Caca membuka kembali ponsel yang baru saja diletakkan. Pesan Aldin masih berada di bawah kalimatnya sendiri. Besok masih ada waktu. Aku cuma ingin mendengar langsung.
Dia menatap cukup lama sebelum mengetik bahwa besok dirinya ada urusan keluarga. Jawaban itu belum dikirim. Ada bagian dirinya yang ingin menyelesaikan dengan cara sederhana: jangan menghubungi lagi, aku memilih Jo.
Namun, jari bergerak menghapus. Kalimat yang akhirnya terkirim memberi waktu, bukan menutup percakapan.
Besok siang. Lima belas menit. Setelah itu kita berhenti.
Aldin membalas lokasi dan mengatakan akan menunggu. Tidak ada tanda cinta atau panggilan Sephia di layar. Justru kesederhanaannya membuat Caca lebih mudah membayangkan ini bukan pelanggaran besar, hanya penjelasan yang perlu diselesaikan sebelum hidup diteruskan.
Dia meletakkan ponsel, lalu membuka surat yang pernah diberikan kepada Jo. Ada salinan beberapa kalimat pada buku kecil. Tidak ada pertemuan pribadi yang disembunyikan.
Caca menutup buku sebelum selesai membaca.
Di bawah halaman yang dilipat ada catatan lain, nama tempat dan jam yang pernah disepakati dengan Aldin. Dia ingin merobeknya, tetapi berhenti sebelum ujung kertas terlepas. Menghilangkan satu halaman tidak membuat pertemuan terakhir menjadi pertemuan yang diketahui Jo.
Caca meratakan kembali lipatan itu dengan telapak tangan. Ponsel berbunyi sekali, hanya pengingat kegiatan besok. Dia mematikannya, memandang buku tertutup, lalu menaruhnya di bawah bantal.
Dia sudah memberikan surat kepada Jo. Seharusnya tidak ada kalimat dalam buku kecil yang perlu disembunyikan seperti ini. Namun ketika lampu kamar dipadamkan, buku tersebut tetap di tempat yang sama.
Di rumah Jack, Erika masih memeriksa satu koreksi. Nama tempat makan yang disebut Jo telah diperbaiki, dan dua bagian kenangan siap dibaca bersama. Pengingat wawancara untuk besok kembali menyala.
Iccha menoleh dari tempat tidur. "Lo sudah berjanji berhenti sebelum tengah malam."
Erika melihat jam. "Masih sebelas lebih."
"Lebihnya empat puluh sembilan menit. Jangan mendebat waktu seperti mendebat bos lo."
Erika tertawa dan menyimpan berkas. Ia memang tidak menyelesaikan satu bab besar malam itu, tetapi ada dua halaman yang bisa dipertanggungjawabkan. Mungkin itu cukup untuk hari yang tidak lagi dipakai menyelidiki setiap kabar orang.
Mereka tidur setelah lampu meja dipadamkan. Di luar, rumah masih mempunyai suara biasa: pagar ditutup, langkah Bi Ani di lorong bawah, dan kendaraan terakhir yang masuk. Tidak ada yang mengetahui lima belas menit baru telah disepakati di rumah lain.
Pagi berikutnya, Jo membuka halaman yang dikirim. Dia membaca dengan pensil, bukan hanya memberi tanda setuju dari layar. Beberapa lelucon kecil membuat wajahnya lebih ringan, meskipun tidak lama.
Erika datang setelah sarapan dengan daftar pertanyaan. Dia menanyakan apakah pembacaan akan dilakukan bersama Caca atau menunggu setelah pekerjaan kantor.
"Siang," jawab Jo. "Kami sudah sepakat. Tapi kalau ada perubahan, nanti kuberi tahu."
Erika mengangguk. Dia mulai merapikan bahan yang tidak perlu narasumber: urutan kejadian, nama tempat, dan paragraf yang dapat diperpendek. Naskah tidak berhenti hanya karena wawancara belum dimulai.
Jo duduk di sofa, mengangkat satu halaman. "Di sini aku bilang tidak suka menunggu?"
"Mas memang bilang waktu membahas belanja."
"Sekarang sepertinya aku harus menunggu banyak."
Erika memandangnya, tidak langsung mengubah menjadi nasihat. Jo menurunkan halaman dan meminta satu kata diganti karena terdengar terlalu resmi.
"Aku nggak ngomong seperti surat undangan."
"Mas ngomongnya memang lebih mirip orang lapar yang disuruh jalan lagi."
Jo mengangkat alis. "Kamu punya kemampuan membuat orang tampan terdengar menyedihkan."
"Aku punya kemampuan menulis sesuai cerita, Mas. Tampannya nanti yang menilai pembaca."
Untuk sekali ini Jo tertawa lepas, lalu berhenti ketika ponselnya berbunyi. Nama Caca muncul. Wanita itu memberi tahu ada urusan singkat dan meminta wawancara digeser sore.
Jo mengangkat panggilan. Dia menanyakan apakah semuanya baik. Caca menjawab sedang mengambil sesuatu yang diperlukan keluarga dan tidak ingin datang terburu-buru.
"Sore jam empat bisa?" tanyanya.
Jo mengiyakan setelah memeriksa jadwal. Tidak ada pertanyaan tentang Aldin. Kesempatan telah diberikan, dan dia tidak ingin menjalankan hubungan dengan menganggap setiap perubahan waktu pasti kebohongan.
Erika mencatat perubahan. Dia tidak mendengar kalimat yang memberi alasan mencurigai, dan tidak berusaha mencarinya hanya karena dirinya pernah membawa foto.
Jo kembali ke berkas kerja. Dia meminta Erika meneruskan sendiri dulu dan mengatakan akan membaca lagi sebelum sore. Setelah itu hari bergerak dengan urutan yang terlihat wajar.
Di rumahnya, Caca berdiri di depan lemari sebelum berangkat. Ia sudah mengambil satu pakaian yang dahulu pernah dipuji Aldin, lalu mengembalikannya. Pilihan berikutnya terlalu resmi. Pilihan ketiga membuatnya kesal karena dia menyadari sedang memikirkan bagaimana lelaki itu akan melihatnya.
Ia akhirnya mengenakan blus sederhana. Rambut dibiarkan terurai, kemudian diikat lagi setelah melihat wajahnya di cermin.
Ketukan di pintu membuatnya berbalik.
"Keluar?" tanya Frans dari ambang.
"Sebentar."
"Ke rumah Jo?"
"Sore."
Ayahnya menatap jam. Caca menutup pintu lemari dan mengambil tas, berharap gerakan biasa itu dapat membuat pertanyaan berhenti.
"Jangan membuat dia menunggu. Kita baru selesai membicarakan bagaimana meneruskan semuanya."
"Aku sudah memberi tahu."
Frans mengangguk. Dia masih menyimpan kecemasan setelah pertemuan yang tidak berjalan seperti keinginannya. Kali ini kecemasan itu muncul sebagai permintaan agar putrinya pulang dengan kabar baik, bukan pertanyaan tentang apa yang benar-benar dirasakan.
"Ayah tidak ingin keluarga kita terus jadi bahan pembicaraan."
Caca memasukkan ponsel ke tas.
"Orang belum tahu semuanya."
"Dan tidak perlu tahu."
Wanita itu menatap ayahnya. Kalimat tersebut terasa seperti izin untuk menyimpan apa saja asalkan hasil akhirnya terlihat rapi. Ia tahu bukan itu maksud yang seharusnya diterima. Namun pagi itu dia memilih bagian yang membuat langkahnya lebih mudah.
"Aku akan pulang sebelum sore."
Frans bergeser dari pintu. Caca melewatinya, turun tanpa mencari sarapan lagi. Di meja, ada piring yang telah disiapkan. Ia meminta makanan itu disimpan, lalu berhenti karena teringat alasan yang baru disampaikan kepada Jo.
Mengambil sesuatu yang diperlukan keluarga.
Tidak ada nama barangnya. Tidak ada tujuan yang harus dibuktikan. Kebohongan tersebut masih terasa cukup tipis untuk dilewati tanpa suara.
Ketika kendaraan bergerak, Caca membuka percakapan Jo. Ada pesan yang menanyakan apakah wawancara tetap bisa dilakukan sore. Dia membalas bisa, menambahkan bahwa dirinya ingin membaca bagian baru.
Jo mengirim foto dua halaman yang telah diberi tanda. Caca memperbesar satu paragraf. Cerita tentang dirinya ditulis dengan hangat. Di sana, seorang perempuan datang terlambat karena salah memperkirakan perjalanan, dan Jo menunggu sambil membeli sesuatu untuk dimakan berdua.
Dia masih ingat hari itu. Aldin belum menjadi orang yang ditemui diam-diam. Keterlambatan memang hanya keterlambatan.
Caca menurunkan ponsel ke pangkuan. Dari kaca, ia melihat jalan bercabang. Kendaraan mengambil jalur yang membuat jarak menuju kedai semakin pendek.
"Bisa berhenti sebentar?" tanyanya.
Sopir menepi di tempat yang memungkinkan. Caca memandang pesan dari Aldin yang mengatakan sudah sampai. Ia bisa membatalkan. Dia belum berada di hadapan lelaki itu, belum mengucapkan sesuatu yang membuat perpisahan perlu lebih banyak waktu.
Jemarinya menyentuh layar, tetapi yang diketik hanya kabar bahwa dirinya hampir tiba.
"Jalan lagi," katanya.
Di rumah Jack, Jo meminta Erika mencatat satu hal sebelum wawancara. Ia ingin cerita tentang masa pertunangan tetap memakai kejadian yang sudah diceritakan, tanpa menambahkan kalimat bahwa Caca selalu mengetahui apa yang diinginkannya.
Erika menatap catatan.
"Memang belum ada kalimat begitu."
"Bagus."
"Kalau Mas ingin mengatakan bahwa akhir-akhir ini banyak keraguan, kita bisa bicarakan untuk bagian selanjutnya. Ndak harus menyisipkan sindiran di cerita lama."
Jo diam, lalu mengangguk.
"Aku tidak mau menyindir."
"Berarti kita biarkan kenangan itu sesuai waktunya."
Erika menandai bagian yang belum pasti dengan pensil. Jo kembali ke pekerjaannya. Di layar yang sudah disimpan Caca, foto halaman yang sama menunggu dibaca sampai selesai.
Menjelang siang, Caca tiba di tempat yang disepakati. Bukan kafe Kemang, bukan tempat yang dikenali dari foto. Mereka memilih kedai kecil di sisi taman terbuka. Ada pengunjung lain, pelayan berlalu-lalang, dan pintu keluar yang tidak sulit ditemukan.
Aldin sudah menunggu. Dia berdiri ketika melihat Caca, tetapi wanita itu mengangkat tangan sebelum jarak mereka terlalu dekat.
"Jangan seperti dulu. Aku cuma datang bicara."
Lelaki itu mengangguk dan menarik kursi di seberang, bukan di sebelah. Ada bekas samar pada rahangnya. Caca melihat, lalu cepat memandang daftar minuman.
"Masih sakit?"
"Sudah berkurang."
Aldin tidak memakai bekas tersebut untuk meminta dikasihani. Dia memesan air, lalu menanyakan apa yang telah diputuskan bersama Jo.
Caca mengatakan mereka ingin mencoba meneruskan. Dia juga menjelaskan tidak akan ada pertemuan pribadi lagi setelah hari ini. Aldin mendengarkan tanpa mengangguk cepat.
"Jo tahu kamu di sini?"
Caca meletakkan ponsel. "Aku akan menjelaskan kalau perlu."
Lelaki itu menatapnya. Mereka sama-sama mengetahui kalimat itu bukan jawaban yang diminta. Caca merasa pipinya panas, kemudian mengatakan jangan menjadikan pembicaraan tersebut cara menguji perasaannya.
"Aku tidak ingin menguji," ujar Aldin. "Aku ingin tahu apakah kamu datang untuk mengucapkan perpisahan yang memang kamu mau atau karena semuanya sudah terlanjur terbuka."
"Dua hal itu bisa terjadi bersama."
Aldin mengangguk perlahan. Dia mengatakan tidak akan kembali meminta peran dalam acara atau datang ke rumah Jo tanpa kebutuhan. Sebagian tugas telah dipindahkan, dan dirinya akan membicarakan pekerjaan selanjutnya sesuai keputusan.
Caca memandang gelas yang belum disentuh. Melihat Aldin tidak lagi ada di setiap jadwal membuat pernikahan terasa lebih nyata sekaligus lebih sepi.
"Kirana sudah pulang," kata Aldin.
"Aku tahu."
"Hubungan kami selesai. Itu bukan sesuatu yang bisa kubatalkan hanya karena aku masih takut kehilangan semua."
Caca tidak berkata baiklah seolah perpisahan tersebut kabar yang menguntungkan. Dia tahu ada orang yang menunggu di Semarang dan akhirnya harus pulang dengan jawaban menyakitkan.
Aldin bertanya apakah Caca sungguh tidak lagi mempunyai perasaan kepadanya. Wanita itu menarik napas. Lima belas menit terasa singkat ketika pertanyaan yang dihindari justru disampaikan langsung.
"Aku masih mempunyai perasaan. Tapi aku memilih mencoba dengan Jo."
Aldin menunduk. Dia tidak menuntut pilihan itu berubah saat itu juga. Namun, suaranya lebih berat ketika mengatakan dirinya tidak dapat menjadi teman dekat sambil pura-pura semua biasa.
"Aku akan menjaga jarak. Kalau terus ada, aku akan berharap kamu memanggilku lagi."
Caca mengangguk. Seharusnya kalimat tersebut membuat perpisahan lebih jelas. Justru ada rasa kehilangan yang selama ini ditunda melalui pesan singkat.
Pelayan datang membawa minuman. Keduanya berhenti bicara sampai orang itu menjauh. Caca memeriksa jam, lalu mengatakan dirinya harus pergi.
Aldin meminta beberapa menit lagi. Dia tidak meraih tangan atau menghalangi. Dia hanya menanyakan apakah semua kenangan yang pernah dibagi akan dianggap tidak berarti.
Caca menggeleng. "Aku tidak bisa membuatnya tidak pernah terjadi. Tapi aku juga tidak bisa terus memakai itu sebagai alasan mengulang."
Lelaki itu menerima. Mereka membicarakan beberapa barang yang perlu dikembalikan tanpa memakai pertemuan tambahan. Tidak ada barang yang harus diserahkan sendiri jika dapat diatur melalui cara lain.
Caca berdiri setelah gelasnya tinggal setengah. Lima belas menit telah lewat hampir dua kali lipat. Dia meletakkan uang untuk pesanannya, tetapi Aldin mengatakan bisa ditanggung. Wanita itu tetap meninggalkan bagiannya.
"Aku tidak ingin datang lalu semua terasa seperti kencan biasa," katanya.
Aldin mengangguk. Ketika dia berjalan ke pintu, lelaki itu memanggil namanya, bukan nama akun lama.
"Caca. Kalau suatu hari kamu tidak jadi memilihnya, jangan datang cuma karena takut sendirian."
Wanita itu berhenti. Ada banyak jawaban yang bisa membuat perpisahan terasa lebih ringan, tetapi dia tidak memberikan salah satunya. Dia hanya mengangguk dan keluar.
Di kendaraan, Caca membuka percakapan Jo. Pertanyaan singkat apakah sudah selesai muncul beberapa menit lalu. Dia mengetik urusan keluarga masih berjalan, lalu berhenti sebelum mengirim.
Tidak ada keluarga di kedai tadi.
Dia mengganti dengan kalimat bahwa sebentar lagi akan kembali dan tetap bisa hadir jam empat. Jawaban itu tidak menjelaskan yang baru terjadi. Namun, tidak menyebut kebohongan baru membuat dirinya lebih mudah menyimpan kebohongan lama.
Sore hari Caca datang sesuai waktu. Jo menyambut, menanyakan apakah sempat makan, dan menerima jawaban iya. Dia tidak mengetahui wanita itu baru saja memberi waktu kepada lelaki yang seharusnya tidak ditemui diam-diam.
Erika membuka catatan. Mereka membaca beberapa bagian yang telah dikerjakan dan menyepakati dua kenangan untuk dikembangkan. Caca mengoreksi detail warna pakaian, Jo mengingatkan dirinya tidak pernah membawa bunga pada pertemuan tertentu.
"Aku hampir menambah sendiri karena rasanya cocok," kata Erika sambil mencoret.
Jo tertawa pendek. "Jangan. Nanti aku harus menjelaskan kenapa dulu tidak seromantis tokohku."
Caca tersenyum, tetapi matanya sempat bergerak ke tas ketika ponsel bergetar. Dia tidak mengambil di depan mereka. Jo melanjutkan cerita, dan Erika menulis tanpa memperhatikan layar yang tidak terlihat.
Di dalam tas, pesan Aldin masuk setelah pertemuan.
Aku akan mengembalikan barang lewat cara yang kita bicarakan. Jaga diri.
Tidak ada ajakan bertemu lagi. Justru itu membuat Caca kembali memikirkan kursi kosong yang tadi ditinggalkan.
Wawancara berakhir dengan dua halaman baru dan waktu pembacaan berikutnya. Jo berdiri mengantar sampai pintu. Caca menyentuh lengannya sebentar, mengucapkan terima kasih karena masih mau mencoba.
Lelaki itu mengangguk. Dia belum tahu lima belas menit yang disembunyikan telah menjadi bagian pertama dari kesempatan yang baru diberikan.