Pagi harinya Kirana sudah lebih baik. Lemah, tapi matanya sudah kembali menjadi mata orang yang sudah selesai menangis dan sedang menghitung langkah.
Di lorong depan kamar mandi, dia berpapasan dengan Kiki.
Erika, yang melihat dari pintu kamar, sudah bersiap menetralkan bom. Tapi yang terjadi malah membuatnya mengucek mata dua kali.
Kiki menatap Kirana dari atas sampai bawah dengan tatapan audit menyeluruh. "Lo tamunya Erika?"
"I-iya, Mbak."
"Muka lo kayak habis kalah perang." Kiki menghilang ke kamarnya, kembali tiga puluh detik kemudian, dan menyodorkan tiga sachet skincare mahal ke tangan Kirana. "Pakai. Yang putih pagi, yang biru malam, yang gold pas lo ngerasa hidup nggak adil. Jangan lupa double cleansing."
Lalu dia berlalu dengan heels berdenting, seolah tidak baru saja melakukan hal paling manusiawi dalam hidupnya.
Kirana menatap tiga sachet di tangannya, lalu menatap Erika. "Itu macan yang kamu ceritain itu? Kok baik?"
"Macan baru tobat, Mbak. Jangan kaget. Nanti dia malu, terus mengamuk lagi."
Bom itu dijatuhkan di meja makan, jam tujuh pagi, di sela-sela bubur ayam dan teh manis.
"Guys." Jo mengetuk gelasnya dengan sendok seperti orang mau pidato kenegaraan. "Berita besar."
Daddy Jack menurunkan korannya. Lina berhenti membagi lauk. Bahkan Ammar, yang pagi itu turun untuk sarapan bersama, mengangkat matanya dari piringnya.
"Tadi malam Caca telepon. Venue yang kita incer, ada yang batalin booking. Slot bulan depan kosong. Tanggalnya cantik banget, pas tanggal jadian kita pula." Jo tersenyum selebar matahari terbit. "Jadi, guys, pernikahannya dimajukan. Tiga minggu lagi, gue nikah!"
Daddy tidak langsung tertawa. Dia bertanya apakah kedua keluarga menyetujui tanggal atau Jo baru mendengar tawaran penyedia tempat. Jo menjawab Caca sudah bicara kepada ayahnya, tetapi menunggu persetujuan keluarga Jack sebelum membayar.
"Jadi belum keputusan final?" tanya Ammar.
"Aku mau mengambilnya. Kami juga sudah bertunangan."
Daddy meletakkan cangkir. "Tanggal cantik tidak cukup. Kalian siap?"
Jo menyebut persiapan yang telah dilakukan dan mengakui masih ada yang perlu dirapikan. Dia ingin menemui Frans langsung, bukan menyerahkan semua kepada Caca dan Aldin.
"Aku tidak menolak," ujar Daddy. "Tapi sore nanti bicarakan dengan keluarga Caca. Setelah sepakat, baru umumkan."
Jo tersenyum lega. Baginya itu cukup dekat dengan persetujuan. Dia membicarakan daftar tamu keluarga, dan suasana sarapan mulai ramai.
Meja makan meledak dengan ucapan selamat. Daddy Jack tertawa lebar. Lina bertepuk tangan. Kiki mengangkat alis sambil berkomentar, "Akhirnya ada juga yang mau sama lo, Jo," yang disambut lemparan kacang dari Jo.
Tapi di bawah meja, dua tangan saling mencari dan saling menggenggam. Tangan Erika dan tangan Kirana. Sama-sama dingin.
Tiga minggu, Thor. Belum lama aku mencoba mencari penjelasan dan masih belum berani menyebut nama perempuan itu sebagai kepastian. Sekarang waktunya tinggal dua puluh satu hari.
"Rik!" Jo menunjuknya dari ujung meja. "Lo tim hore utama gue ya. Lo sama Ammar. Kalian berdua gue tunjuk jadi pengatur acara keluarga."
"Hah?! Aku sama Bang Ammar?!" Erika hampir tersedak buburnya.
"Iya. Kalian berdua itu orang paling detail yang gue kenal. Ammar ngatur teknis, lo ngatur kreatif. Beres."
Erika melirik Ammar. Ammar melirik Erika. Dua orang yang sama-sama menyimpan gunung rahasia, baru saja ditunjuk jadi panitia pernikahan yang pernikahannya sendiri adalah bom waktu.
Erika belum mengangguk menerima tugas. Pekerjaan novel perlu diselesaikan. Jika sekaligus mengatur acara besar, keduanya bisa berantakan.
"Aku bantu bagian kecil, Mas. Tulisan undangan atau susunan acara. Aku ndak bisa jadi penyelenggara semuanya."
Jo mengangkat kedua tangan. "Oke. Aku terlalu semangat. Teknis tetap orang yang biasa mengurus."
Ammar menyatakan hanya bisa membantu koordinasi keluarga. Daddy menyetujui. Acara besar tidak seharusnya disusun dengan menambah tugas kepada siapa pun yang kebetulan duduk di meja sarapan.
Sesudah makan, Jo meminta Erika membawa laptop ke ruang kerja. Kirana kembali ke kamar, tetapi sebelumnya menggenggam tangan Erika. Kabar gembira bagi keluarga berarti waktu mereka bertanya semakin sempit.
Jo ingin tahu apakah novel bisa disesuaikan dengan tanggal baru. Erika menjelaskan tulisan lengkap belum tentu bisa dicetak dalam tiga minggu. Mereka masih perlu menulis, membaca ulang, dan menyiapkan cetak.
"Kalau beberapa bab pertama dibuat jadi hadiah sementara?"
"Bisa dipertimbangkan. Tapi jangan dijanjikan dulu. Aku ingin hadiahnya bagus, bukan cuma sempat diletakkan di meja."
Jo mengangguk dan menelepon pihak pencetakan. Kali ini dia tidak menyerahkan semua pertanyaan kepada Aldin. Dia mencoba ikut memutuskan sendiri.
Sesudah telepon selesai, Jo mengaku gugup. Selama ini pernikahan terasa jauh. Begitu tinggal tiga minggu, semua yang hanya dibicarakan mendadak ada di depan.
"Kalau belum siap, Mas boleh bilang."
"Bukan belum mau. Aku mau. Cuma ternyata banyak yang harus kupikirkan."
Erika menatap layar. Ada pertanyaan lain yang ingin keluar, tetapi tidak boleh menjadi sindiran tanpa penjelasan.
"Mas, urusan Mas Aldin sama Mbak Kirana belum selesai. Aku masih khawatir."
Jo berhenti menggulir daftar. "Kalian sudah bicara lagi?"
"Mbak Kiran sudah. Mas Aldin bilang ndak ada perempuan lain. Tapi yang terlihat berbeda dari jawaban itu."
Jo menatapnya. Erika tidak membuka foto di tengah perencanaan acara. Dia meminta waktu terpisah setelah Kirana memutuskan pertanyaan yang ingin disampaikan langsung.
"Jangan tunggu sampai terlalu berat, Rik."
"Aku ndak ingin menunggu lama lagi."
Setelah kembali bekerja, Jo lebih sering berhenti membaca daripada bercanda. Kekhawatiran Erika akhirnya terdengar sebagai sesuatu yang perlu ditanggapi, bukan kebiasaan penulis membayangkan drama.
Siang itu Kirana makan bersama Lina. Pusing berkurang, dan dia menerima air tanpa diingatkan berulang kali. Pesan Aldin malam sebelumnya hanya menanyakan apa yang ingin dibicarakan. Belum ada waktu pertemuan.
Kirana membalas bahwa urusannya hubungan mereka, bukan sesuatu yang akan diselesaikan lewat pesan. Sesudah itu dia membantu Lina merapikan meja. Gerakan kecil membuatnya merasa masih sanggup melakukan sesuatu, bukan hanya menunggu lelaki yang selalu punya alasan.
Di ruang kerja, Erika meminta salinan bagian novel yang sudah dikoreksi Jo. Dia memisahkan catatan hadiah dari catatan pribadi agar keduanya tidak tercampur ketika tenggat semakin dekat. Jo memperhatikan dan bertanya apakah dia perlu waktu khusus menulis tanpa wawancara.
"Besok siang, kalau bisa, Mas. Pagi aku mungkin menemani Mbak Kiran."
"Oke. Aku juga ada urusan kantor."
Jo mencatat jadwal. Dia tidak menuntut penulisnya bekerja setiap kali dirinya ingin berbicara. Justru itu membuat Erika semakin ingin menyelesaikan tugas dengan baik. Kebaikan tidak perlu dibayar dengan membenarkan semua dugaan atau diam di depan kesalahan; kebaikan bisa dibalas dengan pekerjaan yang jujur dan percakapan yang tidak terus dihindari.
Menjelang sore, Jo memberi kabar bahwa keluarga Caca akan berbicara dengan Daddy melalui telepon sebelum pertemuan langsung. Dia tidak meminta Erika ikut. Pembicaraan keluarga tetap urusan mereka, sementara penulis cukup menyiapkan daftar bagian novel yang realistis diselesaikan.
Erika mencetak kerangka dan menandai dua bagian yang masih memerlukan wawancara. Ammar lewat ketika kertas sedang disusun. Dia bertanya apakah Jo sungguh meminta semua selesai dalam tiga minggu.
"Aku sudah bilang belum tentu bisa, Bang."
"Bagus. Jangan mengangguk untuk semua."
Erika menatapnya. Nasihat itu terdengar aneh dari orang yang dulu menyuruhnya mengikuti rencana tanpa banyak bertanya. Ammar rupanya menyadari tatapan tersebut.
"Termasuk yang dulu gue minta," tambahnya, suaranya lebih rendah.
Erika meletakkan kertas. Dia tidak langsung tersenyum atau mengatakan semua tidak apa-apa.
"Aku memang ndak akan ikut lagi, Bang."
Ammar mengangguk. "Gue tahu."
Tidak ada permintaan hadiah dikembalikan, tidak pula pembicaraan bagaimana membuat Iccha cemburu. Untuk beberapa detik mereka hanya berdiri di dekat meja, sama-sama mengetahui ada hal yang sudah tidak boleh diulang.
"Kalau Bang ingin ngomong ke Mbak Iccha, langsung saja," ujar Erika. "Aku bisa dengar, tapi ndak mau jadi jalan memutar."
"Iya."
Jawaban itu pendek. Erika tidak menerjemahkannya sebagai perubahan besar. Namun, dia cukup menerima bahwa batas yang disampaikan tidak dibantah kali ini.
Ammar kemudian menanyakan daftar tugas keluarga yang perlu disusun. Erika menyerahkan salinan kecil, menjelaskan bagian tulisan dan bagian teknis yang ditolak. Mereka membagi pekerjaan tanpa adegan berpura-pura dekat atau pesan yang harus dirahasiakan.
Ketika Iccha lewat membawa gelas, Erika menyapa biasa dan mengatakan mereka sedang memeriksa susunan acara keluarga. Ammar tidak memakai kesempatan itu untuk sengaja duduk lebih dekat. Iccha melihat kertas di meja, mengangguk, lalu bertanya apakah ada dokumen yang perlu dicetak.
"Nanti gue kabari," jawab Ammar.
Erika memperhatikan percakapan pendek tersebut. Tidak ada orang yang langsung bahagia, tetapi juga tidak ada yang sengaja dijadikan penonton. Kadang kemajuan hanya berupa berhentinya kebiasaan yang membuat hal sederhana berubah menjadi luka.
Sesudah keduanya pergi, dia merapikan daftar. Lembar untuk Jo diletakkan di map berbeda dari buku batik. Ada pernikahan yang mungkin semakin dekat dan pertanyaan tentang Aldin yang harus dijawab. Keduanya berhubungan, tetapi tidak boleh dicampur menjadi sindiran dalam pekerjaan.
Erika memasukkan satu pengingat ke ponsel untuk berbicara dengan Jo secara khusus. Ia tidak ingin menunggu sampai hari acara hanya karena jadwal semua orang sibuk. Waktu yang diminta untuk Aldin dan Kirana juga harus jelas. Kalau satu terus ditunda, yang lain tidak boleh ikut tenggelam.
Sorenya, Sofyan video call.
Erika mengangkatnya di kamar, dan sialnya, tepat saat itu Kirana lewat di belakangnya membawa handuk, menuju kamar mandi.
"Siapa itu?" tanya Sofyan.
"Mbak Kiran yang aku ceritakan kemarin, Mas. Dia masih ingin bicara dengan Mas Aldin."
"Belum selesai urusannya dengan abangmu?"
"Belum, Mas. Aku juga masih berusaha membantu sebisaku."
Sofyan diam. Diamnya Sofyan selalu lebih berbahaya dari omelannya, karena diamnya itu penuh pikiran yang tidak dia bagi.
"Nduk," katanya akhirnya, pelan, "aku kangen. Tapi kayaknya kamu sibuk terus sama hidupmu yang baru."
"Aku memang sibuk, Mas, tapi bukan berarti-"
"Ya sudah. Istirahat saja. Suaranya capek." Sofyan tersenyum, dan senyumnya itu senyum orang yang memutuskan untuk tidak berkelahi hari ini, tapi mencatat semuanya. "Assalamualaikum, Nduk."
"Waalaikumsalam, Mas."
Sebelum panggilan berakhir, Erika meminta Sofyan mendengar sebentar. Kalimat tentang hidup baru tidak boleh menggantung sebagai tuduhan yang tidak bisa dijawab.
"Aku sibuk memang iya. Tapi aku tetap mengangkat. Kalau Mas kangen, bilang. Aku juga ingin cerita soal tulisan, bukan cuma menjelaskan kenapa capek."
Sofyan mengakui jadwal mereka sulit bertemu. Ketika dia sempat menelepon, Erika membantu orang lain. Saat Erika senggang, dirinya bekerja.
"Besok setengah sembilan, ya. Kalau Mas ndak tugas, aku luangkan. Kalau berubah, kabari. Jangan sama-sama menebak."
Sofyan mengangguk. Dia menanyakan halaman yang ditulis Erika dan mendengarkan satu adegan lucu. Tidak lama, tetapi cukup membuat percakapan berakhir tanpa terasa seperti pintu dibanting.
Layar gelap. Erika duduk di tepi kasur dengan ponsel di pangkuan seperti batu.
Iccha, yang baru keluar dari kamar mandi, menatapnya satu detik saja dan langsung tahu. "Lo ngorok hati lagi."
"Mbak, semua orang di rumah ini bisa baca aku apa, sih?"
"Bukan semua orang bisa baca kamu, Rik. Kamu saja yang nulisnya pakai huruf kapital semua di muka."
Malam itu, jam sebelas, Erika membuka buku batiknya dan menulis dengan tangan yang tidak lagi gemetar, tapi dingin dan pasti:
Waktu tersisa: 21 hari.
Target: bukti yang tidak bisa dibantah satu kalimat pun.
Kendala: pengantin prianya menganggapku adik. Pengantin wanitanya tidak pernah menunjukkan wajah. Dan Mbak Kiran menunggu di kamar tamu.
Dia menatap tulisan itu lama, lalu menambahkan satu baris kecil di bawahnya:
Kalau novel ini punya Tuhan, tolong kasih aku satu bab keberuntungan.
Di kasur sebelah, Kirana tiba-tiba membuka matanya. Suaranya tenang. Terlalu tenang. Tenang seperti laut sebelum badai.
"Rik. Besok antar aku ke kantornya Mas Aldin. Aku mau lihat tempat dia bekerja. Terakhir kali sebagai orang yang masih ingin mendengar kejujuran."
Erika menelan ludah. "Terus habis itu, Mbak?"
"Sehabis itu," Kirana menatap langit-langit, "aku akan menuntut jawaban."
Erika memandang Kirana. Datang ke kantor berarti Aldin tidak bisa mengatakan bekerja tanpa memberi ruang berbicara. Namun, itu kantor Jo, bukan tempat bebas mengadakan pertengkaran.
"Aku bantu membuat janji, Mbak. Kita lapor resepsionis dengan nama sendiri. Ndak menyelinap."
Kirana mengangguk. "Aku ndak ingin mempermalukan dia. Aku cuma ndak mau diperlakukan seperti urusan yang bisa ditunda terus."
"Kalau dia bilang belum sempat?"
"Aku minta jamnya. Kalau ndak bisa memberi, itu juga jawaban."
Erika membuka percakapan kakaknya. Dia menulis Kirana ingin datang besok dan meminta waktu bicara tanpa tergesa. Tanda dibaca muncul tidak lama kemudian.
Balasan datang beberapa menit sesudahnya.
Jangan datang dulu. Besok Mas banyak urusan.
Kirana membaca sampai selesai, lalu mengambil ponsel sendiri. Gerakannya lambat, tetapi tidak ragu.
Aku juga punya urusan, Mas. Dengan hubungan kita. Tolong beri waktu yang jelas.
Sesudah pesan terkirim, kedua tangan diletakkan di pangkuan. Kali ini yang ditunggu bukan perhatian kecil atau alasan baru. Dia memberi kesempatan Aldin menjawab sebagai orang yang selama empat tahun mengaku ingin membangun masa depan bersama.
Erika duduk tanpa bicara. Sementara keluarga di bawah membicarakan pesta yang mungkin tinggal tiga minggu lagi, di kamar tamu ada hubungan lain yang belum bisa memperoleh satu jam untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.