Aldin mengalihkan pandangan kepada Erika, tetapi Kirana lebih dulu melanjutkan. Dia tidak ingin percakapan kembali menjadi pertengkaran antara kakak dan adik, sementara pertanyaannya ditaruh di pinggir.
"Mas mau mengantar aku pulang karena khawatir atau karena lebih mudah kalau aku jauh?"
"Jangan bicara begitu. Mas cuma tahu kamu juga punya urusan di sana."
"Urusanku sudah aku atur sebelum datang. Mas belum menjawab urusan kita."
Erika duduk setelah Kirana mempersilakan. Ia meletakkan tas di bawah kursi dan menjaga ponsel tetap tersimpan. Tidak perlu menambah ketegangan dengan langsung menyodorkan foto seperti barang di meja pemeriksaan.
Aldin memandang adiknya. "Kamu sekarang merasa paling tahu?"
"Ndak, Mas. Aku justru bertanya karena belum tahu."
"Tapi kamu mengikuti Mas."
Erika menarik napas. "Iya. Itu caraku yang salah. Aku seharusnya lebih berani meminta bicara. Tapi yang terlihat di kafe tetap terjadi. Mas mencium kepala perempuan itu. Aku ndak membuatnya sendiri."
Kirana menatap kedua saudara tersebut. Pengakuan Erika tidak dipakai untuk membebaskan Aldin, tetapi juga tidak dihapus supaya dirinya terlihat selalu benar. Wanita itu merapikan kertas pertanyaan di meja.
"Aku ingin tahu hubungan Mas dengan dia. Nama bisa dibicarakan sesudahnya."
Aldin berdiri kembali. Kali ini Kirana tidak ikut bergerak. Menunggu lelaki itu mondar-mandir tidak berarti dia harus terus menunduk.
"Mas belum tahu harus menyebutnya apa."
Jawaban itu membuat Kirana diam beberapa detik. Erika menggenggam ujung kursi.
"Jadi ada sesuatu yang belum selesai antara Mas dan dia?" tanya Kirana.
Aldin tidak langsung mengangguk. Namun, dia tidak lagi menjawab tidak ada perempuan lain.
"Mas bingung."
Kirana menutup mata. Empat tahun ternyata bisa bertabrakan dengan kebingungan yang tidak pernah diberitahukan. Selama ini dia mempertanyakan panggilan yang tidak dijawab, padahal ada pertanyaan lebih besar yang disembunyikan dari awal.
"Mas boleh bingung. Tapi selama itu aku diperlakukan seolah hanya kurang sabar."
Aldin duduk di hadapannya. Dia mengulurkan tangan, tetapi Kirana memindahkan jemari ke pangkuan. Bukan gerakan kasar. Dia hanya tidak ingin sentuhan dipakai menggantikan jawaban.
"Maaf," kata Aldin.
Kirana mengangguk kecil. "Aku mendengar. Tapi aku belum bisa bilang ndak apa-apa."
Erika memandang kakaknya. Kata maaf itu tidak terdengar seperti biasanya ketika seseorang terlambat atau lupa membeli titipan. Aldin tampak ingin menambah kalimat, tetapi berhenti setiap kali melihat Kirana.
"Aku ndak mau kalian bertengkar di sini," ujar Erika. "Tapi aku juga ndak bisa membantu menutupi yang sudah dilihat."
Aldin menatapnya. "Siapa yang menyuruhmu menutupi?"
"Tadi Mas bertanya aku sudah cerita apa. Aku ingin jelas. Aku bercerita ke Mbak Kiran karena itu menyangkut hubungannya."
Kirana mengambil ponsel dan menunjukkan satu foto. Dia tidak memperbesar wajah sampai gambar pecah. Cukup gambar Aldin memegang tangan perempuan di meja.
Lelaki itu melihat sebentar, lalu mengembalikan. Tidak ada alasan bahwa orang di foto salah dikenali.
"Itu Mas," katanya.
Kirana menggenggam ponsel. Pengakuan pendek tersebut membuatnya lebih sakit daripada seluruh penyangkalan. Kini setidaknya satu bagian tidak bisa dipindahkan menjadi persoalan imajinasi atau kebiasaan curiga.
"Aku mau tahu apakah Mas masih ingin melanjutkan hubungan ini dengan jujur. Kalau iya, apa yang akan dilakukan dengan hubungan yang lain?"
Aldin mengusap wajah. "Beri Mas waktu."
"Berapa lama?"
"Jangan dipatok seperti tenggat pekerjaan."
"Aku sudah menunggu tanpa tanggal. Itu yang membawa aku ke sini."
Kirana melipat kembali kertas pertanyaannya. Dia menjelaskan akan pulang dua hari lagi. Bukan diantar Aldin untuk menjauhkan masalah, melainkan karena dia punya kehidupan yang tidak bisa terus dihentikan sambil menunggu orang lain memilih.
"Sebelum aku pulang, aku ingin jawaban. Kalau Mas belum mau memberi, aku akan memutuskan apa yang perlu kulakukan untuk diriku sendiri."
Aldin mengangkat wajah. "Kamu mengancam?"
"Aku memberitahukan batas menunggu. Beda, Mas."
Erika tidak menyisipkan nasihat. Itu kalimat Kirana sendiri, dan wanita tersebut tidak membutuhkan adik Aldin untuk membuatnya terdengar lebih lunak.
Jam pertemuan sudah lewat. Ada ketukan dari luar dan seseorang mengingatkan jadwal berikutnya. Aldin menjawab sebentar, lalu kembali kepada mereka. Kirana berdiri.
"Kita berhenti di sini dulu. Aku ndak mau Mas memakai rapat berikutnya sebagai alasan memutus kalimatku. Pertanyaanku sudah disampaikan."
Aldin ikut bangkit, tetapi tidak menghalangi pintu. Dia meminta Erika tinggal sebentar. Kirana menanyakan apakah itu akan membahas dirinya, dan Aldin mengatakan hanya ingin berbicara dengan adik.
"Aku menunggu di luar," kata Kirana kepada Erika. "Kalau merasa ndak nyaman, keluar saja."
Pintu tertutup. Untuk beberapa saat, saudara yang selama ini bertemu dengan lelucon sederhana hanya saling menatap.
"Kamu kecewa sama Mas," ujar Aldin.
Erika mengangguk. "Iya."
Kejujuran itu membuat kakaknya menunduk. Dia tidak bisa meminta Erika percaya penuh lalu menutup semua pertanyaan dengan urusan pribadi.
"Kamu belum tahu semua keadaan."
"Aku bersedia mendengar. Tapi bukan berarti apa yang Mas lakukan jadi benar karena ada bagian yang belum aku tahu."
Aldin memandang jendela. Erika menunggu, berharap nama perempuan tersebut akhirnya disebutkan. Namun, kakaknya hanya mengatakan jangan membawa masalahnya ke pekerjaan Jo.
Erika merasakan tenggorokannya mengering. "Kalau perempuan itu orang yang berhubungan dengan Mas Jo, bagaimana?"
Aldin berbalik terlalu cepat. Wajahnya berubah sebelum kembali ditahan.
"Kamu mulai menyebut siapa-siapa sekarang?"
"Aku bertanya. Aku belum menyebut nama."
"Jangan membuat cerita dari potongan."
Erika berdiri. Kalimat itu berulang kali menjadi alasan dirinya diam. Kini dia tahu ada potongan yang bukan bayangan: pengakuan Aldin atas foto dan kebingungannya sendiri tentang perempuan lain.
"Aku ndak akan membuatnya jadi novel, Mas. Tapi aku juga ndak akan memperlakukannya seperti cerita yang boleh dihapus."
Dia mengambil tas, lalu keluar. Kirana menunggu di kursi yang sama. Mereka tidak langsung turun. Erika perlu memberi tahu Jo bahwa sore ini dirinya ingin berbicara sesuai janji, tetapi lelaki itu mendadak harus menghadiri pertemuan di luar.
Jo mengirim pesan bahwa dia kembali lebih malam dan meminta percakapan dilakukan besok pagi. Erika membalas setuju, lalu meminta waktu itu tidak ditukar dengan pekerjaan novel. Balasan Jo datang cepat: baik, besok kita bicara dulu.
Sebelum mereka meninggalkan gedung, Kirana meminta duduk di dekat pintu keluar. Percakapan telah selesai untuk hari itu, tetapi tubuhnya masih terasa tegang. Erika duduk tanpa membuka aplikasi kendaraan lebih dulu.
"Mbak mau menunggu sebentar?"
"Iya. Kalau langsung pergi, aku takut merasa cuma disuruh pulang lagi."
Erika mengangguk. Mereka melihat pegawai keluar membeli makan siang. Orang tertawa, menerima telepon, dan berbicara tentang pesanan yang salah. Tidak ada seorang pun tahu bahwa di salah satu ruang tadi, empat tahun hubungan baru saja berubah bentuk.
Kirana mengeluarkan ponsel dan menelepon ibunya. Dia tidak menceritakan nama yang belum pasti. Dia mengatakan Aldin mengakui ada persoalan dengan perempuan lain dan dirinya meminta jawaban sebelum pulang.
Suara ibunya tidak terdengar jelas oleh Erika. Namun, Kirana beberapa kali mengangguk dan mengusap mata. Setelah panggilan selesai, dia duduk lebih tegak.
"Ibu bilang aku boleh pulang kapan saja. Ndak harus membawa kabar baik supaya boleh masuk rumah."
Erika menelan ludah. Kalimat itu mengingatkannya pada Bu Mei yang melepas ke Jakarta sambil berharap hidupnya membaik, bukan meminta dia selalu berhasil.
"Mbak memang boleh pulang."
"Aku tahu sekarang. Tadi aku takut pulang berarti gagal."
"Hubungan bukan ujian yang nilainya cuma tanggung jawab satu orang, Mbak."
Kirana tersenyum tipis. Dia meminta Erika membantunya melihat jadwal, tetapi belum membeli sampai memastikan hari yang dipilih. Ada pekerjaan dan keluarga di Semarang yang perlu diberi kabar. Dia ingin kembali mengatur hidupnya dengan hal-hal yang bisa dikerjakan, bukan hanya menunggu perubahan perasaan Aldin.
Mereka membandingkan dua jadwal kereta. Satu terlalu pagi, satu lebih memungkinkan pertemuan terakhir sebelum berangkat. Kirana memilih melihat yang sore, lalu menyimpan halaman itu untuk diperiksa kembali.
"Aku ndak membeli tiket buat mengancam dia. Aku memang harus pulang."
"Aku mengerti."
Erika membantu mengetik daftar kecil: kabari Ibu, cek pekerjaan, siapkan barang. Kirana tertawa pendek melihat betapa rapi hal-hal biasa ketika masalah hubungan terasa tidak punya bentuk.
"Kalau semuanya bisa pakai kotak centang, enak ya, Rik."
"Yang ini bisa. Yang Mas Aldin ndak bisa kuselesaikan dengan mengklik."
Kirana mengangguk. Sesudah beberapa menit, dia meminta kendaraan dipesan. Erika menanyakan tujuan dan menyebut rumah Daddy setelah wanita itu menyetujui. Dia tidak mengambil keputusan singgah ke tempat lain untuk membuat Kirana senang tanpa diminta.
Saat menunggu, ponsel Aldin muncul di layar Kirana. Bukan panggilan, hanya pesan menanyakan apakah sudah pulang. Dia membalas masih di depan gedung dan akan memberi kabar jika perlu, lalu menyimpan layar.
"Aku ndak ingin setiap pertanyaan kecil dianggap menggantikan yang besar," katanya.
Erika mengangguk. Menanyakan perjalanan baik, tetapi tidak cukup untuk menutup pengakuan bahwa ada orang lain. Kirana berhak menerima perhatian tanpa melepaskan hak meminta jawaban.
Ketika kendaraan datang, mereka berjalan ke tepi jalan. Kirana membuka pintu sendiri. Erika masuk sesudahnya, duduk di sisi lain, dan untuk beberapa saat membiarkan perjalanan berlangsung tanpa percakapan. Wanita itu telah banyak berbicara hari ini; sekarang dia boleh berhenti menyusun kalimat.
Di kendaraan pulang, Kirana memandang jalan. Sesudah beberapa menit, dia berkata telah meminta jawaban tetapi ternyata tetap belum tahu siapa perempuan itu.
"Mbak sekarang tahu Mas Aldin mengakui ada kebingungan dengan orang lain," jawab Erika. "Itu bukan semuanya, tapi bukan kosong lagi."
Kirana mengangguk. Dia tidak terlihat lega. Mendapat bagian kebenaran tidak selalu terasa seperti menang.
Di rumah, Lina menawarkan makan. Kirana menerima sedikit, lalu meminta waktu menelepon ibunya dari kamar. Erika tidak menemani panggilan tersebut. Wanita itu berhak memilih seberapa banyak yang ingin diceritakan kepada keluarganya.
Sebelum mulai menulis, Erika menerima pesan dari Aldin. Kakaknya mengatakan dia belum siap berbicara tentang semuanya dan meminta diberi kesempatan. Erika membaca sampai selesai, lalu membalas bahwa kesempatan tetap ada selama bukan permintaan menutup yang sudah terjadi.
Aldin menjawab bahwa dirinya tidak meminta membela. Namun, beberapa detik kemudian dia menambahkan agar Erika tidak membuat Kirana semakin marah.
Erika menatap dua pesan tersebut. Ada bagian yang terdengar wajar dan bagian lain yang diam-diam memindahkan tanggung jawab kepada dirinya.
Aku ndak akan menambah yang ndak kulihat, Mas. Tapi aku juga ndak bisa mengatur apakah Mbak Kiran marah setelah tahu.
Pesan dikirim. Erika tidak menunggu sampai dibaca untuk kembali ke laptop. Dia sudah mendengar kakaknya, dan batas yang ingin disampaikan sudah jelas.
Beberapa saat kemudian, Kirana mengetuk pintu teras. Dia membawa gelas dan bertanya apakah Erika ingin teh. Tawaran kecil itu membuatnya hampir tertawa karena pagi tadi dirinya yang berkali-kali menawarkan minum.
"Boleh, Mbak. Matur nuwun."
Mereka duduk sebentar. Kirana tidak bertanya apakah Aldin sudah membalas kepada Erika. Dia bercerita ibunya akan menyiapkan makanan saat pulang, sesuatu yang dahulu selalu disebutkan kalau Aldin datang juga.
"Sekarang Ibu menyiapkannya buat aku," katanya. "Aku baru sadar aku selalu memikirkan dia lebih dulu, sampai merasa diriku pulang harus membawa seseorang."
Erika mendengarkan. Kali ini percakapan tidak membutuhkan nasihat. Kirana sedang menemukan kalimat yang membuat kepulangannya kembali menjadi bagian hidupnya sendiri.
Sore dipakai Erika menulis. Ia menyelesaikan bagian yang sudah diberi koreksi Jo, tanpa menyelipkan nasihat atau sindiran kepada Aldin. Beberapa kali pikirannya melayang, tetapi dia kembali dengan membaca kalimat terakhir keras-keras.
Ketika jam menunjukkan setengah sembilan malam, dia menutup laptop dan menelepon Sofyan sesuai janji. Kekasihnya menerima setelah beberapa nada sambung.
"Tepat waktu, Nduk."
"Aku sampai pasang pengingat. Kalau menunggu otakku ingat sendiri, bisa-bisa nyasar ke bab lain."
Sofyan tertawa. Untuk beberapa menit mereka membicarakan pekerjaan masing-masing. Erika bercerita tulisannya bertambah meskipun pagi dipakai menemani Kirana. Sofyan mengatakan jadwal tugasnya mungkin berubah pekan depan.
Lalu pembicaraan bergerak ke rencana mereka sendiri. Sofyan mengulang ingin melamar tahun depan, dan Erika meminta agar rencana tersebut dibicarakan sebagai keputusan berdua.
"Aku ingin tetap menulis, Mas. Kalau nanti pulang ke Semarang, pekerjaanku ndak otomatis selesai."
"Aku nggak melarang menulis."
"Aku tahu. Tapi waktu Mas bilang Jakarta cuma buat kerja, aku merasa tempat dan hidupku sudah dipilihkan."
Sofyan diam. Erika tidak menambahkan nama Jo atau Ammar untuk menjelaskan mengapa dia ingin punya suara. Keinginan itu miliknya, bukan sesuatu yang harus dibenarkan oleh lelaki lain.
"Aku cuma ingin kita dekat," kata Sofyan akhirnya.
"Aku juga. Tapi dekat harus dibicarakan, bukan salah satu terus mengikuti."
Mereka tidak menyelesaikan rencana perkawinan malam itu. Sofyan menyatakan perlu memikirkan, dan Erika menyetujuinya. Dia tidak menuntut langsung dipahami setelah sekian lama menjawab semua dengan iya.
Sesudah telepon berakhir, Erika menemui Kirana sebentar. Wanita itu sudah menyiapkan daftar barang untuk pulang dua hari lagi. Tiket belum dibeli, tetapi dia ingin memilih waktu keberangkatan sendiri.
"Mas Aldin belum jawab," katanya.
Erika mengangguk. Kali ini tidak ada saran mengirim pesan lagi. Mereka sudah tahu kapan batas menunggu berakhir.
Di kamarnya, Erika membuka pengingat untuk besok. Waktu berbicara dengan Jo tercantum di atas pekerjaan novel. Ia menatapnya sampai layar meredup, lalu meletakkan ponsel.
Besok dia tidak cukup mengatakan kakaknya mempunyai perempuan lain. Dia harus menjelaskan mengapa nama Yoevanca terus muncul dalam pikirannya, meskipun menyebut nama itu mungkin membuat seluruh rumah yang menerimanya dengan baik berubah sunyi.