Keesokan harinya, menjelang istirahat siang di kantor Ammar, Arya memberanikan diri menghampiri meja kerja Iccha dengan dua lembar kertas di tangannya dan senyum yang sudah dilatih di depan cermin semalaman.
"Iccha, malam ini kamu ada acara nggak?" tanyanya. "Ada restoran Italia baru di mal sebelah barat, lantai tiga. Ada penampilan musik langsung. Temen aku yang punya, katanya tempatnya bagus."
Iccha mengangkat wajah dari layar komputernya. Dia tahu betul bahwa lima meter dari tempatnya berdiri, di balik pintu ruangan yang tidak tertutup rapat, ada sepasang telinga yang sedang bekerja lembur.
Maka Iccha menjawab dengan volume suara yang cukup untuk didengar sampai lantai dua.
"Restoran Italia? Musik langsung? Wah, aku mau banget, Arya! Malam ini aku kosong kok. Nggak ada yang ngajak juga selama ini."
"Serius? Oke! Oke, nanti aku jemput ya!" Arya sumringah seperti anak kecil dapat sepeda.
"Jemput? Wah, nggak usah repot-repot. Kita ketemu di sana aja," kata Iccha.
"Repot apa? Sekalian lewat rumah kamu. Udah, pokoknya aku jemput jam tujuh. Kalau kamu lebih nyaman ketemu di sana, nggak apa-apa," jawab Arya tanpa memaksa. Iccha tertawa. Boleh juga ini brewok, pikirnya. Lumayan buat memanaskan kulkas.
Gosip berjalan dengan kecepatan cahaya. Sore itu juga, di dalam lift, dua karyawan membicarakannya tanpa menyadari bahwa penumpang yang berdiri diam di pojok lift dengan wajah tertutup map adalah Ammar Syalendra sendiri.
"Pak Arya jadian sama sekretarisnya Pak Ammar? Cepet banget."
"Namanya juga usaha. Cantik gitu disia-siain sayang."
Ting. Pintu lift terbuka. Ammar keluar lebih dulu dengan langkah lebar. Di tangannya, pensil yang tadi dia pegang patah jadi dua tanpa ada yang menyadarinya.
Sore itu juga, ponsel Erika bergetar.
Ammar: Malam ini kamu kosong!!! Perintah!!! Jangan bantah!!!
Erika yang sedang menemani Sofyan jalan-jalan ke Monas nyaris menjatuhkan ponselnya ke kolam.
Erika: Malam ini aku janjian sama Mas Sofyan, Bang!!! Dia cuma 3 hari di sini!!! Dia datang buat ketemu aku!!!
Ammar: Baca perjanjian poin terakhir!!! Ini darurat!!!
Erika: Darurat opo to, Bang!!! Sabar!!!
Ammar: Iccha kencan sama Arya. Malam ini. Restoran Italia di mal sebelah barat.
Erika menatap layar ponselnya dan memijat keningnya dengan dua tangan. Astagfirullah. Jadi ini alasan kegaduhan level nasional itu.
Erika: Terus aku harus ngapain, Bang? Nonton kalian saling bunuh?
Ammar: Kamu temenin gue ke sana. Titik.
"Sontoloyo! Paijem tenan!" umpat Erika, meniru cacian Jo dan Aldin tanpa sadar. Sofyan menoleh heran.
"Kamu ngomong apa, Nduk?"
"Bang Ammar minta bantuan, Mas. Aku belum tahu harus jawab apa."
Dengan dada yang dipenuhi rasa bersalah, Erika mengatakan pada Sofyan bahwa ada pekerjaan tambahan yang harus dia selesaikan malam itu. Ia tidak menyebut nama editor atau membuat cerita lain, tetapi tetap menyembunyikan bahwa pekerjaan itu bukan untuk novel Jo. Padahal Sofyan sengaja mengosongkan malam itu untuk mengajaknya makan, sebelum esok harus mulai menyiapkan kepulangan ke Semarang. Sofyan mengangguk pengertian, bahkan menyuruhnya kerja yang benar, tidak usah memikirkannya, dan berpesan jangan lupa makan di sela-sela lemburnya.
Semakin baik orangnya, semakin sakit rasanya bohong. Catat itu, Thor.
Erika membuka percakapan itu sekali lagi, kemudian mengetik pelan. Kali ini dia tidak membalas tanda seru dengan tanda seru.
Erika: Kalau Bang mau ngomong sama Mbak Iccha, ngomong langsung. Aku ndak mau dibikin mesra-mesraan lagi, apalagi di depan Mas Sofyan.
Balasan tidak langsung datang. Erika memandang Sofyan yang sedang membeli minuman. Lelaki itu menoleh dan mengangkat dua botol, meminta dia memilih. Hal sesederhana itu membuat rasa bersalahnya bertambah. Sofyan datang jauh-jauh, tetapi pikiran Erika justru penuh urusan penghuni rumah tempatnya bekerja.
"Ada masalah sama pekerjaanmu?" tanya Sofyan setelah duduk di sebelahnya.
"Ada. Tapi bukan masalah novel."
"Kalau nggak nyaman, jangan diterima."
Erika menatapnya. "Kemarin Mas malah bilang aku harus berhenti nulis kalau menikah. Sekarang Mas bilang aku boleh nolak yang bikin ndak nyaman?"
Sofyan memutar tutup botolnya. Dia tidak tersinggung, tetapi butuh waktu menjawab. Suara orang-orang yang lewat di dekat bangku mereka mengisi jeda.
"Aku pikir dulu nulis itu bikin kamu kebanyakan duduk depan laptop, lupa makan, lupa istirahat."
"Yang itu bisa aku perbaiki. Bukan berarti yang aku suka harus dibuang."
"Iya. Aku lihat sendiri kamu benar-benar kerja di sini. Bukan cuma main hape."
Erika menahan senyum. "Aku dari dulu juga kerja, Mas. Cuma uangnya belum sebanyak yang orang lain anggap pekerjaan."
Sofyan mengangguk. Ia tidak langsung berjanji akan menerima semuanya, dan Erika tidak mendesak. Untuk saat ini, dapat berbicara tanpa saling meninggikan suara sudah cukup berarti. Dia ingin hubungan mereka mempunyai ruang seperti ini, bukan hanya pertanyaan tentang siapa yang ditemuinya dan kapan dia akan pulang.
"Aku pengin nemenin Mas makan nanti," kata Erika. "Tapi aku harus menyelesaikan urusan ini dulu. Aku ndak mau terus disuruh-suruh tanpa jelas batasnya."
"Kalau begitu selesaikan. Besok masih bisa ketemu, to?"
Erika mengangguk, lalu menunduk. Kepercayaan Sofyan datang pada saat dia justru belum sepenuhnya jujur. Rasanya tidak enak. Dia menyimpan botol minum di tas sambil memutuskan bahwa malam ini harus menjadi yang terakhir dia menurut begitu saja pada Ammar.
Ponselnya bergetar. Ammar menanyakan jam kepulangannya, tanpa menanggapi keberatan yang baru dikirim. Erika menghela napas panjang. Ternyata kalau berbicara dengan lelaki itu, kalimat yang paling penting selalu dilewati duluan.
Di kantor, Iccha sedang menyelesaikan catatan untuk rapat pengganti. Ia sudah membetulkan beberapa kesalahan yang kemarin membuatnya dimarahi. Arya menunggu di sisi meja tanpa mengganggu sampai Iccha selesai menekan tombol kirim.
"Kalau masih banyak kerjaan, makan malamnya bisa lain waktu," katanya.
Iccha cepat menggeleng. "Nggak. Aku mau."
Jawaban itu lebih cepat daripada yang dia harapkan sendiri. Arya tersenyum, lalu menanyakan makanan yang tidak disukainya. Iccha berpikir sebentar. Di kepala, sebenarnya yang sedang ia hitung adalah apakah Ammar mendengar percakapan mereka. Pintu ruangan lelaki itu tertutup.
"Aku bisa pesan sendiri," ujar Iccha.
"Iya. Aku cuma mau memastikan tempatnya cocok."
Iccha memandang Arya. Lagi-lagi lelaki itu memberi penjelasan tanpa membentak. Dia mulai merasa bersalah karena sejak awal menempatkannya sebagai alat. Arya tidak tahu bahwa setiap kebaikannya sedang dibandingkan dengan sikap orang lain.
"Kamu selalu begini, ya?"
"Begini apa?"
"Nanya dulu sebelum mutusin."
Arya tertawa kecil. "Kan yang mau pergi berdua. Masa aku yang mutusin sendiri?"
Kalimat itu tinggal di pikiran Iccha lebih lama daripada yang dia inginkan. Dia berterima kasih ketika Arya pamit, lalu menatap formulir yang sudah dimasukkan ke map. Nama dan nomor daruratnya terisi rapi. Tidak ada nama Ammar di kolom itu. Entah kenapa hal kecil tersebut membuatnya ingin menangis lagi.
Saat pulang, Ammar memanggilnya dari ambang pintu. Iccha berhenti, tetapi tidak mendekat.
"Berkas buat besok sudah siap?"
"Sudah. Di meja Bapak, map biru. Jadwalnya juga sudah saya kirim."
"Yang kemarin dibatalkan?"
"Dua sudah sepakat jadwal pengganti. Satu masih menunggu konfirmasi. Catatannya di halaman depan."
Ammar tidak menemukan hal yang bisa dia persoalkan. Dia memandang tas di bahu Iccha, lalu menatap wajah wanita itu. Iccha menunggu. Jangan cuma tanya kerjaan, Mar, harapnya. Tanyakan kenapa aku mau pergi dengan Arya. Tanyakan apa aku baik-baik saja.
"Ya sudah."
Hanya itu. Iccha mengangguk dan berbalik. Harapannya kembali dibawa pulang sendiri, bersama kotak pulpen kecil yang belum juga dia serahkan.
Sementara Erika, setelah mengantar Sofyan kembali ke penginapan, pulang ke rumah Jack. Ia berganti baju dan menghubungi Jo untuk menjelaskan bahwa malam ini dia tidak bisa melanjutkan wawancara. Jo tidak mempermasalahkan. Dia hanya meminta Erika makan sebelum bekerja lagi.
"Besok kita lanjut, Rik. Aku juga mau nemenin Daddy dulu."
"Terima kasih, Mas."
Erika menutup telepon dengan dada semakin berat. Orang yang memberinya pekerjaan sungguhan justru paling mudah memahami, sedangkan urusan yang tidak pernah tertulis di kontrak membuat hidupnya semakin kusut.
Ketika Ammar datang menjemput, Erika tidak segera naik mobil. Dia berdiri di sisi pintu dan memastikan lelaki itu menatapnya.
"Aku ikut buat bantu Bang ngomong baik-baik. Bukan buat bikin Mbak Iccha sakit hati. Kalau Bang ngulang yang kemarin, aku pulang sendiri."
Ammar mengeraskan rahangnya. "Naik dulu."
"Jawab dulu, Bang."
Lelaki itu memandang rumah, lalu kembali menatap Erika. Beberapa detik berlalu sebelum dia mengangguk singkat.
"Nggak ada pura-pura mesra."
Erika baru membuka pintu setelah mendengar jawaban itu. Untuk pertama kalinya, perjanjian yang selalu dipakai menakutinya mempunyai batas yang berani dia ucapkan sendiri.
Malam itu. Mall sebelah barat, lantai tiga. Restoran Italia dengan lampu temaram dan alunan gitar akustik dari panggung kecil di sudut ruangan.
Di meja paling pojok, tersembunyi di balik tanaman monstera raksasa dalam pot, duduklah sepasang intel kelas kampung. Ammar dengan kemeja hitam dan kaca mata hitam, ya, kaca mata hitam di malam hari di dalam ruangan, dan Erika dengan dress sederhana dan wajah bosan level dewa.
"Bang," bisik Erika, "lepas itu kaca mata. Makin Bang pakai itu, makin kelihatan mencurigakan. Kita ini bukan agen rahasia, Bang. Kita cuma dua orang yang tidak waras."
"Diam. Mereka datang," potong Ammar.
Iccha dan Arya masuk ke restoran. Iccha malam ini memakai dress hitam sederhana yang membuatnya terlihat seperti bintang film, rambut merahnya tergerai, dan Arya di sampingnya dengan kemeja rapi dan senyum yang tidak berhenti sejak dari parkiran. Arya menarikkan kursi untuk Iccha dengan gerakan yang halus. Poin sepuluh untuk Arya. Nol untuk lelaki berkaca mata hitam di pojokan.
Ammar menatap semua itu dari balik monstera dengan rahang yang terkatup rapat.
Pelayan datang ke meja mereka. "Selamat malam, Bapak, Mbak. Mau pesan apa?"
Erika membuka menu dan matanya langsung melotot. "Astagfirullah. Satu pasta harganya bisa buat beli satu kambing, Bang. Lengkap sama kandangnya."
"Pesan saja."
"Kalau gitu aku pesan yang paling mahal. Chocolate lava edisi sultan. Biar Bang Ammar kapok nyeret-nyeret aku."
"Kopi item," kata Ammar pada pelayan. "Pahit. Sepahit-"
"Sepahit kopi biasa, Pak," potong Erika cepat sambil menendang kakinya di bawah meja seperti saat makan malam sebelumnya.
Pelayan pergi dengan wajah bingung. Di meja tengah, Iccha tertawa pada lelucon Arya, dan Ammar memutar gelas kopinya seperti ingin memutar leher seseorang.
Selesai menyantap dessert-nya, Erika pamit ke toilet. Toilet restoran itu ada di luar, di koridor mal, jadi dia harus keluar melewati deretan butik dan toko yang sebagian sudah mulai tutup.
Dan di sanalah, di depan sebuah butik perhiasan yang lampunya masih terang, Erika melihatnya.
Aldin. Abang kandungnya sendiri. Berdiri di depan etalase cincin bersama seorang wanita berambut pirang panjang yang tertawa sambil menyandarkan kepala di bahunya. Wanita itu mengulurkan tangan, dan Aldin memasangkan sebuah cincin di jarinya, lalu mereka berdua mengangkat tangan itu ke arah lampu, mengagumi kilauannya bersama. Dekat. Sangat dekat. Terlalu dekat untuk ukuran teman.
Dunia Erika berhenti berputar sepersekian detik.
Dia bersembunyi di balik pilar, tangan gemetar merogoh ponsel dari tasnya. Jantungnya berdebar seperti bedug takbiran. Dia memotret sekali, dua kali, tapi tangannya gemetar dan dua orang itu bergerak, jadi hasilnya buram. Ketika dia mencoba maju lebih dekat, serombongan pengunjung lewat menghalangi pandangannya. Dan saat kerumunan itu berlalu, butik itu sudah kosong. Aldin dan wanita pirang itu menghilang ditelan koridor mal.
Erika menatap layar ponselnya. Foto buram itu hanya menangkap punggung Aldin dan rambut pirang panjang wanita itu yang tergerai.
Erika tidak langsung menekan tombol kamera. Dia memerhatikan abangnya lebih dulu, berharap ada alasan yang membuat pemandangan itu terasa wajar. Mungkin Aldin sedang membantu Jo memilih cincin. Mungkin wanita itu hanya pegawai toko yang menunjukkan ukuran. Namun, perempuan berambut pirang tersebut menyandarkan kepala di bahu Aldin, dan kakaknya tidak menjauh.
Pegawai toko berada di sisi lain meja. Kenyataan itu mematahkan alasan kedua sebelum sempat Erika memercayainya.
Dia mundur setengah langkah, menempelkan punggung ke pilar. Di belakangnya, orang-orang lewat membawa kantong belanja. Suara sepatu, musik dari toko, dan panggilan seorang anak kepada ibunya terasa terlalu keras. Erika berharap ada yang bisa membuat Aldin menoleh, tetapi sekaligus takut jika abangnya melihat dirinya di sini.
Apa yang akan dia katakan? Apa dia sanggup bertanya langsung ketika Jo sedang merencanakan pernikahan dan Kirana menunggunya mencari bukti? Pertanyaan itu membuat telapak tangannya semakin basah.
Erika membuka kamera, lalu menurunkan ponselnya ketika seorang petugas melintas. Dia tidak ingin membuat keributan atau terlihat sedang memotret sembarangan. Sesudah jalur di depannya kosong, ia mengambil dua gambar dengan gerakan tergesa-gesa. Baru setelah itu dia tahu wajah wanita tersebut tidak tertangkap jelas.
Ia hampir menelepon Aldin untuk mengetahui apakah kakaknya akan menjauh dari wanita itu ketika ponselnya berdering. Namun, jemarinya berhenti. Kalau menelepon, dia harus berpura-pura mempunyai alasan. Kalau kakaknya melihatnya, dia harus menjelaskan foto di tangannya. Erika belum siap untuk salah satunya.
Yang dia simpan akhirnya hanya jam kejadian dan nama butik di papan depan. Bukan kesimpulan. Bukan tuduhan yang bisa dikirim kepada Kirana malam ini. Ia menatap catatan itu dengan perut terasa kosong, walaupun baru saja menghabiskan makanan.
Sebelum kembali ke restoran, Erika mencuci tangan dan membasuh wajah. Air terasa dingin, tetapi pikirannya tidak ikut tenang. Pantulan di cermin memperlihatkan seorang perempuan yang beberapa hari lalu datang ke Jakarta untuk menulis kisah cinta bahagia. Kini dia justru takut cerita yang sedang dicatatnya mempunyai bagian yang sengaja disembunyikan.
Rambut pirang. Seperti foto profil Sephia. Seperti ... Mbak Caca.
Tidak. Tidak mungkin. Mbak Caca calon istri Mas Jo. Orang baik-baik. Mana mungkin.
Tapi kenapa jantungnya berdebar seolah mengatakan sebaliknya?
Dengan langkah berat Erika kembali ke meja mereka. Ammar menatapnya dari balik kaca mata hitamnya.
"Kamu kenapa? Mukamu putih kayak lihat setan."
"Lebih serem dari setan, Bang," jawab Erika lirih, dan dia tidak menjelaskan apa pun lagi malam itu.