Kirana masih menatap ponsel ketika tanda dibaca muncul. Erika tidak menyuruhnya menulis lagi. Permintaan waktu sudah jelas; mengulangnya setiap menit hanya akan membuat malam mereka habis di depan layar.
"Kalau dia ndak menjawab malam ini, aku tunggu sampai pagi," kata Kirana.
Erika mengangguk. Ia mengambil gelas kosong dan memastikan air minum masih ada di meja kamar tamu. Di luar, suara percakapan keluarga mulai mereda. Jo sudah naik, sedangkan Daddy menutup pembicaraan tentang tanggal acara sampai pertemuan dengan keluarga Caca dilakukan.
"Mbak mau aku tetap di sini?"
"Ndak. Kamu tidur. Besok kamu juga kerja."
Erika berdiri. Baru tangannya menyentuh gagang pintu, ponsel Kirana berbunyi. Mereka saling memandang sebelum wanita itu membaca pesan.
Besok setengah sebelas. Mas cuma bisa satu jam.
Kirana membacanya dua kali, kemudian membalas bahwa dia akan datang dan ingin berbicara di tempat yang tenang. Tidak ada ucapan terima kasih berlebihan, seolah satu jam adalah hadiah yang terlalu mahal untuk diminta setelah empat tahun.
"Sudah ada waktunya," ujar Erika.
"Iya. Aku datang."
Erika keluar dengan dada sedikit lebih ringan. Belum ada jawaban, tetapi ada janji yang bisa dipegang. Di kamarnya, Iccha sudah menarik selimut. Dia hanya bertanya apakah urusan tamu besok sudah diatur.
"Sudah, Mbak. Jam setengah sebelas."
"Berarti lo boleh berhenti jadi penjaga ponsel."
Erika tersenyum dan meletakkan ponsel di meja. Menjelang tertidur, dia teringat pengingat untuk berbicara kepada Jo. Besok pagi belum waktunya menumpahkan semua cerita sebelum Kirana menemui Aldin, tetapi sesudahnya dia tidak ingin menghindar lagi.
Pagi datang tanpa kejadian besar di meja makan. Jo berangkat lebih awal karena ada berkas yang harus ditandatangani. Ammar menyusul dengan Iccha, sedangkan Erika menunggu Kirana selesai bersiap. Wanita itu memakai blus sederhana dan membawa tas kecil, tanpa topi lebar atau masker yang hendak dipakai sebagai penyamaran.
"Kertas pertanyaannya dibawa?" tanya Erika.
Kirana menepuk sisi tas. "Dibawa. Tapi aku ndak mau membacakan semuanya seperti daftar belanja."
"Kalau lupa, boleh dilihat."
"Aku tahu."
Sebelum mereka berangkat, Kirana menelepon ibunya dari dekat jendela. Erika menunggu di luar kamar, tidak ikut mendengar. Ketika pintu terbuka, wanita itu terlihat lebih tenang meskipun matanya masih merah.
"Aku sudah bilang mau bertemu hari ini. Ibu minta aku memberi kabar sesudahnya."
"Bagus, Mbak."
"Tadi aku sempat ingin bilang cuma jalan-jalan. Tapi aku capek membuat perjalanan ini terdengar biasa."
Erika mengangguk. Mereka sama-sama telah memakai kalimat kecil untuk menyimpan hal besar. Tidak selalu karena ingin menipu; kadang karena belum sanggup menghadapi pertanyaan lanjutan. Namun, akibatnya orang yang bisa membantu justru tidak tahu harus hadir.
Di kendaraan, Kirana membuka kertas pertanyaan. Ada tiga baris dan satu kalimat yang dicoret. Dia meminta Erika mendengar apakah pertanyaannya terdengar jelas.
"Aku mau tahu apakah hubungan ini masih ingin diteruskan. Aku juga mau tahu apa yang sebenarnya terjadi ketika dia menjauh."
"Jelas, Mbak."
"Tapi kalau dia jawab masih sayang, aku harus bertanya apa lagi?"
Erika mempertimbangkan sebelum menjawab. Dia tidak ingin menyusun naskah untuk Kirana, tetapi tahu kalimat sayang bisa membuat wanita itu berhenti meminta tindakan.
"Mbak boleh bertanya apa yang akan dilakukan. Kalau ada rencana, kapan. Kalau belum ada, mengapa."
Kirana mengangguk dan menulis satu pengingat di tepi kertas. Bukan kalimat yang harus dibacakan, hanya agar dirinya tidak lupa meminta sesuatu selain perasaan yang mudah disebutkan.
Mereka sempat berhenti membeli roti karena Kirana belum banyak makan. Wanita itu memilih satu yang tidak terlalu manis, lalu memakannya perlahan selama perjalanan. Erika tidak membujuk menghabiskan semuanya. Dia hanya menawarkan air dan memastikan perut tidak kosong ketika percakapan dimulai.
"Aku masih ingin dia menjelaskan semuanya baik-baik," kata Kirana. "Bahkan setelah lihat foto."
"Aku tahu."
"Apa aku terlalu lemah?"
"Ndak. Mbak masih punya perasaan. Tapi perasaan itu ndak membuat pertanyaan Mbak salah."
Kirana menatap kertas, lalu melipat. Mereka berhenti membahas kemungkinan jawaban ketika kendaraan mendekati gedung. Ada waktu untuk memikirkan, dan ada waktu untuk akhirnya mendengar orang yang ditanya.
Di depan pintu, Erika hendak mengambil tas Kirana. Wanita itu menolak dengan senyum kecil.
"Ini ringan. Biar aku bawa."
Erika membiarkan. Sejak tiba dia terlalu sering langsung membantu tanpa menanyakan apakah diperlukan. Hari ini Kirana ingin berjalan masuk dengan tasnya sendiri, nama sendiri, dan pertanyaan sendiri.
Saat memasuki gedung, dia berhenti sejenak melihat lantai yang mengilap serta pegawai yang bergerak cepat. Ada gugup di wajahnya, tetapi bukan karena merasa orang kampung tidak pantas datang. Dia hanya sedang masuk ke tempat yang selama ini membuat Aldin selalu terdengar jauh dan sibuk.
"Kalau nanti menangis, aku keluar sebentar," katanya.
"Boleh. Aku menunggu."
Kirana mengangguk. Sesudah itu langkahnya tidak lagi ditentukan Erika yang berjalan setengah meter di depan. Mereka berjalan bersebelahan sampai meja penerima tamu.
Mereka tiba lebih awal dari janji. Di depan meja penerima tamu, Erika memperkenalkan Kirana dan menyebut Aldin sebagai orang yang akan ditemui. Petugas memeriksa jadwal, menelepon ke atas, lalu meminta wanita itu mengisi buku tamu.
Kirana menulis namanya sendiri. Erika memperhatikan ujung pena bergerak di atas kertas. Sederhana sekali, tetapi beberapa hari lalu dia sempat membayangkan kedatangan tersebut harus ditutupi dengan cerita pekerjaan dan nama yang tidak lengkap.
"Keperluannya apa, Mbak?" tanya petugas.
"Pertemuan pribadi yang sudah dijanjikan," jawab Kirana.
Tidak ada penjelasan hubungan yang dibacakan keras-keras. Petugas mengangguk dan menunjukkan tempat menunggu. Erika membawa dua gelas air dari dispenser setelah meminta izin. Mereka duduk bersebelahan, menghadapi orang-orang yang datang bekerja dengan kecepatan berbeda dari tamu yang sedang menunggu kekasihnya.
"Di sini dia setiap hari?" tanya Kirana.
"Sering di lantai atas, dekat ruang Mas Jo. Kadang keluar untuk urusan kerja."
Kirana mengangguk. Dia menatap pintu lift, tetapi tidak bangkit setiap kali terbuka. Erika menahan keinginan memberi tahu semua kebiasaan kakaknya. Tempat duduk, jam makan, siapa yang sering mengantar dokumen?semuanya mungkin menarik, tetapi tidak otomatis menjadi jawaban atas masalah mereka.
Erika sempat menawarkan menelepon Aldin untuk memastikan dirinya sudah siap. Kirana menggeleng. Janji itu diberikan oleh lelaki tersebut; dia tidak ingin kembali mengurus agar orang lain memenuhi waktu yang dipilih sendiri.
"Kalau terlambat, aku bisa menanyakan. Tapi sekarang belum waktunya," katanya.
Erika menyimpan ponsel. Sikap itu berbeda dari Kirana yang dulu beberapa kali meminta adik kekasihnya mencari kabar. Bukan karena dia mendadak tidak peduli, melainkan mulai melihat bagian yang seharusnya menjadi tanggung jawab Aldin.
Di sebelah mereka, seorang tamu lain menanyakan lokasi ruangan dan segera diberi petunjuk. Kirana memperhatikan, lalu bertanya kepada petugas apakah tempat menunggu ini boleh dipakai setelah pertemuan. Dia ingin tahu ke mana kembali jika harus berhenti sebentar.
Petugas mengiyakan. Kirana mengucapkan terima kasih dan duduk lagi. Mengetahui ada tempat yang bisa dituju membuatnya sedikit lebih tenang. Dia tidak harus memilih antara bertahan di ruangan sampai tidak sanggup atau meninggalkan gedung tanpa memberi tahu siapa pun.
Pukul sepuluh lewat dua puluh, ponsel Erika bergetar. Jo menanyakan apakah mereka sudah sampai. Dia membalas sudah dan sedang menunggu jadwal Aldin. Balasan Jo hanya menyuruh memberi kabar jika perlu ruangan.
Erika memperlihatkan kepada Kirana. Wanita itu berterima kasih, tetapi meminta tetap menunggu tempat yang dijanjikan Aldin. Dia tidak ingin mengawali pertemuan dengan kesan harus meminta bantuan bos agar kekasihnya datang.
Tepat setengah sebelas, Aldin muncul dari lift. Kemejanya rapi, kartu pegawai tergantung di leher. Dia melihat Erika lebih dulu, lalu Kirana.
"Sudah lama?"
"Belum terlalu," jawab Kirana. "Kita bicara di mana?"
Aldin menunjuk ruang pertemuan kecil. Erika hendak ikut berdiri, tetapi kakaknya menahan dengan tatapan.
"Mas mau bicara berdua."
Kirana menoleh kepada Erika. "Aku coba sendiri dulu. Kamu tunggu di sini, ya."
"Nggih. Kalau butuh, telepon."
Mereka pergi tanpa adegan saling menarik. Erika duduk kembali, memegang gelas yang belum habis. Bagi petugas di meja depan, pertemuan itu mungkin sama seperti tamu lain. Bagi dirinya, setiap langkah yang menjauh terasa membawa pertanyaan yang sudah terlalu lama disimpan.
Dia membuka laptop untuk bekerja. Sebelum satu kalimat selesai, suara Jo terdengar dari samping kursi.
"Kamu ngetik atau menjaga pintu?"
Erika menatap layar kosong. "Dua-duanya belum berhasil, Mas."
Jo tertawa pendek, lalu duduk sebentar. Dia tidak bertanya apa yang dibawa Kirana sebagai bukti. Dia hanya memastikan Aldin menyediakan waktu sesuai janji.
"Sudah masuk, Mas."
"Oke. Kalau mau kerja, pakai ruanganku. Di sini kamu bakal melihat lift terus."
Erika hampir menolak. Jo menunjuk ponsel di tangannya dan mengatakan Kirana masih bisa menelepon. Menunggu tidak harus dilakukan dari jarak yang membuat dirinya mendengar setiap pintu dibuka.
Akhirnya Erika mengangguk. Di lantai atas, dia membuka berkas novel. Jo melanjutkan pekerjaan di meja, sesekali meminta penjelasan tentang kalimat yang ditandai kemarin. Sepuluh menit pertama sulit, tetapi setelah membaca satu halaman, pikirannya mulai mengikuti tulisan.
Dia mengoreksi adegan berjalan di mal sesuai cerita Jo bahwa dirinya sebenarnya lelah. Tidak semua kenangan perlu dibuat sempurna supaya terasa berarti. Kalimat itu kini semakin masuk akal, tetapi Erika tidak mengucapkannya sebagai nasihat untuk orang yang sedang mempersiapkan pernikahan.
Sementara itu, di ruang kecil, Kirana meletakkan tas di kursi sebelah. Aldin duduk di hadapannya dengan ponsel menghadap meja.
"Mas, aku ingin menyelesaikan pertanyaan kemarin."
"Iya. Mas sudah bilang hubungan kita ndak berubah."
"Kalau ndak berubah, kenapa setiap ditanya rencana bertemu orang tuaku jawabannya nanti?"
Aldin menyandarkan punggung. Dia menyebut pekerjaan, proyek, dan tanggung jawab kepada Jo. Kirana mendengarkan sampai selesai sebelum bertanya lagi.
"Aku ndak minta Mas meninggalkan pekerjaan. Aku minta rencana yang bisa dibicarakan. Apa Mas masih ingin melanjutkan hubungan ini?"
Aldin membuka mulut, lalu berhenti. Di luar terdengar langkah melewati pintu. Mereka menunggu suara itu menjauh, seolah keheningan tambahan bisa menyediakan jawaban.
"Mas masih sayang sama kamu."
Kirana mengangguk pelan. "Aku mendengar itu. Tapi sayang yang Mas maksud sekarang bentuknya apa?"
Pertanyaan tersebut tidak diikuti tangis. Justru itu yang membuat Aldin tidak bisa segera menyodorkan tisu atau memeluk agar percakapan berhenti. Wanita itu masih duduk tegak dan menunggu.
"Kamu sekarang seperti sedang menguji Mas."
"Karena aku sudah terlalu lama diminta percaya tanpa diberi tahu apa yang terjadi."
Aldin mengusap wajah. Kirana mengambil ponsel, tetapi tidak langsung membuka foto. Dia ingin mendengar satu jawaban lagi tanpa gambar diletakkan di antara mereka.
"Ada perempuan lain?"
"Sudah Mas jawab kemarin."
"Aku tanya sekarang."
"Kamu dapat cerita dari Erika?"
Kirana menahan napas. Jawaban itu memindahkan persoalan ke adik yang tidak ada di ruangan, dan dia tidak ingin mengikuti arah tersebut.
"Aku juga melihat sendiri, Mas."
Aldin menatapnya. Kirana menyebut kafe di Kemang, waktu sore, serta meja dekat tanaman. Tidak ada nama perempuan disebutkan. Dia hanya menceritakan Aldin mencium kepala dan menggenggam tangan seseorang yang bukan dirinya.
Lelaki itu tidak menjawab secepat sebelumnya. Tangannya bergerak meraih ponsel, lalu berhenti sebelum menyentuh.
"Kamu mengikuti Mas?"
"Aku datang ke tempat itu. Tapi sekarang yang harus dijawab bukan cuma kenapa aku datang. Kenapa Mas melakukan itu?"
Aldin menunduk. Sesaat wajahnya tampak sangat lelah, dan Kirana hampir ingin mengatakan tidak apa-apa agar dia mengangkat kepala. Kebiasaan lama itu masih ada: menenangkan lelaki yang baru saja membuatnya terluka.
Dia tidak melakukannya.
"Mas kenal perempuan itu," kata Aldin akhirnya.
"Aku tahu Mas kenal. Siapa dia untuk Mas?"
Ponsel di meja bergetar. Aldin mematikannya tanpa melihat layar. Kirana memperhatikan, tetapi tidak meminta membuka isi pesan. Dia sudah memiliki pertanyaan yang harus dijawab dari mulut orang di hadapannya.
"Ini rumit, Kiran."
"Aku ndak meminta cerita yang sederhana. Aku meminta cerita yang benar."
Aldin berdiri, berjalan dua langkah, lalu kembali duduk. Satu jam yang dijanjikan mulai terasa tidak cukup bukan karena Kirana banyak bicara, melainkan karena setiap jawaban berhenti tepat sebelum bagian terpenting.
Di lantai atas, Erika akhirnya menyelesaikan koreksi paragraf. Jo mengangkat wajah dan bertanya apakah dia ingin membicarakan sesuatu yang kemarin diminta waktu khusus.
Erika menatap pintu. "Sesudah Mbak Kiran selesai, Mas. Aku ndak mau dia menerima kabar dari orang lain sebelum sempat bertanya sendiri."
Jo mengangguk. Dia tidak memaksa, tetapi meminta waktu yang jelas. Erika mengatakan sore sebelum pulang jika Jo sempat. Lelaki itu menuliskannya di daftar, lalu kembali bekerja.
Ponsel Erika bergetar beberapa menit kemudian. Kirana meminta turun, tanpa tanda seru atau penjelasan panjang. Erika segera memberi tahu Jo dan membawa tasnya.
Ketika dia sampai di ruang kecil, pintu sudah terbuka sedikit. Kirana duduk dengan wajah pucat, sedangkan Aldin berdiri di dekat jendela. Kakaknya berbalik saat melihat Erika.
"Kamu sudah cerita apa saja?"
Erika tidak menjawab sebelum melihat Kirana. Wanita itu mengangguk, memberi izin membicarakan yang telah dibuka bersama.
"Yang aku lihat, Mas. Ndak lebih."
Aldin menutup mata sesaat. Kemudian dia menatap Kirana, suaranya lebih pelan daripada seluruh pertanyaan tadi.
"Kalau Mas antar kamu pulang ke Semarang dulu, kita bisa bicara setelah urusan ini lebih tenang."
Kirana memandangnya lama. Di meja masih ada gelas air yang hampir tidak disentuh. Tasnya belum berpindah dari kursi, dan satu jam yang diminta telah dipakai untuk menawarkan jarak lagi.
"Aku datang bukan untuk minta diantar pulang, Mas," katanya. "Aku datang untuk tahu apa yang selama ini Mas sembunyikan."