Iccha Azzalia banyak kekurangannya, tapi buta bukan salah satunya.
Sejak tadi sebenarnya dia sudah curiga dengan sosok berkaca mata hitam di balik tanaman monstera itu. Mana ada orang waras pakai kaca mata hitam malam-malam di dalam restoran. Dan ketika Erika kembali dari toilet dengan wajah pucat, lenyaplah sudah keraguan Iccha.
Wanita itu berdiri dari kursinya. Arya menoleh bingung. "Iccha, kamu mau ke mana?"
"Sebentar. Ada urusan sama sepasang intel."
Dengan langkah tegas dan heels yang berdenting seperti genderang perang, Iccha berjalan ke meja pojok dan berdiri di sana dengan kedua tangan di pinggang.
"Malam, Pak Ammar. Lagi kencan?"
Separuh pengunjung restoran menoleh. Gitaris di panggung kecil bahkan memelankan petikannya, ikut penasaran.
Ammar melepas kaca mata hitamnya dengan tenang, gerakannya lambat seperti orang yang sudah menyerah untuk bersembunyi. "Makan malam. Seperti kalian," jawabnya datar.
"Makan malam. Di restoran yang sama. Jam yang sama. Hari yang sama. Di meja pojok. Di balik tanaman. Pakai kaca mata hitam." Iccha tertawa pendek, tawa yang tidak lucu sama sekali. "Kebetulan banget ya, Pak? Sekebetulan harga diri saya yang lu injak-injak?"
"Cha-"
"Dan kamu, Rik!" Iccha mengalihkan pelototannya ke Erika. "Katanya kamu punya pekerjaan tambahan! Pekerjaannya ini?! Yang ada kamu malah jadi intel bayaran!"
Erika membuka mulut, tapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Ketahuan basah, kata orang Jawa. Ketsedhah, malah.
Arya menghampiri dengan wajah penuh kebingungan yang masih sopan. "Pak Ammar, maaf, saya kurang paham situasinya. Kalau Bapak keberatan saya makan malam dengan Iccha, Bapak bisa bilang baik-baik. Saya dan Iccha hanya teman, Pak."
"Bagus," jawab Ammar. Dingin. Rata. Tanpa jeda. "Jadi bukan urusan saya."
Hening.
Kalimat itu melayang di udara restoran seperti pisau yang dilepas tanpa bidik. Iccha menatap Ammar lama sekali, menunggu satu kata lagi, satu tarikan napas, satu tanda bahwa lelaki itu peduli sedikit saja. Tapi tidak ada. Wajah Ammar rata seperti permukaan es.
"Kalian dengar sendiri kan?" Iccha tertawa lagi, dan kali ini suaranya bergetar di ujungnya. "Bukan urusan dia. Bagus. Bagus sekali." Dia berbalik, meraih lengan Arya. "Arya, kamu mau kan anter aku pulang? Sekarang?"
"Tentu, Iccha. Tentu." Arya mengangguk, lalu memberi Ammar dan Erika anggukan canggung terakhir sebelum berjalan keluar restoran mengikuti Iccha yang langkahnya cepat dan punggungnya kaku.
Musik kembali berbunyi, liriknya tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sutradara malam ini rupanya punya selera humor yang kejam.
Erika menatap Ammar dengan napas tertahan. "Bang ... kok ngomongnya gitu sih? Dia nungguin Bang marah. Nungguin Bang larang. Bukan nungguin 'bukan urusan saya'."
"Selesai makannya. Kita pulang." Ammar berdiri, mengeluarkan dompet dan meletakkan tumpukan uang di atas meja, jumlahnya bisa membiayai satu meja makan beserta keluarganya. Lalu dia berjalan keluar dengan kaca mata hitam tergantung di saku kemejanya, tidak dipakai lagi. Buat apa menyamar kalau semua sudah ketahuan.
Di dalam mobil, selama lima menit pertama tidak ada yang bicara. Hanya suara mesin dan deru jalanan Jakarta yang tidak pernah tidur.
Erika tidak tahan lebih lama. "Bang Ammar itu geblek, tahu nggak?"
"Jaga mulutmu, Rik."
"Geblek!" ulang Erika malah makin keras. "Mbak Iccha itu berdandan cantik, terima ajakan Arya, ketawa-ketiwi sepanjang malam, itu semua buat siapa? Buat Bang! Supaya Bang cemburu! Supaya Bang sadar! Lha Bang datang, nguntit kayak begitu, terus pas ditanya malah jawab 'bukan urusan saya'. Aku yang cewek aja ngilu denger itu, Bang!"
Ammar diam. Lampu merah. Mobil berhenti. Jari-jarinya mengetuk setir dengan ritme yang tidak tenang.
"Dia kelihatan bahagia sama Arya," katanya akhirnya, pelan, hampir tidak terdengar di antara deru mesin.
"Itu akting, Bang! Perempuan kalau patah hati aktingnya kelas dunia! Kalau ada piala citra buat pura-pura bahagia, Mbak Iccha menang sepuluh tahun berturut-turut!"
Ammar menoleh ke arah Erika. Menatapnya beberapa detik. "Kamu yakin?"
"Aku ndak tahu semua isi hatinya, Bang. Tapi aku lihat dia nangis. Aku lihat dia menunggu Bang jawab tadi. Itu yang aku tahu."
Lampu hijau. Mobil kembali melaju. Ammar tidak menjawab, tapi genggaman tangannya di setir terlihat sedikit mengendur.
"Bang," suara Erika melembut, "aku mau ngomong serius. Misi kita ini udah kelamaan. Mas Sofyan mulai curiga, aku bohong ke dia tiap hari, dan aku ndak tega sama Mbak Iccha. Mending kita selesaikan pelan-pelan. Caranya bukan cari misi baru. Caranya Bang jujur sama perasaan Bang sendiri."
"Tinggal selangkah lagi, Rik."
"Selangkah itu kalau dua orang jalannya berlawanan arah, namanya menjauh, Bang. Bukan mendekat."
Untuk pertama kalinya malam itu, Ammar tertawa kecil. Pendek, pelan, tapi asli. "Kamu ini, umur segini kok omongannya kayak konsultan pernikahan."
"Biarin. Itulah gunanya membaca seribu novel, Bang. Aku tahu ending cerita kalau tokohnya saling gengsi. Endingnya nggak pernah bagus."
Ammar diam lagi sampai mobil masuk ke pekarangan rumah. Sebelum Erika turun, lelaki itu berkata pelan tanpa menoleh.
"Makasih, Rik."
Dua kata. Tulus. Tanpa tanda seru. Erika tersenyum kecil dan menutup pintu mobil lebih pelan dari biasanya.
Ammar sempat mengeluarkan ponselnya setelah kendaraan berhenti di halaman. Nama Iccha terbuka di layar. Erika melihat jempolnya menyentuh papan ketik, lalu berhenti. Lelaki itu menghapus sesuatu dan mengunci ponsel lagi.
"Kalau mau nanya dia sudah pulang atau belum, tanya saja," ucap Erika.
"Gue nggak minta dia pulang."
"Aku ndak bilang begitu. Aku bilang tanyain kabarnya."
Ammar menatap kaca depan. Di rumah, beberapa lampu masih menyala. Mungkin Daddy belum tidur. Mungkin Lina sedang menunggu Kiki keluar dari kamar. Rumah sebesar ini penuh orang yang menunggu, tetapi hampir semuanya lebih suka diam daripada mengatakan siapa yang ditunggu.
"Bang, aku juga mau perjanjian kita selesai," lanjut Erika. "Laptop sama hape yang Bang kasih tetap aku jaga. Kalau Bang mau aku balikin, aku balikin. Tapi aku ndak mau hadiah itu jadi alasan aku harus ikut semua keinginan Bang."
"Gue nggak minta barangnya balik."
"Ya sudah. Berarti jangan ancam aku pakai itu atau pakai hakku tinggal di sini. Aku tinggal buat kerja sama Mas Jo."
Ammar menoleh. Erika menahan pandangannya, walaupun tangannya meremas tali tas. Dia takut lelaki itu marah, tetapi lebih takut hidupnya terus berantakan karena tidak pernah berani menolak.
"Kamu ngomong seolah gue orang paling jahat di rumah ini."
"Aku ngomong karena Bang bisa milih berhenti sebelum jadi lebih jahat. Mbak Iccha juga punya hati, Bang. Arya juga. Mas Sofyan juga."
Nama terakhir membuat Ammar terdiam. Dia menatap tas di pangkuan Erika, kemudian menarik napas pendek.
"Besok kita bicara lagi."
"Kalau soal minta aku pura-pura jadi pacar, jawabanku tetap ndak."
Erika turun sebelum keberaniannya hilang. Lututnya terasa pegal setelah duduk lama, tetapi dia berjalan tanpa meminta bantuan. Di depan pintu, dia berhenti sebentar dan menoleh. Ammar belum keluar. Ponselnya menyala lagi di dalam mobil.
Di ruang keluarga, Lina sedang menutup buku. Ia melihat wajah Erika dan segera menggeser tempat duduk. Erika duduk sebentar di sebelahnya, terlalu lelah untuk berpura-pura ceria.
"Mau minum?" tanya Lina.
Erika mengangguk. Lina mengambilkannya air, lalu duduk tanpa bertanya macam-macam. Kebaikan yang tidak menuntut cerita ternyata bisa membuat mata Erika panas.
"Uncle sudah tidur?"
"Sudah. Tadi sempat cari kalian, tapi aku bilang mungkin ada urusan."
"Kiki?"
"Masih di kamar. Aku antar makan, cuma sedikit yang dihabiskan."
Erika menatap pintu kamar yang letaknya jauh dari ruang keluarga. Ia teringat dirinya dijegal, kemudian mengingat Kiki yang menangis karena Tama. Rasa marah tidak hilang begitu saja, tetapi malam ini Erika tidak punya tenaga untuk menyimpan kebencian tambahan.
"Besok kalau bikin bubur, kabari aku. Kita antar bareng kalau dia mau."
Lina mengangguk dengan senyum kecil. Dia tidak menjanjikan bahwa Kiki akan menerima. Erika juga tidak memintanya. Mereka hanya sepakat mencoba, lalu menghabiskan air minum dalam diam.
Sebelum naik ke kamar, Erika mengirim kabar kepada Sofyan bahwa dia sudah pulang. Balasan datang cepat, menanyakan apakah pekerjaannya selesai. Erika menatap pertanyaan itu cukup lama.
Belum, Mas. Ada yang harus aku jelaskan besok. Tapi malam ini aku sudah di rumah.
Ia mengirim kalimat itu tanpa menghapusnya. Sofyan membalas agar dia beristirahat dan tidak lupa salat. Erika menyimpan ponsel, menarik napas, kemudian naik ke lantai dua. Besok dia harus berani bicara lebih jujur daripada malam ini.
Malam itu menjelang tengah malam, Iccha pulang setelah Arya mengantarnya makan di tempat lain. Suara mobil Arya terdengar pergi dari depan gerbang, lalu pintu kamar terbuka dan Iccha masuk dengan mata sembab yang tidak disembunyikan lagi.
Erika langsung bangun dari tempat tidurnya. "Mbak-"
"Gue nyerah, Rik." Iccha menjatuhkan dirinya di atas kasur, masih dengan dress dan heels-nya. "Gue nyerah sama kulkas dua pintu itu. Gue capek. Gue mau coba sama Arya. Dia gentle, dia dengerin gue ngomong, dia ngehargain gue. Selama ini yang gue butuhin kan itu."
Erika duduk di sebelahnya pelan-pelan. "Mbak ... Mbak suka Arya, atau Mbak suka dihargai Arya?"
Iccha menoleh dengan mata merah. "Bedanya apa, Rik? Lama-lama sama aja kan?"
"Beda, Mbak. Beda banget." Erika memegang tangan Iccha. "Kalau Mbak cuma suka dihargainya, terus besok Arya sibuk sehari aja, yang Mbak kangenin tetep kulkas itu. Kangen orangnya, bukan kangen dihargainya. Itu bedanya."
Iccha menatap Erika lama, lalu air matanya jatuh lagi tanpa permisi. "Kamu kok bisa ngomong gitu sih, Burik. Nyebelin."
"Biarin. Aku penulis, Mbak. Dibayar buat tahu perasaan orang."
Untuk beberapa saat Iccha menangis di pelukan Erika, dan Erika mengelus-elus rambutnya seperti yang selalu dilakukan Ibu Mei kalau Erika kecil menangis kalah main lompat tali.
"Kulkas nggak akan pernah nyadar, Rik," isak Iccha.
"Kulkas juga punya tombol defrost, Mbak. Tinggal dicari tombolnya di mana. Sabar, ya."
Setelah membersihkan wajah dan berganti pakaian dengan bantuan Erika, Iccha akhirnya tertidur. Tangannya masih menggenggam ujung lengan baju Erika. Erika membetulkan selimutnya, lalu duduk di sofa dengan ponsel di tangan.
Ketika Iccha akhirnya tertidur, Erika duduk di tepi ranjang tanpa segera bergerak. Kotak pulpen yang tadi dibawa temannya tergeletak di dekat tas. Pita kecil di tutupnya sudah penyok karena beberapa kali digenggam.
Erika mengambilnya dan menaruh di meja supaya tidak tertindih. Dia tidak membuka kotak itu. Ada hadiah yang belum diserahkan dan perasaan yang sudah terlalu lama tidak pernah sampai. Untuk pertama kalinya, Erika merasa rencananya sendiri tidak selucu ketika dibicarakan di kamar ini beberapa malam sebelumnya.
Dia ingin membantu Iccha, tetapi telah menyuruhnya mempergunakan Arya. Dia ingin membantu Ammar, tetapi menerima permainan yang membuat orang lain menangis. Mungkin pandai menulis percakapan cinta tidak otomatis membuatnya pandai mengurus perasaan manusia sungguhan.
Erika mengambil buku batik dan membuka halaman kosong. Ia hampir menulis rencana baru, lalu menutupnya kembali. Tidak semua masalah membutuhkan siasat. Kadang orang hanya perlu diberi kesempatan mengatakan yang sebenarnya, tanpa teman-temannya sibuk mengatur panggung.
Ponselnya menyala. Pesan Ammar masuk, menanyakan apakah Iccha sudah di kamar. Tidak ada tanda seru sebanyak biasanya.
Sudah. Dia sedang tidur. Jangan dibangunin, Bang, balas Erika.
Ammar tidak langsung menjawab. Erika menunggu beberapa saat, kemudian muncul satu pertanyaan lagi: besok dia berangkat jam berapa?
Tanya sendiri besok pagi. Dengan baik, ya.
Kali ini Erika tidak menambahkan gurauan. Ia juga tidak menjanjikan akan membujuk Iccha. Ponsel diletakkannya di sofa, lalu ia menarik selimut temannya sampai bahu. Ia bisa menemani, tetapi tidak seharusnya terus menjadi perantara untuk dua orang yang menolak berbicara.
Sesudah memastikan napas Iccha teratur, Erika mengambil ponselnya lagi. Foto dari mal masih tersimpan di galeri. Masalah yang satu baru saja berhenti membuatnya menangis, sedangkan masalah yang lain sedang menunggu untuk dilihat lebih jelas.
Dia membuka galeri. Foto buram dari mal tadi. Dia perbesar dengan dua jari, perlahan, ke arah tangan wanita berambut pirang itu yang sedang diacungkan ke lampu butik.
Di pergelangan tangan wanita itu, melingkar sebuah gelang emas dengan bandul kecil berbentuk huruf. Buram, tapi bentuknya khas. Erika mencoba mengingat pertemuan pertamanya dengan Yoevanca. Tas mahal, dress maroon, dan rambut pirang yang membuatnya membandingkan penampilan mereka. Apakah ada gelang serupa di tangannya? Erika tidak yakin. Ingatan yang sudah dicampuri ketakutan tidak pantas dijadikan bukti.
Tangan Erika mulai gemetar lagi.
Sephia berambut pirang. Mbak Caca berambut pirang. Gelang yang mungkin mirip. Pesan 'kangen' di ponsel Mas Aldin. Dan malam ini, cincin di jari wanita pirang itu, dipasangkan oleh abangnya sendiri.
Semua potongan gambar itu mulai menyusun dirinya menjadi satu gambar yang Erika tidak berani beri nama.
"Sephia itu ... Mbak Caca?" bisiknya pada gelapnya kamar. "Ya Allah, jangan. Mas Jo orang paling baik yang pernah aku kenal. Jangan."
Erika menurunkan ponselnya. Dia belum mempunyai jawaban. Justru kemungkinan bahwa dugaannya salah, atau malah benar, sama-sama membuatnya takut.