Erika menerima pesan Sofyan saat sedang memeriksa dua halaman tulisan. Lelaki itu meminta menelepon lebih awal karena malam nanti harus kembali bekerja. Dia membalas bisa setelah menutup berkas, lalu menuliskan waktu agar percakapan tidak kembali saling menunggu.
Selama beberapa menit, Erika hanya menatap layar laptop. Ada paragraf yang sudah tiga kali dibaca tanpa dikoreksi. Dia akhirnya menyimpan, mengirim bagian selesai kepada Jo sesuai kesepakatan, dan membawa ponsel ke teras yang lebih sepi.
Sofyan menerima setelah nada sambung kedua. Wajahnya terlihat lelah, tetapi dia tersenyum ketika melihat Erika.
"Kamu sudah makan, Nduk?"
"Sudah. Mas juga?"
Mereka membicarakan pekerjaan sebentar. Sofyan menyebut perubahan jadwal dan rencana kunjungan yang belum bisa dipastikan. Erika menjelaskan penulisan sementara lebih banyak merapikan bagian yang ada.
"Mas Jo masih mau pernikahannya dilanjutkan?" tanya Sofyan.
Erika menarik napas. Dia pernah memberi tahu ada persoalan yang memengaruhi pekerjaan, tetapi tidak semua pengakuan dibagikan. Dia menjawab keputusan belum ada dan urusan pribadi tidak ingin dijelaskan tanpa kebutuhan.
Sofyan mengangguk, lalu mengatakan dirinya ingin membicarakan hubungan mereka sendiri. Erika menegakkan tubuh. Setidaknya kali ini arah percakapan tidak dimulai dari siapa yang ada di rumah tempat kerjanya.
"Aku sudah memikirkan yang kamu bilang kemarin," ujar Sofyan. "Soal tetap menulis dan tidak ingin tempat tinggal langsung diputuskan."
"Nggih."
"Aku memang ingin tinggal di Semarang. Pekerjaan dan keluarga ada di sini. Kalau nanti menikah, aku tidak bisa berjanji pindah begitu saja."
Erika mengangguk. Itu bukan tuntutan yang salah. Sofyan punya hidup yang telah dibangun, sama seperti dirinya ingin punya kesempatan menentukan.
"Aku mengerti, Mas. Aku juga belum mengatakan harus pindah ke Jakarta. Aku cuma belum siap menjanjikan semua keputusan sekarang."
Sofyan memandang layar. "Tahun depan yang kubicarakan itu bukan besok. Aku pikir cukup waktu untukmu menyelesaikan pekerjaan."
"Pekerjaan ini selesai bukan berarti aku berhenti ingin menulis atau mencari kesempatan lain."
"Aku tidak menyuruh berhenti menulis. Kamu bisa menulis di mana saja."
Erika diam sebentar. Kalimat itu sebagian benar. Banyak pekerjaannya memang dapat dilakukan dari rumah. Tetapi yang ingin dibicarakan bukan hanya tempat laptop dibuka; dia ingin rencana setelah kontrak selesai tidak selalu dianggap harus kembali ke hidup yang sudah dipilih orang lain.
"Mas, aku ingin menentukan bersama. Kalau aku nanti menemukan pekerjaan lain, aku ingin kita bicara. Bukan langsung dianggap aku berubah atau menjauh."
Sofyan mengusap wajah. Dia mengatakan selama ini menunggu bukan sesuatu yang dilakukan ringan. Mereka sudah saling mengenal, keluarga berharap, dan rencana lamaran bukan sekadar kalimat agar Erika cepat menurut.
Erika mendengarkan sampai selesai. Dia tidak ingin keinginannya punya ruang membuat perasaan Sofyan terdengar kecil.
"Aku tahu Mas serius. Itu yang membuat aku harus jujur. Aku belum siap untuk rencana menikah tahun depan."
Wajah Sofyan berubah. Bukan kemarahan besar, melainkan sesuatu yang sejak lama ditahan akhirnya disebutkan.
Sofyan menjelaskan yang selama ini dibayangkan. Dia ingin tinggal cukup dekat dengan kedua keluarga, mengatur hari libur, dan mempunyai rumah yang bisa dipakai Erika menulis. Bukan rencana yang buruk atau cara sengaja mengurung.
Erika mendengarkan dan mengakui dirinya pernah ikut membayangkan hal tersebut. Ada masa ketika semua terdengar tenang: pulang kerja, menulis, lalu menemui Ibu tanpa jarak kota. Tetapi sekarang kesempatan yang baru dikenalnya membuat dirinya belum ingin memilih satu bentuk hidup secara tetap.
"Kalau rencana Mas memang baik, aku takut terdengar tidak bersyukur karena belum mau," katanya.
Sofyan menggeleng. "Aku tidak meminta kamu bersyukur kepadaku untuk menikah. Aku meminta tahu apakah kamu menginginkan yang sama."
Kalimat itu membuat Erika diam. Di antara percakapan yang kadang terasa seperti keputusan sudah dibuat, ada pertanyaan yang sebenarnya adil. Sofyan ingin tahu apakah mereka berjalan ke arah sama.
"Aku belum menginginkan itu sekarang," jawabnya akhirnya.
Sofyan menerima dengan wajah yang lebih sedih. Dia menanyakan apakah enam bulan setelah kontrak cukup untuk berpikir. Erika hampir menjawab mungkin, lalu berhenti. Memberikan waktu baru hanya agar malam ini tidak berakhir buruk akan mengulang yang sejak awal membuat mereka saling khawatir.
"Aku ndak bisa menjanjikan setelah kontrak selesai aku langsung siap. Aku ingin jujur daripada membuat Mas menunggu satu tanggal lagi."
Sofyan mengangguk, tetapi beberapa detik berikutnya tidak bicara. Erika membiarkan. Dia berhak kecewa tanpa diminta segera memahami hanya karena kalimat tersebut diucapkan dengan tenang.
"Aku sudah pernah menabung untuk rencana kita," katanya pelan.
Erika menunduk. Dia tahu, dan tidak menganggapnya kecil. Mereka membicarakan bagaimana rencana itu tidak perlu diteruskan hanya untuk membenarkan usaha yang sudah dilakukan. Sofyan menyatakan akan mengaturnya sendiri, tidak meminta Erika merasa mempunyai utang untuk tetap tinggal.
"Aku tidak ingin membuat kamu memilih karena kasihan," ujarnya.
Erika menangis lebih deras. Ada banyak hal baik dalam dirinya, dan perpisahan tidak boleh mengubah itu menjadi cerita bahwa lelaki tersebut selalu salah sejak awal.
"Belum siap atau tidak mau denganku?"
Erika menatap layar. Pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan bercanda tentang pernikahan yang masih jauh seperti saat di Kota Tua.
"Aku belum tahu apakah aku bisa memberi hubungan yang Mas harapkan."
Sofyan menunduk. Di belakangnya terdengar seseorang memanggil, tetapi dia meminta waktu sebentar. Ketika kembali memandang layar, senyumnya tidak ada.
"Aku tidak bisa terus menunggu jawaban mungkin, Nduk."
Erika mengangguk. Dia baru melihat Kirana meminta waktu yang jelas dan tidak ingin memindahkan persoalan yang sama kepada orang lain hanya karena dirinya sekarang berada di sisi yang belum siap.
"Mas boleh punya batas. Aku ndak akan meminta menunggu sambil menjanjikan sesuatu yang belum bisa kuberi."
"Ada orang lain?"
Erika menjawab tidak. Dia tidak menggunakan kesibukan Jo atau kedekatan di rumah untuk menghindari. Perasaannya sendiri telah berubah bentuk, sebagian karena pengalaman, sebagian karena baru berani mendengar apa yang sebenarnya diinginkan.
"Aku ndak sedang memilih lelaki lain, Mas. Aku sedang menyadari rencana kita mungkin ndak sama lagi."
Sofyan memandangnya lama. Dia menanyakan apakah rencana pura-pura dekat dengan Ammar pernah mengubah perasaan. Erika mengakui rencana itu menyakiti kepercayaan, tetapi tidak ada hubungan yang sedang disembunyikan di belakangnya.
"Aku salah ikut dan terlambat cerita. Kalau Mas masih kecewa, aku terima. Tapi aku ndak ingin semua keinginanku punya pekerjaan sendiri dianggap hanya karena ada lelaki di sini."
Sofyan mengangguk setelah jeda. Dia mengatakan tidak merasa bersalah ingin kepastian. Erika menyatakan dia memang tidak salah.
Justru karena tidak ada satu orang yang sepenuhnya salah, percakapan itu lebih sulit. Mereka tidak dapat memilih satu kejadian buruk untuk dijadikan alasan cepat berhenti.
"Kalau kita meneruskan seperti ini, aku akan terus berharap kamu akhirnya mau," kata Sofyan. "Kamu akan terus takut bilang tidak."
Air mata Erika mulai jatuh. Dia mengusap pipi dengan tangan yang bebas dari ponsel.
"Aku ndak mau melakukan itu kepada Mas."
Sofyan menarik napas panjang. Dia tidak menawarkan datang mendadak supaya jawaban berubah. Tidak ada tuntutan memanggil Ibu malam itu untuk meyakinkan keduanya.
Mereka membicarakan beberapa hal dengan pelan: rencana memberi kabar keluarga, waktu yang perlu diambil agar tidak terus menelepon hanya untuk menenangkan rasa kehilangan, dan barang kecil yang tidak harus segera dikembalikan.
Sofyan akhirnya mengatakan hubungan mereka sebaiknya berhenti jika Erika belum dapat memilih rencana bersama yang diharapkan. Dia tidak menyebutnya ancaman.
Erika mengangguk sambil menangis. "Aku terima, Mas. Aku minta maaf karena selama ini terlalu sering menjawab nanti."
"Aku juga minta maaf kalau membuatmu merasa semua sudah ditentukan. Aku cuma takut kehilangan."
Kalimat itu membuat Erika menutup mata. Dia masih punya rasa sayang. Perpisahan bukan bukti seluruh kedekatan dulu salah, tetapi tidak cukup menjadi alasan menjanjikan tahun depan demi membuat hari ini terasa aman.
Mereka mengucapkan salam sebelum panggilan berakhir. Tidak ada kata-kata kasar, tidak ada janji langsung menjadi teman dekat. Sofyan meminta waktu tanpa percakapan yang terlalu sering, dan Erika menyetujui.
Layar gelap. Erika duduk di kursi teras sampai matahari bergerak dari sisi meja. Dia tidak ingin mengumumkan kejadian kepada seluruh rumah atau segera kembali menulis seolah tidak terjadi.
Iccha menemukannya ketika pulang. Wanita itu berhenti di pintu teras, melihat mata merah, lalu menanyakan apakah ingin ditemani.
Erika mengangguk. Iccha duduk di kursi sebelah dan tidak langsung bertanya tentang Jo atau Aldin.
"Aku sama Mas Sofyan berhenti," kata Erika setelah beberapa menit.
Iccha menarik napas pelan. "Baru tadi?"
"Iya. Rencana kami ndak sama, dan aku belum bisa memberi yang dia tunggu."
Wanita itu mengangguk. Tidak ada komentar bahwa Erika kini bebas mencari CEO atau hidup pasti segera lebih baik. Dia mengambil air dan menunggu sampai temannya mau minum.
"Lo boleh sedih walau merasa keputusan ini perlu," katanya.
Erika mengusap mata. "Aku takut aku cuma orang yang berubah setelah dibantu datang ke sini."
"Lo memang berubah. Pertanyaannya apa lo sudah jujur atau masih membiarkan orang menunggu. Hari ini lo jujur."
Erika menerima, meskipun belum merasa kalimat itu dapat membuat dadanya ringan. Dia berterima kasih dan meminta tidak dibicarakan kepada Ammar. Iccha mengangguk, tidak menjadikan rahasia tersebut bahan hubungan orang lain.
Iccha menanyakan apakah Erika ingin menyimpan sesuatu yang membuatnya terlalu sering memeriksa ponsel. Wanita itu menunjukkan pengingat panggilan, lalu mematikannya sendiri.
"Aku belum mau menghapus semua percakapan," katanya.
"Nggak harus. Yang penting jangan setiap kalimat lama dipakai memaksa diri menunggu lagi."
Erika mengangguk. Dia memindahkan ponsel ke meja, bukan menyembunyikan di tempat yang tidak bisa dijangkau. Masih ada kabar Ibu dan pekerjaan yang perlu diterima. Satu hubungan berakhir tidak membuat seluruh alat kehidupan harus disingkirkan.
Mereka duduk sampai gelas air habis. Iccha kemudian menanyakan apakah Erika ingin mandi dulu sebelum makan. Tawaran tersebut sederhana, tetapi membuat sore kembali punya urutan: mencuci muka, berganti pakaian, mengisi perut. Tidak ada kewajiban langsung memahami semua perasaan.
Erika memilih mandi. Ketika kembali, dia memang belum lebih bahagia. Namun, tubuhnya sedikit lebih tenang, dan dia dapat menelepon Ibu tanpa terus menarik napas yang terputus-putus.
Malamnya Erika menelepon Bu Mei. Dia memberi tahu lebih dulu hubungan dengan Sofyan berakhir, supaya ibunya tidak mendengar dari orang lain dan mengira ada cerita yang sengaja disembunyikan.
Bu Mei diam beberapa saat sebelum menanyakan apakah mereka bertengkar. Erika menjelaskan tanpa menjadikan Sofyan lelaki yang tidak mengerti. Mereka sama-sama punya harapan, tetapi tidak bisa menjanjikan yang dibutuhkan satu sama lain.
"Ibu tentu sedih," kata Bu Mei. "Tapi Ibu tidak mau kamu menikah cuma supaya semua orang tidak kecewa."
Erika menangis lagi. Dia meminta maaf karena kabar dari Jakarta belakangan selalu berat. Ibunya mengingatkan rumah bukan tempat yang hanya menerima cerita berhasil.
Bu Mei juga menanyakan apakah Sofyan tahu Erika telah memilih memberi kabar kepada Ibu. Dia menjawab sudah disampaikan mereka akan bicara kepada keluarga masing-masing tanpa menyalahkan sepihak.
"Ibu boleh bicara dengannya kalau dia menghubungi," ujar Erika. "Tapi aku ndak ingin Ibu membujuk dia menunggu karena aku belum yakin."
Bu Mei mengiyakan. Dia mengatakan mengenal Sofyan sebagai orang baik, tetapi kebaikan tidak membuat dua orang harus melanjutkan jika harapannya berbeda. Erika tidak perlu membuatnya terlihat buruk agar pilihan sendiri dapat dimengerti.
"Aku juga masih sayang, Bu."
"Ibu tahu. Sayang dan kesiapan kadang tidak datang di tempat yang sama."
Erika menyeka pipi. Dia belum merasa lega, dan Bu Mei tidak menuntut. Percakapan kemudian bergerak ke kabar rumah, makanan yang dimasak, serta tanaman yang baru dipindahkan. Hal-hal biasa itu membuat Erika kembali mengingat masih ada kehidupan yang tidak hilang karena hubungan berakhir.
Sebelum menutup telepon, ibunya meminta dia tidur cukup. Besok boleh sedih lagi, boleh bekerja sedikit, boleh menelepon tanpa harus membawa kabar baru. Tidak ada tugas untuk segera menjadi anak yang kuat agar orang rumah tidak ikut khawatir.
Erika berterima kasih. Dia meletakkan ponsel setelah panggilan selesai, lalu duduk sampai napas lebih tenang. Untuk beberapa menit, ia tidak merasa perlu menjelaskan keputusan kepada siapa pun lagi.
Setelah panggilan, dia mencuci muka dan masuk ke dapur untuk mengambil makanan. Jo ada di sana, berdiri dekat kulkas dengan piring kosong. Mereka saling memandang, dua orang yang sama-sama belum tahu bagaimana membuat hari kembali biasa.
"Kamu habis menangis?" tanya Jo.
Erika mengangguk. "Aku baru bicara sama Mas Sofyan. Hubungan kami berhenti."
Jo tidak langsung bertanya alasan. Dia meletakkan piring dan mengambil gelas untuk dirinya sendiri, lalu menunjukkan kursi jika Erika mau duduk.
"Aku tidak tahu harus bilang apa," katanya.
"Ndak harus bilang apa-apa, Mas."
Mereka duduk dengan makanan yang belum banyak disentuh. Tidak ada kedekatan baru yang langsung menggantikan orang yang hilang. Namun, keheningan kali itu terasa berbeda dari menunggu jawaban yang terus ditunda.
Jo menanyakan apakah Erika perlu sehari tanpa tugas. Dia menjawab ingin tetap merapikan sedikit tulisan, tetapi mungkin lebih lambat. Jo menerima dan meminta pekerjaan tidak dipakai menutupi kebutuhan tidur.
Erika tersenyum tipis. Setelah beberapa suap, dia pamit kembali ke kamar. Jo mengangguk tanpa menahannya atau menawarkan menjadi satu-satunya orang yang memahami.
Di atas, ponsel tidak lagi menunggu panggilan Sofyan pada jam biasa. Erika mematikan pengingat yang telah disepakati beberapa hari lalu, lalu meletakkannya di meja.
Malam itu dia kehilangan satu rencana tentang masa depan. Untuk pertama kali, dia tidak buru-buru menggantinya dengan rencana lain hanya supaya ruang kosong terasa lebih mudah ditanggung.