Erika mulai menyusun kerangka lengkap untuk novel Jo dan Caca. Bagian pertemuan mereka sudah ditulis, tetapi masih banyak kenangan yang perlu digali. Hari ini mereka akan membicarakan lamaran dan harapan tentang pernikahan, bagian yang belum bisa ditulis seolah sudah terjadi. Tapi Jo, yang biasanya paling berisik kalau sudah sampai bagian ini, hanya duduk diam di sofanya sambil memutar-mutar ponselnya.
"Mas Jo kok bengong? Biasanya kalau bahas bab beginian paling semangat," ledek Erika.
Erika mengembalikan layar laptop ke halaman kerangka. Di bagian lamaran hanya ada beberapa catatan pendek. Nama tempat, suasana yang diinginkan, dan satu kalimat Jo tentang ingin melihat Caca bahagia. Belum ada adegan yang cukup untuk menjadi bab utuh.
"Aku ndak bisa isi bagian ini cuma pakai khayalan, Mas," katanya. "Novel yang Mas pesan kan kisah kalian. Kalau ada rencana yang belum terjadi, aku tulis sebagai harapan, bukan kenangan."
Jo mengangguk. Biasanya dia akan menggodanya terlalu serius, tetapi hari ini lelaki itu justru menatap catatan tersebut cukup lama.
"Aku takut hadiahnya malah nggak sesuai yang Caca suka."
"Kita masih punya waktu memperbaiki. Yang penting Mas cerita jujur."
Ucapan terakhir membuat Erika merasa seperti menegur dirinya sendiri. Dia baru pulang dari kafe kemarin dengan sesuatu yang belum sanggup dibicarakan kepada orang di hadapannya. Apa haknya meminta Jo jujur ketika dirinya memilih kata supaya tidak terdengar sedang menyembunyikan sesuatu?
Jo mengambil satu halaman cetak yang sudah dikoreksi. Ia menunjukkan bagian yang menceritakan mereka berjalan di mal. Erika semula menggambarkan lelaki itu menikmati perjalanan. Jo mencoretnya.
"Aku sebenarnya capek. Tapi waktu itu Caca senang banget. Jadi aku ikut senang. Bukan karena suka malnya."
"Nah, itu lebih enak ditulis. Mas boleh ndak suka tempatnya, tapi tetap datang karena ingin bersama orangnya."
Jo tersenyum kecil. Sesudah beberapa kali bertemu, Erika mulai tahu bahwa sikap santainya bukan berarti dia tidak memperhatikan apa pun. Ada detail yang disimpan, cuma jarang diceritakan karena dianggap tidak penting.
Ia menulis ulang satu paragraf dan membacakannya. Jo mendengarkan sampai selesai, lalu meminta bagian yang terlalu memujinya dikurangi. Jangan dibuat seperti dia selalu benar, katanya. Caca juga pernah sabar menghadapi dia yang sulit diajak keluar.
Erika menatapnya. Orang yang biasanya berisik dan suka meledek ternyata bisa mengakui kekurangan tanpa disuruh. Mendengar itu justru membuat dugaan tentang Aldin semakin menyakitkan. Kalau cerita ini berubah buruk, yang terluka bukan sekadar tokoh tampan yang ada di layar laptop. Lelaki itu nyata, duduk di depannya, dan sedang berusaha memberi hadiah kepada perempuan yang dicintainya.
"Rik," Jo menyandarkan punggungnya. "Menurut kamu, kalau orang berubah total dari biasanya, itu pertanda apa?"
Erika menutup laptopnya pelan. "Berubah gimana, Mas?"
"Caca berubah." Jo menatap langit-langit ruangan. "Dia nggak pernah ngambek lagi, Rik. Nggak pernah. Dulu gue telat bales chat lima menit, perang dunia ketiga. Gue lupa telepon, bisa dua hari dia nggak mau nyapa gue. Sekarang? Gue dua hari nggak telepon, dia santai. Gue batalin janji, dia bilang, 'It's okay, baby, I know you're busy.' Enak sih. Enak banget seharusnya." Jo berhenti sebentar. "Tapi kok rasanya aneh, ya. Kayak ada yang hilang. Kayak makan sayur asem nggak pakai asem."
Erika memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati, seperti orang berjalan di atas pecahan beling. "Mungkin Mbak Caca sibuk sama persiapan pernikahan, Mas. Perempuan kalau lagi fokus sama satu hal besar, sekitarnya suka ke-skip."
"Iya. Beberapa persiapan mulai dia urus lagi sekarang." Jo mengangguk-angguk. "Daftar tempat, pilihan katering, contoh dekorasi. Belum semuanya diputuskan. Gue sebenarnya harus ikut mikirin juga."
"Mas nggak takut hasilnya nggak sesuai selera? Kan Mas belum lihat apa-apa."
"Nggak. Gue percaya Caca." Jo mengangkat bahu santai. "Dan kalau Caca kepepet, ada Aldin. Selera dia bagus kok. Semua barang gue yang bagus-bagus, dia yang milihin."
Termasuk calon istrinya juga dia yang 'milihin'? Kalimat itu lewat begitu saja di kepala Erika, jahat dan tidak diundang. Dia langsung menghukum dirinya sendiri dengan mencubit pahanya di bawah meja.
"Tahu nggak, Rik, gue ini beruntung banget punya Aldin," lanjut Jo, dan nada suaranya hangat seperti orang membicarakan pahlawannya. "Dia itu lebih dari asisten buat gue. Dia sahabat. Dari zaman kuliah, dia yang ngebantuin gue skripsi, dia yang ada pas bisnis gue hampir bangkrut, dia yang sekarang pegang semua proyek gue. Gue titipin apa aja ke dia, aman."
Jo tertawa kecil. "Termasuk Caca. Persiapan nikah ini semua Aldin yang dampingin Caca. Gue kan benci banget mal, dan Caca hobi banget ke mal. Jadi Aldin yang gantian. Beruntung banget gue punya dia."
"Pokoknya nanti pas gue nikah, Aldin jadi best man. Udah gue omongin dari lama," lanjut Jo bersemangat. "Dia sempet nolak, katanya nggak pede. Gue paksa. Best man itu harus orang yang paling gue percaya. Di dunia ini cuma ada tiga: Daddy, Aldin, dan sekarang nambah satu, kamu, Rik."
Erika hampir tersedak untuk kedua kalinya padahal dia belum minum apa-apa. "Aku, Mas?"
"Iya, elu. Siapa lagi yang berani nulis novel sama gue terus ngelawan gue tiap hari? Elu itu adik gue sekarang. Resmi. Tanpa notaris."
Persetan dengan jantungnya, karena jantung Erika langsung nyeri seperti ditusuk. Mas, kalau kamu sudah menganggapku adik, gimana caranya aku bilang padamu bahwa orang yang paling kamu percaya sedang menusukmu dari belakang?
Perut Erika rasanya seperti diaduk pakai mixer. Dia meraih gelasnya dan minum seteguk, lalu tersedak keras sampai matanya berair.
"Woy, kenapa kamu?" Jo menepuk-nepuk punggungnya.
"Gleg," jawab Erika serak. "Salah minum."
"Nah, satu lagi nih. Cincin kawinnya juga udah dipesan. Caca yang milih, Aldin yang nemenin. Katanya modelnya simpel tapi elegan. Gue tinggal pakai nanti pas hari H."
Cincin. Butik. Jari manis wanita pirang itu. Tawa bahagia Aldin saat memasangkannya.
Jadi cincin itu ... cincin pernikahan Mas Jo? Dipilih Mbak Caca, diantar Mas Aldin ... dan dipasangkan ke jari Mbak Caca oleh Mas Aldin dengan tawa seperti itu?
Otak Erika berteriak, tapi mulutnya tidak boleh ikut berteriak. Belum. Belum ada bukti yang cukup kuat. Semua yang dia lihat masih bisa dibantah dengan satu kalimat: 'itu kan memang tugas Aldin, dampingin calon istri bosnya.'
Erika mencoba bertanya tentang cincin tanpa terdengar seperti memeriksa seseorang. Dia menanyakan apakah Jo sudah melihat contoh modelnya. Lelaki itu membuka percakapan dengan Caca dan mencari gambar yang dikirim beberapa hari sebelumnya.
Gambar tersebut hanya menampilkan cincin di atas kain gelap, bukan di jari siapa-siapa. Ada kilau di sisi yang membuat bentuknya sedikit berbeda dari foto buram Erika. Ia tidak berani mengatakan sama. Ia juga tidak berani mengatakan berbeda.
"Aku harus nyobain ukurannya, ya?" tanya Jo lebih kepada dirinya sendiri.
"Harus, Mas. Masa nanti dipaksa masuk terus jarinya bengkak. Itu pernikahan, bukan lomba tahan sakit."
Jo tertawa. Ia menyimpan gambar dan mengatakan akan membuat janji ke toko bersama Caca. Kali ini dia tidak menyuruh Aldin lagi. Erika merasa sedikit lega, meski alasannya berbeda dari alasan Jo.
"Aku boleh minta satu hal?" tanyanya.
"Apa?"
"Kalau pergi pilih cincin, Mas ikut sendiri. Jangan ganti orang lagi. Yang nikah kan Mas."
Jo mengangguk sambil menatap layar. "Iya. Aku mulai ngerti kenapa Caca dulu kesel."
Erika tidak menjawab. Ia belum tahu apakah kekesalan itu satu-satunya alasan Yoevanca berubah. Namun, permintaannya agar Jo terlibat langsung bukan tipu daya. Itu memang hal yang seharusnya dilakukan calon pengantin.
Mereka kembali bekerja. Jo menyebut tempat bulan madu yang ingin dikunjungi, kemudian bercerita bahwa Daddy lebih mementingkan mereka benar-benar saling memahami daripada besarnya pesta. Erika menulis bagian itu sebagai percakapan, bukan nasihat panjang.
"Daddy pernah bilang, jangan bawa orang masuk rumah kalau kita nggak mau belajar hidup sama kebiasaannya," kata Jo. "Aku kira dulu cuma soal Caca suka barang mahal, aku lebih suka kaos lama. Ternyata banyak lagi."
"Mas baru sadar setelah mau nikah?"
"Namanya juga baru mau belajar jadi suami. Jangan dimarahin dulu, Bu Penulis."
Erika tertawa kecil. Ia ingin hari ini berakhir dengan percakapan biasa seperti itu. Sayangnya, setiap kali Jo menyebut betapa dia percaya kepada Caca dan Aldin, suara dari kafe kembali terdengar di kepala Erika. Ia harus mencari jalan untuk bicara tanpa menjadikan dugaan sebagai vonis.
"Mas," Erika membuka mulutnya. Kata-kata itu sudah berbaris rapi di ujung lidahnya. Mas, aku lihat Mas Aldin sama wanita pirang. Mas, aku curiga sama Mbak Caca. Mas-
Ponsel Jo berdering. Wajah lelaki itu langsung berbinar begitu melihat nama di layar.
"Sayang!" Jo mengangkatnya dengan suara yang melompat. "Iya, baby ... iya, aku juga kangen ... Besok lunch? Oke, oke, aku atur, pasti bisa ... I love you too."
Telepon ditutup. Jo menatap Erika dengan senyum lebar seperti anak kecil yang baru dibuktikan bahwa Santa Claus itu ada.
"Tuh kan, Rik. Caca sayang sama gue. Gue aja yang kebanyakan mikir. Kalian para penulis ini, hobinya memang mendramatisir."
Erika memaksakan senyumnya. "Iya, Mas. Mungkin aku yang kebanyakan mikir."
Dugaan tentang Caca yang tadi berbaris di ujung lidahnya dia telan kembali. Pahit. Seperti menelan kopi tanpa gula.
Ucapan Jo bahwa dia terlalu banyak berpikir tidak membuat Erika langsung diam. Dia memindahkan laptop dari pangkuan dan menghadap lelaki itu sepenuhnya.
"Mas, aku belum selesai ngomong tadi."
Jo menghentikan gerakan mengambil gelas. "Oke. Tentang apa?"
Erika menelan ludah. Dia tidak menyebut Caca lebih dulu. Ia menceritakan bahwa Aldin semakin sulit dihubungi Kirana dan sering menolak ketika ditanya. Dia juga mengatakan telah melihat kakaknya di luar kantor bersama seorang perempuan.
"Perempuan siapa?"
"Aku belum bisa memastikan. Itu sebabnya aku ndak mau menyebut nama. Tapi aku ndak mau terus bilang semuanya baik-baik saja kalau yang aku lihat bikin khawatir."
Senyum Jo menghilang perlahan. Ia tidak langsung marah atau menertawakan Erika. Setelah beberapa saat, dia bertanya apakah adiknya sudah membicarakan hal itu dengan Aldin.
"Sudah coba. Jawabannya selalu nanti."
"Mungkin ada hal yang belum dia siap ceritain."
"Mungkin. Tapi Mbak Kiran juga berhak tahu kalau hubungan mereka berubah."
Jo mengangguk. Ia berjanji akan menyempatkan diri bicara dengan Aldin, tanpa membuka semua catatan yang dimiliki Erika. Erika tidak meminta Jo menyelidiki atau langsung mempercayai kesimpulannya. Ia hanya ingin tidak sendirian menanggung sesuatu yang mulai membuatnya tidak bisa bekerja.
Jo sempat membuka percakapan dengan Aldin, lalu berhenti sebelum mengetik. Erika memperhatikan gerakan itu dan meminta agar dia tidak menelepon sekarang hanya karena sedang terkejut.
"Aku ndak mau Mas langsung bertengkar karena cerita yang belum lengkap."
"Aku juga nggak mau dia merasa aku tiba-tiba menginterogasi. Besok aku cari waktu ngobrol."
"Aku akan coba ngomong sendiri juga. Dia abangku."
Jo mengangguk. Untuk pertama kalinya, nama Aldin di antara mereka tidak langsung diikuti lelucon atau pujian. Erika merindukan percakapan yang ringan itu, tetapi mengulangnya sekarang hanya akan membuat dirinya semakin jauh dari kenyataan.
"Makasih sudah bilang, Rik," kata Jo akhirnya. "Kalau ada yang benar-benar jelas, jangan kamu simpan sendiri."
Erika mengangguk, tetapi dadanya tetap berat. Ia baru menyampaikan bagian paling aman. Bagian yang mungkin menyangkut calon istri Jo masih tersangkut di tenggorokan.
Sesudah percakapan itu, mereka menyepakati beberapa halaman yang harus diselesaikan Erika sebelum wawancara berikutnya. Jo tidak menuntutnya langsung ceria. Ia memberikan waktu untuk bekerja di tempat yang tenang, kemudian menelepon Daddy menanyakan kabarnya.
Erika menyimpan laptop dengan hati-hati. Belum ada penyelesaian. Namun, setidaknya hari ini dia tidak sepenuhnya berpura-pura bahwa semua yang diketahui hanya cerita novel.
Malam itu, Erika tidak bisa menulis satu kata pun. Kursornya berkedip-kedip di halaman kosong seperti ikut mengejeknya.
"Lo sakit?" Iccha menoleh dari depan cermin, wajahnya masih penuh masker. "Dari tadi lo ngetik hapus, ngetik hapus."
"Mbak," Erika menatap langit-langit, "kalau kita tahu sesuatu yang bisa menghancurkan orang baik, tapi kita belum punya bukti yang kuat ... kita harus ngomong, atau diam?"
Iccha berpikir sebentar, lalu menjawab dengan serius yang jarang-jarang. "Cari buktinya dulu. Tuduhan tanpa bukti itu namanya fitnah. Dan fitnah itu lebih kejam dari pada ..."
"... lebih kejam dari pada ndak memfitnah," sambung Erika, dan mereka berdua tertawa kecil mengingat lelucon lama itu. Tapi tawa Erika cepat habis.
"Ini soal Mas Jo, ya?" tebak Iccha tiba-tiba.
"Ada hubungannya sama Mas Jo. Tapi aku belum siap cerita semua, Mbak. Aku juga masih harus ngomong sama Mas Aldin dulu."
Iccha mengangguk. Dia tidak memaksa, dan Erika bersyukur tidak perlu menambah kebohongan baru.
Iccha mematikan lampu mejanya, tapi sebelum tidur dia berkata sekali lagi, setengah mengantuk, "Rik. Apa pun yang lagi lo simpen, inget satu hal. Rahasia itu kayak utang. Ditumpuk makin berat, dan suatu hari harus dibayar juga. Plus bunganya."
"Mbak kok tahu aku nyimpen rahasia?"
"Lo tidurnya ngoroknya berubah."
"Nggak ngorok aku, Mbak!"
"Ngorok hati, Rik. Kelihatan."
Dan itu, Erika harus mengakui, adalah diagnosis paling akurat yang pernah keluar dari mulut Miss Sendok itu.
Malam makin larut, Iccha sudah tidur, dan Erika masih menatap langit-langit kamar.
Terlalu banyak rahasia orang di rumah ini kusimpan, batinnya lelah. Perjanjian Bang Ammar yang baru dihentikan, rahasia Mbak Iccha, kepercayaan Mas Sofyan yang harus dijaga lagi, dan sekarang rahasia paling berat dari semuanya. Lama-lama, aku yang jadi rumahnya.