Erika duduk di sebelah Jo dan membacakan jam kedatangan pada tiket. Foto itu tidak diserahkan begitu saja. Kirana mengirimkannya untuk penjemputan, bukan untuk dijadikan bahan percakapan satu rumah.
"Dia belum bilang ke Al?" tanya Jo.
"Belum, Mas. Dia mau istirahat dulu sebelum bertemu."
Daddy melipat koran. Lina menoleh, sedangkan Kiki berhenti menggeser layar ponsel. Erika merasa pipinya panas. Dia tidak bermaksud membuat pengumuman besar, tetapi tetap harus meminta izin kepada pemilik rumah.
"Uncle, boleh Mbak Kirana tinggal dua malam di kamar tamu? Dia kekasih Mas Aldin di Semarang. Mereka sedang ada masalah. Aku belum tahu semuanya."
"Boleh," jawab Daddy setelah mendengarkan. "Tapi rumah ini jangan dijadikan tempat menyusun jebakan. Kalau ada yang harus dibicarakan, bicarakan baik-baik."
Erika mengangguk. Buku batik di dalam tas terasa lebih berat. Judul operasi sudah dicoret, tetapi rasa malu karena sempat menganggap semuanya bisa diatur belum hilang.
"Aku ndak akan mengenalkan dia sebagai orang lain, Uncle. Aku cuma ingin dia punya tempat beristirahat."
Lina menawarkan membantu Bi Ani menyiapkan kamar. Jo bertanya apakah penjemputan sudah diatur dan meminta Erika mengabari setelah menemukan Kirana. Karena pagi itu dia perlu menyiapkan dokumen di rumah, Erika akan memakai kendaraan yang dipesan.
Sesudah urusan kamar selesai, Erika menelepon Kirana. Di seberang terdengar roda kereta dan orang menawarkan makanan. Wanita itu terdiam ketika diberi tahu bahwa Jo dan Daddy telah mengetahui kedatangannya.
"Mas Aldin nanti tahu."
"Aku ndak bisa menjanjikan semuanya rahasia lama-lama, Mbak. Rumah ini sering didatangi dia. Tapi aku ndak membacakan cerita Mbak kepada semua orang. Aku cuma meminta izin tinggal."
Kirana menarik napas. "Aku cuma ingin sampai dulu. Aku capek harus meminta waktu terus."
"Kita ketemu dulu. Setelah itu Mbak putuskan mau bicara kapan."
Malamnya Erika juga memberi kabar kepada Sofyan. Nama Kirana tidak perlu dijelaskan sebagai teman baru; Sofyan mengenalnya dari Semarang. Dia bertanya apakah ada masalah dengan Aldin, dan Erika menjawab belum bisa menyampaikan urusan orang lain secara lengkap.
"Kamu jangan lupa istirahat gara-gara jadi penengah."
"Aku usahakan, Mas."
Erika lega menerima balasan itu. Jujur tidak selalu berarti harus membagikan setiap rahasia. Dia bisa menyebut apa yang sedang dilakukan tanpa menyerahkan cerita Kirana kepada orang yang belum diminta mendengar.
Setelah menelepon, dia membantu Lina memeriksa kamar tamu. Sprei sudah diganti, tetapi masih ada beberapa barang keluarga di lemari. Mereka memindahkannya agar Kirana mempunyai ruang menaruh pakaian. Bi Ani membawa handuk dan menunjukkan sakelar lampu dekat tempat tidur.
"Kalau ada yang kurang, besok bilang saja," ujar Lina.
Erika mengangguk sambil meletakkan segelas air di meja. Melakukan pekerjaan kecil seperti itu membuat pikirannya lebih tenang. Menjemput orang bukan hanya soal menemukan kereta. Orang yang datang juga butuh tahu di mana bisa meletakkan tas, mencuci muka, dan berhenti merasa merepotkan.
"Kamu sendiri sudah siap tidur?" tanya Lina.
"Sebentar lagi. Aku mau memeriksa lokasi jemput."
"Sekali saja. Kalau diperiksa setiap sepuluh menit, Pasar Senen tetap di tempat yang sama."
Erika tertawa. Ia menyimpan nomor pengemudi dan titik pertemuan, lalu akhirnya menutup ponsel. Malam ini tidak semua hal bisa dipastikan. Namun, setidaknya untuk perjalanan pagi mereka sudah mempunyai rencana yang jelas.
Jam empat pagi, Erika sudah duduk di tepi kasur dengan mata merah seperti kelinci kurang tidur. Bukan karena begadang menulis. Bukan juga karena nyamuk. Tapi karena dalam satu jam, kereta dari Semarang akan tiba di Stasiun Pasar Senen, membawa seorang tamu yang keberadaannya bisa meledakkan rumah megah Daddy Jack kapan saja.
Iccha menggeliat di kasurnya. "Lo mau ke mana subuh-subuh?"
"Jemput Mbak Kirana, Mbak. Pacarnya Mas Aldin yang dari Semarang."
"Teman apa setan? Jam segini?" Iccha menyibak selimutnya separuh, mengintip dengan satu mata. "Rik, lo akhir-akhir ini aneh."
"Aku memang aneh dari lahir, Mbak. Tidur lagi sana. Cantik itu butuh tidur."
"Kalimat macam apa itu. Lo pikir gue bisa ditipu pakai gombalan murahan?" Iccha melempar bantal, tapi kali ini lemparannya lemah, dan tiga detik kemudian dia sudah mendengkur lagi dengan damai.
Erika menyelipkan jaketnya, menyampirkan tas kecilnya, dan keluar kamar dengan langkah ninja. Di lantai bawah, Pak Hendra yang sedang jaga malam membukakan pintu sambil menguap.
"Mbak Erika mau ke mana pagi betul?"
"Jemput Mbak Kirana di Pasar Senen, Pak. Uncle sudah mengizinkan dia tinggal dua malam."
"Kendaraannya sudah dipesan, Mbak?"
"Sudah, Pak. Nanti saya kirim nomor kendaraannya."
Pak Hendra tertawa kecil dan menggeleng. Penulis satu ini memang dari dulu jawabannya selalu ada saja.
Kereta yang membawa Kirana tiba menjelang pukul lima. Para penumpang berjalan menuju pintu keluar dengan tas dan wajah lelah. Erika berdiri di depan pintu keluar, mengangkat teleponnya tinggi-tinggi dengan layar menyala bertuliskan nama besar: MBAK KIRAN.
Dan kemudian dia melihatnya.
Kirana muncul di pintu keluar dengan tas duffel besar di bahu dan cardigan coklat yang sudah luntur warnanya. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya ... wajahnya adalah wajah orang yang tidak tidur semalaman tapi tidak bisa tidur, karena kepalanya terlalu penuh. Begitu matanya menemukan Erika di antara kerumunan, bahunya turun sedikit, seperti orang yang akhirnya menemukan tempat menaruh lelah.
"Rik."
"Mbak Kiran."
Mereka berpelukan di area penjemputan, dan Erika merasakan tubuh Kirana bergetar pelan di pelukannya. Tidak menangis. Hanya bergetar, seperti mesin yang terlalu lama dipaksa jalan.
"Kamu ndak usah jemput, tak bilangin kan," kata Kirana dengan suara serak. "Nggerepotin."
"Sampean itu bukan ngerepotin, Mbak. Sampean itu tamu negara," jawab Erika, menyambar tas duffel itu dari bahu Kirana. "Wis, ayo. Aku sudah pesen taksi."
Di dalam taksi, Kirana menatap keluar jendela tanpa berkedip. Jakarta yang mulai terang. Gedung-gedung yang bangun lebih dulu dari penghuninya. Lampu-lampu yang bahkan tidak mau repot-repot padam.
"Jadi ini kota yang ngambil kekasihku," katanya pelan, lebih ke jendela daripada ke Erika.
Erika tidak tahu harus menjawab apa, jadi dia menggenggam tangan Kirana saja.
"Jakarta nggak salah, Rik." Kirana menarik napas panjang. "Yang salah itu orang-orang yang gampang berubah di dalamnya."
Mereka tiba ketika Lina membantu Bi Ani menata sarapan. Tidak ada rencana masuk lewat tangga belakang. Erika memperkenalkan Kirana dengan namanya sendiri, lalu membawa tas ke kamar tamu yang disiapkan sejak semalam.
Daddy datang dari ruang keluarga dan mempersilakan Kirana beristirahat setelah makan. Wanita itu berterima kasih. Ia tidak diperkenalkan sebagai orang yang mengurus berkas kerja. Rumah ini menerima Kirana, bukan alasan yang dibuat untuk melindungi orang lain.
Masalahnya, rumah ini bukan rumah biasa. Rumah ini rumahnya Jo. Dan Jo, pada jam delapan pagi itu, sedang menunggu seseorang menjemputnya untuk survei tempat acara.
Bel pintu berbunyi. Lina membukakan pintu. Dan suara yang masuk dari ruang depan itu membuat seluruh darah di tubuh Erika berhenti mengalir.
"Selamat pagi, Lina. Jo sudah siap?"
Aldin.
Di ruang tengah, Kirana sedang memegang cangkir teh jahenya dengan dua tangan. Suara itu sampai ke telinganya, dan cangkir itu berhenti bergerak di tengah jalan menuju mulutnya.
"Itu ...," bisik Kirana. Warnanya hilang dari wajahnya. "Itu suaranya."
Empat tahun menjalin hubungan, dan suara itu masih bisa menghentikan napasnya dari dua ruangan jauhnya. Batin Erika berteriak panik, tapi tangannya sudah bergerak lebih dulu, melingkar di lengan Kirana.
"Mbak, aku tunjukkan taman belakang, yuk. Sekarang."
"Rik ..."
"Sekarang, Mbak."
Kirana berdiri, tetapi kakinya terasa lemas. Ia meminta keluar ke taman sebentar sebelum menemui Aldin. Erika mengantar dan memberi tahu Jo bahwa tamunya sedang menenangkan diri.
Di taman belakang, di antara pohon-pohon palem, Kirana berdiri mematung dengan napas memburu seperti habis lari maraton.
"Aku mau ketemu dia, Rik. Sekarang."
"Mbak mau bertemu sekarang? Aku temani. Tapi ambil napas dulu."
"Sampai kapan?"
Erika tidak membuat alasan baru. Ia menunggu sampai Kirana sanggup memutuskan apa yang ingin dilakukan.
Kirana akhirnya memilih menemui Aldin sebentar. Ia merapikan kardigan, mengambil air minum, lalu meminta Erika menemani sampai ruang depan. Aldin sedang berbicara dengan Jo ketika melihat mereka. Kalimatnya berhenti di tengah.
"Kiran?"
Wanita itu mengangguk. Tidak ada pelukan spontan. Tas dokumen masih di tangan Aldin, sementara Kirana berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam.
"Kok datang mendadak?"
"Aku sudah beberapa kali bilang mau bertemu. Mas selalu bilang belum bisa."
Aldin menoleh kepada Erika. "Kamu tahu?"
"Setelah Mbak Kiran di kereta. Aku meminta izin Uncle lalu menjemput."
Kirana maju setengah langkah. "Jangan marahi Erika. Yang beli tiket aku. Yang mau menemui Mas juga aku."
Jo meletakkan dokumen dan memberi ruang. Ia tidak berpura-pura sibuk di dekat mereka. Erika mundur sedikit, tetapi Kirana menyentuh lengannya, meminta tetap menemani.
"Aku bisa bicara sebentar," kata Aldin. "Habis ini ada urusan."
"Aku ndak ingin bicara sambil dikejar jam. Beri aku waktu yang benar."
Aldin mengusap tengkuk. "Malam. Mas datang lagi."
"Jam berapa?"
"Sekitar tujuh."
"Jam tujuh, Mas. Kalau terlambat, kabari. Aku ndak mau menunggu tanpa tahu jadi atau ndak."
Aldin mengangguk. Kirana tidak meminta lebih pagi itu. Dia sudah lelah dan tahu berdiri di depan ruang kerja Jo tidak membuat percakapan menjadi lebih baik. Aldin bertanya apakah dia sudah makan, mendapat jawaban singkat, kemudian melihatnya pergi bersama Erika.
Di lorong, kakaknya sempat memanggil Erika. Ada keberatan di wajahnya, tetapi dia tidak menyampaikan di depan Kirana.
"Nanti kita juga bicara."
"Nggih, Mas. Tapi yang malam ini dijanjikan ke Mbak Kiran jangan dipindah lagi."
Erika sendiri kaget mendengar kalimat itu. Ia masih takut mengecewakan Aldin, tetapi tidak bisa terus memakai ketakutannya untuk menyuruh orang lain menunggu.
Kirana kembali ke kamar tamu. Roti dan air sudah disiapkan, tetapi belum disentuh. Erika membuka tirai sedikit supaya cahaya masuk tanpa menyilaukan.
"Aku ternyata masih takut," bisik Kirana.
"Takut apa, Mbak?"
"Takut dia bilang selesai. Aku datang buat tahu, tapi begitu dia berdiri tadi aku malah berharap dia memelukku dan bilang semuanya salah paham."
Erika duduk. Dia tidak menyebut harapan itu bodoh. Empat tahun tidak mudah dilepaskan hanya karena seseorang membeli tiket kereta semalam.
"Mbak boleh berharap. Tapi pertanyaannya tetap harus dijawab."
Kirana mengangguk dan mengambil roti. Setelah beberapa gigitan, dia menyandarkan kepala. Erika menunjukkan tempat mengisi daya ponsel dan mengatakan kamar mandi sudah disiapkan.
"Kalau mau tidur, tidur saja. Aku di rumah."
"Kamu juga kerja, Rik. Jangan cuma menjaga aku."
Erika tersenyum tipis. Ia sudah mendengar nasihat serupa, tetapi kali ini datang dari orang yang paling membutuhkan bantuan. Ia berjanji menyelesaikan halaman yang tertunda.
Jo menunggu sebentar di luar kamar. Dia bertanya apakah Kirana perlu sesuatu. Erika menjawab hanya istirahat, lalu berterima kasih karena pertemuan tadi tidak menjadi tontonan seluruh rumah.
"Ini bukan rapat pemegang saham," kata Jo. "Kalau perlu bicara, kasih tempat."
Erika mengangguk. Kebaikan itu kembali membuat dadanya berat. Jo masih melihat Aldin sebagai sahabat yang sedang bermasalah dengan kekasih, sedangkan dirinya menyimpan foto yang mungkin menyangkut calon istri lelaki itu.
Dia belum membuka galeri. Kirana baru datang. Namun, dia tidak lagi membiarkan pikirannya mengatakan foto tersebut boleh disimpan selamanya.
Menjelang siang, Bu Mei menelepon. Erika menjawab di teras dan memberi tahu Kirana sudah tiba serta sedang tidur. Ibu meminta agar dia tidak memihak hanya karena Aldin kakaknya, tetapi juga tidak menghukum orang sebelum mendengar.
"Aku tahu, Bu. Aku cuma ndak ingin Mbak Kiran terus sedih sendirian."
"Kamu bantu dia bicara. Bukan kamu yang harus mengambil semua keputusan."
Erika memandang pintu kamar tamu. Nasihat itu terdengar sederhana, tetapi justru itulah bagian yang paling sulit. Menulis cerita memungkinkan dirinya menentukan kapan orang bertemu, siapa yang harus pergi, dan kalimat apa yang membuat salah paham selesai. Di rumah ini tidak ada orang yang bisa disuruh mengikuti kerangka bab.
"Mas Aldin tadi sudah janji datang malam," katanya.
"Ya sudah. Biarkan mereka bicara. Kamu juga makan."
Erika tersenyum. Nasihat Ibu selalu sampai ke urusan makan seperti kereta yang kembali ke stasiun utama. Ia berjanji, menutup telepon, lalu menuju dapur.
Di meja, Lina meninggalkan piring dan tulisan kecil agar Erika tidak lupa sarapan kedua jika roti tadi belum cukup. Ia duduk dan makan sebelum membuka laptop. Hari yang panjang ini baru dimulai. Setidaknya kini Kirana berada di tempat aman, Aldin tahu dia datang, dan janji mereka tidak lagi hanya bergerak dari layar ponsel satu ke layar lain.
Sebelum benar-benar mulai bekerja, Erika membuka ponsel sekali lagi. Ada pesan Aldin yang masuk setelah percakapan singkat di lorong. Kakaknya menulis agar urusan Kirana tidak dibicarakan kepada banyak orang. Erika membalas bahwa dirinya juga tidak ingin mengumumkan masalah pribadi, tetapi tidak akan diminta berbohong bila ada yang bertanya mengapa tamu itu datang.
Balasan Aldin hanya berupa kata iya. Erika tidak bisa mengetahui apakah kakaknya setuju atau sekadar ingin percakapan berhenti. Dia memilih menyimpan ponsel. Hari ini bukan waktunya membuat pertengkaran kedua sebelum percakapan utama terlaksana.
Ia memindahkan kursi ke tempat yang lebih terang dan membuka halaman novel. Satu paragraf akhirnya selesai sebelum Kirana bangun. Itu sedikit, tetapi pekerjaan tersebut tetap miliknya dan tidak boleh hilang di antara masalah semua orang.