Caca meletakkan tas di sisi kursi dan membuka beberapa gambar dekorasi. Dia menjelaskan perubahan tanggal telah disetujui keluarga setelah pembicaraan dengan Daddy, tetapi daftar tamu masih perlu diperiksa.
Jo mendengarkan sampai selesai. Biasanya dia akan menyerahkan pilihan warna sambil bercanda bahwa dirinya cuma tahu hitam dan putih. Hari itu dia menanyakan waktu pemasangan, jumlah orang keluarga yang diundang, dan bagian yang perlu diputuskan bersama.
"Kamu tiba-tiba rajin," ledek Caca.
"Aku seharusnya ikut dari awal."
Wanita itu tersenyum dan menyentuh tangannya. Erika mencatat keputusan, bukan gerak yang tidak berkaitan dengan pekerjaan. Dia sudah memberi tahu yang dilihat; sekarang bukan tugasnya mengartikan setiap sentuhan sebagai sandiwara.
Ketika sampai pada hadiah novel, Caca mengangkat alis. Jo belum pernah menyebut semua rinciannya, tetapi dia tahu Erika bekerja menuliskan kisah mereka.
"Jangan membuat aku terlihat seperti selalu marah," katanya sambil tertawa.
Erika tersenyum kecil. "Kalau ada bagian yang ndak sesuai, nanti boleh dikoreksi. Aku juga mencatat yang Mas Jo ceritakan dengan sudut pandangnya."
"Dia pasti menganggap aku cerewet."
Jo menggeleng. "Aku juga yang sering tidak ikut mengurus. Kita nggak perlu terlihat paling benar di buku."
Caca menatapnya sejenak, lalu kembali pada kertas. Dia memilih dua kenangan yang boleh dibahas, sementara bagian setelah pernikahan masih diletakkan sebagai harapan.
Erika mengajukan pertanyaan tentang saat mereka memutuskan serius. Caca menyebut beberapa kejadian, lalu menanyakan apakah catatan bisa dibaca sebelum dicetak. Erika mengiyakan dan menandai bagian yang masih memerlukan rincian.
Caca menanyakan apakah buku tersebut akan memuat foto. Erika menjelaskan itu belum diputuskan; yang penting teks selesai dan keduanya membaca lebih dulu. Wanita itu menawarkan mencari gambar perjalanan lama yang tersimpan di ponsel.
Jo mengangguk, lalu meminta tidak memilih hanya foto yang terlihat paling sempurna. Dia ingin ada bagian biasa, termasuk saat dirinya tampak lelah setelah berjalan jauh.
"Kamu serius mau foto jelekmu dimasukkan?" tanya Caca.
"Kalau itu harinya memang begitu, kenapa tidak?"
Caca tertawa. Erika mencatat pilihan tanpa memperluas pembicaraan ke soal kejujuran. Tidak perlu setiap perkara teknis menjadi sindiran yang hanya dimengerti dua orang.
Mereka membaca satu paragraf tentang pertengkaran kecil. Caca mengoreksi tempat kejadian dan mengatakan Jo sering terlambat memberi kabar. Jo mengakui, lalu bertanya apakah perubahan belakangan membuat Caca sungguh lebih nyaman atau hanya sudah tidak ingin berdebat.
Wanita itu berhenti memegang kertas. "Aku mencoba memilih kapan perlu dibicarakan. Kalau setiap keterlambatan jadi ribut, kita sama-sama capek."
"Aku setuju. Tapi aku tetap perlu tahu kalau ada yang belum selesai."
Erika menandai paragraf tersebut untuk dibaca ulang setelah wawancara. Dia tidak memasukkan percakapan baru secara langsung. Hadiah mereka bukan tempat menayangkan persoalan yang belum disepakati sebagai bagian cerita.
Caca kemudian menanyakan apa yang Jo inginkan dari dirinya sebagai istri. Lelaki itu menjawab tidak meminta semua kebiasaan berubah, tetapi ingin keputusan besar dibicarakan bersama. Dia juga menyatakan akan berusaha tidak memakai kesibukan sebagai alasan menyerahkan seluruh urusan.
"Kamu sekarang terdengar sangat serius," kata Caca.
"Karena kita memang membicarakan yang serius."
Caca memandangnya beberapa detik, lalu mengangguk. Erika melihat tidak ada jawaban yang bisa langsung diberi label benar atau palsu. Yang terdengar hari ini perlu dilihat dalam tindakan, sama seperti janji orang lain di rumah itu.
Percakapan berjalan biasa sampai Jo bertanya apa yang diinginkan Caca setelah pesta selesai. Tidak tentang tempat bulan madu, melainkan kebiasaan hidup bersama yang selama ini jarang dibicarakan.
"Aku ingin kita punya waktu. Kamu jangan selalu kerja," jawab Caca.
"Aku juga ingin begitu. Kalau ada yang membuat kamu tidak senang, katakan. Jangan cuma bilang semua baik-baik saja supaya cepat selesai."
Erika berhenti menulis satu detik, kemudian melanjutkan. Kalimat Jo mungkin soal hubungan mereka, mungkin juga lahir dari pembicaraan pagi. Dia tidak perlu memutuskan mana.
Caca mengangguk. "Aku kan sudah lebih mengerti pekerjaanmu. Dulu kamu bilang aku terlalu sering ngambek. Sekarang aku mencoba memberi ruang."
"Aku menghargai itu. Aku cuma ingin tahu ruangnya bukan karena kita semakin jauh."
Ruangan hening sebentar. Caca meletakkan lembar dekorasi dan bertanya apakah Jo sedang meragukan pernikahan.
"Aku sedang mencoba membicarakannya dengan benar," jawabnya. "Tanggal sudah semakin dekat."
Erika menawarkan berhenti mencatat jika pembicaraan itu pribadi. Jo mengangguk, dan Caca menerima. Dia menutup buku pekerjaan, membawa gelas ke tepi meja, lalu keluar menuju ruang tunggu. Tidak ada alasan berpura-pura menerima telepon.
Di luar, dia menulis waktu wawancara berhenti agar bagian pribadi tidak tercampur dengan naskah. Beberapa kenangan sudah cukup untuk dikembangkan. Sisanya harus menunggu keputusan mereka, bukan diisi dengan khayalan yang terdengar indah.
Di dalam, Jo meminta Caca menjelaskan keterlibatan Aldin dalam persiapan. Wanita itu menyebut toko, contoh cincin, dan bantuan mengatur beberapa pertemuan.
"Dia banyak membantu," katanya. "Kamu sendiri yang minta."
"Iya. Aku tahu aku yang meminta."
Jo tidak berpura-pura lupa tanggung jawabnya sendiri. Namun, meminta asisten membantu tidak sama dengan menyerahkan seluruh batas hubungan.
"Kamu bertemu Al di luar urusan persiapan juga?"
Caca memandangnya. "Kadang makan atau minum setelah selesai. Kenapa?"
"Aku ingin tahu. Aku selama ini terlalu gampang bilang nanti atau minta dia menemani. Sekarang aku ingin memahami yang terjadi, bukan cuma menerima hasilnya."
Caca mengusap sisi cincin. Dia mengatakan kadang mereka berhenti makan, tidak menganggap itu masalah karena Aldin sahabat Jo.
Jo mengangguk. Itu jawaban yang bisa benar tanpa menjelaskan semua hal. Dia tidak langsung menyodorkan foto dan menuntut pengakuan. Nama perempuan dalam foto belum pasti, dan dia tidak ingin melompat dari kekhawatiran ke tuduhan yang belum dibicarakan lengkap.
"Kirana sedang di rumahku," katanya.
Caca mengangkat wajah. "Pacarnya Aldin?"
"Iya. Mereka masih harus bicara."
"Aku kira urusan mereka sudah selesai."
Jo diam. Kalimat itu bukan pengakuan siapa pun berada di kafe, tetapi berbeda dari yang didengar langsung: Aldin dan Kirana masih mempunyai hubungan yang belum dijawab dengan jujur.
"Selesai bagaimana?" tanyanya.
Caca merapikan rambut. "Maksudku pertengkaran mereka. Aldin bilang sedang tidak cocok. Aku nggak tahu rinciannya."
Jo menatap wajah calon istrinya. Dia ingin percaya penjelasan itu. Dia juga tahu keinginan mempercayai tidak boleh membuat pertanyaan berikutnya menghilang.
"Aku akan bicara sama dia besok."
Caca mengangguk, tetapi senyum yang biasanya cepat muncul tidak langsung kembali. Mereka akhirnya menutup pembahasan dengan beberapa keputusan praktis tentang acara. Tidak ada pembatalan, tidak ada janji semua keraguan telah selesai.
Ketika Erika dipanggil kembali, dia hanya menerima bagian yang perlu dimasukkan ke daftar kerja. Jo meminta dua halaman tentang kenangan dikirim sebelum wawancara berikutnya, sedangkan bagian harapan menunggu percakapan mereka selesai.
Caca berterima kasih dan berkata dia ingin membaca tulisan itu dengan tenang. Erika mengiyakan. Dia tidak menyindir bahwa seseorang mungkin punya cerita lain yang tidak masuk buku.
Sesudah Caca keluar, Jo tetap berdiri dekat jendela. Erika merapikan laptop dan menanyakan apakah ada tugas lagi.
"Tidak. Kamu boleh pulang dulu. Aku masih ada pekerjaan."
Dia mengangguk, tetapi sebelum beranjak meminta Jo menghubungi jika butuh penjelasan catatan. Lelaki itu menjawab singkat dan berterima kasih.
Di lift, Erika akhirnya menarik napas panjang. Menyampaikan dugaan tidak membuat dirinya langsung lega. Ada akibat yang belum terlihat, dan dia tidak bisa lagi mengendalikannya dengan memilih siapa mendapat bagian cerita mana.
Sore itu dia kembali ke rumah lebih awal. Kirana sedang memeriksa jadwal kereta di ponsel. Wanita itu memilih keberangkatan besok sore, dengan waktu cukup untuk berbicara sebelum menuju stasiun jika Aldin benar-benar datang.
"Mbak yakin tetap pulang?" tanya Erika.
"Iya. Aku ndak mau hidupku berhenti di kamar tamu."
Mereka memeriksa jadwal dan membeli tiket dari ponsel Kirana sendiri. Erika membantu membaca rincian, tetapi keputusan jam keberangkatan tetap milik wanita itu. Sesudah selesai, Kirana mengirim kabar kepada ibunya.
Aldin belum memberikan jawaban baru. Pesan terakhir hanya mengatakan akan mencari waktu. Kirana membalas dengan jam keberangkatan dan meminta pertemuan sebelum itu, jika dia ingin menyelesaikan pertanyaan.
"Kalau dia ndak datang, aku tetap berangkat," katanya.
Erika mengangguk. Dia tidak menawarkan menunda kereta satu hari lagi demi kesempatan yang belum tentu diberikan.
Kiki muncul di depan kamar tamu ketika Kirana sedang melipat pakaian. Dia membawa tas kain kecil dan meletakkannya di atas kursi tanpa banyak pembukaan.
"Buat barang basah kalau besok belum kering. Jangan masukin ke pakaian bersih."
Kirana berterima kasih. Kiki melirik koper yang belum penuh, lalu bertanya apakah dia benar-benar pulang besok.
"Iya. Masih ada urusan di rumah."
Kiki mengangguk. Dia tidak tahu semua yang terjadi di kantor, dan Kirana tidak menceritakan foto. Untuk beberapa saat mereka berbicara tentang perjalanan kereta dan barang yang sebaiknya mudah diambil.
"Lo sudah makan?" tanya Kiki sebelum keluar.
"Sudah."
"Kalau lapar bilang. Jangan semua orang di rumah ini sok kuat."
Erika yang berdiri dekat pintu hampir tersenyum, tetapi menahan agar bantuan kecil itu tidak berubah menjadi lelucon. Kiki tidak perlu dipaksa mengakui sedang baik hati.
Sesudah dia pergi, Kirana mengusap tas kain di tangannya. Dia berkata orang-orang yang baru dikenal justru memberi perhatian tanpa menuntut dirinya kembali ceria.
"Mbak boleh tetap sedih di sini," jawab Erika. "Ndak harus membayar keramahan dengan terlihat senang."
Kirana mengangguk. Dia melipat satu baju lagi dan meminta Erika membantu memeriksa apakah tiket sudah tersimpan. Mereka memastikan salinan ada di ponsel serta rincian keberangkatan diketahui keluarga.
Tiket itu tidak menjadi penghitung mundur untuk membuat Aldin panik. Bagi Kirana, itu bukti bahwa dia punya jalan pulang bahkan ketika percakapan belum memberikan jawaban sesuai harapan.
Erika kemudian menanyakan apakah ibunya ingin dijemput oleh seseorang di Semarang. Kirana mengatakan keluarganya sudah mengatur. Untuk pertama kali sejak datang, ada rencana yang lengkap tanpa perlu menunggu Aldin memberi waktu.
Malamnya, percakapan dengan Iccha tidak bisa dihindari. Erika masuk kamar dan menemukan wanita itu duduk di tepi kasur, tanpa masker atau ponsel yang dijadikan kesibukan.
"Ammar sudah cerita," kata Iccha.
Erika meletakkan tas. "Aku tahu, Mbak. Aku yang ikut waktu itu."
Dia menceritakan dari awal: permintaan Ammar, hadiah yang membuatnya merasa sulit menolak, dan alasan yang dipakai meyakinkan diri sedang membantu. Tidak ada bagian yang disebut sebagai bukti bahwa dirinya tidak bersalah.
"Aku takut bikin masalah di rumah tempat kerja," katanya. "Tapi aku juga menikmati merasa bisa mengatur hubungan orang supaya jadi baik. Ternyata aku salah."
Iccha menatapnya. "Gue nangis di depan lo, Rik. Lo tahu gue salah paham, tapi lo tetap menemani seolah nggak tahu apa-apa."
Erika menunduk. Kalimat itu tidak bisa dijawab dengan mengatakan dirinya juga merasa bersalah ketika terjadi.
"Iya. Aku tahu. Aku minta maaf."
"Gue nggak mau lo jadi penerjemah Ammar lagi. Kalau dia mau bicara, dia sendiri. Kalau lo tahu ada yang mengatur seperti itu, bilang."
"Aku ndak akan ikut lagi. Aku sudah bilang ke dia."
Iccha mengangguk, tetapi tidak tersenyum. Mereka sepakat tetap sekamar malam itu. Wanita tersebut tidak ingin pindah terburu-buru saat marah, sementara Erika menawarkan mencari tempat lain jika nanti kehadirannya membuat Iccha tidak nyaman.
"Gue belum mau memutuskan semua sekarang," ujar Iccha.
"Nggih. Aku terima."
Iccha juga menanyakan barang yang pernah diberikan Ammar. Erika menjelaskan laptop masih dipakai untuk pekerjaan dan dia bersedia mengembalikan, tetapi tidak ingin membuat keputusan itu sebagai pertunjukan agar terlihat sudah menebus semuanya.
"Aku akan bicara ke dia. Yang jelas, barang itu ndak memberi dia hak meminta aku ikut lagi."
"Bagus. Gue nggak minta lo merusak pekerjaan cuma buat membuktikan minta maaf. Gue minta jangan dibohongi lagi."
Erika mengangguk. Dia menyebut Sofyan sudah mengetahui rencana lama dan bahwa dirinya tetap perlu memperbaiki kepercayaan di sana. Iccha mendengar tanpa menawarkan membantu memutar cerita agar kekasih Erika tidak marah.
"Berarti banyak yang harus lo selesaikan."
"Iya. Aku baru sadar berhenti ikut rencana ndak otomatis membereskan akibatnya."
Iccha memandang meja. Dia mengakui telah memakai Arya untuk tujuan yang salah pula. Kini lelaki itu memberi jarak, dan dia harus menerima tanpa menganggap perhatian masa lalu menjadi utang yang wajib diteruskan.
Mereka tidak saling memaafkan semua hanya karena sama-sama pernah keliru. Namun, percakapan tidak lagi berisi satu orang memberi nasihat seolah dirinya selalu benar. Erika dan Iccha tahu masing-masing punya tindakan yang harus dipertanggungjawabkan.
Setelah itu Iccha meminta waktu tenang. Erika menerima, memindahkan laptop ke sisi meja, dan tidak menyalakan suara apa pun. Untuk malam ini, permintaan sederhana tersebut lebih berguna daripada lelucon yang dipaksakan.
Setelah percakapan, Erika merapikan meja tanpa mencoba memancing tawa. Iccha mengambil air, lalu membaca beberapa halaman di ponsel. Keheningan terasa kaku, tetapi setidaknya tidak dibangun dari sandiwara bahwa semuanya sudah dimaafkan.
Menjelang tidur, pesan Jo muncul. Dia meminta Erika membawa catatan besok setelah dirinya berbicara dengan Aldin. Tidak perlu ikut dalam pertemuan awal; dia ingin mendengar jawaban sahabatnya sendiri.
Erika membalas akan siap. Beberapa menit kemudian, Aldin mengirim pesan terpisah.
Besok sebelum Jo, Mas mau bicara sama kamu.
Erika membaca tanpa segera menjawab. Dua orang meminta hal yang berhubungan, tetapi tujuannya belum tentu sama. Dia tidak ingin kembali menjadi tempat berpindahnya kalimat yang dipakai menyembunyikan sesuatu dari orang lain.
Dia membalas bahwa bersedia mendengar, tetapi tidak akan menarik cerita yang benar-benar dilihat atau meminta Jo melupakan pertanyaannya.
Tanda dibaca muncul. Balasan berikutnya datang lebih cepat.
Ini bukan cuma urusanmu, Rik.
Erika menatap kalimat itu. Dari kamar tamu, Kirana masih menyiapkan barang untuk pulang. Dari ruang keluarga, terdengar Jo baru tiba dan menyapa Daddy. Semua orang berada di rumah yang sama, membawa pertanyaan berbeda menuju pagi yang akan datang.
Untuk pertama kalinya, Erika tidak membalas dengan permintaan maaf supaya percakapan cepat tenang.
Aku tahu, Mas. Karena itu aku ndak mau menanggungnya sendirian lagi.