"Jadi kamu mau aku berdiri di sebelahmu?"
Ammar memandang Jo, lalu Daddy. Amplop di meja sudah terbuka. Daftar yang dikeluarkan tampak seperti kertas biasa, tetapi bekas coretan di salah satu baris membuatnya enggan menyentuh.
"Bukan menggantikan dia dalam pekerjaan," jawab Jo. "Aku meminta kakakku menemani."
"Kau tahu aku bahkan bisa salah memakai dasi."
"Untuk itu nanti kita meminta orang lain."
Daddy tersenyum sekilas. Ammar menarik kursi dan duduk menghadap adiknya. Ia tidak lagi mencoba membuat percakapan itu terlalu ringan.
"Kamu sudah yakin acaranya diteruskan?"
"Yakin ingin mencoba."
"Itu yang Daddy tanyakan juga," kata ayah mereka. "Kalian masih boleh membicarakan waktu. Gedung bukan alasan menikah."
Jo merapikan tepi amplop yang terlipat. Ia telah mendengar kalimat serupa dari beberapa arah, dan tahu tidak semuanya dimaksudkan untuk meragukan dirinya. Justru karena orang-orang terdekat memberi ruang, dia ingin pilihannya diperlakukan sebagai keputusan yang sungguh-sungguh.
"Aku tahu. Kalau Caca berubah pikiran, aku ingin dia mengatakannya. Kalau aku berubah, aku juga harus mengatakan."
Ammar mengangguk. "Baik. Aku bersedia."
Jo mengangkat wajah.
"Tapi kalau aku salah posisi saat foto, jangan bilang aku sengaja merusak acara."
"Aku akan bilang itu kebiasaanmu."
Daddy tertawa kecil. Jo ikut tersenyum, meski ketika mengambil daftar kembali, jarinya masih berhenti pada baris yang dicoret.
Ammar hendak keluar ketika adiknya memanggil lagi.
"Terima kasih, Mas."
"Jangan membuat aku gugup sepuluh hari sebelum acara."
"Mas sendiri yang menghitung."
"Karena aku perlu mencari dasi."
Di lorong, Ammar berpapasan dengan Iccha yang membawa gelas ke dapur. Dia berhenti melihat wajah lelaki itu.
"Ada apa?"
"Aku perlu dasi."
"Lo punya satu laci."
"Yang tidak terlihat seperti mau menagih utang."
Iccha tertawa, kemudian mengerti ketika Ammar menyebut permintaan Jo. Senyumnya mengecil.
"Oh."
"Jangan bilang begitu. Aku juga sudah bilang begitu di dalam."
"Gue cuma membayangkan dia akhirnya memilih."
Ammar menoleh ke pintu ruang kerja. "Aku berharap pilihannya dibalas dengan benar."
Malam itu Jo menghubungi Caca sebelum pertemuan keluarga esok hari. Wanita itu mengangkat pada dering kedua. Di belakangnya terdengar orang menggeser kursi dan memanggil nama ibunya.
"Mas Ammar bersedia," kata Jo.
Caca diam sesaat. "Menjadi pendamping?"
"Ya. Aku ingin kamu tahu dariku."
"Tentu. Aku mengerti."
"Kalau ada yang ingin kamu tanyakan, tanyakan."
"Tidak ada."
Jo bersandar. Di meja samping terletak surat Caca. Dia belum memindahkannya ke laci, bukan karena ingin terus menagih kalimatnya, melainkan karena masih sering membacanya saat ragu.
"Besok kita bahas yang belum pasti saja," katanya. "Jangan semua orang membuat keputusan sebelum mendengarmu."
Caca memandang pintu kamarnya yang terbuka. Ayahnya baru lewat membawa ponsel, membicarakan tamu yang akan datang dari luar kota.
"Aku akan datang."
"Dan jangan memilih menu hanya karena aku."
"Kau masih ingat?"
"Aku ingat terakhir kamu mengalah, lalu menghabiskan makanan dari piring orang lain."
Caca tersenyum. Mereka membicarakan makanan beberapa menit. Di ujung percakapan, Jo terdengar seperti lelaki yang dahulu mudah diajak bercanda. Itu membuat Caca ingin menjaga semuanya tetap seperti ini, terbungkus hal kecil yang tidak meminta jawaban sulit.
Setelah telepon berakhir, ia membuka percakapan Aldin. Tidak ada pesan baru sejak soal barang dikembalikan. Caca mengetik nama Ammar, lalu menghapusnya. Ia tidak punya alasan menyampaikan pergantian pendamping kepada lelaki yang sudah diminta menjauh.
Ponsel disimpan ke laci. Kali ini benar-benar ditutup.
Pertemuan keluarga berlangsung setelah makan siang. Frans datang bersama Caca. Tidak ada fotografer, tidak ada kerabat jauh yang sengaja diundang untuk memastikan semua tampak baik. Daddy hanya mengajak Jo dan Ammar duduk bersama.
Erika berada di kamar ketika mobil datang. Ia tahu jadwal tersebut, tetapi tidak merasa perlu turun menjadi saksi. Di depan laptop, ia sedang berdebat dengan sebuah paragraf yang mengandung terlalu banyak kata indah dan terlalu sedikit kejadian.
Iccha datang membawa pita pengukur.
"Apa itu?"
"Mas Ammar meminta bantuan mencari ukuran kemeja."
"Sekarang?"
"Setelah pertemuan. Gue bilang lihat kemeja yang pas saja. Dia bilang semuanya sama."
Erika tertawa. "Mungkin lacinya juga sama semua."
"Lo belum lihat lemari dia."
"Dan ndak berencana."
Iccha meletakkan pita di meja. Mereka melanjutkan kegiatan masing-masing, tidak turun mencari tahu setiap kalimat yang dibicarakan keluarga.
Erika sedang menyimpan perubahan paragraf ketika panggilan Aldin masuk. Ia memandang Iccha sebentar, kemudian menerima sambil duduk di dekat jendela.
"Lagi kerja, Mas?"
"Baru selesai. Kamu sibuk?"
"Ada sedikit yang mau kurapikan."
Aldin tidak langsung menyebut tujuan. Ia menanyakan Ibu, seolah Erika tahu kabar yang tidak dapat diperoleh dengan menelepon sendiri.
"Tadi Ibu kirim foto tanaman," jawabnya. "Kalau Mas mau bicara, telepon saja. Ibu pasti senang."
"Belum sempat."
"Sekarang sudah selesai kerja."
Aldin tertawa pendek, tetapi tawa itu cepat hilang.
"Jo sudah bicara apa saja ke kamu?"
Erika memandang layar laptop. Pertanyaan yang dahulu dikirim lewat pesan kembali muncul dengan suara yang lebih hati-hati.
"Mas menanyakan isi wawancara?"
"Bukan."
"Kalau tentang hubungan kalian, aku ndak mau membicarakan yang bukan bagianku."
"Aku cuma ingin tahu apa dia masih marah."
Erika menggeser kursi. Di ujung kamar, Iccha memasang earphone, memberi ruang tanpa harus pergi.
"Mas bisa bertanya sendiri."
"Kamu tahu sekarang nggak sesederhana itu."
"Iya. Tapi kalau aku menebak dan Mas memakainya sebagai jawaban Jo, malah lebih sulit."
Aldin menghela napas. Bunyi kendaraan terdengar di belakang suaranya.
"Dulu kamu tidak seperti ini."
Erika menggigit bagian dalam pipi. Kalimat itu membuatnya ingin menjelaskan terlalu banyak: tentang fotonya, Kirana, pekerjaan yang belum selesai, dan rasa bersalah setiap kali orang menyebut dirinya adik Aldin. Ia menunggu sampai dorongan itu berkurang.
"Dulu situasinya juga ndak begini, Mas."
"Aku tetap kakakmu."
"Aku tahu. Aku tetap adik Mas. Kalau Mas ingin cerita bagaimana keadaan Mas, aku dengar. Tapi jangan tanya isi pikiran orang lewat aku."
Aldin terdiam. Erika memandang tanaman kecil di luar jendela, membayangkan tanaman Ibu yang fotonya baru datang. Ada banyak hal sederhana yang dahulu cukup untuk membuat mereka menelepon.
"Mas sudah makan?" tanyanya.
"Sudah."
"Betulan atau baru mau?"
Untuk pertama kali, suara Aldin melunak. "Baru mau."
"Ya sudah. Cari makan dulu. Jangan menunggu lapar banget lalu bilang ndak selera."
"Kamu sendiri?"
"Tadi makan. Ada saksi."
"Siapa?"
"Iccha. Ndak usah minta dia mengirim bukti."
Aldin tertawa kecil. Percakapan mereka berakhir beberapa menit kemudian, tanpa kabar rahasia yang dibawa keluar dari rumah Jack.
Erika menaruh ponsel, lalu menatap laptop cukup lama sebelum kembali mengetik. Iccha melepas satu sisi earphone.
"Lo baik-baik saja?"
"Mas Aldin masih bisa terdengar seperti kakakku."
"Dia memang kakak lo."
"Iya. Aku cuma kadang lupa suara yang ndak sedang meminta sesuatu."
Iccha tidak membalas dengan nasihat. Dia meraih pita pengukur yang jatuh dan menggulungnya lagi. Erika membuka pesan Ibu, mengirimkan balasan tentang tanaman, lalu kembali pada paragrafnya. Di bawah, pembicaraan yang tidak bisa ia jawab melalui telepon baru akan dimulai.
Di ruang bawah, Frans membuka pembicaraan tentang tanggal. Pesanan yang sempat ditahan masih bisa dilanjutkan, tetapi beberapa keputusan harus masuk hari itu. Ia mengucapkannya sambil menyodorkan daftar, tidak lagi menunjuk Erika sebagai sumber persoalan.
Jo membaca. Caca duduk di sebelah ayahnya, mengusap ujung kuku dengan ibu jari.
"Tanggalnya masih sama," kata Frans. "Kalau digeser lagi, penjelasannya tidak sederhana."
Daddy mengambil gelas. "Penjelasan bisa menyusul. Saya lebih tertarik memastikan anak-anak tidak sedang setuju hanya untuk membuat kita selesai bicara."
Wajah Frans menegang. Ia mengalihkan pandangan kepada putrinya.
"Caca?"
Wanita itu memandang daftar di meja. Sepuluh hari. Satu angka pendek untuk segala sesuatu yang selama ini masih bisa dia katakan nanti.
Jo tidak memotong. Ammar duduk dengan tangan terlipat, mengamati diam yang memanjang.
"Aku setuju tanggalnya tetap," jawab Caca.
"Kamu tidak perlu menjawab cepat," kata Jo.
"Aku sudah memikirkannya."
Caca menatapnya ketika mengatakan kalimat itu. Jo mengangguk. Daddy masih menunggu beberapa saat sebelum berpindah ke hal berikutnya.
Jo menarik daftar mendekat, lalu membubuhkan tanda pada kolom yang perlu dikonfirmasi hari itu. Dia menyerahkan pena kepada Caca, tidak kepada Frans. Wanita itu membaca dua baris sebelum menandatangani persetujuan pilihan acara.
Pena tersebut berhenti sebentar di ujung nama. Jo tidak menyuruhnya cepat. Frans meraih gelas dan menunggu sampai putrinya selesai.
"Kalau ada perubahan dari penyelenggara, kabari kami berdua," kata Caca setelah meletakkan pena.
"Bisa," jawab Jo.
Daddy mengumpulkan salinan yang sudah dibaca. Ammar merapikan kertas yang hampir tergeser dari meja, kemudian menyerahkan satu lembar kepada adiknya. Hal-hal kecil itu membuat pembicaraan kembali tampak seperti persiapan keluarga biasa.
Caca memandang tanda tangannya sendiri. Tinta masih mengilap di bagian yang ditekan paling keras. Dia menyentuh tepi kertas, menarik tangan sebelum ada bekas di jari, dan membiarkan Jo menyimpannya bersama keputusan lain.
Ammar diperkenalkan sebagai pendamping Jo. Frans tidak bertanya tentang Aldin, tetapi gerakan mulutnya menunjukkan ia tahu mengapa nama itu hilang. Mereka membicarakan jadwal keluarga, penjemputan, dan siapa yang berhak menyampaikan perubahan kepada penyelenggara.
"Langsung ke saya atau Caca," kata Jo. "Tidak melalui Aldin lagi."
Frans mengangguk. Caca menahan diri untuk tidak meraih gelas terlalu cepat.
Pilihan menu ternyata benar-benar dibicarakan. Jo menunjuk satu hidangan yang tidak disukai Caca, lalu mencoretnya setelah wanita itu mengatakan terus terang. Ammar menyelipkan komentar bahwa dirinya tetap perlu makan apa pun yang dipilih. Daddy memintanya tidak mengubah rapat keluarga menjadi pembicaraan katering.
Tawa kecil mengendurkan ruangan. Caca tertawa paling akhir.
Ketika pembicaraan selesai, Jo mengajaknya ke teras untuk berbicara tanpa orang tua. Frans tampak ingin menambahkan sesuatu, tetapi Daddy mengajaknya melihat perubahan taman. Ammar berjalan ke dapur, tempat Iccha sudah menunggu dengan pita pengukur yang dipinjam dari Bi Ani.
"Jangan bergerak," katanya.
"Aku belum bergerak."
"Mulut lo bergerak."
Ammar menutup mulut. Erika yang kebetulan turun untuk mengisi air minum memilih pergi sebelum tertawa terlalu keras.
Di teras depan, Jo dan Caca duduk berjajar. Tidak ada layar di antara mereka. Caca mendengarkan burung di dekat pagar, sesuatu yang selama ini jarang diperhatikan ketika datang.
"Aku tidak ingin acara kita jadi ujian yang harus kau lewati," kata Jo.
Caca memandangnya. "Kenapa berkata begitu?"
"Karena di dalam tadi semua pertanyaan terasa besar. Di sini aku cuma ingin bertanya, kau baik-baik saja?"
Wanita itu mengangguk, lalu menggeleng sedikit. Jawaban campur aduk tersebut membuat Jo menunggu.
"Aku gugup."
"Aku juga."
"Kelihatannya tidak."
"Kau tidak melihat aku membaca daftar tamu tiga kali dan tetap melewatkan satu nama."
Caca tersenyum. Jo meraih tangannya, pelan, memberi kesempatan jika dia tidak ingin disentuh. Caca membiarkan jemarinya berada di genggaman itu.
"Kalau besok aku mengajak makan tanpa membicarakan persiapan," tanya Jo, "kau mau?"
"Mau."
"Benar-benar makan. Tidak ada daftar meja."
"Tidak ada daftar orang yang harus diundang?"
"Tidak ada."
Caca mengangguk. Ia ingin percaya bahwa kebahagiaan bisa dimulai lagi lewat satu makan malam. Di hadapannya, Jo sedang mencoba. Tidak ada hukuman tersembunyi dalam genggaman itu, tidak ada pertanyaan jebakan.
Justru karena itulah, pertemuan singkat yang ia sembunyikan kembali menekan dadanya.
"Ada yang mau kukatakan," ujarnya.
Jo menoleh sepenuhnya. "Apa?"
Caca membuka mulut. Kalimat aku bertemu Aldin kemarin seharusnya bisa keluar dengan mudah. Lima kata. Bukan surat panjang, bukan kisah yang membutuhkan halaman.
Namun, dari dalam terdengar Frans memanggil. Caca menarik tangannya dan berdiri.
"Nanti. Ayah sudah mau pulang."
"Kita masih punya waktu."
"Besok saja."
Jo mengangguk setelah melihat wajahnya. "Besok."
Erika menyaksikan kepulangan itu dari meja makan, tempat dia berdiri bersama gelas. Caca melambai sekilas. Tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan kesimpulan, dan Erika membalas sewajarnya.
Setelah gerbang tertutup, Jo masih berdiri di teras. Daddy datang ke sisinya.
"Semua baik?"
"Dia mau bicara besok."
"Berarti besok dengarkan."
Jo mengangguk. Ia memasukkan tangan ke saku dan kembali masuk.
Di dalam mobil, Frans menelepon seseorang, menyebut tanggal dengan suara lega. Caca menatap jalan. Laci tempat ponselnya disimpan tadi pagi telah lama ditinggalkan; sekarang benda itu berada dalam tas, tepat di pangkuannya.
Ia membuka percakapan Aldin sekali lagi. Tidak ada pesan baru. Foto kecil lelaki itu terasa lebih jauh daripada sebelumnya.
Ammar akan berdiri di sebelah Jo.
Caca mengirim kalimat itu sebelum sempat menghapus. Beberapa saat kemudian balasan datang.
Aku memang tidak seharusnya berada di sana.
Caca menahan napas. Ia mengetik bahwa tanggal tidak berubah, lalu mengirim. Ayahnya masih bicara melalui telepon, tidak melihat jemari putrinya.
Sepuluh hari, balas Aldin.
Angka itu kembali muncul, kali ini dari orang yang tidak diundang membantu persiapan. Caca memandangnya sampai layar meredup.
Di rumah Jack, Jo meminta Erika mengosongkan satu bagian halaman terakhir contoh buku. Dia telah memikirkan beberapa kalimat yang ingin ditulis sendiri untuk Caca, dan tidak mau meminta penulisnya membuatkan.
"Ndak perlu kucari kata-kata yang lebih bagus?" tanya Erika.
"Tidak. Aku mau dia tahu ini dariku."
Erika mengangguk. Jo mengambil pulpen dan mencoba pada kertas terpisah. Tulisan pertamanya miring, membuatnya menghela napas kesal. Erika hendak mengatakan sesuatu, tetapi Daddy lewat dan melihat halaman itu.
"Jangan banyak dicoret," katanya. "Nanti yang membaca mengira kamu belum yakin."
Jo tertawa kecil, mengganti kertas, dan mulai lagi. Pada saat yang sama, di kendaraan yang menjauh, Caca sedang menunggu satu tanda lain dari Aldin.