Malam itu Aldin datang memenuhi janji bertemu Kirana, lalu ikut makan malam di rumah.
Bukan acara resmi. Hanya Jo yang pulang survei tempat acara dan mengajak sahabatnya mampir karena, kutipannya, "gue kasian lo makan mie instan terus di apartemen". Kirana sudah mengatakan ingin berbicara setelah makan malam, bukan di tengah keluarga yang sedang duduk bersama.
"Mbak mau turun makan bersama?" tanya Erika.
"Aku mau lihat."
"Mbak-"
"Rik." Kirana menatapnya dengan mata yang tenang dengan cara yang menakutkan. "Aku belum siap makan bersama. Aku mau duduk di sini dulu. Belakangan aku cuma dapat kabar lewat telepon yang makin pendek. Sekarang dia ada di rumah yang sama denganku. Biarkan aku menenangkan diri sebentar sebelum bicara."
Erika mengangguk menerima pilihan itu. Malam itu Kirana duduk dekat tangga, menunggu sampai sanggup turun. Dari sana dia melihat Aldin makan bersama keluarga Jo, lalu memilih kembali ke kamar.
Dia menontonnya seperti orang menonton film tentang hidupnya sendiri yang diperankan orang lain.
Sebelum datang untuk makan malam, pukul tujuh lewat sepuluh, Aldin memberi kabar terlambat karena kendaraan padat. Kirana membaca tanpa tersenyum, tetapi setidaknya ada perkiraan waktu. Setelah datang dan makan, Aldin mengikutinya ke ruang duduk kecil dekat taman.
Erika menunggu di dapur bersama Lina. Ia tidak berdiri dekat pintu untuk mendengar. Keinginannya hampir menang beberapa kali, tetapi Lina menyodorkan buah yang perlu dipotong dan mengingatkan bahwa Kirana telah meminta ruang.
"Kalau butuh kamu, dia panggil."
"Aku takut dia menangis sendirian."
"Kalau dia memilih bicara, biarkan dia menyelesaikan kalimatnya sendiri."
Erika mengangguk. Suara percakapan hanya terdengar sebagai bunyi tidak jelas. Ia mencoba menerima bahwa membantu tidak berarti harus mengetahui setiap ucapan.
Hampir satu jam kemudian Aldin keluar. Dia berpamitan kepada Daddy dan bertanya apakah Kirana boleh tinggal lebih lama jika perlu. Daddy menjawab mereka akan membicarakan dengan Kirana sendiri. Tamu itu punya suara; kebutuhannya tidak harus selalu disampaikan orang lain.
Sesudah kakaknya pergi, Erika masuk. Kirana menatap gelas yang tinggal setengah.
"Dia bilang hubungannya tetap sama. Dia cuma sibuk."
"Mbak percaya?"
"Aku mau percaya. Tapi dia belum menjawab kenapa nomorku diblokir waktu itu. Katanya marah, sekarang sudah dibuka. Seolah karena sekarang bisa dihubungi, yang kemarin ndak terjadi."
Kirana mengusap gelas. Ia menanyakan apakah ada perempuan lain. Aldin menjawab tidak, lalu menuntut alasan mengapa dirinya dicurigai. Percakapan bergerak ke Kirana yang dianggap terlalu sering menelepon, bukan ke waktu yang tidak diberikan kepadanya.
"Aku tanya kapan mau bicara ke orang tuaku. Dia bilang setelah kantor lebih sepi. Aku ndak minta tanggal nikah malam ini, Rik. Aku cuma ingin tahu apakah rencana itu masih ada."
Erika menunduk. Hubungan tidak bisa disimpulkan dari wangi parfum, tetapi janji yang terus digeser juga tidak bisa dianggap tidak berarti.
"Mbak, ada yang perlu aku ceritakan. Bukan sekarang kalau terlalu capek. Tapi aku ndak boleh menahannya terus."
Kirana mengangkat wajah. "Tentang dia?"
Erika mengangguk. "Ada yang pernah aku lihat. Ada foto, tapi belum jelas semuanya."
Wanita itu memejamkan mata. Sesaat Erika takut ponselnya diminta saat itu juga. Namun, Kirana hanya menarik napas dan mengatakan besok pagi.
"Aku sudah terlalu penuh. Aku ingin mendengar waktu masih bisa berpikir."
Erika menyetujuinya. Dia tidak ingin gambar dilempar ke hadapan Kirana sebagai pukulan tambahan sesudah percakapan melelahkan. Mereka kembali ke kamar, dan di sana Kirana mulai memperhatikan perubahan kecil yang belum disebutkan.
Setelah Aldin pulang jam sembilan malam, Kirana duduk di kursi kamar tamu dan tidak berkata apa-apa selama sepuluh menit penuh.
"Parfumnya beda," katanya akhirnya, pelan sekali. "Parfum yang dulu aku belikan dia di toko dekat pasar, tujuh puluh lima ribu sebotol, dia pakai sampai habis tiga botol. Sekarang wanginya mahal. Aku tidak tahu mereknya, tapi hidungku tahu itu bukan wangi tujuh puluh lima ribu."
Erika duduk di sebelahnya dan diam. Ada kalanya seorang penulis harus tahu kapan mulutnya tidak dibutuhkan.
"Gelangnya juga baru. Jam tangannya baru. Rambutnya dipomade, Rik. Mas Aldin yang dulu benci pomade. Katanya lengket, katanya bikin kepala panas." Kirana tertawa kecil yang tidak ada lucunya. "Dan ketawanya. Kamu dengar ketawanya tadi? Itu bukan ketawanya. Ketawanya yang dulu itu lepas, sampai kelihatan gigi belakangnya, sampai orang satu kampung ikut ketawa. Yang tadi itu ... ketawa orang yang lagi jual diri."
Ponsel Erika bergetar. Sofyan. Dia menatap layar itu sebentar, lalu menekan tombol merah dengan hati yang tidak enak.
"Ndak diangkat?" tanya Kirana.
"Nanti saja. Aku lagi nemenin Mbak."
Kirana menatapnya lama. "Kamu baik sekali, Rik. Jangan sampai Jakarta mengubahmu ya."
Di kamar tamu, dengan lampu tidur yang temaram, Kirana akhirnya bercerita. Tentang Mas Aldin yang dulu naik motor butut mengantarnya kuliah. Tentang cincin perak yang ditabung delapan bulan, yang waktu disematkan ke jarinya, tangan Aldin gemetar lebih keras dari tangannya. Tentang kepindahan ke Jakarta yang awalnya penuh rencana: nanti kalau modal cukup, kita bicarakan masa depan sama orang tua.
"Rencana itu maju mundur sampai hubungan kami sudah empat tahun. Telepon yang tadinya tiap malam jadi tiap dua malam, jadi tiap minggu, jadi tiap dia sempat." Kirana menatap langit-langit. "Aku ndak butuh dia kaya, Rik. Aku butuh dia pulang. Tapi kalau dia memang tidak bisa pulang, ya sudah, asal dia jujur. Yang menyakitkan itu bukan berubahnya. Yang menyakitkan itu dia berubah sambil bilang tidak berubah."
Erika menelan benjolan di tenggorokannya. "Mbak, aku janji satu hal. Aku akan bantu Mbak sampai dapat jawaban. Jawaban yang sebenar-benarnya. Tapi Mbak juga janji sama aku: jangan bertindak sebelum buktinya utuh. Kalau kita gerak sekarang, yang ada mereka berdua malah makin pandai menutupi."
"Aku janji." Kirana menarik napas dalam, menghembuskannya pelan. "Aku orang kampung, Rik. Orang kampung itu kalau menggali sumur, tidak berhenti sebelum ketemu air. Sabar itu sudah jadi makananku."
Kirana mengambil cincin perak kecil dari kantong tas. Benda itu tidak selalu dipakai ketika bekerja, tetapi tetap dibawa dalam perjalanan ke Jakarta. Dia meletakkannya di meja tanpa mengatakan akan dibuang.
"Ini bukan cincin nikah, Rik. Cuma janji. Tapi aku memperlakukannya seperti sesuatu yang harus dijaga."
Erika memandang permukaan yang mulai kusam. Dia pernah melihat cincin itu, tetapi belum pernah mengetahui berapa lama kakaknya menabung untuk membelinya.
"Mbak mau mengembalikan?"
"Aku belum memutuskan. Jangan semua barang harus punya keputusan malam ini."
Erika mengangguk. Kirana mengambil kain kecil dan membersihkan cincin sebentar, lalu memasukkannya kembali ke tas. Gerakannya hati-hati, seolah melepaskan barang dengan marah justru memberi Aldin alasan untuk berbicara tentang perilakunya, bukan pertanyaan yang belum dijawab.
"Dia tadi tanya aku mau tinggal sampai kapan," kata Kirana. "Bukan bertanya kapan kami bisa menghabiskan waktu bersama."
"Mungkin dia kaget."
"Mungkin. Tapi aku juga kaget lihat dia seolah harus mengatur kedatanganku seperti pekerjaan tambahan."
Erika berhenti mencari penjelasan baik. Ia tidak perlu membuat setiap kalimat kakaknya terdengar masuk akal. Kirana sudah mendengar penjelasan dari orang yang seharusnya memberikannya langsung.
"Aku ndak tahu isi kepalanya, Mbak."
"Aku juga. Dulu aku merasa tahu. Itu yang bikin sekarang sedih."
Mereka duduk tanpa bicara beberapa saat. Di luar kamar, Bi Ani menanyakan apakah gelas perlu diambil. Erika membuka pintu dan menyerahkannya, lalu meminta air hangat untuk Kirana. Ketika kembali, wanita itu sedang mengetik kepada ibunya bahwa sudah bertemu Aldin.
"Mbak cerita semuanya ke orang rumah?"
"Belum. Aku bilang sudah bertemu dan masih perlu bicara. Aku ndak mau Ibu ikut sakit kepala sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Erika mengangguk. Ia memahami keinginan tersebut, tetapi mengingatkan bahwa Kirana tidak harus sendirian bila nanti membutuhkan bantuan keluarganya. Wanita itu berterima kasih, kemudian menaruh ponsel menghadap meja.
"Aku ndak mau terus melihat kapan dia terakhir aktif. Malam ini dia sudah datang. Kalau yang dikatakan belum cukup, itu bukan karena aku kurang sering membuka layar."
Kalimat itu membuat Erika mengambil ponselnya sendiri dari pangkuan. Ia juga berkali-kali memeriksa balasan orang dengan harapan jawaban akan berubah bila dilihat lebih sering.
Kirana akhirnya meminta lampu utama diredupkan. Erika merapikan kursi dan memastikan pintu bisa dibuka dari dalam tanpa susah. Sebelum keluar dia menanyakan sekali lagi apakah wanita itu ingin ditemani sampai tidur. Kirana menggeleng.
"Aku butuh tenang, bukan penjaga. Kalau perlu kamu, aku panggil."
Erika tersenyum dan menerima. Ada perbedaan antara memastikan seseorang tidak sendirian dengan membuatnya merasa tidak mampu ditinggal beberapa menit. Malam ini dia mulai belajar membedakannya.
Sebelum lampu diredupkan, Kirana meminta kertas kosong. Erika memberikan selembar dari buku catatan lain, bukan merobek halaman yang berisi kejadian di kafe. Wanita itu menulis tiga pertanyaan yang ingin ditanyakan lagi kepada Aldin.
"Aku takut kalau ketemu dia aku cuma menangis, lalu lupa yang seharusnya dibicarakan."
"Boleh dibawa, Mbak. Ndak harus hafal seperti ujian."
Kirana tersenyum tipis. Dia mencoret satu kalimat yang terdengar seperti tuduhan, menggantinya dengan pertanyaan tentang alasan jarang memberi kabar. Lalu dia menulis apakah rencana bertemu keluarga masih ingin diteruskan.
"Aku ndak tahu jawabannya akan menyenangkan atau ndak. Tapi aku ingin pertanyaannya jelas."
Erika mengangguk. Kertas itu dilipat dan diletakkan di dekat tas. Kirana tidak menjadikan daftar tersebut cara memaksa kekasihnya berkata sesuai harapan. Dia hanya ingin berhenti pulang dari percakapan dengan perasaan sudah banyak bicara tetapi hal utama tetap tidak tersentuh.
Ketika Erika berdiri, wanita itu mengucapkan terima kasih tanpa meminta janji apa-apa. Erika membalas dan membiarkan pintu tertutup pelan. Besok daftar pertanyaan itu mungkin berubah setelah foto dibuka. Namun, malam ini Kirana setidaknya mempunyai kata-kata miliknya sendiri.
Menjelang pukul sebelas, Sofyan menelepon lagi. Kali ini Erika mengangkat, keluar ke balkon, bicara seperlunya.
"Kok singkat-singkat jawabnya, Nduk?"
"Capek, Mas. Aku baru menemani Mbak Kirana. Pekerjaan juga masih ada."
"Banyak sekali yang kamu urus." Sofyan diam sebentar di seberang sana. "Nduk, kita baik-baik saja, kan?"
"Baik, Mas."
Sepatah kata itu meluncur dari mulutnya begitu mulus sampai Erika sendiri merinding mendengarnya. Erika masih di balkon ketika Sofyan hendak mengakhiri percakapan.
Erika tidak membiarkan jawaban singkat mengakhiri semuanya. Dia menjelaskan pekerjaannya tertunda karena Kirana datang dan meminta waktu mengobrol besok saat keduanya lebih senggang.
"Kamu selalu jadi tempat orang cerita, Nduk. Terus kamu sendiri cerita ke siapa?"
Erika terdiam. Dia tidak ingin menyerahkan rahasia Kirana, tetapi membutuhkan orang yang bisa mendengar tanpa meminta penyelesaian.
"Aku sedang mencoba cerita ke Mas. Tapi ndak bisa membuka semua urusan orang lain."
"Aku nggak minta semuanya. Aku cuma ingin tahu kamu masih baik-baik saja."
Erika bersandar di pagar balkon. Dia menjawab lelah dan khawatir, tetapi masih sanggup bekerja. Hari ini satu bagian tulisan telah selesai. Besok dia ingin mengejar sisanya.
Sofyan mendengarkan, kemudian menanyakan apakah dia sudah makan. Mereka menyepakati waktu menelepon, dengan catatan harus memberi kabar jika Sofyan bertugas. Mereka tidak perlu saling menunggu tanpa tahu orang lain bisa menerima panggilan atau tidak.
Erika kembali ke kamar. Iccha belum tidur. Dia melihat wajah Erika dan bertanya apakah tamunya sudah beristirahat.
"Sudah, Mbak. Besok aku mau cerita yang belum sempat disampaikan."
"Ke Kirana?"
Erika mengangguk. Iccha tidak menanyakan rahasianya. Dia hanya menyuruh Erika memeriksa apakah catatan berisi yang dilihat atau yang ditakutkan.
Erika membuka buku batik. Ada jam kejadian yang rapi, tetapi di sebelahnya ada dugaan yang beberapa hari lalu terasa seperti kepastian. Ia menambahkan tanda tanya pada wajah dan cincin. Kemesraan Aldin disaksikan sendiri; nama perempuan masih perlu dijelaskan.
Besok Kirana harus bisa membedakan dua hal tersebut. Erika tidak ingin membantu orang yang disakiti dengan menambahkan sesuatu yang belum diketahui.
Iccha duduk di tepi kasur sambil merapikan selimut. Dia sempat ingin bertanya lebih jauh, lalu mengurungkan setelah melihat Erika kembali membaca halaman yang sama.
"Lo nggak harus membacakan itu seperti orang mengumumkan pemenang lomba. Kasih dia waktu."
"Aku takut Mbak Kiran marah karena aku telat cerita."
"Mungkin dia marah. Lo bisa dengar. Jangan langsung sibuk menjelaskan diri sampai dia nggak punya ruang sedih."
Erika menatap temannya. Biasanya Iccha lebih cepat berbicara daripada mendengarkan, tetapi malam ini nasihatnya terasa tenang. Mungkin pengalaman dengan Arya juga membuatnya memikirkan akibat perhatian yang tidak diikuti kejujuran.
"Mbak sendiri sudah memutuskan soal undangan Arya?"
"Belum. Besok gue bicara lagi. Jangan ganti topik cuma biar lo nggak takut."
Erika tersenyum kecil karena ketahuan. Ia menutup buku, lalu mengambil botol minum. Ada hal-hal yang harus disampaikan walaupun seluruh kalimat belum siap.
Di kamar tamu, Kirana mengirim pesan sebelum tidur. Dia meminta Erika tidak mengubah apa pun dari yang ingin diceritakan hanya karena Aldin kakaknya. Setelah membaca, Erika membalas bahwa dia akan menyampaikan apa yang benar-benar dilihat dan mengakui bagian yang masih belum pasti.
Pesan itu pendek. Untuk sekali ini dia tidak menambahkan kalimat bahwa semua mungkin baik-baik saja. Harapan tidak perlu dihancurkan, tetapi juga tidak boleh dipakai menutupi sesuatu yang sudah terjadi.
Erika meletakkan ponsel. Besok bukan lagi rencana mengikuti orang atau mengambil foto. Dia hanya akan duduk, membuka yang dimiliki, dan membiarkan Kirana mengetahui sebanyak yang sungguh diketahuinya. Cara itu ternyata jauh lebih menakutkan daripada bersembunyi di balik buku tebal di kafe.
Ia berdoa pelan sebelum memejamkan mata. Di luar terdengar kendaraan terakhir masuk ke garasi. Rumah itu tetap berjalan dengan suara-suara biasa, sementara dirinya akhirnya bersedia membawa satu rahasia keluar dari laci.