Caca menutup buku seluruhnya, lalu meletakkan di samping tas. Gerakan itu tidak menghapus nama yang baru dibaca Jo. Dia menatap ponsel di meja dan mengatakan Aldin pasti menyebut akun lama karena pernah melihatnya.
"Mungkin," jawab Jo. "Tapi itu bukan jawaban atas pertanyaanku. Apakah perempuan di foto ini kamu?"
Caca menarik napas panjang. Keinginannya meminta siapa yang mengirim foto terlihat lagi pada wajah, tetapi kali ini dia tidak mengucapkan.
"Iya."
Jo tetap duduk. Selama beberapa detik, tubuhnya seperti lupa cara bergerak. Rambut, suara, cincin, dan nama yang masing-masing masih bisa dijelaskan terpisah tiba-tiba berada dalam satu pengakuan.
"Kamu bersama Al di kafe itu?"
"Iya. Kami habis membicarakan persiapan."
"Dia mencium kepala dan memegang tanganmu karena persiapan?"
Caca menatapnya. Air mata mulai menggenang, tetapi Jo belum menggeser kursi mendekat seperti biasanya. Dia membutuhkan kalimat, bukan cara cepat membuat tangis berhenti.
"Aku salah," kata Caca.
Jo mengusap wajah. Dia berdiri, berjalan ke jendela, kemudian kembali setelah beberapa saat. Tidak ada barang dilempar atau pintu dipukul. Namun, suara berikutnya lebih keras dari yang biasa didengar calon istrinya.
"Seberapa jauh kamu menyebut salah? Satu gerakan? Satu sore? Atau sesuatu yang berlangsung sementara aku masih minta dia menemanimu?"
Caca mengambil tisu. Dia menyebut kesibukan Jo dan waktu yang lebih banyak dilewati bersama Aldin. Lelaki tersebut ada ketika dirinya memilih barang, menunggu, dan membicarakan perkara yang sering dianggap Jo tidak penting.
Jo mendengarkan sampai selesai, tetapi tidak menerima arah penjelasan itu sebagai jawaban penuh.
"Aku memang sering tidak hadir. Aku sudah mengakuinya. Tapi aku tidak memilih kamu menyembunyikan hubungan."
Caca mengangguk sambil mengusap mata.
"Aku tidak ingin kehilangan kamu."
"Kalau begitu kenapa aku baru mendengar setelah bertanya dengan foto?"
Wanita itu menunduk. Dia mengatakan takut Jo akan marah dan semuanya hancur. Kalimat itu membuat Jo tertawa pahit, hampir sama seperti ketika mendengar alasan Aldin tidak mau melukai Kirana.
"Jadi karena takut hancur, kamu biarkan aku terus percaya sambil mempersiapkan pesta?"
Caca tidak menjawab segera. Suara orang berjalan di luar ruang duduk terdengar, tetapi tidak ada yang masuk. Mereka telah meminta waktu berdua, dan kini waktu tersebut tidak lagi terasa seperti hadiah yang menyenangkan.
Jo kembali duduk. Dia mengambil foto kedua dan menunjukkan, tetap tanpa memperbesar wajah. Caca mengakui dirinya hadir pada pertemuan itu juga. Tidak ada alasan kebetulan sekali atau salah tanggal.
Pengakuan kedua membuat Jo menutup layar. Dia sudah melihat cukup untuk satu bagian. Sekarang yang perlu diketahui bukan bentuk cincin atau topi, melainkan hubungan yang ditutupi.
"Apa kamu punya perasaan kepada Al?"
Caca memegang tisu dengan kedua tangan. "Aku pernah merasa dekat. Aku bingung."
"Masih sekarang?"
Keheningan datang lagi. Jo menunggu, meskipun setiap detik membuat dirinya ingin memilih jawaban paling ringan agar bisa keluar dari ruangan.
"Aku mau menikah denganmu," kata Caca.
Jo mengangguk perlahan. "Itu jawaban tentang rencana. Aku bertanya perasaanmu kepada dia."
Caca memandangnya, lalu mengaku belum semua perasaan itu rapi. Dia tidak mengatakan sudah selesai sejak lama. Jo merasakan sesuatu dalam dirinya semakin berat, tetapi setidaknya tidak menerima kepastian baru yang langsung bertentangan dengan beberapa hari terakhir.
"Al bilang namanya Sephia seolah dia orang lain," ujar Jo. "Dia tahu kamu memakai nama itu?"
"Tahu."
"Berarti dia memilih memberi nama yang tidak kukenal."
Caca mengangguk kecil. Jo memandang buku di samping tas. Sebuah nama yang dulu mungkin tidak berarti kini menjadi bagian dari cara dirinya dibuat tetap percaya.
Dia tidak meminta Caca menyerahkan ponsel atau membuka semua percakapan. Bukan karena tidak ingin tahu, melainkan karena dirinya membutuhkan mereka mengatakan yang benar, bukan hubungan yang diteruskan hanya jika setiap layar diperiksa.
"Kapan ini mulai?" tanyanya.
Caca memberikan urutan beberapa pertemuan, tidak semua tanggal diingat tepat. Jo meminta dia mengatakan tidak ingat bila memang tidak ingat. Dia tidak ingin satu cerita rapi dibuat hanya supaya pembicaraan cepat selesai.
Mereka menelusuri awal kedekatan, bantuan belanja, dan saat perhatian Aldin mulai terasa berbeda. Caca mengakui tidak menghentikan ketika seharusnya berkata cukup. Dia juga tahu Kirana ada, meskipun Aldin menyatakan hubungan di Semarang sedang tidak baik.
"Tidak baik bukan berarti selesai," jawab Jo.
"Aku tahu sekarang."
"Kamu tahu ada orang lain bahkan sebelum sekarang."
Caca mengangguk dan tidak membantah. Air matanya kembali jatuh, tetapi Jo membiarkan dia mengambil tisu sendiri. Menenangkan masih bisa dilakukan tanpa menghapus pertanyaan; hari ini dia belum sanggup melakukan keduanya sekaligus.
Jo menanyakan apakah ada orang lain yang mengetahui kedekatan mereka. Caca menjawab tidak tahu seberapa banyak Aldin bercerita, tetapi dirinya tidak pernah menjelaskan kepada keluarga. Selama ini yang terdengar hanya persiapan pernikahan berjalan.
"Jadi semua orang melihat aku mengurus pesta, sementara kalian mempunyai hal yang tidak pernah diberitahukan," kata Jo.
Caca menunduk. Dia tidak berkata tidak bermaksud mempermalukan karena kalimat itu akan kembali membicarakan niatnya, bukan akibat yang sedang diterima Jo.
"Aku yang memilih diam," katanya. "Bukan karena kamu menyuruh."
Pengakuan itu membuat Jo berhenti sejenak. Dia masih marah, tetapi sekarang tidak harus mematahkan alasan bahwa kesibukan dirinya menyebabkan semua tindakan orang lain.
"Aku tidak meminta kamu membuat dirimu paling buruk," jawabnya. "Aku meminta jangan membagikan tanggung jawabmu kepadaku supaya terasa lebih ringan."
Caca mengangguk. Mereka membicarakan pesan yang dikirim ketika dia bersama Aldin. Ada yang hanya mengatakan pergi dengan teman, ada yang tidak menjelaskan tempat. Jo menyatakan dirinya tidak menuntut laporan setiap menit, tetapi kebebasan tidak sama dengan izin menyembunyikan hubungan yang mengubah arti pernikahan.
Caca mendengarkan. Dia mengatakan sekarang memahami mengapa Jo terus kembali ke pertanyaan yang sama. Satu jawaban tentang ingin menikah belum menjelaskan apa yang berlangsung di luar persiapan.
Jo memandang jam dinding, lalu segera mengalihkan. Dia tidak ingin waktu pertemuan menjadi alasan berhenti ketika pembicaraan belum sampai ke bagian penting, seperti yang sering terjadi pada Kirana.
Dia meminta Caca menuliskan urutan yang masih diingat untuk pertemuan bersama besok. Bukan naskah agar keduanya menyamakan cerita, melainkan agar tanggal dan kejadian bisa dibicarakan tanpa terus tertutup kalimat tidak ingat.
"Kalau ada yang tidak kamu ingat, tandai. Jangan diisi supaya terlihat rapi."
Caca mengangguk. Dia mengambil buku kecil dan membukanya pada halaman kosong. Nama Sephia tetap ada di sampul dalam, tetapi kali ini tidak buru-buru ditutup.
Jo tidak merasa senang melihat itu. Nama tersebut sudah terlanjur dipakai membuat seseorang seolah berbeda dari calon istrinya. Namun, membiarkannya terlihat setidaknya lebih jujur daripada kembali meminta dia melupakan apa yang baru dibaca.
Ponsel Jo bergetar. Nama Daddy muncul. Dia melihat, lalu mengirim pesan singkat bahwa sedang bicara dan akan menghubungi setelah selesai. Tidak ada pengumuman tentang pengkhianatan dikirim dari tengah ruangan.
Caca memandang layar yang ditutup. "Kamu akan membatalkan?"
Jo menarik napas. "Aku belum mengambil keputusan sekarang. Tapi aku juga tidak bisa meneruskan seolah tidak ada apa-apa."
"Tanggalnya sudah dekat."
"Itu bukan alasan untuk berhenti bertanya."
Dia menjelaskan tidak akan menyetujui pembayaran tambahan atau keputusan besar hari itu. Urusan yang terikat akan diperiksa sebelum diubah, dan keluarga perlu diberi tahu mereka masih harus membicarakan kesiapan. Jo tidak ingin membuat keputusan biaya dengan kepala yang sedang marah, tetapi juga tidak akan menambah janji sambil berpura-pura tenang.
Caca mengangguk. Dia meminta kesempatan memperbaiki. Jo menatapnya lama sebelum menjawab.
"Kesempatan bukan berarti kamu dapat meminta aku langsung percaya lagi. Aku perlu mendengar lengkap dan melihat apa yang kamu lakukan setelah ini."
"Aku akan bicara dengan Al."
"Aku akan bicara dengan kalian berdua. Bukan dua penjelasan berbeda yang masing-masing membuatku menebak."
Caca mengangkat wajah. Untuk pertama kali ketakutan pada pertemuan bersama terlihat lebih jelas daripada kekhawatiran tentang jadwal acara.
Jo meminta pertemuan dilakukan besok di rumahnya, sebelum seluruh keluarga ikut membicarakan perkara. Daddy akan diberi tahu ada persoalan yang belum selesai, tetapi mereka bertiga perlu menuntaskan pertanyaan lebih dulu.
Caca menyetujui setelah jeda. Tidak ada permintaan Erika dijauhkan atau buku catatan dibuang. Jo menyatakan apa yang dibawa penulisnya adalah kejadian yang akhirnya mereka sendiri akui.
"Jangan nanti kamu marah kepada dia karena memberi tahu," katanya.
Caca menunduk. "Aku tidak akan."
Jo tidak menganggap janji itu telah terbukti. Dia hanya memastikan batasnya disampaikan jelas.
Ketika berdiri, dia masih merasakan keinginan memeluk Caca. Bertahun-tahun perasaan tidak hilang hanya karena beberapa pengakuan. Justru itu membuat keadaan lebih menyakitkan: orang yang baru melukai tetap orang yang ingin didekati untuk mendapat ketenangan.
Dia tidak mengikuti keinginan tersebut. Dia meminta waktu pulang dan berpikir sebelum berbicara lagi.
Caca berdiri di dekat kursi. "Jo, aku mencintaimu."
Lelaki itu berhenti di pintu. "Aku mendengar. Tapi aku juga baru mendengar ada hal lain. Jangan minta satu kalimat menutup semuanya."
Dia keluar tanpa membanting pintu. Di kendaraan, Jo duduk beberapa menit sebelum meminta pengemudi berangkat. Dia memilih tidak menyetir sendiri saat pikirannya terus kembali ke dua foto yang sama.
Pesan kepada Aldin diketik setelah napasnya lebih tenang.
Besok pagi di rumahku. Kita bicara bersama Caca. Kali ini jangan bawa nama yang membuat orang lain tampak tidak ada.
Balasan tidak segera datang. Jo menutup ponsel dan menghubungi Daddy. Dia menyampaikan Caca telah mengakui perempuan dalam foto, serta dirinya belum ingin memutuskan pernikahan sebelum pertemuan bersama.
Daddy tidak meminta langsung memaafkan atau langsung meninggalkan. Dia menanyakan Jo berada di mana, lalu menyuruh pulang agar tidak memikirkan sendirian di kendaraan.
"Aku tidak ingin semua orang tahu dulu, Dad."
"Kamu boleh mengatur siapa yang perlu mendengar. Tapi jangan sampai menjaga nama keluarga berarti kamu dipaksa menjalankan sesuatu yang belum siap."
Jo mengangguk meskipun tidak terlihat. Kalimat itu membuat matanya panas. Dia belum menangis, tetapi tidak lagi yakin akan bisa menjawab semua dengan suara biasa ketika tiba.
Di kantor, Erika menerima pesan bahwa Jo tidak akan kembali hari itu. Pekerjaan yang sudah selesai boleh dikirim, sedangkan pembahasan berikutnya diatur ulang.
Dia tidak langsung menanyakan hasil. Beberapa menit kemudian pesan kedua datang, lebih pribadi.
Dugaanmu tentang orang di foto benar. Caca mengakui. Aku perlu waktu. Jangan menghubungi dia atau Al untuk menjelaskan apa pun dulu.
Erika membaca sampai selesai, lalu duduk. Nama yang sejak kafe hanya berani ditulis sebagai kemungkinan kini telah dijawab oleh orang yang bersangkutan. Tidak ada rasa menang. Dia justru memikirkan Jo yang pagi itu masih menerima kalimat tentang pernikahan dan berharap semuanya bisa dibicarakan baik-baik.
Dia membalas akan menghormati permintaan dan siap memberikan catatan jika dibutuhkan. Tidak ada nasihat yang panjang dikirim lewat layar.
Sesudah mengamankan berkas kerja, Erika pulang. Di rumah, suasana tetap biasa dari luar. Bi Ani menyiapkan makanan, Lina membaca di ruang keluarga, dan Kiki belum keluar kamar. Namun, Daddy sudah menunggu dekat pintu ketika kendaraan Jo masuk.
Erika tidak berdiri menyambut dengan pertanyaan. Dia menuju kamar dan memberitahukan kepada Iccha bahwa Jo memerlukan ruang, tanpa membagikan rincian yang belum diminta dibuka.
"Lo baik-baik saja?" tanya Iccha.
"Aku tahu siapa yang ada di foto sekarang. Tapi aku ndak merasa lega seperti yang kubayangkan."
Iccha mengangguk. Dia tidak meminta melihat ponsel. Hubungan mereka belum kembali seperti dulu, tetapi perhatian itu tidak harus menunggu seluruh kesalahan dilupakan.
"Kalau mau duduk dulu, duduk. Jangan memaksa menulis sampai hurufnya kelihatan sama semua."
Erika menerima. Dia meletakkan tas dan menatap buku batik di dalamnya, tidak mengeluarkan.
Daddy menyediakan air ketika Jo akhirnya duduk di rumah. Tidak ada saudara lain dipanggil masuk. Ruang keluarga ditinggalkan cukup tenang setelah Lina mengetahui Jo ingin bicara sebentar dengan ayahnya.
Jo menjelaskan kembali tanpa menyebut setiap gerakan dalam foto. Dia mengatakan Caca telah mengakui kedekatan dan dirinya belum tahu apakah hubungan tersebut bisa diteruskan dengan kepercayaan yang benar.
"Aku masih mencintainya, Dad. Itu yang membuat kepalaku berantakan."
Daddy mengangguk. "Perasaanmu tidak harus hilang hari ini supaya kamu boleh mengambil waktu."
Jo menatap gelas. Dia sempat ingin meminta ayahnya memilihkan keputusan, seperti ketika masih kecil dan tidak tahu jalan yang aman. Namun, pernikahan tidak bisa diteruskan hanya karena seseorang yang dihormati menyatakan itu pilihan terbaik.
"Aku juga tidak mau berpura-pura kuat lalu membuat keputusan untuk menghukum semua orang," katanya.
"Kalau begitu malam ini jangan membuat keputusan besar. Besok dengarkan, lalu pikirkan. Tapi jangan menganggap menunda berarti mereka boleh meminta kamu melupakan."
Jo mengangguk. Dia menyatakan ingin pertemuan bertiga tidak menjadi acara keluarga yang memaksa Caca menerima atau Aldin membela diri di depan banyak orang. Daddy menyetujui dan meminta diberi tahu jika Jo membutuhkan pendamping, bukan mengambil alih tanpa diminta.
Setelah pembicaraan, Jo makan beberapa suap. Selera tidak banyak, tetapi Daddy tidak menjadikan makanan alasan menguliahi panjang. Mereka duduk sampai Jo mau berdiri sendiri.
Di lorong, Lina menanyakan apakah dia ingin minum hangat. Jo mengiyakan dan berterima kasih. Untuk sekali ini dia tidak merasa perlu membalas perhatian dengan lelucon agar semua orang menganggap dirinya baik-baik saja.
Malam turun ketika Aldin akhirnya membalas pesan Jo. Lelaki itu menyatakan akan datang. Tidak ada penjelasan panjang bahwa nama Sephia diberikan dengan maksud baik.
Jo membaca bersama Daddy yang hanya mengetahui bagian yang diperlukan. Sesudah itu dia menaruh ponsel dan menyandarkan kepala.
"Aku pernah bilang Al akan jadi orang paling dipercaya di pernikahanku," katanya pelan.
Daddy tidak segera menjawab. Dia menunggu sampai Jo kembali mengangkat wajah.
"Besok aku ingin dengar semuanya tanpa dibuat merasa bodoh karena bertanya."
"Kamu boleh bertanya," jawab Daddy. "Dan kamu boleh menentukan setelah mendengar."
Di lantai atas, Erika mematikan pengingat wawancara berikutnya sampai jadwal baru diberikan. Pekerjaannya belum selesai, tetapi malam ini bukan tentang memilih paragraf yang cukup manis untuk hadiah.
Besok pagi, orang yang memesan kisah cinta itu akan duduk bersama dua orang yang selama ini menyimpan bagian lain dari cerita.