Erika mematikan laptop, lalu menyimpan surat pekerjaan yang baru dibaca. Di sebelahnya Iccha sedang membuka agenda, memeriksa waktu akhir pekan yang sebelumnya belum diberi jawaban kepada Ammar.
"Lo mau keluar besok?" tanyanya.
Erika menggeleng. "Belum ada rencana. Aku mungkin menulis sebentar, lalu menelepon Ibu."
Iccha mengangguk. Dia mengatakan sedang mempertimbangkan undangan makan, tetapi tidak ingin memakai Erika sebagai tempat menebak apa yang dimaksud Ammar.
"Kalau gue datang, itu karena gue mau mendengar. Bukan berarti semuanya beres."
"Nggih, Mbak."
Erika tidak menambahkan petunjuk atau lelucon. Sesudah beberapa saat, Iccha mengatakan masih membutuhkan waktu mempercayai, tetapi menghargai bahwa kali ini tidak ada cerita disusun di belakangnya.
Kalimat itu membuat Erika menatap temannya. Dia mengucapkan terima kasih tanpa meminta keduanya segera kembali seperti dulu.
Pagi berikutnya berjalan dengan tugas biasa. Erika menerima koreksi satu tempat dari Jo dan memperbaiki sebelum mengirim. Naskah masih belum dibaca seluruhnya, tetapi lelaki itu mulai membuka bagian kenangan lagi setelah beberapa hari hanya melihat daftar acara.
Ada waktu yang berjalan tanpa pertemuan besar. Aldin menyelesaikan penyerahan kontak, Caca menyusun penjelasan yang ditulis sendiri, dan keluarga menahan pengumuman tambahan. Tidak ada masalah yang selesai hanya karena rumah terdengar tenang.
Beberapa hari kemudian Jo menemui Caca lagi. Mereka memilih tempat yang tidak mengingatkan kafe dalam foto atau ruang duduk yang berakhir dengan pukulan. Pertemuan itu diketahui keluarga, tetapi tidak ditemani ayah masing-masing sejak awal.
Caca datang lebih dulu. Ketika Jo duduk, dia tidak langsung mengulurkan tangan. Dia menanyakan apakah mau membaca surat bersama atau berbicara.
"Aku sudah baca," jawab Jo. "Hari ini aku mau dengar pilihanmu."
Wanita itu mengangguk. Dia menyatakan ingin meneruskan hubungan dan menikah dengan Jo. Namun, kali ini dia tidak memakai keinginan tersebut untuk menghindari pembicaraan tentang Aldin.
Dia mengaku pernah merasa dekat, membiarkan perhatian diteruskan, dan memilih menyimpan karena takut kehilangan sesuatu yang belum berani diputuskan. Tidak ada lagi nama Sephia digunakan seolah orang lain.
Jo mendengarkan, lalu menanyakan apa yang akan dilakukan ketika Aldin menghubungi. Caca mengatakan urusan pribadi akan dihentikan dan tidak akan ada pertemuan berdua yang disembunyikan.
"Aku tidak ingin menjadi orang yang memeriksa semua layar," ujar Jo. "Kalau itu satu-satunya cara hubungan ini berjalan, aku tidak sanggup."
"Aku mengerti."
"Aku juga tidak ingin kamu memilihku hanya karena keluarga sudah menyiapkan semuanya. Kamu boleh mengatakan tidak. Itu akan menyakitkan, tapi masih lebih jujur."
Caca menarik napas panjang. Dia mengangguk dan kembali mengatakan pilihannya kepada Jo, bukan kepada tanggal atau nama keluarga.
Lelaki itu memandangnya. Ada bagian dalam dirinya yang masih ingin percaya dengan mudah, kembali kepada cara hidup sebelum foto ditemukan. Namun, sekarang dia tahu rasa ingin percaya tidak sama dengan bukti bahwa semua telah berubah.
"Aku masih mencintaimu," katanya.
Caca mengusap mata. Dia hampir bergerak mendekat, tetapi menunggu kalimat berikutnya.
"Aku ingin mencoba meneruskan. Bukan berarti semuanya sudah kumaafkan atau aku tidak akan bertanya lagi."
Wanita itu mengangguk. Kali ini air mata tidak diikuti permintaan semua kembali biasa hari itu juga.
Mereka membicarakan waktu dan rencana. Jo tidak menyatakan tanggal langsung berjalan tanpa pemeriksaan. Dia ingin keluarga mengetahui keputusan mencoba, tetapi hal yang terikat perlu dikonfirmasi dengan kesiapan nyata. Beberapa pekerjaan mungkin dapat diteruskan, sebagian harus disesuaikan.
Caca setuju membantu sendiri, bukan melalui Aldin. Dia akan menyampaikan batas kepada lelaki tersebut dengan jelas, dan tidak mengubah percakapan yang masih berkaitan dengan kejadian menjadi rahasia baru.
Jo mengangguk. Dia meminta jika Aldin tidak menghormati, Caca memberitahukan. Bukan untuk datang memukul lagi, melainkan agar mereka dapat mengambil keputusan berdasarkan keadaan yang benar.
"Aku menyesal memukulnya," kata Jo. "Itu tidak membuat satu pun yang lain lebih jelas."
Caca mendengar. Dia tidak memakai pengakuan itu untuk membandingkan siapa paling salah dan meniadakan bagian yang telah dilakukan.
Pertemuan berlangsung lebih lama daripada biasanya. Ada makanan yang sempat dingin dan kalimat yang harus dijelaskan ulang. Mereka tidak menyusun foto romantis untuk memberi tahu semua orang telah bahagia lagi.
Saat hendak pergi, Caca meminta boleh menyentuh tangan Jo. Lelaki itu mengangguk setelah jeda. Sentuhan tersebut singkat, tidak berubah menjadi pelukan yang dipakai menutup seluruh percakapan.
Dia masih merasa hangat, sekaligus takut. Dua perasaan itu ternyata bisa berada bersama tanpa salah satunya membuat yang lain palsu.
Di rumah, Jo berbicara dengan Daddy sebelum memberi kabar kepada keluarga Caca. Dia menjelaskan ingin mencoba meneruskan, dengan perubahan yang perlu dijalankan, dan dirinya belum menganggap kepercayaan telah pulih.
Daddy menanyakan apakah keputusan diambil karena takut kehilangan atau memang melihat kesempatan yang ingin diberikan. Jo menjawab ada rasa takut, tetapi dia tidak ingin pura-pura tidak mencintai hanya supaya terlihat tegas.
"Aku juga tahu bisa salah lagi," katanya.
"Kalau begitu jangan berhenti melihat yang benar-benar dilakukan," jawab Daddy. "Kamu boleh memberi kesempatan, bukan wajib menutup mata."
Jo mengangguk. Setelah itu mereka mengatur pembicaraan keluarga yang lebih praktis. Nama Aldin tetap tidak kembali ke daftar pendamping pengantin pria. Pengelolaan urusan pribadi dan acara tetap melalui Jo serta pihak yang ditunjuk.
Dalam pembicaraan keluarga berikutnya, Jo menyampaikan mencoba meneruskan bukan keputusan yang harus dirayakan seolah tidak ada luka. Frans menerima, walaupun jelas ingin tanggal segera dipastikan.
Jo meminta rincian yang sudah berjalan diperiksa bersama, lalu hal yang masih bisa diubah dicatat. Caca ikut menjawab bagian yang sebelumnya terlalu banyak dipegang Aldin. Tidak ada nama asisten tersebut digunakan sebagai jalan menyelesaikan pekerjaan yang kini memang dipindahkan.
Daddy menanyakan apakah Jo ingin semua keluarga kembali berkumpul sebelum menentukan tanggal. Lelaki itu mengatakan cukup pertemuan kecil dahulu; dirinya tidak ingin pilihan diputuskan melalui suara terbanyak.
Frans mengangguk. Dia juga menerima bahwa Caca perlu memberi jawaban sendiri jika ada urusan pribadi, bukan ayahnya terus menyatakan putri ingin menikah sebagai bukti seluruh pertanyaan selesai.
Setelah mereka pulang, Jo menatap satu daftar yang telah dirapikan. Beberapa bagian diberi tanda menunggu, beberapa boleh diteruskan. Keputusan itu tidak terlihat romantis, tetapi ada lebih banyak suara dirinya daripada daftar yang dulu hanya diterima sebagai hasil.
Dia menyimpan dan mengambil naskah Erika. Untuk beberapa halaman, ia bisa membaca kenangan tanpa langsung menganggap semuanya palsu. Setelah itu dia berhenti. Tidak semua harus mampu diselesaikan dalam satu malam hanya karena telah memilih mencoba.
Siang itu Ammar dan Iccha memilih tempat makan yang tidak terlalu ramai. Iccha datang tanpa hadiah atau rencana meminta jawaban besar setelah duduk. Ammar memesan setelah menanyakan apa yang diinginkan, bukan memilihkan seolah sudah mengenal semua selera.
Beberapa menit pertama tetap canggung. Mereka membicarakan makanan dan pekerjaan yang memang boleh dibahas, lalu Iccha mengatakan tidak ingin percakapan hanya berhenti pada hal aman.
"Gue masih marah soal Erika," katanya. "Dan gue nggak mau kalau hari ini menyenangkan, besok dianggap gue sudah lupa."
Ammar mengangguk. "Gue tidak menganggap begitu."
"Kalau nanti gue menolak ajakan lagi, jangan kembali menyusun cara membuat gue cemburu."
"Tidak."
Jawabannya pendek, tetapi Iccha meminta apa yang akan dilakukan kalau marah. Ammar berhenti sebelum berkata dirinya tidak akan marah. Itu janji yang tidak mungkin selalu dijaga.
"Gue akan bilang butuh waktu. Bukan membatalkan kerja atau meminta orang lain membuat kamu melihat sesuatu."
Iccha mengangguk. Dia juga mengakui awal mengajak Arya membuat dirinya harus menerima batas yang sekarang dipilih lelaki itu. Tidak ada pembelaan bahwa semua dilakukan karena Ammar lebih dulu dingin.
Ketika makanan datang, Iccha mencoba memotong bagian yang terlalu besar. Garpu bergeser dan membuat bunyi keras di piring. Dia menatap Ammar, bersiap menerima ledekan lama.
Lelaki itu hanya menggeser piring kecil agar lebih mudah dipakai.
"Gue bisa sendiri," kata Iccha refleks.
"Gue tahu. Piringnya saja yang dipindah."
Iccha menatapnya, lalu tertawa pendek. Ada sesuatu yang aneh pada makan tanpa setiap bantuan dijadikan bukti dirinya tidak mampu. Ammar ikut tersenyum, tidak memanfaatkan itu untuk menambah pertanyaan pribadi.
Mereka membicarakan satu pekerjaan yang sempat keliru hari sebelumnya. Iccha mengatakan dirinya sudah memeriksa ulang, dan Ammar mengakui pernah memberi jadwal terlalu mepet. Tidak ada orang lain yang dibawa sebagai pembanding.
"Lo sebenarnya bisa ngomong biasa," ujar Iccha.
"Gue sedang mencoba."
"Jangan nanti bilang sudah mencoba sekali terus gue wajib senang."
"Tidak."
Iccha mengangguk sambil mengambil minum. Dia belum mengembalikan semua kepercayaan, tetapi dapat mengakui percakapan itu lebih baik tanpa menyerah pada seluruh batas yang baru dibuat.
Mereka makan setelah bagian tersebut dibicarakan. Percakapan kembali lebih ringan, tetapi tidak dipakai menutup. Ammar menanyakan kabar keluarganya di Bandung, dan Iccha bercerita sedikit tanpa setiap kalimat berubah menjadi ledekan.
Ketika selesai, dia menyatakan bersedia keluar lagi suatu hari jika dirinya mau, bukan jadwal yang harus diteruskan supaya Ammar merasa diberi kesempatan cukup.
Ammar menerima. Sesudah makan, Ammar menanyakan apakah dia ingin pulang langsung atau singgah mengambil barang yang pernah disebutkan. Iccha memilih pulang. Lelaki itu menerima tanpa mengatakan undangan belum cukup lama.
Di kendaraan, mereka lebih banyak diam. Keheningan tidak terasa seperti hukuman. Sesekali Iccha menunjukkan jalan yang sedang diperbaiki, lalu Ammar mengikuti rute lain. Untuk satu perjalanan, tidak ada yang perlu dijadikan permainan agar orang di sebelah mengaku merasa sesuatu.
Dalam pertemuan itu, mereka tidak menyebut diri pasangan. Ada langkah kecil yang dipilih kedua orang, dan itu sudah berbeda dari rencana yang dulu melibatkan orang yang tidak diberi tahu.
Ketika Erika dipanggil sore hari, dia membawa catatan proyek. Jo menanyakan apakah naskah bisa diteruskan secara bertahap sambil tetap membedakan kenangan dan rencana yang belum terjadi.
"Bisa, Mas. Tapi hadiah cetak lengkap masih perlu waktu sesuai yang dibicarakan."
Jo mengangguk. Dia tidak meminta Erika membuat cerita seolah masalah beberapa hari terakhir tidak pernah ada. Bagian pribadi yang ingin dimasukkan harus disepakati dengan Caca, sementara penulis tidak boleh mengubah semua kejadian menjadi hukuman di halaman.
Erika menanyakan apakah wawancara berikutnya akan dilakukan bersama. Jo menjawab iya dan meminta waktu yang tidak membuat semua orang kelelahan. Ada pekerjaan yang boleh berjalan tanpa menuntut perasaan langsung selesai.
Dia kemudian memberi tahu memilih mencoba meneruskan hubungan. Erika mengangguk, tetapi tidak mengucapkan selamat seperti kabar tanggal pertama.
"Aku berharap pilihan Mas memang yang diinginkan," katanya.
"Aku juga. Dan aku tahu kamu tidak bisa menjamin apa pun hanya karena dulu menemukan foto."
Kalimat itu membuat Erika merasa sedikit lebih ringan. Perannya membawa yang diketahui, bukan memilihkan kehidupan orang lain lalu menanggung hasilnya.
Jo memberikan satu halaman yang telah dikoreksi. Di tepi, ada lelucon pendek tentang dirinya yang selalu mengaku tidak suka mal tetapi hafal tempat makan. Erika tersenyum tanpa direncanakan.
Lelaki itu memperhatikan, lalu ikut mengangkat sudut bibir. Bukan senyum lama yang lepas, tetapi ada bagian hari yang tidak hanya dipenuhi pengakuan dan keputusan sulit.
"Kalimat ini memang lebih baik kalau aku tidak dibuat seperti pahlawan," katanya.
"Aku sudah bilang dari awal, Mas. Tokoh yang makan duluan terus mengeluh jalan jauh itu lebih hidup."
Jo tertawa pendek. Setelah itu mereka kembali bekerja, tanpa menggunakan kehangatan tersebut untuk membuat keadaan pribadi seolah tidak ada.
Erika keluar ketika halaman yang diperlukan selesai. Di koridor, Erika bertemu Ammar yang baru pulang dari makan bersama Iccha. Keduanya datang terpisah dari kendaraan yang dipakai, dan percakapan mereka tidak terdengar seperti pertengkaran.
Iccha menyapa, lalu memberi tahu mereka hanya makan dan berbicara. Tidak ada rencana yang perlu Erika bantu setelahnya.
"Bagus, Mbak. Aku juga ndak mau tahu sebagai penerjemah."
Iccha tertawa kecil. Ammar mengangguk, tidak membalas dengan sindiran.
Perubahan itu belum menjadikan mereka pasangan. Iccha telah menyatakan butuh waktu dan tidak ingin kembali disakiti melalui orang lain. Ammar mendengar tanpa meminta tanggal kapan harus memaafkan.
Malamnya Caca membuka ponsel setelah mengirim kabar kepada keluarganya. Dia menulis bahwa Jo ingin mencoba meneruskan dan mereka akan memeriksa kembali persiapan. Pesan disambut lega, tetapi dia tidak mengirim foto seolah semua telah selesai.
Di antara notifikasi ada satu nomor yang belum dihapus. Aldin menanyakan apakah mereka boleh berbicara sekali sebelum dirinya berhenti menghubungi.
Caca menatap layar. Dia baru saja berjanji tidak ada pertemuan pribadi yang disembunyikan. Kalimat Aldin terdengar seperti akhir, tetapi bisa juga menjadi awal penundaan yang pernah membuat semuanya berjalan terlalu jauh.
Dia mengetik agar tidak menghubungi untuk urusan pribadi, lalu berhenti sebelum mengirim. Jarinya bergerak ke percakapan lama, melihat beberapa kalimat ketika lelaki itu ada pada hari-hari yang tidak dilewati Jo bersama.
Caca mengunci layar. Sesudah beberapa detik, dia membukanya lagi dan mengirim jawaban yang berbeda dari kalimat pertama.
Aku tidak bisa bicara malam ini.
Balasan datang cepat.
Besok masih ada waktu. Aku cuma ingin mendengar langsung.
Caca tidak menjawab. Dia meletakkan ponsel menghadap meja, dekat buku kecil dengan nama Sephia di bagian dalam sampul.
Di rumah Jo, pengingat wawancara telah kembali dinyalakan. Di kamar Erika, naskah baru dibuka pada bagian kenangan yang boleh diteruskan. Beberapa orang sedang mencoba memperbaiki berdasarkan kalimat yang baru saja disepakati.
Namun, di meja Caca, satu pesan masih menunggu jawaban yang belum diketahui siapa pun.