Kirana akhirnya meminta Erika membuka catatannya pagi itu. Sehari sebelumnya dia masih terlalu lelah dan memilih menunda, tetapi sekarang tidak ingin menunggu lagi.
Erika sebenarnya belum merasa berani. Namun, menyimpan semuanya ketika Kirana berada di rumah yang sama hanya membuat ketakutannya bertambah. Kini dia harus membuka apa yang diketahui.
Jadi dia membuka buku batiknya, membuka galeri ponselnya, dan meletakkan semuanya di meja kecil kamar tamu. Foto buram dari butik. Foto kafe Kemang. Catatan bertanggal dengan tulisan tangan yang makin berantakan.
Erika menceritakan urutannya sebelum menyerahkan ponsel. Pertemuan di butik mungkin punya penjelasan karena Aldin membantu persiapan pernikahan Jo. Namun, ciuman di kepala dan tangan yang bertaut di kafe tidak bisa begitu saja disamakan dengan belanja untuk bos.
"Wajahnya belum terlihat penuh, Mbak. Aku punya dugaan, tapi ndak mau menyebutnya sebagai kepastian."
"Kamu pikir itu siapa?"
Erika menatap buku. "Mungkin Mbak Caca. Calon istrinya Mas Jo. Suara dan rambutnya mirip."
Kirana tidak segera bergerak. Dia menatap foto, kemudian Erika lagi.
"Calon istri bosnya?"
"Nggih. Mas Aldin memang sering membantu dia. Itu bisa menjelaskan cincin. Tapi bukan semua yang aku lihat."
Erika tidak menggulir terlalu cepat atau menyatakan identitas telah terbukti. Dia memberi kesempatan Kirana membaca jam kejadian dan catatan, termasuk keterangan bahwa model cincin masih belum pasti.
"Mas Jo tahu?"
"Aku baru bilang Mas Aldin bersama perempuan lain. Aku belum menyebut nama."
Kirana menutup mata. Ruangan terasa terlalu sunyi. Erika menahan diri agar tidak langsung menjelaskan semua alasan dia terlambat bercerita. Wanita di hadapannya perlu menerima kabar, bukan mendengarkan pembelaan panjang dari orang yang memberikannya.
"Aku minta maaf karena ndak cerita lebih cepat," katanya akhirnya.
"Aku marah, Rik. Tapi aku juga tahu kamu takut."
Erika mengangguk. Dia tidak meminta kemarahan itu hilang hanya karena sudah meminta maaf. Tangannya tetap di dekat buku, siap menjelaskan jika ditanya, tetapi tidak menutupi layar atau memilih gambar yang paling ringan.
Kirana membacanya satu per satu. Pelan. Tidak ada tangis. Justru itu yang membuat Erika takut.
Ketika mulai memilih foto, Kirana meminta waktu berhenti sebentar. Dia berdiri, membuka jendela sedikit, lalu kembali duduk. Erika tidak menanyakan apakah sudah selesai menangis karena tidak ada tangis yang terlihat.
"Kalau aku minta kamu kirim semua, kamu bisa?"
"Bisa. Tapi jangan langsung disebarkan, Mbak. Aku mau Mbak tahu, bukan semua orang menilai dari gambar buram."
"Aku ndak mau menyebarkan. Aku cuma mau punya catatan sendiri. Selama ini kalau aku bertanya, dia bilang aku membayangkan macam-macam. Aku takut nanti setelah pulang aku mulai percaya lagi bahwa aku yang salah."
Erika mengangguk. Ia mengirim foto tanpa memperbaiki bentuk wajah, memberi tanda, atau membuat potongan yang menghilangkan konteks. Jam pada catatan tetap disertakan. Gambar tersebut tidak menjadi lebih jelas hanya karena mereka membutuhkannya.
Kirana menyimpan di folder sendiri. Lalu dia meminta Erika menceritakan bagian yang tidak masuk foto: siapa berdiri dulu, bagaimana mereka duduk, serta apakah ada orang lain di meja. Pertanyaan dijawab satu per satu. Bila tidak ingat, Erika mengatakan tidak ingat.
"Aku sempat terlalu takut ketahuan. Jadi ndak semua gerakan diperhatikan."
"Ndak apa-apa. Aku lebih suka itu daripada kamu melengkapi yang kosong."
Erika merasa sedikit lega. Dia bisa membantu tanpa menjadi saksi yang seolah mengetahui semua hal. Kirana menutup layar setelah memastikan salinan tersimpan, kemudian meminta air minum.
Di dekat meja ada buku cerita yang dipinjamkan Lina. Kirana memindahkannya agar foto tidak tertutup. Untuk pertama kali dia menyadari rumah ini telah memberi tempat beristirahat, makanan, dan orang yang bersedia mendengar, sementara lelaki yang dicari justru berulang kali meminta penundaan.
"Aku ndak bisa lama-lama tinggal di sini," katanya.
"Kita atur setelah ada jawaban, Mbak. Kalau ingin pulang dulu, aku bantu cari tiket."
"Aku belum ingin pulang dengan pertanyaan yang sama."
Erika mengangguk. Ia tidak menjawab bahwa semuanya pasti selesai sebelum keberangkatan. Kali ini yang bisa dijanjikan hanya menemani, menyampaikan yang diketahui, dan berhenti menenangkan dengan kepastian palsu.
"Mungkin ini cincinnya," kata Kirana akhirnya, jarinya menyentuh foto jari manis wanita pirang itu. "Aku pernah nemu struknya. Di saku celana dia, waktu aku beres-beres rumah akhir tahun lalu. Nominalnya membuatku lupa napas. Waktu kutanya, dia bilang: hadiah buat bosku. Kutaruh struknya kembali. Kupercaya." Kirana mengangkat wajahnya. "Aku perempuan paling gampang dibohongi sedunia ya, Rik."
"Bukan gampang dibohongi, Mbak. Namanya percaya. Percaya itu mahal. Yang murah itu dia, yang ngutangi kepercayaan orang terus ndak pernah bayar."
Kirana diam lama. Lalu dia mengatakan kalimat yang sudah Erika takutkan sejak peron Pasar Senen.
"Kamu ada operasi lagi kan? Kalau dia ke sana lagi? Bawa aku."
"Mbak, itu bahaya-"
"Aku tidak akan rusuh. Aku cuma mau lihat dengan mataku sendiri." Kirana menggenggam tangan Erika. "Selama ini aku cuma punya kata-kata orang, Rik. Kata-kata bisa kubantah. Mata sendiri tidak bisa. Aku butuh satu kali lihat. Satu kali saja. Setelah itu, terserah kamu mau susun rencana apa."
Erika tidak langsung menyetujui. Dia tidak memiliki jadwal pertemuan Aldin, dan pergi ke kafe belum tentu mempertemukan mereka dengan siapa pun.
"Aku ingin melihat tempatnya," jawab Kirana. "Kalau dia ndak ada, aku tetap ingin tahu ke mana dia pergi waktu aku menunggu telepon."
"Kalau ada, Mbak tetap boleh bertanya. Tapi jangan saat emosi sampai ndak bisa mendengar. Kita berhenti sebentar kalau perlu."
Kirana mengangguk. Mereka tidak berjanji diam selamanya. Mereka juga tidak langsung pergi hari itu. Erika perlu bekerja, sedangkan Kirana membutuhkan tidur.
Menjelang siang, sebelum pergi ke Kemang, Kirana menemani Lina berbelanja dan menelepon ibunya. Dia meminta sendiri kepada Daddy memakai kamar tamu beberapa hari lagi. Tidak semua kebutuhan harus disampaikan Erika atas namanya.
Jo menyapa dan bertanya apakah percakapan dengan Aldin membantu. Kirana menjawab masih ada yang perlu dibicarakan. Jo menawarkan tempat jika diperlukan, lalu pergi tanpa menuntut laporan.
Kirana kini tahu siapa calon istri lelaki yang ramah kepadanya. Keramahan itu sulit diterima tanpa mengingat foto. Tetapi dia tidak ingin menuduh Jo bersalah karena mempercayai sahabatnya. Di antara mereka ada orang yang mungkin sama-sama belum menerima cerita lengkap.
Sebelum pergi ke Kemang, Erika menyelesaikan pekerjaan dan memberi tahu Lina tujuannya. Dugaan mengenai Yoevanca tidak diumumkan. Nama itu belum boleh menjadi cerita yang bergerak dari mulut ke mulut.
Kirana sempat meminta Erika menunjukkan ulang gambar cincin. Setelah diperbesar, bentuknya justru semakin pecah. Wanita itu akhirnya mengakui struk yang pernah ditemukan hanya menyebut toko dan harga, bukan gambar model. Dia tidak bisa membuktikan dua cincin sama hanya karena keduanya mahal.
"Tapi pertemuan itu tetap perlu dijelaskan," katanya.
"Nggih. Yang itu aku lihat sendiri."
Mereka menyimpan ponsel. Kirana memilih pakaian biasa, bukan sesuatu yang membuatnya tampak sedang bersaing dengan perempuan dalam foto. Dia ingin menjadi dirinya ketika meminta jawaban, bukan versi yang disusun agar Aldin menyesal melihat penampilannya.
Erika mengajak makan sebelum pergi. Mereka makan sedikit, tetapi cukup membuat perut tidak kosong. Tidak ada lelucon operasi kali ini. Perjalanan itu bukan permainan yang bisa dinilai berhasil dari banyaknya gambar terkumpul.
Sehari setelah kondangan itu, sore hari. Kafe yang sama di Kemang. Topi dan masker. Meja paling pojok. Dua es teh.
"Aturannya," bisik Erika, "Mbak duduk, pegang tanganku terus, dan apa pun yang terjadi, kita tidak berdiri. Deal?"
"Deal."
Aldin datang jam empat lewat sepuluh. Wanita pirang itu datang lima menit kemudian, dengan topi pantai yang sama, kaca mata hitam yang sama, dan langkah yang terlalu tenang untuk orang yang sedang menyakiti kepercayaan orang-orang yang mengenalnya.
Kirana melihat kekasihnya berdiri menyambut wanita lain, menarikkan kursinya, mencium puncak kepalanya.
Tangan Kirana mengeras di genggaman Erika seperti beton.
"Rik," bisiknya, dan suaranya sudah bukan suara yang kemarin, "dia ketawa. Kamu lihat? Dia ketawa seperti itu. Ketawa yang dulu punyaku."
Di meja sana, Aldin menyuapkan kue keju. Wanita itu tertawa, melepas kaca mata hitamnya untuk mengusap sudut matanya, dan, sialnya, saat itu juga seorang pelayan membawa nampan tinggi lewat tepat di antara meja mereka dan meja pojok, menghalangi wajah itu pada detik yang paling dibutuhkan.
"Cincinnya," kata Kirana tiba-tiba berdiri. "Rik, aku mau menanyakan cincin itu. Aku mau tanya langsung. Sekarang."
"Mbak, deal kita-"
"Aku sudah lihat! Mataku sudah lihat! Sekarang mulutku mau bertanya!"
Kirana melepaskan tangannya dan melangkah. Satu langkah. Dua langkah.
Erika menyusul dan menyentuh lengan Kirana. Ia meminta berhenti sebentar karena napas wanita itu tidak teratur. Kirana akhirnya mengangguk dan memilih keluar dahulu. Erika mengambil tas, membayar minuman, lalu menemaninya berjalan menuju pintu.
"Aku mau tanya, Rik."
"Aku tahu. Kita tenang sebentar. Setelah itu Mbak yang putuskan."
Kirana mengangguk dan mencoba menarik napas. Di trotoar depan kafe, di antara orang-orang yang lalu-lalang dengan ketidakpedulian khas Jakarta, tubuh Kirana meluruh. Dia menangis tanpa suara, bahunya naik turun, dan Erika memeluknya erat sambil matanya sendiri basah.
Di dalam kafe, melalui kaca, wanita pirang itu sempat menoleh ke arah pintu, terganggu oleh keributan kecil di luar. Tapi punggung Aldin menghalanginya, dan detik berikutnya dia sudah kembali ke kue keju-nya.
Kirana duduk di bangku dekat pintu. Erika membeli air dan menunggu sampai dia sanggup minum. Dari sana bagian dalam kafe terlihat, tetapi percakapan Aldin tidak terdengar.
"Sekarang Mbak mau apa?"
Kirana mengusap wajah. "Aku tahu dia bohong waktu bilang ndak ada perempuan lain. Tapi kalau masuk sekarang, aku cuma menangis dan dia bilang salah paham."
"Mbak ndak harus memenangkan perdebatan hari ini."
"Aku cuma ingin berhenti diperlakukan seperti urusan yang bisa ditunda."
Erika mengangguk. Ketika Kirana memilih pulang, keputusan itu bukan karena dilarang bertanya. Dia ingin tempat yang memungkinkan dirinya menyelesaikan kalimat tanpa ditatap pengunjung.
Sebelum berangkat, Kirana mengirim pesan kepada Aldin. Dia meminta bertemu lagi dan menyebut ada kejadian yang ingin ditanyakan. Tidak ada foto dikirim. Dia ingin mendengar jawaban sebelum menyerahkan semua yang diketahui.
Erika memegang tas sambil menunggu kendaraan. Kini Kirana tidak lagi hanya meminta kekasihnya sempat menelepon. Dia meminta jawaban, dan perbedaannya tampak pada cara ponsel disimpan sesudah pesan terkirim.
Di jalan, Kirana bertanya apakah Erika masih takut mengatakan dugaan tentang Caca kepada Jo.
"Aku takut salah. Tapi aku tahu ndak boleh menunggu semuanya sempurna baru bicara."
Kirana mengangguk. Dia tidak meminta Erika mengumumkan kepada semua orang. Namun, kemesraan di kafe harus berhenti ditulis sebagai kemungkinan. Identitas perempuan belum pasti, tetapi tindakan Aldin sudah disaksikan dua orang.
Erika menerima itu. Catatan diperbaiki untuk berhenti mengecilkan yang sudah jelas, bukan menambah tuduhan.
Mereka tidak langsung berbicara lagi. Kendaraan bergerak melewati deretan toko, dan Kirana menatap pemandangan tanpa benar-benar melihat. Erika menawarkan tisu, lalu membiarkan wanita itu diam. Tidak setiap keheningan membutuhkan kalimat penghiburan.
Sampai di rumah, Kirana meminta waktu mandi. Erika menunggu di ruang keluarga dan mencoba membaca ulang satu paragraf novel Jo. Kalimat tentang kepercayaan kini terasa terlalu indah untuk ditulis tanpa berhenti memikirkan lelaki yang baru dilihatnya.
Dia tidak mengubah novel menjadi tempat menyampaikan sindiran. Buku itu pesanan Jo, bukan surat kepada Aldin. Erika menutup dokumen untuk sementara. Ada pekerjaan yang harus diteruskan setelah dirinya bisa membedakan kebutuhan tokoh cerita dari sakit hati orang-orang yang dikenalnya.
"Kenapa dia bisa ketawa sebahagia itu sama orang lain, Rik?" suara Kirana pecah di pelukan Erika. "Aku nunggu ketawa itu dua tahun. Dua tahun."
Erika tidak menjawab. Dia hanya memeluk lebih erat, dan dalam hati menulis satu baris yang kelak akan dia simpan untuk bab paling berat novelnya: cinta itu tidak hilang, dia cuma pindah, dan yang ditinggalkan tidak pernah dikabari.
Malamnya Kirana demam.
Erika belum tahu penyebabnya. Dia membantu Kirana berganti pakaian nyaman, lalu meminta Lina membawakan makanan hangat. Ketika ditanya, dia menjawab belum tahu dan akan mencari bantuan jika keluhan memburuk.
Lina membawa termometer dan membantu Kirana minum. Suhunya sedikit meningkat. Erika tidak menyimpulkan itu akibat menangis. Jika keluhan bertambah, mereka akan meminta bantuan. Kirana makan beberapa sendok bubur, lalu tidur setelah kamar dibuat tenang.
Erika mengabari Jo bahwa tamunya kurang sehat. Jo meminta dipanggil jika perlu dan menyuruh dia ikut istirahat. Tidak ada tuntutan membuka seluruh kejadian melalui pesan malam itu.
Ponsel Kirana berbunyi. Erika tidak membukanya. Nama Aldin terlihat pada layar, dan dia membangunkan wanita itu sebentar untuk memberi tahu. Kirana meminta membaca besok.
Kali ini Aldin yang harus menunggu.
Jam dua pagi, Kirana mengigau pelan, tangannya mencari-cari, dan Erika menggenggamnya.
"Jangan tinggalin aku," gumam Kirana dalam tidurnya.
"Ndak, Mbak. Aku di sini."
Erika menatap langit-langit kamar sampai pagi. Di rumah ini dia menyimpan rahasia semua orang. Dan rahasia-rahasia itu sekarang punya wajah, punya suara, dan tidur di kamar tamu sambil memegang tangannya seperti anak kecil takut gelap.