Di kantor, gosip minggu ini bukan lagi soal ban mobil.
Gosipnya adalah Arya yang mengundang Iccha ke pernikahan sepupunya sore nanti. Bukan sekadar "ikut rame-rame", tapi resmi, untuk menemaninya. Tiara, petugas resepsionis yang sedang mengantar dokumen, mendengar undangan itu langsung dari mulut Arya sendiri dan hampir menjatuhkan gelas kopinya.
"Lo serius nggak jawab apa-apa?!" desis Tiara saat Arya pergi. "Itu undangan kondangan, Cha! Kondangan itu bukan ajang main-main! Itu ajang pertunjukan status! Semua orang akan tanya: ini pacarnya? Kapan nyusul? Lo tahu itu kan?!"
"Aku bilang aku pikir-pikir dulu."
"Pikir apaan?! Cowok se-wah itu lo suruh nunggu jawaban kayak antrean bank?!"
Iccha tidak menjawab. Matanya, tanpa bisa dicegah, melirik ke ruangan berkaca di ujung lantai tiga. Di dalam sana, di balik kaca, Ammar Syalendra sedang berdiri menghadap jendela dengan tangannya di saku, dan dari jarak dua puluh meter pun Iccha bisa melihat rahangnya mengeras.
Dia lihat. Pasti dia lihat Arya tadi di mejaku. Batin Iccha panik. Terus kenapa dia diam saja?! Siah. Kumaha atuh. Mau sampai kapan dia jadi kulkas?!
Iccha menyusul Arya sebelum lelaki itu kembali ke ruang kerjanya. Dia tidak ingin undangan dianggap persetujuan diam-diam hanya karena orang kantor sudah membicarakan mereka.
"Kalau aku datang, kamu memperkenalkan aku sebagai apa?"
Arya berhenti. "Teman. Kalau belum ingin yang lain, aku bilang teman."
"Aku memang belum ingin yang lain."
"Aku ingat percakapan kita. Aku nggak mengundang supaya kamu terpaksa menjawab di depan keluarga."
Iccha merapikan rambut. Acara keluarga bisa membuat batas mereka terlihat berbeda bagi orang yang tidak mendengar percakapan sebelumnya.
"Kalau mereka tanya kapan menikah?"
"Aku yang jawab. Kamu nggak perlu menghibur mereka dengan janji."
Iccha tersenyum dan meminta waktu memikirkan. Arya mengangguk, kemudian pergi tanpa menunggu di dekat meja. Dia menghormati keputusan, bukan hanya mengatakan tidak memaksa sambil terus mencari jawaban.
Saat menyerahkan agenda, Iccha menemukan jadwal peninjauan gudang yang perlu dikonfirmasi. Ammar mendengarkan, kemudian matanya berhenti pada amplop di tangan wanita itu.
"Undangan?"
"Pernikahan sepupunya Pak Arya."
"Kamu datang?"
"Belum memutuskan."
Ammar menunduk. Iccha menunggu komentar sebelum merasa kesal kepada dirinya sendiri. Kalau lelaki itu ingin berkata sesuatu, sebenarnya kesempatan ini mudah. Tidak perlu menyuruh Erika berpura-pura menerima perhatian.
"Konfirmasi gudang pukul sepuluh," ujar Ammar.
Iccha mengangguk. Dia memasukkan undangan ke tas. Tidak dibuang, tidak pula diletakkan menghadap pintu agar terlihat seseorang. Hari ini dia ingin keputusan berhenti menjadi alat mendapatkan reaksi.
Sore itu, dokumen harus dicetak ulang karena lampirannya berbeda. Iccha mengakui belum mencocokkan nomor halaman. Ammar memeriksa, lalu menyuruhnya memperbaiki sebelum dikirim.
"Maaf, Pak. Saya cek lagi."
"Iya. Jangan terburu-buru."
Tidak ada sindiran tentang kopi Arya atau ajakan kondangan. Iccha hampir berterima kasih berlebihan untuk sesuatu yang memang seharusnya begitu. Dia menahan diri, membawa berkas ke meja, dan menyelesaikannya tanpa pertengkaran.
Ketika hasil koreksi diserahkan, Ammar memeriksa sampai halaman terakhir. Ia menunjuk satu tanggal yang perlu disesuaikan, lalu mengembalikan tanpa membentak. Iccha menunggu di pintu, seolah ada kalimat lain yang belum selesai.
"Ada lagi?" tanya Ammar.
"Nggak. Saya lanjut dulu."
Dia keluar sebelum keinginan menanyakan perasaan kembali menang. Tangan lelaki itu sudah tidak terlalu merah, tetapi kenangan tentang dinding yang dipukul masih membuatnya khawatir. Ia ingin peduli tanpa harus mengartikan setiap kekhawatiran sebagai undangan untuk disakiti lagi.
Ammar memandang pintu yang tertutup. Hari ini Iccha bekerja baik, bicara seperlunya, dan tidak mengajaknya bertengkar. Seharusnya itu membuat suasana kantor lebih nyaman. Justru dia merasa kehilangan sesuatu yang biasanya dianggap mengganggu.
Ia membuka daftar agenda, lalu menyadari pertanyaan tentang kondangan tidak tertulis di mana pun. Kalau ingin tahu, dia harus bertanya sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai direktur yang sedang memeriksa jadwal pegawai.
Malamnya, di teras belakang, sejarah terulang.
Ammar datang tanpa suara, duduk di kursi sebelah Erika, dan diam seperti patung. Tiga menit penuh. Erika menghitung dalam hati sambil pura-pura mengetik.
"Bang, ini kali kedua Bang jadi patung di sampingku. Kalau ada apa-apa, ngomong."
Ammar menghela napas. Napas seorang lelaki yang seumur hidupnya tidak pernah minta tolong siapa pun.
"Caramu," katanya akhirnya, datar, masih menatap taman, "kalau mau berbicara dengan seseorang. Bukan urusan kerja. Biasanya ... bagaimana?"
Kursor di laptop Erika berkedip-kedip sendirian di halaman yang sama selama sepuluh detik.
"Bang. Astaga. Bang." Erika menutup laptopnya pelan-pelan seperti menutup peti harta karun. "Bang Ammar Syalendra. Mister Too Cold. Kulkas dua pintu. Baru saja ... minta diajarin cara ngobrol?"
"Kalau tidak mau menjawab, ya sudah."
"Mau! Mau banget!" Erika memutar kursinya menghadap Ammar seperti guru menghadap murid kelas satu. "Aturan pertama: jangan pakai template. Aturan kedua: jangan pakai kata 'sekadar mengingatkan', itu bahasa surat tagihan. Aturan ketiga: mulai dari hal kecil yang tulus. Contoh: tanya sudah makan atau belum. Itu saja. Simpel. Semua orang senang ditanya sudah makan atau belum."
Ammar mengangguk kecil. Sekali. Seperti mencatat di kepala. Lalu dia berdiri dan pergi, dan Erika bersumpah dia melihat telinga lelaki itu merah di bawah lampu teras.
Malam itu juga, di kamarnya, Ammar Syalendra melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan seumur hidupnya: menyusun chat santai.
Draf pertama: "Sudah makan?" — Dihapus. Terlalu singkat.
Draf kedua: "Selamat malam, sudah makan?" — Dihapus. Kaku.
Draf ketiga: "Malam. Jangan lupa istirahat, jangan lupa ..." — Dihapus. Ini bukan surat dinas!
Empat puluh menit kemudian, setelah tujuh belas draf, chat itu akhirnya terkirim.
Iccha, yang sedang maskeran di kamarnya, membukanya dan membaca tiga kali berturut-turut:
"Selamat malam!!! Sudah makan?!!! Jangan begadang!!! Jangan lupa istirahat!!!"
"Rik. RIK." Iccha menyodorkan ponselnya ke wajah Erika. "Lo baca ini. Ini orang ngapain?! Kok penuh tanda seru?! Ini mau nanya gue udah makan atau mau ngajak berantem?!"
Erika membaca chat itu, dan harus menggigit bibirnya sendiri sampai hampir berdarah untuk tidak meledak ketawa.
"Mbak. Tenang. Ini namanya usaha. Kulkas lagi belajar jadi rice cooker. Hasilnya memang aneh, tapi dia berusaha."
"Berusaha apaan! Ini jelas-jelas ngeledek! Dia tahu gue tahu soal ban itu, terus dia kirim chat begini biar gue kegeeran, terus dia ketawa sendiri di kamarnya!" Iccha merebahkan diri ke kasur dengan dramatis. "Aduh siah. Cowok kantoran itu ya, isi kepalanya cuma strategi!"
Erika mengembalikan ponsel tanpa menjelaskan percakapannya dengan Ammar. Dia tidak mau kembali menjadi pengirim petunjuk yang membuat Iccha menebak lebih keras.
"Kalau Mbak merasa itu ejekan, tanya saja. Jangan aku yang disuruh menerjemahkan."
Iccha membalas bahwa dia sudah makan dan bertanya apakah pesan tersebut berkaitan dengan jadwal kerja. Jawaban tidak datang segera. Hampir sepuluh menit kemudian, Ammar menulis tidak ada perubahan jadwal. Dia hanya menanyakan kabar.
Iccha membalik ponsel. Pipinya memerah, tetapi mulutnya tetap mengomel bahwa orang yang cuma bertanya kabar tidak perlu memakai tanda seru seperti mengumumkan kebakaran.
Di kamar lain, Ammar menatap percakapan itu. Selama ini pesannya selalu perintah. Bagaimana mungkin Iccha langsung mengenali maksud berbeda dari kalimat yang masih terdengar sama? Dia mengetik permintaan maaf singkat karena membingungkan. Kali ini tidak ada tanda seru.
Iccha memperlihatkan layar lagi.
"Dia minta maaf."
"Mbak mau jawab apa?"
"Belum tahu."
"Boleh belum tahu. Tapi jangan bilang dia sedang mengejek kalau sudah menjelaskan."
Iccha mengetik satu kata: oke. Kemudian dia meletakkan ponsel dan berusaha membersihkan masker. Tangannya dua kali mengambil kapas yang sama. Erika pura-pura tidak melihat.
Dan Erika hanya bisa menatap langit-langit. Bang Ammar, perjuanganmu memang berat. Bukan karena musuhmu kuat, tapi karena kamu sendiri yang merancang jebakanmu.
Sebelum berangkat, Iccha sempat menelepon Arya untuk memastikan tempat dan waktu jemput. Dia menyebut sekali lagi bahwa hadir sebagai teman, dan Arya menjawab tidak ada yang berubah dari percakapan mereka.
"Aku sudah bilang ke sepupuku. Jangan khawatir harus menjawab pertanyaan yang sama sepanjang acara."
Iccha lega. Dia memilih pakaian yang disukainya, lalu meminta Erika membantu memeriksa apakah bagian belakang rapi. Erika tidak menggoda tentang calon mertua atau kapan menikah. Ia hanya membetulkan kain yang terlipat dan meminjamkan peniti kecil.
"Kalau nanti nggak nyaman, Mbak boleh pulang," katanya.
"Iya. Tapi gue juga mau mencoba menikmati undangannya tanpa mikirin orang yang nggak datang."
Erika mengangguk. Iccha membawa amplop hadiah dan turun. Di tangga dia berpapasan dengan Ammar yang baru keluar ruang kerja. Lelaki itu melihat pakaiannya, kemudian bertanya apakah kendaraannya sudah datang.
"Sebentar lagi. Arya menjemput."
Ammar mengangguk. Tidak ada larangan, tidak pula sindiran mengenai pakaian. Iccha berjalan melewatinya dengan perasaan campur aduk. Keheningan masih menyakitkan, tetapi setidaknya hari ini tidak diubah menjadi perintah.
Di depan pintu, dia menoleh sebentar. Ammar sudah kembali ke ruang kerja. Iccha menarik napas dan memutuskan tidak mengirim foto untuk melihat apakah lelaki itu akan bereaksi. Acara sore ini undangan keluarga Arya; orang yang tidak hadir tidak perlu sengaja dijadikan pusatnya.
Sore harinya, ketika kondangan itu berlangsung, Arya menjemput Iccha tepat waktu dengan mobil bersih dan setelan yang membuat Tiara hampir pingsan ketika melihat foto acara itu pada pekan berikutnya.
Acaranya hangat. Sepupu Arya ramah. Keluarga Arya menyambut Iccha seperti menyambut calon yang sudah lama dinanti, dan ya, pertanyaan "kapan nyusul?" datang dari setidaknya lima mulut berbeda.
Saat mengantar Iccha pulang, di depan pagar rumah Daddy Jack, Arya tidak langsung menyalakan mesin.
"Iccha." Suaranya pelan tapi jelas. "Aku nggak mau buru-buru. Tapi aku juga nggak mau kamu nggak tahu. Aku serius sama kamu. Kalau kamu mau, aku mau kita resmi. Kalau kamu belum mau, aku tetap di sini. Tidak ke mana-mana."
Jantung Iccha berhenti sepersekian detik. Mulutnya terbuka, tapi jawabannya belum sempat keluar, karena tepat saat itu ponselnya bergetar.
Satu chat masuk. Dari nomor yang tidak pernah mengirimnya kabar baik secara normal.
"Sudah sampai? Kabari kalau sudah tiba."
Iccha menatap layar itu, lalu menatap Arya, lalu menatap layar lagi.
Biasanya pertanyaan itu langsung dianggap pengawasan. Kali ini kalimatnya berbeda. Namun, Arya masih di hadapannya, menunggu jawaban untuk hal yang lebih penting daripada siapa yang mengirim pesan.
Iccha menyimpan ponsel. Dia meminta maaf karena sempat melihat layar, kemudian menghadap Arya sepenuhnya.
"Aku senang datang hari ini. Keluargamu baik. Tapi jawabanku belum berubah. Aku belum bisa bilang kita resmi."
Arya mengangguk pelan. Senyumnya tidak segera kembali.
"Aku ngerti. Aku cuma perlu memastikan aku nggak mengira sesuatu yang belum ada."
"Kamu nggak salah bertanya."
Iccha menahan keinginan menghibur dengan janji akan siap sebentar lagi. Dia tidak tahu kapan. Janji seperti itu hanya memindahkan sakit hati ke hari lain.
"Aku mungkin perlu mengurangi ajakan dulu," ujar Arya. "Supaya aku juga bisa berpikir."
Iccha menelan ludah. "Iya. Aku menghargai itu."
Dia turun setelah berterima kasih. Arya menunggu sampai gerbang dibuka, lalu pergi. Iccha berdiri sebentar, menyadari lelaki baik pun mempunyai batas dan tidak selamanya bersedia menunggu di tempat sama.
Baru setelah masuk dia membalas Ammar bahwa dirinya sudah tiba. Jawabannya pendek: baik, istirahat. Ada rasa hangat, tetapi ada kehilangan kecil dari percakapan di depan pagar. Dia tidak bisa memakai salah satu untuk mengabaikan yang lain.
Erika bertanya apakah kondangannya menyenangkan. Iccha mengangguk dan bercerita Arya ingin mengurangi ajakan. Tidak ada tuduhan lelaki itu berubah hanya karena tidak mendapat jawaban.
"Aku harus terima, ya?"
"Iya, Mbak. Dia juga boleh menentukan batasnya."
Iccha melepaskan anting. Ia teringat kopi sesuai selera dan percakapan yang tidak berakhir dengan bentakan. Mungkin sebagian perhatian itu tidak akan datang lagi. Sedih, tetapi bukan berarti dia boleh meminta Arya tetap hadir karena belum tahu kepada siapa ingin berjalan.
"Dulu aku memilih dia buat bikin orang lain cemburu. Sekarang dia yang paling jelas ngomong kebutuhannya."
Erika tidak menyela dengan lelucon kulkas. Beberapa pelajaran tidak terasa lucu ketika akibatnya sudah duduk di hadapan mereka.
Iccha akhirnya mengambil kotak pulpen yang belum diberikan kepada Ammar. Dia membuka, memeriksa isinya, lalu menutup lagi. Hadiah itu tidak bisa menjawab semua hal yang seharusnya dibicarakan. Namun, menyimpannya selamanya juga terasa seperti melanjutkan permainan menunggu.
"Kalau aku kasih ini sekarang, kesannya apa?"
"Kalau memang hadiah ulang tahun, bilang begitu. Jangan berharap dia langsung mengerti semua perasaan Mbak dari bentuk pulpennya."
Iccha tertawa pendek. Dia memasukkan kotak ke laci dan memutuskan akan membawanya ketika merasa siap bicara langsung. Bukan ketika membutuhkan cara membuat lelaki itu cemburu, bukan pula saat ingin menutup kesedihan karena Arya memberi jarak.
Malam itu dia menulis pesan kepada Arya, mengucapkan terima kasih sekali lagi atas undangan dan keterusterangannya. Tidak ada permintaan agar lelaki itu berubah pikiran. Setelah terkirim, dia meletakkan ponsel lebih jauh dari bantal.
Erika mematikan lampu meja. Untuk pertama kalinya sejak drama restoran, mereka tidur tanpa menyusun rencana baru. Ada percakapan yang belum selesai dan perasaan yang belum jelas, tetapi malam ini setidaknya tidak ada orang tambahan yang sengaja dijadikan alat.