Pagi berikutnya Erika bangun dengan mata bengkak. Iccha tidak mengomentari wajahnya seperti orang yang harus segera dijadikan lucu. Dia hanya memberitahukan air hangat sudah ada jika diperlukan.
Erika berterima kasih, mencuci muka, lalu membuka dua halaman pekerjaan. Tidak ada tulisan baru tentang akhir yang bahagia. Dia memeriksa yang telah dikerjakan, mengirim koreksi kecil, dan berhenti ketika satu paragraf mulai dibaca berkali-kali tanpa dipahami.
Di kantor, Aldin datang sesuai janji. Jo menerimanya tanpa Caca atau Erika. Keduanya duduk di ruang kerja, kali ini ada berkas tugas yang benar-benar harus dibicarakan.
Jo menyatakan urusan pernikahan dan pribadi tidak akan ditangani Aldin lagi. Tugas perusahaan yang telah berjalan perlu diserahkan rapi jika pembagian kerja berubah, tetapi keputusan selanjutnya akan dibicarakan melalui jalur kerja, bukan diumumkan sebagai hukuman kepada pegawai lain.
Aldin membuka daftar yang telah ditulis malam sebelumnya. Ada kontak yang selama ini hanya ada pada ponselnya dan beberapa catatan permintaan Caca. Dia menyerahkan yang memang berkaitan dengan acara, bukan seluruh percakapan pribadi.
Jo memeriksa satu per satu. Jika ada pilihan yang belum disetujui, dia menandai perlu dibicarakan. Dia tidak mengubah semua hanya karena Aldin terlibat dalam pemilihan, tetapi juga tidak membiarkan keputusan terus berjalan karena menganggap sahabatnya sudah tahu selera.
"Yang ini Caca belum memilih," ujar Aldin sambil menunjuk satu contoh.
"Oke. Tulis menunggu."
Tidak ada nada akrab dalam pekerjaan tersebut. Namun, urutan tetap bisa diperiksa dengan baik. Jo meminta penjelasan jika ada rincian yang belum lengkap, dan Aldin menjawab tanpa menganggap pertanyaan kerja berarti diberi kesempatan kembali mengurus pribadi.
Sesudah daftar selesai, Jo menanyakan apakah ada pertemuan yang masih memakai nama Aldin sebagai kontak utama. Lelaki itu menyebut dua, lalu mengatakan akan memberi tahu perpindahan kepada pihak yang memang berkaitan.
"Tidak perlu menjelaskan urusan kita," kata Jo. "Cukup tugasnya sekarang berubah."
Aldin mengangguk. Dia menyatakan tidak akan mengambil kesempatan menghubungi Caca dengan alasan ada satu barang belum diserahkan. Jika ada urusan acara, akan lewat Jo atau pihak yang menangani.
Jo mendengar tanpa mengucapkan terima kasih berlebihan. Itu bukan bantuan istimewa; memang tanggung jawab yang perlu dilakukan setelah peran diubah.
Aldin mendengarkan. Dia menyerahkan kontak penyedia acara, daftar barang yang dipesan, serta catatan yang selama ini disimpan. Tidak ada berkas disembunyikan untuk membuat dirinya tetap dibutuhkan.
"Aku tidak ingin kehilangan pekerjaan juga," katanya setelah beberapa menit.
Jo menatapnya. "Kerjakan tanggung jawab yang ada. Kita bahas pekerjaan sebagai pekerjaan. Tapi jangan meminta hubungan pribadi kembali karena tugasmu selesai."
Aldin mengangguk. Dia menanyakan apakah harus berhenti datang ke rumah. Jo menjawab untuk sementara jangan datang tanpa kebutuhan yang jelas dan pemberitahuan. Erika tetap adiknya; hubungan keluarga boleh diatur langsung, tidak melalui izin berpura-pura menjaga persahabatan.
"Aku tahu kamu memukul karena marah," ujar Aldin.
"Aku sudah mengatakan itu tidak benar. Aku tidak akan memakai kesalahanmu sebagai alasan mengulang."
Kalimat itu tidak membuat mereka lebih akrab. Namun, setidaknya hari itu keduanya membicarakan hal yang bisa dikerjakan, bukan kembali menyusun siapa paling berhak terluka.
Aldin meninggalkan daftar terakhir dan keluar. Di koridor, dia melihat Erika menunggu ruang kerja lain. Adiknya menanyakan apakah sudah makan, seperti dulu ketika semua masih terasa lebih mudah.
"Nanti," jawab Aldin, kemudian menghela napas. "Aku akan makan. Jangan khawatir semua."
Erika mengangguk. Dia belum memberi tahu hubungan dengan Sofyan berakhir. Bukan rahasia yang dipakai menipu, melainkan sesuatu yang belum sanggup dibicarakan kepada kakak di tengah keadaan mereka.
Aldin menanyakan apakah Jo masih memberikan pekerjaan. Erika menjawab iya, sebagian dirapikan sementara wawancara ditunda. Dia tidak meminta kakaknya membela atau mengatur.
"Aku tetap kerja, Mas."
Aldin mengangguk, kemudian pergi. Tidak ada kalimat bahwa semua ini terjadi karena dirinya mendapat tempat yang lebih besar di rumah Jo. Erika bersyukur. Untuk sekali ini mereka boleh berbicara seperti dua saudara yang belum selesai memperbaiki, bukan dua orang yang harus menang.
Menjelang siang, Caca menghubungi Erika. Dia meminta waktu singkat untuk membicarakan sesuatu berkaitan dengan tulisan. Erika menanyakan apakah Jo tahu pertemuan itu, lalu memberi tahu dirinya tidak dapat melanjutkan pekerjaan baru tanpa kesepakatan yang jelas.
Caca mengatakan tidak hendak mengganti proyek. Dia ingin meminta bantuan menulis surat kepada Jo.
Erika memandang layar cukup lama. Permintaan itu terdengar sederhana, tetapi berada tepat di bagian hidup yang baru saja berubah karena kata-kata yang tidak lengkap.
Mereka bertemu di tempat duduk terbuka dekat ruang depan kantor. Erika tidak datang dengan kamera atau buku batik. Dia membawa catatan pekerjaan hanya jika memang ada bagian naskah yang perlu dibahas.
Caca terlihat lebih lelah dari saat wawancara terakhir. Dia membuka buku kecil, menunjukkan beberapa kalimat yang telah ditulis dan dicoret.
"Aku tidak tahu bagaimana membuat dia mengerti," katanya. "Kamu bisa menulis lebih baik."
Erika mendengarkan. Wanita itu menjelaskan ingin meminta kesempatan tanpa terdengar hanya membela diri. Dia menawarkan membayar waktu kerja tambahan jika perlu.
Erika menggeleng pelan. "Aku ndak ingin menuliskan perasaan Mbak kepada Mas Jo sebagai pengganti yang seharusnya Mbak sampaikan sendiri."
Caca mengangkat wajah. "Aku tetap akan membaca dan menyetujui."
"Aku mengerti. Tapi kali ini Mas Jo membutuhkan kata-kata Mbak, termasuk bagian yang belum rapi. Bukan kalimatku yang terdengar seperti Mbak sudah tahu semua."
Wanita itu menutup buku setengah. Ada kecewa di wajahnya. Dia menanyakan apakah Erika sekarang membencinya.
Erika menarik napas. "Aku kecewa dengan yang terjadi. Tapi aku ndak datang untuk membenci. Aku cuma ndak mau menambah hal yang membuat Mas Jo merasa mendengar Mbak, padahal aku yang mengatur kata-katanya."
Caca menatapnya cukup lama. Setelah itu dia menanyakan apakah tulisan novel yang sudah dibuat juga akan ditinggalkan. Erika menjelaskan pekerjaan itu berbeda: memang dipesan dengan narasumber dan koreksi yang disepakati, bukan surat pribadi yang dibutuhkan di tengah kepercayaan retak.
"Aku tetap bisa merapikan bagian cerita yang telah disetujui. Keputusan lain perlu dibicarakan sama Mas Jo."
Caca mengangguk. Dia mengaku takut setiap kata yang salah akan membuat Jo memilih pergi. Erika tidak berjanji surat yang bagus bisa mencegahnya.
"Mbak boleh bilang takut. Tapi Mas Jo juga boleh menerima dengan perasaan yang belum baik."
Wanita itu mengusap wajah, lalu membuka lagi buku. Dia menulis satu kalimat pendek bahwa dirinya ingin memperbaiki tanpa meminta Jo langsung percaya.
Erika tidak mengoreksi menjadi lebih manis. Kalimat itu dapat berdiri sendiri dengan suara Caca. Mereka berhenti setelah sepakat pertemuan tidak akan digunakan membuat cerita baru tentang apa yang sudah terjadi.
Caca menunjukkan satu kalimat yang ditulis sejak malam: dia menyebut ingin Jo mengetahui bahwa dirinya tidak berniat membuat semua hancur. Erika mendengarkan, lalu mengatakan niat tersebut boleh ditulis, tetapi tidak perlu dipakai sebagai alasan agar akibatnya lebih kecil.
"Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya tanpa terdengar membela," ujar Caca.
"Mungkin karena masih ingin menjelaskan dulu kenapa terjadi. Mas Jo juga perlu mendengar apa yang Mbak lakukan sekarang."
Wanita itu memandang buku. Dia menyusun ulang dengan tangannya sendiri, tidak meminta Erika mendikte. Ada kalimat yang diganti dan satu bagian yang dicoret karena menjanjikan perasaan sudah selesai, padahal kemarin belum diucapkan begitu.
"Aku tidak ingin menulis sesuatu yang membuatku kelihatan lebih siap daripada keadaan sebenarnya," katanya.
Erika mengangguk. Dia tidak memuji surat itu sebagai tanda hubungan akan selamat. Ada tulisan yang jujur tanpa memberi hasil yang pasti.
Caca kemudian menanyakan apakah Jo pernah meminta Erika menuliskan bagian yang terlalu sempurna. Penulis tersebut menjawab mereka biasa mengoreksi agar cerita sesuai kenangan. Pertemuan, lelah di mal, atau pertengkaran kecil memang perlu ditulis seperti yang disampaikan, bukan semua orang dibuat selalu benar.
Wanita itu tersenyum tipis. Dia pernah menganggap novel hanya hadiah romantis yang akan membuat tamu ikut bahagia. Sekarang buku tersebut justru memperlihatkan betapa sulit menyusun harapan ketika bagian hidup lain belum dibicarakan.
"Aku ingin nanti membaca yang sudah ada," katanya.
"Boleh dibicarakan sama Mas Jo. Aku ndak akan menyembunyikan hasil pekerjaan, tapi keputusan pembacaan dan koreksi tetap perlu jelas."
Caca menerima. Pertemuan itu tidak menghasilkan surat indah dari penulis lain. Ia akan pulang dengan beberapa kalimat yang masih canggung, tetapi tidak lagi berusaha memakai keterampilan Erika untuk melewati bagian yang seharusnya dijalani sendiri.
Sebelum berpisah, Caca mengatakan dirinya pernah ingin marah kepada Erika yang membawa foto. Dia tidak lagi menyatakan hal itu sebagai alasan yang harus dipahami.
"Aku tahu yang terjadi bukan karena kamu melihat," katanya.
Erika mengangguk. Dia menerima kalimat itu tanpa menyatakan semuanya selesai. Kehadiran di foto tetap keputusan Caca dan Aldin, sedangkan akibatnya sedang ditanggung orang lain juga.
Caca memandangi satu halaman yang penuh coretan. Dia sempat ingin merobek, lalu berhenti. Kertas itu menunjukkan bagaimana beberapa kalimat selalu kembali berusaha membuat dirinya lebih mudah dimaafkan.
"Aku menulis kamu pasti tahu aku tidak seperti itu," katanya sambil menunjuk.
Erika mendengarkan tanpa membacakan pilihan lain.
"Padahal dia baru tahu aku melakukan itu," lanjut Caca. "Kalimatnya jadi meminta dia mengingat yang baik supaya yang kemarin tidak terlalu nyata."
Wanita itu mencoret dengan satu garis, bukan menghilangkan halaman. Dia lalu menuliskan bahwa dirinya memahami Jo belum percaya dan tidak akan memaksa surat langsung diberi jawaban.
Ada jeda panjang setelah kalimat selesai. Caca memegang pena, melihat orang lewat, lalu kembali pada buku. Erika membiarkan. Tidak semua keheningan perlu diisi dengan saran penulis.
"Aku takut dia membaca lalu tetap pergi," kata Caca.
"Itu memang mungkin," jawab Erika pelan. "Aku ndak bisa membantu menulis supaya pilihan itu tidak boleh ada."
Caca mengangguk. Dia tidak terlihat senang mendengar, tetapi tidak lagi menawarkan pembayaran tambahan seolah keterampilan bisa membeli hasil.
Setelah beberapa menit, wanita itu menutup buku. Surat belum selesai. Dia akan melanjutkan sendiri di rumah, tanpa mengirim setiap kalimat untuk dinilai apakah cukup membuat Jo bertahan.
Erika merapikan catatan pekerjaan yang sama sekali belum dipakai. Pertemuan tersebut tidak menghasilkan tugas baru, tetapi setidaknya batasnya telah dibicarakan. Dia masih bisa mendengar seseorang yang takut, tanpa menjadi orang yang menyusun ketakutan itu menjadi janji yang belum tentu benar.
Di rumah sore itu, Kiki menerima pesan Tama. Lelaki itu menanyakan barang yang masih tertinggal dan menawarkan bertemu langsung agar sekalian bicara. Kiki membaca beberapa kali sebelum membawa ponsel ke Lina.
"Kalau barangnya dikirim, perlu ketemu?"
Lina menggeleng. "Kalau cuma barang, bisa diatur. Kamu sendiri mau ketemu?"
Kiki menatap layar. Dia mengakui sebagian dirinya ingin, tetapi tidak tahu apakah setelahnya justru kembali menunggu. Lina tidak memilihkan. Dia hanya menyatakan barang tidak perlu dijadikan alasan untuk pertemuan yang belum ingin dilakukan.
Kiki akhirnya meminta barang dikirim ke penjaga rumah setelah dikemas, dengan daftar agar tidak ada yang tertinggal. Tidak ada ucapan kasar untuk membuat diri terlihat kuat.
Sesudah pesan terkirim, dia duduk dan menghela napas. Lina menawarkan teh. Kiki menerima, lalu menggumam jangan membuatnya seperti orang sakit.
"Teh itu boleh diminum orang yang sedang biasa saja," jawab Lina.
Kiki hampir tersenyum. Dia belum meminta maaf atas semua hal yang pernah dikatakan tentang Mommy. Namun, sore itu dia tidak lagi menjauh hanya karena adiknya duduk di kursi sebelah.
Di kantor Ammar, Iccha menyelesaikan dokumen sebelum jadwal terakhir. Lelaki itu meminta izin menanyakan apakah dia bersedia makan bersama akhir pekan, tanpa Arya atau Erika disebutkan.
Iccha memandangnya. "Aku belum memutuskan. Kalau mau, aku kabari. Jangan mengubah kerja kalau jawabannya tidak."
Ammar mengangguk. "Gue tidak akan."
Dia kembali ke berkas. Iccha menunggu sesaat, melihat tidak ada sindiran berikutnya. Pertanyaan itu baru undangan, bukan cara membuat dirinya harus menjelaskan semua perasaan saat itu juga.
Malamnya Caca menyerahkan surat yang ditulis sendiri kepada Jo. Mereka bertemu sebentar di rumah keluarga, bukan di depan Erika. Wanita itu tidak meminta surat dibaca keras-keras atau langsung dibalas.
Jo membaca setelah dia pergi. Ada kalimat yang tidak rapi, ada bagian yang berulang, dan satu pengakuan bahwa dirinya sempat membiarkan kebingungan menjadi alasan memilih diam.
Dia tidak merasa surat itu cukup mengembalikan rasa aman. Namun, setidaknya tidak terdengar seperti kalimat yang dirancang orang lain untuk membuatnya terlihat kejam bila belum memaafkan.
Jo meletakkan surat di meja dan menelepon Caca. Dia meminta pertemuan lagi beberapa hari ke depan, bukan untuk membicarakan foto yang sama, melainkan pilihan apa yang benar-benar ingin dilakukan setelah semua diketahui.
Caca menyatakan bersedia. Sebelum telepon berakhir, Jo mengatakan kesempatan berbicara bukan janji pernikahan tetap berlangsung. Wanita itu menerima dengan suara lebih pelan.
Di kamar, Erika menerima pesan Jo yang hanya menanyakan apakah Caca tadi meminta bantuan menulis. Dia menjawab ada pertemuan dan telah menolak menuliskan surat pribadi, tanpa merendahkan permintaan tersebut.
Jo berterima kasih karena memberi tahu. Tidak ada tuntutan penulisnya menilai apakah surat Caca cukup tulus.
Erika menutup layar dan kembali membaca paragraf pekerjaan. Kali ini huruf lebih mudah diikuti. Ada batas yang berhasil dijaga tanpa kehilangan seluruh kesediaan mendengar.
Dia menyimpan berkas, lalu mematikan laptop sebelum terlalu larut. Ponsel Sofyan tidak akan berbunyi pada jam biasa, dan ruangan kosong itu masih terasa. Namun, malam ini dia tidak mencoba mengisinya dengan pekerjaan sampai habis tenaga.