Pagi berikutnya, Erika menerima kabar Kirana telah dijemput keluarganya. Dia membaca sampai akhir sebelum membalas. Tidak ada permintaan mencari Aldin lagi, hanya kabar tentang rumah dan makanan hangat yang disiapkan ibu.
Erika mengirim salam untuk keluarga, kemudian mengabari Bu Mei. Ibunya meminta dia juga makan sebelum bekerja. Nasihat tersebut membuatnya tersenyum kecil, tetapi tidak lagi menganggap urusan makan terlalu sederhana dibanding masalah yang sedang dihadapi.
Di kamar, Iccha sudah menyiapkan pakaian kantor. Percakapan mereka masih lebih pendek daripada sebelum pengakuan rencana Ammar, tetapi pagi itu wanita tersebut menawarkan pemakaian setrika setelah selesai.
"Kalau mau, masih panas."
"Matur nuwun, Mbak."
Erika menerima tanpa membuat tawaran kecil menjadi tanda bahwa semuanya telah dimaafkan. Iccha boleh berbagi barang kamar tanpa harus mengembalikan seluruh kepercayaan dalam satu pagi.
Dia menyetrika blus, merapikan tas, lalu mengeluarkan laptop dan ponsel yang diberikan Ammar. Keduanya telah dipakai bekerja. Mengembalikannya sembarangan tanpa memindahkan tulisan akan menimbulkan masalah baru, tetapi mempertahankan dengan perasaan berutang juga tidak ingin diteruskan.
Erika menyalin berkas penting ke penyimpanan yang biasa dipakai. Dia memeriksa apakah salinan bisa dibuka, lalu menuliskan daftar barang yang perlu dibicarakan. Tidak ada rencana membeli perangkat mahal mendadak untuk membuktikan dirinya mandiri.
Di bawah, Ammar sedang membaca agenda. Erika meminta waktu sebentar sebelum dia berangkat. Lelaki itu meletakkan kertas dan mempersilakan bicara.
"Soal hadiah laptop sama ponsel, Bang. Aku ingin kejelasan. Kalau harus dikembalikan, aku akan atur supaya pekerjaan Mas Jo ndak terganggu."
Ammar menatapnya. "Gue nggak meminta kembali."
"Aku tahu. Tapi dulu barang itu ada bersama permintaan yang membuat aku susah menolak. Aku ndak mau setiap kali dipakai, merasa masih harus melakukan sesuatu yang bukan pekerjaanku."
Ammar meletakkan kedua tangan di meja. Dia tidak menjawab dengan mengatakan Erika terlalu memikirkan.
"Itu tidak memberi gue hak meminta kamu ikut lagi," katanya. "Yang dulu gue lakukan salah."
Erika mengangguk. Kalimat tersebut penting, tetapi dia juga ingin tahu apa yang akan dilakukan jika nanti dirinya menolak bantuan lain.
"Kalau aku ndak mau menerima barang berikutnya, Bang juga harus bisa menerima."
"Iya."
"Aku tetap ingin mengatur pengembaliannya nanti kalau sudah punya pengganti. Bukan supaya Bang terlihat jahat. Aku cuma ingin memisahkan pekerjaan dan rencana lama itu."
Ammar mengangguk setelah jeda. Dia mengatakan tidak perlu terburu-buru sampai kehilangan berkas, dan barang itu tidak akan diminta saat Erika sedang menulis. Tidak ada kalimat tentang rasa tidak tahu terima kasih.
Erika berterima kasih, kemudian berdiri. Sebelum pergi, dia menyebut tidak akan menyampaikan percakapan pribadi kepada Iccha sebagai cara membuat wanita itu lebih cepat memaafkan.
"Kalau Bang ingin dia tahu sesuatu, bilang sendiri."
"Gue sudah tahu."
Jawabannya sedikit keras, tetapi Ammar segera menarik napas dan menambahkan bahwa dia menerima. Erika tidak menggoda tentang kulkas yang belajar. Pagi ini mereka sedang menyelesaikan satu akibat nyata, bukan membuatnya lucu agar ringan.
Iccha turun ketika percakapan selesai. Dia melihat laptop di tas Erika, lalu menanyakan apakah barang akan dikembalikan hari itu. Erika menjelaskan keputusan apa adanya.
"Aku ndak akan ikut permintaan lagi. Tapi aku juga ndak mau kehilangan pekerjaan karena mengembalikan tanpa rencana."
Iccha mengangguk. "Itu masuk akal. Gue nggak minta lo menghukum diri dengan membuat semuanya susah."
Ammar mendengar, tetapi tidak ikut mencari terima kasih. Mereka berangkat dengan kendaraan yang telah diatur untuk urusan masing-masing. Tidak ada perubahan kursi yang sengaja dibuat agar seseorang melihat kedekatan palsu.
Sementara Erika masih di rumah, Iccha yang sudah tiba di kantor memeriksa dua dokumen sebelum jadwal pertama. Ammar menanyakan apakah dia punya waktu membicarakan hal pribadi setelah pekerjaan selesai. Wanita itu memandangnya, lalu menjawab belum ingin hari itu.
Lelaki itu mengangguk. Tidak ada ucapan bahwa dia selalu berusaha sementara Iccha tidak memberi kesempatan. Dia kembali pada dokumen, menandatangani setelah membaca, dan meminta satu bagian dikonfirmasi.
Sikap tersebut tidak langsung membuat Iccha hangat. Dia masih mengingat rencana dengan Erika. Namun, menerima penolakan tanpa mengubah kerja menjadi hukuman adalah sesuatu yang bisa dilihat, bukan hanya janji yang diucapkan setelah meminta maaf.
"Kalau gue mau bicara, nanti gue bilang," ujar Iccha.
"Baik."
Dia keluar dan meneruskan konfirmasi. Arya mengirim berkas tambahan melalui saluran kerja, tanpa pesan pribadi. Iccha membalas seperlunya dan tidak menggunakan kehadiran lelaki itu untuk menguji apakah Ammar kembali cemburu.
Saat jeda, dia menelepon orang tuanya di Bandung. Dia memberi kabar pekerjaan berjalan dan dirinya belum ingin pulang akhir pekan. Percakapan tidak berubah menjadi laporan tentang dua lelaki yang membuat hari-harinya rumit.
Selesai menelepon, Iccha duduk di ruang istirahat. Dia menyadari selama beberapa waktu setiap hari terlalu mudah diukur dari siapa yang memperhatikan dan siapa yang membuat marah. Masih ada hal lain yang dipilih sendiri: pekerjaan yang dikerjakan baik, keluarga yang dihubungi, serta waktu tenang yang tidak perlu diminta kepada siapa pun.
Ketika kembali, ada catatan Ammar pada agenda. Hanya perubahan ruang rapat dengan alasan yang jelas. Tidak ada perhatian pribadi yang disisipkan supaya dirinya merasa harus membalas.
Iccha tersenyum tipis, lalu menandai informasi itu. Dia belum memaafkan semuanya. Tapi hari yang tidak dijadikan permainan juga boleh dinikmati tanpa menganggap diri lemah.
Di ruangan, Ammar menggunakan pulpen ulang tahun untuk mengoreksi satu angka. Dia sempat membuka percakapan Iccha, hendak mengucapkan terima kasih lagi, lalu menutup. Wanita itu baru saja meminta ruang. Hadiah tidak membuatnya berhak mengambil ruang tersebut lebih cepat.
Dia memeriksa jadwal berikutnya dan kembali bekerja. Untuk kali ini, keinginan memperbaiki tidak diwujudkan dengan meminta orang lain segera melihat perubahan.
Erika tinggal sebentar karena Daddy memanggil dari ruang keluarga. Lelaki itu sedang membaca tulisan lamanya dan menawarkan duduk jika dia belum tergesa.
"Kirana sudah sampai?"
"Sudah, Uncle. Dijemput keluarga."
Daddy mengangguk. Dia tidak menanyakan semua yang menyebabkan perpisahan. Erika melihat satu halaman naskah di meja, penuh koreksi kecil pada pinggir.
"Uncle masih menulis?"
"Kadang. Lebih sering membaca yang dulu dan heran kenapa ada kalimat yang kupikir bagus waktu itu."
Erika tersenyum. Dia memandang halaman yang ditandai, lalu menanyakan apakah boleh membaca satu paragraf. Daddy memberikan. Ceritanya tentang tokoh yang menyembunyikan kabar karena takut melukai, kemudian malah terlambat membantu.
Erika menatapnya setelah selesai. "Kebetulan sekali, Uncle."
"Cerita seperti itu tidak selalu kebetulan. Orang sering melakukan kesalahan yang sama dengan alasan berbeda."
Dia tidak meminta Erika menceritakan rahasia Jo. Lelaki itu hanya menunjuk satu kalimat yang terlalu menjelaskan perasaan tokoh, lalu menunjukkan bagaimana adegan kecil bisa menggantikannya.
Daddy memperlihatkan halaman sebelum dan sesudah koreksi. Pada versi lama, tokoh menjelaskan dirinya terluka selama beberapa paragraf. Pada versi baru, dia tetap membawa makanan untuk orang yang membuat kecewa, tetapi tidak lagi duduk menunggu orang itu pulang.
Erika membaca perlahan. Tidak semua emosi menjadi lebih kecil karena tidak disebutkan dengan banyak kata. Kadang tindakan sederhana justru membuat pembaca melihat lebih jelas.
"Aku suka yang ini, Uncle," katanya sambil menunjuk versi baru.
"Karena tokohnya melakukan sesuatu. Bukan hanya memikirkan kalimat bagus tentang hidup."
Erika tertawa kecil. Dia pernah melakukan itu juga, menulis renungan ketika sebenarnya adegan perlu diteruskan. Pembicaraan tersebut membuatnya kembali memikirkan tugas sebagai penulis, sesuatu yang beberapa hari ini sering tertutup oleh perannya sebagai penengah.
Dia menanyakan apakah boleh menyimpan satu contoh koreksi untuk belajar. Daddy menyetujui salinan bagian yang diperlihatkan, dan Erika menulis pada buku kerja, bukan halaman kejadian kafe.
Mereka lalu membahas dialog pendek. Daddy mengatakan tokoh tidak perlu terdengar selalu bijak; orang bisa menyelesaikan pertanyaan sambil salah memilih kata atau berhenti sebentar.
Erika mengangguk. Dia ingin tulisannya tetap dekat dengan orang, bukan membuat setiap percakapan seperti kumpulan nasihat yang dibacakan bergantian.
Erika memperhatikan koreksi berikutnya. Untuk beberapa menit mereka benar-benar membicarakan tulisan, bukan menjadikan novel sebagai alasan memberi nasihat kepada kehidupan semua orang.
"Aku ingin tulisanku tetap bagus walau ada masalah, Uncle," katanya akhirnya. "Tapi belakangan setiap kalimat terasa berhubungan sama kejadian rumah."
"Kadang perlu berhenti sebentar. Setelah itu kembali ke orang yang ada dalam cerita. Jangan semua tokoh dipakai membalas orang yang membuatmu marah."
Erika mengangguk. Dia belum pernah menyindir Aldin di naskah, tetapi beberapa kalimat memang sempat ingin dibuat lebih tajam karena perasaannya sendiri. Hal itu tidak adil bagi pekerjaan yang diberikan.
Daddy menanyakan jadwal menulis dan mengingatkan dia boleh menggunakan ruang yang tenang. Erika berterima kasih. Setelah berangkat ke kantor, dia membuka satu paragraf yang tadi dikerjakan ulang di kendaraan dan melihat bagian yang bisa diperbaiki tanpa mengubah suara cerita.
Di kantor, Jo belum datang. Dia telah memberi tahu akan menemui Caca dan meminta Erika meneruskan bagian kenangan yang disetujui. Tidak ada wawancara hari itu.
Erika bekerja di ruang yang disediakan, memeriksa dua halaman sebelum mengirim. Dia sengaja tidak menanyakan hasil pertemuan setiap setengah jam. Jo berhak berbicara tanpa harus melapor kepadanya sebagai orang yang membawa foto.
Di meja, Erika memeriksa kalimat yang beberapa hari lalu hampir diubah karena marah kepada kakaknya. Ia mengembalikan perhatian pada Jo dan Caca sebagaimana mereka pernah menceritakan kenangan, tanpa menambahkan hal baru yang belum diketahui.
Namun, dia juga tidak menulis harapan masa depan sebagai kepastian. Bagian tersebut masih diberi tanda menunggu wawancara. Hadiah bisa tertunda; tulisan tidak perlu berbohong demi mengejar tanggal.
Dia mengirim dua halaman kepada Jo disertai pertanyaan yang berkaitan dengan pekerjaan. Sesudah itu ponsel diletakkan jauh dari tangan agar tidak setiap notifikasi dianggap kabar pertemuan.
Satu jam berikutnya berjalan lebih baik. Erika menemukan salah nama tempat dan memperbaiki sesuai catatan, lalu memotong lelucon yang membuat adegan terlalu panjang. Dia akhirnya merasa sedang mengerjakan pekerjaan yang diminta, bukan menunggu hidup orang lain memberi izin untuk melanjutkan.
Ketika Lina mengirim kabar makanan malam sudah disiapkan, Erika membalas akan pulang sesuai waktu. Dia tidak meminta ditinggalkan makan sendirian sambil terus memeriksa layar.
Hari belum menjadi ringan. Namun, ada dua halaman yang selesai, barang pemberian sudah dibicarakan, dan satu penolakan yang diterima Ammar tanpa memaksa. Hal-hal tersebut nyata meskipun tidak cukup untuk membuat semua orang kembali akrab.
Sementara itu, di rumah keluarga Caca, Jo menunggu di ruang duduk. Frans tidak ikut sejak awal; mereka telah sepakat pasangan tersebut ingin berbicara berdua lebih dulu. Caca datang dengan buku kecil berisi daftar persiapan dan beberapa halaman kosong.
"Kamu bilang tidak membahas acara," katanya sambil duduk. "Aku tetap bawa kalau nanti ada yang perlu dicatat."
Jo mengangguk. Dia mengawali dengan mengakui bahwa belakangan terlalu banyak urusan diserahkan kepada Aldin. Namun, setelah itu dia menanyakan satu hal dengan jelas.
"Ada yang terjadi antara kamu dan Al yang tidak kamu ceritakan kepadaku?"
Caca memandang wajahnya. Kali ini tidak ada Erika yang bisa diminta berhenti mencatat, tidak ada pegawai membawa kertas.
"Kamu sudah bicara dengannya?"
"Sudah. Aku sekarang ingin mendengar darimu."
Wanita itu merapikan posisi buku. Dia mengatakan dekat dengan Aldin karena Jo meminta bantuan. Mereka sering bertemu, kadang makan bersama, tetapi dirinya menganggap semua itu bagian dari kebiasaan yang terbentuk selama persiapan.
Jo mendengarkan sebelum menunjukkan foto dari kafe. Dia tidak memotong atau memperbesar sampai wajah tak bisa dibaca. Cukup meletakkan ponsel di meja di antara mereka.
"Apakah ini kamu?"
Caca menunduk melihat. Wajahnya berubah sedikit, tetapi dia tidak langsung menjawab. Jo membiarkan beberapa detik berlalu.
"Foto ini buram," katanya akhirnya.
"Aku tahu. Aku tidak meminta kamu membaca wajah orang lain. Aku bertanya apakah kamu ada di sana bersama Al."
Caca mengangkat wajah. Dia menanyakan siapa yang memberikan dan mengapa orang sampai mengikuti. Jo menjawab akan membicarakan cara foto diperoleh, tetapi pertanyaannya tidak berubah karena itu.
"Aku ingin kamu jawab."
Caca membuka buku kecil tanpa tujuan jelas. Di bagian dalam sampul ada tulisan tangan yang besar, dilingkari garis tipis. Jo memandang sejenak, lalu menahan napas.
Sephia.
Wanita itu menyadari arah pandang Jo dan menutup buku setengah. Terlambat. Nama yang baru disebut Aldin kemarin kini ada di barang yang dibawa calon istrinya sendiri.
"Itu nama akun lamaku," kata Caca, terlalu cepat. "Aku kadang masih pakai buat barang pribadi. Kenapa?"
Jo tidak menyentuh buku atau mengambil dari tangannya. Dia hanya memandang Caca, kemudian foto yang tetap terbuka di meja.
"Karena Al memberiku nama itu ketika kutanya perempuan yang bersamanya."
Caca tidak lagi bergerak merapikan halaman. Ruang duduk terasa sunyi, dan Jo kini mempunyai pertanyaan yang tidak bisa dikecilkan menjadi kemiripan rambut.
"Caca," katanya pelan, "sekarang jangan meminta aku menebak lagi."