Kirana membaca kabar dari Erika sambil duduk di tepi tempat tidur. Nama Sephia tidak membuat wajah perempuan di foto menjadi lebih jelas. Namun, setidaknya sekarang Aldin memberikan sesuatu yang bisa ditanyakan, bukan hanya mengulang dirinya sedang bingung.
Dia mengetik balasan singkat, lalu kembali melipat pakaian. Tas sudah hampir penuh. Di atas meja ada beberapa barang yang harus dikembalikan kepada Lina dan gelas yang ingin dibawa turun sebelum pergi.
Ketika Erika tiba, Kirana tidak langsung bertanya apa saja yang diucapkan kakaknya kepada Jo. Wanita itu meminta mereka makan sedikit, lalu menunjukkan tiket sekali lagi untuk memastikan jam keluar rumah.
"Aku harus sampai stasiun lebih awal. Ndak mau percakapan nanti membuat semuanya terburu-buru."
Erika mengangguk. Mereka menghitung waktu perjalanan dan menambahkan cukup ruang jika kendaraan padat. Sesudah itu tiket disimpan. Jam keberangkatan tidak berubah hanya karena Aldin akan datang.
Sebelum Aldin datang, Kirana menelepon ibunya. Dia tidak ingin orang rumah mengira tiket pulang bergantung pada hasil pembicaraan. Ibunya menyatakan akan tetap menjemput apa pun yang terjadi.
"Aku takut nanti di rumah semua bertanya," kata Kirana.
Erika menunggu di luar sampai panggilan selesai. Ketika masuk setelah dipanggil, dia melihat Kirana sedang mengetik pesan kepada keluarganya bahwa belum siap bercerita panjang saat tiba.
"Aku boleh meminta itu, ya?"
"Boleh, Mbak. Pulang ndak berarti harus langsung menjelaskan semuanya di pintu."
Kirana mengangguk. Dia menambahkan akan cerita ketika sudah istirahat. Sesudah pesan terkirim, dia meletakkan ponsel dan membuka tas kecil yang akan dibawa ke ruang duduk.
Erika menawarkan menemani sampai pintu. Wanita itu menerima, tetapi tidak meminta disusun kalimat baru. Kertas pertanyaan sudah cukup. Beberapa jawabannya mungkin tidak menyenangkan, namun dia tidak ingin semua berubah menjadi percakapan yang telah diatur orang lain.
"Kalau nanti aku menangis, aku mungkin tetap bisa bicara," katanya.
"Aku tahu. Kalau Mbak memanggil, aku masuk. Kalau ndak, aku menunggu."
Kirana tersenyum tipis. Dia mengambil air minum, lalu duduk sebentar di ruang yang akan dipakai. Tempat itu masih sama seperti malam pertama, tetapi kali ini dia tahu bahwa keputusan pulang sudah ada. Bukan Aldin yang menentukan kapan dia boleh berhenti menunggu.
Menjelang pukul satu, Kirana meminta bertemu di ruang duduk yang dipakai malam pertama. Dia membawa kertas pertanyaan, tetapi tidak membawa semua foto. Aldin sudah mengakui dirinya. Mengulang gambar tidak akan membuat jawaban berikutnya lebih jujur.
Erika menyiapkan air lalu keluar. Dia memberitahukan akan berada di teras, bukan di balik pintu. Kirana mengucapkan terima kasih dan memintanya tidak mencoba menebak dari suara yang mungkin terdengar.
Aldin datang beberapa menit kemudian. Dia tidak membawa hadiah atau makanan sebagai pembukaan. Tangan kirinya memegang kunci kendaraan, sementara wajahnya tampak lebih lelah daripada pagi.
"Kamu sudah siap pulang?" tanyanya.
"Sudah. Kita masih punya waktu bicara sebelum aku berangkat."
Aldin duduk. Kirana membuka dengan nama yang baru diterima.
"Sephia itu siapa, Mas?"
Aldin memandangnya. "Jo sudah bilang ke kamu?"
"Aku bertanya tentang nama yang Mas sebut. Bukan siapa yang menyampaikan."
Lelaki itu mengangguk pelan. Dia mengatakan perempuan tersebut sudah dikenalnya, bukan orang yang baru ditemui di kafe. Namun, ketika diminta menjelaskan kapan dan bagaimana, jawabannya kembali berhenti pada keadaan yang rumit.
Kirana meletakkan kertas di meja. "Aku ndak mau memakai semua waktu buat mengulang pertanyaan yang sama. Ada yang lebih penting sekarang."
Aldin menatapnya.
"Mas masih ingin melanjutkan hubungan kita? Dengan tindakan yang jujur, bukan hanya bilang sayang."
Aldin menunduk. Keheningan berlangsung cukup lama hingga Kirana mendengar suara sendok dari dapur. Dia tidak mengisi dengan kemungkinan jawaban baik seperti yang selama ini dilakukan.
"Mas nggak tahu apakah bisa memberikan yang kamu inginkan," kata Aldin akhirnya.
Kirana menutup mata sesaat. Kalimat itu tidak langsung menyebut selesai, tetapi sudah menjauh dari janji bahwa hubungan mereka tetap sama.
"Yang kuinginkan itu bukan sesuatu yang aneh, Mas. Aku ingin punya pasangan yang juga mau bersamaku."
"Mas tahu."
"Kalau Mas ndak tahu apakah bisa, aku ndak akan terus diminta menunggu sampai tahu."
Aldin mengulurkan tangan ke meja. Kirana tidak bergerak mendekat. Dia masih bisa menerima penjelasan tanpa menjadikan sentuhan sebagai tanda kembali setuju.
"Aku minta maaf, Kiran."
Wanita itu mengangguk. Air matanya mulai menggenang, tetapi suaranya tetap terdengar.
"Aku mendengar. Tapi aku ndak bisa melanjutkan dengan jawaban seperti ini."
Aldin mengangkat wajah. "Kamu mau mengakhiri?"
Kirana tersenyum getir. "Mas membuat aku harus mengatakan kalimat yang selama ini ndak mau Mas katakan."
Lelaki itu tidak membalas. Kirana mengambil tas kecil dan mengeluarkan cincin perak yang pernah diberikan. Dia meletakkannya di meja, bukan melempar atau menyuruh Aldin melihatnya sebagai hukuman.
"Aku menyimpan ini karena percaya ada rencana yang masih kita jaga. Sekarang aku ndak ingin memakainya sambil menebak apakah aku masih ada di rencana Mas."
Aldin memandang cincin. Dia terlihat hendak meminta Kirana menyimpan, tetapi berhenti sebelum kalimat keluar.
"Aku ndak bilang empat tahun semuanya buruk," lanjut Kirana. "Aku masih ingat yang baik. Itu yang membuat aku bertahan. Tapi ingatan baik ndak cukup untuk meneruskan hubungan yang sekarang membuat aku merasa sendirian."
Air matanya akhirnya jatuh. Dia mengambil tisu sendiri. Aldin tidak meraih bahunya atau memeluk agar percakapan berhenti. Dia membiarkan wanita itu menarik napas sampai sanggup melanjutkan.
"Aku pulang sebagai orang yang ndak lagi menunggu Mas memilihku. Kalau suatu hari ingin meminta maaf lebih lengkap, aku boleh memutuskan mendengar atau ndak."
Aldin mengangguk, suaranya hampir tidak keluar ketika mengatakan mengerti. Kirana tidak bertanya apakah kini dia akan langsung bersama perempuan itu. Jawaban tersebut mungkin melukai lagi, tetapi tidak mengubah keputusan yang baru dibuat.
Kirana juga menanyakan apakah Aldin akan menyampaikan kepada keluarga sendiri bahwa hubungan mereka berakhir. Lelaki itu menjawab akan bicara dengan Bu Mei setelah siap.
"Jangan sampai Ibu mengira aku pergi karena tiba-tiba marah," ujar Kirana. "Aku ndak meminta Mas membuka setiap kejadian. Tapi katakan kita ndak melanjutkan dan jangan membuat aku terlihat satu-satunya orang yang memilih menjauh."
Aldin mengangguk. Dia mengatakan memahami. Kirana tidak meminta pesan ditulis di depannya; dia hanya menyampaikan batas cerita yang tidak boleh diubah.
"Aku juga akan bicara kepada orang tuaku," katanya. "Aku ndak akan menambah yang belum kuketahui. Tapi aku ndak akan menghapus yang memang terjadi supaya Mas terlihat baik."
Aldin menerima dengan suara pelan. Ada penyesalan pada wajahnya, tetapi Kirana tidak lagi menjadikan penyesalan itu bukti bahwa hubungan harus diteruskan.
Dia bertanya tentang beberapa barang kecil yang pernah ditinggal di rumah keluarganya. Tidak ada yang perlu segera diambil hari itu. Mereka bisa mengaturnya nanti tanpa membuat setiap pertemuan menjadi alasan membuka hubungan lagi.
Pembicaraan tersebut terasa aneh. Sesudah empat tahun membayangkan hal besar, sekarang ada kaus, buku pinjaman, dan nama yang perlu disampaikan kepada keluarga. Namun, justru hal-hal biasa membuat keputusan terasa nyata, bukan kalimat yang hanya diucapkan ketika sedih.
Kirana menegaskan tidak ingin terus ditelepon untuk ditenangkan jika Aldin belum mempunyai penjelasan yang lebih jujur. Dia boleh memberi kabar tentang barang atau meminta waktu bicara, tetapi Kirana berhak menolak.
"Aku ndak mau dijaga dekat supaya Mas ndak merasa bersalah," katanya.
Aldin memandangnya lama. Lalu dia mengangguk tanpa mencoba membuat kalimat tersebut lebih ringan.
Mereka duduk beberapa menit tanpa bicara. Cincin masih di meja. Aldin akhirnya mengambil dan menyimpannya ke saku dengan gerakan hati-hati.
"Mas antar ke stasiun?"
"Ndak. Aku sudah mengatur kendaraan bersama Erika."
Aldin menerima. Dia tidak memaksa agar perpisahan tampak lebih baik karena dirinya terlihat mengantar. Ketika berdiri, dia menyampaikan terima kasih atas tahun-tahun yang pernah dijalani bersama.
Kirana memandangnya. "Aku juga berterima kasih untuk yang memang baik. Tapi aku belum bisa merasa tenang tentang yang lain."
"Aku tahu."
Pintu dibuka. Erika yang berada di teras berdiri ketika melihat Aldin keluar. Kakaknya tidak memberi penjelasan panjang. Dia hanya mengatakan akan pergi dan meminta Kirana dijaga selama perjalanan.
Erika mengangguk. Dia tidak menjanjikan akan membuat wanita itu berubah pikiran.
Sesudah Aldin meninggalkan rumah, dia masuk. Kirana masih duduk, kedua tangannya di pangkuan. Bekas tisu diletakkan rapi di dekat gelas.
"Sudah selesai, Rik," katanya.
Erika duduk di sebelah tanpa langsung bertanya bagian mana yang harus diulang. Kirana mengambil napas, lalu menceritakan keputusan mengakhiri dan mengembalikan cincin.
"Mbak ingin aku menemani diam dulu?"
Kirana mengangguk. Untuk beberapa menit, mereka hanya duduk. Erika tidak mengatakan akan ada lelaki yang lebih baik besok atau Aldin pasti menyesal. Wanita itu baru kehilangan hubungan yang lama, bukan sedang menunggu jawaban lomba yang perlu segera diberi hadiah hiburan.
Ketika waktu berangkat mendekat, Kirana mencuci muka dan mengganti pakaian. Dia menghabiskan setengah roti yang disiapkan Lina, lalu membawa tas ke ruang depan. Ada hal-hal sederhana yang masih perlu dilakukan meskipun hatinya belum siap menerima seluruh keputusan.
Sebelum turun membawa tas, Kirana menulis ucapan terima kasih di meja kamar. Dia memilih tidak menjelaskan perpisahan kepada semua orang melalui surat. Keluarga yang menerima tidak perlu dijadikan penonton untuk membuktikan dirinya benar.
Erika membantu mengecek bawah tempat tidur dan laci. Tidak ada barang tertinggal. Mereka meletakkan handuk yang dipakai di tempat cucian setelah bertanya kepada Bi Ani.
"Aku ingin pamit bukan cuma pergi karena sudah ndak kuat," kata Kirana.
"Mbak sudah menyiapkan semuanya."
Kirana mengangguk. Dia menutup tas, berdiri, lalu menatap kamar sebentar. Beberapa hari yang berat dilewati di tempat itu, tetapi ada pula tidur yang akhirnya terasa aman dan makanan yang dibawa tanpa harus diminta.
Dia tidak ingin mengingat seluruh rumah hanya sebagai tempat menunggu Aldin.
Daddy menunggu untuk berpamitan. Kirana berterima kasih atas kamar dan tempat yang diberikan tanpa banyak pertanyaan. Lelaki itu mengangguk, tidak memaksanya menceritakan hasil pertemuan.
"Perjalananmu lancar, Nak. Kalau membutuhkan tempat lagi, kamu boleh memberi kabar. Tapi jangan merasa harus datang hanya karena urusan orang lain."
Kirana mengangguk. Lina memeluknya sebentar, lalu menyelipkan makanan kecil ke tas. Kiki berdiri sedikit lebih jauh dan berkata jangan melewatkan makan selama kereta berjalan.
"Tas kainnya boleh dibawa," tambahnya ketika Kirana hendak mengembalikan.
Wanita itu tersenyum dengan mata masih merah. Dia tidak membuat ucapan terima kasih panjang yang akan membuat Kiki salah tingkah. Cukup mengangguk dan menjaga barang tersebut tetap bersama pakaian.
Di kendaraan, Erika mengabari Bu Mei mereka menuju stasiun. Ibunya meminta Kirana memberi kabar sesampainya di Semarang. Keluarga wanita itu juga sudah menyiapkan penjemputan.
"Semua orang tahu aku pulang," kata Kirana pelan. "Sekarang tinggal aku yang harus menerima artinya."
Erika mengangguk. Mereka tidak membicarakan Aldin selama beberapa menit berikutnya. Jalan padat, pengemudi memilih rute yang tersedia, dan Kirana memeriksa identitas sebelum tiba.
Di area keberangkatan, Erika membantu membawa satu tas sampai batas penumpang. Tidak ada adegan mengikuti ke peron. Kirana berhenti sebelum pemeriksaan dan menatapnya.
"Kamu ndak bersalah karena memberi tahu, Rik."
Erika menelan ludah. "Aku tetap telat cerita."
"Iya. Aku sempat marah. Tapi jangan nanti menganggap kalau diam, hubungan kami akan baik. Yang terjadi bukan dibuat oleh fotomu."
Erika mengangguk. Kalimat itu tidak membebaskan semua keterlambatannya, tetapi memisahkan bagian yang selama ini terasa bercampur.
Kirana memeluknya. Kali ini tubuhnya masih bergetar, tetapi bukan seperti orang yang tiba dan tidak tahu harus pergi ke mana. Dia sudah punya tujuan, meskipun jalan pulang terasa berbeda dari perjalanan datang.
"Jaga Ibu juga kalau menelepon," pesan Kirana. "Bu Mei pasti ikut memikirkan kamu."
"Nggih. Mbak hati-hati. Kabari setelah duduk."
Kirana masuk setelah tiket diperiksa. Erika menunggu sampai pesan bahwa dia sudah menemukan tempat duduk datang. Baru sesudah itu dia berjalan kembali ke titik kendaraan.
Ponselnya berbunyi ketika mobil mulai bergerak. Sofyan bertanya apakah penjemputan ke stasiun sudah selesai. Erika menjawab Kirana pulang dan hubungan dengan Aldin telah berakhir, sejauh yang boleh diceritakan.
Sofyan tidak menambahkan komentar buruk tentang kakaknya. Dia hanya menanyakan keadaan Erika. Perhatian sederhana itu membuatnya hampir menangis, tetapi dia menunggu sampai bisa menjawab dengan tenang.
"Aku capek, Mas. Tapi aku juga lega Mbak Kiran ndak harus menunggu sendirian lagi."
Sofyan membalas agar dia beristirahat sebelum melanjutkan tulisan.
Di rumah, kamar tamu sudah lebih kosong. Erika membawa gelas ke dapur dan memeriksa tidak ada pengisi daya tertinggal. Pada meja ada secarik kertas untuk keluarga, tulisan tangan Kirana yang mengucapkan terima kasih.
Erika menyerahkan kepada Lina, tidak menyimpannya sebagai bagian dari novel. Ada cerita yang boleh diceritakan hanya oleh orang yang menjalaninya.
Malam itu pesan Kirana datang dari dalam kereta. Dia telah makan dan menelepon ibunya. Kalimat terakhir membuat Erika duduk sebentar sebelum membalas.
Aku masih sedih. Tapi aku ndak menyesal sudah datang.
Erika mengucapkan semoga perjalanan lancar. Sesudah itu dia menutup percakapan dan memandang kamar tamu yang lampunya sudah dipadamkan.
Satu hubungan berakhir hari ini. Pertanyaan tentang perempuan bernama Sephia belum berakhir bersamanya.