar itu, menambahkan satu barang, lalu meletakkannya paling atas.
Daddy berjalan bersama Jo ke gerbang. Kiki tidak mengikuti. Ia berdiri di balik tirai ruang tengah, cukup jauh sehingga Tama tidak dapat melihatnya dengan mudah.
Percakapan di depan tidak terdengar jelas. Yang terlihat hanya Tama bergerak maju satu langkah, lalu Pak Hendra berdiri di antara dirinya dan pintu. Daddy menunjuk kedua kotak. Jo meletakkannya di meja penjagaan, tidak melemparkan.
Tama mengambil ponsel. Ponsel Kiki langsung bergetar.
Ia menatap panggilan itu sampai berhenti sendiri.
Lina berdiri di belakangnya. "Lo mau gue bawakan minum?"
"Jangan teh manis."
"Oke."
"Dan jangan pura-pura gue nggak tahu lo lagi kasihan."
Lina berhenti. "Gue mau ambil minum buat diri sendiri. Lo boleh ikut minum kalau mau."
Kiki tidak menjawab. Di depan, Tama akhirnya mengangkat kotaknya. Sebelum masuk kendaraan, ia menoleh ke rumah. Kiki mundur dari tirai.
Beberapa menit kemudian gerbang tertutup. Tidak ada suara benturan, tidak ada tetangga berkumpul. Hal sesederhana itu membuat lutut Kiki mendadak lemas.
Ia duduk di sofa dan meraih bantal.
"Sudah pergi?"
Daddy mengangguk ketika masuk. "Kalau ada barangmu yang masih padanya, buat daftar. Tidak harus kamu yang mengambil."
"Aku tahu."
"Baik."
Daddy menyentuh bahunya sekali, lalu kembali ke ruang kerja. Tidak ada ceramah tentang memilih pacar di depan semua orang. Kiki tampak menunggu kalimat tambahan yang biasa ia bantah. Ketika kalimat itu tidak datang, ia justru menunduk.
Lina kembali dengan dua gelas air. Satu diletakkan di meja dekat Kiki. Gelas satunya dibawa ke kursi di ujung.
"Lakbannya tinggal sedikit," ujar Kiki setelah lama diam.
"Nanti gue beli kalau keluar."
"Pakai uang gue. Tadi buat barang dia."
Lina mengangguk. Kiki meraih gelas, minum dua teguk, lalu menaruhnya kembali.
"Gue nggak minta lo menunggu."
"Gue tahu."
"Tapi tadi..."
Kalimat itu terhenti. Kiki memandang Erika yang masih berdiri di dekat dapur, kemudian memalingkan wajah.
Lina tidak memaksanya menyelesaikan ucapan. Ia membuka buku yang dibawanya, tetapi lama tidak membalik halaman. Di sofa seberang, Kiki menarik bantal ke dada.
Jo kembali ke ruang kerja setelah memastikan Kiki tidak membutuhkan bantuan lain. Erika mengambil piring yang tertinggal di meja dapur, menyimpannya, lalu berhenti saat mendengar gadis itu memanggil Lina.
"Yang di bawah tadi kartu apa?"
Lina menutup bukunya. "Kartu dari kotak?"
"Iya."
"Gue nggak baca."
Kiki menarik bantal lebih dekat. "Bagus."
Lina mengangguk dan hendak membuka buku lagi. Kiki justru meneruskan, kali ini tanpa memandangnya.
"Waktu gue dapat, dia bilang menulis sendiri. Ternyata ambil dari internet."
"Oh."
"Lo pasti ingin bilang gue bodoh karena senang."
"Nggak."
"Jangan bohong."
Lina menaruh buku di meja. "Kalau orang yang gue suka memberi sesuatu, mungkin gue juga senang. Gue belum tentu langsung memeriksa asal kalimatnya."
Kiki menoleh. Jawaban tersebut tidak menyediakan tempat untuk menyerang. Ia mengusap bekas air pada gelas dengan telunjuk, lalu bertanya apakah Lina pernah menerima kartu seperti itu.
"Belum."
"Makanya gampang baik."
Lina menarik napas. "Mungkin."
"Kenapa lo nggak membantah?"
"Karena gue juga nggak ingin setiap percakapan kita jadi pertengkaran."
Kiki menunduk. Di antara keduanya, cahaya dari jendela membuat garis panjang pada karpet. Erika merasa seharusnya bergerak, tetapi takut langkahnya justru mengingatkan bahwa ada orang lain mendengar.
Kiki akhirnya berdiri untuk mengambil tisu. Dia melewati rak kecil dekat tangga, tempat foto keluarga masih berada. Tangannya berhenti sebentar pada sisi bingkai.
"Kalau Mama ada," katanya, "mungkin dia yang paling marah sama gue."
Lina tidak menyusul. "Mungkin dia memeluk lo dulu."
Kiki memutar wajah. "Lo nggak tahu."
"Iya. Gue nggak tahu."
Jawaban itu membuat ruangan mendadak lebih sunyi. Lina tidak pernah mempunyai kenangan bersama Maira yang dapat diceritakan untuk memenangkan pembicaraan. Foto di rak bukan bukti bahwa dia pernah merasakan pelukan yang barusan dibayangkannya.
Kiki meraih tisu, lalu kembali duduk. Dia tidak meminta maaf atas kalimatnya. Lina tidak menagih.
Beberapa saat kemudian, Kiki mengangkat gelas kosong.
"Airnya masih ada?"
"Di dapur."
"Gue ambil sendiri."
Dia berjalan melewati Erika. Wajahnya masih sedikit merah, tetapi langkahnya tidak lagi tergesa. Erika menggeser tubuh agar jalan lapang, tidak bertanya apakah dia sudah merasa lebih baik.
Ketika Kiki kembali, di tangannya ada dua gelas. Satu diletakkan di tempat gelas Lina yang hampir habis. Gadis berhijab itu mendongak.
"Lo tadi belum selesai minum," ujar Kiki cepat.
"Makasih."
"Jangan dilihat seperti itu."
Lina menunduk pada gelasnya. Kiki kembali memeluk bantal, lalu menyalakan televisi dengan suara kecil. Mereka duduk di ruangan yang sama tanpa saling meminta pergi.
Erika mengambil tas yang tadi ditinggalkan dekat meja. Sebelum naik, ia melihat foto Maira sekali lagi. Tidak ada sesuatu yang berubah pada bingkai itu. Yang berubah hanya dua gelas baru di meja, dan kesempatan bagi kedua gadis tersebut untuk melewati satu sore tanpa menambah luka.
Erika kembali ke kamar setelah memastikan tidak ada lagi yang perlu dibantu. Ia menemukan pesannya sendiri kepada Ibu sudah dibalas. Ada tambahan singkat: jangan lupa makan kalau sibuk. Tidak ada pertanyaan mengapa Aldin belum menelepon lagi sejak kabar perpisahan Kirana.
Erika mengetik akan menelepon malam nanti. Ia tidak ingin menjadikan rumah di Semarang tempat seluruh anggota keluarga Jakarta menumpahkan persoalan tanpa memikirkan siapa yang mendengarkan.
Sore itu Iccha pulang lebih awal dari biasanya. Dia berhenti di depan meja Erika dan menyerahkan kantong berisi dua roti.
"Yang satu buat lo."
"Kenapa?"
"Karena gue beli dua. Jangan semua roti harus punya konflik."
Erika menerima dengan tawa kecil. Iccha menggantung tas, lalu duduk di tempat tidur tanpa langsung membuka sepatu.
"Arya tadi makan bareng anak-anak kantornya," katanya.
"Oh."
"Dia kelihatan biasa. Gue lega."
Erika memandangnya. "Kamu bicara sama dia?"
"Urusan kerja. Itu saja. Gue hampir nanya dia masih marah atau nggak, tapi rasanya pertanyaan itu cuma bikin gue lebih nyaman."
Iccha menunduk melepas tali sepatu. Erika tidak menambahkan bahwa sikap tersebut sudah paling benar. Ia membuka roti dan menyodorkan kantong sebagai tempat sampah.
"Mas Ammar?"
"Nyaris ketinggalan makan siang gara-gara rapat. Terus ngomel karena nasi di pantry habis."
"Bukannya kalian makan bersama?"
"Siapa bilang setiap siang harus bersama? Kemarin sudah. Hari ini gue lapar duluan."
Erika mengangkat alis.
"Lo jangan senyum begitu," kata Iccha. "Gue belum mengumumkan apa-apa."
"Mulutku penuh roti. Senyumnya kejadian sendiri."
Iccha melempar bantal kecil ke pangkuannya. Mereka tertawa sampai pintu diketuk dari luar.
Ammar berdiri dengan lengan kemeja tergulung. Ia menunjuk Iccha.
"Bisa turun sebentar?"
"Kalau urusan kerja, besok."
"Bukan."
"Kalau marah soal nasi, aku juga nggak menyembunyikannya."
Ammar memandang Erika yang sudah menahan tawa. "Aku mulai menyesal kalian sekamar."
"Penyesalannya terlambat, Mas," kata Erika.
Iccha mengambil ponsel dan mengikuti Ammar turun. Mereka berhenti di teras samping, jauh dari pintu ruang kerja. Ammar menaruh sesuatu di meja: kantong berisi roti dengan merek yang sama.
Iccha memandangnya, lalu memandang lelaki itu.
"Aku sudah beli."
"Oh."
"Dua."
"Aku empat."
"Berarti hari ini kita bisa buka toko."
Ammar mengusap belakang leher. Iccha akhirnya mengambil satu dan membagi separuh. Duduknya tidak terlalu dekat, tetapi dia tidak memilih kursi paling jauh seperti saat masih marah.
"Aku dengar Tama tadi datang," kata Ammar.
"Dari siapa?"
"Kiki kirim pesan. Katanya barang sudah diserahkan. Aku sempat mau pulang."
"Dia meminta?"
"Tidak. Daddy juga bilang sudah beres."
Iccha mengangguk. Ammar mengamati roti di tangannya, lalu tertawa pendek.
"Biasanya aku merasa kalau tidak hadir, berarti tidak membantu."
"Kadang lo hadir malah orang harus menahan lo."
Ammar menoleh, hendak membantah. Bayangan Tama dan rahang Aldin membuat jawabannya tertahan.
"Iya," katanya akhirnya. "Kadang."
Ammar mengambil ponsel dari saku. Sebatang pulpen ikut keluar, terjatuh ke kursi di antara mereka. Iccha mengenal bentuknya sebelum lelaki itu memungut.
"Lo bawa?"
"Untuk dipakai. Masa untuk dilempar?"
"Gue pikir masih di kotaknya."
Ammar memutar pulpen di tangan. "Kotaknya kusimpan. Isinya kubawa."
Iccha memperhatikan goresan tinta kecil pada jarinya. Hadiah itu tidak hanya dikeluarkan agar dirinya melihat, dan hal tersebut membuat dadanya hangat tanpa sempat dicegah.
"Awas hilang."
"Aku juga takut."
"Takut sama gue?"
"Takut harus mencari yang sama lalu pura-pura ini belum pernah hilang."
Iccha mengangkat alis. Ammar segera memasukkan pulpen dengan hati-hati.
"Bercanda," katanya. "Kalau hilang, aku bilang."
"Bagus. Gue bisa marah tanpa perlu menyelidiki."
Ammar tertawa. Iccha menggeleng, mengambil serpihan roti yang jatuh di meja, lalu melipat tisu di bawahnya. Senyumnya belum hilang saat lelaki itu kembali duduk.
Iccha tidak menyentuh tangannya untuk memberi hadiah atas pengakuan itu. Ia hanya tetap duduk, sesuatu yang beberapa hari sebelumnya belum tentu bersedia ia lakukan.
Dari dalam rumah terdengar suara Kiki memanggil Bi Ani. Gadis itu mencari kantong untuk menyimpan barang yang tak jadi dikembalikan: kaus miliknya sendiri, terselip di antara jaket Tama. Lina membantu memisahkannya sebelum kotak ditutup.
Kiki berdiri di pintu teras ketika melihat roti di meja.
"Banyak banget."
"Ambil," kata Ammar.
"Gue boleh dua?"
"Boleh."
Kiki mengambil dua, lalu menoleh ke Iccha. "Makasih."
"Abang lo yang beli."
"Ya, makasih juga."
Dia kembali masuk, satu roti di masing-masing tangan. Ammar tersenyum kecil, tetapi senyumnya berhenti ketika suara Jo terdengar dari ruang tengah.
"Mas, Daddy menunggu."
Ammar bangkit. Jo berdiri dengan amplop daftar acara di tangan. Tatapannya tampak lebih tenang daripada beberapa hari sebelumnya, walaupun tidak sepenuhnya ringan.
"Aku mau minta satu hal," katanya.
"Sekarang?"
"Sekarang. Sebelum kukatakan pada keluarga Caca."
Iccha meletakkan sisa roti. Ammar mengikuti adiknya ke ruang kerja, dan pintu tertutup sebelum ia mengetahui bahwa permintaan itu akan menempatkannya pada posisi yang dahulu disiapkan untuk Aldin.