Erika membuka foto itu sekali lagi, lalu menurunkan kecerahan layar supaya tidak membangunkan Iccha. Rambut pirang, tangan yang saling berdekatan, dan punggung kakaknya tetap tampak sama. Yang berubah hanya keberaniannya untuk menyebut kemungkinan yang sejak tadi memenuhi kepala.
Kalau benar itu Yoevanca, kenapa Mas Aldin memasangkan cincin? Kalau bukan, kenapa Erika justru memikirkan calon istri Jo lebih dulu daripada perempuan lain?
Dia meraih buku batik dan meletakkannya di pangkuan. Beberapa halaman depan berisi kisah pertemuan Jo dan Caca. Tulisan Jo pada satu bagian masih terlihat, mengoreksi nama restoran yang salah dicatat Erika. Orang itu sampai repot membetulkan kenangan kecil supaya hadiah pernikahannya terasa sungguh-sungguh.
Erika tidak jadi menulis dugaan. Ia hanya mencatat nama butik, jam ketika melihat Aldin, dan apa yang benar-benar disaksikannya. Setelah itu dia menambahkan bahwa wajah perempuan tidak terlihat jelas. Kalimat terakhir terasa penting. Ia tidak ingin ketakutan berubah menjadi sesuatu yang nanti dianggap fakta.
Ia membuka percakapan dengan Kirana. Panggilan suara ada tepat di ujung jarinya, tetapi jam sudah lewat tengah malam. Erika membayangkan wanita itu terbangun, mendengar kabar yang belum bisa dijelaskan, lalu menunggu sendirian sampai pagi. Dia mengurungkan niatnya.
"Aku ndak lupa, Mbak," bisiknya. "Aku cuma belum tahu harus ngomong apa."
Di ranjang, Iccha bergerak dan menarik selimut sampai dagu. Erika segera mengunci ponsel. Ia merapikan kotak pulpen ke sisi meja, menutup buku catatannya, lalu mengambil air minum. Tangannya masih gemetar ketika gelas diletakkan kembali.
Tidur tidak langsung datang. Erika sempat mendengar langkah di lorong, kemudian suara pintu kamar Ammar. Ia tidak keluar. Malam ini dia sudah cukup banyak berada di antara masalah orang lain. Sesudah berdoa pelan, Erika memejamkan mata dan berusaha berhenti membayangkan jawaban yang belum dimilikinya.
Pagi datang bersama ketukan Lina. Erika baru selesai mencuci muka ketika sahabat barunya itu menunjukkan mangkuk kecil berisi bubur.
"Kamu kemarin bilang mau ikut antar ke Kiki. Masih mau?"
Erika mengangguk. Dia mengambil selendang tipis untuk menutup bahunya, lalu berjalan bersama Lina. Di depan kamar Kiki, mereka mengetuk dua kali. Tidak ada jawaban sampai Lina menyebut bahwa mereka hanya mengantarkan sarapan.
"Taruh di luar," sahut Kiki akhirnya.
Lina hendak menurut, tetapi Erika memandang lantai. Meletakkan makanan di sana rasanya tidak enak.
"Boleh aku taruh di meja dalam, Mbak? Biar ndak kesenggol orang lewat. Habis itu kami keluar lagi."
Pintu terbuka sedikit. Kiki berdiri dengan wajah lelah dan rambut yang belum disisir. Tatapannya berhenti pada Erika, seolah ingin bertanya siapa yang mengundang wanita itu datang.
"Aku nggak nyuruh kamu."
"Iya. Aku yang nawarin ikut. Kalau Mbak ndak mau, aku tinggal di sini saja. Lina yang masuk."
Kiki menatapnya beberapa saat, lalu membuka pintu lebih lebar. Erika masuk hanya sampai meja kecil. Dia menaruh bubur, meletakkan sendok di sampingnya, kemudian mundur. Tidak ada nasihat tentang Tama. Tidak ada pula pertanyaan kenapa Kiki tidak keluar sejak kemarin.
"Jangan bilang ke Daddy kalau aku baru bangun," kata Kiki.
Lina mengangguk, tetapi Erika tidak menjanjikan kebohongan. "Kalau Uncle tanya, aku bilang buburnya sudah diantar."
Kiki mendengus. Namun, dia tidak menyuruh Erika membawa makanannya kembali. Itu sudah cukup untuk pagi ini. Lina memberi senyum kecil sesudah mereka keluar, dan Erika membalas tanpa merasa mereka baru menyelesaikan sesuatu yang besar.
Masih ada orang yang sakit hati di kamar itu. Mangkuk bubur tidak bisa menyembuhkannya dalam satu pagi.
Pagi itu adalah hari terakhir Sofyan di Jakarta. Meja makan keluarga Jack pagi itu terasa lebih hangat dari biasanya, mungkin karena tamu dari Semarang itu pamit dengan cara yang benar: sopan, banyak terima kasih, dan tidak lupa membungkuskan oleh-oleh untuk para maid di dapur.
"Kapan-kapan main lagi ke sini, Nak Sofyan," kata Daddy Jack sambil menepuk bahu Sofyan. "Pintu rumah ini terbuka untukmu."
"Nggih, Om. Matur nuwun sudah disambut dengan baik," jawab Sofyan dengan dua tangan menyalim.
"Yan," sambung Jo sambil menyodorkan roti bakar ke mulutnya, "bulan depan kalau ada acara keluarga, lu datang ya. Biar Daddy ada temen diskusi soal dunia perpolisian. Daddy tuh penggemar cerita detektif."
"Siap, Mas Jo."
Hanya satu orang di meja itu yang tidak ikut tersenyum lebar. Ammar makan dalam diam seperti biasa, tapi beberapa kali matanya melirik ke arah Sofyan dan Erika yang duduk bersebelahan. Tidak ada yang tahu apa isi kepalanya. Mungkin Ammar sendiri juga tidak tahu.
"Eh, Sofyan," Lina menyela sambil menunjuk dengan sumpitnya, "kalau kamu ketemu Abang di jalan, tolong ingatkan Abang Ammar ya. Dia itu parkir seenaknya di garasi, mobilnya suka ngalangin mobilku."
"Lina," Daddy Jack menggeleng pelan.
"Iya, Mbak. Nanti saya tilang," jawab Sofyan serius, dan seisi meja tertawa, kecuali Ammar yang menatap mereka semua seperti menatap rombongan anak TK studi banding.
Kiki, yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, mendengus tanpa mengangkat wajah. "Cowok polos emang gitu. Dikasih becandaan dibawa serius. Nanti di Jakarta dimainin orang, baru nangis."
"Kiki," Jo memperingatkan.
"Aku cuma bilang fakta."
Sofyan hanya tersenyum tipis, tapi Erika melihat tangannya di bawah meja mengepal pelan lalu dibuka lagi. Erika memilih pura-pura tidak melihat. Ada hal-hal yang kalau ditanggapi malah jadi besar, kata Ibunya dulu. Diam itu kadang bukan kalah, tapi dewasa. Meski jujur saja, Thor, dewasa itu capek sekali.
Erika menunggu sampai Daddy kembali duduk sebelum mengajak Sofyan ke teras. Mereka tidak langsung membicarakan rencana jalan-jalan. Pesan yang dikirim Erika semalam masih menggantung di antara mereka.
"Mas, aku bilang ada yang harus dijelaskan. Aku mau ngomong sekarang, sebelum Mas pulang."
Sofyan meletakkan tas oleh-oleh di bangku dan mempersilakannya duduk. Erika merapikan ujung bajunya, lalu menarik napas. Ia menceritakan bahwa Ammar meminta bantuan membuat Iccha cemburu. Hadiah ponsel dan laptop diberikan ketika dia mulai mengikuti permintaan itu. Dia tidak menutupi bahwa dirinya pernah berpura-pura menerima perhatian yang sebenarnya tidak dia inginkan.
"Kenapa kamu mau?" tanya Sofyan, suaranya tidak lagi ringan.
"Awalnya aku takut bikin masalah di rumah tempat aku kerja. Terus aku merasa aku bisa bantu mereka. Ternyata malah bikin banyak orang sakit hati."
"Termasuk aku."
Erika mengangguk. "Iya, Mas. Aku minta maaf. Aku harusnya cerita sebelum kejadian di meja makan."
Sofyan berdiri dan berjalan beberapa langkah. Erika tidak mengejarnya. Ia membiarkan kekasihnya mempunyai waktu untuk marah tanpa harus segera dibujuk agar kembali tersenyum.
"Terus sekarang?"
"Aku sudah bilang aku berhenti. Hadiah itu bukan alasan buat nyuruh aku melakukan semuanya. Kalau harus dikembalikan, aku bersedia."
"Kamu sudah ngomong begitu ke dia?"
"Sudah. Tadi malam."
Sofyan menatapnya lama, lalu duduk lagi. Ia belum terlihat tenang. Namun, dia tidak meminta Erika langsung berkemas atau menelepon Aldin untuk mengadu.
"Aku nggak suka kamu disuruh main seperti itu," katanya. "Aku juga nggak suka kamu memilih diam ke aku."
"Aku tahu. Kalau sekarang Mas belum bisa percaya, aku ndak bisa maksa. Tapi aku ndak mau berbohong lagi soal ini."
Mereka terdiam. Di halaman, Pak Hendra sedang membantu memindahkan pot. Suara orang bekerja terasa biasa sekali, berlawanan dengan betapa berat percakapan di teras itu bagi Erika.
"Hari ini tetap jalan?" tanyanya akhirnya.
Sofyan mengangguk pendek. "Tetap. Aku datang buat ketemu kamu. Aku cuma perlu waktu buat nerima penjelasanmu."
Erika bersyukur, tetapi tidak menganggap itu berarti kesalahannya sudah selesai. Sepanjang perjalanan nanti dia harus belajar memberi ruang kepada orang yang baru saja dia kecewakan, bukan menuntut semuanya kembali normal karena dia sudah meminta maaf.
Siangnya, sebelum kereta Sofyan berangkat sore, dua sejoli itu menyempatkan jalan-jalan ke Kota Tua. Menyewa sepeda ontel warna-warni, berfoto dengan latar gedung tua, makan kerak telor yang gosong di pinggir jalan. Erika tertawa terus. Sofyan memperhatikan pacarnya itu seperti ingin merekam semuanya untuk dibawa pulang ke Semarang.
"Mas, fotoin aku dong. Yang candid," pinta Erika, bergaya di depan sebuah gedung tua.
Sofyan memotretnya berkali-kali, lalu menatap hasilnya lama sekali. "Cantik," katanya pelan. "Nduk, kalau nanti kita menikah, kamu mau kan pindah ke Semarang? Jakarta itu kota buat kerja, bukan buat hidup."
Erika tertawa mengalihkan. "Aduh, Mas. Prewedding saja belum, sudah ngatur domisili."
Tapi di dalam hatinya, kalimat itu tersimpan rapi seperti tiket yang belum tentu dipakai: Jakarta bukan buat hidup. Padahal belum lama dia di sini, dan entah kenapa, justru di sinilah dia merasa mulai hidup.
"Nduk," kata Sofyan saat mereka duduk di bangku taman Fatahillah, "tahun depan aku mau ngelamar kamu resmi ke Ibu. Aku sudah mulai nabung. Pangkatku juga insya Allah naik tahun ini."
Erika menelan kerak telornya pelan-pelan. "Mas Yan ... itu kan masih tahun depan. Kita lihat nanti, ya. Aku masih mau nulis dulu. Kontrakku sama Mas Jo belum kelar."
"Aku tahu. Aku tunggu." Sofyan menggenggam tangannya. "Tapi jangan kelamaan, Nduk. Aku nggak suka menunggu terlalu lama."
Ada sesuatu di nada kalimat terakhir itu yang membuat Erika tidak bisa menjawab dengan canda. Sofyan memang sayang padanya, dia tahu itu. Tapi sayangnya Sofyan itu kadang seperti selimut yang terlalu tebal: hangat, tapi bikin sesak kalau dipakai terus.
"Dan soal Bang Ammar itu," Sofyan menatapnya, "aku sudah pikir-pikir. Aku milih percaya sama kamu, Nduk. Percaya penuh. Jadi jangan khianati kepercayaan itu."
Kalimat itu terdengar seperti ucapan cinta sekaligus ancaman halus. Erika hanya bisa mengangguk. "Nggih, Mas."
Sore harinya di Stasiun Gambir, perpisahan itu tidak sedramatis yang Erika bayangkan. Sofyan mencium keningnya di depan pintu masuk peron, menasihatinya panjang lebar untuk terakhir kalinya, lalu menghilang di antara arus penumpang.
"Jangan berubah, Nduk. Kabari aku tiap hari," pesannya dari kejauhan.
Erika melambaikan tangan sampai Sofyan tidak terlihat lagi di antara penumpang. Ia baru beranjak setelah menerima pesan bahwa lelaki itu sudah duduk di dalam kereta. Lalu dia berdiri di dekat pintu masuk stasiun, dan merasakan sesuatu yang membuatnya langsung beristighfar.
Sedih itu ada. Tapi di sela-selanya, ada rasa lega. Tipis, tapi nyata.
Astagfirullah. Jahatnya aku. Orang tiga hari naik kereta jauh-jauh dari Semarang buat nemuin aku, kok pas dia pulang aku malah lega. Erika memukul keningnya sendiri pelan. Jarak itu memang aneh, Thor. Kadang mendekatkan yang jauh, kadang menjauhkan yang dekat.
Sementara itu, pada jam yang sama di garasi rumah megah Daddy Jack, Iccha Azzalia berdiri mematung di depan mobil merahnya dengan mulut terbuka.
Dua ban depan mobilnya bukan ban yang kemarin. Dua ban itu baru. Baru kinclong. Hitam pekat, bau karetnya saja masih tercium. Dia ingat ban sebelah kiri sempat bocor dan sudah kembali bisa dipakai setelah pulang kantor. Namun, saat itu dia terlalu kesal untuk memeriksa siapa yang mengurusnya.
"Pak Hendra!" panggil Iccha dengan suara yang membuat satpam itu berlari datang. "Ini! Ban gue! Siapa yang ganti?!"
Pak Hendra garuk-garuk kepala. "Itu ... Mas Ammar yang panggilkan bengkelnya, Mbak. Waktu mobil Mbak bocor kemarin itu, waktu Mbak pergi."
"Ammar?" Jantung Iccha berdebar aneh. "Terus kenapa Bapak nggak bilang-bilang?"
"Pesannya Mas Ammar, Mbak. Beliau bilang, jangan bilang siapa-siapa, apalagi Mbak. Tapi ...," Pak Hendra tersenyum sungkan, "... saya pikir Mbak tetap perlu tahu."
Pak Hendra pergi. Iccha berjongkok di depan ban baru itu dan menyentuhnya seperti orang menyentuh benda pusaka.
Gila. Dia perhatiin ban mobil gue. Apa itu berarti dia juga perhatiin gue? Batin Iccha berbunga-bunga.
Lalu dua detik kemudian dia menepuk pipinya pelan.
Stop, Cha! Jangan kegeeran! Bisa aja dia cuma takut lo kecelakaan terus nuntut dia! Lo itu baru kemarin memutuskan nyerah sama dia, ingat?!
Tapi meski mulutnya mengomeli diri sendiri, senyumnya tidak mau turun dari wajahnya sampai dia beranjak mengambil barang dari bagasi dengan pikiran yang kembali kusut. Karena senyum itu seharusnya muncul karena Arya, bukan karena ban dari si kulkas.
Malamnya, begitu Erika sampai di kamar, Iccha langsung menyambarnya dengan cerita ban itu, lengkap dengan gerakan tangan dramatis dan suara yang naik turun seperti roller coaster.
"Terus kata Pak Hendra, dia pesen jangan bilang-bilang, Rik! Jangan bilang-bilang! Kalau dia nggak ada apa-apa sama gue, ngapain dia sembunyi-sembunyi begitu?! Jelasin!"
Erika melepas sepatunya dengan santai, lalu tersenyum penuh kemenangan. "Tuh kan, Mbak. Aku bilang juga apa. Kulkas mulai defrost."
"Defrost apaan sih lo! Bahasa planet!"
"Bahasa dapur, Mbak. Kulkas kalau kelamaan nggak dibuka, esnya numpuk. Sekali dibuka, netes semua." Erika menimpuk bantal ke pangkuannya sendiri. "Bang Ammar itu esnya lagi netes. Pelan sih, tapi netes."
"Terus gue harus gimana? Gue kan udah mutusin nyerah! Udah ada Arya yang jelas-jelas baik sama gue!"
"Ya udah, jalani sama Arya dengan jujur, Mbak. Jangan pakai Arya buat manas-manasin kulkas. Kulkas nggak bisa cemburu, dia cuma makin beku. Yang kasihan nanti Arya."
Iccha terdiam. Bantal di tangannya menggantung di udara, lalu jatuh ke kasur dengan sendirinya.
"Lo tuh ya, Rik. Kadang ngomongnya kayak orang umur lima puluh tahun."
"Aku memang tua di dalam, Mbak. Mudanya di luar saja."
Kali ini bantal itu benar-benar melayang ke wajah Erika. Tapi Iccha melemparnya sambil tertawa, dan Erika tahu, malam ini Mbak-nya itu akan tidur dengan senyum yang tidak bisa dihapus siapa pun.