Jo menatap tiga kursi itu sampai Lina masuk untuk mengambil cangkir. Dia menanyakan apakah ingin meja dibereskan atau dibiarkan. Pertanyaan sederhana membuat Jo akhirnya mengangkat wajah.
"Bereskan saja. Aku pindah ke ruang kerja."
Lina mengangguk. Dia tidak bertanya bagaimana hasil pertemuan karena sebagian sudah terdengar dari suara tadi. Ketika Jo berdiri, dia melihat bekas merah pada tangan dan menawarkan es yang dibungkus kain.
Jo menerima tanpa mengatakan tidak sakit. Dia sendiri yang membuat tangannya terkena akibat, bukan orang yang patut dipuji karena marah.
Di ruang kerja, Daddy menunggu beberapa menit sebelum meminta bicara. Ammar telah berangkat ke kantor setelah memastikan keadaan tenang. Keluarga tidak perlu berhenti bekerja sepanjang hari, tetapi Jo boleh mengambil waktu yang memang dibutuhkan.
"Ayah Caca akan datang," kata Daddy.
Jo memandangnya. "Hari ini?"
"Dia menelepon setelah Caca sampai rumah. Aku bilang boleh datang sore, kalau kamu bersedia."
Jo berpikir sejenak, lalu mengangguk. Menunda satu pertemuan mungkin membantu beristirahat, tetapi keluarga telah terlibat dalam keputusan tanggal. Dia tidak ingin mereka menerima cerita yang berbeda terlalu lama.
"Aku mau bicara sendiri. Dad boleh ikut, tapi jangan memilihkan keputusan."
Daddy menyetujui. Dia hanya meminta Jo tidak mengulangi tindakan pagi tadi. Pembicaraan dengan Frans bukan tempat melepaskan kemarahan yang masih tersisa kepada orang yang baru mendengar.
Jo mengangguk. Sesudah ayahnya keluar, dia mengirim pesan kepada Aldin bahwa perlu bertemu khusus mengenai pekerjaan besok. Bukan pertemuan yang menggantikan urusan pribadi, dan tidak perlu membawa Caca.
Aldin membalas akan datang. Jo menatap layar cukup lama, lalu menulis satu kalimat lagi: pukulan tadi tidak seharusnya dilakukan.
Tidak ada kalimat jika kamu tidak membuatku marah. Permintaan maaf atas tindakan sendiri tidak memerlukan Aldin lebih dulu mengakui semua yang lain sekali lagi.
Aldin membalas bahwa dia mendengar. Tidak ada persahabatan yang langsung pulih dari dua pesan tersebut.
Jo kemudian membuka daftar persiapan acara. Beberapa pekerjaan sudah dibayar, sebagian baru penawaran, dan ada keputusan yang belum ditandatangani. Dia menandai yang bisa ditunda sementara sampai setelah pembicaraan keluarga.
Erika masuk setelah mengetuk. Dia membawa dua halaman yang dikerjakan kemarin, tetapi tidak langsung menyerahkan ke meja.
"Mas mau berkas pekerjaan disimpan saja?"
"Iya. Tapi aku perlu memastikan upah dan tugasmu tidak ikut berubah cuma karena aku marah."
Erika menatapnya. Lelaki itu meminta daftar bagian yang telah selesai dan bagian yang belum. Dia tidak menyatakan kontrak batal atau menyuruh penulisnya mengembalikan seluruh proses yang telah dikerjakan.
"Aku tetap bekerja kalau ada yang harus dirapikan, Mas."
"Rapikan yang sudah ada. Jangan menulis akhir bahagia yang belum terjadi. Untuk yang lain, kita bicara setelah aku tahu mau bagaimana."
Erika mengangguk. Kalimat tersebut bukan keputusan akhir mengenai buku, tetapi cukup jelas agar dia tidak menebak apakah berhenti menulis berarti dianggap meninggalkan pekerjaan.
Erika menyiapkan daftar bagian tulisan tanpa memasukkan urusan pribadi. Adegan pertemuan, perjalanan, dan percakapan yang telah disetujui ditandai selesai. Harapan setelah menikah serta susunan bab akhir tetap menunggu.
Dia juga menuliskan waktu yang diperlukan untuk membaca ulang. Jo melihat daftar tersebut dan bertanya apakah beberapa hari kemarin membuat tugas tertinggal terlalu jauh.
"Ada yang lebih lambat, Mas. Tapi aku ndak mau menebak akhir supaya terlihat sudah selesai."
"Jangan. Kalau aku perlu mengubah rencana, aku akan mengatakan."
Erika mengangguk. Kejelasan itu membantu lebih banyak daripada janji pekerjaan pasti tetap berjalan tanpa rincian. Dia dapat merapikan yang ada dan menyimpan salinan dengan aman, tanpa memaksa menulis setiap kali hidup narasumber berubah.
Jo menandai dua halaman untuk dibaca setelah pikirannya lebih tenang. Bukan hari itu. Erika membawa kembali yang lain dan menjelaskan tidak akan mengirim kepada keluarga atau Caca tanpa persetujuan pekerjaan.
"Terima kasih," kata Jo.
Kalimat tersebut singkat, tetapi tidak terdengar seperti ucapan kepada orang yang baru dijadikan tempat menyimpan semua masalah lagi.
Dia meletakkan daftar di sisi meja dan hendak keluar. Jo memanggil sekali lagi.
"Al bilang kamu berubah?"
Erika terdiam sebentar. "Pagi kemarin, iya."
"Dia juga berubah. Aku cuma terlalu sibuk melihat bagian yang tetap rapi."
Erika tidak menjawab dengan mengatakan seharusnya Jo lebih peka. Dia sendiri pernah membutuhkan waktu untuk mengakui apa yang telah dilihat.
"Mas boleh kecewa tanpa merasa semua yang baik dulu palsu," katanya pelan.
Jo menatapnya. "Aku belum pandai memisahkan."
Erika mengangguk. Dia tidak menawarkan segera membuat bagian hidup itu menjadi lebih mudah. Ada kalimat yang hanya perlu didengar sebagai keadaan saat ini.
Sore itu Frans datang tanpa Caca. Daddy menyambut di ruang keluarga sebelum mereka menuju tempat yang lebih tenang. Tidak ada makanan banyak disiapkan seperti perayaan keluarga; hanya air dan beberapa cangkir.
Frans menanyakan apakah Jo benar-benar memukul Aldin. Lelaki itu mengakui dan menyatakan sudah meminta maaf atas tindakannya, tanpa menghapus alasan persoalan yang harus dibicarakan.
"Aku tidak membenarkan pukulan," katanya. "Tapi Caca juga sudah mengakui kedekatan yang disembunyikan. Itu tidak boleh hilang dari pembicaraan."
Frans mengangguk, meskipun wajahnya keras. Dia mengatakan putrinya menangis dan merasa takut kehilangan Jo. Menurutnya, kedekatan itu terbentuk karena terlalu banyak urusan diserahkan kepada Aldin.
Jo mendengarkan, lalu meletakkan gelas.
"Aku memang kurang hadir. Aku bertanggung jawab atas itu. Tapi aku tidak memilih mereka menyembunyikan hubungan."
Frans memandang Daddy, seolah mengharapkan kalimat yang akan membuat calon menantunya lebih lunak. Daddy tidak langsung mengisi keheningan.
"Jo perlu mendengar lengkap," katanya. "Begitu juga kita."
Frans mengusap wajah. Dia menyebut tanggal yang sudah dibicarakan, kerabat yang mulai diberi tahu, serta nama keluarga yang akan terkena akibat jika acara mendadak berubah.
Jo merasakan dada kembali panas. Pagi tadi dia menahan pukulan tidak terulang; sore ini yang harus ditahan keinginan berteriak agar semua orang berhenti mengukur luka dengan jumlah tamu.
"Aku juga bagian dari keluarga yang namanya disebut, Om," jawabnya. "Kalau aku menjalankan karena takut orang bertanya, itu bukan kesiapan menikah."
Frans diam. Setelah beberapa detik, dia menanyakan siapa yang pertama membawa foto.
Jo mengatakan Erika, berdasarkan kejadian yang disaksikan dan akhirnya diakui Caca serta Aldin. Frans menatapnya lebih tajam.
"Penulis yang bekerja untukmu itu? Kenapa dia sampai ikut urusan pribadi?"
Jo langsung menegakkan tubuh. "Karena kakaknya terlibat dan Kirana meminta penjelasan. Tapi foto itu bukan alasan Caca ada di sana. Caca sendiri yang mengakui."
"Kadang orang luar tidak memahami hubungan keluarga."
"Kalau tidak ada foto, kejadiannya tetap ada. Jangan membuat orang yang menyampaikan jadi penyebabnya."
Daddy mengangguk dan meminta pembicaraan tidak berubah menjadi perkara pekerja yang tidak hadir untuk menjawab. Frans menghela napas, lalu menerima bahwa dirinya perlu kembali kepada pengakuan putrinya sendiri.
Dia menanyakan apa yang Jo inginkan sekarang. Pertanyaan itu akhirnya terasa lebih nyata daripada daftar siapa yang mungkin malu.
Jo mengatakan belum mengambil keputusan pernikahan. Dia membutuhkan beberapa hari tanpa pengeluaran baru yang besar atau pengumuman tambahan. Urusan yang terikat akan diperiksa dan dibicarakan baik-baik, tetapi tidak akan diteruskan semata-mata untuk membuat semua tampak normal.
Frans meminta kesempatan untuk Caca menjelaskan serta memperbaiki. Jo menjawab kesempatan berbicara sudah diberikan dan masih ada, tetapi bukan jaminan hasil sesuai keinginan keluarga.
"Aku tidak ingin menghukum dia dengan membuat semua orang tahu," ujarnya. "Aku juga tidak ingin dihukum dengan diminta menyimpan semuanya dan tetap tersenyum di pesta."
Daddy menyetujui. Mereka membahas siapa yang perlu diberi kabar soal penundaan keputusan, tanpa menjelaskan rincian hubungan kepada orang yang tidak berkaitan. Untuk saat ini, keluarga akan menyebut ada urusan kesiapan yang sedang dibicarakan.
Frans mengangguk, tetapi sebelum pergi menyatakan Caca masih ingin menikah. Jo menjawab dirinya mengetahui. Itu belum menghapus pertanyaan tentang perasaan kepada Aldin yang juga diakui belum selesai.
Frans menanyakan apakah Jo telah memberi kesempatan kepada putrinya memilih tanpa tekanan. Lelaki itu menjawab sudah, bahkan mengatakan Caca boleh menyatakan tidak ingin menikah. Tidak ada keluarga yang berhak membuat pilihan tersebut terdengar seperti kesalahan hanya karena persiapan telah dimulai.
"Tapi Caca mengatakan masih ingin," ujar Frans.
"Aku mendengar. Aku sedang melihat apakah pilihan itu dijalankan, bukan hanya disebut."
Frans duduk lebih tegak. Dia menyatakan tidak menyukai keadaan ketika putrinya seolah harus membuktikan diri terus-menerus. Jo menatapnya, kemudian meminta mereka membedakan antara membuktikan setiap gerak dan memperbaiki kepercayaan yang baru saja dilukai.
"Aku tidak ingin memeriksa dia setiap hari. Tapi aku juga tidak dapat diperintah percaya seperti sebelumnya sebelum ada yang berubah."
Daddy menambahkan bahwa memberi waktu bukan cara menjadikan Caca terdakwa seumur hidup. Jika hubungan diteruskan, keduanya perlu hidup tanpa setiap pertengkaran kembali menjadi perkara yang sama. Namun, hari ini pertanyaannya memang belum selesai.
Frans mengangguk pelan. Dia melihat Jo tidak sedang mencari dukungan untuk mengusir seluruh keluarganya. Lelaki itu masih bicara langsung, meskipun belum bersedia tersenyum untuk menenangkan semua orang.
"Aku ingin kalian tidak membuat keputusan dalam keadaan marah," kata Frans.
"Aku juga," jawab Jo. "Karena itu aku meminta waktu, bukan segera meneruskan hanya supaya tidak ada yang marah kepada keputusan kita."
Pembicaraan menjadi lebih praktis setelah itu. Mereka meninjau daftar urusan yang harus dikabari bahwa keputusan tertunda. Tidak ada rincian hubungan diberikan kepada setiap penyedia acara. Ada hal yang bisa diperiksa lewat jadwal, ada yang perlu menunggu keluarga berbicara lagi.
Jo meminta semua kabar mengenai dirinya disampaikan langsung, bukan dititipkan lewat Aldin atau Erika. Frans menerima, lalu mengatakan Caca perlu menghubungi sendiri untuk urusan pribadi.
Untuk pertama kali sore itu, dua keluarga tidak hanya membahas akibat bagi nama mereka. Ada orang yang benar-benar akan menikah dan masih berhak menentukan apakah siap.
Pertemuan ditutup tanpa keputusan tanggal baru. Tidak ada jabat tangan yang dibuat seperti semua telah beres. Mereka tetap berpamitan sopan, lalu kembali kepada rumah masing-masing dengan hal yang masih harus dipikirkan.
Di lorong, Jo melihat Erika membawa buku dari ruang baca. Dia berhenti dan memberitahukan bahwa Frans sempat menanyakan foto, tetapi tidak ada perubahan tugas yang disampaikan kepada penulis.
Erika mengangguk. Dia merasakan khawatir kembali muncul, seperti pekerja yang dapat kehilangan tempat hanya karena pembicaraan keluarga menjadi marah.
"Kalau ada yang harus dibahas tentang pekerjaanku, aku ingin diberi tahu langsung, Mas."
"Aku akan bilang. Tidak lewat orang lain."
Jo berhenti sejenak sebelum menambahkan bahwa dirinya belum mampu membaca naskah mereka, tetapi itu bukan berarti seluruh tulisan tidak berarti.
Erika berterima kasih. Dia tidak meminta Jo segera memberi pendapat baik. Mengetahui pekerjaan tidak digunakan sebagai hukuman sudah cukup untuk hari itu.
Sesudah Frans pergi, Daddy meminta Jo berjalan sebentar ke taman. Tidak ada percakapan serius dimulai selama beberapa langkah pertama. Mereka melewati pot yang baru dipindahkan Pak Hendra, lalu berhenti di tempat yang lebih sejuk.
"Aku takut kalau akhirnya meneruskan, kalian menganggap aku tidak belajar apa-apa," kata Jo.
Daddy memandangnya. "Aku akan melihat bagaimana kamu memutuskan, bukan hanya hasil yang kupilih sendiri."
Jo mengangguk. Dia juga takut jika pergi, dirinya akan terus membayangkan seharusnya memberi kesempatan. Kedua kemungkinan tidak terlihat aman.
Ayahnya tidak menawarkan satu kalimat yang membuat seluruh pilihan jelas. Dia hanya meminta Jo mendengar tanpa membiarkan rasa malu membuatnya terburu-buru, lalu memberi waktu pada diri untuk melihat apakah tindakan orang lain cocok dengan ucapan.
Mereka kembali ke rumah setelah beberapa menit. Jo tidak lebih bahagia, tetapi bisa bernapas tanpa merasa setiap keputusan harus segera dibenarkan di depan keluarga.
Malamnya, Aldin menelepon Bu Mei. Erika mengetahui dari ibunya yang memberi kabar singkat bahwa hubungan Aldin dan Kirana telah berakhir. Tidak ada rincian dipaksa keluar melalui adik.
Ibu meminta Erika tidak merasa harus menjaga seluruh keluarga tetap tenang. Dia boleh menelepon jika ingin bicara tentang dirinya sendiri.
Kalimat itu membuat Erika diam cukup lama. Beberapa minggu di Jakarta telah diisi dengan cerita semua orang, sementara tentang dirinya sering selesai pada kata baik.
Dia menjawab akan menelepon malam berikutnya setelah pekerjaan. Bu Mei mengiyakan dan menyuruh makan.
Di meja kerja, Erika menuliskan jam selesai agar dirinya tidak kembali membaca tanpa batas. Menjelang istirahat, dia menutup berkas dan membawa gelas ke dapur. Ada pekerjaan yang tetap berjalan, tetapi malam itu tidak harus dihabiskan untuk membuktikan dirinya masih berguna.
Lina melihat daftar di tangannya dan menanyakan apakah itu milik acara. Erika menjawab daftar tulisan yang boleh diteruskan. Wanita itu mengangguk, lalu mengatakan makanan tinggal dihangatkan jika nanti terlambat.
Erika berterima kasih. Sesudah beberapa hari mendengar keputusan besar, petunjuk kecil tentang makan terasa seperti tempat berpijak. Dia tidak perlu memilih masa depan semua orang saat berdiri di dapur.
Ketika kembali ke kamar, dia menyimpan daftar terpisah dari buku batik. Hari itu ada bagian yang selesai dibicarakan, meskipun perasaan belum mengikuti secepat pekerjaan yang diberi tanda.
Di ruang kerja, Jo membuka kembali daftar acara. Pada bagian pendamping pengantin pria, nama Aldin masih tercetak. Dia tidak menghapus semua kenangan persahabatan, tetapi tidak bisa membiarkan satu tugas tersebut tetap seperti semula.
Nama itu dicoret dari daftar sementara. Ruang di sebelahnya dibiarkan kosong.
Jo memandang cukup lama sebelum menutup berkas. Dia belum tahu apakah akan berdiri di pesta itu. Namun, jika berdiri, dia tidak bisa lagi menyerahkan tempat paling dekat kepada orang yang baru saja mengaku mencintai calon istrinya.