Sore itu, Aldin Wijaya kembali mengatakan bahwa dia punya urusan setelah meninggalkan kantor.
Tidak pernah dijelaskan urusan apa. Dan Erika, yang sejak beberapa hari terakhir mengisi halaman belakang buku batiknya dengan catatan 'Operasi Sephia', memutuskan bahwa kali ini dia tidak akan tinggal diam.
"Dek, mau ke mana?" tanya Jo saat Erika membereskan laptopnya jam tiga sore.
"Izin duluan, Mas. Ada urusan," jawab Erika, meminjam istilah abangnya sendiri.
Erika meminta izin kepada Jo dengan alasan yang benar, meski tidak lengkap. Dia mengatakan ingin berbicara dengan Aldin di luar kantor. Jo mengangguk dan mengingatkan agar tidak pulang terlalu malam. Setelah itu, Erika merapikan pekerjaannya supaya keberangkatannya tidak meninggalkan urusan yang menyusahkan orang lain.
Ia hampir menyusul kakaknya di lorong. Jika berani sekarang, mungkin tidak perlu naik taksi atau bersembunyi. Namun, ingatan tentang Aldin yang selalu mengalihkan pertanyaan membuat langkah Erika terhenti. Dia tidak ingin menghabiskan satu sore lagi mendengar jawaban nanti.
Di depan gedung, Erika menunggu cukup jauh dari jalur keluar kendaraan. Dia belum tahu apakah Aldin akan pergi bersama perempuan yang sama. Bahkan mungkin hari ini kakaknya benar-benar menemui rekan bisnis. Kemungkinan itu membuatnya berharap operasinya berakhir sia-sia. Kalau tidak menemukan apa-apa, setidaknya dia bisa pulang dengan perasaan lebih baik.
Dia memegang buku batik, kemudian menyimpannya lebih dalam ke tas. Kalau Aldin melihat buku itu, kakaknya pasti langsung mengenalinya. Erika mengambil novel lain yang dibawa untuk dibaca saat menunggu, bukan karena menganggap benda itu bisa membuatnya tidak terlihat.
Di depan gedung, Erika menghentikan sebuah taksi dan masuk dengan napas memburu.
"Pak, nanti tolong ikuti mobil silver yang keluar dari basement gedung itu, ya. Pelan-pelan saja, jangan sampai ketahuan."
Sopir taksi itu menatapnya dari kaca spion dengan mata berbinar seperti dapat hiburan gratis. "Wah, kayak sinetron ini, Mbak. Kasus apa? Mau menyusul keluarga?"
"Iya, abang saya, Pak."
"Waduh." Sopir itu menggeleng-geleng. "Itu lebih serem, Mbak."
"Ada masalah sama abang?" Sopir itu makin penasaran. "Keluarganya tahu?"
"Belum tahu, Pak. Makanya saya yang nyari tahu dulu."
"Ya Allah." Sopir itu menepuk setir pelan. "Dua puluh tahun saya narik taksi, Mbak. Penumpang kayak Mbak ini baru tiga kali. Dua yang pertama ujungnya nangis di mobil saya. Semoga Mbak nggak ikut nangis."
"Amin, Pak. Tapi kalau nangis, tisu Bapak ada kan?"
"Ada, Mbak. Gratis. Tisu memang selalu gratis buat orang yang berjuang."
Erika tersenyum kecil. Orang Jakarta itu kadang galak di jalan, tapi kalau sudah diajak ngobrol, semuanya berubah jadi bapak-bapak penuh nasihat.
Sepuluh menit kemudian, mobil silver Aldin keluar dari basement, dan operasi itu resmi dimulai.
Mobil Aldin berhenti di depan sebuah kafe bernuansa taman di daerah Kemang. Erika turun dua puluh meter sebelumnya, membayar taksi, dan menyusup masuk ke kafe itu lewat pintu samping. Dia memilih meja paling pojok di balik tanaman puring, memesan es teh, dan membuka novel tebal yang dia bawa sebagai kedok.
Erika memilih tempat duduk setelah memastikan ada jalan keluar yang tidak melewati meja kakaknya. Seorang pelayan menyerahkan menu dan menanyakan apakah dia menunggu teman. Erika menggeleng. Ia memesan minuman biasa, lalu meletakkan buku di meja.
Tidak ada tanaman yang cukup besar untuk benar-benar menyembunyikan tubuhnya. Jika Aldin menoleh lama, dia mungkin tetap dikenali. Erika mencoba tidak menunduk berlebihan. Justru gerakan seperti itulah yang akan menarik perhatian.
Untuk beberapa menit, kakaknya hanya membaca sesuatu di ponsel. Pelayan datang dan pergi. Erika sempat membuka percakapan dengan Ibu, tetapi tidak mengetik apa-apa. Dia ingin mendengar suara yang bisa membuatnya merasa pulang, namun takut Ibu langsung menyadari ketegangan di suaranya.
Lima menit kemudian, dia datang.
Seorang wanita bertubuh tinggi semampai masuk ke kafe dengan topi pantai lebar dan kaca mata hitam besar. Rambut pirang panjangnya tergerai keluar dari bawah topi. Aldin langsung berdiri menyambutnya, menarik kursinya, dan mencium puncak kepalanya dengan begitu natural.
Jantung Erika berdegup keras. Ini bukan pertemuan bisnis. Orang tidak mencium kepala rekan bisnisnya, Thor.
Dari balik novelnya, Erika memotret dengan ponsel yang sudah dia siapkan sejak tadi. Klik. Klik. Sayang sekali, topi lebar wanita itu menutupi hampir seluruh wajahnya, dan posisi duduknya membelakangi Erika.
Erika menelan ludah. Ia berusaha mengingat apa saja yang dapat dijelaskan sebagai persahabatan. Makan bersama bisa. Mengobrol akrab juga bisa. Namun, ciuman di puncak kepala membuat daftar alasan tersebut semakin pendek.
Dia tidak langsung mengambil foto setiap gerakan. Beberapa kali Erika hanya menatap, berharap ada percakapan yang menyebut Jo atau urusan cincin pernikahan. Kalau memang kakaknya sedang membantu persiapan itu, seharusnya ada sesuatu yang membenarkan dugaan paling baiknya.
Yang terdengar justru tawa dan satu kalimat terlalu pelan untuk ditangkap. Erika tidak menulis kalimat yang tidak jelas itu. Dia cukup mencatat bahwa mereka tampak akrab dan duduk saling berdekatan. Ia takut buku batiknya menjadi kumpulan kesimpulan yang dibuat sendiri.
Di layar ponsel, gambar yang diambilnya masih belum menunjukkan wajah utuh. Erika menahan keinginan berdiri dan pindah ke meja depan. Gerakan itu akan terlalu kentara. Ia hanya memutar gelas, memaksa diri untuk menunggu.
Ada batas antara mencari kenyataan dan memaksa kenyataan terlihat seperti ketakutan sendiri. Erika belum pandai membedakannya, tetapi dia ingin setidaknya tetap ingat bahwa batas itu ada.
Selama setengah jam berikutnya, Erika menyaksikan pemandangan yang membuat perutnya mual. Aldin menggenggam tangan wanita itu di atas meja. Aldin menyuapkan sepotong cheese cake ke mulutnya. Wanita itu tertawa, kepalanya bersandar ke bahu Aldin, dan jari-jari mereka bertaut seperti orang yang sudah terbiasa bertaut.
Erika mencatat semuanya di buku batiknya dengan tulisan tangan yang makin berantakan. Jam 16.12: mesra. Jam 16.25: disuapin. Jam 16.31: tangannya mengelus lengan Mas Aldin.
Setiap baris yang dia tulis terasa seperti menanam paku di dada orang yang tidak ada di ruangan ini. Mbak Kiran. Yang malam-malam curhat padanya sambil menangis. Yang bilang kekasihnya semakin jarang memberi kabar. Yang minta tolong padanya dengan suara bergetar.
Ternyata benar, Mbak, batin Erika perih. Maaf. Ternyata kamu benar.
Kemudian ponsel wanita itu berbunyi. Dia menjawab, dan telinga Erika menangkapnya dengan jelas.
"Hello? Yes ... haha, no, I'm free tonight ..."
Bahasa Inggris. Fasih. Dengan logat yang ... Erika hanya pernah mendengar logat seperti itu dari satu orang dalam hidupnya.
Mbak Caca.
Tenggorokan Erika mengering. Tidak, tidak. Banyak orang bisa bahasa Inggris dengan fasih. Banyak wanita berambut pirang di Jakarta. Ini belum tentu-
Dan saat itu juga, wanita itu melepas kaca mata hitamnya untuk mengusap matanya yang basah karena tertawa, menoleh sedikit ke samping, dan Erika melihatnya. Separuh profil wajah itu. Hidung mancung itu. Garis rahang itu.
Persis seperti Mbak Caca. Atau seperti seseorang yang sangat, sangat mirip dengannya.
Tangan Erika gemetar hebat sampai es tehnya berdenting pelan di atas meja.
"Mas, bill-nya sekalian ya."
Suara itu. Suara Aldin. Dan suara itu datang dari arah kasir, yang letaknya hanya dua meja dari tempat Erika bersembunyi.
Erika membeku. Pelayan kafe memilih saat yang paling sempurna untuk berdiri di samping mejanya dan bertanya dengan suara ramah yang menggelegar.
"Mbak, mau pesan apa lagi?"
Dari sudut matanya, Erika melihat Aldin menoleh ke arahnya.
Dalam sepersekian detik, Erika menjatuhkan sendoknya, membungkuk ke bawah meja, dan pura-pura memungutnya dengan gerakan paling lambat dalam sejarah manusia memungut sendok. Jantungnya berdetak seperti genderang perang. Novel tebalnya dia angkat miring menutupi kepalanya dari arah kasir.
"Lama banget sendoknya ditemenin," omelnya pada diri sendiri di bawah meja.
Di atas sana, pelayan masih setia menunggu. "Mbak?"
"Cu-cukup, Mbak. Es tehnya saja. Nanti sekalian bill," jawab Erika dari bawah meja dengan suara yang sengaja dibuat berat.
Ketika dia memberanikan diri mengintip, Aldin sudah kembali ke mejanya. Beberapa menit kemudian, abangnya dan wanita pirang itu berdiri, berjalan keluar kafe dengan tangan Aldin melingkar di pinggang wanita itu, dan menghilang ke dalam mobil silver.
Erika baru bernapas setelah mobil itu benar-benar pergi. Keringat dingin mengalir di punggungnya.
"Mbak, bill-nya," pelayan itu datang lagi.
"Mbak," kata Erika lemas, "tambah es teh satu lagi ya. Buat nenangin."
Setelah kendaraan itu hilang dari pandangan, Erika membuka kamera dan memeriksa hasilnya. Dia tidak mempunyai gambar yang bisa langsung menjawab pertanyaan terbesar. Namun, apa yang dilihatnya sendiri tidak bisa dibuang begitu saja hanya karena foto kurang jelas.
Pelayan meletakkan tagihan. Erika membayar, menghabiskan sisa minumannya, lalu menunggu beberapa menit sebelum berdiri. Tangannya sudah tidak terlalu gemetar, tetapi tenggorokannya masih terasa sempit.
Di luar kafe, dia menelepon Aldin. Kali ini ada alasan yang sebenarnya: dia ingin mendengar kabar kakaknya dan memastikan apakah lelaki itu akan menjawab. Nada sambung terdengar panjang sebelum panggilan diterima.
"Ada apa, Dek?"
"Mas masih di luar?"
"Iya. Ketemu orang."
"Orang kantor?"
Jeda di seberang cukup lama untuk membuat Erika menggenggam tali tas lebih erat. Bunyi kendaraan terdengar, kemudian suara Aldin kembali.
"Kamu butuh apa?"
"Ndak butuh uang atau dijemput. Aku cuma nanya."
"Mas lagi repot. Nanti kita ngobrol."
Erika memejamkan mata. Lagi-lagi nanti. Dia akhirnya meminta Aldin menjaga diri, lalu menutup panggilan sebelum pertanyaan yang belum siap dia ajukan keluar begitu saja.
Saat menunggu kendaraan pulang, Erika menerima pesan Kirana. Wanita itu menanyakan apakah Aldin masih sibuk bekerja. Erika tidak sanggup membalas bahwa kakaknya baru saja makan dengan perempuan lain. Ia juga tidak ingin kembali mengatakan semua baik-baik saja.
Mas Al masih di luar. Aku sudah coba tanya, tapi belum dijawab jelas. Nanti aku hubungi Mbak kalau sudah bisa cerita lebih lengkap.
Erika membaca ulang sebelum mengirim. Kirana segera membalas bahwa dia akan menunggu, lalu menanyakan apakah Erika sudah makan. Pertanyaan sederhana itu justru membuat Erika menunduk.
Wanita yang sedang cemas tentang kekasihnya masih memikirkan apakah adik kekasih itu sudah makan. Erika ingat saat Bapak sakit. Kirana pernah datang membawa lauk dan mengambil cucian dari tangan Ibu tanpa banyak bicara. Hubungannya dengan Aldin bukan hanya rangkaian telepon yang belakangan semakin jarang diangkat.
Erika membalas bahwa dia akan makan sesampainya di rumah. Dia juga meminta Kirana tidak melewatkan makan malam. Sopir kendaraan yang dipesannya kemudian menelepon, menanyakan patokan tempat menjemput. Erika menyebut papan nama kafe dan berdiri di bawah lampu supaya mudah terlihat.
Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi ke tempat Aldin tadi memarkir mobil. Tempat itu sudah diisi kendaraan lain. Begitu mudah sebuah tempat kembali terlihat biasa, padahal apa yang terjadi di sana masih membuatnya sulit bernapas.
Jawaban kepada Kirana belum cukup, tetapi setidaknya tidak mengubah kebohongan kakaknya menjadi kebohongannya sendiri. Ia menyimpan ponsel, lalu menatap jalan sampai kendaraan yang dipesannya tiba.
Malam itu di kamarnya, Erika membuka semua foto hasil operasinya satu per satu. Wajah wanita itu tetap tidak terlihat jelas di semua foto. Tapi ada satu hal yang membuat napas Erika berhenti.
Di foto terakhir, saat wanita itu berdiri dan meraih tasnya, tangan kirinya terekspos sempurna. Di jari manisnya, sebuah cincin berkilau.
Erika membuka foto buram dari mal waktu itu, membandingkannya, memperbesar, memperbesar lagi.
Modelnya tampak mirip, tetapi foto itu belum cukup jelas untuk memastikan apakah cincin tersebut berasal dari butik yang sama.
Erika mengambil buku batiknya dan menulis dengan tangan yang masih gemetar.
Bukti #5 : Kencan di kafe Kemang. Mesra. Bicara bahasa Inggris, logat persis Mbak Caca.
Dugaan belum pasti: Cincin di jari manisnya menyerupai cincin dari butik itu.
Ia menatap catatannya lama sekali. Di atasnya masih ada judul Operasi Sephia yang ditulis ketika dia merasa menyelidiki bisa dilakukan seperti tokoh dalam novel. Sekarang nama itu tidak lagi terdengar lucu. Dia mencoret kata operasi, lalu menulis tanggal saja.
Pintu kamar terbuka. Iccha masuk membawa handuk dan berhenti ketika melihat foto di layar ponsel Erika.
"Lo lagi pilih foto buat novel?"
"Ndak, Mbak. Ini urusan keluargaku."
Iccha mengangguk dan tidak mendekat. Erika sempat ingin menyerahkan ponselnya, meminta orang lain memastikan apakah wajah itu menyerupai Caca. Namun, jika dugaan tersebut keliru, dia baru saja membawa perempuan lain masuk ke masalah yang tidak diketahuinya. Ia menutup galeri sebelum tangannya berubah pikiran.
"Masalah sama abang lo?" tanya Iccha, kali ini lebih pelan.
Erika mengangguk. "Aku takut kalau aku tanya, dia marah. Tapi kalau ndak ditanya, aku malah kepikiran terus."
"Abang lo bisa marah. Lo juga boleh nanya. Dua-duanya bisa terjadi."
Erika memandang teman sekamarnya. Jawaban itu tidak memecahkan masalah, tetapi membuatnya mengingat bahwa kemarahan Aldin bukan alasan untuk selamanya berhenti bertanya.
Ia mengambil ponsel dan membuka percakapan dengan kakaknya. Pesan yang ditulisnya lebih tegas daripada pertanyaan tentang makan atau jam pulang.
Mas, aku perlu ngobrol langsung. Bukan soal uang atau kerjaanku. Tolong jangan jawab nanti terus.
Ia menatap pesan itu sampai tanda terkirim muncul. Belum dibaca. Erika mengunci layar dan meletakkannya di atas meja. Setidaknya kakaknya kini tahu ada pembicaraan yang tidak bisa terus dipindahkan ke hari lain.
"Aku sudah kirim pesan minta ketemu," katanya kepada Iccha.
"Ya sudah. Tunggu jawabannya. Jangan malam ini lo bikin seratus kemungkinan sendiri."
Iccha menuju kamar mandi. Erika merapikan foto ke folder terpisah supaya tidak tercampur bahan novel. Dia tidak mengirimkannya ke siapa pun. Lalu ia menulis satu kalimat terakhir di bawah catatannya.
Mbak Kiran ... aku mulai takut sama jawabannya.