Erika meletakkan ponsel setelah pengingat wawancara dipadamkan. Layar menjadi gelap, tetapi kalimat Jo tentang pengakuan Caca masih terasa terang di kepala. Dia tidak membuka foto sekali lagi. Tidak ada wajah yang perlu dicari pada gambar yang pecah.
Iccha sudah berbaring, belum tidur. Dia menanyakan apakah Erika ingin lampu meja tetap menyala.
"Ndak, Mbak. Aku juga mau mencoba tidur."
Wanita itu mengangguk dan mematikan lampu. Keheningan kamar tidak lagi sepenuhnya akrab, tetapi tidak dipakai menyusun permainan baru. Erika menarik selimut dan berdoa agar besok dirinya tidak harus kembali menjadi tempat orang meminta cerita diubah.
Di lantai bawah, Jo belum kembali ke kamar. Dia menerima pesan Caca yang menanyakan apakah pertemuan besok harus melibatkan Aldin sejak awal. Wanita itu ingin bicara sebentar berdua sebelum semua dimulai.
Jo membaca cukup lama, kemudian membalas bahwa pembicaraan berdua sudah dilakukan. Ada bagian yang baru bisa dijelaskan jika orang yang terlibat duduk bersama. Dia tidak ingin menerima dua urutan yang berbeda lalu diminta menyambungkannya sendiri.
Caca menjawab mengerti. Sesudah beberapa menit, Aldin mengirim pertanyaan serupa, meminta beberapa hal dibicarakan tanpa Caca lebih dulu.
Jo merasakan kemarahan naik, tetapi menahan jari agar tidak mengetik kata-kata yang akan membuat pertemuan dimulai sebagai pertengkaran lewat layar. Dia mengirim waktu yang sama dan meminta datang sesuai janji. Tidak ada pertemuan tambahan malam itu.
Daddy melihatnya duduk di dekat lampu ruang keluarga. Lelaki itu menanyakan apakah ada sesuatu yang perlu diubah sebelum pagi. Jo menggeleng, lalu menunjukkan hanya pesan penjadwalan, bukan seluruh percakapan pribadi.
"Mereka sama-sama ingin bicara lebih dulu," katanya.
"Kamu boleh mempertahankan yang sudah diatur."
Jo mengangguk. Dia tidak ingin ayahnya memanggil Caca atau Aldin untuk menegur. Besok mereka datang kepada dirinya, dan dia perlu mendengar tanpa suara keluarga menggantikan pertanyaan.
Setelah Daddy pergi, Jo membuka daftar persiapan sekali lagi. Ada nama penyedia acara, contoh undangan, dan beberapa pilihan yang kemarin terasa menyenangkan. Dia menutup sebelum pikirannya mulai menghitung berapa banyak yang terlanjur dibuat.
Pesta bukan jawaban. Tetapi mencintai Caca juga bukan sesuatu yang bisa dimatikan hanya dengan menutup daftar.
Jo akhirnya naik. Di depan kamar dia berhenti melihat kotak hadiah yang belum diserahkan. Buku belum dicetak, tetapi beberapa halaman awal pernah diletakkan di sana untuk diperiksa. Dia mengeluarkan dan menyimpan di laci, agar besok tidak ada benda yang dipakai memaksa dirinya mengingat hanya bagian baik.
Lalu dia tidur dengan lampu kecil menyala. Bukan tidur yang tenang, hanya beberapa jam ketika tubuh tidak lagi sanggup mengikuti pikiran.
Pagi itu Jo turun lebih awal. Di ruang duduk dekat taman, tiga kursi telah ditata. Dia memindahkan meja kecil agar tidak ada yang duduk berlindung di balik sesuatu seperti dalam rapat perusahaan.
Daddy datang setelah mendengar langkahnya. Lelaki itu berdiri di pintu tanpa masuk.
"Kamu ingin aku menunggu di sini?"
Jo menggeleng. "Aku mau bicara dulu, Dad. Kalau perlu, aku panggil."
Daddy mengangguk. Dia mengingatkan makanan sudah disiapkan dan menyuruh Jo makan sedikit. Tidak ada nasihat panjang tentang memaafkan sebelum orang yang bersangkutan datang.
Jo mencoba menelan roti, tetapi rasanya seperti kertas. Dia minum dan memeriksa jam. Di ponsel ada pesan Caca mengatakan sudah berangkat, disusul Aldin yang memastikan akan tiba tepat waktu.
Dua nama itu dulu datang dengan perasaan berbeda: satu membuatnya tersenyum, satu membuat semua urusan terasa lebih mudah. Pagi ini keduanya hanya membuat telapak tangannya semakin dingin.
Erika turun ketika Bi Ani menata cangkir. Dia tidak mendekati ruang duduk sampai Jo memanggil dari pintu.
"Aku tidak perlu kamu ikut sekarang," katanya. "Kalau ada catatan yang perlu diperiksa, nanti kuberitahu."
"Nggih, Mas. Aku kerja di atas."
Jo mengangguk, lalu menambahkan agar buku yang berisi foto tidak diberikan kepada siapa pun tanpa pembicaraan. Erika menjawab dia tidak menyebarkan. Salinan hanya pada orang yang telah berkaitan dengan masalah tersebut.
"Aku tahu," kata Jo. "Aku cuma sedang mencoba memikirkan semuanya."
Erika menatap wajahnya. Ada banyak hal yang ingin disampaikan, tetapi pagi itu yang paling dibutuhkan bukan kalimat penghiburan dari orang yang membawa kabar.
Dia naik dan membuka laptop. Iccha berangkat ke kantor bersama Ammar setelah sarapan, sedangkan Lina memilih membaca di ruang lain. Rumah tersebut tidak dikosongkan, tetapi pertemuan tidak dibuat menjadi tontonan seluruh keluarga.
Jo memeriksa ruang duduk sebelum tamunya tiba. Pintu bisa dibuka biasa dari dalam, air sudah ada, dan tidak ada orang diminta menunggu di balik jendela untuk menyaksikan. Dia tidak ingin pertemuan itu menjadi hukuman yang dibuat agar orang lain malu.
Namun, saat mencoba duduk, dia menyadari dirinya belum tenang seperti yang berharap terlihat. Tangan berkeringat, perut terasa kosong, dan nama Aldin membuat semua ingatan lama muncul tanpa diminta.
Kiki lewat menuju dapur dan melihat kursi ditata. Dia berhenti sebentar, tidak mengeluarkan lelucon tentang calon pengantin yang takut.
"Lo sudah makan?" tanyanya.
Jo menunjuk piring yang masih berisi sebagian roti. Kiki mengangguk, lalu mengambil air untuk dirinya.
"Kalau nanti marah, jangan pura-pura cuma soal daftar tamu," katanya sebelum pergi.
Jo menatapnya, heran mendengar kalimat yang begitu tepat dari adik yang sering menutup sakit dengan sinis. Kiki tidak menunggu pujian atau pertanyaan. Dia kembali ke kamarnya setelah menyuruh Bi Ani tidak tergesa membersihkan meja ruang duduk.
Jo menghela napas. Dia tahu marah. Mengakuinya tidak otomatis memberi kendali, tetapi setidaknya dia tidak perlu datang dengan sandiwara bahwa seluruh pembicaraan hanya penjelasan jadwal.
Aldin tiba lebih dulu. Pak Hendra menyapa seperti biasa, lalu mengantarkan sampai pintu. Lelaki itu membawa tas kerja, tetapi meninggalkannya di kursi ruang depan sebelum masuk.
Jo menunjuk tempat duduk. Mereka tidak berjabat tangan.
"Caca sebentar lagi," katanya.
Aldin mengangguk. Dia memandang meja dan melihat ponsel Jo, tetapi tidak ada foto terbuka. Tidak ada jalan mengawali lagi dengan keluhan bahwa gambar kurang jelas.
Caca datang beberapa menit kemudian. Dia membawa tas dan buku kecil, pakaian sederhana tanpa perhiasan berlebihan. Saat melihat Aldin, langkahnya terhenti sekejap sebelum kembali mendekat.
Jo memperhatikan. Tidak ada pertanyaan dilontarkan dari gerakan itu saja. Dia menunggu mereka duduk, lalu menutup pintu ruang duduk tanpa menguncinya.
"Kemarin Caca mengakui dia perempuan dalam foto," kata Jo.
Aldin menatap calon pengantin wanita tersebut. Caca tidak mengangkat wajah untuk meminta pertolongan.
"Aku ingin hari ini tidak ada nama yang dipakai seolah orangnya berbeda. Al, waktu kamu mengatakan Sephia, kamu tahu itu nama yang dipakai Caca?"
Aldin mengangguk setelah beberapa detik. "Tahu."
Jo menahan napas. "Kenapa tidak bilang Caca?"
"Aku belum tahu bagaimana menjelaskan."
"Jadi kamu memilih membuatku mencari perempuan lain."
Aldin tidak langsung menjawab. Jo mengulang pertanyaan, kali ini lebih keras. Lelaki itu akhirnya mengatakan iya, dia memakai nama tersebut karena tahu Jo tidak mengenalnya.
Pengakuan itu membuat Jo menutup mata. Ada perbedaan antara kalimat yang tidak lengkap karena takut dan kalimat yang sengaja mengarahkan orang kepada sesuatu yang salah. Sahabatnya baru saja mengakui bagian kedua.
Caca memegang ujung buku. "Jo, aku juga memilih diam. Jangan semua dilempar ke Al."
"Aku tidak melupakan itu," jawab Jo. "Aku mendengar kalian satu-satu supaya tidak ada yang bisa mengatakan aku cuma menerima cerita dari orang lain."
Dia meminta urutan hubungan mereka. Bukan semua percakapan pribadi, melainkan kapan kebiasaan membantu persiapan berubah menjadi sesuatu yang disembunyikan. Caca menyebut waktu ketika sering menunggu Aldin selesai bekerja sebelum makan. Aldin menambahkan beberapa pertemuan yang belum disebutkan kemarin.
Jo mendengar nama tempat dan waktu yang pernah dilalui dirinya tanpa mengetahui apa yang terjadi. Ada sore ketika dia menelepon Caca dari kantor, ada hari ketika dia meminta Aldin membantu karena rapat belum selesai.
"Saat itu kalian sudah begini?" tanyanya.
Caca mengangguk pelan. Aldin mengusap wajah dan mengatakan tidak setiap pertemuan mempunyai maksud yang sama. Jo menatapnya tajam.
"Aku tidak meminta kamu membuat seluruh hidup terlihat buruk. Aku bertanya kapan aku mulai dibohongi."
Mereka terdiam. Kemudian Aldin memberikan jawaban yang lebih jelas, tanpa mengaku lupa untuk semua kejadian. Jo tidak mencatat setiap kata. Dia hanya menandai dua tanggal yang sebelumnya dibandingkan dengan foto.
Caca mengakui ciuman di kepala dan gandengan tangan. Dia juga mengatakan ada perhatian yang diterima dan tidak dihentikan. Aldin tidak menyangkal.
Jo berdiri. Kursinya bergeser keras. Caca bergerak hendak ikut berdiri, tetapi dia meminta tetap duduk.
"Aku pernah menitipkan banyak hal kepadamu, Al. Pekerjaan, keputusan, bahkan urusan rumah. Kamu melihatku mempersiapkan pernikahan dan tetap melanjutkan?"
Aldin memandangnya. "Aku salah."
"Aku tahu kamu salah. Aku menanyakan apa yang ada di kepalamu ketika aku bilang kamu orang paling dipercaya."
Aldin menunduk. Untuk sesaat tidak ada suara selain air di kolam luar. Lalu dia mengucapkan kalimat yang membuat Caca mengangkat wajah.
"Aku juga mencintainya."
Jo membeku. Caca langsung menyebut nama Aldin, tetapi lelaki itu melanjutkan sebelum diminta berhenti.
"Aku tahu itu tidak membenarkan. Tapi kalau kamu meminta yang sebenarnya, itu yang terjadi."
Jo bergerak mendekat. Satu pukulan menghantam rahang Aldin sebelum dirinya sempat berpikir. Lelaki itu terhuyung ke sisi kursi, tangannya menahan meja. Caca menjerit dan berdiri.
Jo menatap tangannya sendiri. Ada bunyi cangkir bergeser, napas yang terputus, dan wajah Aldin yang tidak membalas.
Pintu terbuka. Daddy masuk setelah mendengar suara, diikuti Ammar yang baru hendak meninggalkan rumah setelah kembali mengambil berkas. Dia berdiri di antara Jo dan Aldin, meminta keduanya menjauh.
"Jo," kata Daddy, tegas. "Mundur."
Jo mundur dua langkah. Kemarahannya belum hilang, tetapi tubuhnya kembali merasakan ruangan. Aldin menegakkan diri dan menyeka sudut bibir. Caca berdiri di dekatnya tanpa menyentuh.
"Aku tidak membenarkan yang baru kulakukan," ujar Jo dengan suara berat. "Tapi aku juga tidak sanggup meneruskan seolah kalimat tadi hanya kesalahan kecil."
Daddy mengangguk, tidak meminta Aldin segera memaafkan pukulan. Ammar memastikan tidak ada yang kembali mendekat, kemudian membuka ruang agar Caca bisa duduk.
Di lantai atas, Erika berhenti mengetik ketika mendengar suara keras. Dia keluar kamar, tetapi Lina menahannya di dekat tangga.
"Daddy sudah masuk. Tunggu dulu."
Erika berdiri dengan jantung berdebar. Dia tidak ingin memeriksa setiap detik seperti ketika foto masih disimpan sendiri. Namun, mendengar kakaknya terlibat sesuatu di bawah membuat semua nasihat tentang menunggu terasa sulit.
Di ruang duduk, Jo minum air yang diserahkan Daddy. Dia tidak duduk di dekat Caca lagi.
"Aku ingin tahu satu hal terakhir hari ini," katanya. "Kamu masih ingin menikah denganku sementara Al baru saja mengatakan mencintaimu?"
Caca mengangguk sambil menangis. "Aku ingin menikah denganmu. Aku salah membiarkan semuanya sejauh ini."
"Dan kamu, Al? Kamu datang sebagai sahabat yang meminta maaf atau orang yang ingin aku melepaskannya?"
Aldin menatap Jo, lalu Caca. Dia mengatakan tidak datang untuk meminta pernikahan dibatalkan, tetapi dirinya tidak dapat berkata perasaan hilang hanya karena sekarang diketahui.
Jo mengusap wajah. Setidaknya kalimat itu jujur. Justru kejujurannya membuat tidak ada jalan cepat mengembalikan semua seperti semalam sebelum kabar pertama diterima.
Dia meminta pertemuan berhenti. Keputusan tentang acara belum dibuat, tetapi mereka tidak akan meneruskan persiapan melalui Aldin. Semua kontak terkait harus dialihkan kepada pihak yang mengurus dan kepada Jo sendiri.
Caca mengangguk. Aldin menerima tanpa menawarkan tetap membantu sebagai bukti setia.
"Aku butuh kalian keluar dulu," kata Jo.
Daddy memastikan keduanya bisa berangkat terpisah. Ammar menemani Aldin sampai ruang depan, bukan untuk membawanya ke tempat lain atau memukul lagi. Caca menunggu beberapa menit, lalu berpamitan dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Saat melewati tangga, Aldin melihat Erika. Adiknya berdiri tanpa buku atau ponsel di tangan. Dia melihat bekas merah di rahangnya dan menarik napas.
"Mas mau duduk sebentar?" tanyanya.
Aldin menggeleng. "Aku pergi dulu."
Tidak ada tuduhan atau permintaan agar dia merahasiakan pukulan. Erika mengangguk. Dia tidak mengikuti sampai kendaraan karena tahu kakaknya sedang membutuhkan ruang yang tidak bisa diberikan dengan pertanyaan tambahan.
Jo tetap berada di ruang duduk setelah orang lain keluar. Daddy duduk beberapa langkah darinya, sementara Ammar memberi tahu akan menunda berangkat sebentar. Tidak ada saudara yang membuat lelucon untuk memaksa keadaan kembali ringan.
"Aku ingin dia berhenti mengatakan cinta di depan calon istriku," kata Jo pelan.
Daddy menatapnya. "Aku mengerti kamu marah. Tapi pukulan tadi tidak membuatnya berhenti mencintai atau membuat Caca memilih dengan jujur."
Jo mengangguk tanpa membantah. Dia memandang kursi yang baru dikosongkan. Tiga kursi itu kini terlihat seperti benda biasa lagi, tetapi tidak ada satu pun orang yang duduk di sana datang membawa seluruh hidupnya pulang dalam keadaan sama.
Erika akhirnya dipanggil untuk memastikan apakah pekerjaan hari itu bisa ditunda. Dia masuk dan melihat Jo tidak mengangkat wajah.
"Aku belum sanggup membaca buku tentang kami," katanya.
"Nggih, Mas. Aku simpan dulu."
Jo mengangguk. Erika tidak mengatakan dirinya telah tahu pertemuan akan buruk. Dia tidak tahu, dan kalimat seperti itu hanya akan membuat luka lelaki di hadapannya berubah menjadi pembenaran atas petunjuk yang dibawa.
Dia keluar dengan laptop yang ditutup. Di meja ruang depan, tas kerja Aldin sudah tidak ada. Di ruang duduk, buku kecil Caca juga telah dibawa.
Namun, satu nama tetap tertinggal di kepala semua orang: Sephia, yang tidak lagi bisa dipakai membuat perempuan dalam foto seolah orang lain.