Erika menunggu beberapa saat setelah mengirim jawaban. Tidak ada pesan baru dari Aldin. Ia tidak menambah penjelasan panjang, tidak pula memanggil kakaknya hanya untuk memastikan kalimat terakhir tidak membuat hubungan mereka semakin buruk.
Di kasur, Iccha membalik halaman bacaan. Erika meletakkan ponsel di meja dan mematikan lampu laptop. Malam itu sudah terlalu banyak percakapan yang diselesaikan lewat layar.
"Dia marah?" tanya Iccha tanpa melihatnya.
"Aku ndak tahu. Dia minta bicara sebelum Mas Jo besok."
"Lo mau?"
"Mau mendengar. Tapi aku ndak mau diminta menarik yang memang kulihat."
Iccha mengangguk. Tidak ada nasihat tambahan atau lelucon. Erika bersyukur. Kadang didengar tanpa langsung disusun jalan keluarnya justru membuat kepala lebih tenang.
Dia keluar sebentar untuk menemui Kirana. Kamar tamu masih terang, dan wanita itu sedang memisahkan pakaian yang akan dipakai selama perjalanan. Tiket besok sore terbuka di ponsel dekat bantal.
"Mas Aldin mau bicara denganku besok pagi," ujar Erika setelah dipersilakan masuk.
Kirana berhenti melipat. "Sama kamu dulu?"
"Iya. Aku ingin Mbak tahu. Aku ndak akan membuat kesepakatan tentang hubungan Mbak di belakang."
Kirana mengangguk pelan. Dia menanyakan apakah Aldin juga membalas pesannya. Erika menjawab tidak tahu; pesan kepada dirinya tidak menyebut pertemuan dengan Kirana.
"Aku tetap berangkat sore," kata wanita itu.
"Nggih. Aku bantu sampai stasiun."
Kirana meletakkan baju ke tas. Dia tidak menuntut Erika menyampaikan ancaman agar kakaknya segera datang. Jam keberangkatan telah diberitahukan, dan orang yang ingin bertemu bisa mengatur waktu sendiri.
Sebelum kembali, Erika membantu memeriksa barang kecil: pengisi daya, identitas, dan obat pribadi yang biasa dibawa. Bukan karena Kirana tidak mampu, melainkan karena wanita itu meminta ditemani memeriksa agar tidak ada yang tertinggal.
Di atas meja ada tas kain pemberian Kiki. Kirana memasukkan handuk kecil ke sana, lalu tersenyum tipis.
"Besok aku mau pamit satu-satu. Mereka sudah banyak membantu."
"Boleh, Mbak. Ndak harus sebelum semua bangun."
Erika kembali ke kamar dengan satu kepastian yang kecil tetapi cukup: Kirana tahu percakapan besok, dan tidak ada orang yang sedang dibuat menunggu tanpa mengetahui rencana lain.
Sebelum mematikan lampu, Erika menerima pesan Sofyan yang menanyakan apakah besok masih bisa menelepon pada jam biasa. Dia membalas bisa, tetapi memberi tahu ada pertemuan keluarga yang mungkin membuatnya lelah. Tidak ada nama Caca atau foto disertakan.
Sofyan menjawab jangan sungkan mengubah waktu jika perlu. Erika membaca dua kali. Mereka belum selesai membicarakan tempat tinggal dan rencana melamar, tetapi kali ini perubahan jadwal tidak langsung dianggap perubahan perasaan.
"Mas, aku tetap ingin bicara. Kalau nanti hanya sebentar, aku bilang dari awal," ketiknya.
Jawaban datang singkat, menyetujui. Dia meletakkan ponsel dan menyadari hubungan juga dikerjakan melalui hal-hal kecil yang bisa dipastikan, bukan hanya janji besar untuk tahun depan.
Iccha menutup bacaan. Dia sempat ingin bertanya apakah Erika perlu ditemani turun besok, lalu memilih tidak. Wanita itu sudah mengatakan akan mendengar kakaknya sendiri. Bantuan bisa ditawarkan setelah diperlukan, bukan dijadikan cara agar orang lain cepat terlihat nyaman.
"Kalau setelah bicara lo perlu duduk, gue ada sampai berangkat," katanya akhirnya.
Erika berterima kasih. Ia tidak menyebut tawaran itu sebagai tanda Iccha sudah memaafkan. Namun, ketika menarik selimut, dia merasa tidak sedang menghadapi pagi sendirian.
Pagi datang bersama pesan Aldin. Dia sudah di bawah dan meminta Erika turun sebelum berangkat ke kantor. Erika membalas akan datang setelah selesai bersiap, lalu memberi tahu Iccha bahwa mereka mungkin tidak berangkat bersama.
Di ruang duduk kecil, Aldin berdiri dekat jendela. Tidak ada map di tangan, tidak ada kebiasaan menyebut pekerjaan saat melihat adiknya. Itu seharusnya membuat Erika lega. Justru dia tahu percakapan kali ini bukan sesuatu yang mudah dipindahkan ke nanti.
"Duduk, Rik."
Erika duduk, tetapi tidak meletakkan tas terlalu jauh. Aldin mengambil kursi di hadapannya.
"Mas tahu kamu sudah bicara sama Jo."
"Nggih. Aku menyampaikan yang kulihat dan bagian yang belum pasti."
"Termasuk nama Caca?"
Erika menarik napas. "Aku bilang aku mempunyai dugaan. Aku ndak mengatakan identitasnya sudah pasti."
Aldin memandang meja. Ada jeda cukup lama sebelum dia kembali menatap adiknya.
"Kamu tahu akibat menyebut calon istrinya?"
"Aku tahu bisa membuat dia khawatir. Tapi kalau itu menyangkut Mas Jo, aku ndak boleh terus menyimpan hanya karena takut."
"Khawatir? Dia bisa membatalkan pernikahan. Keluarga bisa saling menyalahkan."
Erika mengangguk pelan. Dia tidak menyebut kemungkinan tersebut ringan. Namun, semua akibat yang disebut kakaknya dimulai sesudah dirinya bercerita, seolah kejadian di kafe tidak mempunyai akibat sendiri.
"Kalau memang Mbak Caca ndak terlibat, Mas boleh menjelaskan. Aku bersedia mendengar."
"Mas tidak mau kamu menuduh orang."
"Aku juga ndak. Karena itu aku menyebut mana yang belum kuketahui."
Aldin berdiri dan berjalan dua langkah. Dari luar terdengar Bi Ani menyiapkan sarapan. Erika tidak memanggil siapa pun untuk ikut mendengar. Kakaknya masih berhak berbicara tanpa penonton, tetapi bukan berhak menentukan semua yang boleh dikatakan.
"Mas sudah banyak membantumu," ujar Aldin akhirnya.
Erika merasakan dadanya mengencang. Kalimat itu tidak salah. Kakaknya yang membuat pekerjaan ini ada, yang membantunya datang ke Jakarta, yang selama ini menjadi bagian keluarga ketika Bapak sakit dan akhirnya meninggal.
"Aku tahu, Mas. Aku ndak lupa."
"Lalu kamu seperti ingin menjatuhkan Mas di depan sahabat sendiri."
Erika menatapnya. Dia tidak ingin menangis, tetapi suara berikutnya keluar lebih pelan.
"Kalau aku ingat semua bantuan Mas, apa artinya aku harus bilang yang salah itu benar?"
Aldin tidak langsung menjawab. Erika merapikan ujung tas di pangkuan, lalu melanjutkan sebelum keberaniannya hilang.
"Aku ndak datang ke Mas Jo membawa cerita buatan. Aku juga ndak minta dia memecat Mas atau membatalkan pesta. Aku minta dia mengetahui kenapa aku khawatir. Keputusannya tetap miliknya."
Erika mengingat perjalanan pertama ke Jakarta, saat dirinya membawa harapan sederhana: menulis, menyelesaikan pekerjaan, lalu pulang dengan sesuatu yang bisa membantu Ibu. Aldin yang menyambut dan membuat kota besar terasa tidak sepenuhnya asing.
"Aku ndak melupakan Mas yang membantu waktu datang," katanya. "Aku juga masih ingin Mas baik-baik saja. Tapi kalau baik-baik saja berarti orang lain terus diminta percaya sementara ada yang disembunyikan, aku ndak bisa membantu dengan cara itu."
Aldin memandang adiknya. Dia menanyakan apakah Erika sadar pekerjaan diperoleh melalui dirinya. Kalimat tersebut kali ini membuat Erika menegakkan tubuh.
"Aku sadar. Tapi pekerjaan itu kubayar dengan menulis. Bukan dengan diam tentang semua yang Mas lakukan."
Aldin menutup mata sesaat. Dia terlihat menyesal telah memakai alasan pekerjaan, tetapi belum mengucapkan maaf. Erika tidak menunggu agar seluruh percakapan berubah lunak.
"Kalau Mas marah, aku bisa mendengar. Aku juga bisa mengakui caraku mengikuti ke kafe salah. Tapi Mas perlu membedakan itu dari yang Mas lakukan pada Mbak Kiran dan mungkin pada Mas Jo."
"Kamu selalu membawa mungkin," ujar Aldin.
"Karena aku belum tahu semuanya. Itu bukan cara menyerang. Aku justru ndak mau mengisi yang kosong dengan cerita sendiri."
Aldin menatapnya cukup lama. Untuk pertama kali dia tidak mempunyai kalimat cepat untuk menutup pertanyaan. Adiknya yang dulu mudah diajak tertawa kini duduk dengan suara gemetar tetapi tetap menyelesaikan ucapan.
"Mas takut kehilangan semuanya," katanya akhirnya.
Erika merasakan kemarahannya sedikit berubah. Bukan hilang, melainkan mendapat sesuatu yang lebih jujur dari alasan menjaga orang lain agar tidak terluka.
"Aku mengerti takut itu, Mas. Tapi ada orang yang sudah kehilangan rasa aman karena ndak diberi tahu."
Aldin mengangguk pelan. Dia tidak meminta Erika memeluk atau meyakinkan bahwa semuanya akan tetap sama. Kejujuran tersebut tidak membetulkan foto, tetapi setidaknya tidak lagi membuat dirinya tampak hanya korban dari kabar yang disampaikan.
Aldin duduk lagi. Kali ini tubuhnya tidak bersandar. Dia memandang adiknya cukup lama sampai Erika hampir merasa sedang diperiksa apakah masih orang yang dikenal dari rumah.
"Kamu berubah, Rik."
"Mungkin. Aku belajar bicara. Tapi aku tetap adik Mas."
Kalimat itu membuat wajah Aldin sedikit melunak. Dia mengusap mata, lalu mengaku beberapa hari ini sulit tidur. Banyak hal telah terlanjur terjadi, dan dirinya tidak tahu bagaimana membereskan tanpa menyakiti seseorang.
"Sudah ada yang terluka, Mas," jawab Erika. "Mbak Kiran menunggu jawaban. Menunda ndak membuat itu hilang."
Aldin mengangguk kecil. Dia mengatakan akan menemui Kirana sebelum wanita itu berangkat. Erika meminta dia memberi tahu langsung, bukan menitipkan janji lewat dirinya.
Kakaknya mengambil ponsel dan mengetik. Setelah pesan terkirim, dia meletakkan kembali.
"Sekarang soal Jo," katanya.
Erika menunggu.
"Mas akan menjelaskan. Kamu jangan masuk dulu."
"Mas Jo juga meminta mendengar dari Mas sendiri. Aku ndak akan ikut kalau ndak dipanggil."
"Dan jangan bicara lagi ke Caca."
Erika mengangkat wajah. "Aku belum membicarakan foto ke Mbak Caca. Tapi kalau dia bertanya, aku ndak mau diminta berbohong."
Aldin menarik napas panjang. Untuk sesaat percakapan hampir kembali memutar ke siapa yang paling bersalah telah menyampaikan cerita. Erika menahan diri agar tidak ikut menaikkan suara.
"Aku ndak ingin mempermalukan siapa pun, Mas. Aku cuma sudah capek menjadi tempat kalimat disimpan supaya orang lain ndak saling tahu."
Aldin menatapnya, lalu mengangguk tanpa mengatakan setuju. Dia berdiri dan mengambil kunci kendaraan.
Di pintu, Jo muncul setelah turun dari kamar. Dia melihat keduanya, tetapi tidak bertanya di depan Bi Ani. Dia menyapa Aldin dan mengingatkan waktu pertemuan di kantor.
"Aku akan datang," jawab Aldin.
Jo mengangguk. Dia tidak mengajak bercanda, tidak pula mengubah sarapan menjadi pembicaraan yang harus ditanggung seluruh keluarga.
Erika menunggu kakaknya keluar sebelum mengambil air minum. Tangannya sedikit gemetar. Jo memperhatikan, lalu meminta dia duduk sebentar dan makan sebelum berangkat.
"Kamu habis bicara?"
"Nggih. Aku ndak menarik cerita, Mas."
Jo menatapnya. "Aku tidak meminta kamu melapor setiap percakapan dengan kakakmu. Aku cuma mau tahu kamu baik-baik saja."
Erika mengangguk, meskipun belum benar-benar tenang. Dia mengambil roti, mengunyah perlahan, dan merasakan suara di ruang kecil tadi masih berputar di kepala.
Di teras, Kirana membaca pesan baru dari Aldin. Dia keluar untuk menemui Erika, memberitahukan mereka akan berbicara pukul satu sebelum menuju stasiun sore. Wanita itu tidak tampak gembira seperti mendapat janji pertama. Dia hanya menerima bahwa akhirnya ada waktu yang jelas.
"Mbak ingin aku ikut?"
"Tunggu di rumah dulu. Aku mau bicara berdua. Kalau perlu, aku panggil."
Erika mengangguk. Tidak semua percakapan perlu dirinya duduk di tengah.
Ketika hendak berangkat, Bu Mei menelepon. Erika menjawab singkat dan mengatakan Kirana akan pulang sore. Ibu menanyakan apakah Aldin sudah memberikan kabar yang dibutuhkan.
"Belum semuanya, Bu. Hari ini mereka bicara lagi."
Ibu diam sebentar, lalu meminta Erika menjaga ucapan dan tidak membiarkan rasa takut membuatnya membela sesuatu yang tidak benar. Nasihat itu mirip yang pernah diterima, tetapi pagi ini terasa lebih dekat.
"Mas Al bilang aku berubah," ujar Erika tanpa rencana.
"Kamu memang belajar, Nduk. Asal jangan merasa belajar berarti selalu benar."
Erika mengangguk. Dia masih harus mengakui kesalahannya kepada Iccha, masih perlu memperbaiki kepercayaan Sofyan, dan masih belum mengetahui siapa perempuan yang ada di kafe. Berani berbicara tidak membuat seluruh jawabannya pasti.
"Aku tahu, Bu."
Setelah telepon selesai, dia menyimpan ponsel. Di dalam tas ada buku batik, laptop, dan catatan pekerjaan yang harus diteruskan. Tidak ada benda baru yang dapat menjamin hari ini berakhir baik.
Di kantor, Erika mengisi daftar kedatangan tamu kerja seperti biasa. Petugas menyapa tanpa mengetahui percakapan keluarga yang baru dibawa dari rumah. Dia naik ke lantai tempat Jo bekerja, lalu memilih ruang tunggu kecil sesuai pesan.
Jo dan Aldin telah masuk ke ruang kerja. Pintu tertutup. Erika tidak mendekat untuk mendengar atau meminta seseorang membawa kabar. Dia membuka laptop dan menulis satu kalimat dari naskah yang sudah disetujui.
Sebelum membuka laptop, Erika menerima kabar Kirana bahwa dia sudah mengetahui jam pertemuan dengan Aldin. Wanita itu meminta jika nanti ada orang mencari, cukup bilang sedang bicara, bukan sakit atau beristirahat sebagai alasan.
Erika membalas mengerti. Satu kalimat itu menghapus rencana lama membuat setiap keberadaan Kirana terdengar tidak berhubungan dengan Aldin. Tamu itu sudah memakai namanya sendiri dan tidak ingin kembali disembunyikan.
Dia kemudian menuliskan pekerjaan yang bisa dilakukan selama menunggu: membaca ulang dua halaman, memastikan nama tempat benar, dan memisahkan pertanyaan wawancara. Daftar itu kecil, tetapi memberi sesuatu yang nyata untuk dikerjakan.
Setelah paragraf pertama selesai, Erika melihat pintu sekali lagi. Dia belum berhenti khawatir. Namun, dia kembali ke layar tanpa menyalahkan diri karena tidak berada di dekat semua percakapan. Jo telah meminta penjelasan langsung, dan Aldin telah datang. Ada bagian yang hanya mereka bisa kerjakan.
Untuk pertama kali, pertanyaan besar di balik pintu itu tidak harus ditanggungnya sendiri.