Jo tidak langsung bergerak ketika nama Caca disebutkan. Tangannya masih berada dekat gelas, tetapi tidak meraih. Erika merasa ingin menarik kembali kalimat itu, mengganti dengan penjelasan bahwa dia cuma terlalu banyak berpikir.
Dia tidak melakukannya.
"Mungkin bagaimana?" tanya Jo.
Erika membuka halaman belakang buku batik. Dia menyebut pertemuan di butik, lalu kafe pertama, lalu kedatangannya bersama Kirana. Setiap kejadian diceritakan dengan apa yang benar-benar terlihat. Wajah perempuan tidak pernah penuh dalam foto, tetapi Aldin dikenali jelas dan telah mengakui dirinya dalam gambar.
Jo mendengarkan tanpa memotong sampai Erika menyebut ciuman di kepala dan tangan yang bertaut. Wajahnya berubah sedikit. Bukan marah yang meledak, melainkan seseorang yang berusaha memahami bahasa yang tiba-tiba terasa asing.
"Al mengakui?"
"Nggih. Kemarin waktu Mbak Kirana menunjukkan foto. Dia juga bilang bingung soal hubungannya dengan perempuan itu. Tapi ndak memberi nama."
Jo melihat gambar di ponsel. Erika memberikan tanpa memperbesar sampai bagian wajah berubah menjadi kotak-kotak. Foto asli tetap terlihat, bersama tempat dan waktu pada catatan.
Lelaki itu memandang cukup lama. Kemudian dia meletakkan ponsel di meja, tidak langsung mengembalikan.
"Aku tahu ini Al."
Erika mengangguk. Itu bagian yang paling jelas.
"Tapi kenapa kamu pikir perempuannya Caca?"
Dia menjelaskan rambut, suara saat berbicara bahasa Inggris, dan sebagian profil yang sempat terlihat ketika kacamata dilepas. Tidak ada yang disebut sebagai tanda pasti. Erika bahkan menyampaikan bahwa dirinya mungkin terlalu cepat menghubungkan karena mengetahui Aldin sering membantu Caca berbelanja.
Jo mengusap mulut. "Banyak orang berambut pirang."
"Nggih. Itu sebabnya aku bilang mungkin. Aku ndak mau memberi nama seolah sudah terbukti. Tapi aku juga ndak mau terus menyembunyikan dugaan yang menyangkut Mas."
"Kamu sudah mengatakan ini ke siapa?"
"Mbak Kirana. Aku belum menyebut nama ke orang lain. Iccha tahu aku punya masalah yang harus diceritakan, tapi ndak melihat semua foto."
Jo mengangguk. Dia berdiri sebentar dan berjalan ke jendela. Erika tidak mengikuti. Di ruang itu pernah ada banyak percakapan yang berakhir dengan ledekan, tetapi pagi ini dia tidak tahu di mana harus meletakkan tangannya sendiri.
"Kenapa baru sekarang, Rik?"
Pertanyaan tersebut datang tanpa suara tinggi. Justru itu membuatnya lebih sulit dijawab.
"Aku takut salah. Aku takut menyakiti Mas dengan dugaan. Terus aku menjadikan foto yang buram alasan menunggu. Padahal ada bagian yang sudah jelas. Aku minta maaf."
Jo menatapnya dari dekat jendela. Dia tidak berkata semuanya tidak apa-apa. Erika menerima itu.
"Kamu juga adiknya Al," ujar Jo. "Aku tahu ini pasti susah buat kamu."
"Aku tahu, Mas."
"Aku pikir kalau ada yang salah, pasti kamu juga akan membela dia dulu."
Erika menunduk. "Aku sempat mencari penjelasan baik untuk semuanya. Tapi sekarang aku ndak bisa lagi bilang yang terlihat cuma urusan kerja."
Jo kembali duduk. Dia meminta melihat catatan tanggal, lalu membandingkan dengan percakapan di ponselnya sendiri. Tidak ada permintaan membuka akun Caca atau mengambil ponsel Aldin. Dia hanya membaca yang telah diterimanya langsung.
Pada hari kafe pertama, Caca mengatakan akan pergi sebentar. Tidak ada rincian tempat. Pada hari kafe kedua, ada pesan bahwa dia sedang bersama seorang teman. Jo membaca beberapa kali, tetapi tidak menemukan kalimat yang langsung bertentangan dengan waktu yang dicatat Erika.
"Ini belum menjawab," katanya.
"Nggih. Aku ndak bisa melengkapi bagian itu."
Jo meletakkan ponsel. Sekarang dia memiliki dua hal berbeda: sahabatnya terbukti berbuat sesuatu yang disembunyikan dari Kirana, dan calon istrinya mungkin berada dalam kejadian tersebut. Yang pertama bisa ditanyakan langsung dengan foto. Yang kedua belum bisa diucapkan sebagai tuduhan pasti.
Dia menyebut perbedaan itu pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Erika mengangguk karena itulah yang selama ini sulit dipisahkan.
"Kalau aku bertanya ke Al, dia tahu kamu cerita."
"Aku siap dia tahu, Mas. Aku ndak mau meminta Mas membohongi dia demi melindungiku."
Jo menatapnya. "Kamu takut dia marah?"
"Iya. Tapi kalau terus begitu, aku ndak akan berani melakukan apa pun."
Lelaki itu menarik napas panjang. Dia mengambil buku batik, melihat halaman depan yang masih berisi pertemuannya dengan Caca, kemudian mengembalikan tanpa membacanya.
"Hadiah novel ini jadi aneh sekarang."
Erika merasa dadanya sakit. "Mas boleh minta kita berhenti dulu."
"Aku nggak tahu. Aku masih mau menikah. Aku juga masih percaya Caca. Tapi sekarang aku harus berpikir apakah percaya berarti nggak boleh bertanya."
Erika tidak menjawab dengan kalimat bijak. Itu keputusan Jo, dan dia tidak ingin lagi mengatur apa yang harus dirasakan orang setelah mendengar cerita.
Jo belum mengambil ponsel lagi. Dia bertanya apakah Erika pernah mencoba menegur Aldin sebelum mengikuti ke kafe. Pertanyaan itu tidak disampaikan untuk menyalahkan, tetapi dia ingin memahami bagaimana persoalan sampai sebesar ini.
Erika menjelaskan panggilan yang dibaca, pesan yang dijawab nanti, dan permintaan bertemu yang beberapa kali dipindahkan. Dia juga mengakui tidak selalu berani terus bertanya setelah kakaknya terlihat kesal.
"Aku mengerti kamu takut," kata Jo. "Tapi jangan nanti semua hal yang sulit cuma ditulis di belakang buku. Orang yang bersangkutan harus diberi kesempatan menjawab."
Erika mengangguk. "Sekarang Mas Aldin sudah ditanya langsung oleh Mbak Kirana."
"Iya. Itu penting. Aku nggak ingin mendengar semuanya dari kamu lalu menganggap dia sudah punya kesempatan bicara, padahal belum."
Erika menerima. Mereka bisa sama-sama mengetahui ada kesalahan tanpa menghapus kebutuhan mendengar orang yang melakukan. Namun, mendengar tidak berarti harus selalu menerima penjelasan yang tidak cocok dengan kejadian.
Jo meminta urutan waktunya diulang sekali, lebih pelan. Erika membaca jam pada catatan tanpa menambahkan kalimat yang tidak terdengar jelas. Ketika Jo bertanya berapa lama mereka di kafe, dia memberikan perkiraan dan mengatakan tidak melihat setiap menit.
"Jangan dibuat tepat kalau kamu tidak ingat," ujar Jo.
"Nggih. Yang ada jamnya itu kutulis waktu kejadian. Yang lain cuma perkiraan."
Dia menunjukkan perbedaan tersebut. Jo mengangguk, lalu meminta salinan halaman yang relevan saja. Catatan proyek dan percakapan pribadi lain tidak perlu dikirim.
Erika memotret dua halaman. Tidak ada upaya memperindah gambar atau membuat kesimpulan baru di bawahnya. Setelah kirim, dia meletakkan ponsel di samping buku dan menunggu.
Jo memandang foto Aldin cukup lama. Kemudian dia mengatakan sahabatnya dulu pernah menolak hubungan yang tidak jelas karena dianggap menyakiti banyak orang. Mendengar itu membuat Erika mengangkat wajah.
"Aku nggak bilang ini membuat dia mustahil salah," lanjut Jo. "Aku cuma sedang mengingat kenapa selama ini aku mudah percaya."
Erika mengangguk. Dia tidak perlu menertawakan kepercayaan itu agar ceritanya dianggap masuk akal. Ada alasan yang terbentuk bertahun-tahun, dan satu gambar tidak menghapus semua kenangan, meskipun tetap bisa mengubah cara seseorang memahami.
"Aku juga percaya sama Mas Aldin," katanya. "Sampai sekarang aku masih ingin ada penjelasan yang baik. Tapi aku ndak boleh membantu dengan membuat penjelasan sendiri."
Jo menghela napas. Kali ini dia benar-benar mengambil gelas dan minum. Airnya sudah tidak hangat, tetapi dia tidak meminta ganti.
Dia lalu menanyakan Kirana ingin pulang kapan. Erika menjelaskan batas yang ditentukan wanita itu dan bahwa tiket akan dipilih sendiri. Jo menyatakan rumah tetap terbuka jika membutuhkan tempat, tetapi tidak ingin tawaran itu dipakai meminta Kirana menunggu lebih lama dari keinginannya.
"Katakan dia boleh menentukan sendiri. Jangan merasa karena tinggal di rumahku lalu harus menyelesaikan hubungan sesuai harapan semua orang."
Erika berterima kasih. Kalimat tersebut tidak menyelesaikan rasa sakit Kirana, tetapi memberi ruang yang selama ini terlalu sering ditukar dengan nasihat agar sabar.
Ketukan datang. Seorang pegawai meminta tanda tangan untuk berkas yang harus segera dikirim. Jo menerima, membaca, lalu menandatangani setelah memeriksa halaman terakhir. Erika memperhatikan betapa hidup biasa tidak berhenti hanya karena seseorang baru mendengar kabar yang mungkin mengguncang semuanya.
Sesudah pintu tertutup, Jo meminta salinan foto. Erika menanyakan apakah Kirana boleh diberi tahu bahwa Jo akan membaca kejadian yang sama. Lelaki itu menyetujuinya.
"Jangan dibuat seperti kalian diam-diam bertukar bukti di belakang dia. Dia juga ada dalam masalah ini."
Erika mengirim pesan singkat kepada Kirana. Wanita itu membalas setuju, selama foto tidak disebarkan di luar kebutuhan pembicaraan. Mereka punya tujuan mencari jawaban, bukan mempermalukan Aldin di depan pegawai.
Foto dikirim beserta tanggal dan bagian yang masih belum pasti. Jo menyimpan, lalu menutup galeri.
"Hari ini aku tetap bertemu Caca. Kami mau membicarakan tanggal dan hadiah. Aku belum akan mengubah itu jadi pemeriksaan mendadak."
Erika mengangguk. "Mas mau aku ikut wawancara?"
"Kalau kamu sanggup. Kalau nggak, kita atur ulang."
Erika mempertimbangkan. Dia tidak ingin duduk di depan Caca sambil menganggap setiap gerak sebagai petunjuk. Tetapi pertemuan itu bagian pekerjaan, dan Jo berhak memilih apakah masih ingin menjalankan rencananya.
"Aku sanggup. Tapi kalau ada bagian yang belum terjadi, tetap kutulis sebagai harapan, bukan kenangan."
Jo mengangguk. Suaranya lebih pelan ketika mengatakan baik.
Sebelum Caca datang, Jo menelepon Daddy sebentar. Dia tidak membuka nama perempuan dalam foto atau meminta keluarga langsung menghentikan rencana. Dia hanya memberitahukan masih ada beberapa hal yang ingin dibicarakan sebelum pengeluaran berikutnya disetujui.
Erika duduk agak jauh, membaca ulang catatan pekerjaan. Dia tidak mendengar semua kalimat di seberang, tetapi melihat Jo mengangguk beberapa kali.
"Aku nggak meminta kalian khawatir tanpa penjelasan," katanya. "Aku cuma mau ikut memeriksa, bukan semua dijalankan karena tanggalnya sudah dekat."
Setelah panggilan selesai, Jo meminta Erika memastikan halaman hadiah tidak diteruskan ke pencetakan sebelum dibaca bersama. Tulisannya tetap boleh dikerjakan. Yang ditunda keputusan cetak, bukan tanggung jawab Erika sebagai penulis.
"Jadi aku kerjakan bagian kenangan yang sudah disetujui dulu, Mas?"
"Iya. Nanti kalau ada perubahan, aku bilang. Jangan menebak dari wajahku."
Erika tersenyum kecil untuk pertama kali pagi itu. Dia memang baru saja berkali-kali mencoba membaca wajah Jo seperti halaman yang tidak punya tanda baca.
Lelaki itu merapikan meja dan memindahkan foto ke folder pribadi. Dia tidak meninggalkannya terbuka ketika orang lain masuk. Pertanyaan tentang hubungan bukan sesuatu yang perlu dibaca pegawai yang kebetulan mengantar kertas.
Erika mengembalikan buku batik ke tas, lalu membuka catatan wawancara baru. Dua buku itu sekarang punya tempat berbeda. Dia boleh menjadi penulis untuk Jo tanpa lagi menjadi satu-satunya penyimpan cerita yang tidak dipesan.
Mereka menyepakati pekerjaan yang bisa diteruskan pagi itu. Jo tidak meminta Erika langsung kembali bercanda. Dia memindahkan jadwal wawancara satu jam agar masing-masing punya waktu menenangkan diri.
Erika keluar sebentar untuk menelepon Kirana. Dia memberitahukan bahwa Jo telah mendengar dugaan mengenai Caca dan melihat foto, tetapi belum menyimpulkan identitas.
Kirana diam sebelum bertanya apakah Jo marah.
"Dia kaget. Aku ndak bisa menebak semua yang dipikirkan."
"Aku juga ndak ingin dia terluka oleh sesuatu yang salah. Tapi aku lega kamu sudah bicara."
Erika mengangguk. Mereka membahas tiket pulang sebentar. Kirana tetap ingin berangkat ke Semarang dua hari setelah pertemuan kantor. Dia akan menelepon orang tuanya malam itu dan tidak ingin keberangkatan bergantung pada apakah Aldin datang.
"Kalau nanti dia mau bicara, aku dengar. Kalau ndak, aku tetap punya keputusan."
Erika menerima. Di ujung koridor, lift terbuka dan Aldin keluar membawa map. Kakaknya melihat ponsel di tangannya, lalu wajahnya.
"Jo sudah masuk?"
"Sudah, Mas."
Aldin berjalan ke ruang kerja tanpa bertanya lebih jauh. Erika memperhatikan sampai pintu tertutup. Kini pembicaraan yang dulu selalu ditunda punya dua orang lain yang tidak lagi bersedia menunggu tanpa penjelasan.
Di dalam, Jo menerima map dan meminta beberapa rincian pekerjaan. Aldin menjawab lancar. Untuk beberapa menit mereka masih berbicara sebagai direktur dan asisten yang telah bekerja bersama lama.
Lalu Jo meletakkan berkas.
"Al, Kirana masih di rumahku. Kemarin kalian sudah bicara?"
"Sudah. Dia masih perlu tenang."
Jo menatapnya. "Dia perlu tenang atau perlu jawaban?"
Aldin berhenti. Tidak ada foto disodorkan. Tidak ada nama Caca disebutkan. Tetapi nada sahabatnya berbeda dari kebiasaan menganggap pertengkaran kekasih akan selesai sendiri.
"Aku sedang mengurus," jawab Aldin.
"Urus dengan benar. Kalau ada perempuan lain, jangan membuat Kirana merasa dia yang salah karena bertanya."
Aldin memandang Jo, berusaha membaca seberapa banyak yang diketahui. Jo tidak menambahkan penjelasan yang belum siap ditanyakan langsung. Dia hanya meminta Aldin datang besok pada jam yang disepakati untuk berbicara di luar urusan kerja.
"Ada apa?"
"Ada yang perlu kudengar dari kamu. Bukan sambil mengambil map."
Aldin mengangguk setelah jeda panjang. Dia keluar dengan langkah yang tidak secepat ketika masuk.
Di ruang tunggu kecil, Erika menutup laptop ketika Caca akhirnya datang. Wanita itu tersenyum, rambut pirangnya jatuh di bahu, dan menyapa dengan suara yang langsung membawanya kembali ke kafe Kemang.
"Erika, kamu kelihatan capek. Jo membuat kamu kerja terus?"
Erika berdiri dan menggeleng. "Ndak, Mbak. Kami masih mengatur bagian yang bisa selesai."
Caca tertawa ringan. Dia masuk setelah dipersilakan, sementara Erika mengambil buku catatan pekerjaan. Buku batik yang berisi kejadian kafe tetap di dalam tas.
Jo berdiri menyambut calon istrinya. Senyumnya ada, tetapi tidak lepas seperti biasanya. Caca menyentuh lengannya dan bertanya apakah ada sesuatu yang membuatnya khawatir.
"Kita bicara soal tanggal dulu," jawab Jo.
Erika duduk di kursi yang telah disiapkan. Kali ini dia bukan satu-satunya orang di ruangan yang mendengar suara Caca sambil menyimpan pertanyaan tentang hari-hari yang tidak diceritakan.