Jam sebelas malam. Penghuni rumah megah Daddy Jack sudah masuk ke kamar masing-masing, kecuali satu penulis yang sedang perang melawan deadline dan satu macan yang hendak keluar kandang.
Di pantry, Erika sedang merebus jahe. Ritual wajibnya kalau mau begadang: wedang jahe panas, biar otaknya tidak ikut tidur. Bau jahe yang tajam menguar ke seluruh ruangan saat Kiki masuk dengan dress ketat berwarna silver, full makeup, dan heels yang berdenting keras di lantai marmer.
"Pantes dari tadi bau jamu. Kirain ada dukun nyasar," cibir Kiki sambil membuka kulkas.
Erika memilih diam. Berdebat dengan Kiki itu seperti berdebat dengan tembok bercat bagus: tidak menang, cuma capek.
Kiki mengambil sebotol air dingin dan menuangkannya ke gelas, dan saat itu ponselnya bergetar. Sekali. Dua kali. Tiga kali berturut-turut.
Erika tidak bermaksud menguping, tapi pantry itu tidak besar, dan wajah Kiki yang berubah itu terpantul jelas di kaca pintu microwave. Wajah yang tadinya penuh percaya diri itu runtuh, lapis demi lapis, seperti kue lapis yang kena air.
Pesan pertama dari teman satu gengnya: tangkapan layar akun sosial media Tama. Tama mengumumkan hubungan barunya dengan wanita itu, wanita dari kostan waktu itu, dengan caption manis tentang 'akhirnya menemukan yang benar'. Si teman menambahkan: 'Sabar ya, Ki. Kamu lebih baik dari dia.'
Pesan kedua dari Tama sendiri. Pendek dan kejam seperti tikaman.
'Berhenti stalking hidup gue. Kita udahan, Ki. Jangan hubungi gue lagi.'
Erika mengenali perubahan napas Kiki sebelum melihat layar ponselnya. Orang yang semula bergerak cepat kini diam, satu tangan masih menggenggam botol. Tutupnya jatuh ke meja, tetapi Kiki tidak mengambilnya.
"Mbak, botolnya hampir jatuh," ujar Erika pelan.
Kiki tidak menyahut. Ia menggeser layar, lalu tertawa sekali dengan suara yang tidak menyerupai tawa. Erika menghentikan gerakan mengaduk jahe. Ia tahu bunyi seperti itu dari Iccha, ketika seseorang sedang berusaha agar sedihnya tidak berubah menjadi tangis di depan orang lain.
"Kenapa kamu liatin gue?"
"Aku cuma khawatir botolnya jatuh."
"Nggak usah sok khawatir."
Erika mengangguk dan kembali menghadap kompor. Dia tidak meninggalkan Kiki, tetapi juga tidak berdiri terlalu dekat. Aroma jahe semakin kuat setelah air mulai bergolak. Ia mengecilkan api supaya bisa memperhatikan dua hal sekaligus.
Kiki membuka percakapan suara. Ia mencoba menelepon seseorang, tetapi panggilan itu segera terputus. Percobaan kedua menghasilkan hal yang sama. Erika mendengar nama Tama disebut dengan napas tertahan, lalu wanita itu menaruh ponsel cukup keras di meja.
"Mbak mau duduk dulu?"
"Gue mau pergi."
"Kalau lagi marah begini, jangan nyetir dulu. Sebentar saja. Minum dulu juga boleh."
Kiki menatapnya dengan mata merah. Erika tidak menggenggam lengan atau menghalangi pintu. Dia hanya menarik satu kursi dan membiarkannya kosong. Kiki boleh menolak, tetapi Erika ingin ada tempat yang bisa dipilih selain langsung keluar dalam keadaan seperti itu.
"Kamu sekarang sok ngatur gue juga?"
"Ndak. Aku bilang aku takut Mbak kenapa-kenapa di jalan."
Kiki tidak menjawab. Tangannya meraih gelas, tetapi getaran di jemarinya semakin kuat. Erika hendak mendekat ketika benda itu terlepas. Bunyi pecah memotong semua ucapan yang belum jadi keluar.
Dia mematikan kompor, kemudian menuntun Kiki menjauh dari pecahan dengan meminta izin lebih dulu. Kiki tidak melawan. Untuk saat itu saja, wanita yang biasanya selalu tahu apa yang hendak dibantah tampak tidak mempunyai jawaban.
Kiki menatap pecahan gelas yang baru saja jatuh dari tangannya.
Tapi Kiki tidak bergerak untuk memungutnya. Dia hanya berdiri di sana, tubuhnya bergetar, bahunya naik turun menahan sesuatu yang besar sekali.
Tanpa banyak kata dia menuntun Kiki duduk di kursi pantry, memungut pecahan gelas dengan kain lap, mengepel lantainya, lalu menuangkan wedang jahe panas ke cangkir bersih dan meletakkannya di depan Kiki.
"Diminum, Mbak. Pelan-pelan. Panas."
Kiki menatap cangkir itu seperti tidak mengerti untuk apa. Lalu pertahanannya jebol. Air matanya tumpah tanpa aba-aba, merusak makeup mahalnya, dan malam itu macan pantry berubah jadi anak kucing yang kedinginan.
"Kenapa orang gampang banget ninggalin gue, Rik?" suara Kiki pecah di sela isaknya. "Mommy pergi pas gue dua tahun. Gue bahkan nggak punya satu pun fotonya yang bisa gue inget. Sekarang Tama juga pergi. Apa salah gue sih sebenarnya? Apa gue se-nggak layak itu buat dicintai?"
Erika menarik kursi dan duduk di sebelahnya. "Aku nggak bisa bayangin rasanya ditinggal Mommy sejak kecil, Mbak. Nggak akan sok tahu. Tapi Bapakku baru saja pergi, Mbak. Belum lama kami melewati empat puluh harinya. Rasanya kayak separuh napas hilang."
Kiki menoleh padanya dengan mata sembab.
"Kata Ibuku," lanjut Erika pelan, "orang yang pergi itu nggak bisa kita paksa balik, sekuat apa pun kita berdoa. Yang bisa kita jaga cuma satu: diri sendiri. Jangan ikut hancur. Orang yang menyakiti kita ndak seharusnya bisa terus mengatur hidup kita. Kalau keluarga yang meninggal, mereka juga pasti ndak ingin kita berhenti menjalani hidup."
Kiki menyeka matanya dengan punggung tangan, tidak peduli maskaranya luntur ke mana-mana. Erika tidak mengatakan bahwa kematian Mommy dan keputusan Tama meninggalkan Kiki adalah hal yang sama. Yang satu tidak bisa dikendalikan siapa pun, sedangkan yang lain merupakan tindakan manusia yang tetap bisa diminta bertanggung jawab. Ia menyampaikannya pelan, tanpa membuat Kiki merasa sedang diberi ceramah.
"Mommy ndak memilih menyakiti Mbak," katanya. "Kalau Tama, aku ndak kenal semua urusannya. Tapi dia bertanggung jawab atas caranya memperlakukan Mbak."
Kiki menarik tisu dan mengusap pipi. "Terus kenapa rasanya sama? Kayak gue ditinggal semua orang."
"Mungkin karena sekarang yang sakit bukan cuma tentang Tama. Ada yang sudah lama Mbak simpan."
Erika menggeser cangkir sedikit lebih dekat. Ia tidak meminta Kiki minum sampai wanita itu siap. Beberapa saat mereka hanya mendengarkan dengung kulkas dan suara air yang menetes dari keran.
"Daddy juga selalu sibuk," kata Kiki akhirnya. "Kalau gue bikin masalah, baru semua orang lihat gue."
Kalimat itu membuat Erika menatapnya. Ia teringat keributan di kamar, Daddy yang sampai sakit, dan Lina yang tetap mencoba mengantarkan makanan meski sering disalahkan.
"Aku ndak tahu rasanya jadi Mbak," jawab Erika. "Tapi tadi pagi Lina benar-benar khawatir. Dia bawa bubur bukan karena disuruh aku. Dia yang mengetuk kamarku."
Kiki memalingkan wajah. Pembicaraan tentang Lina rupanya belum bisa diterima dengan mudah. Erika tidak melanjutkan dengan tuntutan meminta maaf. Ia hanya ingin satu hal yang benar tidak selalu tenggelam di balik prasangka.
"Gue tahu kamu mau belain dia."
"Aku cerita yang terjadi. Mbak boleh belum mau dengar."
Kiki menatapnya kembali, lebih lama kali ini. Mungkin dia menunggu Erika tersinggung dan pergi. Ketika itu tidak terjadi, bahunya perlahan turun.
"Gue nggak tahu harus mulai dari mana," bisiknya.
"Malam ini dari ndak nyetir dulu. Besok baru pikirkan yang lain."
Kiki mengambil cangkir dengan dua tangan. Minumannya sudah lebih hangat, tidak lagi terlalu panas. Ia meneguk sedikit, lalu meringis karena rasa jahe.
"Pedas."
Kiki mengangkat wajah ketika terdengar langkah di luar pantry. Erika menoleh, tetapi lorong sudah sepi kembali. Mungkin hanya Bi Ani yang memeriksa pintu belakang. Kiki buru-buru mengusap pipinya.
"Jangan cerita ke semua orang kalau gue nangis."
"Aku ndak akan cerita buat bahan bercanda, Mbak."
"Ke Lina juga."
Erika tidak langsung mengangguk. "Kalau dia tanya apa Mbak sudah pulang, aku bilang Mbak ada di rumah. Aku ndak perlu cerita yang lain."
Kiki memandangnya, lalu menurunkan tisu. "Ya sudah."
Jawaban pendek itu tidak terdengar ramah, tetapi untuk pertama kalinya malam ini dia menerima ucapan Erika tanpa mencari sesuatu untuk diserang.
"Aku memang bikinnya buat begadang, Mbak. Kalau mau aku tambah air."
Kiki menggeleng. Ia tetap memegang cangkir, seolah butuh sesuatu yang bisa digenggam tanpa bergetar. Erika membiarkannya. Kadang orang tidak membutuhkan nasihat tambahan. Kadang dia hanya perlu ditemani sampai sanggup menarik napas tanpa merasa dadanya akan pecah.
"Kok lo bisa baik sih sama gue? Gue kan jahat sama lo. Gue jegal kaki lo sampai lutut lo memar. Gue selalu sinis sama lo."
"Aku tahu, Mbak. Lututku sampai sekarang masih ada biru-birunya dikit."
"Terus kok lo masih bikinin gue jahe?!"
"Kata Bapakku," Erika tersenyum, "kita wajib baik sama siapa pun. Nggak peduli dia baik atau jahat ke kita. Tapi yang Mbak lakukan ke aku itu tetap salah. Kesepian juga ndak bikin kita boleh menyakiti orang lain. Orang kesepian itu suka salah pasang benteng. Dikira bentengnya buat jaga diri, padahal buat ngurung diri."
Kiki menatap Erika lama sekali. Lalu tangisnya pecah lagi, kali ini lebih keras, dan tanpa aba-aba dia menundukkan kepalanya ke bahu Erika. Erika kaget setengah mati, tangannya mengambang di udara.
Ya Allah, batinnya, ini macan lagi nangis di bahu aku. Aku elus atau aku foto buat kenang-kenangan?
Akhirnya tangannya turun dan mengelus punggung Kiki dengan canggung, seperti orang mengelus kucing yang belum tentu jinak.
Keesokan paginya, Erika menemukan sesuatu di atas bantalnya saat dia kembali dari kamar mandi. Sebuah jar krim malam mahal, merk Prancis yang harganya bisa untuk beli beras satu karung, dengan secarik sticky note menempel di tutupnya.
'Katanya krim malam itu bagus. Punyaku kebanyakan. - K'
Erika tersenyum membaca catatan itu tiga kali. Orang yang baru belajar berbuat baik itu memang gayanya masih kaku, Thor. Biarkan. Yang penting gerakannya ke arah yang benar.
Di meja makan pagi itu, terjadi pemandangan yang membuat Lina berhenti mengunyah dan Daddy Jack menurunkan korannya sedikit.
Kiki, tanpa menyapa, tanpa menatap, mendorong mangkuk bawang goreng ke arah Erika dengan ujung jarinya. Bawang goreng kesukaan Erika yang biasanya harus dia rebutkan dengan Jo.
"Tumben," bisik Jo.
"Kiamat sudah dekat," bisik Lina membalas.
Kiki mendengar mereka berdua dan melotot. "Makan nggak?!" Dua orang itu langsung kembali ke piringnya masing-masing dengan kecepatan cahaya.
Erika menunduk menyembunyikan senyumnya ke piring buburnya.
Sore harinya, saat Erika baru selesai bekerja bersama Jo di ruang keluarga, ketika ponsel Erika berdering dan nama "Mbak Kiran" muncul di layar.
"Assalamualaikum, Mbak."
"Walaikumsalam. Rik!" Suara Kirana di seberang sana bersemangat sekali, tapi ada getaran yang tidak bisa disembunyikan. "Aku di kereta, Rik! Sekarang! Besok pagi sampai Pasar Senen jam lima!"
Erika merasa seluruh darahnya berhenti mengalir. "HAH?! Mbak di kereta?! M-mau ke Jakarta?!"
"Iya! Aku sudah ndak tahan, Rik. Aku harus lihat sendiri apa yang sebenarnya Mas Aldin sembunyikan. Kamu ndak usah jemput, nanti aku naik ojek ke rumahmu. Dan Rik, jangan bilang siapa-siapa dulu ya. Terutama dia. Biar aku yang lihat dengan mataku sendiri."
"T-tapi Mbak-"
"Titip aku ya, Rik! Daah!"
Klik. Telepon mati.
Erika menatap ponselnya seperti menatap bom yang waktunya sudah berjalan. Di ruang keluarga itu, Jo masih tertawa pada lelucon Lina, Kiki masih pura-pura galak, Daddy masih membaca korannya, dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa besok pagi jam lima, sebuah badai dari Semarang akan tiba di depan pintu.
Erika tidak membalas telepon yang sudah terputus itu dengan menelepon Aldin. Ia berdiri dari kursi, meminta izin kepada Jo, lalu berjalan ke teras agar bisa menghubungi Kirana lagi dengan tenang.
Panggilan kedua diterima setelah beberapa nada sambung. Di belakang suara Kirana, terdengar pengumuman dari dalam kereta. Erika menanyakan apakah wanita itu sendirian dan apakah Ibu sudah mengetahui keberangkatannya.
"Aku bilang ke Ibu mau ketemu kamu. Ibu tahu, Rik. Aku juga sudah izin orang tuaku."
Erika sedikit lega. Setidaknya ini bukan perjalanan yang dilakukan tanpa ada seorang pun mengetahui. Ia lalu meminta nomor kereta dan waktu kedatangan yang tercantum di tiket.
"Kirim ke aku, Mbak. Aku akan bantu jemput. Tapi soal tinggal, aku harus minta izin Uncle dulu. Rumah ini bukan rumahku."
Kirana terdiam. Semangat yang tadi begitu deras mulai berganti ragu. Dia mengatakan tidak ingin merepotkan tuan rumah dan bersedia mencari penginapan jika diperlukan.
"Kita atur yang aman dulu. Jangan langsung pergi cari Mas Aldin dari stasiun. Mbak pasti capek."
"Aku cuma takut kalau dikasih tahu dulu, dia makin pintar nutupin."
"Aku ngerti. Tapi aku juga ndak mau Mbak sendirian menghadapi sesuatu yang belum jelas. Kita ketemu dulu, ya."
Erika tidak menjanjikan akan menyembunyikan Kirana di kamar atau mengenalkannya sebagai orang lain. Ia hanya berjanji menjemput dan membantu mencari tempat beristirahat. Masalah dengan Aldin harus mereka bicarakan setelah itu, ketika Kirana tidak lagi berada di perjalanan panjang.
Setelah menerima foto tiket, Erika menyimpannya dan membaca jam kedatangan sekali lagi. Lima pagi. Masih ada beberapa jam untuk meminta izin dan memikirkan langkah yang tidak membuat semua orang terjebak dalam kebohongan baru.
Ia kembali ke ruang keluarga, tetapi tidak langsung duduk. Jo melihat wajahnya dan bertanya ada apa. Erika menggenggam ponsel, lalu mengatakan bahwa Kirana sedang menuju Jakarta.
Senyum Jo hilang. Nama itu mengembalikannya pada percakapan tentang Aldin yang belum sempat dituntaskan.
"Pacarnya Al?"
Erika mengangguk. Kali ini dia tidak menunggu sampai seseorang memergoki rahasia di depan pintu. Sebelum Jo menanyakan lebih jauh, ia menambahkan bahwa Kirana meminta tidak diberitahukan kepada Aldin sebelum mereka sempat berbicara.
Jo menatapnya, kemudian menggeser gelas dari ujung meja. "Duduk dulu, Rik. Kita pikirin pelan-pelan."
Erika baru duduk setelah mendengar itu. Di layar ponselnya, tiket kereta masih terbuka, sementara di tasnya tersimpan foto yang belum mempunyai penjelasan. Besok pagi, dua hal tersebut akan bertemu. Kali ini dia harus memutuskan apa yang bisa disimpan dan apa yang sudah tidak boleh ditanggung sendirian.