"Ini namamu kenapa kecil sekali?"
Erika mendongak dari layar laptop. Jo berdiri di sisi meja, memegang contoh halaman judul yang baru saja dicetak. Jari telunjuknya menutupi hampir seluruh nama Anggrek di bagian bawah.
"Karena kalau sebesar nama Bapak, halaman berikutnya ndak kebagian tempat."
"Aku belum setua itu."
"Karena kalau sebesar nama Mas Jo," ulang Erika dengan wajah patuh yang terlalu dibuat-buat, "halaman berikutnya ndak kebagian tempat."
Jo menarik kursi. "Ini buku yang kamu tulis. Orang harus tahu siapa penulisnya."
"Hadiah pribadi. Orang yang menerima sudah tahu."
"Kalau begitu, kenapa namaku dan Caca besar?"
Erika menatap contoh itu lagi. Ia mengatur ulang ukuran huruf, bukan karena merasa kalah, melainkan karena pertanyaan tadi masuk akal. Semalam ia terlalu sibuk memastikan nama Caca dieja benar sampai lupa bahwa dirinya juga ada di halaman itu.
Nama Anggrek berpindah ke tengah. Sedikit lebih besar.
"Begini?"
"Lebih bagus."
"Jangan dijadikan alasan mengaku ikut mendesain."
Jo mengangkat kedua tangan. Untuk beberapa detik, kekakuan yang selalu dibawanya belakangan tidak begitu tampak.
Pagi itu mereka membicarakan contoh jilid untuk bagian awal naskah. Buku utuh tetap membutuhkan waktu. Erika sudah menjelaskan bahwa kisah enam bulan tidak dapat dipaksa selesai hanya karena orang ingin memegang sesuatu pada satu hari tertentu. Jo menyetujui contoh berisi bab-bab yang sudah diperiksa bersama, dengan halaman terakhir sengaja dibiarkan kosong untuk catatan Caca.
Bagian kosong itu membuat Erika agak ragu.
"Kalau dia menulis hal yang bertentangan dengan hasil wawancara?"
"Berarti kita punya pertanyaan untuk pertemuan berikutnya."
"Kalau tulisannya ndak terbaca?"
"Yang itu kamu tanyakan sendiri."
Erika terkekeh. Jo menggeser daftar biaya ke arahnya. Ada dua pilihan kertas dan dua cara menjilid. Perbedaan harganya tidak besar bagi Jo, tetapi cukup membuat Erika meneliti setiap baris.
"Jangan memilih murah hanya karena sungkan," katanya.
"Jangan memilih mahal hanya karena bisa."
Jo berhenti mengetuk meja.
"Sekarang aku yang terdengar seperti anak dimarahi?"
"Sekarang kita sedang bekerja."
Ia akhirnya memilih kertas yang tidak terlalu mengilap supaya nyaman dibaca. Warna sampul belum diputuskan. Caca menyukai warna terang, sedangkan Jo sebelumnya memilih biru tua. Erika menyarankan keduanya melihat bahan langsung, dan Jo menunjuk jam di dinding.
"Aku punya waktu sampai sebelas. Kamu bisa ikut?"
"Ke tempat cetak?"
"Kalau kamu mengizinkan aku memilih sendiri, hasilnya mungkin seperti laporan tahunan."
Erika membayangkan sampul dengan grafik penjualan di bawah foto pertunangan. Ia buru-buru menyimpan berkas, lalu bangkit mencari tas.
Di depan pintu, mereka berpapasan dengan Aldin yang membawa map tipis. Kedatangannya untuk mengantarkan dokumen yang tertinggal pada serah terima kemarin sudah diberitahukan lebih dulu. Pak Hendra membukakan gerbang, dan Bi Ani mengarahkannya ke ruang kerja Daddy.
Melihat Erika berjalan bersama Jo, Aldin memperlambat langkah.
"Mau keluar?"
"Cetak contoh naskah, Mas."
"Aku bisa antar kalau..."
"Mobilku sudah siap," kata Jo.
Tidak keras. Tidak pula mengundang tawar-menawar.
Aldin mengangguk. Matanya sempat bertemu mata adiknya. Ada sesuatu yang biasanya mudah terbaca di sana, seperti pertanyaan apakah Erika sudah sarapan atau permintaan membelikan minuman. Kali ini Erika tidak bisa menebaknya.
"Mapnya Daddy tunggu," ujar Jo.
"Ya. Aku tahu."
Mereka melewati satu sama lain tanpa berjabat tangan. Erika menahan diri untuk tidak menoleh berkali-kali. Ia belum terbiasa melihat dua lelaki yang dahulu bisa saling mengejek dari ujung ruangan kini memerlukan alasan jelas untuk mengucapkan satu kalimat.
Di mobil, Jo membuka pesan dari tempat cetak. Erika memasang sabuk pengaman.
"Kalau mau membicarakan Mas Aldin, aku dengarkan," katanya pelan.
"Aku sedang memastikan alamat."
"Oh."
Ia menatap kaca depan, malu sendiri karena menawarkan percakapan yang belum diminta. Jo menyimpan ponsel setelah sopir mengangguk memahami tujuan.
"Tapi terima kasih."
Erika menoleh.
"Aku belum ingin membicarakannya di perjalanan," lanjut Jo. "Boleh kita membicarakan bukunya dulu?"
"Boleh. Justru itu yang paling aku kuasai."
"Dibanding apa?"
"Dibanding mencari parkir di Jakarta."
Jo tertawa pendek. Sopir di depan ikut tersenyum tanpa menyela.
Tempat cetak yang mereka datangi menempati bangunan dua lantai. Bau kertas dan bunyi mesin langsung menyambut ketika pintu dibuka. Erika memegang tas lebih rapat, antusias sekaligus gugup. Selama ini sebagian besar pembacanya menemukan Anggrek melalui layar. Melihat cerita berubah menjadi lembaran yang bisa disentuh tetap membuat dadanya hangat.
Pegawai menyerahkan contoh sampul. Jo langsung mengambil yang biru tua.
"Sudah kuduga," gumam Erika.
"Apa salahnya?"
"Tidak ada. Kita bisa tambahkan tulisan rapat direksi."
Pegawai itu berpura-pura sibuk merapikan katalog, tetapi sudut bibirnya bergerak. Jo meletakkan pilihannya dan mengambil contoh warna krem.
"Ini?"
Erika membandingkannya dengan halaman judul. Krem itu lebih lembut, tetapi mudah kotor. Mereka akhirnya memilih warna yang sama dengan lapisan pelindung tipis, tanpa foto besar di bagian depan. Nama keduanya dan judul sementara cukup.
Saat pegawai bertanya kepada Jo tentang jarak tepi halaman, lelaki itu menunjuk Erika.
"Tanyakan pada penulisnya. Dia yang memahami naskah."
Ucapan sederhana itu membuat Erika meluruskan punggung. Ia menjelaskan ukuran, halaman pembuka, dan tempat nomor halaman. Jo mendengarkan sambil menaruh ponsel terbalik di meja.
Ada satu kalimat yang pecah ke halaman berikutnya. Erika meminta perubahan kecil. Ada tanda petik yang hilang pada hasil ekspor. Ia menambahkan. Lalu ia menemukan kata yang sama dipakai tiga kali dalam satu paragraf.
"Yang ini ndak usah dicetak dulu," katanya cepat.
Pegawai menunggu tanpa mengeluh. Jo memperhatikan wajahnya yang makin dekat ke layar.
"Kamu tadi sudah memeriksa di rumah."
"Di rumah aku ndak melihat kesalahan ini."
"Kesalahannya menunggu kita sampai sini?"
"Dia sopan. Ndak mau mengganggu sarapan."
Jo menutup mulut dengan tangan. Erika sempat tersenyum, lalu kembali memperbaiki paragraf. Sepuluh menit kemudian ia berhenti sendiri, mengembuskan napas, dan meminta satu lembar uji.
"Kalau setiap kata diganti sampai sempurna," katanya, "mungkin sampulnya keburu berjamur."
"Bagus. Kamu menyadarinya sebelum sebelas."
Di halaman pertama, nama Anggrek akhirnya tercetak jelas. Erika menyentuh sudut kertas dengan hati-hati. Tidak ada jumlah pembaca yang muncul di bawahnya. Tidak ada komentar yang meminta bab berikutnya. Hanya nama yang ia pilih, dan kalimat-kalimat yang ia kerjakan dengan sungguh-sungguh.
"Boleh aku foto?"
Jo mengerutkan kening. "Kamu perlu izin untuk memotret namamu sendiri?"
"Isi bukunya pribadi."
"Potret bagian nama. Jangan cerita Caca sebelum dia setuju."
Erika mengangguk. Ia mengatur kertas di meja, menghindari bagian judul yang memuat nama pasangan itu, lalu mengambil satu foto. Pesan pertama dikirim kepada Ibu.
Bu, namaku sudah bisa disentuh.
Balasan tidak langsung datang. Erika tahu Ibu mungkin sedang melayani pembeli atau mengurus rumah. Ia menyimpan ponsel tanpa merasa dilupakan.
Sebelum berkas benar-benar dikirim ke mesin, pegawai itu meminta mereka menentukan apakah bagian dalam sampul ikut dicetak. Jo mengira semua halaman otomatis sama. Erika meminta melihat susunannya sekali lagi.
Di contoh kecil yang dilipat, ada satu ruang kosong sebelum halaman judul. Ia sempat tergoda menambahkan kutipan. Jo menunggu sampai tangannya berhenti di atas papan ketik.
"Kenapa tidak jadi?"
"Belum ada yang perlu."
"Kamu bisa menulis satu kalimat."
"Bisa. Tapi kalau cuma karena takut halaman kosong, pembaca malah dipaksa membaca sesuatu yang ndak penting."
Jo mengambil contoh lipatan itu dan membukanya sampai tengah. Satu gambar kecil yang sebelumnya mereka pertimbangkan ternyata membuat tulisan di sebelahnya terlalu sesak.
"Ini juga tidak perlu?"
"Menurutku begitu. Tapi kalau Mas suka, bisa dipindah."
"Tidak. Hapus saja."
Erika menghapus gambar. Halamannya segera terlihat lebih lapang. Pegawai mencatat keputusan mereka, lalu memberi penjelasan tentang posisi punggung buku. Erika mendengarkan sampai selesai sebelum memastikan judul tidak terpotong.
Ponsel Jo bergetar. Dia membacanya sekilas dan bangkit mendekati pintu untuk menerima panggilan kerja. Erika tinggal di meja, merasa sedikit lebih tenang karena dapat membahas ukuran tanpa seseorang mengira itu sekadar urusan penampilan.
Pegawai menyodorkan formulir.
"Nama pemesan siapa, Mbak?"
Erika hampir menyebut Jo, lalu ingat bahwa tagihan dan persetujuan naskah merupakan dua hal berbeda. Ia menjelaskan nama pembayar, kemudian menuliskan namanya sendiri sebagai orang yang memeriksa berkas. Nomor teleponnya diisi di sebelah jadwal pengambilan.
Saat Jo kembali, dia menunjuk baris tersebut.
"Kalau hasilnya ada yang keliru, kabari aku. Jangan langsung bilang ke Mas Jo bahwa bukunya sudah siap."
Pegawai mengangguk. Jo duduk lagi, melirik formulir tanpa mengubahnya.
"Bagaimana kalau kamu sedang tidak bisa menjawab?"
"Aku balas setelah bisa. Kalau mendesak, Mas boleh dihubungi juga. Tapi jangan setujui perubahan tulisan sebelum aku lihat."
"Baik, Bu Penulis."
Erika menatapnya dengan mata menyipit. Jo tersenyum dan mengambil pena untuk menandatangani pesanan.
Ketika formulir diserahkan, Erika baru menyadari dirinya belum pernah begitu terus terang meminta hak memeriksa pekerjaan sendiri. Di rumah, dia sering merasa harus menerima semua keputusan karena tinggal di tempat orang. Di meja itu, pekerjaan yang dibawa mempunyai penanggung jawab, dan namanya tidak hanya hiasan.
Ia menyimpan salinan berkas di ponsel. Versi yang dikirim diberi nama berbeda supaya tidak tertukar dengan naskah yang masih dikerjakan. Jo menunggu sambil membaca katalog, lalu menunjuk contoh yang sampulnya sangat tebal.
"Kalau pakai ini?"
"Mas bisa pakai untuk mengganjal pintu."
"Berarti ada manfaat tambahan."
"Dan Caca perlu latihan angkat beban sebelum membaca."
Jo mengembalikan katalog. Kali ini pegawai tidak berhasil menyembunyikan tawanya. Erika ikut tersenyum sebelum memastikan pesanan terakhir sudah sesuai keputusan mereka.
Mereka meninggalkan uang muka sesuai nota. Contoh jilid siap dua hari lagi. Erika menyimpan nota di saku terpisah supaya tidak bercampur dengan bungkus permen.
Di luar, matahari mulai menyengat. Mereka berjalan ke mobil ketika Jo tiba-tiba berhenti.
"Kamu belum makan sejak pagi?"
"Tadi sudah."
"Berapa suap?"
Erika menatapnya curiga. "Mas Jo bekerja sama dengan Bi Ani?"
"Tidak. Tapi aku melihat rotimu masih ada waktu kita keluar."
"Aku makan separuh."
"Separuh yang mana?"
"Yang masuk mulut."
Jo menggeleng, lalu menunjuk warung makan di seberang. Mereka masih punya waktu. Erika setuju setelah memastikan ia tidak perlu melakukan wawancara sambil mengunyah.
Warung itu ramai pegawai yang makan lebih awal. Jo memilih meja dekat kipas angin. Tidak ada ruang khusus, tidak ada pelayan yang menunggu di belakang kursi. Erika memesan soto dan teh tawar. Jo mengikuti, lalu kebingungan mencari tempat meletakkan jasnya.
"Sandaran kursi," kata Erika.
"Kalau jatuh?"
"Diambil lagi."
Jo melihatnya. Erika menunduk untuk menyembunyikan senyum.
Pelayan meletakkan wadah kerupuk di tengah. Erika mengambil satu, mematahkan separuh, lalu menahan tangan ketika Jo hendak menuang sambal.
"Coba dulu sedikit."
"Aku biasa makan pedas."
"Semua orang bilang begitu sebelum mencari tisu."
Jo tetap mengambil lebih banyak dari sarannya. Dua suap kemudian dia meraih gelas. Erika pura-pura sibuk dengan sendok, tetapi bahunya bergerak.
"Jangan tertawa," kata Jo.
"Aku belum mengeluarkan suara."
"Mukamu sudah."
Erika menyodorkan tisu. Jo menerima sambil menggeleng, dan tidak menambahkan sambal lagi.
Percakapan mereka belum berubah berat ketika keduanya mulai makan. Jo tidak banyak bicara pada beberapa suap pertama. Setelah itu ia bertanya bagaimana Erika menemukan nama Anggrek.
Erika bercerita tentang tanaman di rumah yang pernah membuat Ibu kesal karena ia terlalu sering memindahkan pot untuk mencari cahaya terbaik. Ia tidak menganggap pilihan nama itu agung. Hanya sesuatu yang dekat, sesuatu yang membuatnya ingat bahwa bunga perlu dirawat bahkan ketika belum muncul.
"Kalau pembacamu tahu kamu suka berdebat tentang kertas," kata Jo, "mungkin mereka menyangka Anggrek berduri."
"Kalau klienku terlalu banyak bertanya saat makan, mungkin bukunya jadi laporan keuangan."
Mereka sama-sama tertawa. Erika baru menyadari ia bisa tertawa tanpa segera teringat bahwa hubungannya dengan Sofyan sudah berakhir. Kesadaran itu justru membuatnya terdiam sesaat.
Jo tidak memintanya menjelaskan. Ia menggeser wadah sambal agar tidak menutupi gelas Erika.
Di perjalanan pulang, Ibu membalas dengan pesan suara. Erika mendengarkannya melalui satu sisi earphone. Suara Ibu terdengar sedikit berisik, bercampur bunyi pintu dan sapaan tetangga.
"Ibu lihat, Nduk. Bagus. Tapi jangan cuma namanya yang difoto. Nanti kalau sudah boleh, Ibu ingin lihat bukunya juga."
Erika tersenyum sampai pipinya terasa pegal. Ia membalas akan membawa contoh saat pulang, kalau waktunya sudah tepat.
Jo sedang membaca sesuatu di ponselnya ketika layar milik Erika kembali menyala. Kali ini pesan Aldin.
Tadi kamu sama Jo ke mana persisnya?
Erika membaca dua kali. Ia sudah mengatakan tujuan mereka di pintu.
Ke tempat cetak, Mas. Urusan naskah.
Balasan muncul cepat.
Dia banyak cerita ke kamu sekarang?
Senyum Erika pelan-pelan hilang. Ia memandang Jo yang tetap sibuk dengan pekerjaannya, lalu mengetik dengan kedua ibu jari.
Kalau Mas punya pertanyaan buat Jo, tanya Jo. Aku ndak mau jadi tempat menebak dia.
Aldin tidak membalas. Erika menyimpan ponsel di tas.
"Kertasnya cocok?" tanya Jo tanpa menoleh.
"Cocok."
"Nanti kalau contoh sudah jadi, kita periksa bersama."
Erika mengangguk. Mobil memasuki halaman rumah, dan nama Anggrek masih tersimpan dalam foto di ponselnya. Pagi itu ia memperoleh sesuatu yang ingin dibagikan dengan keluarganya. Namun pertanyaan Aldin membuatnya sadar, kakaknya sedang memandang pekerjaan yang sama dari tempat yang berbeda.
Di ruang kerja Daddy, map yang ditinggalkan Aldin sudah tersusun rapi. Orangnya telah pergi. Di atas map ada amplop kecil berisi salinan daftar tamu, dengan satu nama dicoret begitu tebal hingga tidak dapat dibaca.
Daddy menutup amplop itu sebelum Jo masuk.
"Kita perlu bicara soal pendampingmu saat acara," katanya.