Dua hari setelah Sofyan pulang, Iccha mulai menyadari betapa mudah berbicara dengan Arya tanpa mempersiapkan diri untuk bertengkar. Pagi itu ada segelas kopi es dengan sedikit gula di meja Iccha, persis seperti yang dia pesan waktu makan siang pertama mereka. Arya mengingat pesanan itu dari makan siang pertama mereka. Iccha belum memberitahukan banyak hal lain tentang dirinya, tetapi lelaki itu bersedia mendengarkan ketika dia bercerita.
Perhatian kecil yang konsisten itu berbahaya, Thor. Lebih berbahaya dari seribu bunga mawar.
Ada catatan kecil menempel di gelas itu. Jam sembilan kurang lima menit, cangkir itu sudah ada di mejanya, lengkap dengan sticky note kecil yang hari ini bertuliskan: "Semoga hari ini pekerjaannya lebih lancar. Semangat."
"Jadi kalian benar dekat?" bisik Tiara, petugas resepsionis yang sedang mengantar dokumen ke lantai tiga. "Gue rela jual ginjal buat cowok kayak gitu."
"Ginjal lo nggak laku, Ti. Udah bocor sana-sini," jawab Iccha datar. Tapi tangannya merapikan sticky note itu ke dalam laci. Bukan ke tempat sampah.
Tiara menyipitkan mata. "Lo simpen? Oh, jadi gitu."
"Simpen buat kenang-kenangan doang. Bukan apa-apa."
"Kenang-kenangan kok dirapikan begitu," sergah Tiara, dan Iccha memilih sibuk membuka email-email yang bahkan belum dia baca subjeknya.
Gelas itu tidak langsung diminum. Iccha membaca catatannya dua kali, lalu memandang pintu ruangan Ammar. Sebagian dirinya masih mengharapkan lelaki itu keluar dan menanyakan apa yang sedang dibacanya. Harapan seperti itu membuatnya kesal kepada diri sendiri.
Arya muncul beberapa menit kemudian, membawa dokumen yang harus diteruskan ke Ammar. Iccha mengucapkan terima kasih untuk kopi, tetapi menambahkan bahwa dia tidak ingin Arya repot membelikannya setiap hari.
"Bukan repot," kata Arya. "Tapi kalau kamu nggak nyaman, aku berhenti."
"Bukan nggak nyaman. Aku cuma ... belum biasa."
"Ya sudah. Nggak perlu dijawab buru-buru."
Iccha mengangguk. Ada perasaan hangat, tetapi juga rasa bersalah yang belum hilang. Arya tidak tahu bahwa semula dia dipilih karena brewok tipis dan jabatan yang dianggap cukup untuk membuat Ammar panas. Lelaki di depannya seharusnya mendapat alasan yang lebih baik daripada itu.
"Makan malam kemarin sebenarnya bikin kamu nggak enak, ya?" tanya Iccha.
Arya tidak langsung menggeleng. "Aku bingung. Tapi kamu juga kelihatan sedih. Jadi aku pikir jangan menambah pertanyaan waktu itu."
Jawaban jujur tersebut lebih membuat Iccha terdiam daripada jika Arya mengatakan tidak apa-apa. Ternyata keributan itu bukan sekadar adegan yang selesai sesudah mereka pergi dari restoran. Orang yang dia ajak juga membawanya pulang.
"Maaf," ujar Iccha.
"Terima kasih sudah bilang."
Dia tidak memaksa Iccha menjelaskan hubungan masa kecilnya dengan Ammar. Setelah menyerahkan berkas, Arya kembali ke ruang kerja. Iccha meletakkan gelas di sisi komputer dan baru mencicipi ketika lelaki itu tidak terlihat lagi. Rasanya sesuai pesanan, tetapi kali ini dia tidak merasa bebas menikmatinya tanpa berpikir.
Ketika Ammar masuk, Iccha membacakan agenda tanpa menyebut kopi. Pekerjaan mereka berjalan cukup baik sampai Ammar melihat catatan kecil yang terselip di laci terbuka. Lelaki itu berhenti di tengah gerakan membuka map.
"Dari siapa?"
"Pak Arya."
"Ada urusan kerjaan?"
"Catatan semangat. Bukan dokumen perusahaan, Pak."
Ammar menatapnya. Iccha membalas pandangan itu tanpa tersenyum. Dia tidak sengaja berbicara keras supaya orang lain mendengar. Dia juga tidak menyembunyikan gelasnya. Untuk pertama kali, perhatian dari Arya ingin dia terima tanpa menjadikannya pertunjukan.
"Rapat jam sepuluh jangan terlambat," kata Ammar akhirnya.
"Sudah saya siapkan."
Dia kembali bekerja, sementara Ammar masuk ke ruangannya. Percakapan pendek itu tidak memberi Iccha jawaban apa pun tentang perasaan lelaki tersebut. Namun, dia berhasil tidak mengejarnya dengan pertanyaan yang sama. Itu kemajuan kecil yang tidak diketahui siapa-siapa.
Siangnya, saat mengantar Iccha kembali ke mejanya selesai makan, Arya berhenti dan menarik napas dalam-dalam seperti orang mau terjun ke kolam.
"Iccha, aku boleh ngomong serius?"
Iccha menoleh. Ada nada berbeda di suara Arya kali ini. "Boleh. Kenapa?"
"Aku suka kamu." Arya menatapnya lurus, tidak kabur ke mana-mana. "Bukan sebagai teman. Aku tahu kita baru kenal sebentar, dan aku tahu kamu mungkin belum siap. Jadi aku nggak minta jawaban sekarang. Aku cuma mau kamu tahu kalau perasaanku ini tulus, bukan main-main."
Iccha membeku di tempatnya.
Di kepalanya, rencana awal masih terekam jelas: jadikan Arya alat untuk memanaskan Ammar. Alat. Dan sekarang alat itu berdiri di depannya dengan mata yang jujur, mengatakan perasaan yang tulus, dan Iccha merasa seperti orang paling jahat di gedung ini.
"Arya ... aku ...," Iccha menelan ludah. "Aku butuh waktu."
"Aku tunggu. Sebentar atau lama, aku tunggu." Arya tersenyum, tidak memaksa sedikit pun. "Yang penting kamu tahu."
Iccha tidak langsung menjawab bahwa dia bersedia menunggu. Dia memegang ujung map yang tadi dibawa Arya, merasakan kertasnya melengkung karena diremas terlalu lama.
"Ada yang harus kamu tahu," katanya. "Aku masih punya perasaan buat orang lain. Aku belum selesai sama itu."
Arya menatapnya, lalu mengangguk pelan. Ia tidak menanyakan nama. Setelah kejadian di restoran, mungkin dia sudah mempunyai dugaan.
"Aku nggak mau kamu kira diamku berarti aku sudah bisa menerima kamu," lanjut Iccha. "Kamu baik. Tapi aku takut aku cuma senang karena kamu memperlakukan aku dengan baik."
"Aku menghargai kamu bilang begitu."
"Jadi kalau kamu mau berhenti, nggak apa-apa. Jangan merasa harus menunggu karena tadi sudah ngomong."
Ucapan itu terasa aneh di lidah Iccha. Biasanya dia ingin dipilih dan diperjuangkan. Sekarang dia justru memberi kesempatan lelaki baik ini pergi sebelum lebih jauh disakiti.
Arya menarik napas. "Aku masih ingin kenal kamu. Tapi kalau nanti aku merasa nggak sanggup, aku akan bilang juga."
Iccha mengangguk. Mereka tidak membuat janji besar, tidak meresmikan hubungan, dan tidak saling menggenggam tangan. Namun, sesudah Arya pergi, Iccha merasa lebih ringan karena satu hal yang selama ini disembunyikannya sudah diucapkan.
Ia masuk ke ruang kerja Ammar untuk menyerahkan berkas yang harus ditandatangani. Lelaki itu memperhatikan wajahnya terlalu lama, tetapi Iccha tidak bertanya kenapa.
"Ada yang belum beres?" tanya Ammar.
"Nomor dua butuh persetujuan Bapak. Yang lainnya sudah lengkap."
Ammar menunduk ke dokumen, lalu menandatangani bagian yang dimaksud. Iccha menunggu sambil memerhatikan buku-buku jarinya. Bekas merah masih ada, meski tidak separah sebelumnya.
"Tangannya kalau masih sakit, jangan dipakai mukul lagi," ucap Iccha spontan.
Ammar mengangkat wajah. "Gue nggak mukul siapa-siapa."
"Tembok juga bisa bikin patah tulang."
Dia mengambil berkas sebelum lelaki itu sempat membalas. Di ambang pintu, Iccha berhenti sebentar. Ada keinginan mengatakan bahwa dia masih menyimpan hadiah ulang tahun. Namun, mengingat jawaban di restoran membuat mulutnya kembali tertutup.
"Saya lanjut kerja dulu, Pak."
Ammar melihat pintu tertutup. Kalimat perhatian tadi pendek sekali, tetapi justru itu yang membuatnya sulit kembali membaca dokumen. Dia meletakkan pulpen, lalu memandang tangannya sendiri. Rasa sakitnya sudah berkurang. Penyesalan atas alasan mengapa tangan itu terluka belum.
Pagi berikutnya, terjadilah adegan yang membuat seluruh lantai tiga menahan napas, meski hanya dua orang yang ada di dalam ruangan itu.
Arya mengetuk pintu ruang kerja Ammar Syalendra.
"Masuk."
"Selamat pagi, Pak. Maaf mengganggu. Ada urusan pribadi, sebentar saja."
Ammar mendongak dari laptopnya. "Bicara."
Arya menegakkan badannya seperti menghadap komandan upacara. "Pak, saya mau meminta izin untuk mendekati Iccha. Serius, Pak. Bukan main-main."
Pulpen di tangan Ammar berhenti bergerak.
"Saya tahu ada rumor-rumor di kantor ini, Pak. Tentang Bapak dan Iccha. Kalau rumor itu benar, kalau Bapak dan Iccha ada hubungan, saya mundur teratur mulai hari ini juga. Saya bukan orang yang suka maju di lahan orang, Pak."
Hening yang turun ke ruangan itu tebalnya bukan main.
Ammar menatap Arya lama sekali. Di dalam dadanya ada dua pasukan yang sedang perang saudara. Satu pasukan menyuruhnya berdiri dan berkata: ada. Ada hubungan. Dia milik gue. Mundur kamu. Pasukan satunya, yang lebih besar dan lebih bodoh, pasukan bernama gengsi, menahan mulutnya rapat-rapat.
"Tidak ada hubungan apa-apa antara saya dan dia," terdengar suara Ammar akhirnya. Datar. Rapi. Mematikan. "Urusan kalian berdua. Saya tidak mengatur perasaan pegawai. Kalau sampai ada rencana menikah, peraturan kantor tetap harus dibicarakan."
Arya tersenyum lega, membungkuk sopan. "Terima kasih, Pak. Saya akan menghormati keputusan Iccha."
Arya belum beranjak ketika Ammar menanyakan apakah pengakuan itu sudah disampaikan kepada Iccha. Pertanyaan tersebut terdengar seperti urusan administratif, tetapi tangan Ammar berhenti di atas berkas.
"Sudah, Pak. Dia belum memberi jawaban."
"Lalu kenapa datang ke saya?"
"Supaya saya tidak bekerja berdasarkan gosip. Bukan meminta Bapak memutuskan untuk dia."
Ammar mengangguk sekali. Jawaban itu masuk akal, justru terlalu masuk akal untuk dibantah. Ia meraih pulpen, lalu meletakkannya lagi.
"Pekerjaan jangan terbengkalai."
"Baik, Pak."
Arya keluar tanpa mengetahui betapa keras Ammar ingin memanggilnya kembali. Namun, pertanyaan apa yang hendak diajukan? Apa dia mau melarang sesuatu yang baru saja dikatakannya bukan urusannya?
Pintu tertutup. Ammar duduk diam di kursi kebesarannya, di ruangan yang tiba-tiba terasa lebih besar dan lebih kosong dari biasanya.
Tidak ada hubungan apa-apa. Dia mengulang kalimatnya sendiri di kepala. Lima kata yang baru saja dia serahkan seperti menandatangani surat penyerahan.
Mundur teratur. Gampang sekali orang itu bilang mundur. Batin Ammar pahit. Kalau saja mundur semudah itu buat gue.
Sore itu, ketika seluruh karyawan sudah pulang dan lampu lantai tiga dipadamkan separuh, Ammar masih berdiri di jendela ruang kerjanya, menatap lampu-lampu Jakarta yang menyala satu per satu. Tidak ada yang berani mengetuk pintunya. Di kantor ini, orang tahu kapan bos mereka sedang tidak ingin ada di dunia ini.
Malamnya, di teras belakang rumah, Erika sedang mengetik ditemani angin malam dan nyamuk-nyamuk yang rakus. Ammar datang tanpa suara, duduk di kursi sebelahnya, dan diam seperti patung selama tiga menit penuh.
Erika melirik. "Bang, kalau mau ngomong, ngomong. Jangan jadi jumpscare."
"Si Arya itu," Ammar akhirnya buka suara, masih menatap ke taman, "menurutmu gimana orangnya?"
Erika menahan senyumnya dengan susah payah. "Kenapa, Bang? Mulai panas?"
"Jawab saja."
"Arya itu baik, sopan, gentle, konsisten, berani ngomong perasaannya, dan kabarnya hari ini berani minta izin langsung ke orang yang paling ditakutinya di kantor." Erika menghitung dengan jarinya satu per satu. "Lengkap, Bang. Pesaing berat. Kalau ini lomba, Bang sudah ketinggalan tiga putaran."
Ammar diam. Rahangnya bergerak sedikit.
"Dan satu lagi, Bang," Erika menambahkan, "Arya itu nggak pernah nyuruh orang nebak-nebak. Dia bilang langsung: aku suka kamu. Enak banget dengernya. Nggak kayak orang yang ganti ban orang diam-diam terus ngancam tukang parkirnya."
"Maksudmu tukang parkir?"
"Pak Hendra, Bang. Siapa lagi."
Mata Ammar menyipit. "Dia buka mulut."
"Buka mulut karena nurani, Bang. Bukan karena gaji. Ada bedanya." Erika menyeruput air putihnya. "Dunia ini nggak semuanya bisa dikendalikan pakai perintah, Bang. Apalagi perasaan orang."
"Bang," suara Erika melembut, "aku pernah bilang sama Mas Jo, dan sekarang aku bilang sama Bang. Witing tresno jalaran seko kulino. Cinta itu tumbuh karena terbiasa. Mbak Iccha sekarang tiap hari dibiasakan bahagia sama Arya. Kalau Bang terus diam, suatu hari cintanya beneran pindah. Kulkas didiemin lama-lama juga dicabut colokannya, Bang. Dinginnya percuma kalau nggak ada yang butuh."
Ammar berdiri dan pergi tanpa satu kata pun. Tapi Erika melihat langkahnya kali ini tidak setegas biasanya.
Erika tidak mengikuti Ammar ketika dia beranjak. Ia menutup laptop dan memikirkan percakapan mereka. Kali ini dia tidak mengirim pesan rahasia kepada Iccha untuk memberi tahu bahwa Ammar cemburu. Kalau lelaki itu ingin diketahui perasaannya, dia harus mengatakannya sendiri.
Tidak lama kemudian, ponsel Erika bergetar. Sofyan memberi kabar bahwa dia sudah kembali bertugas. Pesannya singkat, tetapi tidak dingin. Dia juga menanyakan apakah Erika sudah makan.
Erika membalas dan menyebut bahwa dia tadi sempat berbicara dengan Ammar di teras. Tidak ada cerita panjang, hanya kabar bahwa dia tetap menolak ikut permainan lama. Ia tidak mau kedekatan apa pun kembali disembunyikan lalu berubah menjadi alasan pertengkaran.
Sofyan mengirim jawaban beberapa menit kemudian. Terima kasih sudah cerita, Nduk.
Erika membaca kalimat itu sambil menghela napas lega. Jujur ternyata tidak selalu langsung disambut marah seperti yang dia takutkan. Kadang yang dibutuhkan orang lain memang cuma kesempatan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Dia hendak membuka dokumen novelnya lagi ketika melihat Iccha melewati pintu teras. Wanita itu memegang gelas kosong, mungkin baru mengambil minum.
"Ammar tadi di sini?"
"Iya, Mbak. Tapi kami ndak bikin rencana macam-macam."
Iccha mengangguk. Ia berdiri sebentar, kemudian mengatakan bahwa Arya sudah menyatakan perasaan. Erika menutup laptop sepenuhnya agar temannya tidak merasa sedang berbicara kepada orang yang setengah mendengar.
"Aku bilang belum siap," tutur Iccha. "Aku bilang masih suka orang lain."
"Bagus, Mbak. Sekarang Arya bisa memutuskan sendiri mau lanjut atau ndak."
Iccha menarik kursi dan duduk. Kali ini mereka tidak menyusun cara memanaskan siapa-siapa. Erika hanya menemani sampai minuman di gelas temannya habis, dan percakapan yang tenang itu terasa lebih berguna daripada semua rencana cerdik yang pernah mereka buat.
Dan malam itu, di kamarnya, Ammar Syalendra membuka chat dengan Iccha untuk pertama kalinya bukan untuk urusan kantor. Dia mengetik satu kalimat pendek.
'Ban-nya sudah aman dipakai jalan jauh.'
Dia menatap kalimat itu lama. Sangat lama. Lalu menghapusnya huruf per huruf, meletakkan ponselnya menghadap ke bawah, dan menatap langit-langit kamar sampai pagi menjemput.