Jo tidak memulai dengan foto. Dia meminta Aldin duduk, menutup berkas kerja, lalu meletakkan ponsel di sisi meja. Sahabatnya memperhatikan gerakan itu dan segera mengetahui pertemuan bukan soal daftar tugas.
"Erika sudah cerita," kata Jo.
Aldin mengangguk. "Aku tahu."
"Aku mau dengar dari kamu. Apa yang sebenarnya terjadi sama Kirana?"
Aldin merapatkan kedua tangan. Dia mengatakan hubungan mereka sedang tidak baik, jarak membuat banyak perkara sulit dijelaskan, dan Kirana datang ketika dirinya belum siap berbicara lengkap.
Jo mendengarkan sampai akhir. Sesudah itu dia membuka foto dan memutar layar ke hadapan Aldin.
"Ini juga karena jarak?"
Aldin menatap gambar. Tidak ada usaha mengatakan lelaki dalam foto orang lain. Dia sudah mengakuinya di depan Kirana.
"Itu aku."
"Aku tahu. Pertanyaanku perempuan itu siapa."
Aldin mengusap rahang. Dia memandang pintu, kemudian kembali ke Jo.
"Ada yang belum bisa kujelaskan sekarang."
Jo meletakkan ponsel lebih dekat. "Al, aku memberi waktu khusus. Aku nggak memanggil kamu sambil rapat. Jangan mulai dengan nanti lagi."
Nada itu lebih keras daripada biasanya. Aldin meluruskan punggung. Dia terbiasa menerima keputusan direktur, tetapi bukan mendengar sahabat yang biasanya membela meminta penjelasan tanpa ruang melarikan diri.
"Aku memang salah ke Kirana," katanya. "Aku belum mengatakan semuanya."
"Kenapa?"
"Karena aku tahu dia akan terluka."
Jo tertawa sekali, tanpa rasa lucu. "Lalu dibohongi supaya tidak terluka? Kamu lihat sendiri dia datang dari Semarang. Dia sudah terluka, Al."
Aldin menunduk. Dia tidak menjawab dengan mempersalahkan Kirana yang terlalu banyak menelepon. Di ruangan ini alasan itu terdengar lebih buruk daripada ketika disampaikan kepada wanita yang masih ingin percaya.
"Aku akan bicara dengannya siang ini."
"Bagus. Tapi jangan anggap karena kamu mengatur pertemuan, pertanyaanku selesai."
Jo menunjuk perempuan dalam gambar.
"Aku kenal bentuk rambut itu. Aku juga kenal suara yang diceritakan Erika. Kamu tahu kenapa aku bertanya."
Aldin memandangnya. Keheningan berlangsung beberapa detik sebelum Jo menyebut nama yang sejak awal ada di ruangan meskipun belum diucapkan.
"Ada hubungan antara kamu dan Caca yang aku tidak tahu?"
Aldin menarik napas. "Kamu meminta aku membantu dia."
"Aku meminta membantu urusan pernikahan. Bukan ini."
"Foto itu belum memperlihatkan wajah."
Jo berdiri begitu cepat kursinya bergeser. Dia tidak memukul meja, tetapi suaranya tidak lagi tenang.
"Aku tanya orang yang ada di ruangan, bukan kualitas kamera. Kamu tahu siapa yang duduk sama kamu. Jawab."
Aldin menatap wajah sahabatnya. Untuk sesaat dia terlihat ingin mengatakan sesuatu yang panjang, tetapi yang keluar hanya satu nama.
"Sephia."
Jo berhenti bergerak. "Siapa?"
"Namanya Sephia."
Nama itu asing bagi Jo. Dia pernah mendengar banyak nama klien, teman, dan rekan kerja, tetapi Aldin tidak pernah memperkenalkan perempuan tersebut.
"Kamu berhubungan sama dia?"
Aldin mengangguk kecil. "Ada perasaan yang belum selesai."
Jo kembali duduk. Kemarahannya tidak hilang, hanya mempunyai pertanyaan baru.
"Kenapa Kirana masih diminta percaya?"
"Aku tahu itu salah."
"Dan kenapa kamu menunggu sampai ditunjukkan foto untuk mengatakan namanya?"
Aldin mengusap wajah. Dia menjawab tidak ingin melibatkan perempuan tersebut sebelum menyelesaikan dengan Kirana. Jo menatapnya cukup lama sampai kalimat itu tidak lagi bisa terdengar sebagai perlindungan yang baik.
"Aku nggak meminta kamu mengumumkan ke pegawai. Aku bertanya secara pribadi karena ini juga menyangkut calon istriku."
Aldin menggeleng. "Jangan membuat kesimpulan sebelum tahu."
"Aku sedang mencoba tahu. Kamu yang menahan jawabannya."
Jo memandang foto lagi. Nama Sephia tidak dengan sendirinya membuat perempuan dalam gambar mempunyai wajah berbeda. Namun, menyatakan Aldin pasti bersama Caca tanpa penjelasan juga bukan sesuatu yang mau dilakukan.
"Aku bisa bertemu dia?" tanyanya.
Aldin terlihat kaget. "Buat apa?"
"Supaya yang kamu katakan bukan cuma nama. Aku nggak perlu mengganggu urusannya. Aku ingin tahu apakah aku sedang disuruh percaya pada orang yang tidak akan pernah diperkenalkan."
"Dia belum siap."
Jo menutup layar ponsel. Ketegangan di wajahnya semakin jelas.
"Kalau begitu jangan meminta aku menganggap pertanyaan selesai."
Aldin bersandar, lalu segera menegakkan tubuh kembali. Dia menyebut persahabatan mereka, tahun-tahun ketika bekerja bersama, dan masa awal perusahaan ketika banyak hal dijalankan tanpa bantuan siapa pun.
Aldin sempat menanyakan apakah Jo masih mempercayai hal lain yang telah dikerjakannya. Pertanyaan itu membuat sahabatnya terdiam sebelum menjawab.
"Aku tidak mengatakan semua pekerjaanmu selama ini bohong," kata Jo. "Berkas yang benar tetap benar. Tapi kepercayaan kepada orang bukan cuma kumpulan laporan yang selesai tepat waktu."
Aldin mengangguk, meskipun tampak ingin mempertahankan sesuatu dari tahun-tahun yang telah mereka lewati.
"Aku ada waktu kamu kesulitan dulu."
"Aku ingat. Aku juga tidak akan menghapusnya. Tapi kamu tidak bisa memakai itu untuk meminta aku berhenti bertanya sekarang."
Jo menyebut satu kejadian ketika perusahaan masih kecil dan mereka bekerja sampai larut memperbaiki pesanan yang salah. Aldin yang menunggu bersama ketika orang lain sudah pulang. Ingatan itu bukan tuduhan atau lelucon. Justru itulah alasan foto terasa begitu menyakitkan.
"Aku pernah percaya kalau ada hal yang berbahaya buatku, kamu akan bilang sebelum aku berdiri di depannya," ujar Jo.
Aldin memandang tangan di pangkuan. Dia tidak dapat menjawab bahwa masih begitu, sementara wajah perempuan yang berada di foto sengaja tidak dijelaskan dengan nama yang dikenal Jo.
"Aku tidak mau kamu mengira aku sengaja menjatuhkanmu," katanya.
"Kalau begitu beri aku yang benar. Tidak perlu penjelasan yang membuatmu terlihat baik."
Keheningan kembali. Di luar, suara lift terdengar, lalu langkah menjauh. Pertemuan pribadi itu hanya salah satu ruangan di gedung yang masih bekerja, tetapi bagi keduanya ada bagian lama yang mulai retak dan belum bisa dibetulkan dengan menyebut masa lalu.
Jo mendengarkan. Sesudah itu dia berkata pelan, jauh lebih menyakitkan daripada bentakan tadi.
"Justru karena itu aku menanyakan langsung. Kalau kamu cuma pegawai yang tidak kukenal, aku mungkin tidak akan duduk satu jam mencoba memahami."
Aldin menatapnya. Jo memindahkan foto ke folder tertutup, tidak menghapus.
"Untuk sementara, aku urus sendiri pertemuan dan jadwal Caca. Kalau ada dokumen, serahkan. Kamu tidak perlu menemani dia belanja lagi."
"Kamu mencurigai aku sampai pekerjaan dicampur?"
"Aku mengambil kembali urusan pernikahanku. Itu memang seharusnya aku lakukan dari awal. Pekerjaan perusahaan tetap dikerjakan sesuai tugas."
Aldin tidak membalas. Jo menyebut berkas yang perlu diselesaikan hari itu, menjelaskan tidak ada perubahan jabatan atau hukuman yang diumumkan kepada orang lain. Namun, kepercayaan pribadi tidak bisa dianggap tetap sama hanya karena pekerjaan berjalan.
"Aku juga akan bicara dengan Caca."
Aldin mengangkat wajah. "Dia nanti merasa dituduh."
"Aku akan menjaga caraku bertanya. Kamu tidak perlu menentukan jawabannya sebelum aku mendengar."
Jo mengambil kertas kosong dan menulis dua persoalan terpisah. Pertama, Aldin dan Kirana. Kedua, dugaan yang menyangkut Caca. Dia menunjukkan kepada sahabatnya, bukan sebagai daftar tuduhan yang harus ditandatangani.
"Kalau kamu menyelesaikan dengan Kirana, itu tidak otomatis menjawab bagian kedua," katanya.
Aldin melihat tulisan. "Aku tahu."
"Aku ingin jelas supaya nanti jangan ada yang mengatakan semua sudah selesai karena dia pulang."
Jo menaruh pena. Dia meminta Aldin menjelaskan apa yang diketahui Caca tentang Kirana. Lelaki itu menjawab telah mengatakan mereka sedang tidak cocok. Jo menanyakan apakah dia pernah menyatakan hubungan berakhir, dan Aldin berhenti cukup lama sebelum mengatakan tidak ingin membahas percakapan dengan orang lain.
"Percakapan itu menyangkut calon istriku," jawab Jo. "Aku tidak meminta urusan seluruh hidupmu."
Aldin mengangguk, tetapi tetap tidak memberi rincian. Jo menerima bahwa jawaban belum diperoleh, bukan menerima penolakan sebagai tanda persoalan tidak penting.
Dia menuliskan satu pengingat untuk bertanya langsung kepada Caca. Tidak ada rencana memeriksa perangkat atau meminta pegawai mengikuti. Dia akan memulai dari orang yang mempunyai bagian dalam kejadian tersebut.
Aldin memandang pena, lalu bertanya apakah Jo akan memberitahu Daddy. Lelaki itu menjawab akan membagikan yang dibutuhkan bila keputusan keluarga terpengaruh, bukan untuk mengumpulkan orang yang marah.
"Aku tidak ingin menjadi bahan cerita di rumahmu," kata Aldin.
"Aku juga tidak ingin pernikahanku menjadi sesuatu yang semua orang tahu kecuali aku."
Kalimat itu membuat keduanya diam. Jo menggeser kertas ke sisinya dan menutup berkas kerja yang belum dibaca. Memisahkan tugas perusahaan dari urusan pribadi tidak berarti salah satunya menghilangkan hak untuk bertanya.
Pintu diketuk. Seorang pegawai meminta Jo membaca revisi perjanjian sebelum makan siang. Jo menyuruh meletakkan dan kembali nanti. Dia tidak membuka berkas itu untuk memberi Aldin jalan mengakhiri pembicaraan.
"Ada hal lain yang perlu kuketahui sekarang?" tanyanya.
Aldin memandang meja. Setelah beberapa detik, dia menggeleng.
Jo mengangguk pelan. "Aku berharap jawaban itu tidak membuat kita harus duduk di sini lagi karena kamu memilih menyimpan bagian yang paling penting."
Aldin berdiri setelah dipersilakan. Tidak ada pelukan bahu, tidak ada ajakan makan. Dia berjalan keluar membawa berkas yang memang harus diteruskan, tetapi untuk pertama kali sejak menjadi asisten, urusan pribadi Jo tidak ikut berada di tangannya.
Di ruang tunggu, Erika menutup laptop ketika melihat kakaknya. Aldin tidak berhenti lama. Dia hanya mengatakan Jo akan memanggil, lalu pergi ke arah lift.
Erika masuk beberapa menit kemudian. Jo masih duduk dengan ponsel di meja. Wajahnya terlihat lelah, tetapi tidak sama dengan orang yang baru memutuskan semua sudah salah paham.
"Al memberi nama," katanya. "Sephia."
Erika merasakan perutnya mengencang. Nama itu pernah muncul ketika dia melihat panggilan di ponsel kakaknya, jauh sebelum kafe dan cincin. Dia memberitahukan kepada Jo, termasuk bagian yang diingat dan bagian yang tidak sempat dilihat.
"Aku pernah membaca nama itu pada panggilan. Fotonya perempuan berambut pirang. Aku belum tahu nomor atau nama lengkapnya."
Jo menatapnya. "Kenapa tidak bilang tadi?"
"Aku ndak ingat sampai Mas menyebut. Waktu itu aku lebih takut ketahuan melihat layar Mas Aldin."
Dia tidak mengarang nomor atau mengatakan profil itu pasti Caca. Ingatan tersebut bukan foto yang bisa diperiksa ulang. Jo mendengarkan, lalu menulis nama itu di kertas terpisah.
"Jadi nama ini bukan baru dibuat hari ini," katanya.
"Sepertinya begitu. Tapi aku ndak tahu itu nama asli atau nama yang dipakai Mas Al di ponsel."
Erika mengingat lebih pelan kejadian panggilan lama. Aldin mengambil kembali ponsel sebelum dirinya sempat membaca hal lain, dan waktu itu dia hanya menyampaikan kekhawatiran Kirana. Dia tidak mempunyai tangkapan layar yang bisa diserahkan.
"Kalau ingatan tentang foto profil ternyata kurang tepat, aku harus bilang dari sekarang, Mas. Yang jelas nama Sephia pernah terbaca."
Jo mengangguk. Dia membedakan hal tersebut dari foto kafe yang memang disimpan. Tidak semua petunjuk mempunyai kekuatan sama, dan mengulang ingatan berkali-kali tidak membuatnya berubah menjadi gambar baru.
"Aku akan bertanya, bukan memutuskan dari itu saja," katanya.
Erika merasa lega mendengar. Selama ini dia takut setiap kalimat yang disampaikan harus langsung membawa kepastian. Sekarang mereka dapat mengakui ada hal yang perlu dijelaskan tanpa membuatnya seolah sudah diketahui.
Jo mengangguk. Ada sedikit informasi baru, bukan jawaban penuh. Dia tidak meminta Erika mencari akun atau diam-diam memeriksa telepon Aldin. Sahabatnya telah diminta menjelaskan dan tahu pertanyaan belum selesai.
"Kirana perlu tahu nama yang diberikan," ujar Jo. "Itu menyangkut hubungannya. Tapi jangan sampai dia menerima nama lalu menganggap wajah di foto sudah terbukti berbeda."
Erika mengangguk. Dia mengirim kabar kepada Kirana dengan kalimat yang sama jelasnya: Aldin menyebut Sephia, tetapi belum memperkenalkan atau menjelaskan identitas secara lengkap.
Balasan Kirana datang sesudah beberapa menit. Wanita itu akan menanyakan sendiri siang nanti.
Jo meminta beberapa halaman pekerjaan yang harus dibaca hari itu. Mereka mencoba kembali pada urusan biasa, tetapi suasananya tidak sepenuhnya pulih. Setiap kali Jo menyebut Caca, ada jeda yang sebelumnya tidak pernah ada.
Menjelang siang, dia menelepon calon istrinya dan menanyakan apakah bisa bertemu besok tanpa membawa daftar acara. Erika tidak mendengar seluruh panggilan. Namun, setelah telepon ditutup, Jo mengatakan mereka akan bicara di rumah keluarga Caca.
"Aku tidak mau ini dibahas sambil kamu harus mencatat," katanya.
"Nggih, Mas."
Erika berterima kasih karena tidak diminta duduk menjadi saksi untuk pertanyaan yang belum bisa dijawab. Dia akan membawa catatan jika dibutuhkan, tetapi tidak mengubah pertemuan pasangan menjadi bagian dari pekerjaan.
Sebelum pulang untuk menemani Kirana, dia berhenti di pintu. Jo masih melihat nama di kertas kecil.
"Mas, aku ndak tahu apakah cerita ini akan berubah baik."
Jo mengangkat wajah. "Aku juga nggak tahu. Tapi aku lebih ingin mendengar sekarang daripada setelah semua orang sudah berdiri di depan pesta."
Erika mengangguk. Dia keluar dengan satu nama tambahan dan lebih sedikit alasan untuk berpura-pura bahwa pertanyaan mereka hanya akibat foto yang buram.