Iccha mengambil kotak pulpen dari laci sebelum berangkat. Erika sedang merapikan tas ketika melihat benda itu diletakkan di samping ponsel.
"Mau diberikan hari ini, Mbak?"
"Mungkin. Kalau dia nggak bikin gue kesal duluan."
Erika tersenyum kecil, tetapi tidak menjawab dengan rencana atau petunjuk. Dia sendiri akan berbicara dengan Jo pagi itu dan belum tahu bagaimana mempertahankan suara agar tidak gemetar.
Iccha memperhatikan buku batik masuk ke tas. "Hari ini lo cerita?"
"Nggih. Aku sudah minta waktunya."
"Kalau ada yang nggak diketahui, bilang nggak tahu."
"Mbak sudah bilang."
"Gue ulang karena muka lo kelihatan mau menjawab semua pertanyaan dunia."
Erika tertawa pendek. Sebelum keluar kamar, dia mengucapkan semoga percakapan Iccha juga berjalan baik. Wanita itu mengangkat alis, lalu membawa kotak tanpa mengatakan akan menggunakannya untuk membuat seseorang luluh.
Di kantor, Arya berpapasan dengan Iccha dekat lift. Dia menyapa dan menyerahkan berkas seperti biasa. Tidak ada kopi, tidak ada pertanyaan tentang makan malam. Iccha menerima tanpa berpura-pura semuanya sama seperti pekan lalu.
"Dokumennya aku teruskan setelah Pak Ammar masuk," katanya.
"Terima kasih. Halaman terakhir perlu dicek, ada perubahan tanggal."
Iccha mengangguk. Setelah urusan kerja selesai, mereka sempat berdiri canggung. Arya lebih dulu tersenyum kecil dan mengatakan semoga harinya lancar.
"Kamu juga."
Dia pergi. Iccha memandang berkas, lalu berjalan ke mejanya. Jarak yang diminta lelaki itu bukan hukuman. Dia telah mendengarnya sendiri. Sekarang tugasnya menghormati, meskipun rasa sepi membuatnya ingin mengirim pesan yang hanya bertujuan memanggil perhatian kembali.
Ammar datang beberapa menit kemudian. Dia membaca agenda, menandatangani dua lembar, lalu bertanya apakah Iccha punya waktu sesudah pekerjaan awal selesai.
"Ada dokumen lain?"
"Bukan. Gue mau ngomong. Kalau kamu bersedia."
Iccha menatapnya. Kalimat terakhir terasa asing. Biasanya Ammar menentukan waktu, lalu menganggap orang lain tinggal mengikuti.
"Sekarang boleh. Lima belas menit lagi saya harus konfirmasi jadwal."
Ammar mengangguk dan meletakkan berkas. Pintu ruangan dibiarkan sedikit terbuka atas permintaan Iccha. Dia tidak ingin percakapan pribadi terasa seperti dipanggil menghadapi teguran kerja.
Sebelum memulai percakapan, Ammar meminta Iccha memilih apakah ingin duduk dekat meja atau di kursi sisi ruangan. Pertanyaan kecil tersebut membuat wanita itu heran. Dia memilih kursi biasa dan meletakkan tas di pangkuan.
"Lo kenapa formal banget?"
"Gue nggak mau ini terasa seperti urusan kantor."
"Tapi tempatnya kantor."
Ammar mengangguk. "Kalau kamu nggak mau sekarang, kita atur lain waktu."
Iccha memandang agenda di tangannya. Ada pekerjaan yang harus kembali dilakukan, dan dirinya tidak ingin seluruh pagi habis untuk percakapan yang tidak jelas arah. Dia mengatakan bersedia mendengar sekarang, selama boleh berhenti kalau waktunya selesai.
"Boleh," jawab Ammar.
Kesediaan itu tidak otomatis membuatnya nyaman. Namun, setidaknya pintu tidak ditutup dan pertemuan tidak dimulai dengan perintah untuk duduk. Iccha mengambil kotak hadiah dari tas.
Iccha meletakkan kotak pulpen di ujung meja.
"Ini hadiah ulang tahun. Terlambat. Waktu itu gue belum mau kasih."
Ammar melihat kotak, kemudian wajahnya. "Buat gue?"
"Buat direktur sebelah kalau lo nggak mau."
Ucapan itu keluar sebelum Iccha sempat menahannya. Ammar hampir tersenyum, tetapi tidak menyambut dengan ledekan yang akan mengembalikan mereka ke pertengkaran biasa.
"Terima kasih. Gue boleh buka?"
Iccha mengangguk. Lelaki itu mengangkat tutup dan memeriksa pulpen. Bukan barang paling mahal yang pernah dimiliki, tetapi dipilih dengan warna serta berat yang sesuai kebiasaannya.
"Gue lihat lo sering pakai pulpen yang ujungnya mulai rusak," kata Iccha. "Jadi beli itu."
Ammar mengangguk lagi. Dia meletakkan di meja, tidak langsung menggantikan seluruh perasaan dengan terima kasih yang diulang berkali-kali.
"Ada yang harus gue bilang sebelum kamu mengira gue menerima hadiah ini berarti semuanya sudah baik."
Iccha meluruskan punggung. "Apa?"
Ammar menatap pintu sebentar, kemudian kembali kepadanya.
"Soal Erika."
Nama itu membuat tangan Iccha berhenti merapikan tas. Dia sudah berusaha tidak memikirkan perhatian di meja makan dan restoran. Namun, menyebutnya langsung terasa berbeda dari dugaan yang dibicarakan dengan teman sekamar.
"Gue pernah meminta dia pura-pura menerima perhatian dari gue," kata Ammar. "Tujuannya bikin kamu cemburu."
Iccha tidak menjawab. Ruangan tetap terdengar biasa: pendingin udara, kertas yang bergerak, suara jauh dari koridor. Justru karena tidak ada bunyi besar, kalimat itu terasa lebih jelas.
"Jadi yang gue lihat waktu itu ..."
"Gue yang mengatur. Erika ikut, tapi gue yang minta. Gue juga memberikan barang sampai dia merasa susah menolak."
Iccha berdiri setengah, lalu duduk lagi. Dia memandang kotak yang baru diberikan, seolah ingin mengambil tetapi tidak ingin membuatnya menjadi pusat percakapan.
"Lo menganggap gue sebodoh itu?"
"Gue nggak berpikir dengan benar."
"Bukan itu pertanyaannya. Lo lihat gue marah, lo lihat gue nangis, dan terus dilanjutkan?"
Ammar menunduk. Dia tidak mempunyai jawaban yang membuat tindakannya terdengar baik.
"Iya. Gue melanjutkan. Sampai Erika bilang berhenti."
Iccha mengusap wajah. Sekarang perhatian kecil tentang ban dan pesan menanyakan makan tidak bisa dipisahkan dari kenyataan bahwa orang yang sama sengaja membuatnya terluka.
"Kenapa baru bilang sekarang?"
"Karena gue seharusnya bilang lebih cepat. Gue malu, lalu menunggu kamu nggak marah. Itu alasan yang salah."
Iccha menatapnya. Untuk pertama kali Ammar tidak menyalahkan dirinya yang sensitif atau terlalu cepat mengira. Namun, mendengar pengakuan tidak otomatis membuat luka itu lebih kecil.
"Lo cemburu sama Arya?"
"Iya."
"Terus lo pikir cemburu memberi hak mengatur orang lain?"
"Nggak."
Iccha menarik napas panjang. Dia ingin tertawa karena selama ini semua jawaban yang dicari ternyata pendek. Mengapa mereka harus melewati begitu banyak cara memutar hanya supaya seorang lelaki mengatakan iya?
"Gue juga salah waktu mengajak Arya awalnya cuma buat membuat lo panas," katanya. "Sekarang dia harus jaga jarak karena gue belum bisa memberi jawaban. Gue nggak akan pura-pura itu baik. Tapi itu bukan alasan lo boleh melakukan hal yang sama."
Ammar mengangguk. "Gue tahu."
Dia mengucapkan maaf tanpa diikuti permintaan agar Iccha memaafkan hari ini. Wanita itu mendengar, tetapi belum menjawab.
Waktu untuk konfirmasi jadwal hampir tiba. Iccha berdiri dan mengambil tas, meninggalkan kotak pulpen di meja.
"Hadiah itu tetap buat ulang tahun. Bukan tanda gue menerima permintaan maaf lo."
"Baik."
"Kerja juga tetap kerja. Jangan berubah jadi nyindir atau membatalkan agenda cuma karena gue butuh waktu."
Ammar mengangkat wajah. "Gue nggak akan melakukan itu lagi."
Iccha memandangnya beberapa detik sebelum keluar. Dia tidak mengangguk seolah janji itu telah terbukti. Janji baru hanya kalimat. Ia harus melihat apa yang dilakukan ketika Ammar kembali tidak senang.
Di meja, Iccha membaca berkas Arya sampai halaman terakhir. Dia memeriksa perubahan tanggal dua kali, lalu meneruskan ke bagian yang tepat. Air matanya sempat menggenang, tetapi dia menunggu sampai pekerjaan selesai sebelum pergi ke kamar kecil.
Di sana dia mencuci muka dengan hati-hati. Cermin memperlihatkan wajah yang hampir sama seperti pagi, hanya matanya lebih merah. Tidak ada kebodohan pada orang yang percaya; kebohongan tetap tanggung jawab orang yang menyusunnya.
Kalimat itu diulang dalam kepala sampai napasnya lebih tenang.
Ammar menunggu di ruangannya tanpa mengirim pesan bertubi-tubi. Pulpen baru terletak di dekat dokumen. Dia menyentuh sekali, kemudian mengambil agenda untuk memastikan seluruh pertemuan hari itu tetap berjalan.
Ketika Iccha kembali dan menyampaikan konfirmasi, dia mendengarkan sebagai atasan. Tidak ada pertanyaan apakah sudah tidak marah. Dia membiarkan wanita itu keluar sesudah urusan selesai.
Hal kecil tersebut bukan penebusan. Namun, itulah bagian pertama dari janji yang bisa dilakukan tanpa menuntut hadiah berupa senyum.
Selepas menyerahkan berkas, Iccha berhenti di pantry kantor untuk mengambil air. Arya ada di sana, sedang mencuci cangkir. Mereka saling menyapa tanpa membawa percakapan kondangan kembali ke meja.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arya setelah melihat matanya.
Iccha menarik napas. "Ada yang baru kudengar. Aku belum mau cerita, tapi aku bisa kembali bekerja."
Arya mengangguk. Dia tidak menawarkan menjadi satu-satunya orang yang bisa menenangkan atau menanyakan apakah ini soal Ammar. Ia hanya menggeser tempat agar Iccha dapat mengambil air.
"Kalau perlu beberapa menit, ambil. Dokumen tadi sudah kuterima."
"Terima kasih."
Arya keluar setelah cangkirnya selesai. Iccha berdiri sambil memegang gelas. Perhatian yang tidak menuntut cerita ternyata masih bisa diberikan bahkan setelah orang itu memilih menjaga jarak. Dia tidak perlu mengartikannya sebagai undangan kembali memanfaatkan kedekatan.
Ketika kembali ke meja, Iccha menulis tiga hal yang tidak mau diulang: pekerjaan dijadikan hukuman, orang lain dipakai untuk membuat cemburu, dan perasaan diterjemahkan melalui orang ketiga. Dia tidak mengirim daftar itu kepada Ammar. Itu pengingat untuk dirinya agar nanti tidak cepat melupakan hanya karena menerima satu kalimat manis.
Dia memeriksa jadwal peninjauan gudang. Salah satu pihak meminta perubahan waktu, dan Iccha meneruskan dengan alasan yang jelas. Ammar menyetujui setelah melihat benturan jadwal. Tidak ada pembatalan klien tanpa alasan, tidak ada ucapan yang menyeret Arya ke urusan kerja.
Iccha mencatat hasilnya. Perubahan perilaku tidak bisa dinilai dari satu pagi, tetapi satu pagi tetap tempat yang harus dimulai.
Sesudah rapat singkat, Ammar mengembalikan agenda dengan tanda pada dua bagian. Dia mengucapkan terima kasih atas koreksi yang dibuat, kemudian kembali memeriksa pekerjaan. Iccha menunggu sesaat dan menyadari dia tidak akan ditahan untuk menjawab apakah sudah memaafkan.
Di ruangannya, Ammar membuka kotak pulpen lagi. Dia tidak mengambil foto untuk dikirim kepada Iccha. Hadiah tersebut bukan alat memanggil percakapan yang baru saja diakhiri. Dia mengisi beberapa catatan kerja dengan pulpen itu, lalu meletakkannya di tempat yang biasa dipakai.
Untuk pertama kali, sesuatu yang diberikan Iccha diterima tanpa diubah menjadi bahan ledekan. Ammar belum tahu apakah itu terlambat. Namun, pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab dengan memerintah wanita itu kembali bersikap seperti dulu.
Menjelang jam kerja berikutnya, Iccha menerima pesan Ammar yang hanya menanyakan apakah berkas nomor tiga sudah siap. Dia membalas sudah dan mengantarkan sendiri. Tidak ada kalimat pribadi disisipkan pada urusan tersebut.
Sesudah berkas diterima, Ammar meminta izin mengatakan satu hal. Iccha berhenti di dekat pintu, memberi tanda dia bersedia mendengar sebentar.
"Soal hadiah, gue nggak mau kamu merasa harus membuktikan apa-apa," katanya. "Gue terima sebagai hadiah ulang tahun seperti yang kamu bilang."
"Bagus."
"Dan gue nggak akan meminta Erika menyampaikan pesan lagi."
Iccha menatapnya. Kalimat itu menyentuh bagian yang paling melelahkan: selalu mencari arti dari orang ketiga karena lelaki yang bersangkutan tidak mau menjelaskan sendiri.
"Kalau lo mau bicara, tanya gue mau mendengar atau nggak. Jangan menganggap gue pasti ada kapan saja."
Ammar mengangguk. "Iya."
Iccha tidak menambahkan jawaban tentang perasaannya. Mengakui masih peduli tidak berarti siap menerima semua kebiasaan lama. Dia kembali ke meja, memeriksa dua surel, lalu menyelesaikan satu panggilan klien.
Saat jeda singkat, dia memilih mengambil minum bersama beberapa pegawai. Ammar tidak memanggil kembali dengan alasan pekerjaan yang bisa menunggu. Dia memberi tahu jam kembali dan memastikan dokumen penting tetap bisa diakses.
Di sudut ruang istirahat, Iccha sempat tertawa atas cerita seseorang yang salah membawa bekal. Tawanya ringan, tetapi tidak ditujukan kepada Ammar atau Arya. Dia masih punya bagian hari yang boleh dinikmati tanpa menjadi tanda kepada siapa pun.
Ketika kembali ke kantor, dia melihat pulpen hadiah digunakan di meja Ammar. Tidak ada foto dipajang atau pesan yang memintanya melihat. Iccha memperhatikan sebentar, lalu berjalan terus. Dia boleh merasa senang tanpa menganggap satu benda telah membuktikan semua janji akan ditepati.
Di lantai lain, Erika baru menyalakan laptop ketika pesan Iccha muncul. Wanita itu menanyakan apakah dia tahu rencana Ammar sejak awal.
Erika menatap layar. Jadwal berbicara dengan Jo tinggal beberapa menit. Dia tidak ingin menjawab dengan kalimat kabur agar pertanyaan tersebut hilang sampai malam.
Iya, Mbak. Aku ikut waktu itu. Aku sudah berhenti, tapi aku juga bersalah karena membuat Mbak percaya pada adegan yang ndak sungguh-sungguh. Aku minta maaf. Kalau Mbak mau, nanti aku jelaskan langsung.
Pesan dibaca. Jawaban datang pendek: malam kita bicara.
Erika mengangguk meskipun temannya tidak melihat. Dia tidak mengirim alasan tambahan tentang ponsel, laptop, atau takut membuat masalah di rumah. Semuanya boleh dijelaskan nanti, tetapi tidak dipakai menutup kenyataan bahwa dia ikut menyakiti orang yang tinggal sekamar.
Jo masuk dengan dua gelas minum dan melihat wajahnya.
"Kamu sakit?"
"Ndak, Mas. Ada percakapan yang juga harus kuselesaikan."
Jo meletakkan gelas. Dia tidak menggoda tentang drama baru. Di meja sudah ada buku batik yang dikeluarkan Erika dari tas, dan kali ini buku tersebut tidak hanya dibuka pada halaman cerita pertemuan Jo dengan Caca.
"Aku sudah kosongkan waktu," kata Jo. "Kita bicara dulu sebelum kerja."
Erika menutup laptop. Dia memegang buku dengan kedua tangan, lalu berhenti ketika menyadari jemarinya terlalu kuat menekan sampul.
Jo menarik kursi dan duduk berhadapan, tidak di balik meja kerja. Ponselnya dipindahkan ke sisi lain.
"Ceritakan, Rik. Yang kamu tahu. Kalau belum tahu, bilang."
Erika mengangguk. Di koridor, langkah orang bekerja terus terdengar. Dia tidak perlu menunggu seluruh dunia sunyi untuk mengatakan sesuatu yang seharusnya sudah dibicarakan.
"Ini tentang Mas Aldin," katanya. "Dan mungkin tentang Mbak Caca."